Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua

Terbaru

Cerita fitur

Kisah Para Pemburu Hiu Beralih jadi Pemandu Wisata

Achmad Rizki Muazam 28 Sep 2026

Jalan Panjang Menuju Dunia Bebas Rabies

Nuswantoro 28 Sep 2026

Keledai, Kuda, dan Kerbau: Mengapa Si Kecil Justru Kuat Memikul Beban Terberat?

Akhyari Hananto 28 Sep 2026
Cerita fitur

Jelajah Meratus: Energi Surya Terangi Desa Tertinggi di Kalimantan Selatan [3]

Rendy Tisna 28 Sep 2026

Asa Gerakan Perempuan dan Pemuda Pejuang Reforma Agraria

Yulia Adiningsih 27 Sep 2026

Cemara Laut Bikin Pesisir Kebumen Sejuk dan Lindungi Tanaman Pertanian Warga

L Darmawan 27 Sep 2026
Semua berita

Berita utama

Kisah Para Pemburu Hiu Beralih jadi Pemandu Wisata

Achmad Rizki Muazam 28 Sep 2026

Jelajah Meratus: Energi Surya Terangi Desa Tertinggi di Kalimantan Selatan [3]

Rendy Tisna 28 Sep 2026

Warga Pulau Kecil Maluku Utara Darurat Kekeringan

Mahmud Ichi 27 Sep 2026

Kebakaran Hutan Bahayakan Kesehatan Masyarakat dan Rugikan Ekonomi

Irfan Maulana 26 Sep 2026

Banjir Bandang Terjang Solok, Dampak Alih Fungsi Hutan?

Jaka Hendra Baittri, Vinolia 26 Sep 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan

Kebakaran Hutan Bahayakan Kesehatan Masyarakat dan Rugikan Ekonomi

Irfan Maulana 26 Sep 2026

Terjadi Lonjakan Sakit Pernapasan Dampak Asap Kebakaran Hutan

Achmad Rizki Muazam 16 Sep 2026

Asap Karhutla Tak Kenal Batas Administratif, Bikin Manusia dan Satwa Liar Menderita

Christopel Paino 15 Sep 2026

Tuntut Pemerintah Lindungi Warga Terdampak Asap Karhutla

Jaka Hendra Baittri, Suryadi 13 Sep 2026

Kemarau panjang menyebabkan kekeringan. Kebakaran hutan dan lahan parah pun terjadi di Kalimantan, Sumatera, sampai Papua. Masyarakat pun harus menghirup udara beracun dari asap karhutla. Petugas maupun relawan pemadam kebakaran sudah ada yang meninggal dunia karena terpapar lama asap berbahaya karhutla ini. Kementerian Kesehatan pada pertengahan Agustus lalu mencatat, lebih dari 3 juta warga di […]

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan series

Lebih spesial

9 cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

9 cerita

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Ekowisata Berbasis Riset untuk Menjaga Hutan Sungai Lesan

Akita Verselita 25 Sep 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Leah Varjacques, Rizky Rahad, Sandy Watt 1 Sep 2026

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Mangrove Pesisir Banda Aceh Hilang, Burung Migran Tak Punya Rumah Singgah

Karen Anastasia Surbakti* 28 Sep 2026

Kawasan pesisir Banda Aceh merupakan jalur migrasi East Asia-Australian Flyway (EAAF). Salah satunya yang berada di pesisir Pantai Lampulo, Kota Banda Aceh. Jalur ini menjadi tempat persinggahan sekaligus jalur akhir migrasi bagi banyak burung di dunia.

Setidaknya, ada 17 spesies burung migran dari Asia hingga Eropa yang singgah. Biasanya mereka mencari makan, istirahat, dan singgah sebelum melanjutkan perjalanan.

Antara lain, ada biru laut ekor blorok yang terkenal dengan kemampuan terbang tanpa-henti dan jalur terpanjang mencapai 13.560 km dari Alaska, trinil pembalik batu (Arenaria interpres), trinil kaki merah (Tringa totanus), jenis burung cerek, gajahan, kicuit kerbau dan jenis lain.

Sayangnya, menyempitnya mangrove di wilayah pesisir Aceh berdampak pada hadirnya burung migran. Penelitian Mira dkk. (2020) luas lahan mangrove di pesisir Banda Aceh mengalami pengurangan signifikan mencapai 52,13% sejak 2004 hingga 2009, dari 600 hektar menjadi 287,19 hektar. Penyebabnya karena alih fungsi menjadi lahan pemukiman. Wilayah tersebar di lima kecamatan, diantaranya Jaya Baru, Kuta Alam, Kuta Raja, Meuraxa, dan Syiah Kuala.

Eddy Safari, Kepala Bidang Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan (BP2L) DLHK3 menyebutkan sekitar 10% lahan mangrove telah menjadi milik pribadi. Di kawasan mangrove Kuta Alam, sebanyak lima jenis spesies sudah tidak dapat lagi ditemukan sejak adanya penimbunan kawasan untuk membangun Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sejak tahun 2012. 

Hingga Februari 2025, hanya empat spesies burung yang terlihat, yaitu trinil kaki merah, cerek krenyut, cerek pasir tibet, dan trinil pembalik batu. Burung tersebut pun jumlahnya hanya mencapai kurang dari 100 ekor saja, berkurang jauh dari biasanya yang mencapai 2.000an ekor. 

Tentu, penyusutan ini berdampak bagi rantai ekosistem di pesisir Banda Aceh. 

Ekosistem mangrove dan burung migran nyatanya memiliki simbiosis mutualisme. Tanaman bakau (bakau hitam dan api-api putih) yang kaya akan cacing dan krustasea menjadi pakan utama bagi burung migran. Sebaliknya, burung migran juga berperan mengendalikan hama dengan memakan serangga, gastropoda, dan invertebrata penggerek akar mangrove.

Bahkan, burung migrasi (trinil dan plover) dapat mengontrol populasi hama hingga 30-50% saat musim migrasi. Tak hanya itu, burung dara laut (Chlidonias spp.) juga berperan sebagai “petani hutan” yang menyebarkan bibit mangrove hingga ke pesisir Aceh Timur atau Utara. 

Sayangnya, ancaman menyempitnya mangrove ini bukan menjadi sesuatu yang serius dan dampaknya kerap tidak terlihat secara langsung. Padahal, hal ini berdampak panjang dan menjalar ke berbagai komponen seperti mempengaruhi produktivitas tanaman dan penyebaran biji. 

“Beberapa burung berperan dalam penyebaran propagul atau biji. Ketidakhadiran mereka dapat mengurangi regenerasi alami dan memperlambat pemulihan vegetasi mangrove, terutama di area yang terganggu,” kata Rita Andini, peneliti bidang biodiversitas, konservasi, dan rekayasa genetik tumbuhan BRIN. 

 

Area tambak dan kawasan ekosistem mangrove di pesisir Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, yang telah beralih fungsi menjadi area perumahan. Foto: Nurul Hasanah/Mongabay Indonesia

Pohon Ini Hidup di Gurun Bahrain Selama 400 Tahun

Editor 28 Sep 2026

Di tengah gurun Bahrain, sebuah pohon berdiri sendirian di atas bukit kecil yang tandus. Tidak ada sungai, waduk, atau sumur aktif yang tampak di sekitarnya. Namun, pohon yang dikenal sebagai Tree of Life atau Shajarat al-Hayat ini disebut telah hidup lebih dari 400 tahun. Bagaimana ia bertahan di tempat yang tampaknya tidak menyediakan cukup air?

Artikel tersebut menyebut pohon ini diduga berasal dari genus Prosopis, kemungkinan Prosopis cineraria atau Prosopis juliflora. Keduanya dikenal mampu hidup di lingkungan kering, tetapi spesies Pohon Kehidupan belum dipastikan. Karena itu, penjelasan tentang cara bertahannya masih berupa sejumlah dugaan yang didasarkan pada sifat pohon Prosopis dan kondisi lokasi.

Dugaan utama mengarah ke akarnya. Akar Prosopis dapat tumbuh sangat dalam dan luas, memungkinkan pohon menjangkau simpanan air di bawah permukaan tanah. Para ilmuwan menduga Pohon Kehidupan memperoleh air dari akuifer yang tersembunyi di bawah gurun. Sumber air tersebut tidak terlihat oleh pengunjung yang datang ke lokasi.

Temuan arkeologis menambah kemungkinan lain. Dalam penggalian pada 2010, ditemukan sisa permukiman kuno serta kemungkinan bekas sumur atau saluran air di sekitar pohon. Temuan itu menunjukkan kawasan tersebut mungkin pernah memiliki akses air. Meski demikian, bekas saluran atau sumur belum membuktikan bahwa akar pohon saat ini menggunakan sumber air yang sama.

Selain mencari air, pohon perlu mengurangi jumlah air yang hilang. Daun Prosopis terdiri atas banyak anak daun kecil, yang membantu membatasi penguapan. Dalam kondisi sangat kering, pohon ini juga dapat menggugurkan daunnya. Artikel tersebut turut menyebut hubungan akar dengan jamur tanah dan bakteri pengikat nitrogen, yang membantu pohon memperoleh sumber daya dari tanah. Embun malam disebut sebagai kemungkinan tambahan pasokan air, walau perannya pada Pohon Kehidupan belum dipastikan.

Pohon ini juga hidup dalam cerita masyarakat Bahrain. Sejumlah legenda mengaitkan lokasinya dengan tempat suci dan mata air bawah tanah. Kini, Pohon Kehidupan menjadi tujuan wisata sekaligus simbol yang digunakan dalam pendidikan lingkungan.

Popularitas itu membawa tekanan. Aktivitas pengunjung dan vandalisme pernah menyebabkan kerusakan pada batangnya. Pemerintah kemudian memasang pagar, membangun pusat informasi, dan membatasi akses langsung ke pohon.

Pertanyaan tentang sumber airnya belum sepenuhnya terjawab. Sementara penelitian berupaya menjelaskan bagaimana pohon ini bertahan, perlindungan di sekitarnya membantu menjaga agar Pohon Kehidupan tetap dapat tumbuh di tengah gurun.

foto utama: Pohon ini dikenal sebagai Tree of Life atau Shajarat al-Hayat, yang dalam bahasa Arab berarti “Pohon Kehidupan.” Keberadaannya telah membingungkan ilmuwan, menarik minat arkeolog | Zairon – Own work CC BY-SA 4.0 Wikimedia.
Pohon ini dikenal sebagai Tree of Life atau Shajarat al-Hayat, yang dalam bahasa Arab berarti "Pohon Kehidupan." Keberadaannya telah membingungkan ilmuwan, menarik minat arkeolog | Zairon - Own work CC BY-SA 4.0 wikimedia

Ular Bodoh Papua, Sulit Terlihat dan Cepat Menyerang Mangsa

Editor 28 Sep 2026

Di antara tumpukan daun lembap di Papua, seekor ular bisa saja berada sangat dekat tanpa terlihat. Tubuhnya bercorak merah, cokelat, dan hitam, menyatu dengan serasah serta ranting di sekitarnya. Bahkan ketika didekati, ular ini cenderung tetap diam. Perilaku itulah yang membuat masyarakat setempat menjulukinya “ular bodoh”.

“Ketika di rerumputan atau tempat lembab, jenis ini terlihat diam. Bahkan, ketika kita sentuh dengan kayu atau dengan benda lain, dia memilih diam. Itulah alasan dinamakan ular bodoh,” kata Hari Suroto, peneliti Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN.

Julukan itu menutupi kemampuan berburu yang khas. Ular dari genus Acanthophis, yang dikenal pula sebagai Death Adder, tidak mengejar mangsa secara aktif. Ia menunggu di satu tempat, sering kali dengan tubuh tertutup daun. Warna tubuhnya membantu ular tetap tersamar di hutan, semak belukar, maupun padang rumput.

Bagian ujung ekornya menyerupai cacing. Saat ekor itu bergerak, hewan lain dapat mendekat untuk menyelidikinya. Ular kemudian menyergap, menyuntikkan bisa, dan menunggu sebelum memakan mangsanya. Perpaduan antara kamuflase, sikap diam, dan serangan mendadak memungkinkan Death Adder menangkap hewan yang bergerak cepat.

Tubuh ular ini pendek dan gemuk, dengan panjang sekitar 40-70 sentimeter. Kepalanya digambarkan berbentuk seperti kapak, matanya berpupil vertikal, dan taringnya panjang. Meski bentuk tubuh dan cara berburunya menyerupai kelompok ular lain, penelitian yang dikutip dalam artikel menempatkannya dalam famili Elapidae, satu keluarga dengan kobra dan welang.

Sikap diamnya justru membuat perjumpaan dengan manusia berisiko. Hari mengatakan masyarakat Papua berhati-hati ketika melewati tumpukan daun lembap. Menurutnya, saat melihat ular bodoh, sebagian warga menyebutnya “tali” kepada orang di dekat mereka agar rombongan tetap tenang dan memperhatikan tempat yang dilalui.

Risikonya bukan sekadar dugaan. Artikel tersebut mencatat seorang anggota Brimob meninggal setelah digigit Death Adder di Timika pada 2019. Hari mengingatkan bahwa ular yang tidak segera terlihat dapat terinjak dan menggigit. Artikel itu juga menggambarkan serangannya sebagai sangat cepat, kurang dari 0,13 detik.

Dengan demikian, “bodoh” bukan gambaran kemampuan ular ini. Diam adalah bagian dari cara hidupnya: menyamarkan diri, menunggu mangsa, lalu menyerang ketika kesempatan datang. Justru karena jarang bergerak dan sulit dibedakan dari lantai hutan, keberadaannya mudah terlewat oleh orang yang melintas.

Foto utama: Ular jenis Death Adder (Acanthophis antarcticus) yang ditemukan di Australia. Foto: Melissa Bruton/Australian Museum/CC BY-NC 4.0.

Megalit Pasemah Merekam Hubungan Manusia Prasejarah, Air, dan Satwa Liar

Editor 27 Sep 2026

Jalan menuju Situs Tinggi Hari berkelok naik melewati perbukitan Gumay, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Dari kawasan ini, terlihat lembah yang dialiri Sungai Liem dan terhubung dengan Sungai Lematang. Di antara bukit dan aliran air itulah tersimpan arca, menhir, lesung batu, serta tinggalan lain dari peradaban megalitik Pasemah.

Tinggi Hari terdiri atas tiga situs, yakni Tinggi Hari I, II, dan III. Ketiganya merupakan bagian dari lanskap megalitik Pasemah yang membentang di Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam, dan Kabupaten Empat Lawang. Di seluruh kawasan tersebut tercatat sekitar 1.165 benda megalitik, termasuk 85 arca dan 25 bilik batu.

Salah satu hal yang menarik perhatian peneliti ialah letak tinggalan-tinggalan itu. “Situs-situs megalitik di bumi Pasemah, banyak ditemukan atau terletak tidak jauh dari sumber air, baik itu sungai, tebat, atau danau,” kata Mario Andramartik, anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Lahat. Menurutnya, lokasi tersebut menunjukkan pentingnya air bagi masyarakat pada masa itu.

Jejak kehidupan dekat air juga terlihat pada guratan dan lukisan di batu-batu tepi sungai. Arkeolog BRIN, Sondang M Siregar, membayangkan masyarakat melakukan kegiatan sehari-hari di sekitar aliran sungai sambil membuat gambar. “Mereka menikmati kehidupan di tepi aliran sungai,” ujarnya.

Selain air, satwa hadir dalam tinggalan Pasemah. Sejumlah arca memperlihatkan manusia bersama gajah, harimau, kerbau, ular, atau buaya. Ada satwa yang digambarkan di samping manusia, ditunggangi, maupun dibopong. “Ini mencerminkan, menggambarkan, bahwa manusia pada masa itu, sudah sangat harmonis hubungannya dengan satwa,” kata Mario.

Sondang menjelaskan bahwa arca manusia berkaitan dengan penghormatan kepada nenek moyang. Adapun penggambaran manusia bersama satwa menunjukkan hewan-hewan tersebut disegani dan dihormati. Di antara arca itu terdapat pula sosok ibu menggendong anak. Menurut Sondang, figur ibu menunjukkan pentingnya peran perempuan dalam menjaga keluarga dan generasi penerus.

Tinggalan Pasemah juga menyimpan jejak kehidupan dari masa yang panjang. Sondang menyebut hasil penanggalan sampel dari Kota Raya Lembak menunjukkan abad ke-10 Masehi, ketika Kedatuan Sriwijaya masih berkembang di kawasan Sungai Musi.

Kini, menjaga situs berarti turut menjaga bentang alam tempatnya berada. Dari 101 titik situs megalitik Pasemah, baru enam yang ditetapkan sebagai cagar budaya. Mario menilai perlindungan dan penelitian lebih lanjut diperlukan agar pengetahuan yang tersimpan dalam arca, batu, sungai, dan lanskapnya tetap dapat dipelajari.

Foto utama: Wajah salah satu arca manusia, yang lebih menjelaskan wajah Austro-Melanesia dibandingkan Austronesia. Wajah bulat panjang, rambut ikal atau keriting, mata besar, hidung pesek, dan bibir tebal. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.

Air Laut Berubah Warna, Apa yang Terjadi Saat Alga Meledak?

Editor 27 Sep 2026

Air laut di kawasan pesisir kadang berubah warna menjadi hijau pekat, merah, atau kecokelatan. Permukaannya seolah tertutup lapisan asing. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah ledakan alga, yaitu pertumbuhan alga dalam jumlah sangat besar ketika kondisi perairan mendukung. Fenomena ini sudah pernah terjadi di Indonesia, meski menurut pakar ekologi laut BRIN, Tumpak Sidabutar, tidak sering.

Ario Damar, pakar ekologi perairan pesisir IPB University, menjelaskan bahwa pemicunya berkaitan dengan peningkatan nutrien di air. Dari permukiman, lahan pertanian, peternakan, dan kegiatan budi daya perikanan, bahan organik dapat terbawa sungai hingga ke pesisir. Bakteri kemudian menguraikannya menjadi nutrien, antara lain nitrat, nitrit, amonia, dan fosfat. Alga memanfaatkan zat-zat tersebut untuk tumbuh.

Ketika nutrien tersedia berlebihan, kondisi perairan disebut mengalami eutrofikasi. Namun, alga tidak hanya membutuhkan nutrien. Cahaya matahari serta keadaan fisik perairan juga mempengaruhi pertumbuhannya. Di tempat yang arusnya relatif tenang, nutrien dapat bertahan lebih lama. Ario menyebut Teluk Jakarta, Teluk Banten, dan Teluk Lampung sebagai contoh wilayah perairan yang perlu diperhatikan.

Pertumbuhan alga yang melimpah dapat menimbulkan masalah meskipun alganya tidak menghasilkan racun. Pada siang hari, alga melakukan fotosintesis dengan bantuan cahaya matahari. Malam harinya, alga melakukan respirasi dan menggunakan oksigen. Jika jumlah alga sangat banyak, kadar oksigen di air dapat turun drastis. Penguraian bahan organik oleh bakteri juga berkaitan dengan penurunan oksigen tersebut.

Bagi ikan dan organisme lain, kekurangan oksigen dapat berakibat fatal. “Ikan dan organisme laut akan sulit bertahan hidup,” kata Tumpak. Ia mengingatkan bahwa perubahan warna air bukan sekadar peristiwa yang tampak di permukaan. “Blooming adalah indikator perairan tidak seimbang,” ujarnya.

Sebagian ledakan alga membawa risiko tambahan karena menghasilkan racun. Artikel tersebut menyebut racun dapat masuk ke rantai makanan melalui organisme penyaring air, seperti kerang. Jika kerang yang terkontaminasi dikonsumsi, manusia dapat mengalami diare, muntah, dan gangguan kesehatan lain. Bagi masyarakat pesisir, dampaknya juga dapat berupa penurunan hasil tangkapan serta terganggunya kegiatan wisata.

Tumpak menyebut diatom, dinoflagellata, dan cyanobacteria sebagai kelompok yang dapat muncul dalam peristiwa ledakan alga. Masing-masing memiliki karakter berbeda. Karena itu, perubahan warna air saja belum cukup untuk memastikan jenis alga maupun apakah ledakan tersebut beracun.

Menurut Ario, Indonesia belum memiliki surveilans rutin untuk mendeteksi ledakan alga. Ia menekankan perlunya mengurangi pencemaran dari daratan, terutama di kawasan padat penduduk. Deteksi dini juga diperlukan agar perubahan kondisi perairan dapat dikenali sebelum dampaknya semakin besar.

Foto utama: Ikan longfin damselfish [Stegastes diencaeus] yang juga disebut ikan petani, membudidayakan alga dengan memanfaatkan kotorannya untuk dijadikan pupuk penyubur. Foto: Rohan Brooker/Griffith University.

Dua Warga Taliabu jadi Korban Ular Piton, Habitat Terganggu?

Editor 26 Sep 2026

Elizabeth Yamalu pergi untuk memindahkan sapi yang terikat sekitar 400 meter dari rumahnya di Desa Ratahaya, Pulau Taliabu, Maluku Utara, pada Juni 2026. Ketika tak kunjung pulang, suaminya, Menjamin Lanto, pergi mencari. Dia menemukan Elizabeth dalam lilitan piton besar. Elizabeth meninggal dunia. Beberapa hari kemudian, seorang warga Desa Padang juga tewas setelah diserang piton saat hendak pergi ke kebun.

Dua peristiwa itu membuat warga waswas. Mereka mengatakan piton berukuran besar semakin sering ditemukan di kebun, dekat permukiman, sungai, bahkan kantor pemerintahan. Yulius Lait, tokoh adat Desa Natang Kuning, merasa kemunculannya berbeda dari yang pernah ia saksikan. “Sepanjang usia hidup ini, dari muda sampai tua belum ada ular yang keluar sebanyak ini. Apalagi sampe telan orang,” katanya.

Sejumlah warga menduga perubahan hutan di sekitar desa berkaitan dengan kemunculan piton. Desa Padang, misalnya, berbatasan dengan kawasan konsesi pertambangan. Namun, dugaan tersebut masih perlu diuji.

Jaringan Pemantau Independen Kehutanan (JPIK) Maluku Utara mencatat perubahan tutupan hutan Taliabu seluas 38.257,4 hektar sepanjang 2001–2025. Menurut Irsandi Hidayat, Koordinator JPIK Malut, pembukaan hutan untuk pertambangan dan kegiatan perusahaan kayu dapat mengubah habitat serta memutus hubungan antara kawasan yang digunakan satwa untuk bergerak.

“Ketika ruang jelajah semakin menyempit, satwa berpotensi keluar dari habitat alaminya dan mendekati permukiman,” ujarnya. Meski demikian, data perubahan tutupan hutan itu belum membuktikan penyebab setiap kemunculan piton di desa.

Yeni Purnamasari dari BKSDA Maluku-Malut mengatakan berkurangnya mangsa di hutan dapat mendorong piton mencari makanan di tempat lain. BKSDA belum memiliki data resmi mengenai jumlah piton maupun lokasi habitatnya di Taliabu. Karena itu, perubahan pergerakan satwa tersebut belum dapat dipastikan dari pemantauan populasi.

Qomar Arif Madi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Taliabu, juga belum menyimpulkan pertambangan sebagai penyebab langsung. Pemerintah daerah tengah mendata lokasi dan waktu kemunculan piton. Menurutnya, titik-titik itu perlu dibandingkan dengan batas konsesi, pembukaan lahan, tutupan hutan, dan habitat satwa. “Kami belum memiliki data pembanding yang cukup dan terverifikasi,” katanya.

Pihak PT Adidaya Tangguh membantah kemunculan piton di sekitar desa disebabkan aktivitas tambangnya dan menduga cuaca panas turut berperan. Sementara itu, Much. Hidayah Marasabessy, pengajar kehutanan Universitas Khairun, mengatakan kerusakan habitat dan berkurangnya mangsa dapat memengaruhi pergerakan piton, tetapi perubahan cuaca juga mungkin berpengaruh.

Bagi warga Taliabu, ancaman perjumpaan dengan piton sudah terasa. Menjelaskan penyebabnya memerlukan data tentang satwa dan perubahan lahan, agar dugaan yang muncul setelah dua kematian tersebut dapat diperiksa.

Foto utama: Ular piton memiliki kemampuan melilit mangsa yang kuat. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.