Ini Aksi Bersama Halau Kebakaran dari Taman Nasional Way Kambas

Bina, sedang menyantap sarapannya di Suaka Rhino Sumatera, TN Way Kambas. Foto: Tiffany Roufs.

 

Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT) mengajak masyarakat sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK) melindungi hutan dari kebakaran dengan berbagai cara. Di taman nasional ini hidup beragam satwa langka dilindungi seperti gajah dan badak Sumatera.

Sayangnya,  keberadaan satwa dalam TNWK terancam degradasi habitat karena kebakaran hutan setiap tahun sepanjang 1980-2000.

“Kebakaran hutan adalah kematian hidupan liar dan menghambat regenerasi hutan, misal, 1997 hampir 70% TNWK terbakar,” kata Marcellus Adi dari ALeRT, beberapa waktu lalu di Jakarta.

Pada 1980an, TNWK merupakan bekas hak penguasaan hutan (HPH). Setelah masa HPH dan sebelum menjadi taman nasional, banyak masyarakat masuk hutan dengan sekitar 125 hektar hektar. Mereka bikin pemukiman, mengambil kayu, berburu dan membuka lahan buat tanam kopi dan coklat.

“Banyak membakar hutan untuk mencari mangsa buruan. Hampir 50% kawasan jadi alang-alang luas. Jadi bahan bakar ketika musim kering,” kata Marcellus.

Banyak aktivitas ilegal menjadi alasan ALeRT dan masyarakat sekitar menjaga kawasan hutan dari api. “Intinya menjaga supaya tidak ada api.”

Bagaimana caranya? Mula-mula masyarakat didampingi organisasi ini memetakan lokasi-lokasi yang sering terjadi pembakaran. Dari pemetaan, tim menentukan empat titik wilayah rawan, yakni, Mataram Bungur, Bambangan, Sandat dan Susukan Baru.

Untuk menjaga wilayah ini, didirikan kamp reforestasi dengan melibatkan masyarakat untuk melindungi kawasan selama 24 jam.

“Mereka mau bergantian menjaga camp karena mereka pekebun yang taka harus setiap hari datang ke kebun. Mereka bersedia tinggal di kamp selama tiga hari, gantian. Memang ada insentif, itu wajarlah,” kata dokter hewan ini.

Selain membuat kamp, masyarakat juga dilibatkan menanam tumbuhan pionir dan tahan api, selain pakan badak dan gajah.

Tanaman pionir dan tahan api tanam dengan sistem papan catur, dengan harapan juga melindungi bagian yang tak tertanami.

Untuk membendung api jika terjadi kebakaran, dibuat sekat bakar berlapis agar api tertahan tak membakar semua area sebelum pemadaman.

“Kalau tanaman tumbuh, otomatis binatang-binatang seperti burung, musang, akan datang membantu penyerbukan. Sedang tanaman pakan dipilih karena populasi mamalia besar lebih banyak di TNWK dibanding taman nasional lain,” katanya.

Penanaman ini lantas diikuti pemeliharaan dan mengurangi pertumbuhan alang-alang.

“Terakhir dengan pelibatan dan pelatihan masyarakat untuk bekerja di program reforestasi dengan jadi petugas jaga dan pengendalian kebakaran hutan.”

Berbagai upaya tim ALeRT, masyarakat sekitar dan TNWK terbukti berhasil menjinakkan api dan meminimalkan tanaman terbakar.

Di Bungur,  misal, sejak reforestasi pada 2010, –sekitar 100 hektar alami kebakaran 2012–, kini tanaman sudah tumbuh kuat setelah kebakaran. Kala 2015, berkat pemeliharaan sekat bakar dan upaya pemadaman intensif api berhasil tak membakar tanaman reforestasi.

Titik rawan Bambangan reforestasi sejak 2012, area sekitar 50 hektar tak pernah lagi terbakar.

Selain tanaman-tanaman tadi juga dibuat embung-embung untuk sumber air pada musim kering dan ketika terjadi kebakaran hutan.

“Idealnya kita punya sumur-sumur dalam menggunakan pompa matic dengan tenaga solarcell. Kita butuh sponsor. Ini juga bisa jadi tempat minum binatang.”

Samedi, Direktur Program Yayasan Kehati mengatakan,  upaya reforestasi harus diikuti kegiatan lain demi keberlanjutan.

Dia mengusulkan ekowisata sebagai salah upaya menjaga keberlanjutan reforestasi mengingat dana sponsor tak selamanya tersedia.

Yuyun Kurniawan, Koordinator Program Proyek Ujung Kulon WWF, mengatakan,  opsi lain yang bisa dijajaki untuk keberlanjutan, dengan memanfaatkan potensi penjualan karbon sebagai hasil reforestasi taman nasional.