Di atas pohon sengon, Novita bertahan ketika hutan tempatnya mencari makan dan berlindung telah terbakar. Orangutan kalimantan betina berusia sekitar lima tahun itu ditemukan di kawasan Katune, Banturung, Palangka Raya, pada 25 September 2026.
Tim gabungan BKSDA, Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, dan TNI membutuhkan dua hari untuk mengevakuasinya. Namun, keberhasilan membawa Novita keluar dari lokasi belum mengakhiri penderitaannya. Luka bakar merusak jaringan tubuhnya, hingga dokter hewan memutuskan mengamputasi empat ruas jari kakinya.
“Sebelum kami mencapainya, ia harus berjalan melewati api untuk mencapai pohon dan memanjatnya, sehingga telapak kaki dan jari-jarinya terbakar,” kata Jamartin Sihite, Ketua Yayasan BOS.
Cedera tersebut berpotensi mempengaruhi kemampuan Novita bergerak, memanjat, mencari makanan, dan bertahan hidup di hutan. Pemulihannya memerlukan perhatian berkelanjutan. Untuk mendukung perawatan, Yayasan BOS meluncurkan penggalangan dana “Beri Novita Kesempatan Kedua” pada 10 Oktober,dengan target US$20.000.. Hinga 17 Oktober malam, dana yang terkumpul mencapai US$3.427.
Novita bukan satu-satunya orangutan yang kehilangan tempat aman akibat kebakaran. Di Kalimantan Barat, BKSDA bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) telah menyelamatkan 46 individu. Delapan yang dinyatakan sehat mulai dipindahkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu, Ketapang, pada 9 Oktober. Pemilihan lokasi mempertimbangkan pakan, air, ruang jelajah, dan keterhubungan hutan.
“Upaya penyelamatan satwa liar tidak berhenti pada penyelamatan dan translokasi. Keduanya merupakan bagian dari strategi konservasi yang lebih luas,” kata Murlan Dameria Pane, Kepala BKSDA Kalimantan Barat.
Skala ancaman terlihat dalam analisis Geopix. Sepanjang 1 Juni-12 Oktober 2026, organisasi tersebut mencatat 572.261 titik panas di Kalimantan, dengan 440.010 atau sekitar 76,89 persen berada di habitat orangutan.
Kalimantan Tengah mencatat jumlah tertinggi, disusul Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Titik panas merupakan bagian dari data pemantauan yang digunakan bersama citra satelit dan peta untuk menilai kondisi kawasan. Analisis Geopix juga menyoroti dampak kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting dan Sebangau, termasuk ancaman terhadap hutan gambut yang menopang kehidupan orangutan.
Ketika hutan terbakar, orangutan menghadapi lebih dari luka fisik. Pohon pakan dapat musnah, jalur jelajah terputus, dan satwa terdorong keluar kawasan untuk mencari makanan atau perlindungan, sehingga risiko konflik dengan manusia meningkat.
“Kita sedang menghadapi ancaman serius terhadap keberlangsungan populasi orangutan dan masa depan ekologis Kalimantan,” kata Annisa Rahmawati, pengampanye senior satwa liar Geopix. Organisasi tersebut mendesak penetapan status darurat konservasi orangutan kalimantan serta rencana penyelamatan dengan target, anggaran, tanggung jawab, dan evaluasi yang jelas.
Bagi Novita dan orangutan lain yang dievakuasi, perawatan merupakan langkah awal; kelangsungan hidup mereka juga memerlukan habitat yang aman dan mampu menyediakan kebutuhan hidupnya.
Foto utama: Novita, orangutan berusia sekitar 5 tahun bertahan di pohon, akibat habitatnya terbakar. Foto: Dok. BOSF.