Kupu-kupu menyerbuki tumbuhan, menjadi bagian dari rantai makanan, dan kondisinya sering mencerminkan kesehatan lingkungan tempat ia hidup. Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan mengancam kehidupannya di alam, sementara industri ekstraktif menggerus habitat kupu-kupu di Kalimantan Timur. Spesies endemik seperti kupu-kupu barong di Bali hanya ada di satu wilayah, sehingga perlindungannya tidak bisa ditunda. Bila kupu-kupu hilang, […]
Kakao di Tengah Pusaran El Nino: Pohon Masih Hidup, Panen Belum Tentu
Editor1 Nov 2026
Ember demi ember air dibawa Wayan Merte mengelilingi kebun kakaonya di Dusun Pawang, Desa Gunjan Asri, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Di bawah terik September, dia menyirami pohon satu per satu sambil membersihkan buah yang menghitam. Kebun seluas 50 are itu dahulu menjadi tumpuan penghasilan. Kini, menjaga pohon tetap hidup pun membutuhkan tenaga tambahan, tanpa kepastian buahnya bisa dipanen.
“Sekarang ini susah, gagal kita panen,” katanya.
Selama empat tahun terakhir, Merte dan sejumlah petani di desanya menghadapi hasil kebun yang terus merosot, harga jual rendah, serta cuaca yang semakin panas.
Sebelum 2022, Merte mengaku mampu memanen sekitar 1-1,5 kuintal kakao dalam sekali panen, dengan frekuensi hingga enam kali setahun. Kondisi sekarang mendorongnya menanam mangga dan kelapa di sela kakao.
“Ndak bisa hanya ngandalin cokelat sekarang, jadi kami campur dengan mangga sama kelapa. Tumpang sari,” ujarnya.
Petani lain, Gede Juandra, mengalami penurunan hasil panen hingga 60% dibandingkan rata-rata sebelumnya. Dia menduga kemarau panjang mengganggu pembuahan. Buah yang terbentuk pun sebagian terserang jamur. Menurutnya, hujan tidak turun sejak Mei, memperberat keterbatasan air yang sudah lama dihadapi wilayah tersebut.
Kesulitan petani tidak langsung terlihat dari angka produksi tingkat provinsi. Data Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB mencatat produksi kakao meningkat dari 2.566 ton pada 2020 menjadi 2.717 ton pada 2025. Namun, luas lahannya juga bertambah, dari 4.733 hektar menjadi 5.006 hektar.
Indriyatno, akademisi Fakultas Pertanian Universitas Mataram, menilai kenaikan tersebut belum menunjukkan perbaikan hasil kebun. “Jadi sebenarnya, hasil panennya tidak membaik, hanya karena luas lahannya saja yang bertambah.” Di Lombok Utara, yang merupakan penghasil kakao terbesar di NTB, produksi justru tercatat turun 100 ton sepanjang 2020–2024.
Ketersediaan air menjadi persoalan penting karena banyak lahan di Lombok Utara bergantung pada hujan. Menurut Fauzal dari BPBD Lombok Utara, sebagian wilayah memiliki formasi batuan dengan kemampuan menyimpan air yang rendah. Ketika kemarau memanjang, cadangan air semakin terbatas. BMKG Stasiun Klimatologi NTB mencatat curah hujan Juli 2026 hanya sekitar 21-50 milimeter per bulan. BPBD kemudian menetapkan status siaga kekeringan sejak awal Agustus.
Bagi kakao, kekurangan air dapat mengganggu pembungaan, pembentukan buah muda, dan perkembangan biji.
“Pohon yang masih tampak hidup pun belum tentu menghasilkan panen yang baik,” jelas Fauzal.
Ancaman El Nino memperpanjang ketidakpastian tersebut. M. Zaldi Rahman, Kepala BPBD Lombok Utara, menyebut fenomena ini berpotensi memperpanjang kemarau dan menunda musim hujan 2026–2027. Bagi petani, dampaknya terasa sebagai tambahan pekerjaan, biaya penyiraman, dan penghasilan yang semakin sulit dipastikan.
Diversifikasi tanaman menjadi pilihan untuk mengurangi ketergantungan pada kakao, tetapi membutuhkan modal baru. Merte menghadapi keputusan itu sambil terus merawat kebunnya.
“Kalau kondisinya tidak ada perubahan, ya tidak ada jalan lain selain ganti ke tanaman yang lebih menguntungkan tapi harus siapkan modal lagi,” katanya.
Foto utama: Petani cokelat di Lombok Utara alami kerugian imbas kemarau panjang. Foto: Ahmad H Ramdhani/Mongabay Indonesia.
Ilusi Kepala Ular, Cara Kepompong Dynastor Hadapi Ancaman Predator
Editor31 Okt 2026
Sepasang bercak gelap tampak seperti mata pada kepala ular yang menggantung di antara dedaunan. Bagian depannya menonjol menyerupai moncong, sementara permukaan cokelat keemasannya memperkuat kesan tubuh reptil. Ketika disentuh, sosok itu menggeliat cepat. Namun, tidak ada ular di sana.
Wujud tersebut adalah kepompong kupu-kupu Dynastor darius, serangga Amerika Selatan yang memiliki penampilan mencolok saat menjalani metamorfosis. Pada fase ketika kemampuannya berpindah tempat sangat terbatas, bentuk tubuh dan gerakan menjadi bagian menarik dari pertahanannya terhadap gangguan.
Kemiripan ini kerap dijelaskan sebagai mimikri Batesian, yaitu ketika organisme yang tidak berbahaya menyerupai organisme berbahaya sehingga berpotensi dihindari predator. Pada kepompong Dynastor, gabungan bentuk, warna, dan bercak menyerupai mata menciptakan ilusi kepala ular. Gerakan menggeliat ketika terganggu menambah kesan bahwa sosok tersebut hidup dan siap bereaksi.
Pengamatan yang dibagikan melalui video pada 2021 memperlihatkan respons gerak itu. Meski demikian, rekaman tersebut memperlihatkan perilaku kepompong, bukan bukti langsung tentang seberapa sering predator tertipu atau membatalkan serangan.
Keunikan kepompong Dynastor telah didokumentasikan oleh Aiello dan Silberglied sejak akhir 1970-an. Namun, efektivitas penyamarannya tetap perlu dibedakan dari kemiripan visual yang mudah dikenali manusia. Dalam sumber yang dirujuk, belum tersedia pengujian eksperimental berskala besar yang secara khusus mengukur penurunan risiko dimangsa akibat penampilan tersebut. Karena itu, menyebutnya sebagai peniru ular yang paling sukses masih terlalu jauh. Penjelasan yang lebih hati-hati adalah bahwa ciri-cirinya diduga membantu menghalangi predator, dengan manfaat yang masih memerlukan pengujian lebih lanjut.
Kehidupan serangga ini bermula sebagai ulat yang memanfaatkan bromelia sebagai tumbuhan pakan. Sebelum menjadi kepompong, ulatnya juga memiliki respons pertahanan: bagian dada dapat digembungkan ketika merasa terancam sehingga tubuh tampak lebih besar. Setelah memasuki fase kepompong, penampilannya berubah drastis menjadi bentuk menyerupai kepala ular.
Fase ini dilaporkan berlangsung sekitar 13 hari sebelum kupu-kupu dewasa keluar. Pergantian tersebut memperlihatkan bahwa satu serangga dapat memiliki bentuk tubuh dan respons pertahanan berbeda sepanjang tahapan kehidupannya.
Saat dewasa, Dynastor memiliki penampilan sayap yang berbeda dari kepompongnya. Warna cokelat membantu menyamarkannya di lingkungan sekitar, sementara kemampuannya terbang membuka cara lain untuk menghindari ancaman. Perbandingan dengan ulat ngengat Hemeroplanes triptolemus, yang juga dikenal menyerupai ular ketika terancam, menunjukkan bahwa kemiripan semacam ini muncul pada tahapan hidup berbeda. Pada Dynastor, perhatian justru tertuju pada kepompong: fase yang tampak diam, tetapi masih mampu merespons.
Foto utama: Kepompong Dynastor dariius dariius yang menyerupai kepala ular saat tergantung di bawah cabang. Pola mata palsu dan warna sisik menjadi bagian penting dari taktik penyamaran. Foto oleh : Andreas Kay/Flickr, CC BY-NC-SA 2.0.
Di Balik Lensa, Mengintip Keseharian Macan Tutul Jawa di Alam Liar
Editor31 Okt 2026
Enam tahun Ignatius Dwi Wardhana menunggu kesempatan melihat macan tutul jawa di habitat alaminya. Berulang kali masuk hutan, keinginannya baru terwujud pada 2019. Bagi fotografer satwa liar Animalika yang akrab disapa Ignaz ini, perjumpaan tersebut membuka rasa ingin tahu yang lebih besar tentang kehidupan Panthera pardus melas.
“Waktu pertama kali bertemu, senang sekali rasanya. Setelah sekian lama mencari, akhirnya bisa melihat macan tutul secara langsung,” tuturnya.
Sejak itu, dia berusaha kembali ke hutan hampir setiap tahun untuk mengamati kucing besar yang sulit dijumpai tersebut. Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, menjadi salah satu lokasi pencariannya. Dari pengalaman lapangan, Ignaz mulai memperhatikan musim, sumber air, arah angin, hingga fase bulan. Kemarau menjadi pertimbangan karena menyusutnya sumber air dapat membuat satwa mendatangi titik air yang tersisa.
Namun, dia tidak menganggap kondisi tertentu sebagai jaminan keberhasilan. Perilaku macan tutul dipengaruhi banyak faktor yang masih memerlukan penelitian. Dia pun lebih sering memilih menunggu daripada bergerak mengejar. Kesabaran menjadi bagian dari pengamatan, termasuk menerima kemungkinan pulang tanpa satu pun perjumpaan.
Salah satu pengalaman membekas bermula dari laporan warga tentang kawanan monyet yang berperilaku tidak biasa di sekitar pohon. Setelah informasi diteruskan kepada petugas taman nasional, Ignaz berangkat dari Banyuwangi. Dia mendapati macan tutul jantan beristirahat di pohon asam. Melalui lensa telefoto, dia mengetahui satwa itu tetap memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Dalam kesempatan lain, dekat Jembatan Curahuling, seekor macan tutul muda mendekat hingga sekitar 7-8 meter, lalu duduk di akar liana sambil mengamati Ignaz dan rekannya.
Perjumpaan-perjumpaan itu menghasilkan dokumentasi perilaku yang jarang disaksikan langsung. Ignaz merekam macan tutul minum, tidur, menjilat kaki depan, hingga berguling telentang. “Beberapa gerakannya mengingatkan pada kucing rumahan,” ujarnya.
Foto-foto tersebut menyimpan informasi tentang aktivitas satwa, selain memperlihatkan penampilannya. Dokumentasi dapat menjadi bahan pengamatan lebih lanjut, meskipun satu perjumpaan belum cukup untuk menyimpulkan pola perilaku seluruh populasi. Ignaz berharap pengenalan terhadap kehidupan macan tutul, termasuk sejak usia dini, dapat membantu masyarakat memahami perannya dalam ekosistem hutan.
Zulqarnain Assidiqqi, Direktur Endemic Indonesia Society, menekankan bahwa pendidikan konservasi merupakan bagian penting perlindungan, tetapi bukan solusi tunggal. Ketika macan tutul memangsa ternak, kerugian warga perlu dipahami bersama kemungkinan penyebab konflik, seperti perubahan habitat, ketersediaan mangsa, dan kondisi peternakan.
Penelitian Raharja dan kolega pada 2025 terhadap 160 responden di sekitar Gunung Sawal menemukan hubungan antara tingkat pendidikan dan pemahaman mengenai konflik manusia-macan tutul. Temuan itu memperkuat kebutuhan edukasi yang menjelaskan perilaku satwa serta cara mengurangi risiko. Memahami predator ini membutuhkan perhatian terhadap kehidupan macan tutul sekaligus warga yang berbagi ruang dengannya.
