Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Cerita fitur

Terjadi Lonjakan Sakit Pernapasan Dampak Asap Kebakaran Hutan

Achmad Rizki Muazam 16 Sep 2026
Cerita fitur

Jongot dan Paye, Pertahanan Terakhir Masyarakat Tempirai Hadapi Kebakaran Hutan dan Lahan

Taufik Wijaya 16 Sep 2026

Opini: “Living Economy” dan Ekstraktivisme Tambang Mineral Kritis

Muhamad Karim* 16 Sep 2026

Ritual Adat Belian, Ucap Syukur Warga Muara Kate Jemput Keadilan

Muhibar Sobary Ardan 15 Sep 2026
Cerita fitur

Ketika Masyarakat Sungai Gelam Belajar Deteksi Dini Api

Teguh Suprayitno 15 Sep 2026

Asap Karhutla Tak Kenal Batas Administratif, Bikin Manusia dan Satwa Liar Menderita

Christopel Paino 15 Sep 2026
Semua berita

Berita utama

Terjadi Lonjakan Sakit Pernapasan Dampak Asap Kebakaran Hutan

Jongot dan Paye, Pertahanan Terakhir Masyarakat Tempirai Hadapi Kebakaran Hutan dan Lahan

Taufik Wijaya 16 Sep 2026

Ketika Masyarakat Sungai Gelam Belajar Deteksi Dini Api

Teguh Suprayitno 15 Sep 2026

Jalan Panjang Kepala Adat Dayak Kualan Cari Keadilan

Themmy Doaly 15 Sep 2026

Menanti UU Reforma Agraria

Achmad Rizki Muazam 14 Sep 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

Ke Mana Air Itu Mengalir? Dari Gua Legaelol ke Sungai Sagea: Jejak Air yang Ungkap Ancaman di Hulu

Aziz Fardhani Jaya * 16 Jun 2026

Spesies Baru: Ikan Tanpa Mata Ini Bernama Barbodes klapanunggalensis

Nopri Ismi 27 Feb 2025

Mencari Laba-laba Mata Kecil Jantan Pertama Indonesia di Gua Karst Jonggrangan

Cahyo Rahmadi* dan Sidiq Harjanto** 13 Sep 2024

Karst Sagea Halmahera: Antara Megahnya Gua Bokimoruru dan Ancaman Rusaknya Ekosistem

Aziz Fardhani Jaya * 21 Okt 2023

Gua dan bentang karst menyimpan rekaman penting perjalanan bumi. Di dalamnya terdapat fauna unik hasil adaptasi ekstrem, peninggalan seni prasejarah tertua, serta sistem hidrologi bawah tanah penyuplai air bersih bagi jutaan orang. Kawasan ini menghadapi ancaman nyata dari aktivitas tambang dan alih fungsi lahan. Sains bawah tanah, jejak awal manusia, dan ancaman kerusakan lingkungan saling […]

Jejak Rapuh Gua dan Karst series

Lebih spesial

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

9 cerita

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil

9 cerita

Lutung Jawa: Satwa Endemik Jawa di Ujung Tanduk

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Seberapa Besar Peran Industri dalam Pengembangan PLTS Atap?

Akita Verselita 10 Sep 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Bukan Hanya Cerdas, Lumba-lumba Juga Benteng Ekosistem Laut Indonesia

Editor 16 Sep 2026

Kemunculan lumba-lumba di permukaan laut bukan sekadar pemandangan menarik. Kehadiran mamalia cerdas ini dapat menjadi tanda bahwa perairan masih menyediakan makanan dan habitat yang mendukung kehidupan. Jika mereka semakin jarang terlihat, ada kemungkinan ekosistem laut sedang menghadapi masalah.

Indonesia memiliki 37 jenis mamalia laut, termasuk 17 jenis lumba-lumba. Letak perairannya yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Hindia membuat Indonesia menjadi habitat, tempat singgah, sekaligus jalur migrasi penting. Laut Banda, Selat Bali, Selat Lombok, dan Laut Sawu merupakan beberapa kawasan yang kerap dilalui lumba-lumba.

“Lumba-lumba adalah mamalia laut yang berenang dengan jarak tempuh jauh. Mereka bisa mencari habitat baru di lokasi lain, beda samudera,” kata Dondy Arafat, pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University.

Jenis yang sering dijumpai di Indonesia antara lain lumba-lumba hidung botol, pemintal, tutul, dan Risso. Sebagian hanya melintas, sedangkan lainnya memilih menetap untuk sementara atau dalam waktu lama.

Namun, perjalanan mereka dipenuhi ancaman. Lumba-lumba dapat terjerat alat tangkap sebagai tangkapan sampingan atau bycatch. Mereka juga menghadapi sampah plastik, pencemaran laut, kerusakan habitat pesisir, perburuan, serta kebisingan kapal yang mengganggu komunikasi dan kemampuan ekolokasi. Pariwisata yang tidak terkendali juga dapat menambah tekanan.

Krisis iklim memperbesar ancaman tersebut. Peningkatan suhu laut dapat mengubah ekosistem dan mempengaruhi ketersediaan makanan. Gangguan-gangguan ini diduga turut meningkatkan risiko lumba-lumba terdampar dan mati.

Ironisnya, data populasi lumba-lumba di Indonesia masih sangat terbatas. Mira Sekar, pakar mamalia laut dari Pusat Riset Sistem Biota BRIN, mengatakan penelitian populasi baru banyak dilakukan terhadap pesut mahakam.

“Penelitian sangat mahal, butuh anggaran besar dan keberpihakan lebih besar terhadap spesies ini,” ujarnya.

Indonesia juga belum memiliki mekanisme rehabilitasi maupun rencana induk khusus perlindungan lumba-lumba. Padahal, menjaga jalur migrasi membutuhkan kerja bersama pemerintah, peneliti, nelayan, pelaku wisata, industri, dan penegak hukum.

“Lumba-lumba adalah benteng lautan, jika terancam maka ekosistem laut terancam juga.”

Melindungi lumba-lumba berarti menjaga rantai kehidupan laut. Sebab, ketika populasinya menurun atau kemunculannya semakin langka, ancamannya tidak berhenti pada satu spesies. Laut yang tidak sehat pada akhirnya juga akan mengancam kehidupan manusia.

Foto utama: Subspesies lumba-lumba hidung botol baru ini dikenal sebagai lumba-lumba hidung botol Pasifik Tropis Timur (Tursiops truncatus nuuanu). Foto : NOAA/NMFS/SWFSC.

Kisah Fitriani Mengubah Duka “For Gajah Rahman” Menjadi Gerakan Konservasi Gajah Sumatera

Editor 15 Sep 2026

Setangkai krisan putih dibagikan kepada orang-orang yang melintas di depan Kantor Gubernur Riau. Tanpa teriakan, massa menyampaikan tuntutan yang telah mereka suarakan selama dua tahun: mengungkap pelaku pembunuhan Rahman, gajah binaan Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo.

Di tengah aksi sunyi itu berdiri Fitriani Dwi Kurniasari. Perempuan yang akrab disapa Ani tersebut terus mencari cara agar kematian Rahman tidak dilupakan publik dan penyelidikannya tidak berhenti tanpa kejelasan.

“Aksi sunyi itu sebagai pengingat pada penegak hukum untuk melanjutkan tugasnya dan mengingatkan komitmen mengusut tuntas kasus kematian gajah Rahman,” katanya.

Rahman ditemukan sekarat pada 10 Januari 2024 setelah diracun. Gading kirinya hilang, tetapi tidak diambil secara utuh. Tidak ditemukan pula ceceran darah dalam jumlah besar. Gajah jantan itu masih bertahan hidup selama delapan jam sebelum akhirnya mati. Kejanggalan tersebut terus menjadi pertanyaan bagi Ani dan para pemerhati satwa.

Kedekatan Ani dengan Rahman bermula ketika ia bekerja sebagai Database & Support Officer Wildlife Crime Team WWF Program Riau. Tugasnya membawa Ani ke pengadilan, kejaksaan, dan kantor polisi untuk memantau perkara kejahatan terhadap satwa. Sesekali, ia juga mengunjungi Tesso Nilo dan berinteraksi dengan gajah-gajah Flying Squad, termasuk Rahman.

Kabar kematian Rahman membuatnya terpukul. Ani kemudian membuat akun Instagram For Gajah Rahman sebagai ruang untuk menyimpan kenangan sekaligus mengawal perkembangan kasus. Ia mengajak masyarakat yang pernah bertemu “Kapten” Rahman membagikan foto dan cerita. Dalam waktu kurang dari sepekan, akun tersebut memperoleh seribu pengikut.

Namun, kampanye melalui media sosial belum menghasilkan titik terang. Ani mengadakan diskusi publik, berkolaborasi dengan komunitas, dan menggelar aksi damai. Ia juga menghubungi aktor Chicco Jerikho, yang pernah bertemu Rahman. Bersama Chicco, Ani mendatangi Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau untuk mendorong penyelidikan.

Upayanya berlanjut ketika Kapolda Riau berganti. Ani rutin menyebut akun Kapolda Irjen Pol Herry Heryawan di Instagram. Ia bahkan mengikuti Riau Bhayangkara Run sejauh 10 kilometer dengan kostum gajah setelah berlatih selama dua bulan. Aksi tersebut dilakukan untuk membawa kasus Rahman langsung ke ruang publik.

Setelah mengajukan audiensi, Ani akhirnya bertemu Kapolda Riau pada Agustus 2025. Kepolisian berjanji mengupayakan penyelidikan ulang, tetapi hingga dua tahun lebih setelah kematian Rahman, pelakunya belum terungkap.

Kasus ini mencerminkan lemahnya penegakan hukum terhadap kejahatan satwa di Riau. Ani mencatat 167 gajah mati sepanjang 2004–2025, sebagian besar akibat racun, tetapi hanya tiga kasus perburuan yang sampai ke pengadilan.

Bagi Ani, perjuangan untuk Rahman telah berkembang menjadi seruan melindungi seluruh gajah sumatera. Persoalannya tidak berhenti pada racun dan perburuan, tetapi juga mencakup penyempitan habitat, kekurangan pakan, dan ancaman penyakit. Menjaga ingatan tentang Rahman berarti memastikan kematiannya tidak menjadi sekadar angka dalam daftar panjang kehilangan gajah di Riau.

Foto utama: Ani pakai atribut gajah saat Bhayangkara Run 2025. Foto: Dokumen pribadi Ani.

Kucing Misterius Kalimantan Kembali Terekam Kamera di Kayan Mentarang

Editor 15 Sep 2026

Selama berbulan, sebuah kamera pengintai bekerja tanpa suara di bawah kanopi hutan primer Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kalimantan Utara. Ketika datanya diperiksa, kamera itu menyimpan rekaman istimewa: seekor kucing merah kalimantan berjalan sambil menggigit mangsa.

Kucing merah kalimantan (Catopuma badia) merupakan salah satu karnivora paling misterius di Pulau Kalimantan. Satwa berstatus Genting ini sulit diamati karena hidup menyendiri, memiliki kepadatan populasi rendah, dan cenderung menghindari manusia.

Rekaman terbaru diperoleh di Resor Mentarang Tubu, Desa Rian Tubu. Kamera dipasang dalam kegiatan patroli perlindungan kawasan pada 2025 dan datanya baru diunduh pada 2026. Tiga tahun sebelumnya, spesies yang sama terekam di Resor Sungai Bahau setelah lebih dari dua dekade tanpa dokumentasi baru di kawasan tersebut.

Pada salah satu foto, kucing itu terlihat membawa mangsa yang diduga tupai bergaris (Tupaia dorsalis). Selama ini, makanan kucing merah diketahui mencakup hewan pengerat dan tupai. Foto tersebut memberi petunjuk langka mengenai perilaku berburunya, meski jenis kelamin individu belum dapat diketahui. Umurnya diperkirakan remaja hingga dewasa.

“Spesies ini sangat sulit dijumpai langsung, sehingga dokumentasi melalui camera trap membantu kami memperoleh data mengenai keberadaannya di dalam kawasan,” kata Seno Pramudito, Kepala Balai TNKM.

Kucing merah umumnya memiliki bulu merah karat, tetapi sebagian individu berwarna abu-abu. Tubuhnya ramping, telinganya bulat, dan ekornya panjang. Bentuk tubuh tersebut memunculkan dugaan bahwa satwa ini mengandalkan kecepatan ketika mengejar mangsa.

