Gua dan bentang karst menyimpan rekaman penting perjalanan bumi. Di dalamnya terdapat fauna unik hasil adaptasi ekstrem, peninggalan seni prasejarah tertua, serta sistem hidrologi bawah tanah penyuplai air bersih bagi jutaan orang. Kawasan ini menghadapi ancaman nyata dari aktivitas tambang dan alih fungsi lahan. Sains bawah tanah, jejak awal manusia, dan ancaman kerusakan lingkungan saling […]
Menjaga Tujuh Mata Air Lombok melalui Tradisi Nunas Nede
Editor24 Sep 2026
Halaman rumah Amaq Marni dipenuhi warga yang menyiapkan beras, ketan, dan kelapa. Hasil pertanian itu akan diolah menjadi makanan untuk ritual Nunas Nede, tradisi tahunan masyarakat Desa Kesik, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, menjelang pergantian musim kemarau menuju musim hujan.
Bagi warga yang menggantungkan hidup pada pertanian, hujan menentukan keberlanjutan penghidupan. Kemarau panjang membuat mata air menyusut dan sawah mengering. Melalui Nunas Nede, mereka memohon hujan sekaligus mengingatkan diri untuk menjaga sumber air.
Prosesi dimulai dengan mengambil air dari tujuh mata air di desa. Air tersebut kemudian disatukan sebagai simbol persatuan kehidupan dan keberkahan alam. Warga membawa hasil bumi, berdoa, berzikir, lalu menikmati makanan bersama.
Amaq Marni, pemangku adat berusia 73 tahun, mengatakan ritual ini mengingatkan masyarakat agar tidak merusak sumber kehidupan.
“Air itu bukan cuma untuk manusia. Air itu hidup untuk semua makhluk. Kalau mata air rusak, sawah rusak, kehidupan juga ikut hilang,” katanya.
Pesan tersebut diwujudkan melalui kegiatan bersama. Warga membersihkan kawasan mata air, mengangkat lumpur dan sampah, memperbaiki saluran, serta menanam pohon. Anak muda membantu membawa perlengkapan dan membersihkan aliran yang tersumbat.
Masyarakat juga mempertahankan aturan tidak tertulis, termasuk larangan menebang pohon tertentu dan membuang sampah sembarangan. Pepohonan di sekitar mata air dijaga karena warga memahami hubungannya dengan keberlangsungan pasokan air.
“Kalau pohon habis ditebang, air juga ikut pergi. Itu pesan orang tua dulu yang selalu kami jaga,” ujar Marni.
Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan musim menambah kecemasan petani. Hujan semakin sulit diperkirakan, debit sejumlah mata air menurun, dan waktu tanam menjadi tidak menentu.
“Dulu musim gampang ditebak. Sekarang kadang hujan terlambat, kadang terlalu deras. Kami petani jadi bingung,” kata Amaq Sati, yang mengikuti ritual sejak kecil.
Muhamad Kadri, Kepala Desa Kesik, mengatakan sebagian besar lahan pertanian desa bergantung pada irigasi dari mata air alami. Karena itu, kehilangan sumber air berarti kehilangan penghidupan.
Nunas Nede sekaligus menjadi ruang mempererat gotong royong dan mewariskan pengetahuan lingkungan. Anak-anak serta remaja diajak mengikuti prosesi, membersihkan mata air, dan mendengarkan cerita para tetua tentang sejarah sumber air desa.
“Kalau anak muda tidak dikenalkan sejak sekarang, nanti mereka hanya tahu air keluar dari keran tanpa tahu bagaimana menjaganya,” kata Kadri.
Meski mulai menarik perhatian pengunjung dari luar desa, warga berusaha mempertahankan makna ritual agar tidak berubah menjadi sekadar pertunjukan wisata. Bagi mereka, merawat Nunas Nede berarti menjaga pengetahuan leluhur tentang air, pepohonan, dan pertanian. Tradisi itu terus hidup melalui pekerjaan bersama untuk memastikan mata air tetap mengalir bagi kehidupan desa dan generasi mendatang.
