Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Andai Kucing Kuwuk Hilang, Apa Dampaknya pada Hutan?

Falahi Mubarok 29 Sep 2026

Bertahan di Ketinggian 5.200 Meter, Pohon Ini Hidup Lebih Tinggi dari Pohon Lain di Bumi

Akhyari Hananto 29 Sep 2026
Cerita fitur

Masyarakat Adat 10 Negeri Tehoru Tuntut Pengakuan Wilayah Adat

Christ J Belseran 29 Sep 2026
Cerita fitur

Kebakaran Hutan di Jambi Meluas, Api Lalap Taman Nasional

Teguh Suprayitno 29 Sep 2026
Cerita fitur

Kisah Para Pemburu Hiu Beralih jadi Pemandu Wisata

Achmad Rizki Muazam 28 Sep 2026

Jalan Panjang Menuju Dunia Bebas Rabies

Nuswantoro 28 Sep 2026
Semua berita

Berita utama

Masyarakat Adat 10 Negeri Tehoru Tuntut Pengakuan Wilayah Adat

Kebakaran Hutan di Jambi Meluas, Api Lalap Taman Nasional

Teguh Suprayitno 29 Sep 2026

Kisah Para Pemburu Hiu Beralih jadi Pemandu Wisata

Achmad Rizki Muazam 28 Sep 2026

Jelajah Meratus: Energi Surya Terangi Desa Tertinggi di Kalimantan Selatan [3]

Rendy Tisna 28 Sep 2026

Warga Pulau Kecil Maluku Utara Darurat Kekeringan

Mahmud Ichi 27 Sep 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan

Kebakaran Hutan Bahayakan Kesehatan Masyarakat dan Rugikan Ekonomi

Irfan Maulana 26 Sep 2026

Terjadi Lonjakan Sakit Pernapasan Dampak Asap Kebakaran Hutan

Achmad Rizki Muazam 16 Sep 2026

Asap Karhutla Tak Kenal Batas Administratif, Bikin Manusia dan Satwa Liar Menderita

Christopel Paino 15 Sep 2026

Tuntut Pemerintah Lindungi Warga Terdampak Asap Karhutla

Jaka Hendra Baittri, Suryadi 13 Sep 2026

Kemarau panjang menyebabkan kekeringan. Kebakaran hutan dan lahan parah pun terjadi di Kalimantan, Sumatera, sampai Papua. Masyarakat pun harus menghirup udara beracun dari asap karhutla. Petugas maupun relawan pemadam kebakaran sudah ada yang meninggal dunia karena terpapar lama asap berbahaya karhutla ini. Kementerian Kesehatan pada pertengahan Agustus lalu mencatat, lebih dari 3 juta warga di […]

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan series

Lebih spesial

9 cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

9 cerita

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Ekowisata Berbasis Riset untuk Menjaga Hutan Sungai Lesan

Akita Verselita 25 Sep 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Sukun, Pohon Pangan Potensial Indonesia yang Tangguh Hadapi Kemarau

Editor 29 Sep 2026

Kemarau meluas di Indonesia. Dalam prakiraan yang dirilis pada 14 September 2026, BMKG mencatat sekitar 81 persen Zona Musim telah memasuki musim kemarau. Sebanyak 1.637 titik pemantauan mengalami lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan. Di sektor pertanian, Kementerian Pertanian menyebut sekitar 50.000 hektare lahan terdampak kekeringan hingga pertengahan September.

Lahan tadah hujan menjadi salah satu yang rentan karena tidak memiliki akses irigasi memadai. Di tengah kekhawatiran terhadap produksi pangan, sejumlah penelitian menyoroti sukun (Artocarpus altilis) sebagai tanaman yang berpotensi dikembangkan di wilayah kering.

Sukun adalah pohon berumur panjang yang dapat terus berbuah tanpa ditanam ulang setiap musim seperti padi. Penelitian yang dikutip dalam artikel menyebut pohon yang telah tumbuh dengan baik mampu bertahan saat kekeringan berlangsung tiga hingga empat bulan. Meski demikian, kemampuan itu tidak berarti sukun dapat tumbuh di semua tempat tanpa memperhatikan kondisi lahannya.

Penelitian Universitas Pattimura di Kepulauan Kei Kecil, Maluku Tenggara, mendapati sukun tetap tumbuh di wilayah dengan musim kemarau panjang. “Sukun di Kepulauan Kei terindikasi toleran terhadap cekaman kekeringan,” tulis Amat Reniwurwarin dan rekan-rekannya. Temuan tersebut memberi gambaran tentang kemampuan sukun bertahan dalam kondisi setempat.

Sementara itu, tim Universitas Indonesia memetakan kesesuaian lahan budi daya sukun di Jawa Tengah. Hasil pemodelan mereka memperkirakan sekitar 28,35 persen luas provinsi tersebut saat ini sesuai untuk budi daya sukun. Penelitian itu juga memproyeksikan perubahan wilayah yang sesuai pada masa depan berdasarkan skenario iklim tertentu. Angka-angka ini menunjukkan potensi, tetapi tetap perlu diterjemahkan dengan memperhatikan kondisi tiap lokasi.

Kajian lain yang diterbitkan di PLOS Climate memproyeksikan bahwa wilayah dengan iklim sesuai untuk sukun secara global relatif stabil, bahkan dalam skenario perubahan iklim yang berat. Para penelitinya menilai sukun lebih tangguh daripada padi terhadap beberapa tekanan iklim. Pohon ini juga dapat hidup dan berbuah lebih dari 50 tahun, menyimpan karbon, serta membutuhkan lebih sedikit kegiatan penanaman ulang.

Sukun dapat menjadi bagian dari kebun campur atau sistem agroforestri, berdampingan dengan tanaman lain. Cara ini membuka peluang menambah sumber pangan tanpa mengandalkan satu jenis tanaman saja. Namun, potensi hasil dan ketahanannya tetap bergantung pada tempat tumbuh serta cara pengelolaannya.

Ketika kemarau semakin menekan lahan pertanian, penelitian tentang sukun menawarkan arah untuk memperluas pilihan pangan. Pengembangannya memerlukan pemilihan lokasi yang sesuai, bukan sekadar menganggap satu pohon sebagai jawaban bagi seluruh persoalan kekeringan.

Foto utama: Buah sukun yang sangat potensial sebagai bahan pangan pengganti beras. Foto: Wikimedia Commons/Ashay vb/CC BY-SA 4.0.

Kekeringan Meluas di Nusa Tenggara Barat, 9 Daerah Kesulitan Air Dampak El Nino

Editor 29 Sep 2026

Musim kemarau tahun ini membuat banyak warga Nusa Tenggara Barat kesulitan memperoleh air. Sembilan dari 10 kabupaten dan kota di provinsi tersebut telah melaporkan dampak kekeringan. Di sejumlah lahan pertanian, tanaman menunjukkan gejala gagal panen.

Kabupaten Bima, Sumbawa, dan Lombok Timur menetapkan status tanggap darurat kekeringan. Enam daerah lain berstatus siaga darurat. Menurut Kepala BPBD NTB, Sadimin, pemantauan sementara mencatat 263.310 jiwa dari 84.837 keluarga terdampak di 227 desa. Hingga 10 September 2026, BPBD telah menyalurkan 3,3 juta liter air bersih ke berbagai daerah.

Lombok Timur mencatat jumlah warga terdampak terbanyak, yakni 92.999 jiwa di 41 desa. Di Sumbawa, dampak kekeringan tercatat pada 42.728 jiwa, sementara di Kabupaten Bima sebanyak 28.894 jiwa. “Hampir seluruh wilayah NTB terdampak, dipicu fenomena El-Nino,” kata Sadimin.

