Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Cerita fitur

Inisiatif Nelayan Gurita Ende Jaga Laut Flores Selatan

Ebed de Rosary 21 Sep 2026

Bukan Kolong, Hutan Tumbek Sumber Air Bersih Masyarakat Bangka Belitung

Nopri Ismi 21 Sep 2026
Cerita fitur

Piton Telan Dua Warga Taliabu, Habitat Ular Rusak?

Fadli Kayoa, Rabul Sawal 21 Sep 2026

Jatam Kritik Kebijakan Berlabel Tranisisi Energi Justru Berisiko bagi Masyarakat

Rabul Sawal 20 Sep 2026
Cerita fitur

Lonjakan Tajam Kebakaran Ancam Target Tekan Emisi Hutan dan Lahan

Sarjan Lahay 20 Sep 2026

Bagaimana Jepang Habiskan 25 Tahun demi Membasmi Garangan Pemburu Ular di Satu Pulau

Akhyari Hananto 20 Sep 2026
Semua berita

Berita utama

Inisiatif Nelayan Gurita Ende Jaga Laut Flores Selatan

Piton Telan Dua Warga Taliabu, Habitat Ular Rusak?

Fadli Kayoa, Rabul Sawal 21 Sep 2026

Lonjakan Tajam Kebakaran Ancam Target Tekan Emisi Hutan dan Lahan

Sarjan Lahay 20 Sep 2026
sejumlah petani sibuk memetik polong-polongan koro pedang (Canavalia ensiformis) di Desa Lamteuba, Kabupaten Aceh Besar. Foto: Nurul Hasanah/ Mongabay Indonesia

Tahan Iklim, Petani Aceh Lirik Potensi Kacang Koro Pedang

Nurul Hasanah 20 Sep 2026

Kasus Penyelundupan 3 Ton Sisik Trenggiling Berbuntut Gugatan Pemulihan Lingkungan

Triyo Handoko 20 Sep 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Pala Fakfak, dengan buah lonjong. Foto: Eko Rusdianto/ Mongabay Indonesia
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

Ke Mana Air Itu Mengalir? Dari Gua Legaelol ke Sungai Sagea: Jejak Air yang Ungkap Ancaman di Hulu

Aziz Fardhani Jaya * 16 Jun 2026

Spesies Baru: Ikan Tanpa Mata Ini Bernama Barbodes klapanunggalensis

Nopri Ismi 27 Feb 2025

Mencari Laba-laba Mata Kecil Jantan Pertama Indonesia di Gua Karst Jonggrangan

Cahyo Rahmadi* dan Sidiq Harjanto** 13 Sep 2024

Karst Sagea Halmahera: Antara Megahnya Gua Bokimoruru dan Ancaman Rusaknya Ekosistem

Aziz Fardhani Jaya * 21 Okt 2023

Gua dan bentang karst menyimpan rekaman penting perjalanan bumi. Di dalamnya terdapat fauna unik hasil adaptasi ekstrem, peninggalan seni prasejarah tertua, serta sistem hidrologi bawah tanah penyuplai air bersih bagi jutaan orang. Kawasan ini menghadapi ancaman nyata dari aktivitas tambang dan alih fungsi lahan. Sains bawah tanah, jejak awal manusia, dan ancaman kerusakan lingkungan saling […]

Jejak Rapuh Gua dan Karst series

Lebih spesial

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

9 cerita

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil

9 cerita

Lutung Jawa: Satwa Endemik Jawa di Ujung Tanduk

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Pala Fakfak, dengan buah lonjong. Foto: Eko Rusdianto/ Mongabay Indonesia

Bukan Sekadar Rempah, Pala adalah Identitas Orang Fakfak

Akita Verselita 18 Sep 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Ketika Api di Lahan Korporasi Bikin Masyarakat Menderita Penyakit Pernapasan

Editor 21 Sep 2026

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan bukan hanya menghanguskan bentang alam. Kabut asap yang dihasilkannya telah berubah menjadi krisis kesehatan masyarakat, ditandai dengan meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.

Di Kalimantan Tengah, Dinas Kesehatan mencatat 72.431 kasus ISPA. Kasus terbanyak ditemukan di Palangka Raya dengan 16.166 kasus, disusul Kotawaringin Barat sebanyak 12.467 kasus, Kotawaringin Timur 7.982 kasus, dan Kapuas 7.910 kasus. Wilayah-wilayah tersebut memiliki bentang gambut luas yang mengalami kebakaran masif.

Bantuan masker, oksigen, dan rumah aman asap telah disalurkan ke sejumlah desa. Namun, ketersediaannya belum sebanding dengan jumlah warga terdampak. Penanganan pemerintah juga dikritik karena kondisi justru memburuk setelah Kalimantan Tengah menetapkan status tanggap darurat karhutla pada 31 Agustus 2026.

Bahaya asap karhutla terutama berasal dari partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke sistem pernapasan. Fachrial Kautsar dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiative menyebut partikulat karhutla sepuluh kali lebih berbahaya bagi paru-paru anak dibandingkan polusi biasa. Ibu hamil, anak-anak, dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan terhadap asma, penyakit paru-paru kronis, serta gangguan perkembangan janin.

Data Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 50.891 kasus ISPA di tujuh provinsi selama Juni–Agustus 2026. Sementara itu, Yayasan Auriga Nusantara mencatat luas kawasan yang terbakar sepanjang Januari–Juni mencapai 190.546 hektar, setara sekitar 2,6 kali luas Singapura.

Dampaknya juga melintasi batas negara. Pemantauan Greenpeace selama 4 Agustus–6 September menunjukkan asap karhutla mencapai Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Filipina. Sarawak terdampak selama 34 hari, bahkan indeks pencemaran udaranya melampaui 500 pada 5 September. Sekolah terpaksa ditutup dan masyarakat membatasi kegiatan di luar rumah.

Di Papua, ancaman kebakaran turut meningkat. Greenpeace mencatat 97 sumber api di kawasan proyek strategis nasional pangan dan energi. Pantau Gambut juga menemukan 9.536 titik panas di area pelepasan hutan Papua Selatan sepanjang Januari–Agustus. Pembukaan vegetasi, pembangunan jalan, dan pengeringan lahan basah membuat material organik lebih mudah terbakar.

Persoalan karhutla juga berkaitan dengan tanggung jawab korporasi. Kementerian Lingkungan Hidup sedang menyelidiki 19 perusahaan yang konsesinya terbakar dengan luas mencapai 11.046,69 hektar. Namun, penegakan hukum dinilai masih sering menyasar petani, masyarakat adat, atau pelaku lapangan.

Guru Besar Hukum Lingkungan Universitas Indonesia Andri Gunawan Wibisana mendorong korban kabut asap menggugat korporasi untuk memperoleh ganti rugi. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2023 dinilai membuka peluang pertanggungjawaban berdasarkan kontribusi meskipun asap berasal dari banyak lokasi.

Karhutla pada akhirnya bukan sekadar persoalan api dan hutan. Asapnya mengancam kesehatan jutaan orang, menembus perbatasan negara, dan menunjukkan bahwa kegagalan menjaga ekosistem dapat langsung berubah menjadi krisis kemanusiaan.

Foto utama: Warga berupaya melindungi hidung dari paparan kabut asap pekat saat melintas di kawasan Jalan Lingkar Utara Gubernur Syarkawi, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Foto: Riyad Dafhi Rizki/Mongabay Indonesia.

Di Tangan Tobani Tiku, Tradisi Kain Kulit Kayu Masyarakat Adat Kulawi Tetap Hidup

Editor 21 Sep 2026

Pagi hingga sore, Tobani Tiku memukul kulit kayu beringin di belakang rumahnya di Desa Mataue, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Perempuan berusia 86 tahun itu sedang membuat kumu nunu, kain kulit kayu khas masyarakat adat Kulawi.

Dahulu, kumu nunu digunakan sebagai pakaian sehari-hari, mulai dari baju bekerja di sawah hingga selimut. Kini, kain tersebut semakin langka dan hanya dikenakan dalam acara adat. Tobani menjadi satu-satunya perempuan di Kulawi yang masih menguasai seluruh proses pembuatannya.

Ia mempelajari keterampilan tersebut sejak remaja dari ibu dan neneknya. Bahan utamanya berasal dari kulit beringin merah atau nunu lero dan beringin putih yang disebut nunu bula. Namun, Tobani lebih sering menggunakan beringin merah.

Pengambilan ranting tidak boleh sembarangan. Ranting dipotong ketika bulan purnama dan harus tumbuh mengarah ke langit atau mendatar. Ranting yang mengarah ke bawah memiliki kulit tipis dan serat kurang baik.

“Kalau di bulan-bulan lain, tidak bulan purnama, tidak berisi,” kata Syafrudin, anak Tobani yang bertugas mengambil ranting.

