Di antara dedaunan, tubuh hijau ular pucuk mudah luput dari pandangan. Reptil ramping ini kerap melingkar pada batang atau daun, menyamarkan diri sekaligus memanfaatkan pepohonan sebagai tempat berlindung.
Bagi Clarissa Amelia, mahasiswa Biologi Institut Teknologi Bandung, perjumpaan langsung dengan ular tersebut mengubah pandangannya terhadap satwa yang sering dianggap menakutkan. Dia mendokumentasikan Ahaetulla prasina di sekitar Sungai Cikacika, Bandung, kawasan yang dekat dengan aktivitas manusia, serta di Taman Buru Masigit Kareumbi, Sumedang, yang vegetasinya relatif terjaga. “Dapat bertahan hidup di dua kondisi habitat berbeda,” katanya.
Sebagian besar perjumpaan Clarissa berlangsung malam hari. Ketika kembali pada pagi hari, dia pernah menemukan ular masih berada di tempat semula. “Kemungkinan tidurnya di situ. Setahu saya, ular ini justru lebih aktif siang hari,” ujarnya.
Selama pengamatan, ular pucuk cenderung diam dan tenang, tanpa menunjukkan perilaku agresif. Bentuk mata horizontalnya memberi kesan seperti sedang memejamkan mata. Meski dikenal memiliki bisa lemah, perilaku yang diamati Clarissa memperlihatkan bahwa perjumpaan dengan ular tidak selalu berlangsung seperti yang dibayangkan melalui ketakutan terhadap reptil ini.
Kehidupan ular pucuk sangat bergantung pada vegetasi. Sebagai satwa arboreal, ia lebih banyak menghabiskan waktu di atas pohon. Adian Dwi Sulistio dari Endemic Indonesia Society menjelaskan bahwa semak, akar, batang pohon, dan rawa menyediakan perlindungan alami bagi ular. “Vegetasi itu surga persembunyian bagi ular,” katanya.
Ketika ruang hijau menyusut, ular semakin mudah terlihat dan berpotensi bertemu manusia. Gorong-gorong atau bangunan yang terkadang menjadi tempat ditemukannya ular bukan habitat ideal. Vegetasi juga menyediakan mangsa; kualitas tutupan yang baik mendukung keberadaan berbagai satwa kecil sebagai sumber makanan.
Sebagai predator tingkat menengah atau mesopredator, ular berperan mengendalikan populasi hewan lain dan membantu menjaga keseimbangan ekosistem. Kodok, katak, kadal, serta satwa kecil lainnya menjadi bagian dari makanan berbagai jenis ular.
Khusus ular pucuk, perannya juga berkaitan dengan pertanian karena memangsa burung kecil pemakan padi, seperti burung gereja dan pipit. Adian menilai pemahaman tentang hubungan tersebut dapat mengubah respons petani terhadap keberadaan ular. “Kalau petani tahu peran ular pucuk, mereka pasti akan membiarkan ular itu hidup karena membantu mengontrol hama,” ujarnya.
Namun, stigma negatif masih membuat ular kerap dibunuh sebelum perannya dipahami. Clarissa berharap masyarakat mengenali bahwa ular merupakan bagian penting dari alam, sementara Adian menekankan perlunya edukasi untuk mengurangi tindakan reaktif.
Perlindungan vegetasi menjadi bagian dari upaya tersebut karena menyediakan tempat berlindung dan berburu bagi ular. “Perubahan cara pandang masyarakat jadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan alam,” kata Adian. Dari pepohonan perkotaan hingga kawasan konservasi, keberadaan ular pucuk memperlihatkan hubungan antara ruang hijau, predator, dan satwa yang menjadi mangsanya.
Foto utama: Ular pucuk yang memiliki peran penting bagi ekosistem alam. Foto: Clarissa Amelia.