Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

The Saint Lucia racer (Erythrolamprus ornatus) | Foto oleh by Toby Ross (Published in Biotaxa)

Dua Kali Dinyatakan Punah, Populasi Ular Paling Langka di Dunia Kini Hanya 20 Ekor, Semuanya di Satu Pulau

3 Sep 2026
Cerita fitur

Asap Kepung Kota Biak, Karhutla Papua Meluas

Larius Kogoya 3 Sep 2026

Selat Drake, Perairan Paling Ganas di Dunia dengan Rekam Jejak Iklim 140.000 Tahun

Akhyari Hananto 2 Sep 2026
Cerita fitur

Menyoal Putusan PTUN Serang Kasus Gugatan Warga Rancapinang

Anggita Raissa 2 Sep 2026

Tambang Emas Ilegal Marak, Maklumat Forkopimda Aceh Tidak Dianggap?

Junaidi Hanafiah 2 Sep 2026
Cerita fitur

Batubara di Bawah Harga Pasaran Rugikan Ekonomi dan Lingkungan

Riyad Dafhi Rizki 2 Sep 2026
Semua berita

Berita utama

Asap Kepung Kota Biak, Karhutla Papua Meluas

Menyoal Putusan PTUN Serang Kasus Gugatan Warga Rancapinang

Anggita Raissa 2 Sep 2026

Batubara di Bawah Harga Pasaran Rugikan Ekonomi dan Lingkungan

Riyad Dafhi Rizki 2 Sep 2026

Alarm Lingkungan dari Berbagai Penjuru Indonesia

Karen Anastasia Surbakti* 1 Sep 2026

Konflik Lahan Tak Kunjung Usai di Rempang

Yogi Eka Sahputra 1 Sep 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
The Saint Lucia racer (Erythrolamprus ornatus) | Foto oleh by Toby Ross (Published in Biotaxa)
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil

Semut Peluru, Semut dengan Sengatan Paling Menyakitkan di Dunia Serangga

Akhyari Hananto 22 Agu 2026

Semut Api Ganas ini Suka ‘Menyerang’ Listrik Hingga Padam

Akhyari Hananto 20 Okt 2025
Tomografi mikro-terkomputasi dari spesies semut neraka yang baru ditemukan mengungkapkan rahang mirip sabitnya, yang terlihat di sisi kiri. Oleh Odair M. Meira

Semut Neraka Berjepit Sabit: Fosil Semut Tertua yang Pernah Ditemukan

Akhyari Hananto 26 Apr 2025

Cara Tidak Biasa Tarantula Hadapi Semut Tentara

Rahmadi Rahmad 5 Sep 2024

Sisi lain kehidupan semut menyimpan rahasia luar biasa yang sering terlewatkan. Dari fosil purba yang merekam jejak ribuan tahun lalu hingga kebiasaan ekstrem modern seperti menyengat, menyerang jaringan listrik, dan menghadapi ancaman predator, serangga kecil ini terus berevolusi dengan strategi yang cerdas. Keragaman jenis, keunikan perilaku, serta daya tahan tubuhnya membuktikan bahwa ukuran bukanlah penghalang […]

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil series

Lebih spesial

9 cerita

Lutung Jawa: Satwa Endemik Jawa di Ujung Tanduk

14 cerita

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri

8 cerita

Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Alarm Lingkungan dari Berbagai Penjuru Indonesia

Karen Anastasia Surbakti* 1 Sep 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Mengenal Lielaphis slashi, Ular Tanah Bernama Gitaris Band Rock Legendaris

Editor 3 Sep 2026

Nama Slash identik dengan gitar, rambut keriting, dan Guns N’ Roses. Namun, kini nama panggung musisi bernama asli Saul Hudson itu juga melekat pada seekor ular tanah yang baru dikenali dari Papua Nugini.

Ular tersebut diberi nama ilmiah Lielaphis slashi. Spesies baru ini diumumkan oleh tim peneliti dari Amerika Serikat, Australia, Papua Nugini, dan Inggris melalui jurnal Zootaxa pada Agustus 2026. Identifikasinya dilakukan dengan menggabungkan data temuan lama dan analisis DNA modern.

Pemberian nama itu berawal dari pengalaman Sara Ruane, salah satu peneliti dalam studi tersebut. Guns N’ Roses telah menjadi band favoritnya sejak kecil. Ia juga pernah melihat foto Slash sedang memegang ular piton dalam sebuah majalah reptil.

Slash dipilih bukan hanya karena terkenal sebagai gitaris. Dia diketahui memiliki ketertarikan terhadap ular, museum, kebun binatang, dan sejarah alam. Selama bertahun-tahun, dia juga mempromosikan serta membela keberadaan ular melalui berbagai media.

Secara fisik, L. slashi tidak memiliki warna atau pola mencolok. Punggungnya berwarna cokelat polos kemerahan, sedangkan bagian bawah tubuhnya putih hingga krem. Bentuk kepalanya sederhana dan panjang tubuhnya sekitar 60-70 sentimeter.

Spesimen yang diteliti berasal dari Desa Utai di Provinsi Sanduan dan Tanjung Kalibobo di Provinsi Madang, Papua Nugini. Sebagian spesimen dikumpulkan oleh herpetolog Chris Austin saat melakukan penelitian lapangan pada 2006.

Ular tanah ini aktif pada malam hari. Ia biasanya ditemukan sesaat setelah matahari terbenam di pangkal pohon besar ketika sedang mencari mangsa. Warna tubuh yang menyatu dengan tanah dan kemampuannya bergerak cepat membuatnya sulit diamati di alam.

Pengetahuan mengenai perilaku spesies ini masih terbatas. Namun, ular dalam genus Lielaphis memiliki gigi besar di bagian belakang mulut. Gigi tersebut kemungkinan digunakan untuk menangkap kadal kecil bersisik licin dan memakan telur reptil lain.

Lielaphis slashi tidak berbisa dan tidak mengancam manusia. Meski begitu, pengamat tetap harus berhati-hati karena beberapa ular berbisa di Papua Nugini memiliki penampilan serupa.

Sejauh ini, spesies tersebut diketahui hidup di hutan sekunder yang relatif belum terganggu di sebelah utara pegunungan tengah Papua Nugini. Persebarannya diperkirakan mencakup Provinsi Sanduan, East Sepik, dan Madang. Peneliti menduga ular ini mungkin juga hidup di wilayah Papua, Indonesia, khususnya di utara pegunungan tengah.

Ancaman justru datang dari aktivitas manusia. Pertambangan dan budidaya kopi berpotensi merusak hutan sekunder yang menjadi habitatnya. Meski bukan hutan primer, kawasan tersebut tetap menyediakan ruang hidup penting bagi berbagai spesies endemik. Penemuan Lielaphis slashi menunjukkan bahwa masih banyak kekayaan hayati Papua yang belum dikenali.

Foto utama: Inilah ular jenis baru dari Papua yang diberi nama Lielaphis slashi. Foto: Chris Austin/Zootaxa.

Inilah Stiphodon annieae, Ikan Unik yang Menghubungkan Sungai dan Laut Halmahera

Editor 2 Sep 2026

Stiphodon annieae merupakan ikan gobi air tawar yang memiliki siklus hidup unik. Ikan ini ditemukan pertama kali di Sungai Wosea, Desa Sawai, Weda Tengah, Halmahera Tengah, Maluku Utara, pada 22 Januari 2010. Penemuan tersebut merupakan hasil riset bersama BRIN dan Muséum National d’Histoire Naturelle Paris, Prancis.

Secara fisik, S. annieae memiliki 14 jari-jari sirip dada dan sembilan jari-jari sirip punggung. Kepala serta lehernya tidak memiliki sisik. Individu jantan dapat dikenali dari warna merah cerah dengan bintik dan pola biru di bagian punggung.

Keunikan utama ikan ini terletak pada siklus hidupnya yang disebut amfidromus. Telur menetas di sungai, kemudian larvanya terbawa arus menuju laut. Setelah berkembang, ikan kembali ke perairan tawar dan hidup hingga dewasa untuk berkembang biak. Artinya, kelangsungan hidupnya bergantung pada hubungan yang tidak terputus antara sungai dan laut.

Perairan Maluku Utara merupakan salah satu wilayah penting bagi persebaran ikan gobi. Sejumlah sungai di Halmahera Tengah, seperti Sungai Sagea, Ake Sawai, DAS Kobe, dan Muara Sungai Waibulen, menjadi habitat berbagai ikan endemik Halmahera, termasuk S. annieae.

Namun, keberadaan ikan ini disebut mulai berkurang. Iwan Kader, Dosen Fakultas Perikanan Universitas Khairun Ternate, mengatakan bahwa S. annieae semakin sulit dijumpai. “Jenis ikan ini makin langka ditemukan,” ujarnya.

Awalnya, S. annieae dianggap memiliki wilayah persebaran sangat sempit karena hanya diketahui berada di Halmahera. Namun, penelitian berikutnya menemukan ikan ini di Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah, sekitar 500-600 kilometer di sebelah barat Halmahera.

Tim peneliti mengumpulkan 23 spesimen dari tiga sungai pesisir yang tidak saling terhubung di Luwuk Banggai. Temuan tersebut menunjukkan bahwa S. annieae mampu menyebar melintasi perairan laut, sebagaimana ikan lain dalam genus Stiphodon.

Identifikasi individu betina masih menjadi tantangan. Ikan jantan dan betina dalam kelompok ini memiliki perbedaan fisik atau dimorfisme seksual. Perbedaannya dapat terlihat pada jumlah sisik, jari-jari sirip punggung, sirip dada, dan bagian insang.

Identifikasi individu betina Stiphodon memang relatif sulit, karena genus ini dan genus-genus Sicydiine biasanya menunjukkan perbedaan fisik sistematis antara jantan dan betina dalam satu spesies yang sama (dimorfisme seksual). Terutama, pada karakter ikan yang dapat dihitung seperti jumlah sisik, jari-jari pada sirip punggung, dada, insang dan sebagainya.

“Studi lebih komprehensif tentang betins dari genus ini perlu dilakukan,” jelas tim riset.

Foto utama: Inilah ikan gobi jenis baru bernama Stiphodon annieae yang hidup di sungai dan laut. Foto: Dok Abdul Gani dkk/Check List.

Seni dan Musik Jadi Perlawanan Kaum Muda Dadap Hadapi Kerusakan Lingkungan Pesisir

Editor 2 Sep 2026

Kerusakan ekosistem pesisir mengubah kehidupan masyarakat Dadap, Kabupaten Tangerang, Banten. Nelayan semakin sulit memperoleh hasil laut, sementara perempuan harus bekerja lebih keras untuk menjaga ekonomi keluarga. Di tengah kondisi tersebut, generasi muda menyuarakan persoalan kampung melalui musik dan seni.

Dadap dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kerang hijau di Jabodetabek. Dahulu, nelayan dapat mencari kerang langsung di alam. Kini, perubahan lanskap pesisir, reklamasi Teluk Jakarta, hilangnya mangrove, serta pencemaran laut membuat kerang semakin sulit ditemukan.

Budidaya kemudian beralih menggunakan keramba jaring apung yang dapat dipindahkan saat kualitas air memburuk. Namun, investasi awalnya mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Mayoritas keramba pun dimiliki pemodal dari luar, sedangkan warga Dadap menjadi buruh budidaya dan pengupas kerang.

Ida, salah seorang perempuan Dadap, mampu mengupas 12–15 kilogram kerang per hari. Dengan upah Rp4.000 per kilogram, penghasilannya berkisar Rp50.000–Rp60.000 sehari.

Fatimah, Ketua Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia Tangerang, mengatakan perempuan harus mencari berbagai cara agar kebutuhan keluarga terpenuhi. Mereka bekerja sebagai pengupas kerang, asisten rumah tangga, pengemudi ojek, pedagang keliling, hingga pengolah hasil laut. Ikan yang kurang diminati pasar diolah menjadi kerupuk dan produk UMKM lain.

Sebagian keluarga nelayan juga terjerat pinjaman bank keliling dan rentenir. Kesulitan ekonomi semakin berat karena banjir rob membawa lumpur dan sampah ke rumah hampir setiap hari. Perempuan yang seharusnya dapat mencari penghasilan harus menghabiskan waktu membersihkan rumah. Kelelahan fisik dan emosional itu turut memengaruhi hubungan mereka dengan anak. “Ketika anak nangis, tambah ruwet karena saya sudah lelah. Jadi akhirnya dampaknya ke anak juga.”, kata Imah.

Kerusakan pesisir juga menekan pendapatan nelayan. Rico Saputra dahulu dapat memperoleh Rp500.000 hingga Rp1 juta per hari. Kini, mendapat Rp300.000 saja sudah sulit. Hasil tangkapan rajungan yang pernah mencapai 10 kilogram turun menjadi paling banyak lima kilogram. Nelayan juga harus melaut lebih jauh sehingga kebutuhan bahan bakar meningkat.

Di tengah kondisi tersebut, generasi muda Dadap membangun ruang perlawanan melalui Festival Dadap. Festival yang berlangsung sejak 2020 itu kembali digelar pada 18–19 Juli 2026 dengan tema “Swasembada Pesisir End Climate Corruption”. Kegiatannya meliputi pertunjukan musik, pengamatan burung pesisir, serta video mapping di tanggul laut.

Inisiator Festival Dadap, Deddy Sopian, mengatakan kegiatan tersebut menjadi sarana menyuarakan kerusakan lingkungan dan pembangunan yang tidak melibatkan masyarakat. Festival juga mengajak anak muda memahami persoalan kampungnya sendiri. “Kita akan semampu mungkin terus bersuara sampai kita mendapatkan keadilan.”

Upaya perempuan dan anak muda memperlihatkan daya lenting masyarakat Dadap. Namun, perjuangan mereka tetap membutuhkan tata kelola pesisir yang adil, pemulihan ekosistem, pelayanan publik yang layak, serta keterlibatan warga dalam setiap keputusan pembangunan.

Foto utama: Kerang hijau yang merupakan sumber penghasilan andalan nelayan Dadap. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia.

Di Balik Hilangnya Hutan, Ada Kucing Batu yang Terdesak Hidupnya

Editor 1 Sep 2026

Ketika hutan hujan diubah menjadi perkebunan sawit, orangutan mungkin menjadi satwa pertama yang terlintas dalam pikiran. Namun, di balik rimbunnya pepohonan Asia Tenggara, hidup jenis kucing liar yang juga sangat bergantung pada keutuhan hutan.

Namanya kucing batu (Pardofelis marmorata). Satwa ini dapat bergerak di daratan sekaligus memanjat pohon sehingga disebut semi-arboreal. Kemampuan tersebut terlihat menguntungkan, tetapi penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa gaya hidupnya membuat kucing batu lebih rentan terhadap kerusakan hutan.

Para peneliti menganalisis foto kamera jebak dari berbagai wilayah Asia Tenggara. Mereka membandingkan penggunaan habitat kucing batu dengan kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis), kucing liar yang lebih sering beraktivitas di darat.

Hasilnya menunjukkan perbedaan mencolok. Kucing kuwuk masih dapat memanfaatkan perkebunan sawit untuk berburu tikus. Sebaliknya, kucing batu memberikan respons buruk terhadap pembukaan hutan dan perkebunan sawit.

Kamera jebak memperlihatkan bahwa kucing batu merupakan spesialis hutan interior. Ia lebih sering ditemukan di kawasan hutan utuh yang luas dan saling terhubung. Perkebunan sawit tidak dapat menggantikan fungsi habitat tersebut meskipun sama-sama dipenuhi pepohonan.

Perubahan lingkungan juga memengaruhi perilakunya. Kucing batu biasanya aktif pada siang hari. Namun, di kawasan yang dekat dengan aktivitas manusia, satwa ini beberapa kali terekam saat senja.

Perubahan waktu aktivitas mungkin menjadi cara kucing batu menghindari manusia. Akan tetapi, strategi itu memiliki konsekuensi. Waktu berburu dan menjelajahnya menjadi lebih singkat. Kucing batu juga berisiko bertemu pesaing atau predator baru yang aktif pada waktu berbeda.

Ancaman semakin besar ketika hutan terpecah menjadi petak-petak kecil. Fragmentasi dapat memutus jalur pergerakan, menyulitkan pencarian makanan dan pasangan, serta mengisolasi populasi. Bagi satwa yang bergantung pada hutan interior, jarak di antara dua petak hutan dapat menjadi penghalang besar.

Temuan ini mendorong peneliti merekomendasikan peningkatan status konservasi kucing batu dari Hampir Terancam menjadi Rentan atau Vulnerable. Wilayah Sabah di Kalimantan, Semenanjung Malaysia, dan Myanmar barat laut dinilai penting untuk perlindungannya.

Dampak serupa mungkin dialami kucing semi-arboreal lain, seperti margay di Amerika Latin. Dibandingkan kucing yang lebih banyak bergerak di tanah, spesies yang bergantung pada pohon tampaknya lebih sulit menyesuaikan diri dengan lanskap perkebunan.

Masih banyak hal mengenai kucing batu yang belum diketahui. Ilmuwan belum memahami secara pasti seberapa sering satwa ini berburu di pohon, berjalan di tanah, atau memilih mangsa tertentu. Sifatnya yang misterius juga membuat catatan keberadaannya sangat terbatas.

Namun, kurangnya data bukan alasan untuk menunda perlindungan. Mempertahankan hutan yang luas serta membangun koridor penghubung di antara habitat yang terpisah menjadi langkah penting.

Bagi kucing batu, hutan bukan sekadar tempat berlindung. Keutuhan pepohonan menentukan apakah satwa pemanjat ini masih memiliki ruang untuk berburu, berkembang biak, dan bertahan hidup.

Foto utama: Seperti kucing batu, margay dianggap semi-arboreal. Bukti menunjukkan bahwa ia dapat beradaptasi dengan beberapa tingkat gangguan tetapi tidak pada perkebunan.Foto: Proyecto Asis via Flickr [CC BY-SA 2.0].

Karhutla Berulang, Gambut Sumatera Selatan Terus Terbakar

Editor 1 Sep 2026

Kebakaran hutan dan lahan kembali melanda Sumatera Selatan. Api yang membakar lahan gambut dan mineral menghadirkan kabut asap hingga ke Palembang. Persoalan ini terus berulang meski berbagai program penanggulangan telah berjalan sejak awal 2000-an.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Selatan, sekitar 1.926 hektar lahan terbakar sepanjang 1 Januari–23 Agustus 2026. Dari 17 kabupaten dan kota, hanya Lubuklinggau dan Pagaralam yang tidak mencatat kebakaran.

Kabut asap telah menyelimuti Palembang selama beberapa hari. Pada 25 Agustus 2026, konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Stasiun Musi 2 mencapai 285,3 mikrogram per meter kubik dan masuk kategori berbahaya.

Yulion Zalpa, peneliti ekologi politik UIN Raden Fatah Palembang, menilai karhutla berulang karena masyarakat dan perusahaan sama-sama memandang gambut sebagai lahan yang dapat dijadikan perkebunan. “Pertama, pengetahuan bahwa gambut dapat dikelola menjadi perkebunan bukan hanya dikuasai perusahaan, juga masyarakat,” katanya.

Masyarakat yang dahulu tidak terbiasa memanfaatkan gambut kini mulai menanam sawit di lahan seluas setengah hingga puluhan hektar. Pengetahuan tersebut diperoleh dari praktik perusahaan perkebunan sawit dan hutan tanaman industri. Akibatnya, gambut tidak lagi dipahami sebagai ekosistem hutan yang harus tetap basah.

Cara membuka dan mengolah lahan juga menjadi persoalan. Membakar masih dianggap sebagai metode termurah dan tercepat karena belum tersedia teknologi alternatif yang mudah dijangkau. Pengeringan rawa, gambut, dan mangrove melalui pembangunan kanal pun telah menjadi praktik umum.

Menurut Yulion, pemerintah tidak cukup hanya melarang dan menghukum pelaku pembakaran. Pemerintah perlu mengembangkan teknologi pengelolaan lahan yang murah, cepat, dan berkelanjutan. Pengetahuan tersebut harus dapat diterapkan oleh perusahaan maupun masyarakat. Krisis iklim juga membuat gambut yang telah mengering semakin mudah terbakar ketika kemarau.

Peneliti kebijakan tata kelola air UIN Raden Fatah Palembang, Ryllian Chandra, melihat persoalan lain berupa hilangnya pengetahuan masyarakat mengenai lahan basah. Pada masa lalu, gambut, rawa, dan mangrove dipahami sebagai bagian dari “rumah air” yang terhubung dengan sungai dan danau. Kini, kawasan tersebut lebih sering dipandang sebagai lahan yang harus dikeringkan untuk pertanian, perkebunan, atau permukiman.

Karhutla Sumatera Selatan bukanlah persoalan baru. Kebakaran besar tercatat sejak 1960-an dan mencapai puncaknya pada 1997-1998. Sepanjang 2015-2019, luas karhutla di provinsi ini bahkan mencapai lebih dari satu juta hektar.

Foto utama: Anggota Manggala Agni wilayah Kabupaten Banyuasin, Sumsel, tengah memadamkan api di lahan gambut terbakar di Desa Babatan Saudagar, Kabupaten Ogan Ilir. Foto: Ahmad Rizki Prabu/Mongabay Indonesia.

Penampakan Mirip Godzilla, Reptil Ini Ternyata Pemakan Rumput Laut

Editor 31 Agu 2026

Sosok Godzilla mungkin hanya hidup dalam film. Namun, Kepulauan Galapagos memiliki reptil yang penampilannya menyerupai monster tersebut dalam ukuran kecil. Satwa itu adalah iguana laut atau Amblyrhynchus cristatus, reptil endemik yang tidak ditemukan secara alami di tempat lain.

Kepulauan Galapagos berada lebih dari 900 kilometer di lepas pantai Ekuador. Di wilayah inilah iguana laut hidup dengan kulit berwarna abu-abu kehitaman dan deretan sisik berbentuk piramida di sepanjang punggung. Kuku tajam serta penampilannya yang garang semakin membuat satwa ini terlihat seperti Godzilla.

Meski tampil menyeramkan, iguana laut bukan pemakan daging. Satwa ini merupakan herbivora yang memakan alga dan rumput laut. Iguana laut juga menjadi satu-satunya spesies kadal yang mencari makanan di laut.

Untuk memperoleh makanan, iguana laut menyelam hingga kedalaman 30 meter. Tubuhnya dapat tumbuh sepanjang 1,2 meter. Ekornya yang berbentuk pipih membantu satwa ini berenang dan bergerak dengan lincah di dalam air.

Namun, iguana laut merupakan hewan eksotermik yang mengandalkan suhu lingkungan untuk mengatur panas tubuh. Karena tidak dapat terlalu lama berada di air dingin, iguana harus kembali ke daratan dan berjemur di bawah sinar matahari setelah menyelam.

Tubuhnya juga memiliki kelenjar yang membantu menyaring dan membuang kelebihan garam. Kemampuan tersebut penting karena iguana laut menghabiskan banyak waktu untuk mencari makanan di perairan laut.

Ketergantungannya terhadap alga membuat iguana laut rentan terhadap perubahan suhu laut. Ketika El Niño terjadi, suhu air meningkat dan menyebabkan ganggang merah serta hijau yang menjadi makanan utamanya menghilang. Ganggang cokelat memang bertambah, tetapi sulit dicerna dan kemungkinan beracun bagi iguana.

Kelangkaan makanan dapat mengakibatkan kematian massal. Selama peristiwa El Niño, sekitar 10 hingga 90 persen populasi iguana laut dapat mati kelaparan. Populasinya diperkirakan tersisa sekitar 210 ribu individu.

Iguana laut memiliki cara unik untuk menghadapi krisis makanan. Satwa ini dapat menyusutkan panjang tubuhnya hingga 20 persen. Tubuh yang lebih kecil membutuhkan lebih sedikit energi untuk mencari makan. Ketika makanan kembali melimpah, ukurannya dapat kembali seperti semula.

IUCN mengategorikan iguana laut sebagai satwa Rentan atau Vulnerable. Selain El Niño, populasinya terancam oleh pertumbuhan penduduk, meningkatnya kegiatan wisata, penyakit, serta pencemaran laut akibat tumpahan minyak dan solar.

Di daratan, iguana laut juga menghadapi predator seperti elang dan bangau. Padahal, daratan tetap dibutuhkan untuk kawin dan berkembang biak.

Iguana laut telah mengembangkan berbagai kemampuan untuk bertahan di lingkungan Galapagos. Namun, perubahan iklim dan aktivitas manusia kini menjadi ancaman besar bagi kelangsungan hidup “Godzilla” kecil yang sesungguhnya tidak berbahaya ini.

Foto utama: Iguana laut (Amblyrhynchus cristatus). Foto: Wikimedia Commons/RAF-YYC from Calgary, Canada/CC BY-SA 2.0.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.