Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Membedakan Welang dan Weling, Ular Belang Berbisa Kuat yang Sama-Sama Pemangsa Ular

Akhyari Hananto 7 Nov 2026
Cerita fitur

Komunitas Mama Noken Jaga Budaya dan Ekonomi Kampung

Zulkifli Mangkau 6 Nov 2026

Pelangi Boeseman, Ikan Endemik Papua yang Tubuhnya Terbelah Dua Warna

Christopel Paino 6 Nov 2026
Cerita fitur

Tambang Logam Tanah Jarang Resahkan Warga Mamuju

Riza Salman* 6 Nov 2026

Masyarakat Sipil Desak RSPO, dari Soal Tanggung Jawab Karhutla sampai Keterancaman Satwa

Irfan Maulana dan Rendy Tisna 5 Nov 2026
Cerita fitur

Cagar Alam Jantho dan Masa Depan Orangutan Sumatera

Junaidi Hanafiah 5 Nov 2026
Semua berita

Berita utama

Komunitas Mama Noken Jaga Budaya dan Ekonomi Kampung

Tambang Logam Tanah Jarang Resahkan Warga Mamuju

Riza Salman* 6 Nov 2026

Cagar Alam Jantho dan Masa Depan Orangutan Sumatera

Junaidi Hanafiah 5 Nov 2026

Nestapa Perempuan Terdampak Industri Nikel di Sulawesi

Yulia Adiningsih 5 Nov 2026

Siapa Penerima Manfaat Kasus Perdagangan Orang di KM Maulana 23?

Achmad Rizki Muazam 4 Nov 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Kupu-kupu: Mata Rantai yang Rapuh

Mustahil tapi Nyata: Kupu-kupu Ini Terbang 4.200 Km melintasi Samudera Atlantik Tanpa Berhenti

Akhyari Hananto 25 Apr 2026

Andai Kupu-kupu Hilang, Apa Dampaknya pada Lingkungan?

Falahi Mubarok 22 Jul 2025

Hubungan Unik Kupu-kupu dan Ikan Balur di Sungai Musi

Nopri Ismi 26 Jun 2025

Kupu-kupu Raja, Kisah Ketangguhan Serangga Paling Ikonik di Dunia

Nuswantoro 16 Nov 2024

Kupu-kupu menyerbuki tumbuhan, menjadi bagian dari rantai makanan, dan kondisinya sering mencerminkan kesehatan lingkungan tempat ia hidup. Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan mengancam kehidupannya di alam, sementara industri ekstraktif menggerus habitat kupu-kupu di Kalimantan Timur. Spesies endemik seperti kupu-kupu barong di Bali hanya ada di satu wilayah, sehingga perlindungannya tidak bisa ditunda. Bila kupu-kupu hilang, […]

Kupu-kupu: Mata Rantai yang Rapuh series

Lebih spesial

9 cerita

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan

9 cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Raja Buah dari Bengkulu yang Belum Banyak Dikenal

Akita Verselita 7 Nov 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Saat Sarden Menipis, Penguin Afrika Kehilangan Bekal Hidup

Editor 7 Nov 2026

Bagi penguin afrika (Spheniscus demersus), mengganti bulu berarti menjalani masa puasa di darat. Selama proses itu, mereka tidak dapat berburu di laut dan harus mengandalkan cadangan energi dalam tubuh. Karena itulah, mendapatkan cukup makanan sebelum pergantian bulu menjadi penentu keselamatan. Namun, ketika sarden semakin sulit ditemukan, sebagian penguin memasuki fase tersebut tanpa bekal memadai.

Penelitian Richard Sherley dari Universitas Exeter, Inggris, bersama kolega memperkirakan sekitar 62.000 penguin afrika dewasa mati sepanjang 2004-2011 di wilayah yang mereka kaji, berkaitan dengan kelangkaan makanan.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Ostrich pada 2025 itu menyoroti hubungan antara ketersediaan mangsa dan kemampuan penguin melewati pergantian bulu tahunan. “Kelangsungan hidup dewasa, terutama melalui pergantian bulu tahunan yang krusial, sangat terkait ketersediaan mangsa,” jelas Sherley.