Bastian Andarino dari BMKG NTB menjelaskan bahwa El Niño membuat musim kemarau berlangsung lebih lama. BMKG memperkirakan musim hujan datang lebih lambat, sementara curah hujan selama kemarau didominasi kategori bawah normal di sebagian besar wilayah NTB. Pemantauan hari tanpa hujan juga mencatat 63 hari berturut-turut di pos hujan Belo dan Bolo, Kabupaten Bima, yang termasuk kategori kekeringan ekstrem.

Kondisi tersebut terasa langsung di lahan pertanian dan kebutuhan air sehari-hari. Di Lombok Timur, pemerintah daerah mengajukan pembuatan sumur bor untuk mengantisipasi kekeringan di 10 kecamatan. Di Lombok Barat, penyaluran air bersih ke lima kecamatan terdampak menghadapi kendala karena tidak tersedia mobil tangki.

Pemerintah pusat turut menyalurkan perlengkapan untuk penanganan kekeringan. Kepala BNPB, Suharyanto, mengatakan dukungan yang diberikan mencakup pompa air, tandon, pipa, keran, serta bantuan logistik. Total nilainya lebih dari Rp1,8 miliar. Ia juga meminta pemerintah daerah memanfaatkan embung, waduk, dan tempat penampungan air lain. “Untuk mitigasi jangka panjang, penanaman pohon di hulu, di hutan perlu dilakukan,” katanya.

Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal menilai bantuan darurat saja tidak akan menyelesaikan persoalan yang berulang setiap kemarau. Menurutnya, perlindungan sumber mata air, pemeliharaan sarana air bersih, pengelolaan embung dan irigasi, serta konservasi lingkungan perlu diperkuat.

Ia mengingatkan bahwa beberapa daerah yang kini kekeringan juga pernah menghadapi banjir. “Permasalahan utamanya adalah kondisi hutan yang rusak, sehingga perlu kita rumuskan bersama untuk mengatasi hal tersebut,” kata Iqbal. Bagi petani dan warga terdampak, langkah jangka panjang itu menentukan kesiapan menghadapi kemarau berikutnya.

Foto utama: Warga Desa Sekaroh, Kabupaten Lombok Timur memanfaatkan air embung untuk kebutuhan air bersih. Daerah ini terdampak bencana kekeringan setiap musim kemarau. Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia.

Kenali Teratai Raksasa dari Amazon

Muhammad Adhitya* 29 Sep 2026

Victoria amazonia merupakan tanaman air endemik rawa dan danau dangkal Amazon. Daunnya lebar dengan diameter mencapai tiga meter. Tak hanya berukuran besar, tanaman ini juga bisa menopang beban hingga 30 kg atau setara seorang anak kecil, tanpa robek atau tenggelam.

Spesies ini masuk dalam genus Victoria, beranggotakan tiga spesies bersaudara, V. amazonica, V. cruziana, dan V. boliviana, dengan spesies terakhir terkonfirmasi sebagai spesies terpisah pada 2022. Penelitian University of Mancaster dan University Ofxord mengungkapkan bentuk geometris daun Victoria amazonia lebih efisien dibanding spesies teratai lain.

Tanaman ini memiliki ketebalan daun yang bervariasi dan tulang daun bercabang rapat menyerupai kisi-kisi konstruksi, berfungsi mendistribusikan beban secara merata sehingga tidak mudah sobek dan rusak meskipun ada tekanan besar. Selain itu, kombinasi lapisan lilin tebal, tepi daun melengkung ke atas, dan rongga udara di bawah daun membuatnya dapat mengapung di permukaan air. 

Di habitat aslinya, tanaman ini menyediakan naungan dan tempat berlindung bagi ikan kecil, katak, dan serangga. Luas penampang daun menghasilkan bayangan berperan mengatur cahaya dan suhu air sehingga memengaruhi alga dan organisme fotosintetik lain.

Sayangnya, habitat Victoria amazonia di Amazon terancam oleh deforestasi, polusi, pembangunan, dan perubahan iklim. Kondisi ini mengubah aliran air, meningkatkan sedimentasi rawa, memengaruhi curah hujan, dan suhu air.