Foto utama: Macan tutul jawa, sang penjaga hutan Jawa. Foto: Dok. Ignatius Dwi Wardhana.
Mirip Bayi Orca, Inilah Penampakan Lumba-lumba Panda
Editor30 Okt 2026
Seekor lumba-lumba mungil berguling di dekat kapal wisata di lepas pantai Patagonia, Argentina. Perutnya menghadap ke atas, sementara tubuh hitam-putihnya bergerak bolak-balik di air. Sekilas, penampilannya menyerupai bayi orca. Namun, satwa yang direkam pembuat film dokumenter Luis Burgueño itu adalah lumba-lumba Commerson, yang juga dikenal sebagai lumba-lumba panda. Rekaman perjumpaan tersebut menarik perhatian jutaan pengguna Instagram. Warna tubuhnya memang mencolok, tetapi kebiasaannya berenang terbalik membuat mamalia laut ini semakin menarik untuk dikenali.
“Lumba-lumba satu ini bersama spesies lain di sekitar kapal dan perjumpaannya berlangsung lebih lama dari yang Anda lihat di video,” kata Burgueño, dikutip dari Daily Mail. Dia mengaku terkejut melihat satwa tersebut memperlihatkan bagian perutnya.
Burgueño menafsirkan gerakan itu sebagai tanda kepercayaan diri. Meski demikian, pengamatan singkat tersebut belum cukup untuk memastikan alasan perilakunya saat mendekati kapal. Berenang dengan perut menghadap ke atas memang dikenal sebagai salah satu perilaku lumba-lumba Commerson, termasuk ketika mencari makanan. Gerakan yang tampak seperti permainan bagi manusia itu dapat berkaitan dengan aktivitas berburu.
Lumba-lumba Commerson memiliki dua subspesies yang menghuni wilayah berjauhan. Satu ditemukan di perairan Amerika Selatan, sementara lainnya, Cephalorhynchus commersonii kerguelensis, hidup di sekitar Kepulauan Kerguelen, Samudra Hindia. Kedua wilayah tersebut terpisah sekitar 8.500 kilometer. Ukuran tubuh penghuninya pun berbeda. Lumba-lumba di Kerguelen dapat mencapai panjang sekitar 1,8 meter dengan berat 86 kilogram, sedangkan kerabatnya di Amerika Selatan memiliki berat sekitar 45 kilogram. Perbedaan ukuran ini menunjukkan bahwa di balik penampilan serupa, terdapat variasi di antara kedua kelompok tersebut.
Pola hitam-putih pada tubuhnya melahirkan beragam julukan, mulai dari lumba-lumba panda, lumba-lumba sigung, hingga piebald dolphin. Sebutan terakhir merujuk pada penampilan dengan bagian tubuh berwarna berbeda. Pola warna itu diperkirakan membantu penyamaran saat berburu, sedangkan posisi berenang terbalik diduga memudahkan mereka menemukan mangsa.
Namun, dugaan fungsi warna dan gerakan tersebut perlu dibedakan dari pengamatan langsung mengenai perilakunya. Kemiripan penampilannya dengan orca juga tidak berarti keduanya menggunakan strategi berburu yang sama. Pada Commerson, tubuhnya sendiri yang berbalik ketika berenang.
Selain melalui perjumpaan di laut, masyarakat mengenal lumba-lumba Commerson dari sejumlah akuarium, termasuk Sendai Umino-Mori di Jepang. Catatan pemeliharaan memberikan informasi mengenai usia dan reproduksinya, tetapi kehidupan dalam akuarium tidak menggambarkan seluruh kondisi satwa ini di alam. Informasi mengenai populasinya di lautan masih terbatas.
Rekaman dari Patagonia memperlihatkan sebagian kecil kehidupannya: seekor mamalia laut bertubuh mungil, berwarna kontras, dan mampu bergerak dengan cara yang mengundang rasa ingin tahu.
