Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Warga Serahkan Rangkong yang Sempat Dipelihara, Amankah Habitatnya di Hutan Muria?

Falahi Mubarok 7 Okt 2026

Biawak Pohon Biru, Reptil Endemik Raja Ampat yang Hanya Ditemukan di Pulau Batanta

Akhyari Hananto 7 Okt 2026
Cerita fitur

Penyiksaan Awak Kapal Cumi Terus Terjadi

Achmad Rizki Muazam 7 Okt 2026

Para Perempuan Adat Bahas Penguatan Hak dalam Temu Nasional

Yulia Adiningsih 7 Okt 2026

Opini: Menggugat Peran Hashim di Panggung Diplomasi KTT Iklim

Firdaus Cahyadi* 6 Okt 2026

Ciguatoksin, Ancaman Tersembunyi pada Ikan Karang?

M Ambari 6 Okt 2026
Semua berita

Berita utama

Penyiksaan Awak Kapal Cumi Terus Terjadi

Pemerintah Mau Hidupkan BRGM Lagi Setelah Kebakaran Hutan dan Gambut Menggila

Richaldo Hariandja 6 Okt 2026

Menanti Perkembangan Kasus 5 Bayi Orangutan di Hutan India

Sri Wahyuni 6 Okt 2026

Ratusan Korban Gempa NTT Meninggal Dunia di Pengungsian 

Ebed de Rosary 5 Okt 2026

Proyek Data Center Batam Ancam Sumber Air?

Yogi Eka Sahputra 4 Okt 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan

Pemerintah Mau Hidupkan BRGM Lagi Setelah Kebakaran Hutan dan Gambut Menggila

Richaldo Hariandja 6 Okt 2026

Kebakaran Hutan Bahayakan Kesehatan Masyarakat dan Rugikan Ekonomi

Irfan Maulana 26 Sep 2026

Terjadi Lonjakan Sakit Pernapasan Dampak Asap Kebakaran Hutan

Achmad Rizki Muazam 16 Sep 2026

Asap Karhutla Tak Kenal Batas Administratif, Bikin Manusia dan Satwa Liar Menderita

Christopel Paino 15 Sep 2026

Kemarau panjang menyebabkan kekeringan. Kebakaran hutan dan lahan parah pun terjadi di Kalimantan, Sumatera, sampai Papua. Masyarakat pun harus menghirup udara beracun dari asap karhutla. Petugas maupun relawan pemadam kebakaran sudah ada yang meninggal dunia karena terpapar lama asap berbahaya karhutla ini. Kementerian Kesehatan pada pertengahan Agustus lalu mencatat, lebih dari 3 juta warga di […]

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan series

Lebih spesial

9 cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

9 cerita

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Bessé, Perempuan Toalean dari Sulawesi 7.200 Tahun Lalu

Akita Verselita 3 Okt 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Kemarau Panjang dan Misteri Kepergian Manusia Purba Flores

Editor 7 Okt 2026

Sekitar seratus ribu tahun lalu, Flores merupakan pulau yang lebih hijau dan basah. Hutan tropis lembab menutupi sebagian besar wilayahnya, hujan turun lebih merata, dan sungai mengalir sepanjang tahun. Di sekitar Liang Bua, Sungai Wae Rancang menyediakan air bagi manusia purba dan berbagai hewan yang berbagi lingkungan.

Namun, kondisi itu perlahan berubah. Curah hujan menyusut, kemarau memanjang, dan ketersediaan air semakin terbatas. Penelitian mengungkap bahwa perubahan tersebut mungkin turut mendorong Homo floresiensis meninggalkan Liang Bua.

“Penyebab hilangnya manusia purba Homo floresiensis dari Pulau Flores sekitar lima puluh ribu tahun lalu adalah pertanyaan kunci dalam paleoantropologi,” tulis Michael K. Gagan bersama tim peneliti.

Untuk memahami persoalan itu, para peneliti merekonstruksi iklim masa lalu menggunakan stalagmit dari Liang Luar, gua yang berjarak sekitar 660 meter dari Liang Bua. Mereka mengukur perbandingan magnesium terhadap kalsium serta rasio isotop oksigen. Analisis juga dilakukan terhadap enamel gigi gajah kerdil Flores, Stegodon florensis insularis.

