Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Setelah 100 Tahun, Ilmuwan Temukan Spesies Kucing Liar Baru Yang Bersembunyi di Hutan

Akhyari Hananto 18 Sep 2026
Cerita fitur

Cerita Tobani Tiku, Pelestari Kain Kayu dari Kulawi

Moh Tamimi 18 Sep 2026
Cerita fitur

Mengapa Deforestasi Indonesia Terus Menggila?

Irfan Maulana 17 Sep 2026

Sepasang Macan Tutul Jawa Terekam Kamera di Mendolo, Tanda Ekosistem Hutan Terjaga

Falahi Mubarok 17 Sep 2026

Bukti Tertua Manusia Mengisap Pinang Ada di Sulawesi, Dilakukan 25 Ribu Tahun Silam

Nuswantoro 17 Sep 2026
Cerita fitur

Tradisi Masyarakat Kampung Yoboi Tergerus Ancam Kelestarian Hutan Sagu

Larius Kogoya 17 Sep 2026
Semua berita

Berita utama

Cerita Tobani Tiku, Pelestari Kain Kayu dari Kulawi

Mengapa Deforestasi Indonesia Terus Menggila?

Irfan Maulana 17 Sep 2026

Tradisi Masyarakat Kampung Yoboi Tergerus Ancam Kelestarian Hutan Sagu

Larius Kogoya 17 Sep 2026

Khawatir Daya Rusak, Warga Tolak Proyek Panas Bumi Ungaran

Triyo Handoko 17 Sep 2026

Terjadi Lonjakan Sakit Pernapasan Dampak Asap Kebakaran Hutan

Achmad Rizki Muazam 16 Sep 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Pala Fakfak, dengan buah lonjong. Foto: Eko Rusdianto/ Mongabay Indonesia
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

Ke Mana Air Itu Mengalir? Dari Gua Legaelol ke Sungai Sagea: Jejak Air yang Ungkap Ancaman di Hulu

Aziz Fardhani Jaya * 16 Jun 2026

Spesies Baru: Ikan Tanpa Mata Ini Bernama Barbodes klapanunggalensis

Nopri Ismi 27 Feb 2025

Mencari Laba-laba Mata Kecil Jantan Pertama Indonesia di Gua Karst Jonggrangan

Cahyo Rahmadi* dan Sidiq Harjanto** 13 Sep 2024

Karst Sagea Halmahera: Antara Megahnya Gua Bokimoruru dan Ancaman Rusaknya Ekosistem

Aziz Fardhani Jaya * 21 Okt 2023

Gua dan bentang karst menyimpan rekaman penting perjalanan bumi. Di dalamnya terdapat fauna unik hasil adaptasi ekstrem, peninggalan seni prasejarah tertua, serta sistem hidrologi bawah tanah penyuplai air bersih bagi jutaan orang. Kawasan ini menghadapi ancaman nyata dari aktivitas tambang dan alih fungsi lahan. Sains bawah tanah, jejak awal manusia, dan ancaman kerusakan lingkungan saling […]

Jejak Rapuh Gua dan Karst series

Lebih spesial

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

9 cerita

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil

9 cerita

Lutung Jawa: Satwa Endemik Jawa di Ujung Tanduk

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Pala Fakfak, dengan buah lonjong. Foto: Eko Rusdianto/ Mongabay Indonesia

Bukan Sekadar Rempah, Pala adalah Identitas Orang Fakfak

Akita Verselita 18 Sep 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Suara “Klik” yang Mengungkap Spesies Katak Baru di Gunung Merapi

Editor 18 Sep 2026

Tubuhnya hanya sepanjang kira-kira dua kuku jempol orang dewasa. Kulitnya halus, warnanya relatif seragam, dan suaranya terdengar seperti bunyi “klik” singkat bernada tinggi. Katak mungil penghuni serasah di lereng Gunung Merapi ini merupakan spesies baru yang diberi nama Philautus candrageni.

Spesies tersebut ditemukan secara tidak sengaja ketika para peneliti meninjau ulang taksonomi katak Genus Philautus di Pulau Jawa. Tim yang berasal dari BRIN, sejumlah universitas, dan Herpetological Society of Indonesia menggunakan pendekatan integratif dengan memadukan ciri morfologi, rekaman suara, serta analisis molekuler.