Foto utama: Inilah lumba-lumba Commerson yang memiliki pola berenang terbalik. Foto: Wikimedia Commons/Mirko Thiessen/CC BY-SA 2.5
Bukan Sedang Marah, Ini Rahasia Wajah Cemberut Kucing Pallas
Editor30 Okt 2026
Wajahnya seolah selalu menyimpan kekesalan. Tatapan tajam, dahi datar, serta telinga pendek yang terletak rendah membuat kucing Pallas (Otocolobus manul) mendapat julukan kucing paling cemberut di dunia. Ekspresi itu terbentuk dari anatomi kepalanya, bukan petunjuk bahwa ia sedang marah. Pupilnya pun bulat, berbeda dengan celah vertikal yang umum terlihat pada kucing domestik.
Di balik penampilannya yang menggemaskan, satwa yang juga disebut manul ini merupakan pemburu penghuni padang stepa dan pegunungan berbatu Asia Tengah, tempat dingin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Bulu tebal membuat tubuh kucing Pallas tampak jauh lebih gempal daripada ukuran sebenarnya. Dengan berat sekitar dua hingga lima kilogram, tubuhnya tidak jauh berbeda dari kucing rumahan. Lapisan bulu tersebut membantu menghadapi suhu rendah, sementara warna abu-abu kecokelatan menyamarkannya di antara bebatuan. Manul mengandalkan gerakan mengendap dan sergapan untuk menangkap mangsa, alih-alih pengejaran cepat.
Pika, mamalia kecil yang berkerabat dengan kelinci, serta berbagai hewan pengerat menjadi bagian penting makanannya. Keberhasilan berburu bergantung pada ketersediaan mangsa dan tempat berlindung yang memadai.
Kemampuannya menghuni pegunungan tinggi mendapat bukti menarik dari kawasan Everest, Nepal. Studi yang diterbitkan di Cat News pada 2022 melaporkan keberadaan kucing Pallas di Taman Nasional Sagarmatha berdasarkan sampel kotoran yang dikumpulkan dalam ekspedisi 2019. Dua lokasi pengambilan sampel berada pada ketinggian 5.110 dan 5.190 meter di atas permukaan laut, terpisah sekitar enam kilometer. Analisis genetik mengidentifikasi sedikitnya dua individu. Temuan tersebut menambah catatan sebaran manul di Himalaya dan menunjukkan bahwa satwa yang sulit diamati ini dapat terlewat dalam pemantauan lapangan.
Meski mampu menghadapi lingkungan ekstrem, kucing Pallas tetap rentan terhadap perubahan habitat. Perluasan penggembalaan dan tekanan ternak dapat mengurangi vegetasi yang menyediakan perlindungan bagi manul maupun mangsanya. Perubahan iklim juga berpotensi mengubah kondisi padang stepa dan pegunungan melalui perubahan suhu, hujan, serta tutupan salju.
Di sejumlah wilayah, perburuan untuk bulu dan penggunaan bagian tubuhnya menambah ancaman. Manul juga dapat terkena perangkap atau racun yang ditujukan kepada predator lain. Kebiasaannya hidup menyendiri dan tersembunyi membuat dampak berbagai tekanan itu sulit dipantau.
Melindungi kucing Pallas membutuhkan perhatian terhadap keseluruhan ruang hidupnya, termasuk populasi mangsa dan kawasan berbatu tempatnya berlindung. Kerja sama dengan masyarakat lokal penting untuk mengurangi risiko dari perangkap, racun, dan perubahan penggunaan lahan. Sebagai pemangsa mamalia kecil, manul menjadi bagian dari jaring-jaring makanan pegunungan. Penemuan di Sagarmatha memperlihatkan betapa banyak informasi tentang kehidupannya yang masih tersimpan di alam. Wajah cemberut mungkin membuatnya mudah dikenali di foto, tetapi memahami kebutuhannya di habitat asli memerlukan penelitian yang jauh lebih panjang.
Foto utama: Kucing Pallas (Otocolobus manul) di atas batang pohon dengan bulu tebalnya yang khas. Foto: Chris Godfrey.
Nasib Tapir Sumatera di Tengah Penyusutan Habitat dan Minimnya Data
Editor29 Okt 2026
Seekor tapir tampak kebingungan di tepi Jalan Lintas Timur Sumatera, menjauh dari suara kendaraan yang melintas. Rekaman singkat itu kemudian memperlihatkan seorang pria berlari mendekatinya sambil membawa tombak. Hewan tersebut akhirnya tewas dalam peristiwa di Register 45, Mesuji, Lampung, yang ramai diperbincangkan pada awal Juli 2026. Kasus ini memperlihatkan risiko yang dihadapi tapir ketika keluar dari hutan.
Di balik tubuh hitam-putihnya yang mudah dikenali, kehidupan satwa ini masih menyisakan banyak pertanyaan, termasuk berapa jumlahnya yang bertahan di Sumatera.
“Tapir ini merupakan satwa dilindungi dan terancam punah namun terlupakan,” kata Supintri Yohar, Direktur Kehutanan Yayasan Auriga Nusantara. Dia mengaitkan kemunculan tapir di luar habitat dengan deforestasi dan fragmentasi hutan, yakni terpecahnya kawasan menjadi bagian-bagian yang terpisah. Sebagai pemakan tumbuhan dengan wilayah jelajah luas, tapir membutuhkan jalur untuk berpindah dan mencari makanan.
Ronny Rachman, Guru Besar IPB, menjelaskan bahwa perluasan perkebunan dan pembangunan jalan dapat memaksanya melintasi area terbuka atau permukiman. Selain perburuan, pergerakan tersebut menghadapkan tapir pada risiko tertabrak kendaraan.
Penelitian bertajuk Safeguarding Asian tapir habitat in Sumatra memperlihatkan pentingnya hutan dataran rendah bagi satwa yang juga disebut tenuk ini. Tim pimpinan Irene M.R. Pinondang menganalisis kawasan hutan hujan seluas 69.500 kilometer persegi. Dari 465 stasiun kamera jebak, tapir terekam di 143 titik, dengan deteksi terbanyak di Bukit Barisan Selatan dan Kerinci Seblat. Temuan menunjukkan tapir banyak menghuni hutan di bawah ketinggian 600 meter dengan biomassa tinggi, kawasan yang juga menghadapi tekanan pembukaan lahan. Habitatnya mencakup kawasan konservasi, hutan lindung daerah aliran sungai, hingga hutan produksi.
Sementara habitat berubah, periode Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Tapir 2013-2022 telah berakhir. Dokumen tersebut sudah mengidentifikasi kerusakan habitat, fragmentasi, dan perburuan sebagai ancaman utama, sekaligus mencatat keterbatasan data populasi.
Ristianto Pribadi dari Kementerian Kehutanan mengakui belum tersedia angka populasi nasional terbaru berdasarkan sensus serentak dengan metode seragam. Pendataan tetap dilakukan melalui patroli, kamera jebak, tanda keberadaan, dan laporan masyarakat. Namun, data itu lebih kuat untuk menjelaskan kondisi pada tingkat lanskap. Perilaku tapir yang cenderung menyendiri dan aktif malam hari turut menyulitkan pemantauan.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa berakhirnya periode strategi tersebut tidak menghentikan status perlindungan maupun kegiatan konservasi tapir. Pembaruannya memerlukan evaluasi, penggabungan data terbaru, serta pemetaan perubahan habitat dan ancaman. Pemerintah juga menyatakan akan memperkuat keseragaman metode dan konsolidasi data lintas lanskap.
Langkah ini penting agar hasil pengamatan di satu kawasan tidak dianggap mewakili seluruh Sumatera. Dengan informasi yang lebih lengkap, kebutuhan perlindungan tapir dapat dipetakan secara lebih tepat, termasuk menjaga hutan yang tersisa dan jalur penghubung tempat satwa ini mencari makan serta berpindah.
Foto utama: Seekor tapir Sumatera atau tapir Malaya. Foto: Rhett A. Butler/Mongabay.
Berlangganan
Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam