Kepalanya berwarna merah terang hingga violet, sedangkan tubuh dan ekornya biru tua. Perpaduan warna tersebut membuat Agama mwanzae dikenal sebagai “kadal Spider-Man” karena dianggap menyerupai kostum tokoh superhero populer.
Kadal yang juga disebut Mwanza flat-headed rock agama ini hidup di sabana dan ekosistem berbatu Afrika Timur. Persebarannya meliputi Tanzania, Kenya, dan Rwanda. Spesies dari keluarga Agamidae ini pertama kali dideskripsikan oleh ahli zoologi Arthur Loveridge pada 1923. Nama “mwanzae” merujuk pada Mwanza di Tanzania, lokasi asal spesimen pertamanya.
Namun, warna mencolok itu tidak dimiliki semua individu. Kepala, leher, dan bahu berwarna merah hingga violet hanya terlihat pada pejantan dominan. Betina, pejantan muda, dan pejantan subordinat umumnya berwarna cokelat atau abu-abu dengan pola gelap. Warna redup tersebut membantu mereka menyamarkan tubuh di antara tanah dan bebatuan.
Perbedaan fisik antara jantan dan betina disebut dimorfisme seksual. Pada kadal agama, warna pejantan dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan betina atau menghadapi pejantan lain. Warna cerah pejantan teritorial juga dapat meredup menjadi abu-abu ketika merasa terancam atau pada malam hari.
Habitat Agama mwanzae berkaitan erat dengan formasi batuan besar bernama kopjes, yang banyak ditemukan di Serengeti dan sabana Afrika Timur. Bebatuan menyediakan tempat terbuka untuk berjemur. Sebagai hewan ektotermik, kadal ini mengandalkan suhu lingkungan untuk mengatur suhu tubuhnya. Karena itu, ia sering terlihat menyerap panas matahari di atas batu pada siang hari.
Celah bebatuan juga menjadi tempat berlindung dari predator, suhu tinggi, dan gangguan lainnya. Bentuk kepalanya yang pipih memudahkan kadal bergerak di ruang sempit tersebut.
Pejantan memiliki perilaku teritorial. Untuk mempertahankan wilayahnya, ia menggunakan gerakan kepala, postur tubuh, dan gerakan menyerupai push-up sebagai bentuk komunikasi visual.
Penelitian terhadap 120 spesimen di Taman Nasional Serengeti menemukan sekitar 2.350 komponen makanan. Sebagian besar berupa serangga, terutama semut, lebah, dan tawon sebesar 47,03 persen. Rayap mencapai 29,78 persen, kumbang 18,29 persen, dan belalang 2,63 persen.
Pola makannya dapat berubah mengikuti musim. Ketika musim hujan dan serangga melimpah, kadal ini lebih banyak memakan serangga. Saat musim kering, materi tumbuhan menjadi lebih dominan. Daun, batang, bunga, buah, dan biji ditemukan dalam saluran pencernaannya. Kemampuan menyesuaikan makanan membantunya bertahan menghadapi perubahan musim di sabana.
IUCN mengategorikan Agama mwanzae sebagai Risiko Rendah atau Least Concern. Sebagian populasinya hidup di kawasan lindung, termasuk ekosistem Serengeti. Meski penampilannya membuat kadal ini diminati sebagai hewan peliharaan eksotis, perawatannya memerlukan suhu, pencahayaan, ruang, dan susunan habitat yang sesuai dengan kebutuhan biologisnya.
Di balik warna mirip kostum Spider-Man, daya tarik ilmiah Agama mwanzae terletak pada kemampuannya memanfaatkan bebatuan dan menyesuaikan pola makan untuk bertahan di lingkungan sabana.
Foto utama: Kadal jantan agama mwanzae ini berjemur di atas batu di kawasan Mbuzi Mawe, Serengeti tengah, Tanzania. Warna cerahnya akan meredup menjadi abu-abu ketika merasa terancam atau saat malam hari. Foto: David Bygott/Flickr (CC BY-NC-SA 2.0).