Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua

Terbaru

Laut Indonesia Jalur Migrasi Lumba-lumba, Namun Data Populasinya Sangat Sedikit

M Ambari 14 Sep 2026
Cerita fitur

Upaya Masyarakat Wawonii Jaga Laut di Tengah Beragam Tantangan

La Ode Risman Hermawan 14 Sep 2026

Asa Wujudkan Rumah Mangrove Dunia di Indonesia

Sarjan Lahay 13 Sep 2026
Cerita fitur

Menanti Keseriusan Bali Beralih dari Energi Fosil

Luh De Suriyani 13 Sep 2026

Beras Adan Krayan, Pangan Andalan Masyarakat Dayak Lundayeh di Bentang Kayan Mentarang

Yovanda 13 Sep 2026

Desak Pemerintah Jalankan Aksi Iklim sesuai Saran Mahkamah Internasional

Yulia Adiningsih 13 Sep 2026
Semua berita

Berita utama

Upaya Masyarakat Wawonii Jaga Laut di Tengah Beragam Tantangan

La Ode Risman Hermawan 14 Sep 2026

Menanti Keseriusan Bali Beralih dari Energi Fosil

Luh De Suriyani 13 Sep 2026

Tuntut Pemerintah Lindungi Warga Terdampak Asap Karhutla

Jaka Hendra Baittri, Suryadi 13 Sep 2026

Cerita Masyarakat Kamang Mudiak Mendulang Berkah Hutan Nagari

Novia Harlina 12 Sep 2026
Hamparan sawah dan perkebunan milik warga desa Noepesu dan Bonleu terbentang di bawah kaki gunung Mutis, menegaskan betapa erat aktivitas pertanian masyarakat yang bergantung pada kawasan konservasi ini. Foto: Mario Sara/Mongabay Indonesia

Masyarakat Adat Waswas Saat Gunung Mutis jadi Taman Nasional

Bapthista Mario Yosryandi Sara* 12 Sep 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

Trimeresurus insularis, Ular Berbisa 3 Warna yang Jago Kamuflase

Falahi Mubarok 21 Jul 2026

Ular Siput Jerapah, Jago Kamuflase di Hutan Pegunungan Jawa

Falahi Mubarok 11 Jan 2026

Jago Kamuflase, Inilah Ular Sanca Hijau Papua

Christopel Paino 23 Sep 2025

Uniknya Thanatosis, Seni Berpura-pura Mati di Dunia Satwa

Nuswantoro 19 Mei 2024

Kamuflase adalah strategi alami yang digunakan satwa untuk menyatu dengan lingkungan, mengecoh penglihatan, dan menyembunyikan keberadaannya. Warna, pola, tekstur, bentuk tubuh, hingga perilaku membantu mereka menghindari pemangsa, mengintai mangsa, atau melindungi diri. Dari hutan hingga dasar laut, setiap satwa mengembangkan teknik penyamaran yang sesuai dengan habitat dan kebutuhan hidupnya.

Misteri Kamuflase Dunia Satwa series

Lebih spesial

9 cerita

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil

9 cerita

Lutung Jawa: Satwa Endemik Jawa di Ujung Tanduk

14 cerita

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Seberapa Besar Peran Industri dalam Pengembangan PLTS Atap?

Akita Verselita 10 Sep 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Leah Varjacques, Rizky Rahad, Sandy Watt 1 Sep 2026

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Kekeringan di Hulu, Ancaman bagi Air Bersih Jabodetabek

Editor 13 Sep 2026

Air yang biasanya mengalir deras di sejumlah sungai kawasan Bogor kini menyusut, bahkan menghilang. Kondisi tersebut bukan hanya mengubah wajah sungai, tetapi juga mengancam pasokan air bersih bagi warga Jabodetabek.

Di Kampung Katulampa, Rosmiati terpaksa memandikan kedua anaknya di Kali Baru, saluran irigasi yang mengambil air dari Sungai Ciliwung. Pasokan air sumur di rumahnya berkurang. Ia juga membawa pulang air menggunakan galon bekas untuk mencuci pakaian, membersihkan peralatan rumah tangga, dan kebutuhan sanitasi.

Sungai Ciliwung telah mengering selama lebih dari satu bulan. Tinggi muka air di Bendungan Katulampa bahkan mencapai titik terendah, yakni nol sentimeter. Penurunan debit juga terlihat di Kampung Pulo Geulis, Kota Bogor.

Kondisi ini berpengaruh terhadap ketersediaan air baku Perumda Tirta Pakuan. Instalasi Pengolahan Air Katulampa biasanya mampu memproduksi 307,14 liter air per detik dan melayani 35.492 pelanggan di Bogor Utara, Bogor Timur, serta sebagian Kabupaten Bogor.

Kekeringan juga melanda Sungai Cipamingkis yang berhulu di kawasan Puncak 2, Sukamakmur. Aliran Curug Cipamingkis diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan warga sehingga pintu air menuju sungai ditutup. Air dialirkan ke saluran irigasi dan bak penampungan yang terhubung dengan rumah-rumah penduduk.

Sungai Ciherang mengalami kondisi serupa. Dasar sungai dipenuhi bebatuan tanpa aliran air, sedangkan tanah persawahan di sekitarnya retak dan tanaman padi menguning. Curah hujan rendah serta El Niño memang memperpanjang periode tanpa hujan, tetapi faktor iklim bukan satu-satunya penyebab.

Wahyu Eka Styawan, Pengkampanye Urban Berkeadilan Walhi Nasional, menilai kemarau hanya menyingkap krisis ekologis yang telah lama terjadi di kawasan hulu.

“Kita terlalu lama memperlakukan sungai seolah-olah ia berdiri sendiri, padahal kesehatan alirannya sangat bergantung pada sejauh mana kawasan tangkapan air di bagian hulu dijaga dan dilindungi,” katanya.

Alih fungsi lahan untuk kawasan komersial, properti, dan permukiman telah mengurangi kemampuan tanah menyerap serta menyimpan air. Ketika debit sungai menurun, pencemaran limbah domestik dan industri juga menjadi semakin pekat.

Kondisi tersebut mendorong warga dan pelaku usaha beralih menggunakan air tanah. Namun, pengambilan berlebihan dapat mempercepat penurunan muka tanah dan merusak akuifer yang menjadi cadangan air masa depan.

Distribusi air menggunakan mobil tangki tetap dibutuhkan dalam keadaan darurat. Akan tetapi, langkah itu tidak menyelesaikan akar persoalan. Pemerintah perlu melindungi kawasan resapan, menertibkan bangunan yang melanggar zonasi, memulihkan vegetasi alami, mengawasi pembuangan limbah, serta membatasi penggunaan air tanah.

“Krisis air tidak cukup diatasi ketika air sudah habis. Yang harus dilakukan adalah menjaga sumbernya sebelum krisis terjadi,” tegas Wahyu.

Foto utama: Sungai Cipamingkis mengering akibat kemarau panjang. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia.

Mentilin, Primata Malam yang Bertahan di Gunung Menumbing

Editor 13 Sep 2026

Selepas hujan, ketika Gunung Menumbing diselimuti gelap, seekor primata mungil mulai bergerak di antara pepohonan. Matanya yang besar membantunya beraktivitas pada malam hari, sementara kaki belakangnya yang panjang memungkinkan tubuhnya melompat secara vertikal. Satwa itu adalah mentilin atau tarsius bangka (Cephalopachus bancanus bancanus).

Pada siang hari, mentilin sulit ditemukan. Selain berukuran kecil, primata nokturnal ini biasanya sedang beristirahat. Belum ada angka pasti mengenai populasinya di Taman Hutan Raya Gunung Menumbing. Namun, petugas pengamanan hutan memperkirakan terdapat puluhan hingga seratusan individu di kawasan tersebut.

Gunung Menumbing berada di Kabupaten Bangka Barat dan memiliki luas sekitar 3.300 hektar. Kawasan ini lebih dikenal sebagai tempat pengasingan Soekarno dan Mohammad Hatta pada masa Agresi Militer Belanda II. Akan tetapi, di balik nilai sejarahnya, hutan Menumbing juga menjadi salah satu kantong penting kehidupan liar di Pulau Bangka.

