Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua

Terbaru

Cerita fitur

Pemerintah Cari Solusi bagi Penambang Emas Ilegal? Jatam: Tetap Kejar Aktor Intelektual

Yulia Adiningsih 30 Okt 2026

Kasus Perdagangan 57 Kg Sisik Trenggiling di Kalimantan Selatan, Pelaku Pemain Lama?

Rendy Tisna 30 Okt 2026
Cerita fitur

Anak Gajah Sumatera Mati di Konsesi Michelin Group, Dampak Karhutla?

Teguh Suprayitno 29 Okt 2026
Cerita fitur

Tiga Petani Pakel Menangi Gugatan Lawan Perusahaan Perkebunan

RZ. Hakim dan Zuhana A. Zuhro 29 Okt 2026

Bagaimana Rasanya Jumpa Macan Tutul Jawa di Alam Liar?

Falahi Mubarok 29 Okt 2026
Cerita fitur

Warga Kota Padang Trauma Ketika Banjir Bandang Datang Berulang

Vinolia 29 Okt 2026
Semua berita

Berita utama

Pemerintah Cari Solusi bagi Penambang Emas Ilegal? Jatam: Tetap Kejar Aktor Intelektual

Yulia Adiningsih 30 Okt 2026

Anak Gajah Sumatera Mati di Konsesi Michelin Group, Dampak Karhutla?

Teguh Suprayitno 29 Okt 2026

Tiga Petani Pakel Menangi Gugatan Lawan Perusahaan Perkebunan

RZ. Hakim dan Zuhana A. Zuhro 29 Okt 2026

Warga Kota Padang Trauma Ketika Banjir Bandang Datang Berulang

Vinolia 29 Okt 2026

Penegakan Hukum Baru Sasar Karhutla Belum Kasus Korban Terdampak Asap

Rendy Tisna 28 Okt 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Kupu-kupu: Mata Rantai yang Rapuh

Mustahil tapi Nyata: Kupu-kupu Ini Terbang 4.200 Km melintasi Samudera Atlantik Tanpa Berhenti

Akhyari Hananto 25 Apr 2026

Andai Kupu-kupu Hilang, Apa Dampaknya pada Lingkungan?

Falahi Mubarok 22 Jul 2025

Hubungan Unik Kupu-kupu dan Ikan Balur di Sungai Musi

Nopri Ismi 26 Jun 2025

Kupu-kupu Raja, Kisah Ketangguhan Serangga Paling Ikonik di Dunia

Nuswantoro 16 Nov 2024

Kupu-kupu menyerbuki tumbuhan, menjadi bagian dari rantai makanan, dan kondisinya sering mencerminkan kesehatan lingkungan tempat ia hidup. Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan mengancam kehidupannya di alam, sementara industri ekstraktif menggerus habitat kupu-kupu di Kalimantan Timur. Spesies endemik seperti kupu-kupu barong di Bali hanya ada di satu wilayah, sehingga perlindungannya tidak bisa ditunda. Bila kupu-kupu hilang, […]

Kupu-kupu: Mata Rantai yang Rapuh series

Lebih spesial

9 cerita

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan

9 cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Teluk Saleh, Surga Bahari di Pulau Sumbawa

Akita Verselita 25 Okt 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Leah Varjacques, Rizky Rahad, Sandy Watt 1 Sep 2026

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Mirip Bayi Orca, Inilah Penampakan Lumba-lumba Panda

Editor 30 Okt 2026

Seekor lumba-lumba mungil berguling di dekat kapal wisata di lepas pantai Patagonia, Argentina. Perutnya menghadap ke atas, sementara tubuh hitam-putihnya bergerak bolak-balik di air. Sekilas, penampilannya menyerupai bayi orca. Namun, satwa yang direkam pembuat film dokumenter Luis Burgueño itu adalah lumba-lumba Commerson, yang juga dikenal sebagai lumba-lumba panda. Rekaman perjumpaan tersebut menarik perhatian jutaan pengguna Instagram. Warna tubuhnya memang mencolok, tetapi kebiasaannya berenang terbalik membuat mamalia laut ini semakin menarik untuk dikenali.

“Lumba-lumba satu ini bersama spesies lain di sekitar kapal dan perjumpaannya berlangsung lebih lama dari yang Anda lihat di video,” kata Burgueño, dikutip dari Daily Mail. Dia mengaku terkejut melihat satwa tersebut memperlihatkan bagian perutnya.