Selain daun yang rakssa, tanaman ini memiliki bunga yang mekar dalam waktu yang singkat. Yakni, hanya pada malam hari dan berlangsung sekitar dua malam berturut-turut. Diameternya pun mencapai 40 cm.

Sejumlah kebun botani dunia, termasuk Kew Gardens, membudidayakan dan memelihara tanaman ini sebagai koleksi konservasi. Selain itu, pemantauan habitat juga dilakukan dengan teknologi drone dan melibatkan komunitas lokal dalam upaya pelestarian jangka panjang.



Cerita Masyarakat Adat Boti Jaga Hutan untuk Kehidupan

Karen Anastasia Surbakti* 29 Sep 2026

“Hutan itu mama. Ibarat kalau mama dilukai, kami akan merasakan getahnya,” ujar Muke, perempuan adat Suku Boti. 

Di tengah ancaman iklim dan kemarau panjang, Masyarakat Adat Boti di Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur tetap mandiri dan berdaulat dalam mengelola pangannya. 

Kemandirian itu terwujud dari sistem pertanian yang beragam dan tetap menjaga kelestarian alam. Cuaca kini semakin tidak bisa terprediksi, cara mengatasinya, mereka tak hanya menanam jagung tetapi juga sorgum, ubi, labu, pisang, dan kacang. Mereka menanamnya dengan tumpang sari. 

“Karena itu kami tidak boleh tanam satu jenis saja. Misal, satu mati, yang lain bisa kami pakai,” kata Seo Neolaka, perempuan adat Boti.

Sistem tanam dan panen masyarakat adat Boti juga berstrategi. Dalam satu lahan ladang, mereka menanam berbagai jenis tanaman umbi-umbian, kacang-kacangan, sayur mayur hingga buah-buahan. Jika hujan terus menerus, gagal panen, atau terserang hama, masyarakat masih memiliki cadangan pangan lain. Sebaliknya, ketika panen melimpah, mereka menyisihkan sebagian untuk menjadi benih. 

Begitu pula saat makanan telah tersaji di piring. Mereka paham kapan harus makan banyak dan makan sedikit. Semuanya tergantung hasil panen, apakah melimpah atau tidak. 

Menurut Raja (Usif) Boti, sejak dulu hingga sekarang, mereka tidak mengalami kesulitan mencari makanan karena mereka menjaga alam sekitar. Hal ini terlihat dari tutupan lahan masyarakat Boti yang memang lebih baik daripada wilayah lain. 

“Karena alam kasih kita sedikit, kita makan secukupnya. Tetapi kalau alam kasih banyak, yang lain kami simpan,” kata Molo Benu, pemimpin perempuan adat Boti.

Menjaga hutan juga menjadi bagian adat istiadat masyarakat Boti. Mereka melarang adanya penebangan hutan dan melakukan pembatasan dalam pengambilan kayu. Sistem ini menjadi mekanisme konservasi berbasis komunitas. Mereka mengelola dan menjaga hutan secara komunal, seperti menjaga diri sendiri. 

Tak hanya hutan, air juga mereka rawat dengan bijak. Dalam kalender adat Suku Boti, ada neon oe atau hari air yang menjadi pengingat untuk menggunakan air dengan bijak seperti tidak mencemarinya dan membuka lahan di sekitarnya. 

Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Kie, Agnes Natalya, menyebut suksesnya Masyarakat Adat Boti dalam menghadapi kemarau panjang adalah karena diversifikasi pangan yang baik. Mereka tetap mengandalkan benih lokal dan mengatur pelestarian alam lewat aturan adat. 

Siti Maimunah, Direktur Mama Aleta Fund, juga mengatakan adaptasi ekologis berdasarkan pengalaman kolektif berhasil menghadapi ancaman gagal panen. 

Akhirnya, tak hanya hutan adat, pengetahuan lokal dalam menjaga pangan, air, dan alam juga perlu dilindungi agar dapat berjalan bersamaan. 



Perempuan adat Boti (Taela Sae, Muke Benu, Seo Neolaka, Kuma Neolaka) sedang membawa hasil panen berupa jagung, kacang tunis, sorgum, dan sayur-sayuran segar. Foto: Mario Sara/ Mongabay Indonesia

Mangrove Pesisir Banda Aceh Hilang, Burung Migran Tak Punya Rumah Singgah

Karen Anastasia Surbakti* 28 Sep 2026

Kawasan pesisir Banda Aceh merupakan jalur migrasi East Asia-Australian Flyway (EAAF). Salah satunya yang berada di pesisir Pantai Lampulo, Kota Banda Aceh. Jalur ini menjadi tempat persinggahan sekaligus jalur akhir migrasi bagi banyak burung di dunia.

Setidaknya, ada 17 spesies burung migran dari Asia hingga Eropa yang singgah. Biasanya mereka mencari makan, istirahat, dan singgah sebelum melanjutkan perjalanan.

Antara lain, ada biru laut ekor blorok yang terkenal dengan kemampuan terbang tanpa-henti dan jalur terpanjang mencapai 13.560 km dari Alaska, trinil pembalik batu (Arenaria interpres), trinil kaki merah (Tringa totanus), jenis burung cerek, gajahan, kicuit kerbau dan jenis lain.

Sayangnya, menyempitnya mangrove di wilayah pesisir Aceh berdampak pada hadirnya burung migran. Penelitian Mira dkk. (2020) luas lahan mangrove di pesisir Banda Aceh mengalami pengurangan signifikan mencapai 52,13% sejak 2004 hingga 2009, dari 600 hektar menjadi 287,19 hektar. Penyebabnya karena alih fungsi menjadi lahan pemukiman. Wilayah tersebar di lima kecamatan, diantaranya Jaya Baru, Kuta Alam, Kuta Raja, Meuraxa, dan Syiah Kuala.

Eddy Safari, Kepala Bidang Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan (BP2L) DLHK3 menyebutkan sekitar 10% lahan mangrove telah menjadi milik pribadi. Di kawasan mangrove Kuta Alam, sebanyak lima jenis spesies sudah tidak dapat lagi ditemukan sejak adanya penimbunan kawasan untuk membangun Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sejak tahun 2012. 

Hingga Februari 2025, hanya empat spesies burung yang terlihat, yaitu trinil kaki merah, cerek krenyut, cerek pasir tibet, dan trinil pembalik batu. Burung tersebut pun jumlahnya hanya mencapai kurang dari 100 ekor saja, berkurang jauh dari biasanya yang mencapai 2.000an ekor. 

Tentu, penyusutan ini berdampak bagi rantai ekosistem di pesisir Banda Aceh. 

Ekosistem mangrove dan burung migran nyatanya memiliki simbiosis mutualisme. Tanaman bakau (bakau hitam dan api-api putih) yang kaya akan cacing dan krustasea menjadi pakan utama bagi burung migran. Sebaliknya, burung migran juga berperan mengendalikan hama dengan memakan serangga, gastropoda, dan invertebrata penggerek akar mangrove.

Bahkan, burung migrasi (trinil dan plover) dapat mengontrol populasi hama hingga 30-50% saat musim migrasi. Tak hanya itu, burung dara laut (Chlidonias spp.) juga berperan sebagai “petani hutan” yang menyebarkan bibit mangrove hingga ke pesisir Aceh Timur atau Utara. 

Sayangnya, ancaman menyempitnya mangrove ini bukan menjadi sesuatu yang serius dan dampaknya kerap tidak terlihat secara langsung. Padahal, hal ini berdampak panjang dan menjalar ke berbagai komponen seperti mempengaruhi produktivitas tanaman dan penyebaran biji. 

“Beberapa burung berperan dalam penyebaran propagul atau biji. Ketidakhadiran mereka dapat mengurangi regenerasi alami dan memperlambat pemulihan vegetasi mangrove, terutama di area yang terganggu,” kata Rita Andini, peneliti bidang biodiversitas, konservasi, dan rekayasa genetik tumbuhan BRIN. 