Foto utama: Prosesi ritual Nunas Nede di Lombok. Foto: Ahmad H. Ramdhani/Mongabay Indonesia.
Mirip Kayu Kering, Ular Siput Jerapah Sulit Terlihat di Lantai Hutan Gunung Slamet
Editor24 Sep 2026
Di antara daun dan ranting basah di lereng selatan Gunung Slamet, Jawa Tengah, Leonardus Adi Saktyari melihat sesuatu yang menyerupai kayu kering. Malam itu hujan deras baru saja reda. Setelah diamati lebih dekat, sosok di pinggir jalur hutan tersebut ternyata seekor ular siput jerapah.
“Secara morfologi mirip kayu kering. Jika tak teliti, akan terlewat,” kata peneliti keanekaragaman hayati dari Mandala Katalika itu. Individu dewasa yang ditemuinya berukuran sekitar 40 sentimeter, bertubuh ramping, dan tidak menunjukkan perilaku agresif.
Pola tubuhnya yang samar membantu ular ini menyatu dengan serasah di lantai hutan. Ganjar Cahyadi, Kurator Museum Zoologi Institut Teknologi Bandung, membenarkan bahwa kemampuan tersebut membuatnya sulit ditemukan. “Kamuflasenya memang sangat baik,” ujarnya.
Selain penampilannya, cara ular ini makan juga menarik perhatian. Ular siput jerapah memiliki rahang yang beradaptasi untuk mengambil tubuh siput dari dalam cangkangnya. Leonardus menggambarkannya, “Seperti menyedot daging siput dari cangkangnya.” Kebutuhannya akan mangsa dan kondisi tempat hidup tertentu membuat ular ini peka terhadap perubahan di sekitarnya.
“Spesies ini sangat bergantung pada mikrohabitat hutan. Jika kondisi lantai hutan terganggu, keberadaanya terancam,” kata Leonardus. Karena itu, perjumpaannya di antara serasah tebal dan tanah yang lembab memberi gambaran tentang tempat hidup yang dibutuhkan ular tersebut.
Namun, temuan satu ular tidak cukup untuk menyatakan seluruh hutan berada dalam kondisi sehat. Ganjar mengingatkan, “Bila hanya satu spesies, agak susah dijadikan kesimpulan umum sebagai indikator kesehatan hutan.” Menurutnya, penilaian seperti itu perlu melihat kumpulan spesies atau komunitas.
Ganjar juga meluruskan anggapan bahwa ular siput jerapah hanya hidup di pegunungan. Meski dijumpai di Gunung Slamet, catatan koleksi dan temuan lapangan menunjukkan spesies bernama ilmiah Aplopeltura boa ini juga dapat ditemukan di dataran rendah, bahkan gambut.
Bagi Leonardus, ancamannya tidak terbatas pada perubahan alami. Ia melihat longsor di beberapa titik jalur observasi, sementara aktivitas manusia turut menjadi perhatian. “Beberapa laporan menyebut ular ini kadang diburu untuk dipelihara karena bentuknya yang unik.”
Perjumpaan malam itu memperlihatkan betapa mudahnya ular siput jerapah luput dari pandangan. Di balik kamuflasenya, kelangsungan hidupnya berkaitan erat dengan kondisi tempat ia berlindung dan mencari makan.
Foto utama: Ular siput jerapah yang jago kamuflase di lantai hutan. Foto: Dok. Leonardus Adi Saktyari.
Belasan Bekantan Mati Terbakar Akibat Karhutla, Peringatan Perlindungan Satwa di Kalimantan Selatan
Editor23 Sep 2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan tidak hanya mengancam manusia. Di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, bekantan ditemukan mati terbakar pada Minggu, 13 September 2026. Tragedi ini memperlihatkan rentannya satwa ketika api mengepung habitat mereka.