Burgueño menafsirkan gerakan itu sebagai tanda kepercayaan diri. Meski demikian, pengamatan singkat tersebut belum cukup untuk memastikan alasan perilakunya saat mendekati kapal. Berenang dengan perut menghadap ke atas memang dikenal sebagai salah satu perilaku lumba-lumba Commerson, termasuk ketika mencari makanan. Gerakan yang tampak seperti permainan bagi manusia itu dapat berkaitan dengan aktivitas berburu.

Lumba-lumba Commerson memiliki dua subspesies yang menghuni wilayah berjauhan. Satu ditemukan di perairan Amerika Selatan, sementara lainnya, Cephalorhynchus commersonii kerguelensis, hidup di sekitar Kepulauan Kerguelen, Samudra Hindia. Kedua wilayah tersebut terpisah sekitar 8.500 kilometer. Ukuran tubuh penghuninya pun berbeda. Lumba-lumba di Kerguelen dapat mencapai panjang sekitar 1,8 meter dengan berat 86 kilogram, sedangkan kerabatnya di Amerika Selatan memiliki berat sekitar 45 kilogram. Perbedaan ukuran ini menunjukkan bahwa di balik penampilan serupa, terdapat variasi di antara kedua kelompok tersebut.

Pola hitam-putih pada tubuhnya melahirkan beragam julukan, mulai dari lumba-lumba panda, lumba-lumba sigung, hingga piebald dolphin. Sebutan terakhir merujuk pada penampilan dengan bagian tubuh berwarna berbeda. Pola warna itu diperkirakan membantu penyamaran saat berburu, sedangkan posisi berenang terbalik diduga memudahkan mereka menemukan mangsa.

Namun, dugaan fungsi warna dan gerakan tersebut perlu dibedakan dari pengamatan langsung mengenai perilakunya. Kemiripan penampilannya dengan orca juga tidak berarti keduanya menggunakan strategi berburu yang sama. Pada Commerson, tubuhnya sendiri yang berbalik ketika berenang.

Selain melalui perjumpaan di laut, masyarakat mengenal lumba-lumba Commerson dari sejumlah akuarium, termasuk Sendai Umino-Mori di Jepang. Catatan pemeliharaan memberikan informasi mengenai usia dan reproduksinya, tetapi kehidupan dalam akuarium tidak menggambarkan seluruh kondisi satwa ini di alam. Informasi mengenai populasinya di lautan masih terbatas.

Rekaman dari Patagonia memperlihatkan sebagian kecil kehidupannya: seekor mamalia laut bertubuh mungil, berwarna kontras, dan mampu bergerak dengan cara yang mengundang rasa ingin tahu.

Foto utama: Inilah lumba-lumba Commerson yang memiliki pola berenang terbalik. Foto: Wikimedia Commons/Mirko Thiessen/CC BY-SA 2.5

Bukan Sedang Marah, Ini Rahasia Wajah Cemberut Kucing Pallas

Editor 30 Okt 2026

Wajahnya seolah selalu menyimpan kekesalan. Tatapan tajam, dahi datar, serta telinga pendek yang terletak rendah membuat kucing Pallas (Otocolobus manul) mendapat julukan kucing paling cemberut di dunia. Ekspresi itu terbentuk dari anatomi kepalanya, bukan petunjuk bahwa ia sedang marah. Pupilnya pun bulat, berbeda dengan celah vertikal yang umum terlihat pada kucing domestik.

Di balik penampilannya yang menggemaskan, satwa yang juga disebut manul ini merupakan pemburu penghuni padang stepa dan pegunungan berbatu Asia Tengah, tempat dingin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bulu tebal membuat tubuh kucing Pallas tampak jauh lebih gempal daripada ukuran sebenarnya. Dengan berat sekitar dua hingga lima kilogram, tubuhnya tidak jauh berbeda dari kucing rumahan. Lapisan bulu tersebut membantu menghadapi suhu rendah, sementara warna abu-abu kecokelatan menyamarkannya di antara bebatuan. Manul mengandalkan gerakan mengendap dan sergapan untuk menangkap mangsa, alih-alih pengejaran cepat.

Pika, mamalia kecil yang berkerabat dengan kelinci, serta berbagai hewan pengerat menjadi bagian penting makanannya. Keberhasilan berburu bergantung pada ketersediaan mangsa dan tempat berlindung yang memadai.