Penurunan sarden terjadi di tengah tekanan penangkapan ikan serta perubahan kondisi lingkungan. Bagi penguin, persoalannya menjadi berlapis: makanan berkurang, sementara sumber daya yang tersisa juga dimanfaatkan armada perikanan. Tubuh yang kekurangan cadangan energi semakin sulit bertahan selama mereka harus menetap di daratan.

Penguin afrika (Spheniscus demersus) menghuni pesisir Namibia dan Afrika Selatan. Burung yang tidak dapat terbang ini mencari makan di laut dan kembali ke daratan untuk berkembang biak maupun berganti bulu.

Mangsanya mencakup sarden, ikan teri, serta hewan laut lain seperti cumi-cumi. Ketergantungan terhadap makanan di perairan sekitar membuat pengelolaan perikanan menjadi bagian penting perlindungannya.

Sherley menekankan perlunya mengurangi eksploitasi ketika biomassa sarden rendah, sehingga ikan dewasa memiliki kesempatan bereproduksi. Dalam penilaian konservasi yang dirujuk, penguin afrika telah masuk kategori Kritis atau Critically Endangered.

Adriani Sunuddin, ahli ekologi laut IPB University, menilai persoalan tersebut patut menjadi perhatian di luar Afrika. Indonesia memang bukan habitat alami penguin, tetapi sejumlah burung laut yang bermigrasi juga membutuhkan ikan sepanjang perjalanannya. Perairan tempat mereka mencari makan dapat berimpitan dengan lokasi penangkapan manusia.

“Walau sudah ada pengaturan, sumber makanan tetap terancam karena jalurnya dipakai manusia untuk menangkap ikan,” ujarnya. Perbandingan ini menunjukkan bahwa perlindungan burung laut perlu memperhatikan ketersediaan makanan, selain tempat singgah dan lokasi berkembang biak.

Ali Suman, peneliti perikanan BRIN, turut menekankan pentingnya pemantauan rutin agar pemanfaatan ikan tidak mengabaikan kebutuhan penguin. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sangat bergantung pada kemauan dan keberpihakan otoritas perikanan setempat.

Kasus penguin afrika memperlihatkan hubungan erat antara kehidupan di darat dan perubahan di laut. Ketika ikan kecil berkurang, dampaknya dapat muncul sebagai kematian burung yang sedang berganti bulu di pantai. Menjaga mangsa tetap tersedia memberi penguin kesempatan mengumpulkan energi, melewati masa puasa, dan kembali berburu setelah bulu barunya siap.

Foto utama: Penguin afrika yang nasibnya satu langkah menuju kepunahan di alam liar. Foto: Wikimedia Commons/Max Lieberman/CC BY-SA 2.5.

Kesempatan Kedua Orangutan Sumatera Hidup Liar di Hutan Jantho

Editor 7 Nov 2026

Bagi orangutan yang lama dipelihara manusia, hutan bukan tempat yang langsung terasa akrab. Mereka harus mengenali buah yang bisa dimakan, berpindah melalui pepohonan, dan membangun sarang untuk tidur. Semua itu perlu dilakukan tanpa bergantung pada manusia.

Di Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Aceh Besar, proses tersebut dijalani Bombom, orangutan sumatera jantan yang diselamatkan di Babahrot, Aceh Barat Daya, pada 2019. Setelah rehabilitasi di Sumatera Utara, ia dipindahkan ke Jantho pada pertengahan 2026 untuk berlatih sebelum dilepasliarkan.

Tim menggunakan pendekatan soft release, yang memberi kesempatan kepada orangutan beradaptasi secara bertahap sebelum hidup mandiri.

Menurut Hafid, Manajer Reintroduksi Orangutan Jantho, kemampuan setiap individu berbeda. Ada yang masih kembali ke stasiun atau mengikuti petugas karena tertarik pada buah yang dibawa. “Terlalu lama berada di lingkungan manusia atau sebagai satwa peliharaan, berefek pada orangutan bertahan hidup di hutan nantinya,” ujarnya.

Pengalaman itu membuat pemantauan setelah pelepasliaran penting. Memindahkan orangutan ke hutan belum berarti ketergantungannya pada manusia langsung berakhir.

