Hamparan sabana yang luas, perbukitan bergelombang, dan kawanan kuda yang berlari bebas telah lama menjadi wajah Pulau Sumba. Namun, bagi masyarakat Sumba, kuda bukan sekadar penghias lanskap. Hewan yang mereka sebut ‘ndara’ ini merupakan bagian dari identitas budaya yang telah menyatu dengan kehidupan selama berabad-abad.
Bagi masyarakat Tanah Marapu, kuda menempati posisi yang nyaris setara dengan leluhur. Bahkan, berbeda dengan hewan peliharaan lain, kuda di Sumba tidak diberi nama karena dianggap memiliki kedudukan yang terlalu mulia untuk dipersonalisasi. Kuda hadir dalam hampir seluruh fase kehidupan: menjadi alat transportasi, simbol status sosial, bagian dari mas kawin (belis), hewan kurban dalam upacara adat, hingga dipercaya sebagai tunggangan terakhir menuju alam baka.
Tak heran jika di antara ternak penting masyarakat Sumba seperti babi, kerbau, dan kuda, justru kuda dianggap memiliki peran paling lengkap.
Kuda khas Sumba dikenal sebagai Sandalwood Pony, salah satu rumpun kuda asli Indonesia. Nama “Sandalwood” berasal dari kayu cendana yang dahulu menjadi komoditas ekspor utama Nusa Tenggara.
Secara fisik, kuda ini tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 110–130 sentimeter. Tubuhnya kompak, berdada lebar, dengan telinga kecil dan surai tebal. Meski bertubuh mungil, keunggulan utamanya justru terletak pada daya tahan.
Selama ratusan tahun, Sandalwood berkembang di lingkungan savana Sumba yang panas dan kering. Adaptasi itu membuatnya mampu berjalan jauh, bekerja di medan berbukit, serta bertahan dengan pakan yang relatif terbatas. Ketahanan tersebut juga menjadi alasan mengapa rumpun ini dikenal lebih tahan terhadap cuaca tropis dibanding banyak kuda impor.
Kemampuan itulah yang dahulu menjadikan Sandalwood sebagai alat transportasi utama masyarakat, bahkan kendaraan perang sebelum hadirnya kendaraan bermotor.
Keunikan kuda Sumba paling mudah terlihat dalam Pasola, tradisi perang tombak berkuda yang telah dikenal hingga mancanegara.
Dalam ritual tahunan ini, dua kelompok penunggang kuda saling melempar tombak kayu sambil memacu kudanya di padang rumput. Atraksi tersebut bukan sekadar pertunjukan, melainkan bagian dari ritual adat dan harapan akan musim tanam yang baik.
Keberhasilan seorang peserta Pasola tidak hanya ditentukan oleh keterampilan berkuda, tetapi juga oleh kualitas kudanya. Kombinasi kuda yang kuat dan penunggang yang piawai dapat mengangkat prestise pemiliknya di tengah masyarakat.
Meski begitu dihormati, ras asli Sandalwood kini justru semakin sulit ditemukan.
Penyebab utamanya datang dari kecintaan masyarakat sendiri terhadap pacuan kuda. Dibandingkan kuda impor, Sandalwood memiliki tubuh lebih kecil sehingga kalah cepat di lintasan balap. Untuk menghasilkan kuda pacu yang lebih kompetitif, banyak peternak mengawinsilangkan Sandalwood dengan kuda Australia maupun ras impor lainnya.
Praktik tersebut sebenarnya bukan hal baru. Sejak masa kolonial Belanda pada abad ke-19, persilangan sudah dilakukan demi memperoleh kuda yang lebih besar dan lebih cepat. Akibatnya, populasi Sandalwood murni terus menyusut dari generasi ke generasi.
Ironi serupa juga terlihat di Dompu, Nusa Tenggara Barat. Di sana, kuda lokal Sandalwood turut disilangkan dengan ras Australia demi memenuhi kebutuhan pacuan dan status sosial. Padahal, para ahli menilai kuda lokal justru memiliki keunggulan berupa daya tahan terhadap panas dan penyakit karena telah lama beradaptasi dengan lingkungan tropis Indonesia.
Foto utama: Kuda jenis sandalwood di savana Sumba, NTT. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia.