Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Menjelajah Lebih dari 1.800 Kilometer, Pari Manta Raksasa Dewasa Tetap Pulang ke Terumbu yang Sama

Akhyari Hananto 23 Okt 2026
Cerita fitur

Warga Khawatir Sulit Air dan Terdampak Pasca Penetapan Zonasi Taman Nasional Gunung Mutis

Bapthista Mario Yosryandi Sara* 23 Okt 2026

Indonesia Kejar Pembiayaan Keanekaragaman Hayati di COP17? Koalisi Ingatkan Benahi Tata Kelola

Muhibar Sobary Ardan 23 Okt 2026
Cerita fitur

Menyelisik Dana Karbon Kalimantan Timur

Yuda Almerio 22 Okt 2026

Apa Dampak Jangka Panjang Kebakaran Hutan pada Siamang?

Nopri Ismi 22 Okt 2026

Opini: BNPB Perlu Hitung Perubahan Lanskap dalam Kajian Risiko Bencana

Yogi Setya Permana* 22 Okt 2026
Semua berita

Berita utama

Lodya Oematan (kaos putih) dan Nordi Bai sedang menyiram tanaman-tanman stroberi di kebun milik Lodya di Desa Fatumnasi, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Foto: Mario Sara/Mongabay Indonesia

Warga Khawatir Sulit Air dan Terdampak Pasca Penetapan Zonasi Taman Nasional Gunung Mutis

Menyelisik Dana Karbon Kalimantan Timur

Yuda Almerio 22 Okt 2026

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Bagaimana Nasib Rakyat dan Lingkungan?

Irfan Maulana 21 Okt 2026

Nasib Nelayan Kecil, Penyedia Pangan tetapi Minim Perlindungan

Luh De Suriyani 21 Okt 2026

Berbagai Kalangan Desak Kabut Asap dan Karhutla jadi Bencana Nasional

Irfan Maulana 21 Okt 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Kupu-kupu: Mata Rantai yang Rapuh

Mustahil tapi Nyata: Kupu-kupu Ini Terbang 4.200 Km melintasi Samudera Atlantik Tanpa Berhenti

Akhyari Hananto 25 Apr 2026

Andai Kupu-kupu Hilang, Apa Dampaknya pada Lingkungan?

Falahi Mubarok 22 Jul 2025

Hubungan Unik Kupu-kupu dan Ikan Balur di Sungai Musi

Nopri Ismi 26 Jun 2025

Kupu-kupu Raja, Kisah Ketangguhan Serangga Paling Ikonik di Dunia

Nuswantoro 16 Nov 2024

Kupu-kupu menyerbuki tumbuhan, menjadi bagian dari rantai makanan, dan kondisinya sering mencerminkan kesehatan lingkungan tempat ia hidup. Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan mengancam kehidupannya di alam, sementara industri ekstraktif menggerus habitat kupu-kupu di Kalimantan Timur. Spesies endemik seperti kupu-kupu barong di Bali hanya ada di satu wilayah, sehingga perlindungannya tidak bisa ditunda. Bila kupu-kupu hilang, […]

Kupu-kupu: Mata Rantai yang Rapuh series

Lebih spesial

9 cerita

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan

9 cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Ada Udang Purba Yang Hidup Dalam Gelapnya Gua

Akita Verselita 14 Okt 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Benarkah Garam dan Tanaman Tertentu Bisa Mengusir Ular?

Editor 23 Okt 2026

Menaburkan garam di halaman sering dianggap cara sederhana untuk mencegah ular masuk rumah. Tanaman tertentu pun mendapat reputasi sebagai pengundang atau pengusir reptil ini. 

Namun, menurut Amir Hamidy, herpetolog BRIN, kehadiran ular lebih berkaitan dengan tempat berlindung dan ketersediaan mangsa. Pekarangan yang menyediakan persembunyian bagi tikus, burung, atau hewan kecil lain dapat menjadi lokasi berburu. Karena itu, memahami kondisi lingkungan lebih berguna daripada mengandalkan anggapan tentang aroma tanaman atau bahan yang ditaburkan di sekitar rumah.

“Sebenarnya tanaman itu bukan secara spesifik mengundang ular, tapi memberi ruang untuk ular berlindung,” kata Amir. Anggrek, serai, melati, bambu, dan mint termasuk tanaman yang kerap dikaitkan dengan kehadiran ular, tetapi Amir menyebut belum ada bukti ilmiah bahwa tanaman tersebut mengundangnya. Aroma bunga bukanlah senyawa pemikat ular. 

