Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Cerita fitur

Upaya Warga Hadirkan Kembali Kicau Burung di Pegunungan Menoreh

Triyo Handoko 22 Jul 2026

Tambang Emas Ilegal Rusak Cagar Alam Jantho

Junaidi Hanafiah 22 Jul 2026

Di Dalam Rahim, Satu Embrio Hiu Harimau Pasir Memangsa Saudara-saudaranya. Ini Fakta Ilmiahnya

Akhyari Hananto 22 Jul 2026
Cerita fitur

Bagaimana Menguatkan Mitigasi Pulau Kecil di NTB?

Fathul Rahman 22 Jul 2026
Cerita fitur

Pangan Olahan Sagu Terancam Hilang dari Mentawai

Novia Harlina 21 Jul 2026

Trimeresurus insularis, Ular Berbisa 3 Warna yang Jago Kamuflase

Falahi Mubarok 21 Jul 2026
Semua berita

Berita utama

Upaya Warga Hadirkan Kembali Kicau Burung di Pegunungan Menoreh

Bagaimana Menguatkan Mitigasi Pulau Kecil di NTB?

Fathul Rahman 22 Jul 2026

Pangan Olahan Sagu Terancam Hilang dari Mentawai

Novia Harlina 21 Jul 2026
Tulisan “Kami Menolak Direlokasi” terpampang di dinding rumah salah seorang warga. Mereka menolak perampasan ruang hidup mereka. Foto: Mario Sara/ Mongabay Indonesia

Ketika Ancaman Relokasi Terus Hantui Warga Pulau Kera

Bapthista Mario Yosryandi Sara* 21 Jul 2026

Menyoal Kebun Sawit Sitaan dari Kawasan Hutan Sumut buat Dukung B50

Ayat S Karokaro 20 Jul 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri

Populasi Orangutan Sumatera Berkurang 2.700 Individu dalam Satu Dekade?

Junaidi Hanafiah 14 Jul 2026

Kisah Berani, Orangutan Sumatera yang Mati karena Gagal Ginjal di Denver Zoo

Christopel Paino 3 Okt 2025

Begini Nasib Orangutan Sumatera di Rawa Tripa

Junaidi Hanafiah 27 Agu 2025

Begini Modus Perburuan Orangutan Sumatera

Junaidi Hanafiah 11 Jul 2025

Mereka adalah pemilik sah rimba Sumatera, tetapi kini dipaksa menjadi pengembara tanpa arah di tanah kelahiran sendiri. Kepungan perkebunan monokultur dan moncong senapan pemburu perlahan menghapus jejak primata cerdas ini dari muka bumi. Dari Rawa Tripa hingga Leuser, bentang alam yang menyusut menjadi saksi bisu runtuhnya rumah besar mereka. Setiap detiknya adalah jeritan sunyi yang […]

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri series

Lebih spesial

7 cerita

Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua

9 cerita

Nestapa Burung Berkicau Nusantara

9 cerita

Ancaman Nyata El Nino Godzilla

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Dari Jejak Tambang Ilegal hingga Upaya Warga Lestarikan Hutan

Karen Anastasia Surbakti* 30 Jun 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk

Niko Wicaksana 22 Apr 2026

Kontes Burung Kicau, Sunyikan Hutan Indonesia

Rizky Maulana Yanuar, Sandy Watt 25 Feb 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Terkesan Menakutkan tapi Bukan Sekadar Predator, Inilah Peran Besar Buaya Muara

Editor 22 Jul 2026

Bagi masyarakat yang hidup di sekitar sungai dan pesisir, kecipak air tidak selalu menandakan keberadaan ikan. Suara itu bisa menjadi peringatan bahwa buaya muara sedang berada di dekat mereka. Dengan tubuh berlapis kulit menyerupai zirah, ekor kuat, serta gigitan mematikan, reptil purba ini merupakan predator puncak yang patut diwaspadai.

Indonesia mencatat angka konflik manusia dan buaya yang tinggi. Sepanjang 2020–2024, terdapat 820 serangan buaya dengan 414 korban meninggal. Lebih dari 95 persen kasus melibatkan buaya muara (Crocodylus porosus). Hampir separuh serangan berkaitan dengan aktivitas mencari ikan, sedangkan sekitar sepertiganya terjadi ketika masyarakat melakukan kegiatan domestik seperti mandi, mencuci, dan memenuhi kebutuhan sanitasi.