Pengetahuan mengenai kehidupannya masih sangat terbatas. Para ilmuwan memperkirakan panjang generasinya sekitar enam tahun, tetapi masa kehamilan dan usia individu di alam belum diketahui. Satwa ini sempat dianggap aktif pada malam hari. Namun, rekaman kamera terbaru juga memperlihatkan aktivitas pada siang hari. Semua dokumentasi menunjukkan individu sendirian, memperkuat dugaan bahwa kucing merah bersifat soliter.

Populasinya diperkirakan hanya sekitar 2.200 individu di alam liar. Tidak ada laporan individu yang hidup dalam penangkaran. Persebarannya terbatas di Kalimantan, mencakup wilayah Indonesia serta Sabah dan Sarawak di Malaysia.

Keberadaan kucing merah sangat bergantung pada hutan primer atau sekunder yang rapat dan saling terhubung. Satwa ini tidak mampu bertahan di kawasan monokultur atau hutan yang mengalami deforestasi parah. Hilangnya habitat, penangkapan ilegal, serta jerat yang dipasang untuk satwa lain menjadi ancaman utamanya.

Kemunculannya di Kayan Mentarang menunjukkan bahwa bentang hutan masih menyediakan ruang berburu dan populasi mangsa yang memadai. Karena membutuhkan wilayah luas untuk hidup dan berkembang biak, kehadiran kucing merah bukan sekadar catatan tentang satu satwa langka. Ia juga menjadi tanda bahwa rantai makanan dan bentang alam hutan di kawasan tersebut masih terjaga.

Foto utama: Kucing merah kalimantan terekam kamera membawa mangsa di TN Kayan Mentarang pada 2026 ini. Foto: Dok. Balai Taman Nasional Kayan Mentarang.

Ketika Oarfish Terdampar di Lombok, Mitos Gempa Kembali Muncul

Editor 14 Sep 2026

Kemunculan seekor oarfish di Pantai Pink, Desa Sekaroh, Lombok Timur, pada 25 Agustus 2026, kembali menghidupkan mitos lama mengenai ikan pertanda gempa. Tubuhnya yang panjang, pipih, dan berwarna keperakan ditemukan sejumlah anak di bibir pantai. Video penemuan tersebut kemudian menyebar luas di media sosial.

Sebagian warga menghubungkannya dengan gempa yang mengguncang Flores sekitar dua pekan sebelumnya. Spekulasi itu muncul karena oarfish dikenal sebagai penghuni laut dalam yang jarang terlihat manusia. Ketika ikan ini muncul di permukaan atau terdampar, kehadirannya kerap dianggap sebagai peringatan bencana.

Oarfish dari genus Regalecus umumnya terdiri dari dua spesies utama. Regalecus glesne tersebar di Samudra Atlantik, Pasifik, dan Hindia serta dapat tumbuh hingga lebih dari 11 meter. Sementara Regalecus russellii lebih banyak ditemukan di Jepang, Asia Timur, dan Pasifik Barat.

Ikan ini hidup di zona mesopelagik hingga batipelagik, sekitar 200–1.000 meter di bawah permukaan laut. Habitat tersebut hampir tidak tersentuh cahaya matahari, bersuhu rendah, dan memiliki tekanan air sangat tinggi. Kondisi inilah yang membuat perjumpaan dengan oarfish tergolong langka.

Menurut Sukuryadi, Ketua Program Studi Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Mataram, kemunculan oarfish di perairan dangkal lebih mungkin dipengaruhi perubahan lingkungan laut.

“Tidak ada kaitannya dengan gempa bumi, mungkin anomali pemanasan global yang berdampak pada perubahan dan degradasi habitat,” ujarnya.

Perubahan suhu, arus, kadar oksigen, kualitas perairan, serta ketersediaan pakan dapat mengganggu organisme laut dalam. Dalam kondisi tertentu, gangguan tersebut diduga membuat satwa kehilangan orientasi atau berpindah menuju perairan yang lebih dangkal.

Mitos oarfish sebagai pertanda gempa juga berkembang di Jepang. Dalam cerita rakyat setempat, ikan ini disebut Ryugu no Tsukai atau “Utusan dari Istana Naga Laut”. Namun, penelitian ilmiah belum menemukan bukti kuat yang mendukung kepercayaan tersebut.

Yoshiaki Orihara dan tim dari Tokai University menganalisis 336 laporan kemunculan ikan laut dalam dan 221 kejadian gempa di Jepang. Hasilnya, hanya satu peristiwa yang menunjukkan kemungkinan keterkaitan. Hubungan oarfish dan gempa pun dinilai sebagai ilusi korelasi, yakni kecenderungan mengaitkan dua kejadian yang sebenarnya tidak memiliki hubungan sebab-akibat.

Kusnadi, Wakil Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia, juga menilai lokasi penemuan oarfish di selatan Lombok tidak berhubungan langsung dengan gempa di utara Flores. Letaknya terpisah secara geografis dan jeda waktunya lebih dari sepekan.

Kemunculan oarfish memang dapat menjadi pengingat adanya perubahan di ekosistem laut. Namun, ikan ini bukan alat prediksi gempa atau tsunami. Kewaspadaan bencana tetap harus dibangun berdasarkan pemantauan ilmiah, pemahaman risiko, dan kesiapan mitigasi.

Foto utama: Ikan Oarfish yang warga temukan terdampar di pesisir Lombok Timur. Foto: Fecebook Baiq Kolby.

Dari Aceh hingga Gorontalo, Daun Sirih Menjaga Tradisi Upacara Adat Masyarakat

Editor 14 Sep 2026

Daun sirih telah lama menempati posisi istimewa dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tanaman ini bukan sekadar bahan yang dikunyah bersama pinang, kapur, gambir, atau tembakau, melainkan bagian dari tata cara masyarakat dalam menerima tamu, membangun hubungan sosial, dan menjalankan upacara adat.

Di Aceh, daun sirih disuguhkan dalam upacara penyambutan tamu. Kebiasaan serupa ditemukan dalam kebudayaan Melayu di Riau, Bangka Belitung, Jambi, dan Sumatera Selatan. Penyajian sirih menjadi tanda keramahtamahan, penerimaan, serta penghormatan terhadap orang yang datang.

Tradisi menyirih dahulu juga melintasi batas usia dan kedudukan sosial. Sirih dapat dinikmati anak muda, orang tua, rakyat biasa, maupun keluarga kerajaan. Kedudukannya terlihat dari wadah penyimpanan sirih yang dibuat dengan serius. Sebagian wadah dihiasi emas dan batu mulia, bahkan dibentuk menyerupai hewan mitologi seperti naga atau ikan bersayap.

Di Gorontalo, sirih memiliki fungsi penting dalam rangkaian upacara peminangan. Sebuah penelitian mengenai ritual modutu menyebut sirih sebagai lindhidu aadati atau “urat adat”. Istilah tersebut menunjukkan bahwa keberadaan sirih bukan sekadar pelengkap dekoratif, tetapi menjadi bagian penting yang menopang pelaksanaan adat.

Sirih dan pinang ditempatkan dalam wadah khusus bernama tonggu, kemudian dipersembahkan kepada tamu undangan. Kehadirannya menandai kesiapan keluarga menjalankan prosesi sesuai aturan dan nilai yang diwariskan antargenerasi.

Selain memiliki makna budaya, daun sirih (Piper betle) juga dikenal sebagai tanaman obat. Bagian yang paling banyak dimanfaatkan adalah daunnya karena mengandung senyawa turunan fenol. Daun sirih mengandung sejumlah komponen bioaktif dan antioksidan, seperti flavonoid, alkaloid, saponin, polifenol, serta tanin. Penelitian juga menunjukkan potensi aktivitas antibakteri dan antioksidan pada tanaman tersebut.

Kandungan itu membuat daun sirih digunakan dalam berbagai ramuan tradisional. Sifat antiseptik dan antibakterinya dinilai mampu membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Namun, manfaat daun sirih perlu dibedakan dari risiko kebiasaan mengunyah campuran sirih dan pinang secara terus-menerus.

Kajian mengenai kesehatan gigi menemukan bahwa kebiasaan tersebut dapat berkaitan dengan kalkulus, periodontitis, atrisi, perubahan warna, hingga kehilangan gigi. Gangguannya tidak hanya muncul pada gigi, tetapi juga dapat memengaruhi gusi, lidah, rongga mulut, dan tulang rahang.

