Ada hutan tersisa di pesisir utara Kabupaten Bekasi yang menjadi habitat bagi lutung jawa. Jika mau ke kawasan konservasi satwa di Desa Pantai Bahagia, Muaragembong, Kabupaten Bekasi, pengunjung harus menggunakan perahu. Jalur darat sudah terputus akibat abrasi. Di tengah hamparan tambak dan sisa mangrove, lutung jawa masih bertahan. Daman, warga setempat, menjadi salah satu masyarakat yang rutin menjaga habitat satwa tersebut.
“Lutung itu pemalu,” kata Daman, warga Kampung Desa Pantai Bahagia yang menjaga wilayah itu.
Sejak 2012, Daman menjadi relawan penjaga kawasan. Setelah mencari kepiting bakau, dia biasa masuk ke hutan untuk memantau lutung jawa. Selain lutung, kawasan tersebut juga menjadi habitat berbagai satwa lain, seperti kera ekor panjang, burung air, kuntul, bangau bluwok, cekakak sungai, hingga blekok sawah.
Namun, habitat lutung jawa terus menyusut. Berdasarkan data pemerintah Kabupaten Bekasi, dari penetapan kawasan hutan lindung yang awalnya mencapai 10.000 hektar, sekitar 2.338,85 hektar daratan hilang akibat abrasi, 1.700 hektar mengalami penggenangan, dan hampir 90% kawasan hutan beralih fungsi menjadi tambak.
Penelitian juga menunjukkan luas mangrove di Muaragembong menyusut 55% dalam empat dekade terakhir. Desa Pantai Bahagia menjadi salah satu wilayah yang mengalami abrasi paling parah. Kondisi ini turut mengancam lutung jawa yang populasinya di kawasan tersebut kini sekitar 70 individu.
Penyusutan mangrove membuat lutung semakin kesulitan mendapatkan pakan dan air. Daman mengatakan lutung jawa menyukai daun jeruju. Saat musim kemarau, air di sekitar muara Sungai Citarum berubah menjadi payau akibat intrusi air laut sehingga lutung harus mendekati permukiman untuk mencari air tawar.
“Saya sempat mikir, kenapa lutung lari ke rumah warga? Ternyata mereka mau minum air tawar,” katanya.
Selain kehilangan habitat, lutung jawa juga menghadapi ancaman perburuan. Sekitar 10 tahun lalu, Daman bahkan menyaksikan seekor lutung ditembak hingga jatuh dari pohon. Namun, menurutnya, kondisi mulai berubah setelah masyarakat membentuk kelompok relawan penjaga habitat dan melakukan sosialisasi mengenai status perlindungan lutung jawa.
“Kalau sekarang sudah enggak seperti dulu. Orang sudah tahu lutung dilindungi.”
Didik Prasetyo dari Perhimpunan Pemerhati Primata Indonesia mengatakan, penyempitan habitat membuat lutung keluar hutan dan mendekati permukiman untuk mencari makanan maupun air tawar. Kondisi tersebut membuat satwa semakin rentan terhadap penyakit dan perburuan.
“Gangguan habitat itu berdampak langsung terhadap dinamika populasi. Ukuran kelompok dapat mengecil, satwa menjadi lebih rentan terserang penyakit, serta lebih mudah diburu karena harus berpindah ke area yang terbuka atau mendekati aktivitas manusia,” katanya.
Di tengah kondisi itu, perlindungan lutung jawa di Muaragembong masih banyak bergantung pada masyarakat. Ahmad Qurtbi, Sekretaris Desa Muaragembong, mengatakan perlindungan tidak cukup hanya dengan menetapkan status kawasan dan melarang perburuan.
“Secara yuridis memang ada perlindungannya. Tapi secara faktual, yang menjaga kawasan ini justru masyarakat sendiri. Kami belum melihat adanya upaya perlindungan yang benar-benar dilakukan pemerintah di lapangan,” katanya.
Pemerintah dan masyarakat telah melakukan rehabilitasi mangrove di sejumlah titik pesisir. Bagi masyarakat, mangrove bukan hanya pelindung pantai dari abrasi, tetapi juga tempat berkembang biak ikan, kepiting bakau, udang, dan burung air. Bagi lutung jawa, hutan mangrove menjadi rumah yang menyediakan pakan, tempat berlindung, sekaligus ruang untuk berpindah.
Foto utama: Lutung jawa sedang bergelantungan di pohon. Dokumentasi: Fattreza Ihsan/ YIARI