Restorasi Gambut, Kanal Primer Eks PLG pun Ditutup Permanen

Kanal primer eks PLG di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah yang ditutup secara permanen. Nantinya ditengah kanal hanya disisakan saluran air untuk kepentingan jalur transportasi warga, monitoring gambut dan agar tanggul tidak jebol. Foto: Indra Nugraha

Ada pemandangan berbeda dibanding tahun lalu, saat saya menyusuri kanal primer eks PLG blok C di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, awal Juni ini. Dulu, kanal itu sangat lebar, antara 15 hingga 20 meter, dengan pepohonan yang tampak kering dan tanah tandus di kanan dan kirinya. Kini kanal itu terlihat sudah menyempit menjadi sekira lima hingga tujuh meter saja.

Tahun lalu di tempat ini pula, saya jumpai seekor orangutan dalam kondisi memprihatinkan. Berjalan tertatih di sisi kanal dan bersarang di pohon tanpa daun yang rimbun.

Meski belum terlalu tinggi, sekarang galam dan pepohonan lainnya tumbuh menjulang dan tampak menghijau. Juga beberapa sarang orangutan tampak terlihat di beberapa sisi kanal. Ini merupakan imbas, upaya kerja nyata restorasi gambut yang dilakukan pemerintah.

Baca juga: Merananya Kondisi Hutan Desa Kalawa Pasca Kebakaran Lahan dan Hutan Hebat di Kalteng

Siang itu Ahmat Suriadi (32), warga Desa Garung, menenami saya menyusuri kanal dengan sampan bermotor. Dalam setengah jam kami tiba di persimpangan Hutan Desa Kalawa dan Taman Nasional Sebangau.

“Lokasi ini rutin terbakar, karena kanalnya sangat lebar yang membuat gambut kering.” ujar Ahmat.

Seperti diketahui, pada tahun 1995 Pemerintah era Orde Baru menggagas Pertanian Lahan Gambut (PLG) satu juta hektar di Kalimantan Tengah. Proyek tersebut tak berlanjut, imbas dari krisis moneter. Pun dari segi hitungan dampak lingkungan, tak cermat.

Akibatnya, gambut di Kabupaten Pulang Pisau mengalami kerusakan parah. Kanal-kanal yang dibangun membuat kandungan air di kubah gambut menyusut drastis hingga kering. Kala musim kemarau tiba, gambut amat mudah terbakar.

Ahmat mengaku setuju kanal primer ditutup. “Harapan saya sih, setelah kanal ditutup gak lagi terjadi kebakaran.”

Sampan berbelok ke kiri. Pemandangan hampir serupa, didominasi pepohonan galam. Meski belum begitu rimbun tapi terlihat rapat. Empat eskavator terlihat dihadapan.

 

Peta titik kanal yang akan ditutup. Kanal primer adalah kanal terpanjang yang terbentang ratusan kilometer dari Laut Jawa hingga perbatasan Kota Palangkaraya. Foto: Indra Nugraha

 

Beberapa orang bekerja mengoperasikan alat berat. Mengangkut tanah dan kayu dari pinggir kanal, lalu menenggelamkannya di dasar kanal. Membentuk bendungan, yang pada akhirnya akan menahan aliran air di kanal tersebut.

Dibagian kecil di tengah kanal, masih disisakan saluran air, dimaksud agar tanggul tidak jebol dan masyarakat masih bisa menggunakan kanal untuk transportasi.

Usnun (40), salah satu pekerja menyebut, ia dan rekan-rekannya sudah berada di lokasi itu selama dua bulan. Ada delapan orang yang bekerja menutup saluran kanal primer tersebut tuturnya. Total sudah 16 titik yang dikerjakan Usnun dan teman-temannya.

Sutarman (40), operator eskavator lain menyebut akan ada 150 titik yang akan ditutup. Satu titik bisa dikerjakan antara tiga sampai empat hari. Jarak antara satu titik penutupan dengan titik penutupan lainnya sekira 500 meter. Prosesnya dilakukan dari hulu menuju hilir.

“Kalau dikerjakan dari bawah (hilir) tak kuat menahan air. Makanya yang di bawah terakhir kami kerjakan. Kita gak tahu kapan selesainya. Pokoknya kerjakan sajalah,” ucapnya.

 

Buah Kerja Para Pihak

Myrna safitri, Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut (BRG) dalam wawancara sambungan seluler menyebut, proyek tersebut dijalankan oleh BWS (Badan Wilayah Sungai) Ditjen Sumber Daya Air, Kemenpupera. Dia menyebut BRG sudah layangkan surat rekomendasi terkait pengerjaan proyek itu.