Karena itu, pentingnya sirih tidak hanya terletak pada kandungan biologisnya. Tanaman ini bertahan dalam berbagai upacara adat karena menjadi simbol penghormatan, penerimaan, dan keterhubungan sosial. Daun sederhana tersebut memperlihatkan bagaimana tumbuhan dapat memperoleh makna yang jauh melampaui fungsi alaminya: menjadi pengikat tradisi serta identitas masyarakat.

Foto utama: Daun sirih memiliki fungsi penting dalam acara adat di masyarakat Indonesia. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Kekeringan di Hulu, Ancaman bagi Air Bersih Jabodetabek

Editor 13 Sep 2026

Air yang biasanya mengalir deras di sejumlah sungai kawasan Bogor kini menyusut, bahkan menghilang. Kondisi tersebut bukan hanya mengubah wajah sungai, tetapi juga mengancam pasokan air bersih bagi warga Jabodetabek.

Di Kampung Katulampa, Rosmiati terpaksa memandikan kedua anaknya di Kali Baru, saluran irigasi yang mengambil air dari Sungai Ciliwung. Pasokan air sumur di rumahnya berkurang. Ia juga membawa pulang air menggunakan galon bekas untuk mencuci pakaian, membersihkan peralatan rumah tangga, dan kebutuhan sanitasi.

Sungai Ciliwung telah mengering selama lebih dari satu bulan. Tinggi muka air di Bendungan Katulampa bahkan mencapai titik terendah, yakni nol sentimeter. Penurunan debit juga terlihat di Kampung Pulo Geulis, Kota Bogor.

Kondisi ini berpengaruh terhadap ketersediaan air baku Perumda Tirta Pakuan. Instalasi Pengolahan Air Katulampa biasanya mampu memproduksi 307,14 liter air per detik dan melayani 35.492 pelanggan di Bogor Utara, Bogor Timur, serta sebagian Kabupaten Bogor.

Kekeringan juga melanda Sungai Cipamingkis yang berhulu di kawasan Puncak 2, Sukamakmur. Aliran Curug Cipamingkis diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan warga sehingga pintu air menuju sungai ditutup. Air dialirkan ke saluran irigasi dan bak penampungan yang terhubung dengan rumah-rumah penduduk.

Sungai Ciherang mengalami kondisi serupa. Dasar sungai dipenuhi bebatuan tanpa aliran air, sedangkan tanah persawahan di sekitarnya retak dan tanaman padi menguning. Curah hujan rendah serta El Niño memang memperpanjang periode tanpa hujan, tetapi faktor iklim bukan satu-satunya penyebab.

Wahyu Eka Styawan, Pengkampanye Urban Berkeadilan Walhi Nasional, menilai kemarau hanya menyingkap krisis ekologis yang telah lama terjadi di kawasan hulu.

“Kita terlalu lama memperlakukan sungai seolah-olah ia berdiri sendiri, padahal kesehatan alirannya sangat bergantung pada sejauh mana kawasan tangkapan air di bagian hulu dijaga dan dilindungi,” katanya.

Alih fungsi lahan untuk kawasan komersial, properti, dan permukiman telah mengurangi kemampuan tanah menyerap serta menyimpan air. Ketika debit sungai menurun, pencemaran limbah domestik dan industri juga menjadi semakin pekat.

Kondisi tersebut mendorong warga dan pelaku usaha beralih menggunakan air tanah. Namun, pengambilan berlebihan dapat mempercepat penurunan muka tanah dan merusak akuifer yang menjadi cadangan air masa depan.

Distribusi air menggunakan mobil tangki tetap dibutuhkan dalam keadaan darurat. Akan tetapi, langkah itu tidak menyelesaikan akar persoalan. Pemerintah perlu melindungi kawasan resapan, menertibkan bangunan yang melanggar zonasi, memulihkan vegetasi alami, mengawasi pembuangan limbah, serta membatasi penggunaan air tanah.

“Krisis air tidak cukup diatasi ketika air sudah habis. Yang harus dilakukan adalah menjaga sumbernya sebelum krisis terjadi,” tegas Wahyu.

Foto utama: Sungai Cipamingkis mengering akibat kemarau panjang. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.