Alamsyah, Kepala Desa Balimau, menyebut warga dan petugas menemukan 11 bekantan mati, terdiri dari sepuluh dewasa dan satu anakan. Sementara itu, BKSDA Kalimantan Selatan mencatat 12 bekantan terdampak, bersama satu ular piton dan satu king kobra.
Alamsyah menduga api berasal dari desa tetangga, lalu menyeberangi sungai melalui percikan yang terbawa angin. Vegetasi kering di padang rumbia membuat kobaran cepat membesar. Bekantan diperkirakan kesulitan melarikan diri karena api berada di satu sisi, sementara petugas dan warga berkumpul di sisi lain.
Pemadaman juga terkendala sumber air yang mengering. Warga hanya memiliki pompa portabel sehingga harus meminta bantuan petugas dan kendaraan tangki dari luar desa.
Menurut Alamsyah, permintaan perlindungan habitat bekantan sudah disampaikan sejak 2016, tetapi belum mendapat respons. Ia berharap perhatian pemerintah tidak hanya muncul setelah satwa mati.
Ancaman serupa membayangi habitat bekantan di Desa Sungai Rutas Hulu dan Sungai Rutas, Kabupaten Tapin. Meski tidak ada bekantan dilaporkan menjadi korban dalam kebakaran terbaru, vegetasi yang menjadi tempat hidup dan sumber pakan mereka ikut terbakar. Pemulihannya membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Sepanjang Januari hingga 15 September 2026, BPBD Kalimantan Selatan mencatat 3.256 kejadian kebakaran dengan luas terdampak 21.696 hektar. Di tengah kebakaran yang meluas, perlindungan satwa menghadapi persoalan pembagian kewenangan.
Data BKSDA pada 2025 mencatat 3.757 bekantan tersebar di 11 kabupaten/kota. Hanya 1.281 individu berada di kawasan konservasi. Sebanyak 2.476 lainnya, sekitar dua pertiga populasi yang tercatat, hidup di luar kawasan tersebut.
Agus Ngurah, Kepala BKSDA Kalimantan Selatan, mengatakan pihaknya memiliki mekanisme pencegahan hingga penyelamatan, termasuk patroli, pemantauan titik panas, dan kesiagaan Wildlife Rescue Unit. Namun, mekanisme itu kebanyakan berjalan di kawasan konservasi yang menjadi wilayah kerjanya.
Untuk habitat di luar kawasan konservasi, perlindungan membutuhkan koordinasi dengan pemerintah daerah dan pengelola lahan. BKSDA mendorong skema areal preservasi guna memperluas ruang perlindungan satwa.
Muhammad Arief Soendjoto, Guru Besar Ilmu Konservasi Flora dan Fauna Universitas Lambung Mangkurat, mengkritik penanganan karhutla yang dinilainya masih terlalu berfokus pada pemadaman.
“Sudah habitatnya habis ditebang, ditambah kebakaran. Jangankan api, asapnya saja pasti membuat mereka susah bernafas. Dia mau lari juga ke mana?” katanya.
Arief menekankan pentingnya pencegahan, pelibatan tokoh agama untuk mengingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan, serta penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran. Tanpa langkah tersebut, kebakaran berulang akan terus mempersempit habitat dan menekan populasi satwa liar.
Foto utama: Bekantan yang menyukai habitat hutan mangrove di Kalimantan. Foto: Rhett Butler /Mongabay.
Kucing Tandang Kembali Terekam Setelah 30 Tahun Tak Terpantau di Thailand, Bagaimana di Indonesia?
Editor23 Sep 2026
Seekor kucing tandang betina berjalan perlahan pada malam hari di hutan rawa gambut Suaka Margasatwa Putri Sirindhorn, Thailand Selatan. Seekor anak mengikuti di belakangnya. Momen yang terekam kamera jebak pada akhir 2025 itu menjadi catatan penting karena spesies tersebut tidak terpantau di Thailand selama 30 tahun.
Kucing tandang (Prionailurus planiceps) terakhir kali tercatat di negara itu pada 1995. Penemuan kembali ini merupakan hasil survei Departemen Taman Nasional, Satwa Liar, dan Konservasi Tanaman Thailand bersama organisasi konservasi Panthera. Sebanyak 13 rekaman diperoleh sepanjang 2024 dan 16 rekaman tambahan pada 2025.
Kemunculan induk bersama anaknya mengindikasikan bahwa kucing tandang tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang biak di hutan gambut Thailand Selatan.
“Penemuan kembali ini menunjukkan apa yang mungkin terjadi ketika sains dan perlindungan kuat berpadu,” kata Kritsana Kaewplang, Direktur Panthera Thailand.
Kucing tandang merupakan salah satu kucing liar yang paling sedikit dipahami. Tubuhnya mungil dengan berat dewasa sekitar 1,5-2,5 kilogram. Namanya berasal dari bentuk kepala yang datar dan memanjang, dengan mata besar serta jarak antar mata yang sempit.
Berbeda dengan kebanyakan kucing, spesies ini menjalani kehidupan semiakuatik. Jari-jarinya berselaput, sedangkan giginya pipih dan runcing untuk menangkap ikan serta katak. Habitatnya berada di sekitar sungai, rawa gambut, dan mangrove.
Populasi globalnya diperkirakan tidak lebih dari 2.500 individu dewasa. Persebarannya meliputi Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan, dan Thailand Selatan. IUCN menetapkannya berstatus Genting, sedangkan CITES memasukkannya dalam Apendiks I.
Penemuan di Thailand juga menjadi pengingat penting bagi Indonesia. Kalimantan dinilai sebagai benteng utama kucing tandang di dunia, disusul Sumatera. Namun, penelitian mengenai keberadaannya di Kalimantan bagian Indonesia masih sangat terbatas.
Dalam dua dekade terakhir, kucing tandang termasuk spesies yang paling jarang terekam kamera jebak. Salah satu penelitian bahkan hanya dapat menggunakan 17 foto. Rendahnya jumlah temuan kemungkinan dipengaruhi penempatan kamera yang jarang menyasar tepian sungai, danau, atau kolam, habitat utama spesies tersebut.
Di Sumatera, kucing tandang pernah didata di Taman Nasional Way Kambas, Gunung Leuser, Berbak, Hutan Singkil, dan Sungai Merang. Habitat potensial juga terdapat di sekitar Taman Nasional Sebangau dan dataran rendah Kalimantan Utara.
Ancaman terbesarnya berasal dari konversi hutan rawa menjadi perkebunan sawit, tanaman serat kayu, dan lahan pertanian. Berbeda dengan beberapa kucing liar lain, kucing tandang tidak mudah berpindah ke perbukitan ketika dataran rendah rusak. Kehidupannya sangat bergantung pada lahan basah dan aliran air tawar.
Pembangunan kanal yang mengeringkan gambut, pencemaran air, penangkapan ikan berlebihan, kebakaran hutan, serta penebangan liar turut merusak habitat dan mengurangi ketersediaan mangsanya.
Temuan di Thailand membuktikan bahwa satwa yang lama tidak terlihat belum tentu telah menghilang. Namun, tanpa penelitian yang dirancang sesuai habitat dan perlindungan lahan basah yang serius, kucing tandang dapat lenyap sebelum keberadaannya benar-benar dipahami.
Foto utama: Inilah kucing tandang yang ditemukan kembali keberadaannya di Thailand setelah 30 tahun dicari keberadaannya. Foto: Dok. DNP/Panthera Thailand.
Warga Menolak, Proyek Panas Bumi Ungaran Terus Berjalan
Editor22 Sep 2026
Rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran kembali memicu penolakan warga. Melalui Surat Keputusan Nomor 134.TK/EK.04/MEMBPE/2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menugaskan PLN melanjutkan eksplorasi dan pengusahaan panas bumi di wilayah tersebut.
Pemerintah menargetkan eksplorasi selesai pada 2029 dan pembangkit mulai beroperasi pada 2031. Pengeboran direncanakan mencapai kedalaman 1.900-2.200 meter untuk menemukan reservoir berisi air dan uap panas yang dapat digunakan sebagai sumber pembangkit listrik.
Namun, bagi masyarakat sekitar Gunung Ungaran, rencana tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran lama. Penolakan telah berlangsung sejak kawasan itu ditetapkan sebagai wilayah kerja panas bumi pada 2007.
Rahman, Koordinator Aliansi Semarang Menggugat, mengatakan kehidupan warga sangat bergantung pada mata air dan pertanian. Ia khawatir pengeboran panas bumi mengurangi debit air atau mencemarinya.
“Kami sudah sejahtera dengan bertani. Kalau geothermal masuk, sumber air kami berkurang dan tercemar. Akibatnya, pertanian akan terganggu,” ujarnya.
Warga juga mencemaskan kebocoran gas serta kemungkinan pengeboran memengaruhi sesar aktif. Menurut Rahman, proyek tersebut membuat kehidupan warga menjadi lebih rentan, meski selama ini mereka hidup aman dan nyaman.
Kekhawatiran lain berkaitan dengan Kompleks Percandian Gedongsongo, yang telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya nasional. Bagi masyarakat, kompleks tersebut bukan sekadar objek wisata, melainkan bagian dari identitas budaya dan ruang spiritual yang harus dijaga.
“Kawasan candi ini jadi identitas warga, bagian dari budaya kami yang mesti dilestarikan,” kata Rahman.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyatakan siap menjembatani aspirasi masyarakat. Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin mengatakan kegiatan energi yang bersinggungan dengan lingkungan dan permukiman harus memprioritaskan keselamatan, kelestarian alam, serta kesejahteraan warga.
Selain persoalan lingkungan, data mengenai potensi panas bumi Gunung Ungaran juga belum seragam. Kementerian ESDM menyebut potensinya mencapai 55 megawatt. Penelitian ITB pada 2025 memperkirakan kemampuan pembangkitannya hanya sekitar 20 megawatt. Laporan Dinas ESDM Jawa Tengah pada 2021 juga menyebut estimasi awal sebesar 55 megawatt turun menjadi 20 megawatt setelah survei dan perhitungan ulang.
“Dengan menurunnya potensi kapasitas tersebut, berdampak pada tidak terpenuhinya nilai keekonomian,” demikian laporan tersebut.
Sebaliknya, Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional 2008-2027 mencantumkan prospek panas bumi Ungaran hingga 100 megawatt. Perbedaan angka yang lebar itu membuat kelayakan proyek dipertanyakan.
Fajar Muhammad Andhika dari LBH Semarang menilai inkonsistensi data menunjukkan proyek ini bermasalah sejak awal. Warga yang berpotensi paling terdampak justru dinilai belum memperoleh informasi memadai.
“Ketiadaan informasi yang cukup akan membuat warga makin rentan,” katanya. Menurutnya, pemerintah seharusnya membuka informasi dan melibatkan masyarakat sebelum menerbitkan keputusan, bukan setelah penolakan meluas.
Pertanyaan juga muncul karena eksplorasi sebelumnya pernah dilakukan perusahaan swasta pada 2010-2013 dan PLN pada 2017-2022. Hasil kedua eksplorasi tersebut tidak pernah diumumkan secara terbuka.
Wishnu Try Utomo dari Celios mempertanyakan alasan pemerintah kembali memberikan tugas eksplorasi kepada PLN. “Jangan sampai proyek ini dipaksakan jika memang tidak cukup potensial secara ekonomi dan energi,” ujarnya.
Foto utama: Masyarakat sekitar Dieng, bertani dan dekat dengan PLTP. Foto: A. Asnawi/Mongabay Indonesia.
Seperti Film ‘Life of Pi’, Nelayan Ini Bertahan 26 Hari di Lautan
Editor22 Sep 2026
Esau Sidemo tak pernah menyangka perjalanan mencari ikan berubah menjadi perjuangan hidup selama 26 hari. Nelayan berusia 57 tahun asal Desa Bido, Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara, itu terombang-ambing di Samudra Pasifik setelah mesin perahunya mati.
Arus menyeret perahu ketintingnya ratusan kilometer dari rumah. Untuk bertahan hidup, Esau memakan burung laut, ikan mentah yang melompat ke perahu, dan kelapa busuk yang hanyut. Dia bahkan terpaksa meminum urine. Keselamatannya datang ketika kapal kargo berbendera Prancis menemukannya, lalu membawanya ke China sebelum dipulangkan ke Indonesia.
“Ini seperti mukjizat,” kata Esau. Selama terombang-ambing, ia terus berdoa agar dapat kembali bertemu keluarganya.
Kasus Esau bukan kejadian tunggal. Nelayan Maluku Utara menghadapi ancaman mesin rusak, kehabisan bahan bakar, gelombang tinggi, dan cuaca buruk. Data Basarnas Ternate mencatat 49 operasi pencarian dan pertolongan terhadap nelayan sepanjang 2025. Dari berbagai kecelakaan tersebut, 122 orang ditemukan selamat, tujuh meninggal, dan 20 lainnya hilang.
Menurut Kepala Basarnas Ternate Iwan Ramdani, kondisi geografis Maluku Utara sebagai wilayah kepulauan dengan aktivitas laut tinggi turut meningkatkan risiko. Gelombang dalam sejumlah kejadian dilaporkan mencapai 2,5 meter.
Perubahan pola cuaca semakin menyulitkan nelayan menentukan waktu melaut. Gafur Kaboli, nelayan tuna sekaligus Sekretaris Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia Maluku Utara, mengatakan pengetahuan nelayan dalam membaca musim kini sering tidak lagi dapat diandalkan.
“Korban akibat dampak perubahan iklim terus naik seiring cuaca yang tidak lagi menentu. Keselamatan nelayan jadi terancam,” ujarnya.
Pada saat bersamaan, ikan semakin sulit ditemukan di perairan dekat pantai. Dahulu, nelayan masih bisa memperoleh tuna dalam radius kurang dari 12 mil. Kini, mereka harus melaut lebih dari 15 mil. Kebutuhan bahan bakar pun meningkat dari sekitar 20-30 liter untuk sehari menjadi 100-150 liter untuk perjalanan selama dua sampai tiga hari.
Tekanan tidak hanya datang dari perubahan iklim. WALHI mencatat sekitar 248 izin pertambangan berada di 43 pulau kecil Indonesia. Di Kabaena, nelayan gurita harus meninggalkan wilayah tangkap karena diduga terdampak limbah nikel. Di Wawonii, reklamasi untuk terminal perusahaan nikel turut menggeser ruang tangkap nelayan.
Kondisi tersebut membuat perjalanan melaut semakin jauh, mahal, dan berbahaya. Survei KNTI menunjukkan cuaca ekstrem pada Januari memengaruhi 95 persen nelayan di 350 desa pesisir. Sebanyak 63 persen berhenti melaut akibat angin kencang dan gelombang tinggi. Penghasilan harian mereka juga turun hingga sekitar 50 persen.
Namun, perlindungan bagi nelayan kecil masih terbatas. Program penyediaan asuransi dan alat keselamatan kerja disebut terhenti sejak 2021. Padahal, keselamatan nelayan bukan sekadar risiko pekerjaan yang harus mereka tanggung sendiri.
Kisah Esau memperlihatkan daya tahan seorang nelayan di tengah laut. Namun, keselamatannya tidak seharusnya hanya bergantung pada keberuntungan. Nelayan memerlukan informasi cuaca yang akurat, alat keselamatan, jaminan sosial, serta perlindungan wilayah tangkap dari kerusakan lingkungan.
Foto utama: Sebuah perahu nelayan berusaha menerobos gelombang tinggi di Mrorotai pada Juli 2026 . Foto: Mahmud Ichi/Mongabay Indonesia.
Berlangganan
Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam