Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua

Terbaru

Cemara Laut Bikin Pesisir Kebumen Sejuk dan Lindungi Tanaman Pertanian Warga

L Darmawan 27 Sep 2026
Cerita fitur

Warga Pulau Kecil Maluku Utara Darurat Kekeringan

Mahmud Ichi 27 Sep 2026

Buah Terbesar yang Tumbuh di Pohon Ini Dilirik sebagai Pangan Tahan Perubahan Iklim

Akhyari Hananto 27 Sep 2026
Cerita fitur

Kebakaran Hutan Bahayakan Kesehatan Masyarakat dan Rugikan Ekonomi

Irfan Maulana 26 Sep 2026
Cerita fitur

Banjir Bandang Terjang Solok, Dampak Alih Fungsi Hutan?

Jaka Hendra Baittri, Vinolia 26 Sep 2026

Paus Punah dan yang Masih Hidup Ditemukan Berdampingan di Dasar Samudra Hindia

Akhyari Hananto 26 Sep 2026
Semua berita

Berita utama

Warga Pulau Kecil Maluku Utara Darurat Kekeringan

Mahmud Ichi 27 Sep 2026

Kebakaran Hutan Bahayakan Kesehatan Masyarakat dan Rugikan Ekonomi

Irfan Maulana 26 Sep 2026

Banjir Bandang Terjang Solok, Dampak Alih Fungsi Hutan?

Jaka Hendra Baittri, Vinolia 26 Sep 2026

Jerat Utang Perburuk Kondisi Pekerja Kapal Perikanan Indonesia

Anggita Raissa, Niko Wicaksana 25 Sep 2026

Akhirnya Indonesia Punya UU Reforma Agraria

Achmad Rizki Muazam 24 Sep 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan

Kebakaran Hutan Bahayakan Kesehatan Masyarakat dan Rugikan Ekonomi

Irfan Maulana 26 Sep 2026

Terjadi Lonjakan Sakit Pernapasan Dampak Asap Kebakaran Hutan

Achmad Rizki Muazam 16 Sep 2026

Asap Karhutla Tak Kenal Batas Administratif, Bikin Manusia dan Satwa Liar Menderita

Christopel Paino 15 Sep 2026

Tuntut Pemerintah Lindungi Warga Terdampak Asap Karhutla

Jaka Hendra Baittri, Suryadi 13 Sep 2026

Kemarau panjang menyebabkan kekeringan. Kebakaran hutan dan lahan parah pun terjadi di Kalimantan, Sumatera, sampai Papua. Masyarakat pun harus menghirup udara beracun dari asap karhutla. Petugas maupun relawan pemadam kebakaran sudah ada yang meninggal dunia karena terpapar lama asap berbahaya karhutla ini. Kementerian Kesehatan pada pertengahan Agustus lalu mencatat, lebih dari 3 juta warga di […]

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan series

Lebih spesial

9 cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

9 cerita

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Ekowisata Berbasis Riset untuk Menjaga Hutan Sungai Lesan

Akita Verselita 25 Sep 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Leah Varjacques, Rizky Rahad, Sandy Watt 1 Sep 2026

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Megalit Pasemah Merekam Hubungan Manusia Prasejarah, Air, dan Satwa Liar

Editor 27 Sep 2026

Jalan menuju Situs Tinggi Hari berkelok naik melewati perbukitan Gumay, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Dari kawasan ini, terlihat lembah yang dialiri Sungai Liem dan terhubung dengan Sungai Lematang. Di antara bukit dan aliran air itulah tersimpan arca, menhir, lesung batu, serta tinggalan lain dari peradaban megalitik Pasemah.

Tinggi Hari terdiri atas tiga situs, yakni Tinggi Hari I, II, dan III. Ketiganya merupakan bagian dari lanskap megalitik Pasemah yang membentang di Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam, dan Kabupaten Empat Lawang. Di seluruh kawasan tersebut tercatat sekitar 1.165 benda megalitik, termasuk 85 arca dan 25 bilik batu.