Penelitian lapangan dilakukan di Jawa Tengah pada 2017–2025, meliputi Gunung Ungaran, Gunung Merapi, dan Pegunungan Menoreh. Para peneliti mengumpulkan 32 individu yang sebelumnya dianggap sebagai Philautus aurifasciatus. Namun, analisis filogenetik dan morfologi menunjukkan bahwa temuan itu terdiri atas P. aurifasciatus, P. jacobsoni, dan satu takson yang belum pernah dideskripsikan dari Gunung Merapi.

Rekaman suara kemudian memperkuat perbedaannya. Panggilan kawin P. candrageni berdurasi pendek, memiliki frekuensi relatif tinggi, dan biasanya hanya terdiri atas satu nada. Interval antar panggilannya juga singkat sehingga menghasilkan tempo cepat. Karakter tersebut berbeda dari suara P. aurifasciatus dan P. pallidipes.

Penemuan ini menambah jumlah anggota Philautus di Jawa menjadi empat spesies. Tiga lainnya adalah P. jacobsoni dari Gunung Ungaran, P. pallidipes dari Gunung Gede Pangrango, dan P. aurifasciatus dari Gunung Tangkuban. Dua di antaranya, P. pallidipes dan P. jacobsoni, telah lama tidak ditemukan kembali. Bahkan, P. jacobsoni dikhawatirkan telah punah di alam liar.

Nama “candrageni” berasal dari nama kuno Gunung Merapi dalam manuskrip Jawa klasik Serat Pustaka Raja Purwa. Nama tersebut diperkirakan tersusun dari kata “candra”, yang berarti bulan, dan “geni”, berarti api. Para peneliti menilai nama itu mewakili sifat mistis dan berapi-api Merapi, sekaligus harmoni bio kultural lanskap vulkaniknya.

Sejauh ini, P. candrageni hanya diketahui hidup pada zona ketinggian menengah Gunung Merapi. Habitatnya mencakup lingkungan yang telah dimodifikasi manusia, terutama perkebunan kopi dan tanaman budidaya lain. Tubuhnya berwarna coklat muda dengan pola coklat gelap, sedangkan bagian perutnya kuning pucat dengan bercak gelap.

Pengetahuan mengenai spesies ini masih terbatas karena tim belum menemukan individu betina. Akibatnya, perbedaan ukuran tubuh, tekstur kulit, pola warna, perilaku kawin, dan cara bertelurnya belum dapat dipelajari secara lengkap.

Katak semak umumnya mengalami perkembangan langsung tanpa melalui fase berudu yang berenang. Telurnya menetas menjadi katak kecil sehingga sangat bergantung pada kelembaban lingkungan. Mereka juga berperan mengendalikan serangga, menjadi bagian rantai makanan, dan berfungsi sebagai bioindikator kesehatan ekosistem.

Distribusi P. candrageni yang sempit membuatnya rentan terhadap penurunan kualitas habitat dan krisis iklim. Perubahan suhu serta pola hujan dapat mengganggu reproduksinya. Penemuan ini pun menjadi pengingat bahwa spesies dapat menghilang bahkan sebelum manusia sempat mengenalnya secara utuh.

Foto utama: P. candrageni hanya dikenal berasal dari Gunung Merapi, dengan distribusi sangat terbatas, yaitu di zona ketinggian menengah gunung tersebut. Foto: Alamsyah Elang Nusa Herlambang/BRIN.

Air Makin Langka, Warga Kalimantan Selatan Berhadapan dengan Karhutla

Editor 17 Sep 2026

Kekeringan parah melanda Kalimantan Selatan sepanjang Agustus 2026. Di tengah meningkatnya kebakaran hutan dan lahan, persediaan air semakin terbatas sehingga harus dibagi antara kebutuhan warga dan upaya pemadaman api.

Dampaknya dirasakan Bambang, warga Banjarbaru, ketika api mengepung kebun seluas 1,2 hektar miliknya pada 24 Agustus. Sekitar 50 pohon rambutan yang dipersiapkan sebagai bekal pensiun hangus terbakar. Ia telah mengeluarkan sekitar Rp3 juta untuk membeli mesin pompa dan selang, tetapi air di kanal dekat kebunnya hampir mengering. Dua helikopter water bombing yang beroperasi di sekitar lokasi juga tidak menjangkau lahannya. “Padahal tanaman ini untuk bekal masa pensiun, tetapi sudah habis terbakar.”

