Kapal pesiar MV Hondius berangkat dari Ushuaia, Argentina, menuju Antarktika pada awal April 2026 dengan membawa ratusan penumpang dan, tanpa disadari siapa pun, sebuah wabah. Tiga penumpang meninggal dalam rentang kurang dari sebulan, semuanya akibat hantavirus. WHO menyatakan kejadian itu sebagai wabah resmi pada 4 Mei 2026, dengan total 11 kasus terkonfirmasi.
Kapal itu tidak pernah singgah di Indonesia. Namun alarm yang berbunyi di Eropa dan Amerika Selatan seharusnya juga terdengar di sini.
Sebab Indonesia, menurut sebuah kajian yang terbit di jurnal PLOS Neglected Tropical Diseases pada Maret 2026, adalah negara dengan prevalensi hantavirus tertinggi di Asia Tenggara. Angkanya mencapai 17,49 persen pada populasi mamalia kecil, jauh di atas Singapura yang berada di posisi kedua dengan 10,53 persen. Studi metaanalisis yang dipimpin Zixiao Guo dari Hainan Medical University itu merupakan tinjauan sistematis pertama yang mencakup seluruh kawasan Asia Tenggara.
Data dari Kementerian Kesehatan RI memperkuat kekhawatiran itu. Sepanjang 2024 hingga Mei 2026, tercatat 256 suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi tipe HFRS (Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome), tersebar dari DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, hingga Nusa Tenggara Timur. Tren konfirmasinya naik tajam: 1 kasus pada 2024, 17 kasus pada 2025.
Hantavirus tidak menyebar seperti COVID-19. Tidak ada penularan lewat udara dari manusia ke manusia, setidaknya untuk varian yang beredar di Asia. Virus ini menular melalui kontak dengan tikus atau celurut, lewat gigitan, atau lebih sering lagi, lewat menghirup partikel kering dari urine, feses, dan air liur hewan yang terinfeksi. Risiko meningkat saat seseorang membersihkan gudang lama, rumah kosong, atau ruangan lembap yang jarang dijamah.
Spesies utama yang menjadi vektor di Asia Tenggara sudah sangat familiar: tikus got (Rattus norvegicus), tikus rumah (R. rattus), tikus wirok (Bandicota indica), dan celurut rumah (Suncus murinus). Keempatnya hidup di sekitar permukiman, pasar, gudang, dan lahan pertanian, tepat di tempat manusia beraktivitas setiap hari.
Hera Nirwati, Guru Besar Mikrobiologi Universitas Gadjah Mada, mengingatkan agar kotoran tikus tidak disapu dalam keadaan kering karena partikel virus bisa beterbangan ke udara. “Basahi terlebih dahulu dengan disinfektan sebelum dibersihkan,” ujarnya. Penggunaan sarung tangan dan masker saat membersihkan area yang diduga terpapar kotoran tikus juga sangat dianjurkan.
Hingga kini belum ada obat khusus untuk hantavirus. Penanganan bersifat suportif, dan penanganan dini menjadi penentu utama keselamatan pasien. Varian yang beredar di Indonesia memiliki tingkat kematian 5-15 persen, lebih rendah dari varian Andes di Amerika Selatan yang mencapai 50-60 persen. Tapi angka 5-15 persen bukanlah angka yang patut diabaikan.
Wabah di atas kapal pesiar itu mengingatkan bahwa penyakit zoonosis bisa muncul di mana saja, termasuk di lingkungan yang tampak bersih dan teratur. Di Indonesia, dengan kepadatan penduduk, iklim lembap, dan populasi tikus yang besar, ancaman itu justru lebih dekat dari yang kita bayangkan, dan sering kali bersembunyi di sudut gudang yang jarang dibersihkan.