Konflik tersebut tidak memiliki penyebab tunggal. Hilangnya habitat, menyusutnya ruang hidup, dan berkurangnya mangsa alami membuat buaya semakin sering memasuki wilayah aktivitas manusia. Pada saat bersamaan, pertumbuhan penduduk dan memudarnya pengetahuan lokal membuat manusia semakin tidak terbiasa berbagi ruang dengan satwa ini. Penyempitan habitat bahkan dapat meningkatkan intensitas perjumpaan, bukan menguranginya.

Padahal, buaya muara memiliki peran penting dalam ekosistem. Saat masih berupa telur hingga berumur satu tahun, buaya rentan menjadi mangsa berbagai satwa. Tingkat kelangsungan hidupnya pada tahun pertama bahkan dapat kurang dari lima persen. Setelah tumbuh, buaya beralih menjadi predator yang membantu mengendalikan populasi satwa lain, termasuk ikan toman, ikan tapah, dan ular.

Sebagai predator yang resilien, buaya muara memiliki toleransi tinggi terhadap berbagai kondisi habitat. Pergerakan buaya dari perairan tawar menuju daratan, pesisir, hingga laut juga membantu memindahkan biomassa dan nutrien antar ekosistem. Buaya dewasa mengaduk sedimen dasar perairan sehingga nutrien dapat terlepas kembali. Betina yang membangun sarang bahkan berpotensi mengubah struktur habitat di sekitarnya. Karena keunikan tersebut, buaya muara termasuk tiga besar spesies buaya dengan fungsi ekosistem paling unik di dunia.

Lalu, bisakah manusia dan buaya muara berbagi ruang? Ya, manusia dapat hidup berdampingan dengan buaya muara jika ruang hidup manusia dan satwa dikelola dengan baik, didukung ekosistem sehat, fasilitas sanitasi layak, pendidikan, serta kearifan lokal. Praktik ini terlihat pada masyarakat di sekitar Sungai Mamberamo, Mappi, dan Boven Digoel yang saling menghormati ruang hidup serta memanfaatkan buaya secukupnya untuk kebutuhan komunal. Di berbagai daerah Nusantara, buaya juga menjadi bagian dari adat dan kepercayaan. Masyarakat Ujung Kulon menyebutnya “pengantin” atau “nyai”, sementara sejumlah komunitas Dayak dan Bugis-Makassar memandangnya sebagai saudara. Jejak penghormatan serupa muncul dalam sedekah sungai, tari Hudoq, gerbang adat ngango lo huwayo di Gorontalo, hingga tradisi roti buaya masyarakat Betawi.

Selain itu, fasilitas mandi, cuci, dan kakus yang layak juga penting agar masyarakat tidak terlalu sering beraktivitas di habitat buaya. Koeksistensi membutuhkan data populasi yang kuat, pendidikan sesuai kondisi setempat, pelibatan masyarakat, dan pengakuan terhadap kearifan lokal.

Foto utama: Buaya muara yang memiliki manfaat bagi ekosistem lingkungan. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.

Selain Kepala yang Dapat Berputar 270 Derajat, Ini 10 Keunikan Burung Hantu Lainnya

Akhyari Hananto 22 Jul 2026

Burung hantu sering digambarkan sebagai penghuni malam yang misterius. Tatapannya tajam, kepalanya dapat berputar jauh, sementara kepakan sayapnya nyaris tak terdengar. Namun, keunikan burung ini tidak berhenti di situ. Berikut 10 fakta menarik yang memperlihatkan kemampuan luar biasa burung hantu.

  1. Burung hantu ternyata bisa berenang
    Burung hantu tanduk besar pernah terlihat berenang menyeberangi danau di Chicago, Amerika Serikat. Burung tersebut masuk ke dalam air untuk menghindari serangan dua ekor elang pemangsa.
  2. Tidak semuanya aktif pada malam hari
    Meski dikenal sebagai satwa nokturnal, beberapa jenis burung hantu justru berburu pada siang hari. Jenis tersebut antara lain burung hantu abu-abu besar, burung hantu elang utara, dan burung hantu kerdil utara. Kebiasaan ini kemungkinan mengikuti aktivitas mangsanya, seperti burung penyanyi dan mamalia kecil.
  3. Kepalanya dapat berputar hingga 270 derajat
    Burung hantu mempunyai 14 ruas tulang leher, dua kali lebih banyak dibandingkan manusia. Susunan anatomi ini membuat kepalanya mampu berputar hingga 270 derajat. Kemampuan tersebut penting karena matanya tidak dapat bergerak bebas.
  4. Jenis terbesar telah punah
    Burung hantu terbesar yang pernah tercatat adalah Ornimegalonyx dari Kuba. Tingginya mencapai sekitar 1,1 meter. Kaki yang panjang dan kuat menunjukkan bahwa burung ini kemungkinan merupakan pelari cepat, meski para ahli belum mengetahui secara pasti kemampuannya untuk terbang.
  5. Membantu kerja sama petani di Timur Tengah
    Burung hantu serak atau barn owl merupakan pemangsa alami tikus. Sepasang burung hantu dapat memakan hingga 6.000 tikus dalam setahun. Kemampuan ini mendorong petani dan ilmuwan di Yordania serta wilayah Palestina bekerja sama menyediakan kotak sarang sekaligus mengurangi penggunaan pestisida.
  6. Memiliki “mata palsu”
    Burung hantu kerdil utara mempunyai bulu hitam menyerupai mata di belakang kepalanya. Pola tersebut diduga dapat mengecoh atau menghambat predator yang hendak menyerang dari belakang.
  7. Bulunya tidak tahan air
    Bulu burung hantu sangat halus sehingga mendukung kemampuannya terbang dan berburu tanpa suara. Namun, bulu tersebut mudah menyerap air. Karena itulah burung hantu jarang terlihat berburu saat hujan.
  8. Tidak membangun sarang sendiri
    Burung hantu biasanya menempati sarang atau rongga pohon yang telah ditinggalkan burung lain, termasuk burung pelatuk.
  9. Susunan jari kakinya saling berlawanan
    Burung hantu memiliki cakar zigodaktil: dua jari menghadap ke depan dan dua lainnya ke belakang. Susunan ini membuatnya mampu mencengkeram mangsa dengan sangat kuat.
  10. Mampu menempuh perjalanan sangat jauh
    Burung hantu salju yang hidup di Kutub Utara dapat terbang ribuan kilometer ke selatan. Burung ini pernah mencapai Florida, Bermuda, dan bahkan Hawaii setelah menempuh perjalanan sekitar 4.800 kilometer.
Foto utama: Celepuk enggano, burung hantu yang hanya ada di Pulau Enggano. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia.

Apa Jadinya Jika 3.500 Spesies Nyamuk Menghilang dari Bumi?

Akhyari Hananto 21 Jul 2026

Nyamuk dikenal sebagai salah satu hewan paling mematikan di dunia. Secara global, data resmi yang dirangkum oleh organisasi kesehatan dunia seperti World Mosquito Program (WMP) dan WHO menunjukkan bahwa penyakit yang ditularkan oleh nyamuk membunuh lebih dari 1 juta orang setiap tahunnya. Nyamuk seperti Aedes aegypti juga menjadi pembawa virus Zika, chikungunya, dan demam kuning.

Ancaman tersebut mendorong sejumlah pihak mencari cara untuk mengendalikan populasinya. Anak perusahaan Alphabet, Verily, misalnya, merancang program pelepasan nyamuk jantan steril. Karena tidak menggigit manusia dan tidak dapat menghasilkan keturunan, nyamuk ini diharapkan dapat menekan populasi di alam. Program serupa di Australia bahkan disebut berhasil mengurangi jumlah nyamuk hingga 80 persen.

Namun, jika nyamuk benar-benar punah, dampaknya bagi alam belum sepenuhnya diketahui. Sebuah penelitian dilakukan untuk mempelajari hubungan siklus hidup Anopheles gambiae dengan kelelawar, ikan, bunga, dan serangga lain. Para ilmuwan ingin mengetahui apakah hilangnya nyamuk dapat mengganggu rantai makanan atau membuka jalan bagi serangga pembawa malaria lain. Kemungkinan munculnya pengganti yang lebih berbahaya dinilai kecil karena Anopheles gambiae telah berevolusi bersama manusia.

