Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Bagaimana Cara Menghentikan Laju Kerusakan Lingkungan Pantura Jawa?

M Ambari 17 Jul 2026
Cerita fitur

Warga Pulihkan Hutan Mangrove Soropia di Tengah Ancaman Proyek Terminal Migas

La Ode Risman Hermawan 17 Jul 2026
Cerita fitur

Penertiban Tambang Ilegal Lebih Pentingkan Ekonomi Minim Pemulihan Lingkungan?

Irfan Maulana 17 Jul 2026

Meski Telah Dijinakkan Ribuan Tahun, Kuda Ternyata Masih Mampu Mengenali Predator

Akhyari Hananto 17 Jul 2026
Cerita fitur

Warga Waswas Ketika Hutan Gorontalo Utara Terus Tergerus

Sarjan Lahay 16 Jul 2026

Sabut Kelapa, Solusi Konflik Petani dengan Monyet Ekor Panjang di Simeulue

Falahi Mubarok 16 Jul 2026
Semua berita

Berita utama

Wisata susur mangrove dengan paddle boat di Pantai Anggalo, Desa Waworaha, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, menjadi lokasi rencana pembangunan terminal khusus. Foto: Dok. Sulman Sukrih.

Warga Pulihkan Hutan Mangrove Soropia di Tengah Ancaman Proyek Terminal Migas

Penertiban Tambang Ilegal Lebih Pentingkan Ekonomi Minim Pemulihan Lingkungan?

Irfan Maulana 17 Jul 2026

Warga Waswas Ketika Hutan Gorontalo Utara Terus Tergerus

Sarjan Lahay 16 Jul 2026

Proyek Tanggul Laut Minim Partisipasi Publik

Wulan Yanuarwati 16 Jul 2026

Nelayan Menanti Keseriusan Pemerintah Setop Tambang Timah di Teluk Kelabat

Yogi Eka Sahputra 15 Jul 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua

Jejak Ular Sanca Hijau Utara di Hutan Papua

Falahi Mubarok 28 Apr 2026

Jago Kamuflase, Inilah Ular Sanca Hijau Papua

Christopel Paino 23 Sep 2025

Sanca Bulan, Ular Endemik Papua yang Terancam Perburuan

Christopel Paino 10 Sep 2025

Piton Zaitun, Ular Penguasa Hutan Papua

Christopel Paino 16 Jul 2025

Bentang alam Papua menyimpan kekayaan herpetofauna luar biasa yang menjadi rumah bagi berbagai jenis ular endemik unik, mulai dari perilaku sanca hijau utara dengan kemampuan kamuflase tingkat tinggi hingga spesies berbisa seperti ular putih yang hingga kini belum memiliki antivenom. Dinamika kehidupan para penguasa rimba ini menghadapi tantangan besar seiring meningkatnya ancaman perburuan liar untuk […]

Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua series

Lebih spesial

9 cerita

Nestapa Burung Berkicau Nusantara

9 cerita

Ancaman Nyata El Nino Godzilla

13 cerita

Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Dari Jejak Tambang Ilegal hingga Upaya Warga Lestarikan Hutan

Karen Anastasia Surbakti* 30 Jun 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk

Niko Wicaksana 22 Apr 2026

Kontes Burung Kicau, Sunyikan Hutan Indonesia

Rizky Maulana Yanuar, Sandy Watt 25 Feb 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Bagi Masyarakat Sumba, Kuda Bukan Sekadar Tunggangan, Tapi Identitas Budaya

Editor 17 Jul 2026

Hamparan sabana yang luas, perbukitan bergelombang, dan kawanan kuda yang berlari bebas telah lama menjadi wajah Pulau Sumba. Namun, bagi masyarakat Sumba, kuda bukan sekadar penghias lanskap. Hewan yang mereka sebut ‘ndara’ ini merupakan bagian dari identitas budaya yang telah menyatu dengan kehidupan selama berabad-abad.