Sekitar 1.898 hektar atau 57 persen wilayahnya dinilai memiliki tingkat kesesuaian habitat tinggi bagi mentilin. Kepadatan satwa ini di Kabupaten Bangka diperkirakan berkisar 2,22-17,78 individu per kilometer persegi. Meski demikian, populasinya secara global terus menurun. Cephalopachus bancanus beserta subspesies C. b. bancanus berstatus Rentan menurut IUCN.

Sebagai pemburu malam, mentilin sangat bergantung pada kelimpahan serangga. Makanannya didominasi ngengat, jangkrik, dan belalang. Sesekali, satwa ini juga memangsa vertebrata kecil seperti burung, kelelawar, dan ular. Hilangnya hutan berarti berkurangnya ruang berburu sekaligus sumber makanan.

Ancaman itu nyata di Menumbing. Sekitar 50 persen kawasan diperkirakan telah terdegradasi akibat penambangan timah ilegal. Lubang-lubang bekas tambang masih ditemukan di sekitar batuan granit. Aliran sungai kecil juga kerap dibendung untuk memisahkan timah dari tanah. Tekanan lain datang dari pembalakan, perluasan perkebunan rakyat, dan perburuan satwa.

Mentilin bukan satu-satunya penghuni yang terancam. Gunung Menumbing juga menjadi habitat musang congkok, binturong, pelanduk, kukang bangka, elang brontok, dan elang laut. Hutannya ditumbuhi ulin, pelawan, durian namlung, serta anggrek Bung Karno. Kawasan ini juga menjadi hulu sejumlah sungai yang mengalir menuju Kota Mentok.

Meski menghadapi berbagai tekanan, Menumbing masih dinilai sebagai kawasan paling aman untuk pelepasliaran satwa di Pulau Bangka. Pintu masuknya terbatas dan dijaga petugas pengamanan hutan. Alobi Foundation telah melepasliarkan mentilin, kukang bangka, trenggiling, elang laut, dan elang bondol di sana.

Harapan bagi mentilin bergantung pada patroli yang lebih kuat, terutama di sepanjang aliran sungai, serta keterlibatan masyarakat dalam konservasi. Menjaga Gunung Menumbing bukan hanya menyelamatkan primata bermata besar tersebut, tetapi juga mempertahankan sumber air, tumbuhan, satwa lain, dan sejarah yang hidup bersama hutannya.

Foto utama: Mentilin atau tarsius bangka (Cephalopachus bancanus bancanus) yang menjadikan Tahura Gunung Menumbing sebagai habitatnya. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.

Di Kedalaman 8 Kilometer, Mariana Snailfish Bertahan Hidup di Gelapnya Palung Mariana

Editor 12 Sep 2026

Penemuan ikan pada kedalaman lebih dari delapan kilometer terus memperlihatkan bahwa laut dalam bukan ruang kosong tanpa kehidupan. Salah satu penghuninya adalah Mariana snailfish (Pseudoliparis swirei), ikan bertubuh transparan yang hidup di Palung Mariana, Samudra Pasifik bagian barat.

Spesies ini diperkenalkan kepada dunia ilmiah pada 2017 setelah peneliti menganalisis bentuk tubuh, kerangka, jaringan, telur, dan DNA sejumlah spesimen. Ikan tersebut ditemukan pada kedalaman sekitar 6.900 hingga lebih dari 8.000 meter, di wilayah yang tekanannya ratusan kali lebih besar dibandingkan permukaan laut.

Tubuh Mariana snailfish tampak pucat, lembut, dan menyerupai kecebong. Kulitnya nyaris transparan sehingga beberapa organ dan jaringan tubuhnya dapat terlihat. Penampilannya jauh dari gambaran ikan laut dalam yang bertaring besar dan menyeramkan. Namun, di habitatnya, ikan ini justru menjadi salah satu predator utama yang memangsa krustasea kecil.

Tubuh yang lunak bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari adaptasinya. Mariana snailfish memiliki tulang yang tidak mengeras sepenuhnya, otot tipis, serta tidak mempunyai kantung renang berisi gas yang dapat rusak akibat tekanan ekstrem. Penelitian genomik juga menunjukkan adanya perubahan pada sistem penglihatan, pigmentasi, pembentukan tulang, dan membran sel yang membantunya hidup dalam kegelapan dan tekanan tinggi.

Meski dahulu diberitakan sebagai ikan terdalam yang pernah ditemukan, status tersebut kini perlu diberi konteks baru. Pada 2023, ilmuwan merekam ikan dari genus Pseudoliparis pada kedalaman 8.336 meter di Palung Izu-Ogasawara, Jepang. Rekaman itu menjadi catatan ikan hidup terdalam yang pernah didokumentasikan. Namun, identitas spesiesnya belum dipastikan, sehingga Mariana snailfish tetap penting sebagai salah satu spesies ikan penghuni laut terdalam yang telah dideskripsikan secara ilmiah.

Para peneliti memperkirakan kedalaman sekitar 8.200 hingga 8.400 meter mendekati batas fisiologis kehidupan ikan. Pada tekanan yang lebih besar, senyawa yang menjaga kestabilan protein tubuh tidak lagi dapat bekerja tanpa mengganggu keseimbangan cairan sel. Karena itu, bagian terdalam palung yang mencapai hampir 11 kilometer kemungkinan tidak dapat dihuni ikan.

Untuk mempelajari Mariana snailfish, para ilmuwan menurunkan kamera dan perangkap khusus yang membutuhkan waktu sekitar empat jam untuk mencapai dasar laut. Di sana, ikan tersebut justru terlihat aktif mencari makan karena krustasea melimpah dan jumlah predator relatif sedikit.

Penemuan ini mengubah anggapan bahwa laut dalam selalu menjadi lingkungan yang tandus dan tidak bersahabat. Di balik tubuhnya yang rapuh dan transparan, Mariana snailfish menunjukkan kemampuan evolusi luar biasa untuk hidup di salah satu tempat paling ekstrem di Bumi.

Foto utama: Mariana Snailfish, ikan tembus pandang jenis baru yang ditemukan di kedalaman Palung Mariana. Foto: Adam Summers/University of Washington,

Menelusuri Asal Lima Bayi Orangutan yang Ditemukan di India, Apakah dari Indonesia?

Editor 12 Sep 2026

Lima bayi orangutan ditemukan di kawasan hutan Distrik Balasore, Odisha, India, Selasa (8/9/26). Temuan ini mengejutkan karena India tidak memiliki populasi orangutan liar. Warga awalnya mengira kelima satwa tersebut merupakan jenis monyet langka, sebelum petugas kehutanan memastikan bahwa mereka adalah orangutan.

Prateek Indalkar, pejabat kehutanan Distrik Balasore, mengatakan kelimanya terdiri dari dua betina dan tiga jantan yang diperkirakan berusia kurang dari satu tahun. Setelah menjalani pemeriksaan, bayi-bayi orangutan tersebut dipindahkan ke Nandankanan Zoological Park di Bhubaneswar untuk mendapatkan perawatan.

Pemerintah Odisha kemudian meminta Wildlife Crime Control Bureau menyelidiki asal-usul mereka. Penyelidikan juga akan memastikan apakah orangutan tersebut akan dijual kepada pembeli di India atau hanya transit sebelum dikirim ke negara lain.

M. Indra Kurnia, Direktur Konservasi Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information Centre, menilai kemunculan orangutan di negara yang tidak memiliki populasi alami harus dilihat sebagai persoalan perdagangan satwa liar lintas negara. “Kita tidak boleh hanya melihatnya sebagai kasus lokal di negara tempat satwa tersebut ditemukan,” ujarnya.

Jika dugaan perdagangan ilegal terbukti, kasus Odisha memperlihatkan panjangnya rantai kejahatan yang dilalui kelima bayi orangutan tersebut. “Ini dimulai dari perburuan di alam, pemisahan bayi dari induk, pengangkutan melalui sejumlah wilayah, hingga dijual atau dipelihara sebagai satwa eksotik,” kata Indra.

Pemisahan dari induk bukan sekadar membuat bayi orangutan kehilangan pengasuhan. Tindakan tersebut juga dapat mengganggu kesehatan, perilaku, perkembangan sosial, dan kemampuan mereka bertahan hidup. Karena itu, Indra menegaskan, “Lima orangutan tersebut harus dipandang sebagai korban perdagangan satwa liar, bukan satwa eksotik yang ditemukan jauh dari habitatnya.”

Meski spesies kelimanya belum dipastikan, indikasi awal mengarah pada orangutan sumatera. Kasus ini menjadi semakin serius karena populasinya terus menurun. Survei periode 2021–2023 memperkirakan populasi orangutan sumatera tersisa 11.694 individu, sedangkan orangutan tapanuli hanya sekitar 716 individu. Adapun populasi orangutan kalimantan diperkirakan sekitar 104.700 individu di Indonesia dan Malaysia.

Dugaan perdagangan orangutan dari Indonesia ke India bukan kasus baru. Pada September 2022, otoritas India menyita tiga anak orangutan sumatera di Mizoram. Satwa-satwa tersebut diduga berasal dari Aceh Tamiang dan diperdagangkan melalui jalur Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, hingga India.

Menurut Indra, Aceh masih menjadi wilayah rawan penyelundupan satwa dilindungi. “Dari Aceh melalui jalur laut satwa-satwa tersebut dibawa ke Thailand, kemudian ke negara lain termasuk India,” jelasnya.

Proses pemulangan orangutan ke Indonesia pun sering menghadapi kendala. “Namun, saat pihak Indonesia berupaya melakukan repatriasi atau pemulangan kembali, proses tersebut kerap menemui jalan buntu. Mereka menolak dengan berbagai alasan,” tegas Indra.

Foto utama: Bayi orangutan sumatera ini dipisahkan dari induknya ketika diambil paksa oleh pemburu di hutan. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Saat Terjadi Perang, Bagaimana Kedaulatan Energi di Indonesia?

Muhammad Adhitya* 12 Sep 2026

Perang Amerika-Israel dengan Iran memblokade Selat Hormuz, jalur utama kapal pengangkut minyak terganggu berdampak pada pasokan minyak dunia termasuk Indonesia.

Situasi ini menyebabkan harga minyak mentah di pasar internasional naik hingga 45%. Selama perang, harganya bisa menyentuh US$120 per barel. Dampaknya, pasokan BBM Indonesia terancam hingga hari ini. Produksi domestik hanya 600 ribu barel per hari, sementara kebutuhan nasional mencapai 1,5-1,6 juta barel. Artinya, Indonesia harus mengimpor 1 juta barel per hari untuk memenuhi selisih kebutuhan dan produksi. 

Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, mengatakan, impor minyak di tengah konflik Amerika-Israel dengan Iran membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurutnya, jika harga minyak dunia mencapai USD90-100 per barel, maka subsidi akan membengkak hingga Rp120-130 Triliun.

Tentu ini juga berdampak pada LPG karena Indonesia masih bergantung pada impor dari pasar global. Indonesia mengimpor sekitar 6-7 juta ton per tahun, 20%-nya berasal dari Timur Tengah.

Bhima mengatakan, krisis energi dapat berdampak pada perekonomian nasional melalui kenaikan inflasi. Dia juga mengingatkan, krisis energi dapat memicu tekanan ekonomi berantai.

Di tengah situasi ini, Bhima mendesak pemerintah mempercepat transisi energi terbarukan yang berkeadilan untuk mengurangi ketergantungan pada minyak impor. Ia berharap, Danantara turut membiayai proyek energi bersih tersebut.

Novita Indri, juru kampanye Energi Trend Asia, menyebut pengalaman Pakistan melewati krisis energi pada 2022-2023 dapat menjadi contoh bagi Indonesia. Pakistan mengurangi ketergantungan oada gas alam dengan meningkatkan pemanfaatan energi surya sebagai energi utama.

“Tidak ada cara lain, mengurangi ketergantungan energi fosil dan mendorong energi terbarukan secara masif, berbasis komunal menjadi kunci Indonesia berdaulat energi.”


Foto utama: Greenpeace Indonesia memproyeksikan pesan ke bukit, sebelum KTT G20 di pantai Melasti di Bali, pada 14 November 2022. Foto : Greenpeace Indonesia

“Tanah Itu Mama”, Suara Perempuan Adat Menjaga Alam Papua

Editor 11 Sep 2026

Bagi perempuan adat Papua, hutan bukan sekadar kumpulan pohon atau sumber komoditas. Di dalamnya tersimpan pangan, tanaman obat, pengetahuan lokal, identitas budaya, serta masa depan anak-anak mereka. Ketika hutan hilang, seluruh penopang kehidupan itu ikut terancam.

Pesan tersebut disampaikan dalam PAPEDA Summit 2026 di Kota Sorong, Papua Barat Daya. Forum ini mempertemukan pemerintah, masyarakat adat, organisasi masyarakat sipil, akademisi, sektor swasta, lembaga riset, mitra pembangunan, dan generasi muda untuk membicarakan pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua.

Barbalina Osok, Ketua Umum Kwongke Kaban Salukh Moi Papua Barat Daya, membawa persoalan yang telah lama dihadapi masyarakat Moi. Sejak awal 1990-an, konsesi hak pengusahaan hutan beroperasi di wilayah adat mereka. Sebagian arealnya kemudian berubah menjadi perkebunan kelapa sawit.

Menurut Barbalina, hutan yang selama ini menjadi sumber penghidupan dan ruang hidup turun-temurun terus dikuras tanpa manfaat balik yang jelas bagi pemilik hak ulayat. Izin tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga sekitar 2032–2033.

Persoalannya bukan hanya investasi atau keuntungan ekonomi, tetapi juga minimnya keterlibatan masyarakat adat dalam menentukan penggunaan tanah dan sumber daya alam mereka.

Aktivis perempuan adat Marlince Siep mengingatkan bahwa hilangnya hutan dan akses terhadap wilayah adat berdampak langsung pada perempuan dan anak-anak. Perempuan memiliki peran penting dalam menyediakan pangan sekaligus meneruskan pengetahuan lokal antargenerasi.

“Tanah itu Mama. Kepada pemerintah dan pemangku kepentingan, biarkan hutan dan lingkungan sehat yang tersisa ini untuk diwariskan kepada generasi perempuan adat Orang Asli Papua,” kata Marlince.

Ia juga meminta agar pembangunan Papua tidak hanya disusun dari perspektif pemerintah pusat. Suara masyarakat adat perlu dijadikan pijakan agar tanah, manusia, budaya, dan kearifan lokal tetap terlindungi.

Masalah pengakuan wilayah adat turut masuk dalam agenda resmi PAPEDA Summit. Pemerintah menyampaikan bahwa realisasi perhutanan sosial secara nasional telah mencapai sekitar 8,41 juta hektar dari target 12,7 juta hektar. Di Tanah Papua, sebanyak 12 masyarakat hukum adat telah memperoleh penetapan, sementara puluhan usulan lainnya masih diverifikasi.

Elisa Kambu, Gubernur Papua Barat Daya, menyatakan pemerintah provinsi berkomitmen membantu pemetaan wilayah dan tanah adat. Ia juga mendorong percepatan penetapan hutan adat agar masyarakat memiliki posisi lebih kuat dalam mengelola wilayahnya.

Namun, komitmen di ruang pertemuan masih berhadapan dengan kenyataan di lapangan. Pada hari terakhir, PAPEDA Summit dihentikan lebih awal ketika berlangsung aksi di sekitar lokasi. Massa menyuarakan penolakan terhadap sejumlah Proyek Strategis Nasional dan mengangkat persoalan hak masyarakat adat atas tanah, hutan, serta ruang hidup.

Bagi masyarakat adat Papua, pengakuan wilayah bukan sekadar persoalan administratif. Pengakuan menentukan apakah mereka dapat menjaga sumber pangan, kesehatan, budaya, dan warisan bagi generasi berikutnya. Karena itu, keberhasilan forum tidak cukup diukur dari pernyataan komitmen, melainkan dari perubahan nyata di tanah dan hutan Papua.

Foto utama: Perempuan-perempuan Suku Moi terampil menganyam noken, bercorak khas Moi Kelim yang terbuat dari kulit kayu. Foto: Lusia Arumingtyas/ Mongabay Indonesia

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.