Ancaman Kematian Massal Intai Budidaya Nila dan Mujair. Kenapa Terjadi?

Komoditas Tilapia, yang populer dengan produk andalan ikan Nila dan Mujair, selama ini menjadi komoditas andalan untuk perikanan budidaya di Indonesia. Ikan tersebut menjadi favorit, karena selama ini memiliki keunggulan yang tidak dimiliki ikan jenis lain. Namun, seiring berjalan waktu, saat ini ikan andalan tersebut sedang terancam, menyusul serangan virus Tilapia Lake Virus (TiLV).

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto menjelaskan, sebagai komoditas unggulan, Tilapia dikenal punya daya tahan bagus terhadap kualitas air dan penyakit. Tak hanya itu, ikan tersebut juga dikenal bisa adaptif terhadap berbagai kondisi lingkungan di sekitarnya.

“Tak lupa, Tilapia ini bisa efisien dalam membentuk protein kualitas tinggi dari berbagai bahan organik, serta memiliki kemampuan tumbuh yang baik serta dapat dibudidayakan di air tawar maupun payau,” jelas dia belum lama ini.

(baca : Sejak 1950, Perikanan Budidaya Indonesia Lambat Berkembang, Kenapa Demikian?)

 

Pekerja sedang memanen ikan nila dari budidaya keramba jaring apung di Danau Toba, Sumut. Foto : Ariefsyah Nasution / WWF Indonesia

 

Slamet menyebutkan, saat ini pihaknya sedang gencar menggalakkan salah satu varian Tilapia, Ikan Nila Salin kepada masyarakat dan pembudidaya ikan. Ikan tersebut dipilih, karena punya keunggulan bisa beradaptasi di air dengan sanitasi cukup tinggi seperti air payau.

Kelebihan tersebut, menurut Slamet, membuat ikan Nila Salin cocok untuk dikembangkan di tambak-tambak yang sebelumnya digunakan untuk melaksanakan budidaya udang windu atau bandeng . Biasanya, tambak untuk komoditas tersebut, jumlahnya cukup luas dan sudah mulai mengalami penurunan mutu.

Dengan kampanye yang terus dilakukan, Slamet optimis perkembangan Tilapia di masa mendatang akan semakin bagus lagi. Saat ini saja, produksi komoditas tersebut di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya, dengan kenaikan rata-rata produksi yaitu 17,98 persen per tahun. Sementara, nilai produksi rata-rata naik 24,91 persen per tahun.

Slamet menambahkan, pada 2013 saja, produksi Tilapia sudah mencapai 914,78 ribu ton dengan nilai mencapai Rp10,698 triliun. Angka tersebut terus naik hingga mencapai 1,084 juta ton pada 2015 dan mencapai nilai produksi Rp21,26 triliun.

(baca : Perikanan Indonesia Adopsi Teknologi Budidaya Canggih dari Norwegia, Seperti Apa?)

Sebagai salah satu komoditas andalan produk perikanan budidaya, Slamet menerangkan kalau Tilapia selama ini sudah diekspor ke berbagai negara di dunia. Di antara negara- negara tersebut, Kanada dan Amerika Serikat tercatat sebagai dua negara yang rutin mendapat kiriman pasokan Tilapia dari Indonesia.

“Sementara, untuk dari Eropa, negara seperti Jerman, Belanda, Prancis dan Belgia adalah yang biasa mendapat pasokan. Selain itu, negara seperti Singapura, Taiwan, Malaysia, Vietnam dan Australia juga merupakan importir Tilapia Indonesia,” tutur dia.

 

Seorang pekerja sedang memberikan pakan pada ikan nila dalam budidaya keramba jaring apung di Danau Toba, Sumut. Foto : Jay Fajar

 

Lebih jauh Slamet memaparkan, besarnya ekspor Tilapia bisa dilihat dari volume ekspor pada 2015. Kata dia, di tahun tersebut ekspor mencapai angka 14.681 ton senilai USD89,7 juta. Namun, angka tersebut mengalami penurunan pada 2016 menjadi 11.879 ton dengan nilai transaksi mencapai USD71,419 juta.

Slamet memberi alasan, meski turun, namun volume dan nilai ekspor Tilapia masih menduduki urutan ketiga komoditas hasil perikanan budidaya setelah udang dan rumput laut. Tetapi, tambah dia, untuk kelompok ikan, Tilapia tetap menduduki posisi teratas sebagai komoditas andalan.

“Untuk kelompok ikan, volume dan nilai produksi maupun ekspor Tilapia merupakan yang tertinggi di antara komoditas perikanan budidaya lainnya. Berdasarkan fakta ini, maka Tilapia memiliki posisi yang sangat strategis,” tandas dia.

 

Ancaman Virus

Mengingat ada banyak kelebihan yang dimiliki Tilapia, upaya untuk menjaga komoditas tersebut dari keterpurukan selalu dilakukan Pemerintah. Salah satu yang selalu dijauhkan, adalah kehadiran virus yang bisa mematikan Tilapia di dalam kolam.

Menurut Slamet Soebjakto, ancaman virus yang saat ini sedang mengintai Tilapia adalah TiLV. Virus tersebut sangat berbahaya karena sudah menyerang di negara lain seperti Ekuador, Israel, Mesir, dan Kolombia. Serangannya bisa mencapai perairan umum maupun kolam yang di dalamnya ada Tilapia.

(baca : Misteri Kematian Jutaan Ikan di Danau Toba)

Selain di negara Asia, Amerika Selatan, dan Afrika, Slamet menuturkan, virus TiLV juga sudah menyerang negara di kawasan Asia Tenggara. Negara seperti Thailand dilaporkan juga telah terjangkit penyakit ini. Untuk itu, kata dia, kewaspadaan harus semakin ditingkatkan agar penyakit TiLV dapat dicegah masuk ke Indonesia.

“KKP terus memonitor dan mencermati perkembangan penyebaran penyakit TiLV yang sudah mulai mendekat ke Indonesia. Berbagai langkah pencegahan telah dilakukan oleh pemerintah,” jelas dia.

 

Ikan Mujair atau Oreochromis mossambicus. Foto: Wikipedia

 

Agar kolam maupun perairan umum yang menjadi tempat budidaya Tilapia tidak terserang virus TiLV, Slamet menghimbau agar pembudidaya melakukan langkah-langkah berikut:

  1. Melakukan pengetatan terhadap impor induk, calon induk maupun benih ikan Tilapia dari luar negeri khususnya dari negara-negara yang sudah terjangkit penyakit TiLV;
  2. Mengingatkan dan terus mendorong para pembudidaya agar menerapkan prinsip-prinsip cara pembenihan maupun cara budidaya ikan yang baik dengan disiplin dan ketat;
  3. Meminta seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup DJPB dan Dinas Perikanan Provinsi/Kabupaten/Kota melakukan surveilan serta monitoring penyakit TiLV; dan
  4. Untuk sementara tidak melakukan kegiatan penebaran benih Tilapia di perairan umum.

Untuk diketahui, ikan yang terserang virus TiLV biasa memiliki ciri-ciri seperti tubuh ikan seluruh atau sebagian besar terlihat berwarna hitam, bola mata membengkak, kornea mata menyusut dan cekung ke dalam, kulit mengalami erosi, dan jika dilihat pada bagian anatomi, rongga perut terlihat membengkak.

Setelah mengalami serangan virus, ikan akan langsung mati dan bisa terjadi secara massal. Adapun, prosentase kematian ikan dalam suatu tempat budidaya akibat virus ini, diketahui sudah mencapai 80-100 persen. Di Israel yang menjadi negara asal munculnya TiLV, virus ini telah menyebabkan hancurnya budidaya Tilapia yang menjadi salah satu komoditas andalan usaha bagi masyarakat setempat.

(baca : Mau Lihat Foto-foto dan Video Jutaan Ikan Mati di Danau Toba? Simak Ini…)

Melihat ganasnya serangan virus tersebut, Slamet menghimbau agar semua pihak, terutama pembudidaya ikan dan Pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan. Kata dia, jika ada kasus dengan ciri-ciri seperti di atas, jangan ragu untuk melaporkannya kepada kepala dinas terkait setempat dan atau penyuluh atau juga UPT terdekat.

“Virus ini sangat ganas, ikan yang terserang penyakit ini hanya mampu bertahan 4 – 7 hari setelah terinfeksi. Jika ada kematian massal tiba-tiba terhadap usaha budidaya Nila atau Mujair yang sedang dikembangkan, maka harus segera laporkan,” himbau dia.

Penyakit TiLV pertama kali dilaporkan menyerang ikan jenis Tilapia yang ada di danau Kinneret (sea of Galilee) dan ikan budidaya lain di Israel pada 2009. Beberapa tahun kemudian, dilaporkan ikan Tilapia di Ekuador juga mengalami kematian massal dan diketahui bahwa ikan-ikan tersebut juga telah terjangkit penyakit TiLV.

Penyakit ini disebabkan oleh serangan Orthomyxo-like virus. Di Israel, virus ini diketahui menyebabkan kerusakan otak dan sistem syaraf. Sedangkan di Ekuador, virus tersebut diketahui sudah menyebabkan kerusakan hati ikan.

 

Ikan Nila. Foto: Wikipedia

 

Sebelumnya, Badan Karantina dan Pengendalian Mutu (BKIPM) KKP juga sudah memberi peringatan agar pembudidaya bisa segera meningkatkan kewaspadaan terkait penyebaran virus TilV. Kewaspadaan itu, bisa dilakukan dengan memahami lebih detil perairan tempat menjadi budidaya komoditas Tilapia, seperti kolam dan perairan umum.

Hal itu dikatakan Kepala Bidang Operasi Karantina dan Keamanan Hayati BKIPM KKP Heri Yuwono. Keterlibatan masyarakat secara langsung yang melaksanakan budidaya, akan sangat berarti karena itu bisa mempercepat proses identifikasi virus mematikan tersebut.

Salah satu cara yang bisa dilakukan, kata dia, adalah dengan melaporkan setiap kejadian yang dicurigai seperti terserang virus TiLV. Pelaporan bisa dilakukan melalui lembaga karantinas ataupun dinas perikanan dan kelautan setempat di masing-masing daerah.