Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Menyoal Skor “Hijau’ Alamtri Resources

Anggita Raissa 3 Jun 2026

Minim Penelitian, Kelinci Belang Sumatera Antara Ada dan Tiada

Agustinus Wijayanto 3 Jun 2026

Digerogoti Ulat, Tanaman Kacang Ini Memanggil Tawon untuk Menghabisi Sang Ulat

Akhyari Hananto 3 Jun 2026
Cerita fitur

Kebun Sawit Sekitar Meratus Ancam Lukisan Prasejarah

Rendy Tisna 3 Jun 2026
Cerita fitur

Puluhan Raflesia Bermekaran di Kepulauan Anambas

Yogi E Sahputra 2 Jun 2026
Cerita fitur

Banjir Lumpur Campur Batubara Sengsarakan Warga Tapin Selatan

Riyad Dafhi Rizki 2 Jun 2026
Semua berita

Berita utama

Kebun Sawit Sekitar Meratus Ancam Lukisan Prasejarah

Puluhan Raflesia Bermekaran di Kepulauan Anambas

Yogi E Sahputra 2 Jun 2026

Banjir Lumpur Campur Batubara Sengsarakan Warga Tapin Selatan

Riyad Dafhi Rizki 2 Jun 2026

Menanti Keseriusan Negara Akui Wilayah Adat

Irfan Maulana 2 Jun 2026

Tragedi Lumpur Lapindo, Derita Warga Tak Berkesudahan

Petrus Riski 1 Jun 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Lebah Madu dan Pilar Alam yang Rapuh

Sengatan Lebah Madu dan Harapan Baru Terapi Kanker

Nuswantoro 25 Mei 2026

Lebah dan Tawon, Kenali Ciri Utama Perbedaannya

Nuswantoro 5 Des 2024

Madu Kelulut dan Kelestarian Hutan Leuser

Junaidi Hanafiah 13 Okt 2021

Studi: Ada Kesamaan Interaksi Lebah Madu dengan Kehidupan Sosial Manusia

Rahmadi Rahmad 18 Des 2020

Lebah madu bukan sekadar produsen komoditas, melainkan pilar penting yang menjaga stabilitas ekosistem dan ketahanan pangan global, namun keberadaan makhluk kecil yang cerdas ini kini berada di titik persimpangan yang krusial akibat perubahan iklim global, alih fungsi lahan oleh industri ekstraktif, dan polusi teknologi yang perlahan mengikis ruang hidup mereka hingga memperpendek umur lebah serta […]

Lebah Madu dan Pilar Alam yang Rapuh series

Lebih spesial

Perempuan adat Boti (Taela Sae, Muke Benu, Seo Neolaka, Kuma Neolaka) sedang membawa hasil panen berupa jagung, kacang tunis, sorgum, dan sayur-sayuran segar. Foto: Mario Sara/ Mongabay Indonesia
7 cerita

Cerita dari Y. Eva Tan Fellows

9 cerita

Ikan-Ikan dari Era Pra-Sejarah di Perairan Nusantara

0 cerita

Satwa Papua: Benteng Terakhir Hutan Purba

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia

Cerita di Bulan Mei, dari Danau Batur sampai Teluk Weda

Kadek Dian Dwiyanti H.* 28 Mei 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk

Niko Wicaksana 22 Apr 2026

Kontes Burung Kicau, Sunyikan Hutan Indonesia

Rizky Maulana Yanuar, Sandy Watt 25 Feb 2026

Mewaspadai Perdagangan Kucing Kuwuk di Platform Online

Falahi Mubarok 26 Okt 2025

Kenali Owa Jawa Melalui Suara

Rahmadi Rahmad 23 Okt 2025

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025
}

Pantau terus berita terbaru kami celana pendek

Tujuh Gajah Mati, Satu Kawasan Dibiarkan Hancur

Akhyari Hananto 3 Jun 2026

Pada 29 April 2026, dua ekor gajah Sumatera ditemukan mati di Bentang Alam Seblat, Bengkulu. Tidak jauh dari lokasi, konsorsium pemantau menemukan kantung-kantung berisi racun yang digantung di batang kayu, diduga sengaja dipasang untuk membasmi gajah yang dianggap mengganggu kebun sawit.