Berbeda dengan feromon yang dikeluarkan sesama jenis saat musim kawin, bau tumbuhan tidak memberikan daya tarik serupa. Ular dapat memilih vegetasi karena cocok untuk bersembunyi, menyamarkan tubuh, atau menyediakan makanan.

Sebagai satwa yang cenderung menghindari keterpaparan, ular membutuhkan perlindungan dari lingkungan sekitar. Warna tubuh membantu mereka menyatu dengan tempat tinggalnya, seperti ular hijau di antara dedaunan. Hubungan dengan tanaman juga dapat terjadi melalui mangsa. 

“Kalau tumbuhan menyediakan shelter untuk tikus, bajing, serangga, atau burung yang jadi mangsa ular, ya wajar kalau ular datang,” ujar Amir. 

Sampah makanan yang menarik tikus, misalnya, dapat diikuti kedatangan ular. Kehadiran reptil tersebut merupakan bagian dari hubungan pemangsa dan mangsa yang berlangsung di sekitar permukiman.

Bagaimana dengan garam? Amir menjelaskan bahwa tubuh ular dilindungi sisik, sehingga menaburkan garam bukan cara efektif untuk mengusirnya. “Garam, ijuk, segala macam itu tidak berguna untuk mengusir ular,” katanya.

Dia lebih menyarankan menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan tempat sampah tertutup. Tumpukan kardus, batu, serta barang tidak terpakai juga perlu dibereskan agar tidak menyediakan ruang persembunyian. Upaya tersebut berfokus pada kondisi yang memungkinkan ular dan mangsanya menetap, sehingga tidak bergantung pada bahan yang dipercaya dapat membuat ular menjauh.

Jika berjumpa ular, Amir menyarankan menghindar dan tidak membunuhnya. Ketakutan serta kesulitan mengenali jenis sering membuat semua ular diperlakukan sebagai ancaman yang sama. Padahal, ular memiliki peran penting dalam mengendalikan tikus, yang dapat menjadi hama dan pembawa penyakit. 

“Tidak perlu dibunuh. Orang membunuh semua ular karena takut dan kurang paham identifikasi,” ujarnya. Mengurangi perjumpaan dengan ular dimulai dari memahami kebutuhannya: makanan, perlindungan, dan tempat berkembang biak.

Foto utama: Ular kobra bisa beradaptasi dengan baik pada habitatnya dan sering terlihat di permukiman warga. Foto: Pixabay/beatebasenau/Free to use.

Berkedok Makanan Ringan, 1.728 Kuda Laut Kering Diamankan di Kepulauan Riau

Editor 22 Okt 2026

Label makanan ringan pada sebuah kardus ternyata menyembunyikan 1.728 kuda laut kering. Paket yang hendak dikirim ke Kendari itu dihentikan petugas Bandara Raja Haji Fisabilillah bersama Karantina Kepulauan Riau pada 10 Oktober 2026. Kecurigaan muncul setelah pemeriksaan sinar-X memperlihatkan isi yang tidak sesuai. Ketika kardus dibuka, petugas menemukan ribuan satwa laut dalam kondisi kering.

“Modus yang digunakan adalah mengelabui petugas dengan memberikan keterangan makanan ringan,” kata Hasim, Kepala Karantina Kepri. Perwakilan ekspedisi tidak dapat menunjukkan dokumen persyaratan, sehingga pengiriman tidak dilanjutkan.

Identifikasi bersama Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pekanbaru menemukan tiga jenis dalam paket tersebut. Jumlah terbesar adalah Hippocampus kuda, sebanyak 1.263 individu, disusul Hippocampus spinosissimus sebanyak 452 individu dan Hippocampus comes sebanyak 13 individu.

Ukurannya berkisar 11-19 sentimeter. Seluruhnya diserahkan kepada instansi pengelolaan sumber daya pesisir dan pengawasan perikanan untuk penanganan lebih lanjut. Pihak pengirim serta penerima masih ditelusuri. Hasim mengingatkan bahwa pengiriman satwa dan produk turunannya harus memenuhi ketentuan karantina maupun persyaratan konservasi, sementara perusahaan ekspedisi perlu memastikan kesesuaian isi paket dan dokumennya.