 

Area tambak dan kawasan ekosistem mangrove di pesisir Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, yang telah beralih fungsi menjadi area perumahan. Foto: Nurul Hasanah/Mongabay Indonesia

Pohon Ini Hidup di Gurun Bahrain Selama 400 Tahun

Editor 28 Sep 2026

Di tengah gurun Bahrain, sebuah pohon berdiri sendirian di atas bukit kecil yang tandus. Tidak ada sungai, waduk, atau sumur aktif yang tampak di sekitarnya. Namun, pohon yang dikenal sebagai Tree of Life atau Shajarat al-Hayat ini disebut telah hidup lebih dari 400 tahun. Bagaimana ia bertahan di tempat yang tampaknya tidak menyediakan cukup air?

Artikel tersebut menyebut pohon ini diduga berasal dari genus Prosopis, kemungkinan Prosopis cineraria atau Prosopis juliflora. Keduanya dikenal mampu hidup di lingkungan kering, tetapi spesies Pohon Kehidupan belum dipastikan. Karena itu, penjelasan tentang cara bertahannya masih berupa sejumlah dugaan yang didasarkan pada sifat pohon Prosopis dan kondisi lokasi.

Dugaan utama mengarah ke akarnya. Akar Prosopis dapat tumbuh sangat dalam dan luas, memungkinkan pohon menjangkau simpanan air di bawah permukaan tanah. Para ilmuwan menduga Pohon Kehidupan memperoleh air dari akuifer yang tersembunyi di bawah gurun. Sumber air tersebut tidak terlihat oleh pengunjung yang datang ke lokasi.

Temuan arkeologis menambah kemungkinan lain. Dalam penggalian pada 2010, ditemukan sisa permukiman kuno serta kemungkinan bekas sumur atau saluran air di sekitar pohon. Temuan itu menunjukkan kawasan tersebut mungkin pernah memiliki akses air. Meski demikian, bekas saluran atau sumur belum membuktikan bahwa akar pohon saat ini menggunakan sumber air yang sama.

Selain mencari air, pohon perlu mengurangi jumlah air yang hilang. Daun Prosopis terdiri atas banyak anak daun kecil, yang membantu membatasi penguapan. Dalam kondisi sangat kering, pohon ini juga dapat menggugurkan daunnya. Artikel tersebut turut menyebut hubungan akar dengan jamur tanah dan bakteri pengikat nitrogen, yang membantu pohon memperoleh sumber daya dari tanah. Embun malam disebut sebagai kemungkinan tambahan pasokan air, walau perannya pada Pohon Kehidupan belum dipastikan.

Pohon ini juga hidup dalam cerita masyarakat Bahrain. Sejumlah legenda mengaitkan lokasinya dengan tempat suci dan mata air bawah tanah. Kini, Pohon Kehidupan menjadi tujuan wisata sekaligus simbol yang digunakan dalam pendidikan lingkungan.

Popularitas itu membawa tekanan. Aktivitas pengunjung dan vandalisme pernah menyebabkan kerusakan pada batangnya. Pemerintah kemudian memasang pagar, membangun pusat informasi, dan membatasi akses langsung ke pohon.

Pertanyaan tentang sumber airnya belum sepenuhnya terjawab. Sementara penelitian berupaya menjelaskan bagaimana pohon ini bertahan, perlindungan di sekitarnya membantu menjaga agar Pohon Kehidupan tetap dapat tumbuh di tengah gurun.

foto utama: Pohon ini dikenal sebagai Tree of Life atau Shajarat al-Hayat, yang dalam bahasa Arab berarti “Pohon Kehidupan.” Keberadaannya telah membingungkan ilmuwan, menarik minat arkeolog | Zairon – Own work CC BY-SA 4.0 Wikimedia.
Pohon ini dikenal sebagai Tree of Life atau Shajarat al-Hayat, yang dalam bahasa Arab berarti "Pohon Kehidupan." Keberadaannya telah membingungkan ilmuwan, menarik minat arkeolog | Zairon - Own work CC BY-SA 4.0 wikimedia

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.