Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Cerita fitur

Tapir, Satwa Terancam Punah yang Terabaikan

Fachri Hamzah 12 Agu 2026

Mengenal Pare, Salah Satu Buah Paling Pahit di Dunia yang Punya Sejarah Panjang sebagai Obat Tradisional

Akhyari Hananto 12 Agu 2026

Ketika Anak Muda di Jember Suarakan Penyelamatan Gumuk

Zuhana A. Zuhro dan RZ. Hakim 12 Agu 2026
Cerita fitur

Jaga Kedaulatan Pangan Kasepuhan Perlu Kepastian Wilayah Adat

Anggita Raissa 11 Agu 2026
Cerita fitur

Ketika Perempuan Paling Terdampak Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalsel

Riyad Dafhi Rizki 11 Agu 2026

Kucing Bakau, Penghuni Misterius Hutan Mangrove

Christopel Paino 11 Agu 2026
Semua berita

Berita utama

Tapir, Satwa Terancam Punah yang Terabaikan

Jaga Kedaulatan Pangan Kasepuhan Perlu Kepastian Wilayah Adat

Anggita Raissa 11 Agu 2026

Ketika Perempuan Paling Terdampak Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalsel

Riyad Dafhi Rizki 11 Agu 2026

Ketika Kebakaran Bromo Kian Meluas

Eko Widianto 11 Agu 2026

Masyarakat Adat Pesisir Tomini Waswas Terhimpit Kawasan Konservasi

Sarjan Lahay 10 Agu 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri

Populasi Orangutan Sumatera Berkurang 2.700 Individu dalam Satu Dekade?

Junaidi Hanafiah 14 Jul 2026

Kisah Berani, Orangutan Sumatera yang Mati karena Gagal Ginjal di Denver Zoo

Christopel Paino 3 Okt 2025

Begini Nasib Orangutan Sumatera di Rawa Tripa

Junaidi Hanafiah 27 Agu 2025

Begini Modus Perburuan Orangutan Sumatera

Junaidi Hanafiah 11 Jul 2025

Mereka adalah pemilik sah rimba Sumatera, tetapi kini dipaksa menjadi pengembara tanpa arah di tanah kelahiran sendiri. Kepungan perkebunan monokultur dan moncong senapan pemburu perlahan menghapus jejak primata cerdas ini dari muka bumi. Dari Rawa Tripa hingga Leuser, bentang alam yang menyusut menjadi saksi bisu runtuhnya rumah besar mereka. Setiap detiknya adalah jeritan sunyi yang […]

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri series

Lebih spesial

7 cerita

Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua

9 cerita

Nestapa Burung Berkicau Nusantara

9 cerita

Ancaman Nyata El Nino Godzilla

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Hutan Indonesia dalam Kepungan Ekspansi

Kadek Dian Dwiyanti H.* 2 Agu 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Tiga Ngengat Baru: Dua dari Papua, Satu Berpotensi Hama

Editor 12 Agu 2026

Indonesia kembali mencatat kekayaan hayati baru. Para peneliti menemukan tiga spesies ngengat yang sebelumnya belum pernah dideskripsikan secara ilmiah. Satu spesies berasal dari Pulau Sangihe, Sulawesi Utara, sedangkan dua lainnya ditemukan di Papua.

Penemuan tersebut dilakukan oleh peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN bersama tim Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi, Manado. Hasil penelitiannya diterbitkan dalam jurnal Zootaxa pada Januari 2024.

Spesies pertama diberi nama Cryptophasa warouwi. Ngengat berwarna cokelat tua ini merupakan spesies endemik Pulau Sangihe. Namun, kehadirannya bukan hanya menambah daftar keanekaragaman hayati Indonesia. Larvanya juga berpotensi menjadi hama bagi tanaman cengkih.

Larva dari kelompok Cryptophasa dikenal sebagai penggerek cabang dan batang. Hewan yang aktif pada malam hari ini memotong daun untuk dimakan, lalu membuat terowongan pada bagian tanaman. Lubang tersebut kemudian ditutup menggunakan anyaman sutra dan kotoran.

Gangguan larva ini sebenarnya telah terpantau pada tanaman cengkih di Pulau Sangihe sejak 2016. Pada 2023, wilayah persebarannya semakin luas. Petani cengkih di lima kecamatan bahkan mengalami kerugian karena cabang dan ranting tanaman mereka rusak. Selain cengkih, larva Cryptophasa warouwi diketahui menyerang jambu air dan jambu biji.

Karena mampu memakan beberapa jenis tanaman, para peneliti menilai diperlukan strategi pengendalian dan analisis risiko. Spesies ini juga perlu diperhatikan dalam penyusunan daftar hama karantina dan pengelolaan pertanian.

Dua spesies baru lainnya bernama Glyphodes nurfitriae dan Glyphodes ahsanae. Keduanya berasal dari Papua dan dinyatakan sebagai taksa baru berdasarkan analisis bentuk tubuh atau morfologi. Penemuan ini membuat jumlah spesies Glyphodes yang tercatat di Indonesia menjadi 48. Sebelumnya, publikasi terakhir mengenai kelompok tersebut dari Papua dan Sulawesi terbit pada 1960.

Meski salah satu spesies baru ini berpotensi merugikan petani, tidak semua ngengat dapat dianggap sebagai hama. Larva pemakan tumbuhan baru dikategorikan sebagai hama jika serangannya menyebabkan kerugian ekonomi pada tanaman.

Beberapa larva ngengat yang memakan daun justru memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan vegetasi hutan. Hilangnya daun pada fase tertentu dapat merangsang proses pembungaan, sehingga membantu regenerasi tumbuhan.

Ngengat juga berperan sebagai penyerbuk, terutama bagi tanaman yang bunganya mekar pada malam hari. Di berbagai ekosistem, serangga ini menjadi bagian dari rantai makanan dan menyediakan sumber protein bagi kelelawar, burung, ikan, reptil, serta mamalia kecil.

Keragaman jenis ngengat juga dapat menjadi penanda perubahan lingkungan. Hewan ini hidup di berbagai ekosistem, mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Karena itu, mengenali setiap spesies baru bukan hanya soal memberi nama. Penemuan tersebut membantu ilmuwan memahami peran masing-masing ngengat, baik sebagai penyerbuk, bagian dari rantai makanan, maupun sebagai spesies yang perlu diantisipasi dampaknya terhadap pertanian.

Foto utama: Ngengat jenis baru Cryptophasa warouwi. Foto: Dok. BRIN.

Patroli Senyap Jumawan demi Penyu di Cilacap

Editor 11 Agu 2026

Saat sebagian besar warga terlelap, Jumawan justru menyusuri pantai. Lelaki berusia 33 tahun itu mencari jejak penyu yang naik ke daratan untuk bertelur. Sejak 2019, kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmennya menjaga penyu di pesisir Cilacap, Jawa Tengah.

Jumawan kini memimpin Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja. Dalam patroli malam dan pagi hari, dia menemukan tiga titik di sekitar Pantai Sodong yang kerap menjadi tempat penyu lekang bertelur. Jika sarang berada di lokasi berbahaya, telur-telur dipindahkan ke tempat penetasan yang lebih aman.

Sekali bertelur, seekor penyu rata-rata menghasilkan sekitar 116 butir. Namun, tidak semuanya berhasil menetas. Tingkat keberhasilan penetasan umumnya sekitar 70 persen. Suhu pasir yang tidak sesuai, mikroorganisme, predator, dan gangguan manusia dapat menyebabkan telur gagal berkembang.

Musim penyu bertelur di Cilacap berlangsung antara April hingga September. Puncaknya terjadi pada Juni dan Juli, ketika musim kemarau berlangsung dan gelombang laut relatif lebih stabil. Penyu biasanya naik saat air pasang tertinggi, mulai sore hingga malam, lalu membutuhkan waktu sekitar 45–70 menit untuk menggali sarang dan meletakkan telur.

Vegetasi pantai ikut menentukan keselamatan telur dan tukik. Pandan laut memberi keteduhan, sementara rumput lari dapat menjadi tempat berlindung tukik dari predator. Katang-katang dan pohon kelapa juga menjadi bagian penting dari habitat alami penyu di pantai.

Perjalanan Jumawan tidak selalu mudah. Pada 2019, pengambilan telur penyu masih dilakukan warga. Telur dijual seharga Rp3-5 ribu per butir karena dipercaya dapat meningkatkan stamina orang dewasa. Banyak warga ketika itu belum memahami bahwa penyu merupakan satwa yang dilindungi.

Jumawan bahkan pernah membeli 50 telur penyu yang ditawarkan melalui Facebook. Telur tersebut tidak dikonsumsi, melainkan ditetaskan untuk kemudian dilepas kembali ke laut. Pada akhir 2019, ia mulai membentuk kelompok konservasi serta membangun kawasan edukasi yang bisa dikunjungi pelajar dan masyarakat tanpa tiket masuk. Pengunjung hanya dapat memberikan donasi sukarela untuk membantu kegiatan operasional.

Tiga tahun lalu, Jumawan juga menerima 90 telur penyu sisik dari nelayan. Telur-telur itu berhasil menetas. Sebagian tukik kemudian dilepaskan, termasuk seekor penyu bernama Patrick. Namun, Patrick kembali ke pantai pada hari berikutnya. Jumawan pun merawatnya di tempat karantina sampai benar-benar siap, sebab penyu hasil pemeliharaan tidak dapat dilepas sembarangan.

Upaya konservasi ini menghadapi tantangan lain, mulai dari tambak udang dan limbah yang tidak diolah, cahaya terang di sekitar pantai, aktivitas manusia, hingga perubahan iklim. Semua itu dapat mengganggu penyu mencari tempat bertelur dan memengaruhi perkembangan telur di dalam pasir.

Di tengah berbagai ancaman tersebut, patroli Jumawan terus berlangsung. Setiap telur yang dipindahkan ke tempat aman dan setiap tukik yang kembali ke laut menjadi bagian dari upaya panjang mempertahankan kehidupan penyu di pesisir Cilacap.

Foto utama: Jumawan menunjukkan penyu hijau di Konservasi Penyu Nagaraja, Cilacap, Jawa Tengah. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia.

Sorgum, Pangan Lokal Potensial yang Bisa Diolah Jadi Mie dan Roti Kaya Serat

Editor 11 Agu 2026

Sorgum bukan tanaman baru bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur. Tanaman pangan ini telah lama dibudidayakan petani setempat, terutama di daerah kering dan berbatu. Di tengah ancaman iklim dan krisis pangan, sorgum kembali dilihat sebagai bahan pangan yang berpotensi dikembangkan.

Pegiat sorgum asal Flores Timur, Maria Loretha, menyebut tanaman ini lebih tahan menghadapi krisis iklim dibandingkan padi dan jagung. Ketika terkena banjir atau angin kencang, batang jagung dapat patah. Sementara batang sorgum yang patah masih dapat tumbuh kembali.

Kemampuan tersebut membuat sorgum cocok dengan kondisi alam di sejumlah wilayah NTT. Meski demikian, pengembangannya tetap perlu dilakukan secara terarah. Menurut Maria, tidak seluruh wilayah NTT harus ditanami sorgum. Pemerintah perlu menentukan kawasan yang menjadi prioritas.

Sorgum juga memiliki nilai ekonomi bagi petani. Harga jualnya dapat mencapai hampir dua kali lipat harga jagung. Namun, pengembangan komoditas ini membutuhkan dukungan berupa mesin perontok, mesin sosoh, serta pihak yang menjamin hasil panen dapat diserap pasar.

Selain tahan tumbuh di lahan kering, sorgum memiliki potensi sebagai sumber pangan. Koalisi Pangan BAIK yang bekerja di Manggarai Timur, Flores Timur, dan Lembata menyebut tanaman ini memiliki struktur kompleks seperti pati, asam fenolat, dan antioksidan.

Berdasarkan uji laboratorium yang mereka lakukan, sorgum juga kaya serat dan bebas gluten. Sorgum juga ramah dikonsumsi penyintas diabetes.

Potensi sorgum tidak hanya terbatas sebagai makanan lokal. Tanaman ini juga dipandang dapat menjadi pengganti gandum untuk industri mie dan roti. Pemerintah mendorong pengembangannya jika Indonesia terdampak kebijakan larangan ekspor gandum dari sejumlah negara produsen.

Sorgum disebut secara genetik masih satu keluarga dengan gandum. Karena itu, pengembangan produksinya diharapkan dapat membantu menyediakan bahan baku alternatif bagi industri pangan yang selama ini memakai gandum.

Sorgum telah dikembangkan pada lahan seluas sekitar 15 ribu hektar. Wilayahnya mencakup Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Lampung.

Tingkat hasil panennya berbeda antarwilayah. Di NTT, produktivitas sorgum berada pada kisaran tiga hingga empat ton per hektar. Sementara di Jawa, hasilnya dapat mencapai empat hingga lima ton per hektar.

Pemerintah Provinsi NTT juga merencanakan pengembangan sorgum dalam skala lebih besar. Sekitar 800 ribu hektar lahan akan disiapkan, sementara 15 kabupaten diproyeksikan memanfaatkan masing-masing 100 hektar untuk budidaya.

Namun, produksi saja tidak cukup. Petani akan mempertimbangkan biaya penanaman dan pendapatan yang diperoleh. Karena itu, diperlukan benih unggul, peralatan pengolahan, serta kepastian pembeli agar hasil panen tidak berhenti di tingkat petani.

Sorgum memiliki sejumlah modal penting: telah lama dikenal petani NTT, mampu tumbuh di daerah kering berbatu, lebih tahan terhadap perubahan cuaca, dan dapat diolah sebagai pengganti gandum. Dengan dukungan budidaya, pengolahan, dan pasar, tanaman ini berpotensi menjadi pilihan sumber pangan Indonesia.

Artikel asli ditulis oleh Ebed de Rosary.

Foto utama: Pegiat sorgum asal Kabupaten Flores Timur, NTT, Maria Loretha menunjukkan sorgum di lahannya di Desa Kawalelo. Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia.

Kelong Cacak, Warisan Maritim yang Menjaga Laut Kepulauan Riau

Editor 10 Agu 2026

Di pesisir Pulau Karas, Kota Batam, Kepulauan Riau, deretan kayu ditancapkan ke dasar laut dan disusun menyerupai pagar. Di antara kayu-kayu tersebut terpasang jaring berbentuk segitiga dengan ukuran berbeda. Bangunan sederhana ini disebut kelong cacak, alat tangkap tradisional yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan dan cumi.

Kelong cacak dipasang pada jalur arus surut air laut. Ketika mengikuti arus, ikan masuk melalui bagian bernama bunuh luar yang terletak di antara dua sayap kelong. Dari sana, ikan bergerak menuju bunuh pari dan akhirnya terperangkap di bunuh mati.

Setelah ikan terkumpul, nelayan dapat mengambilnya dengan menarik jaring atau menyelam. Busri, nelayan Pulau Karas, lebih memilih menyelam untuk mengambil ikan dan cumi dari kelong miliknya.

Kelong cacak terdiri dari beberapa bagian, yaitu atas penajur, beremban sayap kiri dan kanan, bunuh luar, bunuh pari, bunuh mati, serta kayu bontot. Kayu-kayunya harus disusun menggunakan cara khusus agar tetap kuat ketika terkena arus laut maupun dinaiki nelayan.

Nelayan pesisir Batam biasanya memasang kelong menjelang musim ikan dingkis, sekitar November. Harga ikan tersebut dapat meningkat hingga 100 persen pada musimnya. Modal untuk membangun kelong cacak berkisar Rp6-10 juta.

Hasil tangkapannya tidak selalu sama. Dalam sekali panen, Busri dapat memperoleh sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. Saat bukan musim ikan dingkis, hasil dari kelong digunakan untuk memenuhi kebutuhan belanja sehari-hari.

Sebuah penelitian dari Universitas Riau Kepulauan pada 2022 menyebut kelong sebagai alat tangkap ramah lingkungan sekaligus bentuk kearifan lokal. Kelong tidak hanya menjadi alat untuk memperoleh ikan, tetapi juga bagian dari cara masyarakat pesisir mengatur pemanfaatan ruang laut.

Lokasi pemasangan kelong harus mendapat izin dari desa. Setelah izin diperoleh, tempat tersebut menjadi hak khusus nelayan yang memasangnya. Jika pemilik tidak lagi menggunakan lokasi itu, orang lain yang ingin memanfaatkannya harus meminta izin kepada pemilik sebelumnya.

Dedi Supriadi Adhuri, peneliti BRIN, mengatakan praktik tersebut menunjukkan adanya sistem tenurial khusus yang diakui oleh masyarakat setempat. Artinya, masyarakat pesisir memiliki aturan sendiri mengenai siapa yang berhak menggunakan bagian tertentu dari perairan.

Tradisi mendirikan kelong juga telah lama dikenal masyarakat Melayu Kepulauan Riau. Di Kampung Malang Rapat, Kabupaten Bintan, terdapat rangkaian upacara mulai dari meramu kayu, doa selamat, hingga tepung tawar. Keseluruhannya disebut upacara mendirikan atau menyacak kelong, yaitu menancapkan kayu-kayu ke dasar laut.

Pendirian kelong dilakukan melalui gotong royong. Catatan sejarah menunjukkan tradisi ini telah berlangsung setidaknya sejak abad ke-19. Pada masa Kesultanan Riau Lingga, Mahkamah Kerajaan telah menerbitkan surat izin untuk usaha kelong.

Kelong cacak memperlihatkan bagaimana alat tangkap, tradisi, dan aturan masyarakat bertemu dalam satu praktik. Jaring dan susunan kayunya menangkap ikan dengan memanfaatkan arus laut, sementara pemasangannya mengikuti izin serta kesepakatan yang berlaku di tengah masyarakat.

Foto utama: Busri menangkap ikan di kelong cacak miliknya di pesisir Pulau Karas, Kota Batam, Kepri. Foto: Yogi Eka Sahputra/Mongabay Indonesia.

Resak Brebes, Pohon Langka yang Hanya Ada di Jawa

Editor 10 Agu 2026

Namanya mungkin belum sepopuler jati atau mahoni. Namun, resak brebes merupakan salah satu kekayaan tumbuhan Pulau Jawa yang keberadaannya semakin terancam. Pohon bernama ilmiah Vatica javanica ssp. javanica ini merupakan tumbuhan endemik Jawa.

Resak brebes juga dikenal dengan nama kruing laki dan pelahlar laki. Ukurannya tergolong kecil hingga sedang. Tingginya dapat mencapai 27 meter dengan diameter batang setinggi dada sekitar 25 sentimeter.

Batangnya memiliki ciri khas berupa permukaan berwarna putih keabuan atau cokelat keabuan. Batangnya lurus dengan garis-garis mendatar yang melingkar. Sementara rantingnya ditutupi bulu-bulu halus yang rapat.

Kayu resak brebes dikenal keras dan kuat. Karakter tersebut membuatnya berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi, seperti untuk rumah dan jembatan, bahkan untuk membuat ukiran.

Sayangnya, keberadaan pohon ini terus mengalami tekanan. Buku “Daftar Merah 50 Jenis Pohon Kayu Komersial” yang diterbitkan Pusat Penelitian Biologi LIPI, kini BRIN, menyebut populasinya diperkirakan menurun hingga 50 persen dalam kurun 100 tahun. Kualitas habitatnya juga mengalami penurunan.

Ancaman utamanya datang dari perubahan hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, dan permukiman yang terjadi secara masif di Pulau Jawa. Kondisi tersebut membuat habitat resak brebes semakin terdesak dan populasinya menurun.

Gambaran keberadaannya dapat dilihat di Desa Capar, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Pada Oktober 2021, komunitas Biologi Satu melakukan ekspedisi selama tiga bulan untuk mendata populasi resak brebes, mencatat ancaman, sekaligus mengenalkan pentingnya pelestarian pohon ini kepada masyarakat.

Pengamatan dilakukan pada delapan plot berukuran masing-masing 20 × 20 meter. Hasilnya, ekspedisi mendata 260 individu per hektare. Peneliti juga mencatat 200 seedling atau anakan pohon dengan tinggi kurang dari 150 sentimeter.

Namun, jumlahnya menurun pada tahap pertumbuhan berikutnya. Hanya tercatat 19 sapling atau pohon muda dengan tinggi lebih dari 150 sentimeter dan diameter 5–10 sentimeter. Sementara pohon pada kategori tiang dengan diameter 10–20 sentimeter hanya ditemukan sebanyak 15 individu.

Di lokasi tersebut, ancaman yang ditemukan antara lain penebangan kayu gelondongan dan pembukaan lahan. Habitat resak brebes juga terbilang kecil. Sebagian lahan dibuka masyarakat untuk dijadikan kebun kopi karena dinilai lebih produktif dan memberikan keuntungan ekonomi.

Upaya penyelamatan terus dilakukan. Setelah ekspedisi selesai, komunitas Biologi Satu melakukan kampanye ke sekolah-sekolah, pemerintah desa, dan melalui media sosial. Mereka juga menjalankan program adopsi pohon di Desa Capar serta penggalangan dana untuk mendukung kegiatan konservasi.

Ancaman yang dihadapi resak brebes juga menggambarkan persoalan pohon langka lainnya. Pemanfaatan berlebihan dan penyempitan habitat dapat menekan populasinya. Kerusakan habitat juga dapat menurunkan variasi genetik dan kesehatan jenis pohon.

Regenerasi pohon bahkan berhubungan dengan keberadaan satwa yang membantu penyerbukan bunga dan penyebaran biji. Ketika lingkungan dan habitat satwa ikut rusak, proses regenerasi pohon menjadi semakin sulit.

Resak brebes mungkin hanya satu jenis pohon di antara tingginya keanekaragaman tumbuhan Indonesia. Namun, karena hanya hidup alami di Jawa, hilangnya pohon ini berarti hilangnya salah satu tumbuhan endemik Pulau Jawa.

Foto utama: Pohon sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, satwa, dan Bumi tempat kita hidup. Foto: Rhett Butler/Mongabay.

Kepiting Raksasa Ini Bisa Angkat Beban 29 Kg dan Suka Makan Kelapa

Akhyari Hananto 9 Agu 2026

Bayangkan seekor kepiting dengan berat mencapai empat kilogram, tubuh sepanjang 40 sentimeter, dan bentangan kaki hingga dua meter.

Satwa ini memiliki banyak nama. Selain kepiting kenari, ia juga dikenal sebagai ketam kenari, kepiting kelapa, dan kepiting pencuri atau robber crab. Sebutan terakhir berkaitan dengan kebiasaannya mengambil kelapa untuk dimakan.

Kepiting kenari merupakan satwa dilindungi berdasarkan SK MenHut No.12/Kpts/II/1987 dan Peraturan Pemerintah No.7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Dan masuk dalam Daftar Merah Spesies IUCN dengan status Rentan (Vulnerable/VU).

Meski berstatus hewan dilindungi, tetapi kepiting kenari kerap diburu dan dijual untuk dikonsumsi. Bahkan harganya sangat mahal, bisa mencapai Rp800.000 per ekornya.

Di Indonesia, kepiting kenari dapat ditemukan di beberapa wilayah, salah satunya Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Di kawasan ini, mereka biasa tinggal di lubang-lubang bebatuan di pesisir pantai atau di antara bekas kayu.

Kepiting kenari memiliki ketertarikan kuat terhadap kelapa. Warga Togean bahkan menggunakan potongan daging kelapa sebagai umpan. Potongan itu ditebar di sekitar lubang persembunyian. Saat malam tiba, kepiting akan mencium aroma kelapa, keluar dari lubangnya, lalu memakan umpan tersebut.

Mengapa kepiting kenari begitu menyukai kelapa? Jawabannya ternyata belum benar-benar diketahui. Artikel Mongabay Indonesia mencatat belum banyak penelitian yang menjelaskan alasan di balik kegemaran tersebut. Namun, penelitian di Kepulauan Togean menunjukkan bahwa buah kelapa merupakan umpan paling efektif untuk menariknya keluar dari lubang.

Kemampuan kepiting kenari juga tidak bisa dianggap remeh. Capitnya sangat kuat dan disebut mampu mengangkat beban hingga 29 kilogram. Selain itu, satwa ini mampu memanjat pohon kelapa, kemampuan yang ikut menarik perhatian wisatawan yang datang ke Kepulauan Togean.

Kepiting kenari tersebar di kawasan tropis, mulai dari Afrika hingga kepulauan di Pasifik. Di Indonesia, satwa ini hidup di pulau-pulau karang yang memiliki gua atau lubang sebagai tempat persembunyian.

Perilakunya juga dapat berbeda tergantung keberadaan manusia. Di pulau yang tidak dihuni manusia, kepiting kenari dapat terlihat keluar pada siang hari. Namun, jika hidup berdekatan dengan manusia, mereka lebih banyak keluar pada malam hari.

Sayangnya, ukuran tubuh yang besar dan dagingnya membuat kepiting kenari banyak ditangkap untuk dikonsumsi maupun dijual. Di Kepulauan Togean, harganya berkisar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram. Pembeli dari kota juga memesan kepiting kepada warga.

Akibatnya, masyarakat setempat mengatakan kepiting kenari semakin sulit ditemukan. Penangkapan ilegal juga masih terjadi di sejumlah kepulauan Indonesia Timur, baik untuk konsumsi sendiri maupun untuk dijual ke kota-kota besar dan disajikan di restoran.

Hingga penelitian yang dikutip Mongabay dilakukan, belum ada data pasti mengenai jumlah populasi kepiting kenari maupun banyaknya penangkapan ilegal di pulau-pulau Indonesia Timur.

Upaya pelestarian pun perlu menyasar satwa sekaligus habitatnya. Lubang-lubang yang menjadi tempat persembunyian kepiting tidak boleh dibongkar atau ditimbun. Pengambilannya juga perlu memperhatikan jumlah, ukuran, jenis, kondisi, waktu, serta lokasi.

Dengan ukuran raksasa, capit yang kuat, kemampuan memanjat pohon, dan kegemarannya terhadap kelapa, kepiting kenari memang istimewa. Namun, keunikan itulah yang juga membuatnya banyak dicari manusia.

Artikel asli ditulis oleh Christopel Paino.

Foto utama: Kepiting kenari yang merupakan kepiting terbesar di dunia. Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.