Di dunia terdapat sekitar 3.500 spesies nyamuk, tetapi hanya beberapa ratus yang menggigit atau mengganggu manusia. Nyamuk telah hidup di Bumi selama lebih dari 100 juta tahun dan berkembang bersama banyak spesies. Larvanya menjadi makanan bagi ikan kecil dan berbagai serangga air, sedangkan nyamuk dewasa dimakan burung, laba-laba, salamander, kadal, serta katak. Beberapa spesies juga berperan sebagai penyerbuk tanaman.

Ikan nyamuk atau Gambusia affinis, misalnya, merupakan predator khusus larva nyamuk. Jika mangsanya hilang, ikan ini juga dapat lenyap dan mempengaruhi rantai makanan. Meski demikian, tidak semua pemangsa sangat bergantung pada nyamuk. Pada kelelawar, misalnya, nyamuk hanya membentuk kurang dari dua persen isi saluran pencernaannya karena hewan tersebut lebih banyak memakan ngengat.

Sebagian ilmuwan memperkirakan kepunahan nyamuk hanya akan meninggalkan gangguan ekologis sementara. Organisme lain kemungkinan segera mengisi ruang yang ditinggalkan, sementara burung dan pemakan serangga dapat beralih ke mangsa lain. Hingga kini, belum cukup bukti bahwa hilangnya nyamuk akan menyebabkan kerusakan ekosistem besar.

Karena manfaatnya bagi kesehatan manusia sangat besar, sejumlah ahli menilai dunia tanpa nyamuk akan menjadi lebih aman. Ekosistem mungkin tersendat sesaat, tetapi kemudian menyesuaikan diri. Dengan demikian, kepunahan nyamuk berpotensi menyelamatkan banyak nyawa, meskipun konsekuensi ekologisnya tetap perlu diteliti dengan hati-hati.

Foto utama: Nyamuk penyebab penyakit malaria [Anopheles minimus] yang banyak tersebar di Asia. Foto: James Gathany/CDC via Britannica.com

Dinofelis, Predator Bertaring Belati yang Memburu Manusia pada 1,2 Juta Tahun Lalu

Editor 21 Jul 2026

Jauh sebelum manusia menjadi salah satu makhluk paling dominan di Bumi, kehidupan nenek moyang kita tidak lepas dari ancaman berbagai predator. Salah satunya adalah Dinofelis, kucing besar purba yang diduga memiliki kemampuan khusus untuk memangsa manusia. Bukti keberadaan hewan tersebut ditemukan melalui tulang-belulang di sebuah gua di Afrika.

Dinofelis mempunyai dua gigi taring panjang menyerupai belati. Senjata alami ini memungkinkannya menggigit kepala manusia dan menembus tengkorak hingga mencapai otak hanya dalam sekali gigitan. Kemampuan tersebut membedakannya dari kucing besar yang hidup saat ini.

Ketika singa gunung atau kucing besar modern menyerang manusia, korbannya terkadang masih mampu bertahan hidup. Serangan itu memang dapat menyebabkan luka fatal, tetapi gigi predator masa kini tidak dirancang untuk menembus kerasnya tulang kepala manusia. Dinofelis, sebaliknya, memiliki taring yang kuat dan sesuai untuk melakukan serangan tersebut.

Sekitar 1,2 juta tahun lalu, Dinofelis tersebar luas di Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika Utara. Ukuran tubuhnya hampir menyerupai singa modern, tungkai depannya sangat kuat dibandingkan dengan kucing modern, meskipun sebagian besar diperkirakan hanya sebesar jaguar. Tingginya sekitar 70 cm dengan berat mencapai 120 kg. Tubuh berukuran sedang dan dua taring yang kuat menjadikannya predator menakutkan.

Mangsa Dinofelis tidak terbatas pada manusia purba. Hewan ini juga memburu berbagai satwa besar, seperti anak mammoth, mastodon, dan binatang lainnya. Homo habilis, yang disebut sebagai nenek moyang manusia modern, turut menjadi salah satu mangsanya.

Dalam buku Songlines, penulis Bruce Chatwin menyebut ancaman Dinofelis sebagai salah satu dorongan utama bagi manusia purba untuk menciptakan tombak dan berbagai jenis senjata. Dengan perlengkapan tersebut, manusia mulai mampu melawan predator yang sebelumnya menjadi ancaman besar bagi kehidupan mereka. Perlawanan manusia kemudian diduga turut mendorong Dinofelis menuju kepunahan sekaligus menjadi bagian penting dalam perjalanan evolusi manusia.

Gagasan itu memang masih bersifat spekulatif. Begitu pula anggapan bahwa ketakutan manusia terhadap monster yang mengintai dalam kegelapan mungkin merupakan jejak ingatan kuno tentang predator yang dahulu memburu leluhur penghuni gua.

Dinofelis pertama kali diidentifikasi sebagai “spesialis pemangsa primata” oleh Profesor C.K. Brain pada 1981. Kesimpulan tersebut ditulis dalam bukunya, The Hunters or the Hunted? An Introduction to African Cave Taphonomy, berdasarkan berbagai penemuan yang dilakukan di Afrika.

Foto utama: Rekaan Dinofelis yang bisa meremukkan tulang tengkorak manusia. Foto: boredomtherapy.com.

Dari Satwa hingga Suhu, Ini 7 Perbedaan Kutub Utara dan Kutub Selatan

Editor 20 Jul 2026

Kutub Utara dan Kutub Selatan sama-sama dikenal sebagai wilayah luas yang diselimuti es. Meski sekilas tampak serupa, keduanya memiliki kondisi geografis, satwa, suhu, hingga aktivitas manusia yang berbeda.

  1. Lautan beku dan daratan es
    Kutub Utara atau Arktik merupakan lautan beku seluas sekitar 5,4 juta mil persegi yang dikelilingi daratan. Sebaliknya, Kutub Selatan atau Antartika adalah daratan seluas sekitar 6 juta mil persegi yang dikelilingi lautan. Di bawah es Antartika juga terdapat pegunungan dan danau.
  2. Ketebalan lapisan es
    Ketebalan es di Kutub Utara berkisar dari beberapa inci hingga dua meter. Lapisan yang relatif tipis ini sering mengalami retakan, terutama pada musim panas. Sementara itu, sekitar 99 persen Antartika tertutup es dan gletser dengan ketebalan mencapai 4.700 meter. Kawasan ini menyimpan sekitar 85 persen es abadi di Bumi.
  3. Satwa yang menghuninya
    Beruang kutub hanya ditemukan secara alami di Kutub Utara, sedangkan penguin hidup secara alami di Kutub Selatan. Keduanya sama-sama memakan ikan dan menempati puncak rantai makanan di wilayah masing-masing.
  4. Penduduk dan kepemilikan wilayah
    Kutub Selatan tidak dimiliki oleh negara manapun dan tidak memiliki sejarah penduduk asli. Berdasarkan Perjanjian Antartika, wilayah dan sumber dayanya hanya boleh dimanfaatkan untuk kepentingan perdamaian dan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, Lingkaran Arktik dihuni sekitar empat juta orang yang tinggal di kota-kota seperti Barrow (Alaska, AS), Tromso (Norwegia), Muramansk dan Salekhaard (Rusia).
  5. Perbedaan suhu
    Suhu rata-rata Kutub Utara mencapai -40 derajat Celsius pada musim dingin dan 0 derajat Celsius saat musim panas. Di Kutub Selatan, suhu musim dingin mencapai -60 derajat Celsius dan 28,2 derajat Celsius pada musim panas. Rekor suhu terendah di Bumi, yaitu -89,6 derajat Celsius, tercatat di Stasiun Vostok pada 21 Juli 1983.
  6. Potensi cadangan minyak
    Kutub Utara diperkirakan menyimpan seperempat cadangan minyak dunia yang belum digali. Rusia dan Amerika Serikat telah memetakan potensi tersebut. Antartika juga diperkirakan menyimpan minyak, tetapi kemungkinan penambangannya sangat kecil karena adanya Perjanjian Antartika.
  7. Kegiatan penelitian
    Lebih dari 60 pusat penelitian milik 27 negara berdiri di Kutub Selatan. Saat musim panas, lebih dari 4.000 ilmuwan datang, sedangkan pada musim dingin jumlahnya tidak lebih dari 1.000 orang. Di Kutub Utara, penelitian dilakukan menggunakan kapal pemecah es atau melalui kamp yang dibangun di atas lautan beku.
Foto utama: Pemandangan di Antartika. Sumber foto: antarcticsun.usap.gov