Kemampuannya menghuni pegunungan tinggi mendapat bukti menarik dari kawasan Everest, Nepal. Studi yang diterbitkan di Cat News pada 2022 melaporkan keberadaan kucing Pallas di Taman Nasional Sagarmatha berdasarkan sampel kotoran yang dikumpulkan dalam ekspedisi 2019. Dua lokasi pengambilan sampel berada pada ketinggian 5.110 dan 5.190 meter di atas permukaan laut, terpisah sekitar enam kilometer. Analisis genetik mengidentifikasi sedikitnya dua individu. Temuan tersebut menambah catatan sebaran manul di Himalaya dan menunjukkan bahwa satwa yang sulit diamati ini dapat terlewat dalam pemantauan lapangan.

Meski mampu menghadapi lingkungan ekstrem, kucing Pallas tetap rentan terhadap perubahan habitat. Perluasan penggembalaan dan tekanan ternak dapat mengurangi vegetasi yang menyediakan perlindungan bagi manul maupun mangsanya. Perubahan iklim juga berpotensi mengubah kondisi padang stepa dan pegunungan melalui perubahan suhu, hujan, serta tutupan salju.

Di sejumlah wilayah, perburuan untuk bulu dan penggunaan bagian tubuhnya menambah ancaman. Manul juga dapat terkena perangkap atau racun yang ditujukan kepada predator lain. Kebiasaannya hidup menyendiri dan tersembunyi membuat dampak berbagai tekanan itu sulit dipantau.

Melindungi kucing Pallas membutuhkan perhatian terhadap keseluruhan ruang hidupnya, termasuk populasi mangsa dan kawasan berbatu tempatnya berlindung. Kerja sama dengan masyarakat lokal penting untuk mengurangi risiko dari perangkap, racun, dan perubahan penggunaan lahan. Sebagai pemangsa mamalia kecil, manul menjadi bagian dari jaring-jaring makanan pegunungan. Penemuan di Sagarmatha memperlihatkan betapa banyak informasi tentang kehidupannya yang masih tersimpan di alam. Wajah cemberut mungkin membuatnya mudah dikenali di foto, tetapi memahami kebutuhannya di habitat asli memerlukan penelitian yang jauh lebih panjang.

Foto utama: Kucing Pallas (Otocolobus manul) di atas batang pohon dengan bulu tebalnya yang khas. Foto: Chris Godfrey.

Nasib Tapir Sumatera di Tengah Penyusutan Habitat dan Minimnya Data

Editor 29 Okt 2026

Seekor tapir tampak kebingungan di tepi Jalan Lintas Timur Sumatera, menjauh dari suara kendaraan yang melintas. Rekaman singkat itu kemudian memperlihatkan seorang pria berlari mendekatinya sambil membawa tombak. Hewan tersebut akhirnya tewas dalam peristiwa di Register 45, Mesuji, Lampung, yang ramai diperbincangkan pada awal Juli 2026. Kasus ini memperlihatkan risiko yang dihadapi tapir ketika keluar dari hutan.

Di balik tubuh hitam-putihnya yang mudah dikenali, kehidupan satwa ini masih menyisakan banyak pertanyaan, termasuk berapa jumlahnya yang bertahan di Sumatera.

“Tapir ini merupakan satwa dilindungi dan terancam punah namun terlupakan,” kata Supintri Yohar, Direktur Kehutanan Yayasan Auriga Nusantara. Dia mengaitkan kemunculan tapir di luar habitat dengan deforestasi dan fragmentasi hutan, yakni terpecahnya kawasan menjadi bagian-bagian yang terpisah. Sebagai pemakan tumbuhan dengan wilayah jelajah luas, tapir membutuhkan jalur untuk berpindah dan mencari makanan.

Ronny Rachman, Guru Besar IPB, menjelaskan bahwa perluasan perkebunan dan pembangunan jalan dapat memaksanya melintasi area terbuka atau permukiman. Selain perburuan, pergerakan tersebut menghadapkan tapir pada risiko tertabrak kendaraan.

Penelitian bertajuk Safeguarding Asian tapir habitat in Sumatra memperlihatkan pentingnya hutan dataran rendah bagi satwa yang juga disebut tenuk ini. Tim pimpinan Irene M.R. Pinondang menganalisis kawasan hutan hujan seluas 69.500 kilometer persegi. Dari 465 stasiun kamera jebak, tapir terekam di 143 titik, dengan deteksi terbanyak di Bukit Barisan Selatan dan Kerinci Seblat. Temuan menunjukkan tapir banyak menghuni hutan di bawah ketinggian 600 meter dengan biomassa tinggi, kawasan yang juga menghadapi tekanan pembukaan lahan. Habitatnya mencakup kawasan konservasi, hutan lindung daerah aliran sungai, hingga hutan produksi.

Sementara habitat berubah, periode Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Tapir 2013-2022 telah berakhir. Dokumen tersebut sudah mengidentifikasi kerusakan habitat, fragmentasi, dan perburuan sebagai ancaman utama, sekaligus mencatat keterbatasan data populasi.

Ristianto Pribadi dari Kementerian Kehutanan mengakui belum tersedia angka populasi nasional terbaru berdasarkan sensus serentak dengan metode seragam. Pendataan tetap dilakukan melalui patroli, kamera jebak, tanda keberadaan, dan laporan masyarakat. Namun, data itu lebih kuat untuk menjelaskan kondisi pada tingkat lanskap. Perilaku tapir yang cenderung menyendiri dan aktif malam hari turut menyulitkan pemantauan.

Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa berakhirnya periode strategi tersebut tidak menghentikan status perlindungan maupun kegiatan konservasi tapir. Pembaruannya memerlukan evaluasi, penggabungan data terbaru, serta pemetaan perubahan habitat dan ancaman. Pemerintah juga menyatakan akan memperkuat keseragaman metode dan konsolidasi data lintas lanskap.

Langkah ini penting agar hasil pengamatan di satu kawasan tidak dianggap mewakili seluruh Sumatera. Dengan informasi yang lebih lengkap, kebutuhan perlindungan tapir dapat dipetakan secara lebih tepat, termasuk menjaga hutan yang tersisa dan jalur penghubung tempat satwa ini mencari makan serta berpindah.

Foto utama: Seekor tapir Sumatera atau tapir Malaya. Foto: Rhett A. Butler/Mongabay.

Asap Ganggu Navigasi, Tekanan Nyata Karhutla bagi Lebah

Editor 29 Okt 2026

Di balik pelat logam keropos sebuah alat berat, koloni lebah madu timur membangun sarang berlapis-lapis. Tempat tinggal itu berada di lahan semak belukar Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Menurut Fauzan, warga setempat, lebah sebelumnya menghuni pepohonan sekitar 50 meter dari lokasi tersebut. Tiga bulan terakhir, mereka berpindah ke bangkai mesin yang penuh karat. Di tengah kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan panjang, perpindahan ini memunculkan dugaan bahwa lebah sedang mencari perlindungan setelah lingkungan tempat hidupnya terganggu.

Husni Naparin dan Ismu, pemburu madu liar dari Madu Hutan Kaum, menemukan koloni itu setelah mengikuti arah terbang lebah. Ketika penutup rantai dibuka sedikit, terlihat sarang yang menyimpan banyak madu. Namun, keduanya memilih membiarkannya.

“Kami putuskan tidak memanen. Kita kembalikan lagi kap (rantai) yang terbuka sekira mereka dapat berlindung sehingga koloni yang tersisa dapat memperbanyak diri saat musim hujan nanti.” Naparin menduga panas, asap, dan berkurangnya pakan mendorong perpindahan tersebut. Ia juga menemukan sarang kosong, rusak, serta lebah mati di sejumlah lokasi.

Karhutla dapat memengaruhi lebah melalui beberapa jalur sekaligus.

Ramadhani Eka Putra, entomolog Institut Teknologi Bandung, menjelaskan bahwa kebakaran merusak sarang dan tumbuhan berbunga yang menyediakan makanan.

Suhu tinggi dapat menyebabkan kematian, sementara partikel asap berpotensi mencemari cadangan madu. Asap tebal juga dapat mengganggu navigasi karena lebah memanfaatkan pola cahaya terpolarisasi di langit sebagai petunjuk arah. Ketika rumah dan sumber makanan menghilang, koloni terdorong mencari lokasi lain. Meski demikian, penyebab perpindahan koloni di bangkai alat berat tersebut masih berupa dugaan berdasarkan pengamatan lapangan.

Dampaknya dapat menjalar ke tumbuhan dan pangan manusia. Trisnu Satriadi, peneliti lebah dari Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, mengingatkan pentingnya lebah sebagai penyerbuk. “Salah satu fungsi lebah adalah sebagai polinator, yaitu membantu penyerbukan bunga tanaman. Sehingga apabila tidak ada lebah, proses polinasi akan terjadi dengan lebih lambat,” katanya.

Pada tanaman yang bergantung pada serangga penyerbuk, berkurangnya kunjungan lebah berpotensi menurunkan keberhasilan pembentukan buah dan biji. Jika penurunan populasi berlangsung luas, produksi tanaman pangan, buah-buahan, dan komoditas perkebunan yang membutuhkan penyerbuk dapat ikut terganggu.

Tekanan terhadap habitat belum segera berakhir. Catatan BPBD Kalsel menunjukkan 4.926 kejadian karhutla sepanjang 1 Januari-14 Oktober 2026. Sementara itu, pembaruan BMKG pada 10 Oktober mencatat sejumlah wilayah mengalami lebih dari 100 hari tanpa hujan.

Bagi lebah, berpindah tempat merupakan respons terhadap gangguan habitat dan hilangnya pakan, tetapi tidak menjamin koloni akan kembali. Menurut Trisnu, kepulangan mereka bergantung pada pulihnya lingkungan. Pepohonan, bunga, dan sumber air perlu kembali tersedia agar kawasan yang terbakar dapat menopang kehidupan lebah, sekaligus aktivitas penyerbukan yang dibutuhkan tumbuhan di sekitarnya.

Foto utama: Koloni lebah madu timur (Apis cerana) bersarang di bangkai alat berat yang berkarat. Foto: Rendy Tisna/Mongabay Indonesia.

Pepohonan dan Genangan Air yang Menopang Kehidupan Katak Harlequin di Hutan Sumatera

Editor 28 Okt 2026

Kilatan kuning di sisi tubuhnya tampak mencolok ketika terkena cahaya, berpadu dengan punggung cokelat kemerahan. Namun, menemukan katak pohon Harlequin di hutan bukan perkara mudah. Hewan bernama ilmiah Rhacophorus pardalis ini lebih banyak berada di pepohonan dan aktif pada malam hari. Perjumpaannya di Cagar Alam Jantho, Aceh Besar, Aceh, memperlihatkan salah satu penghuni kecil hutan Sumatera yang kerap luput dari perhatian.

Di balik penampilannya, kehidupan katak ini ditopang hubungan erat antara pepohonan, kelembapan, dan genangan air.

Mistar, ahli amfibi dan reptil dari Yayasan Ekosistem Lestari, menjelaskan bahwa katak Harlequin tersebar cukup luas di Sumatera, meskipun relatif jarang dijumpai. Tubuh jantannya memiliki panjang sekitar 4-5,5 sentimeter, diukur dari ujung moncong hingga kloaka. Sisi tubuhnya kekuningan dengan bintik gelap, sementara bagian bawah tubuh dan paha dapat memperlihatkan warna jingga hingga kemerahan.

Kaki belakang yang panjang membantu katak melompat, sedangkan selaput di antara jari memperluas permukaan saat bergerak di udara. Pada sejumlah anggota genus Rhacophorus, selaput tersebut membantu memperlambat penurunan dan mengarahkan gerakan ketika meluncur di antara pepohonan.

Sebutan katak pohon ternyata tidak berarti seluruh kehidupannya berlangsung jauh dari air. Amir Hamidy, pakar herpetologi BRIN, menjelaskan bahwa katak Harlequin tetap membutuhkan genangan untuk berkembang biak.

“Meskipun hidup di pohon, namun untuk bertelur, ia membutuhkan genangan air dan akan bertahan satu atau dua hari.”

Pada sejumlah spesies Rhacophorus, telur diletakkan dalam sarang berbusa yang melekat pada vegetasi di atas air. Setelah menetas, berudu jatuh ke genangan dan melanjutkan perkembangannya hingga bermetamorfosis menjadi katak muda. Dengan demikian, pepohonan dan perairan kecil saling melengkapi kebutuhan hidup kelompok amfibi ini.

Ketergantungan tersebut membuat perubahan hutan dapat mengganggu beberapa bagian kehidupannya sekaligus.

“Bila hutan rusak, kehidupannya sangat terganggu. Penebangan pohon dan perubahan tutupan hutan dapat menghilangkan tempat katak berlindung, berpindah, maupun berkembang biak,” kata Amir.

Habitat yang sesuai juga memerlukan kelembapan dan kondisi air yang mendukung. Genangan itu tidak selalu berupa kolam permanen atau sungai besar; cekungan penampung air hujan pun dapat dimanfaatkan amfibi tertentu. Karena itu, menjaga pohon saja belum tentu cukup apabila lingkungan di sekitarnya berubah dan kehilangan tempat berkembang biak.

Meski jarang terlihat, frekuensi perjumpaan yang rendah tidak otomatis menunjukkan populasinya sedikit. Waktu pengamatan, perilaku, kondisi habitat, dan intensitas survei turut menentukan peluang menemukannya.

Katak Harlequin mengingatkan bahwa hutan Sumatera menyediakan ruang hidup bagi satwa dengan kebutuhan yang beragam, dari mamalia besar hingga amfibi kecil di antara daun dan ranting. Sebagai pemangsa hewan kecil sekaligus makanan bagi satwa lain, katak menjadi bagian dari jaring-jaring makanan. Kelangsungan hidupnya bergantung pada terjaganya hubungan antara pepohonan, genangan air, dan kehidupan lain di hutan.

Foto utama: Jenis ini tidak mudah dilihat karena aktif malam hari dan berada di pohon. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Dari 707 Jam Rekaman, Suara Dugong Makin Terdengar Saat Malam

Editor 28 Okt 2026

Ketika malam turun dan pengamatan dengan mata semakin sulit, suara membuka cara lain untuk menemukan dugong. Di perairan Sangihe, Sulawesi Utara, peneliti memasang perekam bawah air untuk menangkap panggilan mamalia pemakan lamun tersebut.

Dari 707 jam rekaman, mereka mengidentifikasi 117 panggilan yang terbagi menjadi lima jenis vokalisasi. Temuan ini memperlihatkan bahwa kehidupan dugong dapat ditelusuri melalui suara, termasuk saat air keruh atau hewan berada di luar jangkauan pandangan pengamat.

Penelitian oleh Yapeka bersama sejumlah lembaga itu menggunakan Passive Acoustic Monitoring (PAM), atau pemantauan akustik pasif. Alat bernama Hydromoth ditempatkan di perairan Desa Batuwingkung dan Desa Likuang pada kedalaman sekitar 2-3 meter atau lebih. Kedua lokasi memiliki padang lamun seluas sekitar 1.652 hektar dengan 11 spesies lamun dan dikenal sebagai lokasi keberadaan dugong.

Hasil analisis mencatat 45 panggilan chirps, dua squeaks, empat pre thrills, 47 thrills, serta 19 barks. Pengelompokan ini membantu peneliti mengenali keragaman suara yang muncul selama perekaman. Namun, mengenali bentuk suara belum berarti seluruh maknanya sudah dipahami.

Bella Riskyta Arinda, periset dugong dari Yapeka, menjelaskan bahwa vokalisasi tertentu dikaitkan dengan perilaku hewan. “Suara-suara ini berhubungan dengan pola perilaku tertentu dari dugong, misalkan barks diasosiasikan dengan warning atau merasa terancam,” katanya.

Suara lain diduga berkaitan dengan interaksi sosial, termasuk bermain atau pemisahan induk dan anak. Dalam rekaman tersebut, panggilan mulai terdeteksi pada sore hari, kemudian aktivitas vokal meningkat dan mencapai puncak pada malam hari. Temuan ini menunjukkan manfaat pemantauan suara untuk melengkapi survei visual.

Memahami keberadaan dan perilaku dugong juga membantu peneliti menelusuri hubungannya dengan padang lamun. Sekar Mira, peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN, menjelaskan bahwa aktivitas makan, ekskresi, dan interaksi dugong dengan lamun mempengaruhi aliran karbon di ekosistem pesisir.

Lamun merupakan bagian dari ekosistem karbon biru, yakni penyimpanan karbon di wilayah pesisir dan laut. Penelitiannya menunjukkan bahwa interaksi tersebut berpotensi mempengaruhi dekomposisi serta penyimpanan karbon dalam sedimen.

“Peran dugong dalam ekosistem laut tidak hanya sebagai pemakan lamun, tapi juga sebagai penggerak proses ekologi yang lebih luas. Termasuk, dalam mitigasi perubahan iklim,” jelasnya.

Hubungan itu membuat perlindungan dugong erat dengan kelestarian habitatnya. Berkurangnya padang lamun mengancam ketersediaan makanan sekaligus ruang hidup mamalia tersebut. Bella menyebut dugong sebagai “insinyur di padang lamun” karena aktivitasnya membantu membentuk kondisi ekosistem. Pemantauan akustik memberi tambahan informasi tentang kapan dugong hadir dan aktif bersuara, yang dapat mendukung upaya konservasi.

Dengan menggabungkan rekaman suara dan pengamatan lain, peneliti memiliki peluang lebih besar memahami kehidupan dugong serta kaitannya dengan padang lamun yang juga menopang ikan dan penghidupan nelayan sekitar.

Foto utama: Dugong yang berperan penting menjaga ekosistem laut. Foto: Pixabay/dietmaha/Public Domain.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.