Ini bukan kejadian pertama. Sejak 2018, sedikitnya tujuh gajah telah mati di kawasan yang sama. Ada yang diracun, ada yang ditembak, ada yang kakinya berlubang karena jebakan paku. Harimau Sumatera pun ikut ditemukan mati di dalam area konsesi perusahaan.

Merespons kasus ini, Menteri Kehutanan Raja Juli Anton menyatakan akan mencabut izin usaha pemanfaatan hutan (PBPH) dua perusahaan yang beroperasi di kawasan itu: PT Bentara Arga Timber (BAT) dan PT Anugerah Pratama Inspirasi (API). Keduanya sebelumnya telah dibekukan pada 2025 dengan kewajiban restorasi ekosistem, namun alih-alih memulihkan hutan, justru ditemukan indikasi pembalakan liar dan penanaman sawit ilegal di dalam kawasan yang seharusnya dipulihkan.

“Tidak hanya sampai sanksi administratif, pencabutan, tapi sampai ke pidana,” kata Raja dalam konferensi pers, 7 Mei 2026.

Bagi para pegiat konservasi, pernyataan itu terdengar familiar. Egi Ade Saputra, Direktur Eksekutif Yayasan Genesis Bengkulu, menilai langkah pemerintah sangat terlambat. “Kita melihat ini suatu yang harus dibuktikan dalam bentuk dikeluarkan dan dipublikasi SK pencabutan,” ujarnya.

Analisis citra satelit Landsat 8 yang dilakukan Genesis pada periode Februari hingga April 2026 menunjukkan bukaan lahan masih terus terjadi di dalam kawasan konsesi. Februari saja tercatat 307 titik bukaan seluas lebih dari 2.000 hektar. Dalam dua tahun terakhir, Bentang Seblat kehilangan sekitar 6.800 hektar tutupan hutan.

Wishnu Sukmantoro dari Forum Konservasi Gajah Indonesia menegaskan bahwa masalahnya sudah melampaui soal izin. Dari total 112.000 hektar kawasan hutan Bentang Seblat, lebih dari 30.000 hektar sudah rusak. Kantong habitat gajah yang dulu empat kini tinggal tiga, dan salah satunya sudah hilang sepenuhnya karena berubah menjadi kebun sawit. “Tantangan terbesar konservasi gajah Sumatera hari ini bukan hanya penyelamatan individu gajah, tetapi menjaga konektivitas lanskap,” katanya.

Gajah Sumatera kini berstatus critically endangered menurut IUCN. Dari 42 kantong habitat yang pernah ada, hanya 21 yang tersisa.

Konsorsium Bentang Alam Seblat mendorong perubahan status kawasan menjadi suaka margasatwa agar tidak ada lagi izin konsesi baru yang masuk, termasuk dari pihak-pihak lain yang disebut tengah mengincar kawasan tersebut. Ali Akbar dari Kanopi Hijau Indonesia khawatir pencabutan izin dua perusahaan ini hanya akan berujung pergantian pemain, bukan perbaikan nyata.

Tujuh gajah mati dalam delapan tahun, dan kawasan itu terus dibiarkan hancur dari dalam. Ia adalah hasil dari tata kelola hutan yang lemah, pengawasan yang terpusat dan tidak efektif, serta kegagalan sistemik dalam memisahkan kawasan habitat satwa dari kepentingan bisnis. Selama status hukum kawasan itu tidak berubah dan penegakan pidana tidak benar-benar dijalankan, pertanyaannya bukan apakah gajah berikutnya akan mati, melainkan kapan.

Ketika Tikus Membawa Lebih dari Sekadar Kotoran

Akhyari Hananto 3 Jun 2026

Kapal pesiar MV Hondius berangkat dari Ushuaia, Argentina, menuju Antarktika pada awal April 2026 dengan membawa ratusan penumpang dan, tanpa disadari siapa pun, sebuah wabah. Tiga penumpang meninggal dalam rentang kurang dari sebulan, semuanya akibat hantavirus. WHO menyatakan kejadian itu sebagai wabah resmi pada 4 Mei 2026, dengan total 11 kasus terkonfirmasi.

Kapal itu tidak pernah singgah di Indonesia. Namun alarm yang berbunyi di Eropa dan Amerika Selatan seharusnya juga terdengar di sini.

Sebab Indonesia, menurut sebuah kajian yang terbit di jurnal PLOS Neglected Tropical Diseases pada Maret 2026, adalah negara dengan prevalensi hantavirus tertinggi di Asia Tenggara. Angkanya mencapai 17,49 persen pada populasi mamalia kecil, jauh di atas Singapura yang berada di posisi kedua dengan 10,53 persen. Studi metaanalisis yang dipimpin Zixiao Guo dari Hainan Medical University itu merupakan tinjauan sistematis pertama yang mencakup seluruh kawasan Asia Tenggara.

Data dari Kementerian Kesehatan RI memperkuat kekhawatiran itu. Sepanjang 2024 hingga Mei 2026, tercatat 256 suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi tipe HFRS (Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome), tersebar dari DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, hingga Nusa Tenggara Timur. Tren konfirmasinya naik tajam: 1 kasus pada 2024, 17 kasus pada 2025.

Hantavirus tidak menyebar seperti COVID-19. Tidak ada penularan lewat udara dari manusia ke manusia, setidaknya untuk varian yang beredar di Asia. Virus ini menular melalui kontak dengan tikus atau celurut, lewat gigitan, atau lebih sering lagi, lewat menghirup partikel kering dari urine, feses, dan air liur hewan yang terinfeksi. Risiko meningkat saat seseorang membersihkan gudang lama, rumah kosong, atau ruangan lembap yang jarang dijamah.

Spesies utama yang menjadi vektor di Asia Tenggara sudah sangat familiar: tikus got (Rattus norvegicus), tikus rumah (R. rattus), tikus wirok (Bandicota indica), dan celurut rumah (Suncus murinus). Keempatnya hidup di sekitar permukiman, pasar, gudang, dan lahan pertanian, tepat di tempat manusia beraktivitas setiap hari.

Hera Nirwati, Guru Besar Mikrobiologi Universitas Gadjah Mada, mengingatkan agar kotoran tikus tidak disapu dalam keadaan kering karena partikel virus bisa beterbangan ke udara. “Basahi terlebih dahulu dengan disinfektan sebelum dibersihkan,” ujarnya. Penggunaan sarung tangan dan masker saat membersihkan area yang diduga terpapar kotoran tikus juga sangat dianjurkan.

Hingga kini belum ada obat khusus untuk hantavirus. Penanganan bersifat suportif, dan penanganan dini menjadi penentu utama keselamatan pasien. Varian yang beredar di Indonesia memiliki tingkat kematian 5-15 persen, lebih rendah dari varian Andes di Amerika Selatan yang mencapai 50-60 persen. Tapi angka 5-15 persen bukanlah angka yang patut diabaikan.

Wabah di atas kapal pesiar itu mengingatkan bahwa penyakit zoonosis bisa muncul di mana saja, termasuk di lingkungan yang tampak bersih dan teratur. Di Indonesia, dengan kepadatan penduduk, iklim lembap, dan populasi tikus yang besar, ancaman itu justru lebih dekat dari yang kita bayangkan, dan sering kali bersembunyi di sudut gudang yang jarang dibersihkan.

Peperomia pellucida: Si “Gulma” Pekarangan yang Kini Diperebutkan Industri Herbal

Akhyari Hananto 3 Jun 2026

Di sela-sela pot bunga, di pinggir parit, atau menempel diam-diam di tembok lembab, tumbuhan kecil bertangkai transparan ini sudah lama dicabut dan dibuang begitu saja. Petani menyebutnya hama. Padahal, dunia sains menyebutnya sesuatu yang lain: kandidat superfood yang patut diperhitungkan.

Namanya bermacam-macam tergantung dari mana asalnya. Sirih cina, sirih bumi, ketumpang air. Nama latinnya satu: Peperomia pellucida. Tumbuhan herbal yang berasal dari Amerika tropis ini kini tumbuh liar hampir di seluruh wilayah Indonesia, terutama di tempat-tempat lembab saat musim hujan.

Tingginya hanya sekitar 15 hingga 45 sentimeter, dengan daun berbentuk menyerupai daun sirih namun lebih kecil, lebih tebal, dan bertekstur lunak. Batangnya berwarna cerah, berair, dan sedikit transparan seperti kaca. Sekilas tampak seperti tanaman tak berguna. Tapi kandungannya justru mengejutkan.

Menurut Septiana Kurniasari, dosen Farmasi Universitas Islam Madura, Peperomia pellucida mengandung minyak esensial, flavonoid, saponin, tanin, dan triterpenoid. Kombinasi senyawa ini memberikan potensi yang cukup luas, mulai dari antibakteri, antiseptik, hingga antimikroba. “Dari kandungan itu, sirih cina memiliki potensi untuk menghambat pertumbuhan bakteri,” ujarnya.

Secara tradisional, tumbuhan ini sudah lama digunakan untuk mengatasi bisul, jerawat, radang kulit, sakit kepala, demam, dan gangguan ginjal. Penelitian lebih lanjut menunjukkan potensinya sebagai obat asam urat, penyembuh luka, antihipertensi, bahkan antikanker.

Relevansinya kian kuat di tengah tren 2025-2026 yang mendorong kembali ke pangan lokal dan herbal alami sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan. Di berbagai platform belanja daring, bibit sirih cina kini sudah diperjualbelikan, dengan harga per kilogram yang bisa mencapai lebih dari Rp75.000.

Nissa Wargadipura, pendiri Pesantren Ekologi Ath Thaariq di Garut, sudah lama mengenal tumbuhan ini sebagai bahan pangan harian. Ia menyebutnya masuk kategori wildfood sekaligus superfood. “Mungkin di kalangan petani dianggap gulma. Kenapa? Bisa jadi rantai pengetahuan lokal tentang ini sudah hampir terputus,” katanya. Menurutnya, seluruh bagian tumbuhan, mulai dari akar, batang, daun, hingga buahnya, bisa dikonsumsi. Bisa dijadikan lalapan, bahan pecel, campuran bakwan, atau diseduh seperti teh.

Di saat industri suplemen dan wellness global terus memburu bahan-bahan bioaktif baru, Peperomia pellucida adalah pengingat bahwa potensi besar kadang tumbuh begitu saja di halaman belakang rumah, menunggu untuk tidak lagi dianggap hama.

Menelusuri Jejak Purba dan Akar Migrasi Nenek Moyang Tanah Papua

Akhyari Hananto 3 Jun 2026
Kekayaan budaya dan fisik masyarakat Papua tidak lepas dari sejarah migrasi panjang yang dimulai sejak zaman es. Berdasarkan kajian paleo-antropologi, pada masa Pleistosen sekitar 800.000 tahun lalu, ketika Pulau Papua masih menyatu dengan Benua Australia, wilayah ini dihuni oleh manusia Paleo-Melanesoid. Ketika permukaan laut naik dan memisahkan kedua daratan, kelompok ini berevolusi menjadi ras Melanesoid di Papua dan Melanesia, serta Australoid di Australia. Jejak fisik nenek moyang Paleo-Melanesoid ini bahkan dapat dilacak hingga pada tengkorak Homo Wajakensis di Jawa Timur.
Secara lebih spesifik, manusia Australomelanesid tercatat sebagai penghuni pertama Pulau New Guinea yang tiba di Teluk Huon, Papua Nugini, sekitar 50.000 tahun lalu. Merekalah leluhur langsung orang Papua, Papua Nugini, dan masyarakat Melanesia modern. Kelompok pemburu dan pengumpul makanan ini membawa pengetahuan penting berupa pembuatan api. Kehadiran mereka berdampak besar pada ekosistem lokal, di mana perburuan intensif memicu kepunahan berbagai mamalia marsupial berbadan besar. Setelah megafauna punah, mereka beralih berburu hewan yang lebih kecil seperti kuskus dan kanguru pohon.
Ribuan tahun kemudian, kelompok Australomelanesid mulai mengembangkan peradaban yang lebih kompleks. Mereka bergerak ke dataran tinggi, seperti di Situs Kuk, Papua Nugini, di mana mereka mulai membudidayakan keladi sekitar 8.000 tahun lalu. Migrasi ke barat berlanjut hingga ke Lembah Baliem di Papua, tempat pertanian buah merah dikembangkan sekitar 7.000 tahun lalu. Masyarakat dataran tinggi ini hidup terisolasi dari pendatang baru, sehingga budaya mereka tidak mengenal penggunaan wadah tanah liat untuk memasak.
Peta budaya Papua berubah signifikan sekitar 3.000 tahun lalu dengan kedatangan manusia Austronesia di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Interaksi antara penduduk asli Australomelanesid dan pendatang Austronesia terlihat jelas di kawasan Danau Sentani. Meskipun bahasa Sentani termasuk rumpun non-Austronesia, masyarakatnya mengadopsi berbagai elemen budaya Austronesia. Pengaruh ini dibuktikan dengan temuan artefak gerabah, gelang dan manik-manik kaca, perunggu, serta tradisi tato dan mengunyah sirih pinang. Mereka juga mulai memelihara hewan seperti babi, anjing, dan ayam, serta menerapkan sistem kepemimpinan hierarkis.
Hubungan perdagangan dan budaya yang erat juga terjalin antara masyarakat Sentani dengan kelompok pesisir di Papua Nugini, seperti di Vanimo dan Sepik Timur. Hal ini diperkuat oleh temuan cangkang moluska laut di situs purbakala Sentani yang digunakan sebagai bahan kapur sirih. Dengan demikian, nenek moyang orang Papua bukanlah kelompok yang terisolasi, melainkan masyarakat dinamis yang terbentuk dari perpaduan mendalam antara akar Australomelanesid purba dan interaksi budaya Austronesia yang kaya.

Sumatera Selatan: Ketika Ratusan Pulau Lenyap dan Banjir Mengintai

Akhyari Hananto 3 Jun 2026
Wajah geografis Sumatera Selatan terus mengalami perubahan drastis yang kian mengikis identitas baharinya. Provinsi yang dulunya diperkirakan memiliki ratusan pulau kecil atau delta di tengah lahan basah kini hanya menyisakan 23 pulau. Sebagian besar pulau yang tersisa, seperti Pulau Kemaro dan Pulau Kreto, kini berdiri sebagai peninggalan terisolasi di Sungai Musi, sementara ratusan pulau lainnya telah lenyap ditelan perubahan bentang alam yang masif.
Hilangnya pulau-pulau ini bukanlah fenomena alamiah semata, melainkan akibat berkelanjutan dari alih fungsi lahan basah dan rawa gambut, terutama di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir. Hingga saat ini, ratusan ribu hektare rawa telah dikeringkan dan diubah menjadi perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri, hingga permukiman dan infrastruktur jalan darat. Pengeringan rawa dan pembangunan jalan yang menyambungkan daratan telah secara permanen menghapus batas perairan, membuat pulau-pulau kecil menyatu dengan daratan utama dan kehilangan eksistensinya.
Kepunahan pulau-pulau ini juga menandai memudarnya kearifan lokal masyarakat bahari Palembang. Secara historis, masyarakat Palembang memandang Sungai Musi sebagai “laut” dan daratan kecil di perairannya sebagai “pulau”. Mereka hidup beradaptasi dengan air melalui rumah rakit, perahu kajang, dan rumah panggung. Dalam pandangan masyarakat bahari tradisional, air bukanlah sumber bencana, melainkan sumber kehidupan dan jalur transportasi utama yang ramah.
Namun, pola pembangunan modern yang mengadopsi konsep daratan; dengan menimbun sungai, mengeringkan rawa, dan membangun infrastruktur tanpa tiang; telah memutus hubungan harmonis tersebut. Ironisnya, upaya untuk “mengusir” air dari ruang hidup manusia ini justru menjadi bumerang yang nyata saat ini. Setiap kali musim hujan tiba atau saat pasang laut naik, Sumatera Selatan, khususnya Palembang dan sekitarnya, kini semakin sering lumpuh oleh banjir dan genangan yang parah. Hilangnya daerah resapan air dan perubahan iklim memperburuk kondisi ini, menjadikan banjir sebagai bencana tahunan yang tak kunjung_finda solusinya.
Kini, hanya tersisa segelintir rumah rakit dan rumah panggung yang bertahan di tepian Sungai Musi, menjadi saksi bisu dari sebuah masyarakat yang semakin terasing dari perairannya sendiri. Hilangnya ratusan pulau di Sumatera Selatan bukan sekadar tragedi geografis atau hilangnya tutupan lahan basah, melainkan sebuah amnesia budaya yang mendalam. Masyarakat yang dulunya tangguh beradaptasi dengan air, kini harus berjuang keras bertahan hidup dari air yang sebenarnya mereka coba taklukkan.

Jejak Sejarah dan Ancaman Fatal di Balik Tradisi Daging Anjing Minahasa

Akhyari Hananto 3 Jun 2026
Tradisi mengonsumsi daging anjing di Minahasa, Sulawesi Utara, yang dikenal dengan hidangan Rintek Wuuk (RW), merupakan kebiasaan yang telah berakar sejak lama. Meskipun belum ada bukti penanggalan karbon dari tulang anjing di situs prasejarah, relief motif anjing pada Waruga yang berasal dari abad ke-7 Masehi mengindikasikan bahwa hewan ini telah lama berinteraksi dengan masyarakat setempat. Anjing diperkenalkan oleh manusia berbahasa Austronesia sekitar 3.000 tahun lalu. Pada masa lalu, daging anjing hanya dikonsumsi oleh keluarga saat musim paceklik atau ketika buruan sulit didapat, bukan untuk diperjualbelikan. Menariknya, dalam budaya Minahasa, satu-satunya hewan yang pantang dikonsumsi adalah burung hantu atau manguni yang sangat disakralkan.
Seiring berjalannya waktu dan masuknya ekonomi pasar, tradisi yang awalnya berfungsi untuk mengendalikan populasi anjing yang cepat bereproduksi ini bergeser menjadi komoditas perdagangan. Pusat perdagangan daging anjing yang terkenal adalah Pasar Ekstrem Tomohon. Namun, kesadaran akan dampak negatif dari perdagangan ini mulai membuahkan hasil.  Pemerintah Kota Tomohon resmi melarang perdagangan anjing dan kucing. Langkah ini diambil untuk menyelamatkan ribuan hewan dari penyembelihan kejam serta melindungi masyarakat dari ancaman kesehatan yang serius. Sebelumnya,  Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan juga telah mengeluarkan surat edaran yang menegaskan bahwa daging anjing tidak termasuk dalam definisi pangan dan berisiko menularkan penyakit zoonosis.
Larangan ini sangat beralasan mengingat konsumsi dan perdagangan daging anjing membawa ancaman besar bagi kesehatan manusia. Anjing merupakan penular utama penyakit rabies di Indonesia, menyumbang hingga 98 persen kasus. Selain rabies, mengonsumsi daging anjing juga berisiko memicu hipertensi, gangguan saluran pencernaan, hingga kolera. Di sisi lain, perdagangan ini juga memberikan dampak psikologis yang buruk, terutama bagi anak-anak. Proses penjagalan yang dilakukan secara kejam di tempat umum dan disaksikan oleh berbagai kalangan, termasuk anak-anak, dapat menormalisasi kekerasan dan mengganggu perkembangan psikologis mereka. Mengubah pandangan masyarakat yang telah mendarah daging ini memang memerlukan perjuangan panjang dan kampanye berkelanjutan, namun langkah pelarangan ini menjadi awal yang penting bagi kesehatan masyarakat dan kesejahteraan hewan.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.