Kesiapan pelepasliaran mencakup kesehatan, berat badan, usia, keterampilan, dan perilaku. Citrakasih M. Nente dari Yayasan Ekosistem Lestari-Sumatran Orangutan Conservation Programme menjelaskan bahwa orangutan juga membutuhkan kepercayaan diri untuk menghadapi lingkungan hutan. Individu yang belum siap melanjutkan adaptasi di hutan pra-pelepasliaran. Jantho dipilih berdasarkan survei karena memiliki sumber air, tumbuhan pakan seperti Ficus, serta keterhubungan dengan hutan Ulu Masen.

Empat orangutan pertama dilepasliarkan pada 28 Maret 2011. Hingga September 2026, jumlah pelepasliaran tercatat 186 individu, terdiri atas 146 orangutan hasil rehabilitasi dan 40 orangutan liar yang ditranslokasi karena habitat asalnya rusak.

Pada 2017, tim menemukan Marconi, salah satu orangutan yang dilepasliarkan pada 2011, membawa bayi jantan yang kemudian dinamai Masen. Berbeda dari induknya, Masen tumbuh di hutan tanpa pernah menjalani kehidupan dalam kandang.

Hingga awal Oktober 2026, tim telah memantau 12 kelahiran. Pemantauan pada 2023 juga memperkirakan probabilitas kelangsungan hidup orangutan setelah sepuluh tahun pelepasliaran lebih dari 75%. Temuan-temuan tersebut memberi harapan bagi pembentukan populasi di Jantho, meskipun keberlanjutannya tetap membutuhkan perlindungan habitat dan pemantauan jangka panjang.

Namun, menambah jumlah orangutan yang dilepasliarkan bukan tujuan utama konservasi. Menurut Citra, melindungi habitat asal, membangun koridor, dan mendorong koeksistensi manusia-orangutan tetap lebih diutamakan. Hafid pun berharap semakin sedikit orangutan yang harus diselamatkan akibat pemeliharaan maupun perdagangan.

Hutan Jantho juga menopang kehidupan masyarakat melalui sistem tata air, termasuk bagian hulu Krueng Aceh. Menjaganya berarti mempertahankan tempat orangutan mencari makan dan membesarkan anak, sekaligus melindungi ekosistem yang menyediakan kebutuhan manusia.

Foto utama: Orangutan betina ini sedang belajar hidup liar di hutan Cagar Alam Jantho. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Karhutla Maluku Utara Membakar Sumber Pangan Warga

Editor 6 Nov 2026

Di Desa Leleseng, Halmahera Utara, Maluku Utara, api menghanguskan sekitar 100 hektar hutan sagu pada pertengahan September 2026. Kebun kelapa dan pala warga ikut terbakar. Lewi Persaji, kepala adat setempat, masih ingat kemarau yang pernah berlangsung sekitar sembilan bulan pada 1990-an. Namun, seingatnya, kebakaran kala itu tak pernah seluas sekarang. “Kebakaran ini dampaknya ke torang besar sekali. Karena pangan sagu yang jadi tong [kami] punya sumber penghidupan sehari-hari ludes,” katanya.

Selama api berkobar, warga berusaha memadamkannya dengan peralatan seadanya dan persediaan air yang terbatas.

Leleseng hanya satu dari banyak wilayah yang terdampak. Dari Ternate hingga Morotai dan Taliabu, kebakaran melanda hutan dan kebun warga. Di Desa Nggele, Pulau Taliabu, pemerintah kabupaten mencatat sekitar 132,5 hektar lahan terbakar dan 8.381 pohon cengkih terdampak.

Di Buli, Halmahera Timur, api menghanguskan kebun nanas, cengkih, dan pala. Said Marsaoly dari Salawaku Institute mengatakan kerugian itu sangat terasa bagi perempuan yang sehari-hari berjualan nanas. Ia juga mengkhawatirkan kondisi mata air warga karena api merusak vegetasi di sekitarnya.

Data SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan kenaikan titik panas dari 52 pada Juni menjadi 3.113 pada September dan 3.696 pada Oktober. Angka tersebut sudah mengecualikan sumber panas tetap yang terdeteksi setiap bulan, seperti kawasan industri dan gunung api. Titik panas adalah anomali suhu yang terekam satelit; satu kebakaran bisa menghasilkan beberapa titik. Hujan sempat menekan jumlah deteksi pada pertengahan Oktober, tetapi titik panas kembali meningkat sejak 20 Oktober. Pada akhir bulan, Wasile Utara di Halmahera Timur dan Taliabu Barat Laut menjadi wilayah dengan deteksi terbanyak.

