Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua

Terbaru

Cerita fitur

Tradisi Masyarakat Kampung Yoboi Tergerus Ancam Kelestarian Hutan Sagu

Larius Kogoya 17 Sep 2026
Cerita fitur

Khawatir Daya Rusak, Warga Tolak Proyek Panas Bumi Ungaran

Triyo Handoko 17 Sep 2026
Cerita fitur

Terjadi Lonjakan Sakit Pernapasan Dampak Asap Kebakaran Hutan

Achmad Rizki Muazam 16 Sep 2026
Cerita fitur

Jongot dan Paye, Pertahanan Terakhir Masyarakat Tempirai Hadapi Kebakaran Hutan dan Lahan

Taufik Wijaya 16 Sep 2026

Opini: “Living Economy” dan Ekstraktivisme Tambang Mineral Kritis

Muhamad Karim* 16 Sep 2026

Ritual Adat Belian, Ucap Syukur Warga Muara Kate Jemput Keadilan

Muhibar Sobary Ardan 15 Sep 2026
Semua berita

Berita utama

Tradisi Masyarakat Kampung Yoboi Tergerus Ancam Kelestarian Hutan Sagu

Larius Kogoya 17 Sep 2026

Khawatir Daya Rusak, Warga Tolak Proyek Panas Bumi Ungaran

Triyo Handoko 17 Sep 2026

Terjadi Lonjakan Sakit Pernapasan Dampak Asap Kebakaran Hutan

Achmad Rizki Muazam 16 Sep 2026

Jongot dan Paye, Pertahanan Terakhir Masyarakat Tempirai Hadapi Kebakaran Hutan dan Lahan

Taufik Wijaya 16 Sep 2026

Ketika Masyarakat Sungai Gelam Belajar Deteksi Dini Api

Teguh Suprayitno 15 Sep 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

Ke Mana Air Itu Mengalir? Dari Gua Legaelol ke Sungai Sagea: Jejak Air yang Ungkap Ancaman di Hulu

Aziz Fardhani Jaya * 16 Jun 2026

Spesies Baru: Ikan Tanpa Mata Ini Bernama Barbodes klapanunggalensis

Nopri Ismi 27 Feb 2025

Mencari Laba-laba Mata Kecil Jantan Pertama Indonesia di Gua Karst Jonggrangan

Cahyo Rahmadi* dan Sidiq Harjanto** 13 Sep 2024

Karst Sagea Halmahera: Antara Megahnya Gua Bokimoruru dan Ancaman Rusaknya Ekosistem

Aziz Fardhani Jaya * 21 Okt 2023

Gua dan bentang karst menyimpan rekaman penting perjalanan bumi. Di dalamnya terdapat fauna unik hasil adaptasi ekstrem, peninggalan seni prasejarah tertua, serta sistem hidrologi bawah tanah penyuplai air bersih bagi jutaan orang. Kawasan ini menghadapi ancaman nyata dari aktivitas tambang dan alih fungsi lahan. Sains bawah tanah, jejak awal manusia, dan ancaman kerusakan lingkungan saling […]

Jejak Rapuh Gua dan Karst series

Lebih spesial

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

9 cerita

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil

9 cerita

Lutung Jawa: Satwa Endemik Jawa di Ujung Tanduk

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Seberapa Besar Peran Industri dalam Pengembangan PLTS Atap?

Akita Verselita 10 Sep 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Leah Varjacques, Rizky Rahad, Sandy Watt 1 Sep 2026

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Ekspor Monyet Ekor Panjang, Bagaimana Dampak Populasinya di Alam?

Editor 17 Sep 2026

Rencana pemerintah mengekspor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) untuk kepentingan penelitian memunculkan pertanyaan mengenai kesejahteraan satwa dan dampaknya terhadap populasi di alam. Persoalannya tidak hanya terjadi saat monyet digunakan di laboratorium, tetapi bermula sejak penangkapan, pemindahan, penangkaran, hingga pengiriman.

Jakarta Animal Aid Network (JAAN) secara tegas menolak rencana tersebut. Menurut Benvika, Co-Founder sekaligus National Director JAAN, pemanfaatan primata ini berpotensi menghadirkan rangkaian penderitaan panjang.

“Kami selalu menolak pemanfaatan monyet ekor panjang dalam bentuk apapun,” katanya.

Pemerintah menggunakan skema penangkaran untuk memastikan monyet yang diekspor tidak berasal dari alam. Namun, kemampuan penangkaran menghasilkan individu dalam jumlah besar masih dipertanyakan. Monyet ekor panjang merupakan satwa sosial dengan struktur kelompok yang kompleks dan wilayah jelajah luas. Ketika ditempatkan dalam kandang sempit dalam waktu lama, mereka rentan mengalami stres dan gangguan perilaku.

Masalah lain adalah keterlacakan asal satwa. Meningkatnya permintaan dapat menciptakan insentif ekonomi bagi masyarakat untuk menangkap monyet liar, termasuk dari kawasan konservasi. Karena itu, pengawasan harus mampu memastikan seluruh individu benar-benar berasal dari penangkaran terstandar.

Anggapan bahwa monyet ekor panjang berpopulasi berlebih juga perlu dikaji hati-hati. Fahma Wijayanti, pengajar Primatologi UIN Jakarta, menjelaskan bahwa penelitian pada 2024–2026 di sejumlah wilayah Sumatera mencatat kepadatan sekitar 5–9 individu per hektare. Namun, angka tersebut belum cukup untuk menyatakan populasinya aman.

Jumlah keseluruhan yang besar dapat tersusun atas kelompok-kelompok kecil yang rentan. Struktur kelompok, jumlah individu, kondisi habitat, serta kemampuan berkembang biak perlu diperhitungkan dalam menilai kesehatan populasi.

Istilah “hama” juga tidak selalu mencerminkan jumlah satwa. Monyet dapat memasuki permukiman karena habitatnya menyusut atau tidak lagi menyediakan cukup makanan. “Sebaliknya, populasi besar tidak otomatis jadi hama apabila habitat alaminya mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka,” jelas Fahma.

Kemiripan genetik, anatomi, fisiologi, dan perilaku dengan manusia memang membuat monyet ekor panjang digunakan dalam penelitian. Namun, kebutuhan tersebut harus mempertimbangkan status konservasinya dan kemajuan metode alternatif.

Pengembangan non-animal models atau new approach methodologies dinilai perlu menjadi arah penelitian masa depan. Jika ekspor tetap dilakukan, jumlahnya harus dibatasi, sumber individunya dapat dilacak, dan pengawasannya dijalankan secara ketat agar kebutuhan penelitian tidak menambah tekanan terhadap populasi liar.

Foto utama: Monyet ekor panjang akan diekspor untuk kebutuhan penelitian, yang rencana ini dinilai tidak sejalan dengan prinsip penerapan kesejahteraan satwa liar. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia.

Punya Hutan Mangrove Seluas 3,4 Juta Hektar, Indonesia Berpacu Wujudkan World Mangrove Center

Editor 16 Sep 2026

Indonesia kembali menghidupkan rencana membangun World Mangrove Center (WMC), pusat kolaborasi global untuk konservasi dan restorasi mangrove. Gagasan yang sempat mandek ini dinilai strategis karena Indonesia memiliki sekitar 3,4 juta hektar mangrove atau hampir seperempat luas mangrove dunia.

Modal tersebut menempatkan Indonesia pada posisi penting dalam perlindungan ekosistem pesisir. Mangrove bukan sekadar pepohonan di garis pantai. Ekosistem ini berfungsi meredam abrasi dan badai, menyimpan karbon biru, menyediakan habitat bagi berbagai spesies, serta menopang kehidupan masyarakat pesisir.

Menurut Dyan Murtiningsih, Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan, pengelolaan mangrove mencakup tiga dimensi yang saling berkaitan: ekologi, sosial-ekonomi, dan iklim global. Namun, mangrove menghadapi tekanan perubahan penggunaan lahan, pencemaran, krisis iklim, serta kapasitas kelembagaan yang belum merata.

“Tidak ada satu negara, satu kementerian, atau satu organisasi pun yang bisa menyelesaikan persoalan ini sendirian,” katanya.

Perjalanan menuju WMC dimulai sejak konferensi mangrove di Bali pada 2017. Indonesia kemudian membawa gagasan tersebut ke forum Perserikatan Bangsa-Bangsa hingga menghasilkan Resolusi Nomor 12 Tahun 2019 dalam UNEA-4 di Nairobi, Kenya. Resolusi itu menjadi panduan bagi negara-negara dunia, terutama pemilik mangrove, dalam mengelola ekosistemnya.

Ketua Forum Daerah Aliran Sungai Nasional Putera Parthama menjelaskan, WMC tidak dirancang sebagai lembaga besar dengan kompleks perkantoran megah. WMC akan menjadi simpul jaringan yang menghubungkan pemerintah, peneliti, pengusaha, organisasi, dan masyarakat dari berbagai negara. Kegiatannya mencakup riset bersama, pertukaran praktik terbaik, penguatan kapasitas, serta pengembangan standar pengukuran dan verifikasi karbon biru.

Keberlanjutan pendanaan menjadi salah satu kunci. Ahli kehutanan Agus Justianto mengusulkan skema blended finance yang menggabungkan anggaran publik, investasi swasta, dan hibah internasional. Pilihan lainnya adalah pembayaran berbasis hasil melalui mekanisme REDD+.

Namun, ambisi tersebut menghadapi tantangan besar. Sekitar 700.000 hektar mangrove Indonesia dilaporkan mengalami kerusakan, sementara rehabilitasinya membutuhkan biaya dan proses panjang. Pergantian pemerintahan juga kerap mengubah kebijakan dan target restorasi.

Indonesia pun berpacu dengan inisiatif serupa yang didukung China. Jika kembali terlambat, Indonesia berisiko kehilangan posisi sebagai penggagas meskipun memiliki mangrove terluas. Karena itu, realisasi WMC membutuhkan konsistensi kebijakan, kesamaan pemahaman antara pihak, pendanaan berkelanjutan, dan keberanian memperbaiki pendekatan.

Foto utama: Hutan mangrove dan sungai di pesisir timur Aceh dilihat dari udara. Jalur ini, dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk menyelundupkan satwa liar dan barang lainnya ke luar negeri. Foto drone: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Bukan Hanya Cerdas, Lumba-lumba Juga Benteng Ekosistem Laut Indonesia

Editor 16 Sep 2026

Kemunculan lumba-lumba di permukaan laut bukan sekadar pemandangan menarik. Kehadiran mamalia cerdas ini dapat menjadi tanda bahwa perairan masih menyediakan makanan dan habitat yang mendukung kehidupan. Jika mereka semakin jarang terlihat, ada kemungkinan ekosistem laut sedang menghadapi masalah.

Indonesia memiliki 37 jenis mamalia laut, termasuk 17 jenis lumba-lumba. Letak perairannya yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Hindia membuat Indonesia menjadi habitat, tempat singgah, sekaligus jalur migrasi penting. Laut Banda, Selat Bali, Selat Lombok, dan Laut Sawu merupakan beberapa kawasan yang kerap dilalui lumba-lumba.

“Lumba-lumba adalah mamalia laut yang berenang dengan jarak tempuh jauh. Mereka bisa mencari habitat baru di lokasi lain, beda samudera,” kata Dondy Arafat, pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University.

Jenis yang sering dijumpai di Indonesia antara lain lumba-lumba hidung botol, pemintal, tutul, dan Risso. Sebagian hanya melintas, sedangkan lainnya memilih menetap untuk sementara atau dalam waktu lama.

Namun, perjalanan mereka dipenuhi ancaman. Lumba-lumba dapat terjerat alat tangkap sebagai tangkapan sampingan atau bycatch. Mereka juga menghadapi sampah plastik, pencemaran laut, kerusakan habitat pesisir, perburuan, serta kebisingan kapal yang mengganggu komunikasi dan kemampuan ekolokasi. Pariwisata yang tidak terkendali juga dapat menambah tekanan.

Krisis iklim memperbesar ancaman tersebut. Peningkatan suhu laut dapat mengubah ekosistem dan mempengaruhi ketersediaan makanan. Gangguan-gangguan ini diduga turut meningkatkan risiko lumba-lumba terdampar dan mati.

Ironisnya, data populasi lumba-lumba di Indonesia masih sangat terbatas. Mira Sekar, pakar mamalia laut dari Pusat Riset Sistem Biota BRIN, mengatakan penelitian populasi baru banyak dilakukan terhadap pesut mahakam.

“Penelitian sangat mahal, butuh anggaran besar dan keberpihakan lebih besar terhadap spesies ini,” ujarnya.

Indonesia juga belum memiliki mekanisme rehabilitasi maupun rencana induk khusus perlindungan lumba-lumba. Padahal, menjaga jalur migrasi membutuhkan kerja bersama pemerintah, peneliti, nelayan, pelaku wisata, industri, dan penegak hukum.

“Lumba-lumba adalah benteng lautan, jika terancam maka ekosistem laut terancam juga.”

Melindungi lumba-lumba berarti menjaga rantai kehidupan laut. Sebab, ketika populasinya menurun atau kemunculannya semakin langka, ancamannya tidak berhenti pada satu spesies. Laut yang tidak sehat pada akhirnya juga akan mengancam kehidupan manusia.

Foto utama: Subspesies lumba-lumba hidung botol baru ini dikenal sebagai lumba-lumba hidung botol Pasifik Tropis Timur (Tursiops truncatus nuuanu). Foto : NOAA/NMFS/SWFSC.

Kisah Fitriani Mengubah Duka “For Gajah Rahman” Menjadi Gerakan Konservasi Gajah Sumatera

Editor 15 Sep 2026

Setangkai krisan putih dibagikan kepada orang-orang yang melintas di depan Kantor Gubernur Riau. Tanpa teriakan, massa menyampaikan tuntutan yang telah mereka suarakan selama dua tahun: mengungkap pelaku pembunuhan Rahman, gajah binaan Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo.

Di tengah aksi sunyi itu berdiri Fitriani Dwi Kurniasari. Perempuan yang akrab disapa Ani tersebut terus mencari cara agar kematian Rahman tidak dilupakan publik dan penyelidikannya tidak berhenti tanpa kejelasan.

“Aksi sunyi itu sebagai pengingat pada penegak hukum untuk melanjutkan tugasnya dan mengingatkan komitmen mengusut tuntas kasus kematian gajah Rahman,” katanya.

Rahman ditemukan sekarat pada 10 Januari 2024 setelah diracun. Gading kirinya hilang, tetapi tidak diambil secara utuh. Tidak ditemukan pula ceceran darah dalam jumlah besar. Gajah jantan itu masih bertahan hidup selama delapan jam sebelum akhirnya mati. Kejanggalan tersebut terus menjadi pertanyaan bagi Ani dan para pemerhati satwa.

Kedekatan Ani dengan Rahman bermula ketika ia bekerja sebagai Database & Support Officer Wildlife Crime Team WWF Program Riau. Tugasnya membawa Ani ke pengadilan, kejaksaan, dan kantor polisi untuk memantau perkara kejahatan terhadap satwa. Sesekali, ia juga mengunjungi Tesso Nilo dan berinteraksi dengan gajah-gajah Flying Squad, termasuk Rahman.

Kabar kematian Rahman membuatnya terpukul. Ani kemudian membuat akun Instagram For Gajah Rahman sebagai ruang untuk menyimpan kenangan sekaligus mengawal perkembangan kasus. Ia mengajak masyarakat yang pernah bertemu “Kapten” Rahman membagikan foto dan cerita. Dalam waktu kurang dari sepekan, akun tersebut memperoleh seribu pengikut.

Namun, kampanye melalui media sosial belum menghasilkan titik terang. Ani mengadakan diskusi publik, berkolaborasi dengan komunitas, dan menggelar aksi damai. Ia juga menghubungi aktor Chicco Jerikho, yang pernah bertemu Rahman. Bersama Chicco, Ani mendatangi Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau untuk mendorong penyelidikan.

Upayanya berlanjut ketika Kapolda Riau berganti. Ani rutin menyebut akun Kapolda Irjen Pol Herry Heryawan di Instagram. Ia bahkan mengikuti Riau Bhayangkara Run sejauh 10 kilometer dengan kostum gajah setelah berlatih selama dua bulan. Aksi tersebut dilakukan untuk membawa kasus Rahman langsung ke ruang publik.

Setelah mengajukan audiensi, Ani akhirnya bertemu Kapolda Riau pada Agustus 2025. Kepolisian berjanji mengupayakan penyelidikan ulang, tetapi hingga dua tahun lebih setelah kematian Rahman, pelakunya belum terungkap.

Kasus ini mencerminkan lemahnya penegakan hukum terhadap kejahatan satwa di Riau. Ani mencatat 167 gajah mati sepanjang 2004–2025, sebagian besar akibat racun, tetapi hanya tiga kasus perburuan yang sampai ke pengadilan.

Bagi Ani, perjuangan untuk Rahman telah berkembang menjadi seruan melindungi seluruh gajah sumatera. Persoalannya tidak berhenti pada racun dan perburuan, tetapi juga mencakup penyempitan habitat, kekurangan pakan, dan ancaman penyakit. Menjaga ingatan tentang Rahman berarti memastikan kematiannya tidak menjadi sekadar angka dalam daftar panjang kehilangan gajah di Riau.

Foto utama: Ani pakai atribut gajah saat Bhayangkara Run 2025. Foto: Dokumen pribadi Ani.

Kucing Misterius Kalimantan Kembali Terekam Kamera di Kayan Mentarang

Editor 15 Sep 2026

Selama berbulan, sebuah kamera pengintai bekerja tanpa suara di bawah kanopi hutan primer Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kalimantan Utara. Ketika datanya diperiksa, kamera itu menyimpan rekaman istimewa: seekor kucing merah kalimantan berjalan sambil menggigit mangsa.

Kucing merah kalimantan (Catopuma badia) merupakan salah satu karnivora paling misterius di Pulau Kalimantan. Satwa berstatus Genting ini sulit diamati karena hidup menyendiri, memiliki kepadatan populasi rendah, dan cenderung menghindari manusia.

Rekaman terbaru diperoleh di Resor Mentarang Tubu, Desa Rian Tubu. Kamera dipasang dalam kegiatan patroli perlindungan kawasan pada 2025 dan datanya baru diunduh pada 2026. Tiga tahun sebelumnya, spesies yang sama terekam di Resor Sungai Bahau setelah lebih dari dua dekade tanpa dokumentasi baru di kawasan tersebut.

Pada salah satu foto, kucing itu terlihat membawa mangsa yang diduga tupai bergaris (Tupaia dorsalis). Selama ini, makanan kucing merah diketahui mencakup hewan pengerat dan tupai. Foto tersebut memberi petunjuk langka mengenai perilaku berburunya, meski jenis kelamin individu belum dapat diketahui. Umurnya diperkirakan remaja hingga dewasa.

“Spesies ini sangat sulit dijumpai langsung, sehingga dokumentasi melalui camera trap membantu kami memperoleh data mengenai keberadaannya di dalam kawasan,” kata Seno Pramudito, Kepala Balai TNKM.

Kucing merah umumnya memiliki bulu merah karat, tetapi sebagian individu berwarna abu-abu. Tubuhnya ramping, telinganya bulat, dan ekornya panjang. Bentuk tubuh tersebut memunculkan dugaan bahwa satwa ini mengandalkan kecepatan ketika mengejar mangsa.

Pengetahuan mengenai kehidupannya masih sangat terbatas. Para ilmuwan memperkirakan panjang generasinya sekitar enam tahun, tetapi masa kehamilan dan usia individu di alam belum diketahui. Satwa ini sempat dianggap aktif pada malam hari. Namun, rekaman kamera terbaru juga memperlihatkan aktivitas pada siang hari. Semua dokumentasi menunjukkan individu sendirian, memperkuat dugaan bahwa kucing merah bersifat soliter.

Populasinya diperkirakan hanya sekitar 2.200 individu di alam liar. Tidak ada laporan individu yang hidup dalam penangkaran. Persebarannya terbatas di Kalimantan, mencakup wilayah Indonesia serta Sabah dan Sarawak di Malaysia.

Keberadaan kucing merah sangat bergantung pada hutan primer atau sekunder yang rapat dan saling terhubung. Satwa ini tidak mampu bertahan di kawasan monokultur atau hutan yang mengalami deforestasi parah. Hilangnya habitat, penangkapan ilegal, serta jerat yang dipasang untuk satwa lain menjadi ancaman utamanya.

Kemunculannya di Kayan Mentarang menunjukkan bahwa bentang hutan masih menyediakan ruang berburu dan populasi mangsa yang memadai. Karena membutuhkan wilayah luas untuk hidup dan berkembang biak, kehadiran kucing merah bukan sekadar catatan tentang satu satwa langka. Ia juga menjadi tanda bahwa rantai makanan dan bentang alam hutan di kawasan tersebut masih terjaga.

Foto utama: Kucing merah kalimantan terekam kamera membawa mangsa di TN Kayan Mentarang pada 2026 ini. Foto: Dok. Balai Taman Nasional Kayan Mentarang.

Ketika Oarfish Terdampar di Lombok, Mitos Gempa Kembali Muncul

Editor 14 Sep 2026

Kemunculan seekor oarfish di Pantai Pink, Desa Sekaroh, Lombok Timur, pada 25 Agustus 2026, kembali menghidupkan mitos lama mengenai ikan pertanda gempa. Tubuhnya yang panjang, pipih, dan berwarna keperakan ditemukan sejumlah anak di bibir pantai. Video penemuan tersebut kemudian menyebar luas di media sosial.

Sebagian warga menghubungkannya dengan gempa yang mengguncang Flores sekitar dua pekan sebelumnya. Spekulasi itu muncul karena oarfish dikenal sebagai penghuni laut dalam yang jarang terlihat manusia. Ketika ikan ini muncul di permukaan atau terdampar, kehadirannya kerap dianggap sebagai peringatan bencana.

Oarfish dari genus Regalecus umumnya terdiri dari dua spesies utama. Regalecus glesne tersebar di Samudra Atlantik, Pasifik, dan Hindia serta dapat tumbuh hingga lebih dari 11 meter. Sementara Regalecus russellii lebih banyak ditemukan di Jepang, Asia Timur, dan Pasifik Barat.

Ikan ini hidup di zona mesopelagik hingga batipelagik, sekitar 200–1.000 meter di bawah permukaan laut. Habitat tersebut hampir tidak tersentuh cahaya matahari, bersuhu rendah, dan memiliki tekanan air sangat tinggi. Kondisi inilah yang membuat perjumpaan dengan oarfish tergolong langka.

Menurut Sukuryadi, Ketua Program Studi Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Mataram, kemunculan oarfish di perairan dangkal lebih mungkin dipengaruhi perubahan lingkungan laut.

“Tidak ada kaitannya dengan gempa bumi, mungkin anomali pemanasan global yang berdampak pada perubahan dan degradasi habitat,” ujarnya.

Perubahan suhu, arus, kadar oksigen, kualitas perairan, serta ketersediaan pakan dapat mengganggu organisme laut dalam. Dalam kondisi tertentu, gangguan tersebut diduga membuat satwa kehilangan orientasi atau berpindah menuju perairan yang lebih dangkal.

Mitos oarfish sebagai pertanda gempa juga berkembang di Jepang. Dalam cerita rakyat setempat, ikan ini disebut Ryugu no Tsukai atau “Utusan dari Istana Naga Laut”. Namun, penelitian ilmiah belum menemukan bukti kuat yang mendukung kepercayaan tersebut.

Yoshiaki Orihara dan tim dari Tokai University menganalisis 336 laporan kemunculan ikan laut dalam dan 221 kejadian gempa di Jepang. Hasilnya, hanya satu peristiwa yang menunjukkan kemungkinan keterkaitan. Hubungan oarfish dan gempa pun dinilai sebagai ilusi korelasi, yakni kecenderungan mengaitkan dua kejadian yang sebenarnya tidak memiliki hubungan sebab-akibat.

Kusnadi, Wakil Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia, juga menilai lokasi penemuan oarfish di selatan Lombok tidak berhubungan langsung dengan gempa di utara Flores. Letaknya terpisah secara geografis dan jeda waktunya lebih dari sepekan.

Kemunculan oarfish memang dapat menjadi pengingat adanya perubahan di ekosistem laut. Namun, ikan ini bukan alat prediksi gempa atau tsunami. Kewaspadaan bencana tetap harus dibangun berdasarkan pemantauan ilmiah, pemahaman risiko, dan kesiapan mitigasi.

Foto utama: Ikan Oarfish yang warga temukan terdampar di pesisir Lombok Timur. Foto: Fecebook Baiq Kolby.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.