Bagi masyarakat Tanah Marapu, kuda menempati posisi yang nyaris setara dengan leluhur. Bahkan, berbeda dengan hewan peliharaan lain, kuda di Sumba tidak diberi nama karena dianggap memiliki kedudukan yang terlalu mulia untuk dipersonalisasi. Kuda hadir dalam hampir seluruh fase kehidupan: menjadi alat transportasi, simbol status sosial, bagian dari mas kawin (belis), hewan kurban dalam upacara adat, hingga dipercaya sebagai tunggangan terakhir menuju alam baka.

Tak heran jika di antara ternak penting masyarakat Sumba seperti babi, kerbau, dan kuda, justru kuda dianggap memiliki peran paling lengkap.

Kuda khas Sumba dikenal sebagai Sandalwood Pony, salah satu rumpun kuda asli Indonesia. Nama “Sandalwood” berasal dari kayu cendana yang dahulu menjadi komoditas ekspor utama Nusa Tenggara.

Secara fisik, kuda ini tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 110–130 sentimeter. Tubuhnya kompak, berdada lebar, dengan telinga kecil dan surai tebal. Meski bertubuh mungil, keunggulan utamanya justru terletak pada daya tahan.

Selama ratusan tahun, Sandalwood berkembang di lingkungan savana Sumba yang panas dan kering. Adaptasi itu membuatnya mampu berjalan jauh, bekerja di medan berbukit, serta bertahan dengan pakan yang relatif terbatas. Ketahanan tersebut juga menjadi alasan mengapa rumpun ini dikenal lebih tahan terhadap cuaca tropis dibanding banyak kuda impor.

Kemampuan itulah yang dahulu menjadikan Sandalwood sebagai alat transportasi utama masyarakat, bahkan kendaraan perang sebelum hadirnya kendaraan bermotor.

Keunikan kuda Sumba paling mudah terlihat dalam Pasola, tradisi perang tombak berkuda yang telah dikenal hingga mancanegara.

Dalam ritual tahunan ini, dua kelompok penunggang kuda saling melempar tombak kayu sambil memacu kudanya di padang rumput. Atraksi tersebut bukan sekadar pertunjukan, melainkan bagian dari ritual adat dan harapan akan musim tanam yang baik.

Keberhasilan seorang peserta Pasola tidak hanya ditentukan oleh keterampilan berkuda, tetapi juga oleh kualitas kudanya. Kombinasi kuda yang kuat dan penunggang yang piawai dapat mengangkat prestise pemiliknya di tengah masyarakat.

Meski begitu dihormati, ras asli Sandalwood kini justru semakin sulit ditemukan.

Penyebab utamanya datang dari kecintaan masyarakat sendiri terhadap pacuan kuda. Dibandingkan kuda impor, Sandalwood memiliki tubuh lebih kecil sehingga kalah cepat di lintasan balap. Untuk menghasilkan kuda pacu yang lebih kompetitif, banyak peternak mengawinsilangkan Sandalwood dengan kuda Australia maupun ras impor lainnya.

Praktik tersebut sebenarnya bukan hal baru. Sejak masa kolonial Belanda pada abad ke-19, persilangan sudah dilakukan demi memperoleh kuda yang lebih besar dan lebih cepat. Akibatnya, populasi Sandalwood murni terus menyusut dari generasi ke generasi.

Ironi serupa juga terlihat di Dompu, Nusa Tenggara Barat. Di sana, kuda lokal Sandalwood turut disilangkan dengan ras Australia demi memenuhi kebutuhan pacuan dan status sosial. Padahal, para ahli menilai kuda lokal justru memiliki keunggulan berupa daya tahan terhadap panas dan penyakit karena telah lama beradaptasi dengan lingkungan tropis Indonesia.

Foto utama: Kuda jenis sandalwood di savana Sumba, NTT. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia.

Siapa Sangka, Letusan Tambora Ikut Melahirkan Sepeda

Editor 16 Jul 2026

Sulit membayangkan bahwa sejarah sepeda berawal dari sebuah letusan gunung api di Indonesia. Namun, sejumlah sejarawan meyakini letusan dahsyat Gunung Tambora pada 1815 menjadi salah satu pemicu lahirnya kendaraan roda dua yang kini digunakan miliaran orang di seluruh dunia.