Kepala BPBD Maluku Utara Fehby Alting menyebut minimnya sumber air, mobil tangki, dan pompa sebagai kendala pemadaman. Angin kencang serta medan pegunungan yang terjal juga menyulitkan petugas mencapai lokasi. BPBD merekomendasikan pemadaman dari udara untuk wilayah yang sulit dijangkau. Operasi modifikasi cuaca telah dilakukan pada September dan Oktober, tetapi dampaknya terhadap kebakaran masih perlu dievaluasi.

Herman Oesman, Sosiolog Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, menilai kenaikan titik panas sejak Juni semestinya mendorong pemerintah daerah bertindak lebih dini dan memperkuat koordinasi.

Di Halmahera Timur, api bahkan masuk ke Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Astuti N. Kilwouw, Direktur Eksekutif Walhi Maluku Utara, meminta pemerintah menyelidiki asal api dan cara penyebarannya secara terbuka. Ia juga mendorong agar data titik panas diperiksa bersama peta konsesi dan pembukaan lahan, serta agar warga memiliki saluran pelaporan. Bagi warga Leleseng dan Buli, pekerjaan setelah pemadaman sama mendesaknya: memulihkan sumber pangan, kebun, dan hutan di sekitar mata air yang mereka andalkan.

Foto utama: Pemadaman api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kelurahan Takome Ternate. Foto: dokumen warga.

Jalur Tol di Tanah Pusako, Warga Pandai Sikek Resah Lahan Pertanian Hilang

Editor 6 Nov 2026

Dewi menyisipkan benang merah dan emas pada alat tenun peninggalan neneknya. Selendang bermotif Saga Merah yang sedang ia kerjakan akan dijual seharga Rp3,5 juta. Sejak belajar menenun di bangku SMA, Dewi membawa keterampilan itu ke mana-mana, bahkan memboyong alat tenunnya ke rumah kos saat kuliah di Padang. Kini, usahanya juga memberi pekerjaan kepada perajin yang menenun di rumah masing-masing.

Rencana jalan tol Padang–Pekanbaru yang akan melintasi Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, membuatnya waswas: lahan pertanian, permukiman, dan tempat usaha songket di nagari itu berpotensi terdampak.

Bagi Sofiani Sri Azizah, ladang dan alat tenun sama-sama membiayai pendidikan anak. Suaminya menanam sayuran, sementara Sofiani menenun setelah anak berangkat sekolah. Saat uang sekolah jatuh tempo, hasil penjualan sayur bisa langsung dipakai untuk membayarnya. Pertanian di nagari ini juga menyediakan pekerjaan bagi warga dari nagari sekitar, dengan upah buruh tani mencapai Rp120.000 sehari, menurut Sofiani. Jika lahan berkurang, keluarga pemilik tanah dan para pekerja sama-sama berisiko kehilangan penghasilan. Uang ganti rugi pun belum tentu cukup untuk membeli rumah dan menemukan lahan yang bisa kembali mereka garap.

Menurut perkiraan yang dihimpun tokoh pemuda setempat, Mahdi Latief, trase tol tersebut berpotensi berdampak pada 18 hektar lahan pertanian, 1,8 hektar permukiman, dan tujuh bangunan usaha songket. Warga memperkirakan omzet pertanian dan tenun mencapai Rp27 miliar setahun, sementara nilai ganti rugi lahan ditaksir Rp181 miliar. Keduanya merupakan perkiraan warga. Angka omzet belum dikurangi biaya produksi, sehingga tidak dapat dibaca sebagai laba atau nilai kerugian tahunan.

Bagi Mahdi, angka itu membantu menunjukkan besarnya kegiatan ekonomi yang selama ini bergantung pada lahan tersebut.

Sebagian lahan yang dikhawatirkan terdampak merupakan tanah pusako tinggi, yang diwariskan melalui garis keturunan perempuan. Menurut R. Dt. Sinaro Nan Kuniang, niniak mamak Pandai Sikek, menjaga tanah itu berarti menjamin generasi berikutnya masih memiliki tempat tinggal dan sumber penghidupan.

