Di tengah penerbangan modern, pesawat dan burung masih berbagi ruang udara. Pertemuan keduanya menjadi risiko yang perlu diperhitungkan, terutama di sekitar bandara. Burung dapat melintas ketika pesawat hendak lepas landas atau mendarat, sementara sumber makanan, air, dan tempat berlindung di kawasan sekitarnya dapat menarik satwa mendekat. Karena itu, keselamatan penerbangan juga berkaitan dengan bagaimana lingkungan bandara dikelola dan aktivitas satwa dipantau.
Tabrakan pesawat dengan burung, atau bird strike, bukan kejadian langka. Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) mencatat sekitar 292 ribu laporan tabrakan pesawat dengan satwa liar sepanjang 1990-2023, sebagian besar melibatkan burung. Pada 2023 saja, hampir 20 ribu kasus dilaporkan di 780 bandara Amerika Serikat.
Meski menjadi persoalan penerbangan masa kini, peristiwa tersebut memiliki sejarah panjang. “Tabrakan pesawat dengan burung, setua umur penerbangan itu sendiri. Catatan pertama dialami oleh penerbangan Wright III pada 7 September 1905,” tulis Isabel C. Merz bersama timnya dalam jurnal Aerospace.
Risiko tersebut kembali mendapat perhatian setelah kecelakaan Jeju Air di Korea Selatan pada Desember 2024. Pilot melaporkan tabrakan burung sebelum pesawat mencoba pendaratan alternatif, kemudian tergelincir dan terbakar. Namun, laporan itu tidak serta-merta menjelaskan seluruh penyebab kecelakaan.
Pengamat penerbangan Alvin Lie mengingatkan bahwa tabrakan burung dengan mesin dapat menyebabkan mesin mati, tetapi tidak menjelaskan masalah roda pendaratan. “Jadi pasti ada alasan lain,” katanya. Peristiwa ini memperlihatkan pentingnya membedakan laporan tabrakan burung dengan kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan.
Penelitian Merz menunjukkan bahwa tabrakan paling banyak dilaporkan pada ketinggian di bawah 2.500 kaki. Musim dan posisi bandara juga berpengaruh: kejadian lebih banyak pada musim panas, sementara bandara di jalur migrasi menghadapi risiko lebih besar.
Burung berukuran besar dan terbang berkelompok, seperti angsa, berpotensi menimbulkan kerusakan. Bagi burung, benturan tersebut membawa konsekuensi mematikan. Satwa lain pun dapat terlibat; FAA mencatat kasus dengan rusa, anjing hutan, kura-kura, kelelawar, buaya, dan iguana. Pengawasan bandara dengan demikian perlu mencakup satwa di darat maupun udara.
Untuk mengurangi risiko, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) mengimbau pengelolaan satwa liar hingga radius 13 kilometer di sekitar bandara. Pencegahan mencakup pengelolaan sumber makanan, air, dan tempat berlindung, serta penggunaan sirine, drone, atau anjing terlatih untuk mengusir burung. Warna pesawat yang kontras dengan langit juga membantu burung mengenali keberadaannya, sementara lampu berdenyut disebut dapat mengurangi tabrakan hingga 66 persen.
“Pemantauan burung di luar bandara juga perlu dilakukan,” jelas laporan tersebut. Bagi penerbangan masa kini, memahami lingkungan sekitar bandara tetap menjadi bagian penting dari upaya melindungi penumpang, awak, dan satwa yang menggunakan ruang yang sama.
Foto utama: Pesawat terbang yang saat mengudara tidak bisa menghindari tabrakan dengan burung. Foto: Pixabay/Martin Herfurt/Free to use.