BMKG menyebut sejumlah daerah di Kalimantan Selatan tidak diguyur hujan selama lebih dari 60 hari. Dalam peringatan dini kekeringan meteorologis periode 21-31 Agustus, Tanah Laut berstatus Awas, sedangkan Banjarbaru dan sembilan kabupaten lainnya berada pada kategori Siaga. Kabupaten Balangan masuk kategori Waspada. Kondisi El Niño turut memperburuk situasi hidrologis sekaligus meningkatkan risiko kebakaran lahan.

Keterbatasan air juga menghambat penanganan karhutla. Pemerintah memberi perhatian khusus pada Waduk Riam Kanan karena memiliki sejumlah fungsi strategis. Selain menjadi sumber air untuk pemadaman, waduk ini menopang PLTA berkapasitas sekitar 30 megawatt, irigasi, perikanan, serta pasokan air bagi PDAM. Pengambilan air untuk penanganan kebakaran dikhawatirkan menambah tekanan terhadap kebutuhan masyarakat.

PT Air Minum Intan Banjar mencatat perubahan besar dalam konsumsi pelanggan setelah banyak sumur warga mengering. Jumlah pelanggan meningkat dari sekitar 117.000 pada Juli menjadi 122.000 pada pertengahan Agustus. Konsumsi bulanan rata-rata turut naik dari 12 meter kubik menjadi sekitar 13-14 meter kubik per pelanggan. Lonjakan ini menyebabkan tekanan air menurun, terutama pada pagi dan sore hari, sehingga wilayah di ujung jaringan perpipaan paling rentan mengalami gangguan.

Krisis air juga melanda 45 desa di 13 kecamatan di Kabupaten Banjar. Hingga 24 Agustus, beberapa wilayah bahkan telah mengalami kekeringan ekstrem. BPBD Kabupaten Banjar menyalurkan lebih dari 1,52 juta liter air bersih sejak 17 Juni hingga 23 Agustus, serta meminjamkan 248 tandon kepada warga.

Dengan debit sungai dan sistem irigasi Riam Kanan yang terus menyusut, masyarakat diminta menghemat air dan mengutamakan kebutuhan pokok. Situasi ini memperlihatkan bahwa kekeringan dan karhutla saling memperburuk: kebakaran membutuhkan banyak air untuk dipadamkan, sementara warga juga semakin bergantung pada pasokan yang sama untuk bertahan selama kemarau.

Foto utama: Asap tebal menyelimuti jalan lintas provinsi di Kalimantan Selatan. Jarak pandang pengendara diperkirakan tidak lebih dari 50 meter. Foto: Rendy Tisna/ Mongabay Indonesia.

Ekspor Monyet Ekor Panjang, Bagaimana Dampak Populasinya di Alam?

Editor 17 Sep 2026

Rencana pemerintah mengekspor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) untuk kepentingan penelitian memunculkan pertanyaan mengenai kesejahteraan satwa dan dampaknya terhadap populasi di alam. Persoalannya tidak hanya terjadi saat monyet digunakan di laboratorium, tetapi bermula sejak penangkapan, pemindahan, penangkaran, hingga pengiriman.

Jakarta Animal Aid Network (JAAN) secara tegas menolak rencana tersebut. Menurut Benvika, Co-Founder sekaligus National Director JAAN, pemanfaatan primata ini berpotensi menghadirkan rangkaian penderitaan panjang.

“Kami selalu menolak pemanfaatan monyet ekor panjang dalam bentuk apapun,” katanya.

Pemerintah menggunakan skema penangkaran untuk memastikan monyet yang diekspor tidak berasal dari alam. Namun, kemampuan penangkaran menghasilkan individu dalam jumlah besar masih dipertanyakan. Monyet ekor panjang merupakan satwa sosial dengan struktur kelompok yang kompleks dan wilayah jelajah luas. Ketika ditempatkan dalam kandang sempit dalam waktu lama, mereka rentan mengalami stres dan gangguan perilaku.

Masalah lain adalah keterlacakan asal satwa. Meningkatnya permintaan dapat menciptakan insentif ekonomi bagi masyarakat untuk menangkap monyet liar, termasuk dari kawasan konservasi. Karena itu, pengawasan harus mampu memastikan seluruh individu benar-benar berasal dari penangkaran terstandar.

Anggapan bahwa monyet ekor panjang berpopulasi berlebih juga perlu dikaji hati-hati. Fahma Wijayanti, pengajar Primatologi UIN Jakarta, menjelaskan bahwa penelitian pada 2024–2026 di sejumlah wilayah Sumatera mencatat kepadatan sekitar 5–9 individu per hektare. Namun, angka tersebut belum cukup untuk menyatakan populasinya aman.

Jumlah keseluruhan yang besar dapat tersusun atas kelompok-kelompok kecil yang rentan. Struktur kelompok, jumlah individu, kondisi habitat, serta kemampuan berkembang biak perlu diperhitungkan dalam menilai kesehatan populasi.

Istilah “hama” juga tidak selalu mencerminkan jumlah satwa. Monyet dapat memasuki permukiman karena habitatnya menyusut atau tidak lagi menyediakan cukup makanan. “Sebaliknya, populasi besar tidak otomatis jadi hama apabila habitat alaminya mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka,” jelas Fahma.

Kemiripan genetik, anatomi, fisiologi, dan perilaku dengan manusia memang membuat monyet ekor panjang digunakan dalam penelitian. Namun, kebutuhan tersebut harus mempertimbangkan status konservasinya dan kemajuan metode alternatif.

Pengembangan non-animal models atau new approach methodologies dinilai perlu menjadi arah penelitian masa depan. Jika ekspor tetap dilakukan, jumlahnya harus dibatasi, sumber individunya dapat dilacak, dan pengawasannya dijalankan secara ketat agar kebutuhan penelitian tidak menambah tekanan terhadap populasi liar.

Foto utama: Monyet ekor panjang akan diekspor untuk kebutuhan penelitian, yang rencana ini dinilai tidak sejalan dengan prinsip penerapan kesejahteraan satwa liar. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia.

Punya Hutan Mangrove Seluas 3,4 Juta Hektar, Indonesia Berpacu Wujudkan World Mangrove Center

Editor 16 Sep 2026

Indonesia kembali menghidupkan rencana membangun World Mangrove Center (WMC), pusat kolaborasi global untuk konservasi dan restorasi mangrove. Gagasan yang sempat mandek ini dinilai strategis karena Indonesia memiliki sekitar 3,4 juta hektar mangrove atau hampir seperempat luas mangrove dunia.

Modal tersebut menempatkan Indonesia pada posisi penting dalam perlindungan ekosistem pesisir. Mangrove bukan sekadar pepohonan di garis pantai. Ekosistem ini berfungsi meredam abrasi dan badai, menyimpan karbon biru, menyediakan habitat bagi berbagai spesies, serta menopang kehidupan masyarakat pesisir.

Menurut Dyan Murtiningsih, Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan, pengelolaan mangrove mencakup tiga dimensi yang saling berkaitan: ekologi, sosial-ekonomi, dan iklim global. Namun, mangrove menghadapi tekanan perubahan penggunaan lahan, pencemaran, krisis iklim, serta kapasitas kelembagaan yang belum merata.

“Tidak ada satu negara, satu kementerian, atau satu organisasi pun yang bisa menyelesaikan persoalan ini sendirian,” katanya.

Perjalanan menuju WMC dimulai sejak konferensi mangrove di Bali pada 2017. Indonesia kemudian membawa gagasan tersebut ke forum Perserikatan Bangsa-Bangsa hingga menghasilkan Resolusi Nomor 12 Tahun 2019 dalam UNEA-4 di Nairobi, Kenya. Resolusi itu menjadi panduan bagi negara-negara dunia, terutama pemilik mangrove, dalam mengelola ekosistemnya.

Ketua Forum Daerah Aliran Sungai Nasional Putera Parthama menjelaskan, WMC tidak dirancang sebagai lembaga besar dengan kompleks perkantoran megah. WMC akan menjadi simpul jaringan yang menghubungkan pemerintah, peneliti, pengusaha, organisasi, dan masyarakat dari berbagai negara. Kegiatannya mencakup riset bersama, pertukaran praktik terbaik, penguatan kapasitas, serta pengembangan standar pengukuran dan verifikasi karbon biru.

Keberlanjutan pendanaan menjadi salah satu kunci. Ahli kehutanan Agus Justianto mengusulkan skema blended finance yang menggabungkan anggaran publik, investasi swasta, dan hibah internasional. Pilihan lainnya adalah pembayaran berbasis hasil melalui mekanisme REDD+.

Namun, ambisi tersebut menghadapi tantangan besar. Sekitar 700.000 hektar mangrove Indonesia dilaporkan mengalami kerusakan, sementara rehabilitasinya membutuhkan biaya dan proses panjang. Pergantian pemerintahan juga kerap mengubah kebijakan dan target restorasi.

Indonesia pun berpacu dengan inisiatif serupa yang didukung China. Jika kembali terlambat, Indonesia berisiko kehilangan posisi sebagai penggagas meskipun memiliki mangrove terluas. Karena itu, realisasi WMC membutuhkan konsistensi kebijakan, kesamaan pemahaman antara pihak, pendanaan berkelanjutan, dan keberanian memperbaiki pendekatan.

Foto utama: Hutan mangrove dan sungai di pesisir timur Aceh dilihat dari udara. Jalur ini, dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk menyelundupkan satwa liar dan barang lainnya ke luar negeri. Foto drone: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Bukan Hanya Cerdas, Lumba-lumba Juga Benteng Ekosistem Laut Indonesia

Editor 16 Sep 2026

Kemunculan lumba-lumba di permukaan laut bukan sekadar pemandangan menarik. Kehadiran mamalia cerdas ini dapat menjadi tanda bahwa perairan masih menyediakan makanan dan habitat yang mendukung kehidupan. Jika mereka semakin jarang terlihat, ada kemungkinan ekosistem laut sedang menghadapi masalah.

Indonesia memiliki 37 jenis mamalia laut, termasuk 17 jenis lumba-lumba. Letak perairannya yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Hindia membuat Indonesia menjadi habitat, tempat singgah, sekaligus jalur migrasi penting. Laut Banda, Selat Bali, Selat Lombok, dan Laut Sawu merupakan beberapa kawasan yang kerap dilalui lumba-lumba.

“Lumba-lumba adalah mamalia laut yang berenang dengan jarak tempuh jauh. Mereka bisa mencari habitat baru di lokasi lain, beda samudera,” kata Dondy Arafat, pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University.

Jenis yang sering dijumpai di Indonesia antara lain lumba-lumba hidung botol, pemintal, tutul, dan Risso. Sebagian hanya melintas, sedangkan lainnya memilih menetap untuk sementara atau dalam waktu lama.

Namun, perjalanan mereka dipenuhi ancaman. Lumba-lumba dapat terjerat alat tangkap sebagai tangkapan sampingan atau bycatch. Mereka juga menghadapi sampah plastik, pencemaran laut, kerusakan habitat pesisir, perburuan, serta kebisingan kapal yang mengganggu komunikasi dan kemampuan ekolokasi. Pariwisata yang tidak terkendali juga dapat menambah tekanan.

Krisis iklim memperbesar ancaman tersebut. Peningkatan suhu laut dapat mengubah ekosistem dan mempengaruhi ketersediaan makanan. Gangguan-gangguan ini diduga turut meningkatkan risiko lumba-lumba terdampar dan mati.

Ironisnya, data populasi lumba-lumba di Indonesia masih sangat terbatas. Mira Sekar, pakar mamalia laut dari Pusat Riset Sistem Biota BRIN, mengatakan penelitian populasi baru banyak dilakukan terhadap pesut mahakam.

“Penelitian sangat mahal, butuh anggaran besar dan keberpihakan lebih besar terhadap spesies ini,” ujarnya.

Indonesia juga belum memiliki mekanisme rehabilitasi maupun rencana induk khusus perlindungan lumba-lumba. Padahal, menjaga jalur migrasi membutuhkan kerja bersama pemerintah, peneliti, nelayan, pelaku wisata, industri, dan penegak hukum.

“Lumba-lumba adalah benteng lautan, jika terancam maka ekosistem laut terancam juga.”

Melindungi lumba-lumba berarti menjaga rantai kehidupan laut. Sebab, ketika populasinya menurun atau kemunculannya semakin langka, ancamannya tidak berhenti pada satu spesies. Laut yang tidak sehat pada akhirnya juga akan mengancam kehidupan manusia.