Warisan Baden-Powell: Menjadikan Alam sebagai Ruang Belajar Sejak 1907 Melalui Pramuka

Editor 20 Jul 2026

Selama ini Pramuka sering identik dengan kegiatan berkemah, tali-temali, atau api unggun. Padahal, sejak awal kelahirannya, gerakan kepanduan juga dirancang sebagai sarana pendidikan lingkungan hidup. Pendiri Pramuka dunia, Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, meyakini bahwa alam bukan sekadar tempat beraktivitas, tetapi ruang belajar terbaik untuk membentuk karakter, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap bumi. Gagasan itu masih menjadi salah satu fondasi gerakan Pramuka hingga kini.

Awal mula gagasan tersebut lahir dalam perkemahan pertama di Pulau Brownsea, Inggris, pada 1907. Selama sembilan hari, Baden-Powell mengajak para peserta belajar membaca jejak, mengamati satwa, memberikan pertolongan pertama, hingga bertahan hidup di alam. Pengalaman itu kemudian ia tuangkan dalam buku Scouting for Boys yang menjadi salah satu buku paling berpengaruh dalam sejarah kepanduan dunia. Di dalamnya, Baden-Powell menekankan bahwa mengenal alam berarti belajar memahami kehidupan sekaligus menumbuhkan tanggung jawab untuk menjaganya. Menurutnya, manusia akan menyadari betapa mudahnya merusak alam, tetapi begitu sulit memulihkannya.

Pemikiran tersebut membuat Baden-Powell kerap dipandang sebagai salah satu tokoh pendidikan lingkungan hidup. Alam dijadikan media pembelajaran yang mampu menumbuhkan rasa hormat terhadap kehidupan, melatih disiplin, kerja sama, hingga membangun kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari ekosistem. Bahkan, model pendidikan yang ia kembangkan kemudian diakui sebagai salah satu tonggak penting perkembangan pendidikan lingkungan di dunia.

Komitmen itu terus berlanjut di tingkat global. Organisasi Pramuka Sedunia (WOSM) sejak lama menjadikan isu lingkungan sebagai salah satu prioritas gerakannya. Berbagai resolusi mendorong anggota Pramuka di seluruh dunia untuk terlibat dalam pelestarian alam, mulai dari aksi konservasi, dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), hingga program Earth Tribe yang dikembangkan bersama WWF dan UNEP. Dalam konferensi dunia tahun 2021, WOSM juga menegaskan komitmennya terhadap aksi menghadapi krisis iklim dan target gerakan menuju netral karbon.

Di Indonesia, nilai-nilai tersebut telah lama masuk dalam pendidikan kepramukaan. Sejak 1995, Gerakan Pramuka memiliki Syarat Kecakapan Khusus (SKK) bidang lingkungan hidup yang mencakup pengenalan alam, konservasi tanah, perlindungan keanekaragaman hayati, hingga pengamatan ekosistem. Berbagai Satuan Karya (Saka) seperti Saka Wanabakti, Saka Bahari, dan Saka Kalpataru juga dibentuk agar anggota Pramuka dapat terlibat langsung dalam kegiatan pelestarian lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah, konservasi air, penghematan energi, hingga perlindungan keanekaragaman hayati. Program Gugus Depan Ramah Lingkungan yang diluncurkan pada 2017 turut mendorong perubahan perilaku sehari-hari, seperti memilah sampah, mengurangi emisi karbon, menghemat air, dan menjaga ekosistem.

Meski demikian, pelaksanaan program lingkungan di Pramuka masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan jumlah pembina, pendanaan, hingga kapasitas organisasi. Berbagai inisiatif, seperti komunitas Tunas Hijau di Jawa Timur, menunjukkan bahwa nilai-nilai kepramukaan tetap mampu melahirkan gerakan lingkungan yang aktif dan berdampak di masyarakat. Pada akhirnya, warisan terbesar Baden-Powell bukanlah sekadar mengajarkan cara mendirikan tenda atau membaca jejak, melainkan menanamkan keyakinan bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk mewariskan bumi dalam keadaan yang lebih baik daripada saat mereka menerimanya.

Foto utama: Sir Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, Bapak Pramuka Sedunia. Foto: scout.org

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.