“BRG sudah menyetujui  dengan syarat-syarat teknis dan sosial seperti tersebut dalam surat rekomendasi. Diantaranya harus ada pelibatan masyarakat. Juga harus dilakukan padiatapa (Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaaan), ini dikerjakan USAID LESTARI bersama Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD) Pulang Pisau. Kalau pun ada dampak, masyarakat bisa adukan. Harapan ke depan, akan dilakukan pembasahan, yang dilanjut penyekatan kanal,” jelas Myrna.

Saat dikonfirmasi, Watson, Kepala Desa Garung menyebut, masyarakat sebagian besar sudah menerima dan sepakat dengan adanya kegiatan tersebut. Meski ada sebagian kecil saja yang hingga saat ini masih menjadi bahan pertimbangan masyarakat.

“Kalau kanal yang di utara hingga selatan Blok C, masyarakat sudah terima. Tapi kalau kanal yang dari jalur Sebangau hingga Kahayan, masyarakat masih pertimbangkan karena jalur ini masih digunakan untuk transportasi. Tapi pada dasarnya sudah tak ada lagi masalah,” ujarnya.

Saat dihubungi, Rosenda Chandra Kasih, Koordinator Lansekap Katingan-Kahayan USAID LESTARI mengatakan, proses penutupan kanal primer akan menjadi ideal ketika titik lokasi dan pemetaan sudah diketahui dan disetujui oleh masyarakat yang biasa mengakses kanal itu.

Selain itu jelasnya, pihaknya juga memfasilitasi pelaksanaan padiatapa di beberapa tempat di sekitar kawasan Blok C eks PLG. Diantaranya di Desa Kalawa, Buntoi dan Kecamatan Jabiren Raya. Hasil dari kegiatan Padiatapa dituangkan dalam kesepakatan tertulis antara kelompok masyarakat dan pengurus desa.

“Kami lakukan padiatapa dengan pembuktian hitam di atas putih. Jadi ada tandatangan warga, pemilik lahan di sekitar kanal dan pengguna kanal, untuk memastikan mereka setuju dan tidak keberatan adanya konstruksi dam di kawasan tersebut,” jelasnya.

 

Escavator yang sedang bekerja untuk menutup kanal primer. Foto: Indra Nugraha

 

Bupati Pulang Pisau Edi Pratowo menyambut baik apa yang sedang dikerjakan Kemenpupera dalam menutup kanal primer eks PLG. Menurutnya, kegiatan tersebut penting untuk menjaga gambut tetap lembab dan terhindar dari ancaman kebakaran hutan dan lahan.

“Soal dampak sosial saya kira gak ada. Polanya nanti diatur sedemikian rupa, yang penting antara program kita dengan kebutuhan rakyat tetap terjaga,” jelas Edi.

Bagi Edi, penting jika masyarakat sudah menyatakan sepakat dan menerima berjalannya kegiatan penutupan kanal primer eks PLG ini. Sebab selain sebagai penyebab kebakaran, kanal primer eks PLG seringkali digunakan sebagai jalur distribusi kayu illegal oleh oknum tertentu.

“Penting agar masyarakat tahu mengapa harus ditutup, dan juga mereka paham, bahwa selain untuk restorasi gambut, penutupan air memungkinkan revegetasi dilakukan. Juga nanti ikan-ikan yang dulunya tidak bisa hidup akan kembali,” ujarnya.

Di sisi lain, Nordin, Direktur Eksekutif Save Our Borneo, mengingatkan agar program penutupan kanal ini dapat dilakukan secara sinergis. Menurutnya, penutupan kanal ini tidak akan berguna jika masih terjadi pembukaan kanal baru di wilayah gambut lainnya.

“Kami tentu apresiasi. Namun ibaratnya pohon, kanal utama itu batangnya. Ranting-ranting dan dahan (kanal tersier dan sekunder) juga harus jadi perhatian serius. Jika itu tidak diselesaikan, maka kemungkinan tidak akan mampu menahan. Pemerintah juga semestinya tidak lagi lakukan pembukaan kanal baru seperti di Sebangau Kuala. Disana ada kanal-kanal baru dari Dinas PU Propinsi. Jadi terkesan kontradiktif,” paparnya.

Direktur Eksekutif Walhi Kalteng Dimas Novian Hartono pun menyebut penutupan kanal primer eks PLG sudah tepat. Menurutnya saluran primer itu tentu harus direhabilitasi kembali.

“Cuma yang harus dipikirkan adalah akses masyarakat. Apakah dengan penutupan kanal ini akan membatasi ruang masyarakat untuk berkebun atau berladang? Tentu ini hal kompleks yang harus ada penyelesaian secara bijak,” tutupnya.