Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Bukan Hanya Main, Anak Orangutan yang Aktif Menjelajah Hutan Hidupnya Lebih Mandiri

Nuswantoro 9 Okt 2026
Cerita fitur

Nelayan dan Petani Waswas Terdampak Proyek PLTS Waduk Gajah Mungkur

Triyo Handoko 9 Okt 2026
Cerita fitur

Kawasan Konservasi Teluk Benoa Masih Dalam Keterancaman

I Gusti Ayu Septiari 9 Okt 2026
Cerita fitur

Cerita Para Perempuan Nelayan Karaka dari Kampung Atuka

Asrida Elisabeth 9 Okt 2026
Cerita fitur

Nasib Masyarakat Adat Long Beluah Terkepung Konsesi Sawit

Niken D Sitoningrum 8 Okt 2026

Apakah Penyu yang Menentas di Pantai Lalu Kembali untuk Bertelur, Jenis yang Sama?

M Ambari 8 Okt 2026
Semua berita

Berita utama

Nelayan dan Petani Waswas Terdampak Proyek PLTS Waduk Gajah Mungkur

Kawasan Konservasi Teluk Benoa Masih Dalam Keterancaman

I Gusti Ayu Septiari 9 Okt 2026

Cerita Para Perempuan Nelayan Karaka dari Kampung Atuka

Asrida Elisabeth 9 Okt 2026

Nasib Masyarakat Adat Long Beluah Terkepung Konsesi Sawit

Niken D Sitoningrum 8 Okt 2026

Masyarakat Adat Dayak Bahau Umaq Suling Desak Penetapan Hutan Adat

Irfan Maulana 8 Okt 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan

Pemerintah Mau Hidupkan BRGM Lagi Setelah Kebakaran Hutan dan Gambut Menggila

Richaldo Hariandja 6 Okt 2026

Kebakaran Hutan Bahayakan Kesehatan Masyarakat dan Rugikan Ekonomi

Irfan Maulana 26 Sep 2026

Terjadi Lonjakan Sakit Pernapasan Dampak Asap Kebakaran Hutan

Achmad Rizki Muazam 16 Sep 2026

Asap Karhutla Tak Kenal Batas Administratif, Bikin Manusia dan Satwa Liar Menderita

Christopel Paino 15 Sep 2026

Kemarau panjang menyebabkan kekeringan. Kebakaran hutan dan lahan parah pun terjadi di Kalimantan, Sumatera, sampai Papua. Masyarakat pun harus menghirup udara beracun dari asap karhutla. Petugas maupun relawan pemadam kebakaran sudah ada yang meninggal dunia karena terpapar lama asap berbahaya karhutla ini. Kementerian Kesehatan pada pertengahan Agustus lalu mencatat, lebih dari 3 juta warga di […]

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan series

Lebih spesial

9 cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

9 cerita

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Bessé, Perempuan Toalean dari Sulawesi 7.200 Tahun Lalu

Akita Verselita 3 Okt 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Krisis Air dan Kesehatan Membayangi 24 Ribu Penyintas Gempa NTT

Editor 9 Okt 2026

Sebulan lebih setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur, ancaman terhadap keselamatan warga belum berakhir.

Data BNPB per 28 September mencatat 156 korban meninggal, terdiri dari 48 orang yang meninggal ketika gempa terjadi dan 108 orang setelah bencana. Kematian pascabencana berlangsung di rumah, fasilitas kesehatan, maupun pengungsian. Sementara itu, sekitar 24.027 orang masih mengungsi dalam kondisi keterbatasan air bersih, pangan, sanitasi, dan layanan kesehatan. Situasi tersebut memperberat kehidupan penyintas, terutama lansia, anak-anak, dan warga yang memiliki penyakit penyerta.

BNPB mengkategorikan kematian pascabencana sebagai kematian tidak langsung, yang berkaitan dengan usia, penyakit kronis, serta penurunan kesehatan. “Data dari tim medis menunjukkan sebagian besar warga tersebut adalah kelompok lansia yang meninggal dunia karena komplikasi penyakit kronis,” kata Berton SP. Panjaitan, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB. Namun, korban juga mencakup warga usia produktif, anak, dan bayi. Gangguan kesehatan, kelelahan ekstrem, tekanan mental, serta memburuknya kondisi setelah gempa susulan turut disebut sebagai faktor yang berkaitan dengan kematian tersebut.

