Suara beragam burung terdengar di hutan pegunungan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Sebagian mencari makan di tajuk pohon, sementara lainnya bergerak di antara vegetasi dan lantai hutan. Setiap lapisan menyediakan kebutuhan berbeda, mulai dari buah dan serangga hingga tempat berlindung serta berkembang biak.
Pengamatan Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH) Aceh mencatat 31 jenis burung di kawasan ini. Empat di antaranya berstatus Genting, yaitu Sumatran Mesia (Leiothrix laurinae), Aceh Bulbul (Pycnonotus snouckaerti), Sumatran Laughingthrush (Garrulax bicolor), dan Sumatran Leafbird (Chloropsis media).
“Hutan Beutong penting bagi burung-burung Sumatera,” kata Heri Tarmizi, Koordinator KSLH Aceh.
Tim juga mencatat tiga jenis berstatus Rentan dan empat jenis Hampir Terancam. Sementara itu, 19 jenis masuk kategori Risiko Rendah dan satu jenis, Sumatran Robin, berstatus Belum Dievaluasi. Catatan tersebut memperlihatkan pentingnya kawasan ini sebagai habitat berbagai burung dengan kebutuhan hidup yang berbeda.
Menurut Heri, burung dapat membantu memberikan gambaran tentang perubahan lingkungan. Setiap jenis memiliki kebutuhan pakan, habitat, dan tingkat toleransi terhadap gangguan yang berbeda. “Perubahan komposisi jenis, dapat memberikan gambaran kondisi lingkungan.” Berkurangnya tutupan hutan atau terpecahnya habitat dapat memengaruhi ruang hidup burung, terutama jenis dengan sebaran terbatas.
Hutan Beutong juga menopang kehidupan manusia. Kecamatan ini terdiri atas empat desa dengan sekitar 2.400 penduduk. Masyarakat menggantungkan penghidupan pada sawah, kebun, hutan, dan Sungai Meureubo. Hamparan sawah seluas sekitar 500 hektar menjadi sumber pangan sekaligus pendapatan warga.
“Kami hidup dari hasil alam. Hutan yang membentengi Beutong Ateuh, sungai yang membelah kecamatan, sawah dan kebun yang mengelilingi kampung kami merupakan harta yang harus dijaga dan tidak boleh rusak,” kata Teungku Malikul Azis, tokoh adat dan agama yang dikenal sebagai Abu Kamil.
Menurutnya, penghormatan terhadap satwa diwariskan oleh orangtua. Masyarakat tidak memburu atau membunuh hewan sembarangan. Ia mengatakan warga juga tidak menganggap harimau sumatera sebagai pengganggu. “Kami tidak pernah berkonflik dengan harimau. Kami tidak mengganggu mereka dan mereka juga tidak mengganggu kami.”
Secara ekologis, kawasan Beutong menjadi jalur lintasan satwa yang menghubungkan Kawasan Ekosistem Leuser dengan hutan Ulu Masen. Survei di hutan Terangun–Beutong turut merekam macan dahan, kucing emas, dan harimau sumatera, serta menemukan satwa mangsa seperti rusa, kijang, kambing hutan, dan babi hutan.
Keberadaan burung, kucing liar, dan hewan lainnya menunjukkan beragam fungsi hutan Beutong. Bagi masyarakat, menjaga kawasan ini berarti mempertahankan tempat hidup satwa sekaligus sumber air, pangan, dan penghidupan mereka.
Foto utama: Spectacle Laughingthrush atau Poksai genting di pinggir hutan Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.