Letusan Tambora merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah modern. Selain menewaskan puluhan ribu orang di Nusantara, abu dan gas sulfur yang terlontar hingga ke atmosfer menyebabkan suhu Bumi turun. Tahun 1816 kemudian dikenal sebagai “tahun tanpa musim panas”. Cuaca yang tidak menentu memicu gagal panen di berbagai wilayah Eropa dan Amerika Utara, sehingga terjadi krisis pangan yang juga berdampak pada ketersediaan pakan ternak.

Saat itu, kuda merupakan moda transportasi utama. Ketika pakan langka, banyak kuda mati atau disembelih. Kondisi tersebut mendorong Karl Drais, seorang penemu asal Jerman, mencari alternatif transportasi yang tidak bergantung pada hewan. Pada 1817, ia memperkenalkan laufmaschine atau “mesin berjalan”, cikal bakal sepeda modern.

Kendaraan itu masih sangat sederhana. Terbuat dari kayu, memiliki dua roda dan kemudi, tetapi belum dilengkapi pedal. Penggunanya melaju dengan mendorong tanah menggunakan kedua kaki, mirip sepeda keseimbangan yang kini populer di kalangan anak-anak. Meski sederhana, inovasi ini membuka jalan bagi perkembangan sepeda selama dua abad berikutnya.

Berbagai penyempurnaan kemudian dilakukan, mulai dari penambahan pedal, rantai, rem, bantalan bola, hingga ban karet. Pada akhir abad ke-19, lahirlah desain “safety bicycle” dengan dua roda berukuran sama yang menjadi dasar hampir semua sepeda modern saat ini.

Dampak sepeda ternyata melampaui dunia transportasi. Kendaraan ini ikut mengubah kehidupan sosial, terutama bagi perempuan. Kemudahan bergerak membuat banyak perempuan di Eropa memperoleh kebebasan bepergian yang sebelumnya sulit dilakukan. Bahkan, perubahan gaya berpakaian menjadi lebih praktis juga dipengaruhi oleh meningkatnya penggunaan sepeda.

Kini, lebih dari dua abad setelah Tambora meletus, sepeda kembali menjadi bagian dari solusi atas tantangan lingkungan. Berbeda dengan kendaraan bermotor, sepeda tidak menghasilkan emisi saat digunakan, membantu mengurangi polusi udara, kemacetan, sekaligus meningkatkan kesehatan penggunanya. Perkembangannya pun terus berlanjut melalui sepeda listrik dan sistem berbagi sepeda yang semakin memudahkan masyarakat beralih ke transportasi rendah karbon.

Sulit membayangkan bahwa letusan gunung api di Indonesia dua abad lalu ikut mengubah sejarah transportasi dunia. Namun, dari krisis yang dipicu Tambora lahir gagasan tentang kendaraan tanpa tenaga hewan, yang kemudian berevolusi menjadi sepeda modern. Hingga kini, sepeda terus berkembang dan justru menjadi salah satu solusi untuk menghadapi tantangan lingkungan yang berbeda: krisis iklim.

Foto utama: Seseorang sedang mencoba sepeda Penny Farthing. Foto: Alistair Paterson/flickr CC BY 2.0.

Setelah Harimau Jawa Punah, Apakah Macan Tutul Mengalami Nasib yang Sama?

Editor 16 Jul 2026

Pulau Jawa telah kehilangan harimau jawa. Kini, hanya satu kucing besar yang masih menjadi penguasa hutan: macan tutul jawa (Panthera pardus melas). Di tengah pulau yang menjadi rumah bagi lebih dari 150 juta manusia, predator ini ternyata masih mampu bertahan. Namun, kemampuan adaptasi yang luar biasa itu memiliki batas.

Salah satu fakta menarik tentang macan tutul jawa adalah statusnya yang sangat istimewa. Ia merupakan satu dari sembilan subspesies macan tutul yang diakui di dunia dan hanya ditemukan di Pulau Jawa. Meski secara fisik tampak mirip dengan macan tutul dari Afrika atau India, perbedaan di antara mereka baru benar-benar terlihat melalui analisis genetik.

Macan tutul jawa juga menyimpan teka-teki lain yang sering disalahpahami. Banyak orang mengira macan kumbang adalah spesies berbeda. Padahal, macan kumbang hanyalah macan tutul jawa yang mengalami melanisme, kelainan genetik yang membuat bulunya tampak hitam. Jika diperhatikan dari dekat, corak tutulnya tetap terlihat samar. Menariknya lagi, sifat melanisme ini diduga menjadi hasil adaptasi terhadap hutan tropis Jawa yang teduh, sekaligus menjadi ciri khas yang tidak ditemukan pada subspesies macan tutul lain.

Kemampuan bertahan hidup satwa ini juga mengesankan. Tidak seperti predator yang bergantung pada satu jenis mangsa, macan tutul jawa adalah pemburu oportunis. Tikus, burung, monyet, rusa, hingga babi hutan dapat masuk ke dalam menu makanannya. Fleksibilitas inilah yang membuatnya mampu bertahan di habitat yang terus berubah.

Namun, kehebatan tersebut tidak cukup untuk melawan ancaman terbesar: hilangnya hutan. Menurut Hendra Gunawan, Peneliti Utama Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), populasi macan tutul jawa terus menurun seiring menyusutnya bentang alam alami. Hutan yang dulu saling terhubung kini terpecah oleh jalan raya, permukiman, perkebunan, dan berbagai pembangunan lain. Akibatnya, populasi macan tutul terisolasi di kantong-kantong hutan, terutama di kawasan pegunungan.

Isolasi ini membawa masalah baru. Ketika individu dari populasi berbeda tidak lagi bisa bertemu, peluang kawin dengan kerabat sendiri meningkat. Dalam jangka panjang, keragaman genetik menurun sehingga populasi menjadi lebih rentan terhadap penyakit, gangguan lingkungan, bahkan kepunahan.

Sebagai predator puncak, keberadaan macan tutul jawa sebenarnya sangat penting bagi kesehatan ekosistem. Hewan ini membantu mengendalikan populasi rusa, babi hutan, dan monyet agar tidak berlebihan. Mereka juga cenderung memangsa individu yang lemah atau sakit, sehingga secara tidak langsung membantu menjaga populasi mangsanya tetap sehat.

Sayangnya, ketika ruang hidup semakin sempit, konflik dengan manusia pun sulit dihindari. Macan tutul terkadang memangsa ternak karena kehilangan mangsa alami atau terdorong keluar dari habitatnya. Menurut para peneliti, setiap konflik memiliki penyebab yang berbeda. Ada jantan muda yang terusir dari wilayah kekuasaannya, ada pula induk yang sedang mencari makanan untuk anak-anaknya. Karena itu, penyelesaiannya tidak bisa disamaratakan.

Meski tantangannya besar, harapan belum sepenuhnya hilang. Para peneliti menilai konservasi tidak cukup hanya dengan melindungi kawasan hutan. Yang lebih penting adalah menjaga keterhubungan antarhabitat agar populasi yang terpisah dapat kembali saling berinteraksi. Tanpa upaya tersebut, macan tutul jawa berisiko mengikuti jejak harimau jawa.

Foto utama: Macan tutul jawa yang terekam kamera jebak di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Foto: Conservation International/TNGHS.

Mengapa Kucing Rumahan Bisa Jinak? Jawabnya Ada pada Kucing Liar Ini

Editor 15 Jul 2026

Hampir setiap rumah mengenal kucing. Hewan ini tidur di sofa, berburu serangga di halaman, atau meringkuk di pangkuan pemiliknya. Namun, jauh sebelum menjadi hewan peliharaan yang akrab dengan manusia, nenek moyang kucing rumahan hidup bebas di padang rumput, gurun, dan semak belukar Afrika hingga Asia. Spesies itu adalah Felis lybica, atau kucing liar Afro-Asia, yang hingga kini masih berkeliaran di alam liar dan menyimpan banyak misteri.

Ironisnya, meski menjadi leluhur langsung kucing domestik (Felis catus), Felis lybica justru termasuk salah satu kucing liar yang paling sedikit dipelajari. Sebarannya sangat luas, mulai dari Afrika, Timur Tengah, Asia Tengah, hingga India, Mongolia, dan Tiongkok. Namun, para ilmuwan mengakui pengetahuan tentang perilaku, jumlah populasi, bahkan tren keberadaannya masih sangat terbatas.

Secara fisik, Felis lybica memang sangat mirip dengan kucing rumahan. Ukurannya hampir sama, tetapi kakinya lebih panjang, telinganya berwarna jingga kemerahan, dan warna bulunya menyesuaikan lingkungan, mulai dari cokelat pasir hingga keabu-abuan. Kemiripan inilah yang membuat keduanya mudah kawin silang, sehingga sering kali sulit dibedakan hanya dari penampilan luar.

Hubungan antara manusia dan Felis lybica diperkirakan dimulai sekitar 10 ribu tahun lalu, ketika manusia mulai bertani di kawasan Bulan Sabit Subur (suatu wilayah yang terbentang dari Turki hingga Irak saat ini). Lumbung penyimpanan hasil panen menarik tikus, sementara tikus mengundang kucing liar. Hubungan yang awalnya saling menguntungkan itu perlahan berkembang menjadi proses domestikasi. Kucing yang paling toleran terhadap kehadiran manusia memperoleh keuntungan berupa makanan melimpah, sedangkan manusia terbantu mengendalikan hama. Dari proses evolusi yang berlangsung ribuan tahun itulah lahir kucing rumahan yang kini tersebar hampir di seluruh dunia.

Meski telah melahirkan salah satu hewan peliharaan paling sukses di dunia, Felis lybica tetap mempertahankan sifat liarnya. Mereka hidup soliter, aktif malam hari dan merupakan pemburu ulung. Mangsa utamanya adalah hewan pengerat, tetapi mereka juga memangsa burung, reptil, hingga serangga. Kemampuan beradaptasi menjadi salah satu keunggulan terbesar spesies ini. Di habitat yang subur mereka dapat hidup di wilayah jelajah yang relatif kecil, sedangkan di daerah gurun yang miskin sumber daya mereka sanggup menjelajah puluhan kilometer persegi untuk mencari makanan.

Sayangnya, karena dianggap tersebar luas, Felis lybica kurang mendapat perhatian konservasi. Statusnya masih dikategorikan Risiko Rendah (Least Concern) oleh IUCN, tetapi para peneliti menilai penilaian tersebut belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya karena minimnya data populasi. Ancaman terbesar saat ini bukan hanya hilangnya habitat, melainkan perkawinan silang dengan kucing rumahan. Kawin silang terus-menerus dapat menghilangkan kemurnian genetik spesies liar yang telah berevolusi selama ratusan ribu tahun.

Para ilmuwan mendorong langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat, yaitu mensterilkan kucing peliharaan dan mencegahnya berkeliaran di kawasan yang berbatasan dengan habitat kucing liar. Upaya ini bukan hanya mengurangi populasi kucing terlantar, tetapi juga membantu menjaga warisan genetik nenek moyang seluruh kucing rumahan.

Setiap kali seekor kucing mengeong di depan pintu rumah atau meringkuk di sofa, sebenarnya kita sedang melihat hasil dari perjalanan evolusi yang dimulai ribuan tahun lalu.

Foto utama: Kucing liar afro-asia sangat mampu beradaptasi dengan berbagai ekosistem, tetapi terancam oleh perkawinan silang dengan kucing domestik. Foto: Marna Herbst.

Jangan Sentuh, Burung Endemik Papua Ini Beracun

Editor 15 Jul 2026

Di alam, warna mencolok sering menjadi tanda bahaya. Pada pitohui, burung endemik Papua, peringatan itu bukan sekadar isyarat. Kulit dan bulunya benar-benar mengandung racun yang dapat mengusir predator maupun parasit. Ironisnya, kemampuan bertahan hidup yang unik ini tidak membuat pitohui aman dari ancaman manusia. Dalam beberapa tahun terakhir, burung “beracun” tersebut justru semakin sering ditemukan di pasar burung dan platform jual beli daring.

Keunikan pitohui terletak pada racun yang terdapat di kulit dan bulunya. Burung ini mengandung neurotoksin kuat yang membantu melindungi tubuhnya dari parasit, seperti kutu dan caplak, sekaligus menghalau predator. Saat disentuh manusia, racun tersebut dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan menimbulkan sensasi seperti reaksi alergi. Meski demikian, racun ini tidak menghalangi minat para kolektor, karena pitohui memiliki suara kicauan yang keras dan merdu.

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Bird Conservation International (Desember 2024) menunjukkan perubahan cukup mencolok. Selama dua dekade, antara 1994 hingga 2014, pitohui nyaris tidak pernah ditemukan dalam perdagangan burung kicau. Namun sejak 2015, spesies ini mulai bermunculan di pasar burung dan media sosial. Hingga 2023, peneliti mencatat sedikitnya 113 individu dijual di 12 pasar burung serta 199 individu diperdagangkan secara daring. Dari jumlah itu, 54 individu merupakan pitohui kepala hitam (Pitohui dichrous), spesies yang dikenal paling beracun.

Mengapa pitohui tiba-tiba diminati? Salah satu penyebabnya adalah krisis burung kicau di Indonesia. Banyak spesies favorit penghobi semakin langka akibat perburuan berlebihan, sehingga pasar terus mencari “pengganti” baru. Pitohui kemudian dipasarkan dengan nama dagang yang lebih menarik, seperti “cucakrawa Papua”, memanfaatkan popularitas cucakrawa asli yang kini semakin sulit ditemukan di alam.

Fenomena ini mencerminkan pola yang telah lama diamati para peneliti. Ketika satu spesies menjadi langka akibat eksploitasi, perdagangan akan beralih ke spesies lain yang sebelumnya kurang diminati. Pergeseran tersebut membuat tekanan terhadap satwa liar terus berpindah tanpa pernah benar-benar berhenti. Di Pulau Jawa sendiri, hobi memelihara burung sangat populer, dengan puluhan juta burung diperkirakan dipelihara di sangkar. Sebagian besar, berasal dari tangkapan alam liar, sehingga perdagangan burung menjadi penyebab utama penurunan populasi berbagai spesies di Indonesia.

Sebagian besar pitohui yang diperdagangkan berasal dari Papua dan masuk ke Pulau Jawa melalui Surabaya, lalu dijual dengan harga sekitar Rp1-5 juta per individu. Laporan TRAFFIC menunjukkan meningkatnya penyitaan pitohui dalam beberapa tahun terakhir, mengindikasikan bahwa perdagangan ilegal spesies ini terus berkembang. Namun, para ahli mengingatkan bahwa jumlah penyitaan kemungkinan hanya menggambarkan sebagian kecil dari perdagangan yang sebenarnya.

Meski seluruh spesies pitohui saat ini masih berstatus Least Concern menurut Daftar Merah IUCN, namun tidak ada kuota resmi yang mengizinkan perdagangan satwa ini di Indonesia. Artinya, penjualannya dapat dikategorikan ilegal. Para konservasionis menilai pemerintah perlu memperkuat pemantauan pasar burung dan perdagangan daring sebelum permintaan meningkat lebih jauh dan mulai mengancam populasi pitohui di alam liar.

Foto utama: Pitohui waigeo (P. cerviniventris). Tidak ada spesies pitohui terdaftar sebagai spesies yang dilindungi di Indonesia, namun tidak ada kuota resmi untuk perdagangan mereka, yang menjadikan penjualannya ilegal. Foto: Marcthibault via iNaturalist (CC-BY-NC 4.0).

Pitohui waigeo (P. cerviniventris). Tidak ada spesies pitohui yang terdaftar sebagai spesies yang dilindungi di Indonesia namun tidak ada kuota resmi untuk perdagangan mereka, yang menjadikan penjualannya ilegal. Foto: marcthibault via iNaturalist (CC-BY-NC 4.0).

Perairan Taman Nasional Komodo, Benteng Terakhir Pari Manta Karang

Editor 14 Jul 2026

Di tengah tekanan perikanan, pariwisata, dan perubahan iklim, Taman Nasional Komodo menjadi salah satu tempat paling penting bagi kelangsungan hidup pari manta karang (Mobula alfredi). Sebuah penelitian terbaru tahun 2022, mencatat sedikitnya 1.085 individu pari manta karang hidup di kawasan ini, menjadikannya populasi terbesar yang pernah didokumentasikan di dunia.

Pari manta memilih perairan Komodo karena kaya plankton, sumber makanan utama mereka. Selain mencari makan, kawasan ini juga menjadi lokasi berkembang biak dan “stasiun pembersihan”, tempat ikan-ikan kecil membersihkan parasit dari tubuh pari manta. Menurut peneliti utama riset tersebut, Elitza Germanov dari Marine Megafauna Foundation, jumlah ini kemungkinan masih belum mencakup seluruh individu yang menghuni seluruh kawasan.

Temuan ini memberi secercah harapan bagi spesies yang kini berstatus Rentan menurut Daftar Merah IUCN. Para ilmuwan menyebut populasi besar seperti di perairan TN Komodo dapat menjadi benteng terakhir yang menjaga spesies ini dari kepunahan lokal di berbagai wilayah lain.

Meski Indonesia telah melarang penangkapan dan perdagangan pari manta sejak 2014, ancaman belum sepenuhnya hilang. Penangkapan ikan ilegal masih terjadi, sementara pari manta juga kerap menjadi tangkapan sampingan yang tidak disengaja. Dalam penelitian tersebut, 56 individu ditemukan memiliki luka yang diduga berasal dari alat tangkap perikanan.

Tekanan juga datang dari sektor pariwisata. Meningkatnya aktivitas wisata bahari berpotensi mengganggu perilaku alami pari manta. Satwa ini dapat tertabrak kapal atau baling-baling, serta sensitif terhadap kebisingan dan kehadiran manusia yang berlebihan. Jika berlangsung terus-menerus, gangguan tersebut dikhawatirkan mempengaruhi kesehatan hingga keberhasilan reproduksi mereka.

Di luar aktivitas manusia, krisis iklim memperumit keadaan. Kenaikan suhu laut, pengasaman laut, dan pencemaran, termasuk sampah plastik, dapat mengurangi kualitas habitat dan ketersediaan plankton yang menjadi sumber makanan utama pari manta.

Kerentanan spesies ini diperparah siklus reproduksinya yang sangat lambat. Pari manta baru mencapai kematangan seksual sekitar usia 10 tahun dan umumnya hanya melahirkan satu anak setiap dua tahun. Artinya, kehilangan beberapa individu saja dapat memerlukan waktu puluhan tahun untuk dipulihkan.

Penelitian ini sendiri memanfaatkan teknik identifikasi foto berdasarkan pola unik di bagian bawah tubuh setiap pari manta. Menariknya, data tidak hanya dikumpulkan oleh peneliti, tetapi juga operator selam dan masyarakat melalui program ilmuwan warga. Kolaborasi tersebut memungkinkan pemantauan populasi secara lebih luas dan berkelanjutan.

Para peneliti berharap keberhasilan konservasi di perairan TN Komodo dapat diperkuat dengan pengawasan terhadap perikanan ilegal, pengelolaan wisata yang lebih bertanggung jawab, serta perlindungan habitat di perairan sekitarnya. Jika ancaman-ancaman tersebut dapat ditekan, populasi pari manta di Indonesia berpeluang pulih dan tetap menjadi simbol sehatnya ekosistem laut Nusantara.

Catatan: artikel asli Bahasa Inggris berjudul: “For reef mantas, Indonesi’s Komodo National Park is a ray of hope”, diterjemahkan oleh Akita Verselita.

Foto utama: Pari manta yang rentan terhadap ancaman kepunahan telah menemukan tempat berlindung yang aman di Taman Nasional Komodo. Foto: Simon Pierce.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.