Foto utama: Subspesies lumba-lumba hidung botol baru ini dikenal sebagai lumba-lumba hidung botol Pasifik Tropis Timur (Tursiops truncatus nuuanu). Foto : NOAA/NMFS/SWFSC.

Kisah Fitriani Mengubah Duka “For Gajah Rahman” Menjadi Gerakan Konservasi Gajah Sumatera

Editor 15 Sep 2026

Setangkai krisan putih dibagikan kepada orang-orang yang melintas di depan Kantor Gubernur Riau. Tanpa teriakan, massa menyampaikan tuntutan yang telah mereka suarakan selama dua tahun: mengungkap pelaku pembunuhan Rahman, gajah binaan Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo.

Di tengah aksi sunyi itu berdiri Fitriani Dwi Kurniasari. Perempuan yang akrab disapa Ani tersebut terus mencari cara agar kematian Rahman tidak dilupakan publik dan penyelidikannya tidak berhenti tanpa kejelasan.

“Aksi sunyi itu sebagai pengingat pada penegak hukum untuk melanjutkan tugasnya dan mengingatkan komitmen mengusut tuntas kasus kematian gajah Rahman,” katanya.

Rahman ditemukan sekarat pada 10 Januari 2024 setelah diracun. Gading kirinya hilang, tetapi tidak diambil secara utuh. Tidak ditemukan pula ceceran darah dalam jumlah besar. Gajah jantan itu masih bertahan hidup selama delapan jam sebelum akhirnya mati. Kejanggalan tersebut terus menjadi pertanyaan bagi Ani dan para pemerhati satwa.

Kedekatan Ani dengan Rahman bermula ketika ia bekerja sebagai Database & Support Officer Wildlife Crime Team WWF Program Riau. Tugasnya membawa Ani ke pengadilan, kejaksaan, dan kantor polisi untuk memantau perkara kejahatan terhadap satwa. Sesekali, ia juga mengunjungi Tesso Nilo dan berinteraksi dengan gajah-gajah Flying Squad, termasuk Rahman.

Kabar kematian Rahman membuatnya terpukul. Ani kemudian membuat akun Instagram For Gajah Rahman sebagai ruang untuk menyimpan kenangan sekaligus mengawal perkembangan kasus. Ia mengajak masyarakat yang pernah bertemu “Kapten” Rahman membagikan foto dan cerita. Dalam waktu kurang dari sepekan, akun tersebut memperoleh seribu pengikut.

Namun, kampanye melalui media sosial belum menghasilkan titik terang. Ani mengadakan diskusi publik, berkolaborasi dengan komunitas, dan menggelar aksi damai. Ia juga menghubungi aktor Chicco Jerikho, yang pernah bertemu Rahman. Bersama Chicco, Ani mendatangi Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau untuk mendorong penyelidikan.

Upayanya berlanjut ketika Kapolda Riau berganti. Ani rutin menyebut akun Kapolda Irjen Pol Herry Heryawan di Instagram. Ia bahkan mengikuti Riau Bhayangkara Run sejauh 10 kilometer dengan kostum gajah setelah berlatih selama dua bulan. Aksi tersebut dilakukan untuk membawa kasus Rahman langsung ke ruang publik.

Setelah mengajukan audiensi, Ani akhirnya bertemu Kapolda Riau pada Agustus 2025. Kepolisian berjanji mengupayakan penyelidikan ulang, tetapi hingga dua tahun lebih setelah kematian Rahman, pelakunya belum terungkap.

Kasus ini mencerminkan lemahnya penegakan hukum terhadap kejahatan satwa di Riau. Ani mencatat 167 gajah mati sepanjang 2004–2025, sebagian besar akibat racun, tetapi hanya tiga kasus perburuan yang sampai ke pengadilan.

Bagi Ani, perjuangan untuk Rahman telah berkembang menjadi seruan melindungi seluruh gajah sumatera. Persoalannya tidak berhenti pada racun dan perburuan, tetapi juga mencakup penyempitan habitat, kekurangan pakan, dan ancaman penyakit. Menjaga ingatan tentang Rahman berarti memastikan kematiannya tidak menjadi sekadar angka dalam daftar panjang kehilangan gajah di Riau.

Foto utama: Ani pakai atribut gajah saat Bhayangkara Run 2025. Foto: Dokumen pribadi Ani.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.