Salah satu hal yang menarik perhatian peneliti ialah letak tinggalan-tinggalan itu. “Situs-situs megalitik di bumi Pasemah, banyak ditemukan atau terletak tidak jauh dari sumber air, baik itu sungai, tebat, atau danau,” kata Mario Andramartik, anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Lahat. Menurutnya, lokasi tersebut menunjukkan pentingnya air bagi masyarakat pada masa itu.

Jejak kehidupan dekat air juga terlihat pada guratan dan lukisan di batu-batu tepi sungai. Arkeolog BRIN, Sondang M Siregar, membayangkan masyarakat melakukan kegiatan sehari-hari di sekitar aliran sungai sambil membuat gambar. “Mereka menikmati kehidupan di tepi aliran sungai,” ujarnya.

Selain air, satwa hadir dalam tinggalan Pasemah. Sejumlah arca memperlihatkan manusia bersama gajah, harimau, kerbau, ular, atau buaya. Ada satwa yang digambarkan di samping manusia, ditunggangi, maupun dibopong. “Ini mencerminkan, menggambarkan, bahwa manusia pada masa itu, sudah sangat harmonis hubungannya dengan satwa,” kata Mario.

Sondang menjelaskan bahwa arca manusia berkaitan dengan penghormatan kepada nenek moyang. Adapun penggambaran manusia bersama satwa menunjukkan hewan-hewan tersebut disegani dan dihormati. Di antara arca itu terdapat pula sosok ibu menggendong anak. Menurut Sondang, figur ibu menunjukkan pentingnya peran perempuan dalam menjaga keluarga dan generasi penerus.

Tinggalan Pasemah juga menyimpan jejak kehidupan dari masa yang panjang. Sondang menyebut hasil penanggalan sampel dari Kota Raya Lembak menunjukkan abad ke-10 Masehi, ketika Kedatuan Sriwijaya masih berkembang di kawasan Sungai Musi.

Kini, menjaga situs berarti turut menjaga bentang alam tempatnya berada. Dari 101 titik situs megalitik Pasemah, baru enam yang ditetapkan sebagai cagar budaya. Mario menilai perlindungan dan penelitian lebih lanjut diperlukan agar pengetahuan yang tersimpan dalam arca, batu, sungai, dan lanskapnya tetap dapat dipelajari.

Foto utama: Wajah salah satu arca manusia, yang lebih menjelaskan wajah Austro-Melanesia dibandingkan Austronesia. Wajah bulat panjang, rambut ikal atau keriting, mata besar, hidung pesek, dan bibir tebal. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.

Air Laut Berubah Warna, Apa yang Terjadi Saat Alga Meledak?

Editor 27 Sep 2026

Air laut di kawasan pesisir kadang berubah warna menjadi hijau pekat, merah, atau kecokelatan. Permukaannya seolah tertutup lapisan asing. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah ledakan alga, yaitu pertumbuhan alga dalam jumlah sangat besar ketika kondisi perairan mendukung. Fenomena ini sudah pernah terjadi di Indonesia, meski menurut pakar ekologi laut BRIN, Tumpak Sidabutar, tidak sering.

Ario Damar, pakar ekologi perairan pesisir IPB University, menjelaskan bahwa pemicunya berkaitan dengan peningkatan nutrien di air. Dari permukiman, lahan pertanian, peternakan, dan kegiatan budi daya perikanan, bahan organik dapat terbawa sungai hingga ke pesisir. Bakteri kemudian menguraikannya menjadi nutrien, antara lain nitrat, nitrit, amonia, dan fosfat. Alga memanfaatkan zat-zat tersebut untuk tumbuh.

Ketika nutrien tersedia berlebihan, kondisi perairan disebut mengalami eutrofikasi. Namun, alga tidak hanya membutuhkan nutrien. Cahaya matahari serta keadaan fisik perairan juga mempengaruhi pertumbuhannya. Di tempat yang arusnya relatif tenang, nutrien dapat bertahan lebih lama. Ario menyebut Teluk Jakarta, Teluk Banten, dan Teluk Lampung sebagai contoh wilayah perairan yang perlu diperhatikan.

Pertumbuhan alga yang melimpah dapat menimbulkan masalah meskipun alganya tidak menghasilkan racun. Pada siang hari, alga melakukan fotosintesis dengan bantuan cahaya matahari. Malam harinya, alga melakukan respirasi dan menggunakan oksigen. Jika jumlah alga sangat banyak, kadar oksigen di air dapat turun drastis. Penguraian bahan organik oleh bakteri juga berkaitan dengan penurunan oksigen tersebut.

Bagi ikan dan organisme lain, kekurangan oksigen dapat berakibat fatal. “Ikan dan organisme laut akan sulit bertahan hidup,” kata Tumpak. Ia mengingatkan bahwa perubahan warna air bukan sekadar peristiwa yang tampak di permukaan. “Blooming adalah indikator perairan tidak seimbang,” ujarnya.

Sebagian ledakan alga membawa risiko tambahan karena menghasilkan racun. Artikel tersebut menyebut racun dapat masuk ke rantai makanan melalui organisme penyaring air, seperti kerang. Jika kerang yang terkontaminasi dikonsumsi, manusia dapat mengalami diare, muntah, dan gangguan kesehatan lain. Bagi masyarakat pesisir, dampaknya juga dapat berupa penurunan hasil tangkapan serta terganggunya kegiatan wisata.

Tumpak menyebut diatom, dinoflagellata, dan cyanobacteria sebagai kelompok yang dapat muncul dalam peristiwa ledakan alga. Masing-masing memiliki karakter berbeda. Karena itu, perubahan warna air saja belum cukup untuk memastikan jenis alga maupun apakah ledakan tersebut beracun.

Menurut Ario, Indonesia belum memiliki surveilans rutin untuk mendeteksi ledakan alga. Ia menekankan perlunya mengurangi pencemaran dari daratan, terutama di kawasan padat penduduk. Deteksi dini juga diperlukan agar perubahan kondisi perairan dapat dikenali sebelum dampaknya semakin besar.

Foto utama: Ikan longfin damselfish [Stegastes diencaeus] yang juga disebut ikan petani, membudidayakan alga dengan memanfaatkan kotorannya untuk dijadikan pupuk penyubur. Foto: Rohan Brooker/Griffith University.

Dua Warga Taliabu jadi Korban Ular Piton, Habitat Terganggu?

Editor 26 Sep 2026

Elizabeth Yamalu pergi untuk memindahkan sapi yang terikat sekitar 400 meter dari rumahnya di Desa Ratahaya, Pulau Taliabu, Maluku Utara, pada Juni 2026. Ketika tak kunjung pulang, suaminya, Menjamin Lanto, pergi mencari. Dia menemukan Elizabeth dalam lilitan piton besar. Elizabeth meninggal dunia. Beberapa hari kemudian, seorang warga Desa Padang juga tewas setelah diserang piton saat hendak pergi ke kebun.

Dua peristiwa itu membuat warga waswas. Mereka mengatakan piton berukuran besar semakin sering ditemukan di kebun, dekat permukiman, sungai, bahkan kantor pemerintahan. Yulius Lait, tokoh adat Desa Natang Kuning, merasa kemunculannya berbeda dari yang pernah ia saksikan. “Sepanjang usia hidup ini, dari muda sampai tua belum ada ular yang keluar sebanyak ini. Apalagi sampe telan orang,” katanya.

Sejumlah warga menduga perubahan hutan di sekitar desa berkaitan dengan kemunculan piton. Desa Padang, misalnya, berbatasan dengan kawasan konsesi pertambangan. Namun, dugaan tersebut masih perlu diuji.

Jaringan Pemantau Independen Kehutanan (JPIK) Maluku Utara mencatat perubahan tutupan hutan Taliabu seluas 38.257,4 hektar sepanjang 2001–2025. Menurut Irsandi Hidayat, Koordinator JPIK Malut, pembukaan hutan untuk pertambangan dan kegiatan perusahaan kayu dapat mengubah habitat serta memutus hubungan antara kawasan yang digunakan satwa untuk bergerak.

“Ketika ruang jelajah semakin menyempit, satwa berpotensi keluar dari habitat alaminya dan mendekati permukiman,” ujarnya. Meski demikian, data perubahan tutupan hutan itu belum membuktikan penyebab setiap kemunculan piton di desa.

Yeni Purnamasari dari BKSDA Maluku-Malut mengatakan berkurangnya mangsa di hutan dapat mendorong piton mencari makanan di tempat lain. BKSDA belum memiliki data resmi mengenai jumlah piton maupun lokasi habitatnya di Taliabu. Karena itu, perubahan pergerakan satwa tersebut belum dapat dipastikan dari pemantauan populasi.

Qomar Arif Madi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Taliabu, juga belum menyimpulkan pertambangan sebagai penyebab langsung. Pemerintah daerah tengah mendata lokasi dan waktu kemunculan piton. Menurutnya, titik-titik itu perlu dibandingkan dengan batas konsesi, pembukaan lahan, tutupan hutan, dan habitat satwa. “Kami belum memiliki data pembanding yang cukup dan terverifikasi,” katanya.

Pihak PT Adidaya Tangguh membantah kemunculan piton di sekitar desa disebabkan aktivitas tambangnya dan menduga cuaca panas turut berperan. Sementara itu, Much. Hidayah Marasabessy, pengajar kehutanan Universitas Khairun, mengatakan kerusakan habitat dan berkurangnya mangsa dapat memengaruhi pergerakan piton, tetapi perubahan cuaca juga mungkin berpengaruh.

Bagi warga Taliabu, ancaman perjumpaan dengan piton sudah terasa. Menjelaskan penyebabnya memerlukan data tentang satwa dan perubahan lahan, agar dugaan yang muncul setelah dua kematian tersebut dapat diperiksa.

Foto utama: Ular piton memiliki kemampuan melilit mangsa yang kuat. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia.

Bagaimana Cara Semut Temukan Jalan Pulang ke Sarang dengan Jalan Mundur?

Editor 26 Sep 2026

Seekor semut gurun spanyol (Cataglyphis velox) menemukan makanan yang terlalu besar untuk dibawa dengan rahangnya. Agar makanan itu sampai ke sarang, ia menyeretnya sambil berjalan mundur. Tetapi, bagaimana semut tahu arah pulang ketika kepalanya tidak menghadap ke tujuan?

Awalnya, ilmuwan menduga semut harus sesekali berbalik untuk melihat jalur yang sudah dikenalnya. Perilaku itu memang terlihat: semut kadang meletakkan makanannya, menghadap ke arah perjalanan, lalu kembali menyeretnya. Namun, penelitian terhadap Cataglyphis velox menunjukkan bahwa semut juga menggunakan informasi yang dikumpulkan selama perjalanan menjauh dari sarang.

Saat berjalan maju, semut dapat mengingat tikungan, belokan, dan langkah yang telah ditempuh. Dalam artikel, cara ini disebut “integrasi jalur”. Semut juga menggunakan sudut matahari untuk menentukan posisinya dan mengenali patokan di sepanjang perjalanan. Pertanyaan bagi peneliti ialah bagaimana informasi tersebut digunakan ketika semut harus pulang dengan berjalan mundur.

Sebastian Schwarz dan rekan-rekannya mengamati semut yang telah berjalan dari sarang menuju makanan pengumpan di gurun. Mereka kemudian memberi semut remah kue berukuran besar untuk diseret pulang. Di beberapa percobaan, peneliti mengubah pemandangan di sepanjang jalur dengan menempatkan kantong plastik hitam dan terpal.

Perubahan itu memengaruhi kapan semut berhenti untuk melihat arah perjalanan. Semut yang menghadapi pemandangan baru berbalik setelah menyeret makanan sekitar 3,2 meter di jalur sepanjang delapan meter. Sebaliknya, semut di jalur yang biasa dilalui dapat bergerak hampir enam meter tanpa berbalik.

Pengamatan tersebut menunjukkan bahwa semut memanfaatkan petunjuk visual di sekitarnya saat berjalan mundur. Menurut Schwarz, mereka cenderung mengambil informasi dari samping dan belakang ketika berjalan menjauh dari sarang. “Kemudian menggunakannya untuk membimbing kembali ketika menyeret makanan.”

Sebagian semut dalam percobaan memang tersesat. Namun, ada pula yang tetap menemukan sarang meski tidak dapat mengikuti jalur utamanya. Peneliti menduga sudut matahari turut membantu mereka menentukan arah. Mata semut yang memiliki sudut pandang luas juga memungkinkan mereka melihat lingkungan di luar arah hadap tubuhnya.

Pauline Fleischmann, ahli neuroetologi yang tidak terlibat dalam penelitian, menyebut pengamatan ini sebagai “eksperimen perilaku luar biasa”. Bagi peneliti, kemampuan semut menyeret makanan sambil bernavigasi mundur membuka pertanyaan lanjutan: petunjuk visual mana yang paling mereka andalkan? Schwarz berencana menguji hal itu dengan mengubah apa yang dapat dilihat semut selama bergerak.

Foto utama: Semut membawa makanannya. Foto: Wikimedia Commons.

Menjaga Gurita, Menjaga Penghidupan Nelayan Maurongga

Editor 25 Sep 2026

Imran Tabri memandang laut dari Pantai Maurongga, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Gelombang tinggi membuat air keruh sehingga nelayan kesulitan menangkap gurita. Perahu-perahu mereka pun ditarik ke daratan.

“Sekarang lagi musim gelombang tinggi jadi perahu kami tarik ke daratan agar tidak rusak dihantam ombak,” kata Imran.

Saat nelayan berhenti melaut, sejumlah perempuan dan anak-anak mengumpulkan batu hijau di pesisir. Batu itu dimasukkan ke dalam karung, lalu dijual untuk menambah penghasilan keluarga. Satu karung berisi 25 kilogram batu dihargai sekitar Rp20.000.

Imran mulai menangkap gurita di Maurongga pada 2015. Ia mempelajari pekerjaan itu ketika tinggal di kampung asalnya, di pantai selatan Kota Ende. Setelah menetap di Maurongga, ia melihat peluang yang belum digarap nelayan setempat. “Waktu itu belum ada yang memancing gurita. Potensi gurita di Maurongga sangat besar sehingga saya mulai memancing gurita,” ujarnya.

Pada 2019, setelah pendampingan Yayasan Tananua, jumlah nelayan gurita bertambah menjadi tujuh orang, dua di antaranya perempuan. Nelayan kemudian memperoleh bantuan perahu. Data Yayasan Tananua Flores menunjukkan gurita menjadi hasil tangkapan terbesar Maurongga pada 2025, yakni 479,8 kilogram dengan nilai sekitar Rp16,07 juta.

Untuk menjaga perairan tempat mereka bekerja, nelayan menerapkan sistem buka tutup wilayah tangkap melalui skema Loi. Ismail Isman, ketua kelompok nelayan LMMA Embo Angi, menjelaskan bahwa perairan dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian ditutup selama tiga bulan, sementara nelayan tetap bisa mencari gurita di bagian lainnya. Penutupan lalu dilakukan bergantian.

Menurut Imran, sistem itu memberi waktu bagi gurita untuk berkembang biak. Ia mengatakan berat gurita hasil tangkapan nelayan meningkat dan rata-rata bisa mencapai tiga hingga empat kilogram per ekor.

Namun, nelayan Maurongga masih menghadapi praktik penangkapan yang merusak. Muhammad Nuhu, anggota LMMA Embo Angi, mengatakan kelompoknya kerap berhadapan dengan nelayan luar daerah yang menggunakan bom dan potasium. Imran menyebut ada pula yang menebarkan racun serangga ke perairan.

Kelompok nelayan terus mengawasi wilayah tangkap dan melaporkan pelaku kepada aparat. Pekerjaan itu berisiko: menurut mereka, pelaku dapat bertindak agresif dan kerap membuang barang bukti ketika patroli datang.

“Kita harus jaga laut, ladang uang kita,” kata Nuhu. Yayasan Tananua Flores juga terus mendampingi nelayan, termasuk melalui edukasi tentang alat tangkap yang tidak merusak serta dampak sampah bagi laut.

Foto utama: Pesisir pantai Desa Maurongga, Kecamatan Nangapanda,Kabupaten Ende yang memiliki potensi gurita. Foto : Muhammad Riszky/Jaring Nusa.

Di Kelekak, Kukang Bangka yang Terancam Punah Masih Punya Tempat Hidup

Editor 25 Sep 2026

Bagi masyarakat Bangka Belitung, kelekak adalah sebidang tanah yang ditumbuhi pohon dan diwariskan kepada anak cucu. Di tempat ini, pohon yang hasilnya dimanfaatkan masyarakat tumbuh berdampingan dengan tumbuhan hutan. Kelekak pun memiliki arti lain: menyediakan ruang hidup bagi kukang bangka (Nycticebus bancanus), satwa yang kini berstatus Kritis.

“Dalam sistem kelekak, masyarakat mempertahakan sejumlah pohon hutan seperti nyatoh, ulin, dan ara,” kata Randi Syafutra, peneliti satwa dari Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung. Pohon-pohon itu menjadi bagian dari lingkungan yang masih dapat digunakan kukang, sementara habitatnya di tempat lain menghadapi perubahan.

Dalam penelitian yang berlangsung pada September 2017 hingga November 2018, Randi menemukan kukang bangka di sekitar berbagai jenis pohon. Di antaranya karet, petai, nangka, cempedak, pisang, durian, duku, rambutan, dan pelawan. “Semua pohon tersebut terdapat di kelekak,” jelasnya. Penelitian itu dilakukan di sejumlah desa di Kabupaten Bangka.

Hubungan kukang dengan pepohonan tidak berhenti pada kebutuhan akan tempat hidup. Menurut Randi, kukang turut membantu penyerbukan dan penyebaran tumbuhan di alam. Satwa ini juga berperan mengendalikan serangga yang dapat menyerang tanaman produktif milik masyarakat maupun tumbuhan hutan. Dengan demikian, keberadaan kukang berkaitan pula dengan kelangsungan tumbuhan di sekitarnya.

Meski demikian, belum ada data pasti mengenai jumlah kukang bangka yang hidup di alam. IUCN Red List menempatkannya dalam kategori Kritis dan menyoroti hilangnya habitat akibat deforestasi, terutama perluasan perkebunan sawit. Randi mengatakan perubahan hutan dan kelekak menjadi perkebunan, wilayah tambang, serta permukiman mengancam kukang di Pulau Bangka.

“Secara umum, populasinya menurun dan terancam, akibat perubahan habitat menjadi perkebunan sawit, daerah tambang, dan perumahan,” ujarnya. Selain kehilangan tempat hidup, kukang bangka menghadapi ancaman dari pemanfaatannya sebagai media praktik sihir. Randi menyebut minyak kukang digunakan untuk tujuan tersebut di Pulau Bangka.

Langka Sani, Ketua Pusat Penangkaran Satwa Alobi Foundation, mengatakan perburuan serta jual beli kukang bangka melalui media sosial juga masih terjadi. Dalam tiga tahun menjelang 2022, PPS Alobi menerima sekitar 50 kukang bangka, baik dalam kondisi sehat maupun sakit. Sebagian besar merupakan serahan masyarakat. Pada Februari 2022, Alobi bersama sejumlah pihak melepasliarkan empat kukang bangka di kawasan Hutan Lindung Bangka Island Outdoor.

Bagi Langka, penyelamatan kukang tidak cukup berhenti ketika satwa itu dilepasliarkan. Pohon dan kawasan tempatnya hidup juga perlu dijaga. “Hal terpenting perlindungan habitat itu sendiri. Kelekak harus dipertahankan dan dilestarikan,” katanya.

Kelekak menunjukkan bahwa tanah warisan masyarakat dapat menyediakan tempat bagi pohon hutan, tanaman yang dimanfaatkan warga, dan kukang bangka sekaligus. Ketika kelekak berubah menjadi penggunaan lahan lain, kukang kehilangan bagian dari ruang hidup yang selama ini masih tersisa baginya.

Foto utama: Kukang bangka [Nycticebus bancanus] yang berada di PPS Alobi, Bangka, Kepualauan Bangka Belitung. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.