Kasus tersebut memperlihatkan jalur pengiriman kuda laut kering yang membutuhkan pengawasan. Dalam gambaran perdagangan yang lebih luas, IUCN menyebut kuda laut diperjualbelikan hidup untuk akuarium maupun dikeringkan untuk pengobatan tradisional dan cenderamata. Perdagangan kering mendominasi pasar global, sedangkan jalur tidak resmi masih berlangsung.

Penilaian IUCN terhadap Hippocampus trimaculatus, spesies berbeda dari tiga jenis yang disita, memperkirakan penurunan populasi sebesar 50–79 persen dalam tiga generasi terakhir. Tekanannya mencakup penangkapan berlebihan, tangkapan sampingan, serta kerusakan habitat akibat pengerukan dan praktik penangkapan yang merusak.

Pengawasan jalur keluar Kepulauan Riau juga mengungkap kasus terpisah berupa penyelundupan bubuk emas. Bea Cukai Batam menyita 43 bungkus dengan berat bruto sekitar 11,31 kilogram dari delapan penumpang tujuan Singapura pada 22 dan 24 September 2026. Barang disembunyikan dalam tas dan pakaian melalui Pelabuhan Batam Centre serta Harbour Bay. Pemeriksaan awal terhadap seorang penumpang menemukan tujuh bungkusan, kemudian pengembangan melalui analisis risiko mengungkap 36 bungkusan lain dari tujuh penumpang. Pengujian menemukan kandungan emas dengan kadar mencapai 99,530 persen.

“Total nilai barang diperkirakan mencapai Rp29,23 miliar, dengan estimasi kerugian negara yang berhasil diamankan Rp3,65 miliar,” kata Mujiono dari Bea Cukai Batam. Asal-usul emas masih ditelusuri. Meski komoditas dan jalurnya berbeda, kedua pengungkapan menunjukkan pentingnya pemeriksaan isi barang, dokumen, serta pola pengiriman. Untuk kuda laut, pengawasan perdagangan perlu disertai penelitian populasi, pemantauan habitat, dan pengaturan penangkapan sebagaimana ditekankan IUCN.

Foto utama: Kuda laut dengan berbagai jenis dan ukuran. Foto: BRIN.

Ketika Mangrove Menyusut, ke Mana Kucing Bakau Pergi?

Editor 22 Okt 2026

Di antara akar mangrove dan tanah berlumpur, seekor kucing berburu di lingkungan yang dipenuhi air. Tubuhnya sebesar anjing kecil, bulunya kuning keabu-abuan dengan bercak hitam, sementara kakinya memiliki selaput sebagian. Kucing bakau, Prionailurus viverrinus, mampu berenang dan menyelam untuk menangkap ikan. Namun, kemampuan tersebut bergantung pada keberadaan lahan basah yang menyediakan makanan serta perlindungan.

Ketika mangrove berganti menjadi tambak, permukiman, atau kawasan industri, pemburu ikan ini kehilangan bagian penting dari ruang hidupnya.

Nama kucing bakau merujuk pada habitatnya yang mencakup mangrove, rawa, dan sungai.

Selaput pada kakinya membantu pergerakan di air serta di permukaan tanah lunak. Penampilannya juga memiliki ciri yang membedakannya dari kerabat lain. “Kucing bakau adalah kucing terbesar di antara jenis-jenis Prionailurus, dengan wajah lonjong bercirikan hidung khas, bagian bawah tubuh putih, dan telinga belakang berwarna hitam dengan totol putih di tengahnya,” tulis Kuncoro dan kolega dari Universitas Negeri Surabaya. Ciri tubuh tersebut menjadi bagian dari penelitian untuk memastikan identitas satwa yang masih minim datanya di Indonesia.

Di hutan mangrove Wonorejo, Surabaya, keberadaan kucing bakau awalnya diduga melalui rekaman kamera jebak. Penelitian yang dipublikasikan pada 2023 kemudian mengonfirmasinya menggunakan identifikasi morfologi dan analisis gen Cytochrome b. Temuan ini memperkuat catatan keberadaan spesies tersebut di Jawa Timur. Wonorejo menjadi lokasi penting karena mempertemukan lingkungan laut, payau, sungai, dan daratan yang mendukung keragaman flora serta fauna. Namun, konfirmasi keberadaan belum menjawab seluruh pertanyaan mengenai jumlah individu dan kondisi populasinya.

Data tersebut tetap diperlukan untuk memahami kebutuhan perlindungan kucing bakau dan habitatnya.

Bagi kucing bakau, mangrove menyediakan tempat berburu ikan, kepiting, dan udang, sekaligus tempat induk menyembunyikan anak dari predator serta gangguan manusia. Kerusakan habitat dengan demikian dapat mengurangi makanan dan perlindungan secara bersamaan. Penangkapan ikan berlebihan juga berpotensi menekan ketersediaan mangsa.

Asesmen IUCN Cat Specialist Group yang dikutip artikel menyoroti kerusakan serta fragmentasi lahan basah sebagai pendorong utama penurunan populasi kucing bakau di wilayah sebarannya. Habitat yang terpecah membuat perlindungan tidak cukup hanya mempertahankan satu petak mangrove tanpa memperhatikan lingkungan di sekitarnya.

Hubungan erat dengan mangsa dan habitat membuat kucing bakau relevan dalam pemantauan ekosistem lahan basah. Namun, penilaian kesehatan mangrove perlu melihat keragaman fauna secara lebih luas. “Keanekaragaman dan kelimpahan fauna yang hidup di kawasan hutan mangrove dapat dijadikan indikator untuk menilai tingkat kesehatan ekosistem tersebut,” tulis peneliti dalam kajian.

Foto utama: Kucing bakau yang disebut juga fishing cat karena kemampuan hebatnya berburu mangsa di lahan basah. Foto: Rhett A. Butler/Mongabay.

Novita Selamat dari Kobaran Api, tapi Kehilangan Empat Ruas Jari Kaki

Editor 21 Okt 2026

Di atas pohon sengon, Novita bertahan ketika hutan tempatnya mencari makan dan berlindung telah terbakar. Orangutan kalimantan betina berusia sekitar lima tahun itu ditemukan di kawasan Katune, Banturung, Palangka Raya, pada 25 September 2026.

Tim gabungan BKSDA, Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, dan TNI membutuhkan dua hari untuk mengevakuasinya. Namun, keberhasilan membawa Novita keluar dari lokasi belum mengakhiri penderitaannya. Luka bakar merusak jaringan tubuhnya, hingga dokter hewan memutuskan mengamputasi empat ruas jari kakinya.

“Sebelum kami mencapainya, ia harus berjalan melewati api untuk mencapai pohon dan memanjatnya, sehingga telapak kaki dan jari-jarinya terbakar,” kata Jamartin Sihite, Ketua Yayasan BOS.

Cedera tersebut berpotensi mempengaruhi kemampuan Novita bergerak, memanjat, mencari makanan, dan bertahan hidup di hutan. Pemulihannya memerlukan perhatian berkelanjutan. Untuk mendukung perawatan, Yayasan BOS meluncurkan penggalangan dana “Beri Novita Kesempatan Kedua” pada 10 Oktober,dengan target US$20.000.. Hinga 17 Oktober malam, dana yang terkumpul mencapai US$3.427.

Novita bukan satu-satunya orangutan yang kehilangan tempat aman akibat kebakaran. Di Kalimantan Barat, BKSDA bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) telah menyelamatkan 46 individu. Delapan yang dinyatakan sehat mulai dipindahkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu, Ketapang, pada 9 Oktober. Pemilihan lokasi mempertimbangkan pakan, air, ruang jelajah, dan keterhubungan hutan.

“Upaya penyelamatan satwa liar tidak berhenti pada penyelamatan dan translokasi. Keduanya merupakan bagian dari strategi konservasi yang lebih luas,” kata Murlan Dameria Pane, Kepala BKSDA Kalimantan Barat.

Skala ancaman terlihat dalam analisis Geopix. Sepanjang 1 Juni-12 Oktober 2026, organisasi tersebut mencatat 572.261 titik panas di Kalimantan, dengan 440.010 atau sekitar 76,89 persen berada di habitat orangutan.

Kalimantan Tengah mencatat jumlah tertinggi, disusul Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Titik panas merupakan bagian dari data pemantauan yang digunakan bersama citra satelit dan peta untuk menilai kondisi kawasan. Analisis Geopix juga menyoroti dampak kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting dan Sebangau, termasuk ancaman terhadap hutan gambut yang menopang kehidupan orangutan.

Ketika hutan terbakar, orangutan menghadapi lebih dari luka fisik. Pohon pakan dapat musnah, jalur jelajah terputus, dan satwa terdorong keluar kawasan untuk mencari makanan atau perlindungan, sehingga risiko konflik dengan manusia meningkat.

“Kita sedang menghadapi ancaman serius terhadap keberlangsungan populasi orangutan dan masa depan ekologis Kalimantan,” kata Annisa Rahmawati, pengampanye senior satwa liar Geopix. Organisasi tersebut mendesak penetapan status darurat konservasi orangutan kalimantan serta rencana penyelamatan dengan target, anggaran, tanggung jawab, dan evaluasi yang jelas.

Bagi Novita dan orangutan lain yang dievakuasi, perawatan merupakan langkah awal; kelangsungan hidup mereka juga memerlukan habitat yang aman dan mampu menyediakan kebutuhan hidupnya.

Foto utama: Novita, orangutan berusia sekitar 5 tahun bertahan di pohon, akibat habitatnya terbakar. Foto: Dok. BOSF.

Cara Warga Ende Panen Gurita yang Melimpah

Putri Nurazizah* 21 Okt 2026

Nelayan Maurongga, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur menggantungkan nasibnya pada laut. Saat cuaca tak baik, mereka tak bisa melaut. Padahal, gurita menjadi salah satu tangkapan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan hanya bisa mereka tangkap saat melaut. Meski begitu, biasanya mereka akan beralih mencari penghasilan dari pesisir.

Imran Tabri, nelayan Desa Maurongga menatap gelombang yang semakin tinggi. Kondisinya membuatnya berhenti melaut. Air laut yang keruh membuatnya kesulitan untuk memancing gurita. Desa Maurongga memiliki potensi laut yang menjanjikan, khususnya pada sektor gurita.

Data Tananua Flores menunjukkan total perikanan tangkap Maurongga pada 2025 mencapai 1.096 dari tujuh jenis tangkapan. Gurita menjadi peringkat pertama dengan 479,8 kg yaitu senilai Rp16.074.000. Saat itu belum ada nelayan yang memancing gurita, melihat potensi gurita yang tinggi, akhirnya Imran mulai bergerak untuk memanfaatkan potensi tersebut dengan mulai memancing gurita.

Seiring berjalannya waktu, sejumlah nelayan gurita bertambah menjadi 7 orang setelah mendapat pendampingan dari Yayasan Tananua. Bagi mereka, menangkap gurita bukan hanya soal mendapat hasil sebanyak-banyaknya. Laut yang menjadi sumber kehidupan juga perlu dikelola dengan baik, walaupun sulit terlepas dari berbagai  ancaman. 

“Tahun 2022,  kami dibantu perahu ukuran 1 GT oleh pemerintah Kabupaten Ende sebanyak tujuh unit. Tahun kemarin kami dapat lagi delapan unit. Saya jadi dikenal dan nelayan kami dapat bantuan berkat pemberitaan tentang gurita,” katanya.

Namun, masih banyak nelayan yang menangkap ikan dengan cara merusak, seperti racun hingga bom. “Jadi, kami terkadang harus berhadapan dengan nelayan-nelayan dari luar daerah kami yang sering menangkap ikan menggunakan bom dan potasium,” ujar Muhammad Nuhu, anggota LMMA Embo Angi.

Padahal, nelayan di Maurongga telah menjaga laut dengan menerapkan sistem praktik buka tutup kawasan. Upaya yang dilakukan kerap membuahkan hasil, menurut Imran, sejak penerapan sistem buka tutup area tangkap, berat gurita hasil tangkapan nelayan meningkat. 

“Satu bagian ditutup selama tiga bulan dan satunya dibuka.Dibuat bergantian agar ada wilayah untuk nelayan beraktivitas mencari gurita,” ujar Imran.

Bernadus Sambut, Ketua Pengurus Yayasan Tananua Flores katakan, mereka membekali nelayan mereka untuk konsisten dalam menjaga ekosistem laut, tak hanya tentang larangan penggunaan alat tangkap tak ramah, tetapi juga mengedukasi mereka terkait dampak sampah bagi lautan. 

Foto utama: Aswan nelayan gurita Kodim Ocotpus Desa Kotodirumali, Nagekeo menangkap gurita di dasar laut dengan menyelam dan gunakan peralatan tradisional. Foto : Mia Margaretha Holo/Mongabay Indonesia.

Leluhur Kelelawar Diduga Berasal dari Eropa, Bagaimana Mencapai Indonesia?

Editor 21 Okt 2026

Kelelawar yang terbang di antara pepohonan Indonesia menyimpan sejarah perjalanan evolusi lintas benua. Dari mana nenek moyangnya berasal?

Pertanyaan ini lama diperdebatkan karena fosil yang terbatas dan petunjuk molekuler yang tidak selalu sejalan. Afrika dan Amerika Utara pernah menjadi wilayah yang diduga sebagai tempat asalnya. Namun, penelitian konsorsium internasional Bat1K menawarkan gambaran berbeda: nenek moyang kelelawar modern kemungkinan besar berasal dari Eropa, kemudian keturunannya menyebar hingga mencapai Asia Tenggara, Oseania, dan Australia.

Penelitian Ariadna E. Morales dan kolega dalam jurnal Nature menggabungkan genom 103 spesies yang mewakili seluruh 21 famili kelelawar hidup dengan data 44 fosil. Analisis tersebut menghasilkan dukungan statistik sebesar 99,2 persen untuk Eropa sebagai wilayah asal nenek moyang kelelawar modern.

“Kelelawar, dan dengan demikian terbang bertenaga, kemungkinan besar berasal dari Eropa pada akhir Paleosen,” tulis para peneliti. Dari Eropa, garis keturunannya menyebar ke Afrika, lalu berkembang menuju benua lain. Kondisi iklim hangat sekitar 56 juta tahun lalu turut dikaitkan dengan perluasan wilayah dan keragaman kelompok ini.

Salah satu jalur penyebaran membawa kelompok Yinpterochiroptera dari Afrika menuju Asia. Perjalanannya berlanjut melalui jembatan darat dan gugusan kepulauan Asia Tenggara hingga Oseania serta Australia. Kelelawar pemakan buah dan kelelawar tapal kuda yang kini ditemukan di Indonesia merupakan bagian dari sejarah ekspansi tersebut.

Penelitian juga memberikan petunjuk tentang perkembangan kemampuan navigasi. Penempatan fosil Vielasia dalam kelompok kelelawar purba menunjukkan bahwa ekolokasi laring telah berkembang sebelum kelompok modern beragam. Temuan ini mengindikasikan hubungan antara kemampuan terbang dan ekolokasi sejak awal perjalanan evolusinya.

Di Indonesia, sejarah panjang itu tercermin dalam keragaman kelelawar yang tinggi. Studi Ramadhana dan kolega menyebut 239 spesies, terdiri atas 158 pemakan serangga dan 81 pemakan tumbuhan. Sulawesi menjadi pusat endemisme penting, dengan sekitar 72 spesies tercatat dan 18 di antaranya endemik. Dalam survei di Bualemo, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, tim menjaring 474 individu dari 23 spesies selama 31 malam pada Juni-Juli 2024. Pengamatan mencakup hutan sekunder, perkebunan, dan sungai, memperlihatkan pentingnya beragam habitat bagi kehidupan kelelawar.

Keberadaan mereka berkaitan dengan kelangsungan tumbuhan dan keseimbangan ekosistem. Kelelawar membantu penyerbukan, termasuk pada durian, menyebarkan biji untuk regenerasi hutan, serta memangsa serangga yang berpotensi menjadi hama. Namun, manfaat tersebut menghadapi tekanan dari perubahan habitat dan perburuan.

“Kerusakan atau hilangnya tutupan hutan sekunder menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup kelelawar serta perburuan menjadi ancaman utama kelelawar di Sulawesi,” tulis peneliti.

Perlindungan hutan sekunder dan kawasan bervegetasi diperlukan untuk mempertahankan keragaman serta kestabilan populasinya. Perjalanan evolusi lintas benua itu kini berhadapan dengan perubahan lingkungan di habitat tempat keturunannya bertahan hidup.

Foto utama: Kelelawar yang memiliki fungsi ekologis sebagai penyerbuk tanaman (pollinators) yang membantu proses penyerbukan berbagai jenis tumbuhan. Foto: Rhett Butler/Mongabay.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.