Kondisi pengungsian menjadi perhatian karena dapat memperbesar risiko kesehatan kelompok rentan. Fransiskus Sales Solo, Sekretaris Daerah NTT,  menyebut pneumonia dan diare sebagai sejumlah persoalan yang dialami penyintas. “Mereka terserang berbagai penyakit saluran pernapasan seperti pneumonia hingga diare akibat cuaca ekstrem serta lingkungan pengungsian yang berdebu dan bersanitasi kurang memadai,” ujarnya. Di tengah kemarau, menurunnya debit dan kualitas air sungai turut memperburuk kesulitan mendapatkan air bersih. BNPB juga mencatat 1.620 korban luka atau sakit, sementara ribuan rumah dan berbagai fasilitas publik mengalami kerusakan.

Walhi menilai tingginya kematian pascabencana harus mendorong evaluasi terhadap sistem perlindungan warga. Usia lanjut maupun penyakit bawaan tidak semestinya digunakan untuk menormalisasi kematian penyintas. “Ketika mereka meninggal di pengungsian, maka yang harus dievaluasi adalah sistem perlindungan negara, bukan kondisi para korban,” kata Umbu Wulang Tanaamah Paranggi dari Walhi Nasional. Walhi NTT menekankan perlunya mitigasi yang sesuai dengan karakter Flores sebagai wilayah rawan gempa, tsunami, dan bencana vulkanik. Organisasi tersebut berencana menyampaikan keberatan administratif kepada pemerintah pusat dan daerah untuk menuntut akuntabilitas penanganan bencana.

Kebutuhan perlindungan masih terlihat di pengungsian mandiri, termasuk pada keluarga Maria Aleksia yang tinggal dalam tenda terpal dengan anyaman daun kelapa sebagai alas tidur. Norman Riwu Kaho, Ketua FPRB NTT, menyebut sekitar sembilan dari sepuluh pengungsi berada di luar lokasi evakuasi terpusat, sehingga pendataan dan pemenuhan kebutuhan dasar masih mendesak.

“Fase transisi darurat menuju pemulihan harus mulai disiapkan secara paralel, bukan menunggu masa darurat berakhir,” katanya. Norman mendesak pemerintah menyiapkan hunian sementara sebelum musim hujan tiba, sekaligus memastikan layanan kesehatan dan perlindungan kelompok rentan tetap berjalan.

Foto utama: Kondisi jalan di Desa Mekendetung, Kabupaten Sikka yang terbelah akibat gempa Flores. Foto : Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia.

Dikira Kucing Kampung, Ternyata Spesies Baru dari Bolivia

Editor 9 Okt 2026

Seekor anak kucing yang ditemukan di dekat jalan hutan Yungas, Bolivia, pada 2016 ternyata menyimpan petunjuk tentang keragaman kucing liar yang belum dikenali sains. Warga yang menemukannya sempat mengira hewan tersebut adalah kucing kampung dan memeliharanya selama sekitar setahun. Namun, perilakunya yang berbeda dari kucing rumahan membuat hewan itu akhirnya diserahkan ke Suaka Margasatwa Senda Verde. Kucing yang kemudian dipanggil “Tigrino” tersebut menjadi awal penelitian yang mengungkap spesies baru bernama Leopardus tilcayo, mengikuti nama lokal yang digunakan masyarakat.

Paola Nogales-Ascarrunz, ahli biologi Bolivia yang menjadi sukarelawan di suaka tersebut, awalnya menduga Tigrino termasuk Leopardus tigrinus, kelompok kucing tutul kecil yang telah lama dikenal. Wajahnya menyempit, telinganya pendek dan bulat, serta tubuhnya bertotol.

Keraguan muncul pada 2019, ketika ia membandingkan foto Tigrino dengan referensi kucing tutul kecil dari Brazil. Bercak pada tubuhnya terlihat lebih besar dan tidak beraturan. Perbedaan tersebut mendorong Nogales-Ascarrunz bekerja bersama Jonas Lescroart dan Eduardo Eizirik untuk menelusuri identitasnya melalui analisis genetik.

Tim menganalisis genom 38 individu dalam genus Leopardus, termasuk delapan spesimen museum dari berbagai negara Amerika Selatan. Hasilnya menunjukkan bahwa kucing Bolivia tersebut memiliki garis keturunan yang terpisah dari kelompok kucing tutul kecil lainnya sejak sekitar 1,4 juta tahun lalu. Para peneliti menilai jarak evolusi itu cukup untuk mendukung pengenalannya sebagai spesies tersendiri. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology pada 17 September 2026 ini memperlihatkan bagaimana kemiripan penampilan dapat menyembunyikan perbedaan genetik yang besar.

Pengetahuan tentang kehidupan tilcayo masih terbatas. Tigrino, kucing jantan berusia 10 tahun yang tinggal di Senda Verde, merupakan satu-satunya individu hidup yang diketahui. Temuan sisa hewan pengerat dalam kotorannya mengindikasikan bahwa mamalia kecil kemungkinan menjadi bagian makanannya, sedangkan rekaman kamera jebak menunjukkan kecenderungan aktif pada malam hari.

Studi yang sama juga mengungkap lima garis keturunan berbeda dalam kelompok kucing tutul kecil, serta mendeskripsikan subspesies baru dari Yungas Peru, Leopardus tigrinus antisuyo. Hasil ini menjadi dasar untuk meninjau kembali pengelompokan dan kebutuhan perlindungan mereka.

Pemisahan tersebut penting bagi konservasi karena penilaian terhadap kelompok yang luas dapat menutupi kerentanan masing-masing spesies. Para peneliti telah membagikan hasilnya kepada IUCN untuk evaluasi terpisah, yang berpotensi menunjukkan tilcayo lebih terancam daripada perkiraan sebelumnya. Sementara itu, hutan Yungas menghadapi deforestasi, perluasan pertanian, kebakaran akibat aktivitas manusia, dan pertambangan. Perlindungan hutan tersisa, pemulihan kawasan terbakar, serta pemeliharaan hubungan antarhabitat menjadi prioritas. Eduardo Eizirik menilai penemuan ini menunjukkan masih adanya spesies yang belum terdeskripsikan dan berisiko punah sebelum dikenali sains. Identitas tilcayo kini terungkap, tetapi kondisi populasinya di alam masih perlu dipahami.

Foto utama: Tampilan dekat wajah “Tigrino,” individu Leopardus tilcayo yang menjadi awal terungkapnya spesies baru ini setelah dipelihara sebagai kucing rumahan sebelum akhirnya diserahkan ke Suaka Margasatwa Senda Verde, Bolivia. Foto: Paola Nogales-Ascarrunz.

Dari Irigasi hingga Sumber Air, Masyarakat Lombok Soroti Dampak Buruk Tambang Galian C

Editor 8 Okt 2026

Air kecoklatan menutupi jalan Dusun Karang Tembar, Desa Lenek, Lombok Timur, pada suatu malam ketika hujan tidak begitu deras. Lumpur bercampur pasir dan batu menyumbat saluran, masuk ke halaman rumah, hingga menyasar sawah. Warga menduga material tersebut berasal dari tambang galian C di kawasan hulu.

Bagi Muhammad Yunus, warga Lenek, persoalan itu berulang setiap hujan. Saluran irigasi mengalami sedimentasi sehingga petani harus mengeluarkan tenaga tambahan untuk membersihkannya. Material yang masuk ke petak sawah juga disebut mengganggu kondisi tanah dan pertumbuhan padi.

“Banyak batu-batu dan pasir yang masuk ke sawah orang. Kualitas padinya jauh menurun ketimbang sebelum ada galian C,” kata Yunus. Menurutnya, hasil pertanian menurun sementara biaya pemeliharaan meningkat. Warga pernah berunjuk rasa, tetapi perbaikan yang mereka rasakan hanya berlangsung singkat.

Keluhan berbeda muncul di Kalijaga Timur. Ahmad Zakaria mengatakan kendaraan pengangkut material mempercepat kerusakan jalan dan membawa debu ke permukiman. Saat kemarau, debu menempel pada rumah, tanaman, dan fasilitas umum. Warga khawatir kondisi tersebut mengganggu kesehatan, terutama anak-anak.

Data Puskesmas Kalijaga dan Korleko menunjukkan ISPA termasuk tiga penyakit terbanyak sepanjang 2023-2025, dengan rata-rata sekitar 2.000 kasus per tahun. Namun, angka itu belum membuktikan bahwa aktivitas tambang menjadi penyebabnya. Kepala Puskesmas Kalijaga, Nursini Juiban Hadi, menekankan perlunya penelitian.

“Bisa jadi ya, bisa juga tidak. Perlu penelitian lebih jauh, karena tidak bisa kita spekulasi hanya karena ada hubungannya saja, harus ada bukti ilmiahnya,” katanya.

Di Karleko, warga menyebut sumur ikut terdampak perubahan lingkungan. Citra satelit yang dibahas dalam artikel juga memperlihatkan pembukaan lahan baru di sekitar aliran sungai selama lima tahun terakhir. Selpin Riawan, pemuda setempat, menilai perubahan itu mengancam lahan pertanian dan sumber air yang menopang kehidupan warga.

Aktivis lingkungan Juaeni meminta pemerintah memeriksa pelaksanaan kewajiban lingkungan di lokasi tambang. “Pengawasan tidak boleh berhenti pada izin, tetapi harus memastikan kegiatan di lapangan sesuai dengan kewajiban lingkungan, tidak melampaui daya dukung, dan tidak memindahkan biaya kerusakan kepada masyarakat serta APBD.”

Dinas Lingkungan Hidup Lombok Timur berjanji menurunkan tim untuk memeriksa, mendata, dan mendokumentasikan keluhan warga sebelum menyampaikan hasilnya kepada pemerintah provinsi. Sementara itu, Dinas ESDM NTB menyatakan pengawasan dampak lingkungan menjadi kewenangan dinas lingkungan hidup. Bagi warga, pemeriksaan tersebut diharapkan menjelaskan sumber material yang menyumbat sawah, kondisi sumber air, serta risiko paparan debu.

Foto utama: Betang alam di Lombok Timur yang berubah akibat maraknya tambang galian C. Foto: Ahmad H. Ramdhani/Mongabay Indonesia.

Seberapa Sering Pesawat Terbang Tabrakan dengan Burung di Udara?

Editor 8 Okt 2026

Di tengah penerbangan modern, pesawat dan burung masih berbagi ruang udara. Pertemuan keduanya menjadi risiko yang perlu diperhitungkan, terutama di sekitar bandara. Burung dapat melintas ketika pesawat hendak lepas landas atau mendarat, sementara sumber makanan, air, dan tempat berlindung di kawasan sekitarnya dapat menarik satwa mendekat. Karena itu, keselamatan penerbangan juga berkaitan dengan bagaimana lingkungan bandara dikelola dan aktivitas satwa dipantau.

Tabrakan pesawat dengan burung, atau bird strike, bukan kejadian langka. Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) mencatat sekitar 292 ribu laporan tabrakan pesawat dengan satwa liar sepanjang 1990-2023, sebagian besar melibatkan burung. Pada 2023 saja, hampir 20 ribu kasus dilaporkan di 780 bandara Amerika Serikat.

Meski menjadi persoalan penerbangan masa kini, peristiwa tersebut memiliki sejarah panjang. “Tabrakan pesawat dengan burung, setua umur penerbangan itu sendiri. Catatan pertama dialami oleh penerbangan Wright III pada 7 September 1905,” tulis Isabel C. Merz bersama timnya dalam jurnal Aerospace.

Risiko tersebut kembali mendapat perhatian setelah kecelakaan Jeju Air di Korea Selatan pada Desember 2024. Pilot melaporkan tabrakan burung sebelum pesawat mencoba pendaratan alternatif, kemudian tergelincir dan terbakar. Namun, laporan itu tidak serta-merta menjelaskan seluruh penyebab kecelakaan.

Pengamat penerbangan Alvin Lie mengingatkan bahwa tabrakan burung dengan mesin dapat menyebabkan mesin mati, tetapi tidak menjelaskan masalah roda pendaratan. “Jadi pasti ada alasan lain,” katanya. Peristiwa ini memperlihatkan pentingnya membedakan laporan tabrakan burung dengan kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan.

Penelitian Merz menunjukkan bahwa tabrakan paling banyak dilaporkan pada ketinggian di bawah 2.500 kaki. Musim dan posisi bandara juga berpengaruh: kejadian lebih banyak pada musim panas, sementara bandara di jalur migrasi menghadapi risiko lebih besar.

Burung berukuran besar dan terbang berkelompok, seperti angsa, berpotensi menimbulkan kerusakan. Bagi burung, benturan tersebut membawa konsekuensi mematikan. Satwa lain pun dapat terlibat; FAA mencatat kasus dengan rusa, anjing hutan, kura-kura, kelelawar, buaya, dan iguana. Pengawasan bandara dengan demikian perlu mencakup satwa di darat maupun udara.

Untuk mengurangi risiko, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) mengimbau pengelolaan satwa liar hingga radius 13 kilometer di sekitar bandara. Pencegahan mencakup pengelolaan sumber makanan, air, dan tempat berlindung, serta penggunaan sirine, drone, atau anjing terlatih untuk mengusir burung. Warna pesawat yang kontras dengan langit juga membantu burung mengenali keberadaannya, sementara lampu berdenyut disebut dapat mengurangi tabrakan hingga 66 persen.

“Pemantauan burung di luar bandara juga perlu dilakukan,” jelas laporan tersebut. Bagi penerbangan masa kini, memahami lingkungan sekitar bandara tetap menjadi bagian penting dari upaya melindungi penumpang, awak, dan satwa yang menggunakan ruang yang sama.

Foto utama: Pesawat terbang yang saat mengudara tidak bisa menghindari tabrakan dengan burung. Foto: Pixabay/Martin Herfurt/Free to use.

Kemarau Panjang dan Misteri Kepergian Manusia Purba Flores

Editor 7 Okt 2026

Sekitar seratus ribu tahun lalu, Flores merupakan pulau yang lebih hijau dan basah. Hutan tropis lembab menutupi sebagian besar wilayahnya, hujan turun lebih merata, dan sungai mengalir sepanjang tahun. Di sekitar Liang Bua, Sungai Wae Rancang menyediakan air bagi manusia purba dan berbagai hewan yang berbagi lingkungan.

Namun, kondisi itu perlahan berubah. Curah hujan menyusut, kemarau memanjang, dan ketersediaan air semakin terbatas. Penelitian mengungkap bahwa perubahan tersebut mungkin turut mendorong Homo floresiensis meninggalkan Liang Bua.

“Penyebab hilangnya manusia purba Homo floresiensis dari Pulau Flores sekitar lima puluh ribu tahun lalu adalah pertanyaan kunci dalam paleoantropologi,” tulis Michael K. Gagan bersama tim peneliti.

Untuk memahami persoalan itu, para peneliti merekonstruksi iklim masa lalu menggunakan stalagmit dari Liang Luar, gua yang berjarak sekitar 660 meter dari Liang Bua. Mereka mengukur perbandingan magnesium terhadap kalsium serta rasio isotop oksigen. Analisis juga dilakukan terhadap enamel gigi gajah kerdil Flores, Stegodon florensis insularis.

Petunjuk dari batuan gua dan gigi tersebut membantu menggambarkan perubahan curah hujan serta kondisi musim ketika manusia purba menghuni kawasan itu. Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment pada Desember 2025.

Penelitian menunjukkan curah hujan tahunan terus menurun antara 76 ribu hingga 61 ribu tahun lalu. Kekeringan paling ekstrem berlangsung sekitar 61 ribu hingga 55 ribu tahun lalu, bersamaan dengan penurunan populasi stegodon, hewan buruan H. floresiensis.

Ketika air dan vegetasi menyusut, tekanan terhadap manusia dan hewan meningkat. Persaingan mendapatkan air serta berkurangnya mangsa diduga ikut mengubah kehidupan di sekitar Liang Bua.

“Temuan kami menunjukkan perubahan iklim, yang berpotensi dikombinasikan dengan dinamika predator-mangsa, sebagai kontributor penurunan H. floresiensis dan S. florensis insularis sebelum menghilangnya mereka di Liang Bua.”

Meski demikian, hilangnya jejak kedua spesies dari gua tersebut belum tentu berarti mereka langsung punah. Para peneliti menawarkan kemungkinan bahwa stegodon berpindah menuju habitat dengan air lebih tersedia, kemudian diikuti manusia purba yang mencari mangsa.

“Hampir tidak adanya kedua spesies di Liang Bua setelah sekitar 61 ribu tahun yang lalu mungkin hanya mencerminkan relokasi mereka ke habitat yang lebih menguntungkan.”

Temuan ini juga memberi sudut pandang terhadap dugaan persaingan dengan manusia modern. Revisi penanggalan menunjukkan hilangnya H. floresiensis dari Liang Bua mendahului kedatangan manusia modern di lokasi itu sekitar 46 ribu tahun lalu.

Ditemukan pada 2003, fosil H. floresiensis memperlihatkan manusia dewasa bertubuh kecil, dengan tinggi diperkirakan sekitar satu meter, yang mampu membuat peralatan batu. Kini, rekaman iklim membantu menjelaskan tantangan lingkungan yang mereka hadapi: kehidupan yang bergantung pada air dapat berubah ketika hujan tidak lagi mencukupi.

Foto utama: Fosil gajah Stegodon floresis yang merupakan koleksi Museum Geologi, Bandung, Jawa Barat. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia.

Tidak Lagi Berburu Hiu, Mereka Kini Hidup Tenang Menjadi Pemandu Wisata

Editor 7 Okt 2026

Alimuddin kini menghabiskan pagi di tepi pantai Tanjung Luar, Lombok Timur, menunggu giliran mengantar wisatawan. Sejak 2016, ia bekerja sebagai pemandu wisata setelah hampir dua dekade menangkap hiu. Perubahan pekerjaan itu berangkat dari pengalaman melaut berminggu-minggu, dengan penghasilan yang menurutnya tidak sepadan dengan bahaya.

“Menangkap hiu tidak sebanding (penghasilan) dengan risiko,” katanya.

Agip mengambil pilihan serupa. Ia berhenti menangkap hiu pada 2010, sempat menjadi nelayan tradisional, lalu beralih ke wisata bahari. Selain pendapatan, jarak dengan keluarga menjadi pertimbangannya. Kini, ia mengatakan dapat memperoleh Rp150.000-Rp200.000 sehari ketika mengantar wisatawan, dengan perjalanan yang lebih pendek.

Kisah mereka berlangsung di salah satu lokasi pendaratan hiu dan pari yang besar. Selama dua tahun pemantauan, peneliti mencatat lebih dari 13.000 hiu dan pari dari 57 spesies didaratkan di Tanjung Luar. Namun, menurut Alimuddin dan Agip, nilai perdagangan itu tidak selalu membawa kesejahteraan bagi awak kapal.

Keduanya mengeluhkan pembagian hasil yang tidak transparan, beban biaya operasional, dan utang ketika tangkapan tidak menutupi ongkos perjalanan. Awak juga disebut harus ikut menanggung perbaikan kapal serta biaya pengobatan sendiri. Kondisi tersebut membuat peralihan pekerjaan menjadi bagian penting pembicaraan tentang konservasi hiu.

Yayasan Kebersamaan untuk Lautan (KUL) pernah memberikan kompensasi kepada nelayan yang melepaskan hiu dan pari hidup. Program itu tidak berjalan sesuai harapan. Dalam setahun, hanya tiga hiu dilepaskan. Bahkan ketika kompensasi dinaikkan, menurut Sekretaris KUL M. Said Ramdlan, tekanan dari pengepul, pemilik kapal, dan permintaan pasar tetap menyulitkan pelepasliaran.

KUL kemudian membeli dua kapal penangkap hiu, masing-masing seharga Rp300 juta, lalu memensiunkannya secara permanen. Kedua kapal tercatat menangkap 406 hiu dan pari sepanjang 2025. Berdasarkan jumlah tersebut, KUL memperkirakan penghentian operasinya dapat mencegah kematian lebih dari 4.000 hiu dan pari dalam 10 tahun.

Menurut Said, perlindungan hiu perlu disertai pekerjaan alternatif bagi masyarakat. Larangan penangkapan saja tidak cukup ketika nelayan masih bergantung pada perdagangan hiu dan pari atau belum memiliki modal serta keterampilan untuk beralih.

Upaya perubahan itu membutuhkan waktu. Muksin, yang mendorong peralihan pekerjaan sejak 2007, menyebut sekitar 11 nelayan kini bekerja di kapal wisata. “Mengubah perilaku itu kan nggak setahun dua tahun, butuh waktu.”

Bagi Alimuddin dan Agip, wisata bahari membuka jalan untuk meninggalkan pekerjaan berisiko. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa menjaga hiu juga berkaitan dengan memberi nelayan kesempatan memperoleh penghasilan dan tetap dekat dengan keluarga.

Foto utama: Pekerja membawa hiu hasil tangkapan ke tempat pelelangan ikan di Lombok Timur. Foto: Ahmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.