Jaring nelayan Danau Toba kini semakin sering dipenuhi red devil, ikan asing invasif yang bernilai jual rendah. Padahal, target utama mereka adalah ikan mas, nila, mujair, dan pora-pora.
“Dulu, dapat pora-pora hingga belasan kilogram. Sekarang, tiga kilogram sehari sudah bagus,” kata Br. Malau, istri nelayan dari Desa Simangulampe, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.
Red devil berasal dari Amerika Tengah, terutama aliran Sungai San Juan di Kosta Rika serta beberapa danau di Nikaragua. Ikan ini dikenal dengan sejumlah nama, seperti oskar, setan merah, lohan merah, nonong, dan tayo-tayo.
Menurut Charles P.H. Simanjuntak, iktiolog dari FPIK IPB University, ikan tersebut belum memiliki nama baku dalam Bahasa Indonesia. Tim IPB mengidentifikasi red devil di Danau Toba sebagai Amphilophus citrinellus, meski sebagian peneliti menyebutnya Amphilophus labiatus.
Ikan berwarna oranye hingga merah kehitaman ini awalnya dikenal sebagai ikan hias. Warna cerah dan sifat agresifnya terlihat menarik di akuarium, tetapi berubah menjadi ancaman ketika masuk ke perairan umum.
“Hasil penelitian saya waktu di Balige, ikan ini masuk ke perairan umum berkaitan dengan budidaya dan perdagangan ikan, murni karena bisnis. Ia dikira sejenis ikan nila berwarna merah,” kata Charles.
Sekilas bentuknya memang menyerupai nila merah, tetapi kualitasnya berbeda. Daging red devil sedikit, tulangnya keras, dan rasanya hambar. Karena kurang diminati, ikan tersebut diduga sempat dilepaskan ke perairan.
Red devil berkembang cepat karena mudah beradaptasi dan tidak memilih makanan. Ikan ini memakan larva, plankton, telur ikan, ikan kecil, serta organisme dasar perairan. Ia juga agresif, teritorial, dan melindungi telur serta anaknya. Ikan lain yang mendekati sarangnya akan diusir.
Penelitian IPB University pada April–Oktober 2024 menunjukkan red devil telah menyebar luas dan menjadi ikan paling melimpah di sejumlah lokasi Danau Toba. Salah satu ikan lokal yang semakin sulit ditemukan adalah ikan batak (Neolissochilus thienemanni), spesies endemik yang juga memiliki nilai budaya bagi masyarakat Batak.
Namun, red devil bukan satu-satunya penyebab penurunan ikan lokal. Ledakan populasinya berkaitan dengan memburuknya ekosistem Danau Toba. Limbah organik, pestisida, aktivitas domestik, hotel, dan rumah makan meningkatkan tekanan terhadap kualitas air. Ketika kadar oksigen menurun, ikan asli kesulitan berkembang, sedangkan red devil mampu bertahan.
Penangkapan dan pemanfaatan sebagai pakan dapat membantu menekan populasinya. Charles tidak menyarankan pelepasan predator baru karena berisiko mengganggu rantai makanan atau menciptakan spesies invasif berikutnya.
“Red devil bukan sekadar ikan asing di Danau Toba. Ia penanda bahwa ekosistem danau butuh perhatian serius,” kata Jonson Lumbangaol, Guru Besar IPB University .
Foto utama: Amphilophus citrinellus atau yang dikenal red devil, merupakan ikan invasif yang berkembang cepat di Danau Toba. Foto: Wikimedia Commons/George Chernilevsky/CC BY-SA 4.0.