Petunjuk dari batuan gua dan gigi tersebut membantu menggambarkan perubahan curah hujan serta kondisi musim ketika manusia purba menghuni kawasan itu. Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment pada Desember 2025.

Penelitian menunjukkan curah hujan tahunan terus menurun antara 76 ribu hingga 61 ribu tahun lalu. Kekeringan paling ekstrem berlangsung sekitar 61 ribu hingga 55 ribu tahun lalu, bersamaan dengan penurunan populasi stegodon, hewan buruan H. floresiensis.

Ketika air dan vegetasi menyusut, tekanan terhadap manusia dan hewan meningkat. Persaingan mendapatkan air serta berkurangnya mangsa diduga ikut mengubah kehidupan di sekitar Liang Bua.

“Temuan kami menunjukkan perubahan iklim, yang berpotensi dikombinasikan dengan dinamika predator-mangsa, sebagai kontributor penurunan H. floresiensis dan S. florensis insularis sebelum menghilangnya mereka di Liang Bua.”

Meski demikian, hilangnya jejak kedua spesies dari gua tersebut belum tentu berarti mereka langsung punah. Para peneliti menawarkan kemungkinan bahwa stegodon berpindah menuju habitat dengan air lebih tersedia, kemudian diikuti manusia purba yang mencari mangsa.

“Hampir tidak adanya kedua spesies di Liang Bua setelah sekitar 61 ribu tahun yang lalu mungkin hanya mencerminkan relokasi mereka ke habitat yang lebih menguntungkan.”

Temuan ini juga memberi sudut pandang terhadap dugaan persaingan dengan manusia modern. Revisi penanggalan menunjukkan hilangnya H. floresiensis dari Liang Bua mendahului kedatangan manusia modern di lokasi itu sekitar 46 ribu tahun lalu.

Ditemukan pada 2003, fosil H. floresiensis memperlihatkan manusia dewasa bertubuh kecil, dengan tinggi diperkirakan sekitar satu meter, yang mampu membuat peralatan batu. Kini, rekaman iklim membantu menjelaskan tantangan lingkungan yang mereka hadapi: kehidupan yang bergantung pada air dapat berubah ketika hujan tidak lagi mencukupi.

Foto utama: Fosil gajah Stegodon floresis yang merupakan koleksi Museum Geologi, Bandung, Jawa Barat. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia.

Tidak Lagi Berburu Hiu, Mereka Kini Hidup Tenang Menjadi Pemandu Wisata

Editor 7 Okt 2026

Alimuddin kini menghabiskan pagi di tepi pantai Tanjung Luar, Lombok Timur, menunggu giliran mengantar wisatawan. Sejak 2016, ia bekerja sebagai pemandu wisata setelah hampir dua dekade menangkap hiu. Perubahan pekerjaan itu berangkat dari pengalaman melaut berminggu-minggu, dengan penghasilan yang menurutnya tidak sepadan dengan bahaya.

“Menangkap hiu tidak sebanding (penghasilan) dengan risiko,” katanya.

Agip mengambil pilihan serupa. Ia berhenti menangkap hiu pada 2010, sempat menjadi nelayan tradisional, lalu beralih ke wisata bahari. Selain pendapatan, jarak dengan keluarga menjadi pertimbangannya. Kini, ia mengatakan dapat memperoleh Rp150.000-Rp200.000 sehari ketika mengantar wisatawan, dengan perjalanan yang lebih pendek.

Kisah mereka berlangsung di salah satu lokasi pendaratan hiu dan pari yang besar. Selama dua tahun pemantauan, peneliti mencatat lebih dari 13.000 hiu dan pari dari 57 spesies didaratkan di Tanjung Luar. Namun, menurut Alimuddin dan Agip, nilai perdagangan itu tidak selalu membawa kesejahteraan bagi awak kapal.

Keduanya mengeluhkan pembagian hasil yang tidak transparan, beban biaya operasional, dan utang ketika tangkapan tidak menutupi ongkos perjalanan. Awak juga disebut harus ikut menanggung perbaikan kapal serta biaya pengobatan sendiri. Kondisi tersebut membuat peralihan pekerjaan menjadi bagian penting pembicaraan tentang konservasi hiu.

Yayasan Kebersamaan untuk Lautan (KUL) pernah memberikan kompensasi kepada nelayan yang melepaskan hiu dan pari hidup. Program itu tidak berjalan sesuai harapan. Dalam setahun, hanya tiga hiu dilepaskan. Bahkan ketika kompensasi dinaikkan, menurut Sekretaris KUL M. Said Ramdlan, tekanan dari pengepul, pemilik kapal, dan permintaan pasar tetap menyulitkan pelepasliaran.

KUL kemudian membeli dua kapal penangkap hiu, masing-masing seharga Rp300 juta, lalu memensiunkannya secara permanen. Kedua kapal tercatat menangkap 406 hiu dan pari sepanjang 2025. Berdasarkan jumlah tersebut, KUL memperkirakan penghentian operasinya dapat mencegah kematian lebih dari 4.000 hiu dan pari dalam 10 tahun.

Menurut Said, perlindungan hiu perlu disertai pekerjaan alternatif bagi masyarakat. Larangan penangkapan saja tidak cukup ketika nelayan masih bergantung pada perdagangan hiu dan pari atau belum memiliki modal serta keterampilan untuk beralih.

Upaya perubahan itu membutuhkan waktu. Muksin, yang mendorong peralihan pekerjaan sejak 2007, menyebut sekitar 11 nelayan kini bekerja di kapal wisata. “Mengubah perilaku itu kan nggak setahun dua tahun, butuh waktu.”

Bagi Alimuddin dan Agip, wisata bahari membuka jalan untuk meninggalkan pekerjaan berisiko. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa menjaga hiu juga berkaitan dengan memberi nelayan kesempatan memperoleh penghasilan dan tetap dekat dengan keluarga.

Foto utama: Pekerja membawa hiu hasil tangkapan ke tempat pelelangan ikan di Lombok Timur. Foto: Ahmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia.

Telaga Ranjeng, Ikan Lele, dan Kearifan Masyarakat Menjaga Sumber Air

Editor 6 Okt 2026

Di pinggir Telaga Ranjeng, warga dan pengunjung menyaksikan ikan-ikan berkumpul menerima makanan. Ikan mas tampak mendominasi permukaan air. Namun, bagi sebagian pengunjung, telaga di lereng barat Gunung Slamet ini lebih dikenal karena ikan lelenya yang tidak boleh ditangkap.

“Telaga Ranjeng terkenal akan lele yang tidak boleh diambil. Hanya boleh dilihat,” kata Afan Maulana, pengunjung asal Banyumas.

Larangan mengambil ikan telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah. Kepercayaan bahwa mengganggu ikan dapat mendatangkan kejadian buruk membuat warga menjaga kehidupan di dalam telaga.

“Masyarakat di sini tetap menjaga ikan di telaga ini,” ujar Sirin, warga setempat.

Telaga Ranjeng, atau Tlogoranjeng, berada pada ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut. Kawasan cagar alamnya memiliki luas 53,41 hektar. Perlindungan kawasan ini berjalan bersama kebiasaan masyarakat untuk tidak menangkap ikan, menebang pohon, maupun mencemari hutan dan telaga.

Jamal, penjaga Telaga Ranjeng yang telah bertugas selama 15 tahun, mengatakan ekosistemnya masih terjaga. Menurutnya, lele dan ikan mas tidak selalu terlihat bersamaan. Ada masa ketika hanya salah satunya muncul, bahkan ikan pernah tidak terlihat pada 2017-2019.

“Kadang, lele tidak muncul dalam beberapa waktu, namun bukan karena punah,” jelasnya.

Pengamatan tersebut menunjukkan bahwa tidak terlihatnya ikan di permukaan belum tentu berarti ikan telah hilang dari telaga. Jamal menyebut, setelah masa itu, lele kembali muncul bersama ikan mas.

Penelitian Nugraha dan Novianto dari Universitas PGRI Yogyakarta menjelaskan bahwa mitos larangan mengganggu ikan memiliki fungsi konservasi. Kepercayaan tersebut membantu melindungi ikan sekaligus ekosistem tempatnya hidup.

“Kearifan lokal akan tetap bertahan dan berkembang jika di masyarakat terjadi proses penanaman nilai luhur kepada setiap anggota masyarakat mulai anak sampai orang tua,” tulis mereka.

Ilmi Budi Martani, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Pemalang BKSDA Jawa Tengah, juga menilai kebiasaan masyarakat mendukung perlindungan kawasan. Telaga Ranjeng digunakan untuk penelitian dan edukasi.

“Hal menarik, masyarakat setempat memiliki kearifan tidak boleh menangkap ikan. Ini sangat mendukung upaya konservasi,” katanya.

Peran telaga bagi warga melampaui keberadaan ikan. Penelitian Prameswari dan Sudarmono dari BRIN menyebut kawasan ini juga menjadi sumber air minum, sehingga perlindungannya berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Telaga tersebut menampung limpahan air hujan dan air dari bawah tanah. Kelestariannya ditopang keseimbangan air, tanah, dan vegetasi di sekitarnya. Penelitian mencatat Brucea javanica, Antidesma tetrandrum, serta Phoebe grandis sebagai tumbuhan dengan peran besar dalam struktur dan fungsi ekosistem hutan.

Di Pandansari, nilai yang diwariskan leluhur terus diwujudkan melalui tindakan sehari-hari. Membiarkan ikan hidup, mempertahankan pepohonan, dan menjaga kebersihan kawasan membantu melindungi telaga yang juga menyediakan air bagi warga.

Foto utama: Ribuan ikan mas terlihat di pinggir Telaga Ranjeng di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah. Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia.

Hidup Sejak 445 Juta Tahun Silam, Apakah Belangkas dan Kepiting Tapal Kuda Jenis yang Sama?

Editor 6 Okt 2026

Namanya kepiting tapal kuda, tetapi hewan ini bukan bagian dari kelompok kepiting. Di Indonesia, ia dikenal sebagai belangkas, mimi, blangkas, kepiting lada, mintua, atau pari kepiting. Bentuk tubuhnya memang menyerupai kepiting, namun hubungan kekerabatannya justru dekat dengan kalajengking dan laba-laba dalam kelompok Chelicerata.

Belangkas disebut fosil hidup karena memiliki kemiripan bentuk tubuh dengan leluhurnya ratusan juta tahun lalu. Jejak kelompok ini menjangkau sekitar 445 juta tahun silam, berdasarkan temuan spesies purba Lunatapis aurora di Kanada.

Tubuh belangkas terbagi menjadi tiga bagian yang saling terhubung. Bagian depan berbentuk tapal kuda lebar, diikuti abdomen yang lebih kecil dan bersegmen, serta ekor panjang dan tajam yang disebut telson. Penampilan inilah yang membuatnya mudah dikenali.

Buku “Bioekologi Kepiting Tapal Kuda”, terbitan Universitas Maritim Raja Ali Haji pada 2025, mencatat tiga spesies di Indonesia: Tachypleus gigas, Tachypleus tridentatus, dan Carcinoscorpius rotundicauda. Ketiganya tersebar di berbagai wilayah pesisir, dari Sumatera, Jawa, dan Kalimantan hingga Sulawesi.

Satu spesies lainnya, Limulus polyphemus, hidup di sepanjang perairan Atlantik Amerika Utara. Dengan demikian, tiga dari empat spesies kepiting tapal kuda yang disebut dalam artikel dapat ditemukan di Indonesia.

Keunikan belangkas juga terletak pada darahnya yang berwarna biru. Warna tersebut berasal dari tembaga, berbeda dengan darah manusia yang memperoleh warna merah dari besi.

Darah biru ini memiliki manfaat penting dalam bidang kesehatan. Bahan yang diperoleh darinya digunakan untuk mendeteksi endotoksin bakteri berbahaya pada produk seperti obat intravena dan vaksin sebelum digunakan manusia. Tes tersebut dikenal sebagai Limulus amoebocyte lysate atau LAL.

Namun, manfaat belangkas tidak berhenti pada kebutuhan manusia. Di lingkungan pesisir, hewan ini ikut menjaga keseimbangan rantai makanan. Ia mencari makanan berupa alga, cacing laut, kerang, moluska, serta ikan mati. Telurnya juga menjadi sumber makanan penting bagi burung pantai yang bermigrasi.

“Juga bertindak sebagai turbator biologis dan dapat mengontrol hewan bentik invertebrata,” demikian keterangan dalam buku tersebut.

Di balik peran ekologis dan manfaat kesehatannya, belangkas menghadapi berbagai tekanan. Reklamasi pantai, polusi industri, konversi lahan, sampah, perdagangan, serta kematian akibat tertangkap menjadi ancaman di Indonesia.

Ketiga spesiesnya telah mendapat perlindungan di Indonesia. Dalam penilaian internasional yang dikutip artikel, T. tridentatus berstatus Genting, sedangkan dua spesies lainnya masuk kategori Kurang Data.

“Informasi spesies akan menjadi sulit tanpa didasarkan data populasi akurat,” tulis buku tersebut.

Kekurangan data menjadi persoalan penting: tanpa mengetahui kondisi populasi secara akurat, upaya memahami keberadaan belangkas dan menentukan kebutuhan perlindungannya akan semakin sulit. Hewan yang membawa jejak kehidupan purba ini membutuhkan perhatian terhadap habitatnya, sekaligus pencatatan yang lebih baik tentang keberadaannya di alam.

foto utama: Kepiting tapal kuda yang dikenal juga dengan nama belangkas. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia.

Dari Tubuh hingga Pola Makan, Ular “Pemenang Evolusi” Dibanding Reptil Lain

Editor 5 Okt 2026

Dari ular laut berbisa hingga ular kecil yang menggali tanah untuk mencari semut dan rayap, ular memiliki cara hidup yang sangat beragam. Sekitar 4.000 spesies telah dikenal di dunia. Bagaimana kelompok reptil tanpa kaki ini mampu berkembang menjadi begitu banyak bentuk dan menempati berbagai lingkungan?

Penelitian dalam jurnal Science menunjukkan bahwa ular memiliki “jam evolusi” yang berdetak lebih cepat dibandingkan kadal. Kemampuan tersebut memungkinkan mereka mengembangkan ciri baru, mengubah pola makan, dan memanfaatkan peluang yang muncul ketika lingkungan berubah.

“Jika dibandingkan dengan kadal, ular telah mengalami perubahan yang relatif cepat dan terus melakukannya sepanjang waktu,” kata Daniel Rabosky, ahli biologi evolusi dari Universitas Michigan.

Untuk menelusuri keberhasilan itu, para peneliti mempelajari kelompok Squamata, yang mencakup ular dan kadal. Mereka menganalisis genom hampir 1.000 ular dan kadal, serta menelaah pola makan melalui isi perut lebih dari 60.000 spesimen museum dan pengamatan lapangan.

Data tersebut digunakan untuk membangun pohon evolusi yang memperlihatkan perubahan tubuh dan makanan sepanjang waktu. Dengan bantuan model matematika dan statistik, tim kemudian membandingkan perjalanan evolusi kedua kelompok reptil tersebut.

Hasilnya, ular mengalami beberapa ledakan evolusi dan berkembang sekitar tiga kali lebih cepat dibandingkan kadal dalam hal keragaman. Setelah diperkirakan muncul sekitar 128 juta tahun lalu, ular mengalami lonjakan perubahan pada periode Kapur. Ledakan berikutnya berlangsung setelah dinosaurus punah pada akhir periode tersebut.

Dunia yang berubah membuka peluang bagi ular untuk mengeksplorasi makanan baru. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa keragaman pola makan ular meningkat pesat setelah kepunahan dinosaurus, ketika mamalia mulai mendapatkan pijakan.

Keberhasilan ini berkaitan dengan kelenturan ular dalam mengubah bentuk tubuh dan cara makan. Tubuh tanpa kaki, tengkorak fleksibel, serta sistem deteksi kimiawi yang canggih menjadi dasar untuk memburu beragam mangsa. Dari dasar tersebut, masing-masing spesies dapat berkembang dengan cara hidup yang semakin khusus.

Rabosky menjelaskan bahwa jam evolusi yang cepat memungkinkan ular “mengembangkan ciri-ciri baru dengan cepat, yang bisa memanfaatkan peluang-peluang yang muncul.”

Namun, penelitian ini belum menjawab seluruh pertanyaan. Mengapa laju evolusi ular begitu cepat sejak awal masih menjadi misteri. Temuan tentang keberhasilan mereka justru membuka persoalan baru mengenai penyebabnya.

“Kami belum bisa benar-benar menjelaskan ini,” kata Rabosky. “Biasanya, memecahkan misteri akan disertai dengan munculnya pertanyaan baru yang harus kita jawab.”

Apakah kecepatan tersebut akan terus bertahan? Rabosky menegaskan bahwa perkiraan itu masih bersifat spekulatif. Meski demikian, para peneliti belum melihat tanda bahwa evolusi cepat ular sedang melambat.

Keragaman ular yang kita temui sekarang, dengan demikian, merupakan bagian dari perjalanan panjang perubahan yang tampaknya masih berlangsung, bukan akhir dari kisah evolusi mereka.

Foto utama: Ular berleher cincin (Diadophis punctatus), penghuni asli dari Amerika Serikat bagian barat. Terdapat sekitar 4.000 spesies ular yang ada di Bumi. Foto: Greg Schechte Wikimedia Commons,  Creative Commons Attribution 2.0 Generic license.

Reproduksi Ikan Terganggu Akibat Meningkatnya Suhu Bumi

Editor 5 Okt 2026

Pasokan ikan budi daya bermula dari ketersediaan benih. Namun, proses menghasilkan benih dapat terganggu ketika kondisi lingkungan berubah. Suhu yang meningkat akibat krisis iklim menjadi salah satu ancaman karena reproduksi ikan sangat dipengaruhi lingkungan, termasuk kerja hormon yang mengatur pematangan organ reproduksi dan pemijahan.

Agus Oman Sudrajat, Guru Besar Budi Daya Perairan IPB University, mengatakan gangguan tersebut pernah terjadi pada 2017. Saat itu, banyak induk ikan di unit pembenihan tidak matang gonad sehingga produksi benih terhambat.

“Akibatnya, produksi benih terganggu. Padahal, semua pengaruh lingkungan akan direspons hormon di tubuh ikan,” ujarnya.

Persoalan ini penting karena perikanan budidaya semakin diandalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Laporan FAO, The State of World Fisheries and Aquaculture 2024, mencatat produksi perikanan tangkap dan akuakultur dunia mencapai 223,2 juta ton pada 2022. FAO menilai akuakultur akan menjadi bagian penting sistem pangan masa depan, sementara produksi perikanan tangkap memiliki keterbatasan.

Agus menawarkan teknologi kontrol hormonal reproduksi sebagai salah satu cara menjaga ketersediaan benih. Hormon dapat membantu mengatur proses reproduksi dan memicu pemijahan. Namun, I Ketut Sugama, Profesor Riset Akuakultur BRIN, mengingatkan bahwa penggunaannya perlu dilakukan dengan hati-hati.

Menurut Sugama, menghadapi perubahan lingkungan juga membutuhkan benih unggul yang tahan penyakit, mampu menghadapi perubahan kondisi, dan tumbuh cepat. Pengembangannya dapat dilakukan melalui pemuliaan serta pendekatan genetika. Dengan demikian, upaya menjaga produksi tidak hanya bertumpu pada pengaturan reproduksi.

Pengelolaan air juga menjadi bagian penting. Sugama menyebut Recirculating Aquaculture System atau RAS, sistem yang menyaring dan mengolah air agar dapat digunakan kembali. Sensor membantu mendeteksi perubahan kadar oksigen, peningkatan amonia, dan kondisi kualitas air lainnya.

“Perubahan diketahui lebih cepat sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan,”.

Pendekatan lain ialah memperbaiki lingkungan budidaya melalui probiotik dan pengembangan komunitas plankton yang baik. Sugama mendorong pengembangan mikroorganisme yang dapat menekan organisme penyebab penyakit. “Jangan selalu bergantung pada antibiotik, karena pendekatan lingkungan yang sehat lebih baik untuk masa depan akuakultur.”

Penelitian yang dikutip dalam artikel turut menunjukkan bahwa reproduksi ikan sensitif terhadap suhu. Pemanasan dan gelombang panas dapat mempengaruhi pengaturan hormon, bahkan dalam beberapa kasus berkaitan dengan perubahan jenis kelamin. Respons tersebut berbeda menurut jenis ikan dan kondisi lingkungannya.

Karena itu, menjaga produksi ikan memerlukan gabungan antara pengembangan benih, pengaturan reproduksi, dan pemantauan lingkungan. Sugama menekankan bahwa langkah-langkah tersebut membutuhkan dukungan pemerintah melalui strategi pengembangan akuakultur. Tantangannya bukan hanya menghasilkan lebih banyak ikan, tetapi mempertahankan proses pembenihan dan budidaya ketika kondisi lingkungan semakin berubah.

Foto utama: Ikan yang melimpah menjadi sumber pendapatan nelayan di Indonesia. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.