Ranting dipotong sepanjang 10-1,5 meter, kemudian dikuliti, dibersihkan, dan direndam selama tiga hari. Setelah itu, kulit dipukul perlahan hingga melebar dan menipis menjadi kain. Tobani juga menggunakan ramuan dari tumbuhan, seperti linuro dan ulakau, sebagai pewarna sekaligus pengawet alami.

Pembuatan kain memakai empat alat pemukul secara berurutan, yaitu pola, ike tinahi, ike tiva, dan ike pogea. Tiga alat terakhir terbuat dari batu khusus asal Desa Towulu. Alat-alat yang digunakan Tobani merupakan warisan neneknya dan masih kokoh hingga sekarang.

Satu set pakaian, berupa atasan dan bawahan, membutuhkan waktu sedikitnya satu minggu. Harganya sekitar Rp1,5 juta, sedangkan kain dijual Rp200.000-Rp300.000 per meter. Produksinya terbatas karena Syafrudin hanya mengambil sekitar 30 potong ranting setiap purnama.

Tobani tidak ingin pengetahuan tersebut berhenti padanya. Ia terbuka kepada siapa pun yang ingin belajar. Setidaknya, dua kelompok yang masing-masing terdiri dari 10 perempuan telah mengikuti pelatihannya.

“Ada yang berpotong, ada yang berkupas, ada yang kasih keluar kulitnya,” katanya mengenai pembagian tugas selama pelatihan.

Pada 2022, Tobani juga menjadi pengajar dalam program pendampingan perempuan Desa Mataue yang diselenggarakan Perkumpulan Imunitas Sulawesi Tengah. Program tersebut mencakup proses produksi hingga pemasaran kain kulit kayu.

Ketekunannya membuat Tobani menerima Ratna Award pada 2022. Pada 2025, Kementerian Kebudayaan menganugerahinya penghargaan sebagai maestro kain kayu dalam Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Bagi Tobani, kumu nunu bukan sekadar kain, melainkan identitas masyarakat Kulawi dan warisan pengetahuan tentang alam. Selama masih sehat, ia akan terus membuatnya.

foto utama: Kain kulit kayu khas Kulawi, bikinan Tobani Tiku. Foto: Moh Tamimi/Mongabay Indonesia .

Kemarau Panjang, Warga di Bangka Belitung Mengalami Krisis Air

Muhammad Adhitya* 21 Sep 2026

Dampak musim kemarau panjang mulai terasa di sejumlah desa di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sebanyak 13 desa dan satu kelurahan kesulitan mendapatkan air bersih.

Di Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, warga mulai kesulitan mendapatkan pasokan air dari Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat). Dalam dua minggu terakhir, distribusi air terganggu. 

“Setelah dapat air, kami harus menunggu minggu depan lagi,” ungkap Hana Fitri, warga Desa Zed, akhir Agustus lalu.

Kondisi serupa juga terjadi di Desa Puding Besar, Desa Paya Banua dan Desa Kemuja. Di sejumlah titik, warga terlihat mandi di pemandian umum serta membawa jerigen untuk membawa pulang air. Bahkan, di Dusun Tuing, kolam-kolam air tawar mulai menyusut dan terasa asin akibat air laut merembes ke aliran sungai kecil.

Ketua Tim Data dan Informasi BMKG, Slamet Supriyadi, menyatakan puncak musim kemarau akan terjadi pada September 2026 dan berakhir kisaran Januari-Februari 2027.

Kondisi geologi Babel turut memengaruhi ketersediaan air tanah. Kontur granit dan letak kota di cekungan membuat air tanah tidak menyebar merata sehingga cadangannya cepat terkuras sewaktu kemarau, sementara penggunaan air terus meningkat.

Kajian Risiko Bencana Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 2022-2026 menunjukkan sebagian besar wilayah daratan Babel berada dalam kelas bahaya kekeringan sedang. Kajian Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup Ekoregion Sumatera menyatakan 88,76% wilayah Kepulauan Bangka Belitung masuk kategori rendah dalam jasa ekosistem penyediaan air bersih.

Selain itu, 75,40% wilayah Bangka Belitung berada pada kategori sangat rendah–rendah dalam jasa pengaturan tata aliran air dan banjir. Sisanya, 24,60% berada pada kategori tinggi–sangat tinggi.

“Semakin luas area hutan yang dialihfungsikan menjadi kebun sawit dan tambang, juga sangat memengaruhi sumber daya air tanah sehingga bertambah kritis,” tutur Irvani, peneliti geologi sekaligus dosen Universitas Bangka Belitung.

Data DLHK menunjukan sekitar 167 ribu hektar lahan kritis, 70% akibat tambang timah. Ada sekitar 12.327 kolong dengan luas mencapai 15.579 hektar pada tahun 2022. BPS Bangka Belitung juga menunjukan kebun sawit rakyat 67 ribu hektar pada tahun 2018 bertambah menjadi 98 ribu hektar pada 2024, di luar 171 ribu hektar lahan sawit korporasi.

Jessix Amundian, Direktur Tumbek for Earth, Jumat (28/8/26) menegaskan situasi ini mencerminkan besarnya ketergantungan air dari tutupan hutan alami, baik di lahan basah maupun perbukitan.

 “Untuk memperbaiki sistem hidrologi yang sudah rusak, kawasan hutan yang terdegradasi harus segera dipulihkan dan menjadi satu-satunya pilihan,” ujarnya.



Cara Inklusif Kenalkan Konservasi Gajah Sumatera, Bagaimana Caranya?

Editor 20 Sep 2026

Mengenakan kostum gajah, Kak Acan bergerak dan menari di hadapan sekitar 50 anak penyandang disabilitas di Malang Creative Center. Saat ia mulai mendongeng, anak-anak duduk menyimak. Kak Arum menerjemahkan cerita tersebut ke dalam bahasa isyarat agar peserta tuli dapat mengikuti kisahnya.

Dongeng itu bercerita tentang Gogo dan Gigi, dua anak gajah yang terpisah akibat suara tembakan pemburu. Gogo harus melewati hutan, sungai, perbukitan, dan semak belukar untuk menemukan adiknya. Setelah melalui berbagai rintangan, keduanya kembali berkumpul dengan rombongan gajah.

“Di mana rumah Gogo dan Gigi?” tanya Kak Acan. Anak-anak menjawab serempak, “Di hutan.”

Jawaban sederhana itu membawa pesan penting: habitat alami gajah bukan kebun binatang, melainkan hutan. Melalui cerita, peserta diajak memahami hubungan antara satwa, habitat, dan ancaman yang dihadapi gajah tanpa merasa sedang mengikuti pelajaran yang berat.

Kegiatan dalam rangka Hari Gajah Sedunia tersebut diselenggarakan oleh Difabel Pecinta Alam atau Difpala, Lingkar Sosial, dan Geopix. Acara juga diisi dengan puisi, nyanyian, pembacaan Al-Qur’an, serta pembagian hadiah kepada anak-anak yang dapat menjawab pertanyaan.

Menurut Kertaning Tyas, pembina Lingkar Sosial, dongeng menjadi cara menyenangkan untuk menyampaikan pesan konservasi. Kegiatan ini sekaligus membuka ruang agar penyandang disabilitas dapat berperan aktif dalam edukasi dan pelestarian lingkungan.

“Hari Gajah Sedunia menjadi momentum meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian gajah Indonesia dan habitatnya,” katanya.

Difpala sebelumnya juga mengembangkan program Tuli Mendongeng dengan melibatkan juru bahasa isyarat. Organisasi ini aktif melakukan pendakian, penanaman pohon, dan pembersihan sampah di gunung. Kini, mereka mulai memperluas perhatiannya dari hutan menuju satwa liar dan keseluruhan ekosistem.

Gunung Wedon di Lawang, Kabupaten Malang, bahkan dijadikan pusat edukasi konservasi inklusif melalui program inclusive forest school. Di tempat tersebut, remaja penyandang disabilitas belajar dan bermain bersama di alam.

Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix, mengatakan gajah mempunyai peran penting dalam regenerasi hutan. Satwa bertubuh besar ini membantu menyebarkan biji melalui pergerakan dan kotorannya, sehingga kerap dijuluki “petani hutan”.

Selain secara ekologis, gajah memiliki kedudukan penting dalam sejarah, budaya, dan kerajaan di Nusantara. Namun, keberadaannya semakin terancam akibat kerusakan habitat, fragmentasi hutan, konflik dengan manusia, dan perburuan.

Data mengenai jumlah gajah sumatera memang beragam, tetapi seluruhnya menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Pada 1980-an, populasinya diperkirakan mencapai 2.800-4.800 individu. Forum Konservasi Gajah Indonesia memperkirakan pada 2019 hanya tersisa sekitar 1.087-1.606 individu.

Burhanuddin, pakar konservasi IPB University, menyebut populasi gajah sumatera telah berkurang lebih dari 70 persen dalam tiga generasi. Habitatnya kini terpecah ke dalam sejumlah kantong yang terisolasi di Aceh, Riau, Jambi, Bengkulu, dan Lampung.

Tim Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bersama Lembaga Biologi Molekuler Eijkman juga meneliti data genetik serta penyakit pada gajah jinak. Pemeriksaan menunjukkan banyak gajah sumatera terserang infeksi parasit, bakteri, virus, dan jamur.

Karena itu, perlindungan gajah tidak cukup hanya dilakukan di dalam kawasan konservasi. Habitat dan koridor pergerakannya yang bersinggungan dengan permukiman, perkebunan, dan kegiatan masyarakat juga perlu dijaga. Melalui dongeng Gogo dan Gigi, konservasi hadir dalam bentuk yang sederhana, inklusif, dan mudah dipahami.

Foto utama: Gajah sumatera jinak di CRU di Aceh, difungsikan untuk meminimalisir terjadinya konflik manusi dengan gajah liar. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Orangutan Tapanuli dan Jembatan Arboreal yang Menyatukan Kembali Hutannya di Batang Toru

Editor 20 Sep 2026

Jalan raya dan pembukaan hutan memecah habitat orangutan menjadi bagian-bagian terisolasi. Kondisi ini memaksa satwa yang hidup di pepohonan turun ke tanah untuk berpindah, sehingga meningkatkan risiko tertabrak, diburu, atau berkonflik dengan manusia.

Di Ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara, Yayasan Ekosistem Lestari tengah mengkaji pembangunan jembatan arboreal untuk orangutan tapanuli. Tutupan hutan di koridor Hutaimbaru menyusut dari 9.958 hektar pada 2004 menjadi sekitar 8.981 hektar pada 2024. Lebih dari 1.700 hektar habitat orangutan dilaporkan hilang dalam dua dekade terakhir.

Koridor tersebut menghubungkan populasi orangutan di blok barat dan timur. Jika konektivitas terputus, pertukaran gen antar individu terganggu dan risiko kepunahan lokal meningkat.

“Tujuan utama kami adalah memulihkan konektivitas antara blok barat dan blok timur agar koridor dapat berfungsi optimal,” kata Julius Paolo Siregar dari Yayasan Ekosistem Lestari.

Namun, jembatan arboreal bukan pengganti perlindungan hutan. Jika koridor alami masih dapat dipertahankan, perlindungan dan restorasi habitat tetap harus menjadi prioritas. Jembatan baru dipertimbangkan ketika ruang terbuka, jalan, atau medan terjal tidak dapat diseberangi melalui kanopi alami.

Pengalaman Yayasan Tangguh Hutan Khatulistiwa di Kabupaten Pakpak Bharat menunjukkan bagaimana jembatan tersebut bekerja. Tiga kawasan hutan yang dihuni sekitar 350 orangutan sumatera terpisah oleh sejumlah jalan. Sejak 2023, organisasi itu memasang beberapa jembatan kanopi berdasarkan lokasi sarang, pohon pakan, dan kekuatan pohon penyangga.

Selama pemantauan Maret 2025-Maret 2026, sebanyak 14 jenis satwa arboreal menggunakan jembatan tersebut dalam 374 perlintasan. Orangutan baru mencoba jembatan pada Desember 2025. Setelah sempat menginjak ujungnya lalu mundur, individu yang sama akhirnya menyeberang penuh enam hari kemudian.

“Orangutan sangat cerdas dan berhati-hati. Butuh waktu hampir dua tahun sejak pembangunan pertama sampai ada yang berani melintas secara utuh,” kata Lina Rita Silaban dari TaHuKah.

Pemantauan menunjukkan model tangga lebih menarik bagi primata besar, sedangkan tali ganda lebih sering digunakan primata kecil. Keberhasilan juga bergantung pada rapatnya tutupan hutan dan ketersediaan pohon pakan di kedua sisi.

Pemahaman mengenai cara orangutan bergerak juga penting dalam menentukan desain. Nadine Adrianna Sugianto dari Borneo Orangutan Survival Foundation menjelaskan bahwa orangutan liar banyak bergerak dengan menggantung menggunakan tangan dan kaki secara bersamaan. Mereka juga mengayunkan tubuh dan dahan untuk mencapai pohon berikutnya.

Karena itu, jembatan harus memberikan banyak titik pegangan sekaligus tetap lentur. Materialnya juga harus mampu menahan orangutan dewasa dengan berat 30–90 kilogram.

“Nanti untuk skala liar, orangutan dewasa pasti membutuhkan material yang jauh lebih kokoh. Tapi prinsip dasarnya tetap sama: maksimalkan suspensi, meminimalkan kompresi, dan gandakan titik pegangan,” jelas Nadine.

Jembatan kanopi memang tidak menyelesaikan seluruh persoalan hilangnya habitat. Namun, jika didukung data pergerakan satwa, restorasi hutan, pemantauan, dan keterlibatan masyarakat, struktur ini dapat menjadi jalan aman yang menyambungkan kembali ruang hidup orangutan.

Foto utama: Induk dan anak orangutan tapanuli yang terpantau langsung di hutan gambut Desa Lumut Maju, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Sistem Peringatan Dini Bantu Warga Sungai Gelam Cegah Api Berkobar di Lahan Gambut

Editor 19 Sep 2026

Asap tipis di balik kebun pinang semula tidak dianggap berbahaya. Namun, hanya dalam beberapa jam, api membesar dan menjalar ke dalam gambut di Desa Persiapan Air Merah, Sungai Gelam, Muaro Jambi. Puluhan warga bersama petugas berusaha memadamkannya, tetapi kanal telah mengering sehingga air sulit diperoleh.

Api bergerak lebih dari satu kilometer dan diperkirakan membakar lebih dari 130 hektar. Sekitar 300 personel darat dan tiga helikopter dikerahkan. Kebakaran baru berhasil dipadamkan sepuluh hari kemudian. Hingga 3 September 2026, KKI Warsi mencatat kebakaran hutan dan lahan di Jambi telah melampaui 10.000 hektar.

Bagi warga, kebakaran bukan peristiwa baru. Kawasan Hutan Kemasyarakatan Air Merah pernah terbakar hebat pada 2015 dan 2019, lalu kembali terbakar pada 2023, 2024, dan 2026. Degradasi lahan, pembukaan kawasan, perkebunan sawit, dan pembangunan kanal membuat gambut kehilangan kemampuan menyimpan air.

Sri Wilarso Budi, Guru Besar IPB University, mengingatkan bahwa kebakaran sebenarnya dapat diantisipasi sejak awal karena peringatan kemarau panjang telah tersedia.

“Harusnya kan sudah diantisipasi. Jadi jangan sampai api sudah besar baru semuanya bergerak. Itu akan terlambat.”

Pengelolaan gambut juga tidak dapat dilakukan berdasarkan batas konsesi atau bidang lahan. Kerusakan pada satu bagian dapat mengganggu tata air seluruh kesatuan hidrologis gambut. Sekat kanal seharusnya dibangun sebelum lahan mengering. Setelah gambut kehilangan air, dibutuhkan tiga hingga empat tahun untuk menstabilkan kembali muka airnya.

Pemulihannya bahkan jauh lebih lama. Gambut hanya terbentuk sekitar 0,1-2 milimeter per tahun. Artinya, diperlukan puluhan hingga ratusan tahun untuk menggantikan lapisan setebal 10 sentimeter yang terbakar.

Untuk menggeser pendekatan dari pemadaman menuju pencegahan, proyek Fincapes memasang dua perangkat peringatan dini berbiaya rendah di HKm Air Merah. Alat tersebut menggunakan sensor untuk memantau asap, suhu, curah hujan, arah angin, kelembapan tanah, dan tinggi muka air. Sirene akan berbunyi ketika kondisi menunjukkan bahaya, sementara datanya dapat dipantau melalui situs web.

Pemulihan juga dilakukan melalui restorasi 47 hektar lahan. Tanaman asli gambut, seperti jelutung rawa, balangeran, dan pulai, disisipkan di antara kebun nanas dan pinang warga. Sebanyak 80.000 bibit akan ditanam melalui berbagai model agroforestri.

Targetnya, pada 2028 Sungai Gelam menjadi model restorasi gambut berbasis masyarakat. Bagi warga yang berulang kali menghadapi api, teknologi ini memberi sesuatu yang sangat berharga: kesempatan mengenali bahaya sebelum asap tipis berubah menjadi kebakaran besar.

Foto: Alat sistem peringatan dini dipasang di Sungai Gelam. Foto: Teguh Suprayitno/Mongabay Indonesia.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.