Setelah bermusyawarah, warga dan niniak mamak menyampaikan keberatan atas trase yang melintasi nagari kepada pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat. “Kami bukan menolak jalan tol. Kami hanya meminta dicarikan trase lain,” ujar Sinaro. Walhi Sumatera Barat mendukung aspirasi itu dan meminta warga dilibatkan dalam evaluasi rencana pembangunan.

Wakil Bupati Tanah Datar Ahmad Fadly menilai jalan tol berpotensi memberi manfaat bagi Sumatera Barat, sekaligus mengakui persoalan pembebasan lahan perlu dibicarakan bersama warga. Dalam pertemuan pra-sosialisasi, Direktur Utama PT Hutama Karya Koentjoro mengatakan masukan masyarakat akan menjadi bahan evaluasi sebelum konsultasi publik berikutnya. Bagi Dewi dan Sofiani, yang ingin mereka ketahui dari proses itu konkret: apakah jalur tol bisa dipindahkan agar mereka tetap dapat bertani dan menenun di Pandai Sikek?

Foto utama: Dewi sedang menyelesaikan tenun Pandai Sikek motif Saga Merah. Foto: Novia Harlina/Mongabay Indonesia.

Babi Berjanggut, Penjelajah Hutan yang Mengikuti Musim Buah

Editor 5 Nov 2026

Dari pipi hingga rahang bawahnya, rambut babi ini tumbuh menyerupai janggut. Ciri itulah yang memberi nama babi berjanggut (Sus barbatus), satwa yang dapat dijumpai di Sumatera dan Kalimantan. Janggutnya memanjang seiring bertambahnya usia dan biasanya lebih lebat pada jantan. Penampilannya berubah pula saat tumbuh: warna tubuh yang kehitaman ketika muda perlahan memudar menjadi abu-abu, kekuningan, atau keputihan. Tubuhnya cukup besar. Panjang jantan dapat mencapai sekitar satu setengah meter, sementara betina umumnya lebih kecil.

Kajian Matthew S. Luskin dan Alison Ke membedakan dua subspesies berdasarkan wilayah sebarannya. Sus barbatus oi dikaitkan dengan Sumatera, sedangkan Sus barbatus barbatus menghuni Kalimantan, Semenanjung Malaysia, serta sejumlah pulau di sekitarnya. Namun, batas sebaran kedua kelompok itu belum sepenuhnya jelas.

Para peneliti menyebut babi berjanggut di Bangka dan sebagian Kepulauan Riau sulit dipastikan termasuk kelompok mana. Kemampuan satwa ini berenang di perairan terbuka membuat para peneliti menduga bahwa penyeberangan Selat Malaka mungkin pernah terjadi. Mereka juga menilai hilangnya hutan di kedua pesisir mengurangi kemungkinan penyeberangan tersebut.

Di darat, babi berjanggut berpindah mengikuti musim buah. Satwa ini menghuni berbagai tipe hutan hujan tropis dan dapat dijumpai pula di hutan yang telah ditebang. Buah bukan satu-satunya makanan: babi berjanggut juga mencari biji, umbi, cacing, dan serangga di tanah. Pencarian pakan kadang membawanya masuk ke lahan pertanian.

Kebiasaan berpindah itu memperlihatkan mengapa kondisi hutan di sepanjang jalur pergerakannya penting, terutama ketika sumber makanan di satu tempat mulai berkurang.

Perjumpaan di ladang juga menjadi bagian dari hubungan warga dengan satwa ini. Dalam penelitian Nining Liswanti dan kolega di Malinau, masyarakat Dayak Merap dan Punan dilaporkan berburu babi hutan, termasuk babi berjanggut yang masuk ke wilayah pertanian. Kajian yang sama mencatat aturan adat yang membatasi pembukaan ladang dan pengambilan sumber daya di tempat tertentu.

Bagi masyarakat yang diteliti, hutan menyediakan kebutuhan sehari-hari sekaligus memiliki nilai spiritual. Aturan tersebut membantu menjaga agar sumber daya hutan dapat terus dimanfaatkan.

Kemampuan memanfaatkan beragam habitat tidak membuat babi berjanggut luput dari ancaman. Dalam penilaian IUCN yang dirujuk, spesies ini masuk kategori Rentan, dengan penurunan populasi hingga 30 persen dalam kurun 21 tahun. Kehilangan habitat akibat eksploitasi dan kerusakan hutan menjadi faktor yang disorot. Bagi satwa yang mencari makan dengan mengikuti musim buah, menjaga hutan juga berarti mempertahankan jalur yang menghubungkannya dengan sumber pakan berikutnya.

Foto utama: Babi berjanggut yang berada di Kebun Binatang San Diego, Amerika. Foto: Wikipedia/Art G. from Willow Grove, PA, USA/Creative Commons Atribusi 2.0 Generik/Free to share.

Mengapa Ribuan Bintang Laut Berduri Diangkat dari Perairan Togean?

Editor 5 Nov 2026

Di perairan Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, warga Pulau Papan mengenal bintang laut mahkota berduri sebagai lipan laut. Duri panjang yang menutupi tubuhnya mudah menarik perhatian penyelam. Namun, ancaman terbesar bagi terumbu datang dari kebiasaan makannya.

Hewan ini memangsa polip, bagian hidup dari karang, termasuk karang bercabang dan karang meja dari genus Acropora. Dalam jumlah kecil, keberadaannya merupakan bagian dari ekosistem terumbu. Ketika populasinya melonjak, pemangsaan dapat meluas hingga menghabiskan sebagian besar karang hidup di lokasi terdampak.

Neviaty P. Zamani, peneliti yang mengkaji kelimpahan bintang laut berduri di perairan Pulau Tunda, Banten, menyebut satu individu dapat memangsa karang seluas 5–6 meter persegi dalam setahun. Angka itu memberi gambaran mengapa perubahan jumlah satwa ini begitu berarti. Dalam kondisi normal, kepadatannya dapat berkisar sekitar 10 ekor per hektar, tetapi saat terjadi ledakan populasi jumlahnya bisa mencapai ribuan ekor pada luasan yang sama.

Di Pulau Tunda sendiri, penelitian tersebut menemukan kelimpahan yang masih berada dalam kisaran alami dan belum menjadi ancaman berarti bagi terumbu.

Apa yang membuat jumlahnya melonjak? Neviaty menjelaskan tiga kemungkinan.

Pertama, populasi bintang laut memang dapat naik turun secara alami. Kedua, berkurangnya hewan pemangsa dapat membuat lebih banyak bintang laut bertahan hidup. Ketiga, aktivitas manusia di darat dan pesisir dapat menambah ketersediaan makanan bagi larva di laut.

Jika lebih banyak larva bertahan, lebih banyak pula yang berpeluang tumbuh menjadi pemangsa karang. Ketiganya merupakan penjelasan yang dibahas dalam kajian tersebut. Lonjakan populasi di suatu lokasi belum cukup untuk menentukan penyebabnya.

Di Togean, pengelola kawasan telah mencoba menekan jumlah bintang laut di lokasi dengan kepadatan tinggi. Pada 2019, sekitar 8.000 ekor dengan diameter 8-48 sentimeter diangkat dari perairan taman nasional. Tim mensurvei lokasi terlebih dahulu, lalu menggunakan penjepit bambu untuk menghindari kontak langsung dengan duri.

Darwis Ambotang, warga sekaligus pemilik penginapan di Pulau Papan, mengatakan pengangkatan telah dilakukan beberapa kali. Namun, pada 2022 dia masih melihat banyak lipan laut. Baginya, kegiatan itu merupakan bagian dari upaya memulihkan terumbu yang juga menjadi daya tarik wisata setempat.

Pengalaman Togean dan Pulau Tunda menunjukkan mengapa jumlah bintang laut perlu dibaca bersama kondisi karang di lokasi yang sama. Menemukan seekor lipan laut saat menyelam belum menandakan terumbu sedang bermasalah. Yang perlu diperhatikan adalah kenaikan kepadatan dan seberapa luas karang hidup yang dimangsa. Survei berulang dapat membantu pengelola membedakan populasi yang masih berada dalam kisaran alami dari lonjakan yang perlu ditangani.

Foto utama: Bintang laut mahkota berduri di Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.