Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua

Terbaru

Cerita fitur

Puluhan Ribu Hektar Hutan dan Lahan di Papua Terbakar

Riyad Dafhi Rizki 1 Okt 2026

Tiada Konflik, Burung Liar hingga Harimau Sumatera Hidup Damai di Hutan Beutong Ateuh

Junaidi Hanafiah 1 Okt 2026

Macan Tutul Jawa di Tengah Ancaman Kepunahan

Eko Widianto 1 Okt 2026
Cerita fitur

Kalimantan Timur Masih Dalam Lilitan Masalah Tambang Batubara

Yuda Almerio 30 Sep 2026

Perubahan Suhu Lingkungan Bikin Ikan Sulit Reproduksi?

M Ambari 30 Sep 2026
Cerita fitur

Tambang Galian C Resahkan Warga Lombok

Ahmad H Ramdhani 30 Sep 2026
Semua berita

Berita utama

Menjaga Laut, Mempertahankan Hutan dan Melestarikan Pangan Lokal

Kadek Dian Dwiyanti H.* 1 Okt 2026

Puluhan Ribu Hektar Hutan dan Lahan di Papua Terbakar

Riyad Dafhi Rizki 1 Okt 2026

Kalimantan Timur Masih Dalam Lilitan Masalah Tambang Batubara

Yuda Almerio 30 Sep 2026

Tambang Galian C Resahkan Warga Lombok

Ahmad H Ramdhani 30 Sep 2026

Ahli dan Pakar Kritik Arah Kebijakan Lingkungan Prabowo

Yulia Adiningsih 30 Sep 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan

Kebakaran Hutan Bahayakan Kesehatan Masyarakat dan Rugikan Ekonomi

Irfan Maulana 26 Sep 2026

Terjadi Lonjakan Sakit Pernapasan Dampak Asap Kebakaran Hutan

Achmad Rizki Muazam 16 Sep 2026

Asap Karhutla Tak Kenal Batas Administratif, Bikin Manusia dan Satwa Liar Menderita

Christopel Paino 15 Sep 2026

Tuntut Pemerintah Lindungi Warga Terdampak Asap Karhutla

Jaka Hendra Baittri, Suryadi 13 Sep 2026

Kemarau panjang menyebabkan kekeringan. Kebakaran hutan dan lahan parah pun terjadi di Kalimantan, Sumatera, sampai Papua. Masyarakat pun harus menghirup udara beracun dari asap karhutla. Petugas maupun relawan pemadam kebakaran sudah ada yang meninggal dunia karena terpapar lama asap berbahaya karhutla ini. Kementerian Kesehatan pada pertengahan Agustus lalu mencatat, lebih dari 3 juta warga di […]

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan series

Lebih spesial

9 cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

9 cerita

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Menjaga Laut, Mempertahankan Hutan dan Melestarikan Pangan Lokal

Kadek Dian Dwiyanti H.* 1 Okt 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Leah Varjacques, Rizky Rahad, Sandy Watt 1 Sep 2026

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Bila Bertemu Kucing Kuwuk di Hutan Jangan Ditangkap, Mengapa?

Editor 1 Okt 2026

Kucing kuwuk atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis) dapat hidup di tepi hutan, kawasan yang tidak dilindungi, hingga habitat yang terpecah oleh aktivitas manusia. Karena itu, perjumpaannya dengan warga bukan hal yang aneh. Yang menjadi persoalan adalah ketika satwa liar ini disangka pengganggu, atau dibawa pulang untuk dipelihara.

Erwin Wilianto, praktisi konservasi dan anggota IUCN-SSC Cat Specialist Group, mengatakan banyak kejadian yang merugikan kucing kuwuk berawal dari kurangnya pengetahuan kita tentang satwa tersebut. “Beberapa kejadian umumnya lebih karena ketidaktahuan,” ujarnya.

Salah satu risiko muncul dari cara masyarakat menangani hewan yang dianggap mengganggu tanaman. Jerat tidak dapat memilih satwa yang akan tertangkap. Begitu pula penggunaan racun untuk membasmi tikus atau bajing: hewan yang terpapar racun berpotensi dimangsa kucing kuwuk. Padahal, kucing kuwuk sendiri memangsa hewan kecil, termasuk kelompok pengerat, sehingga berpotensi membantu mengendalikan tikus di sekitar lahan pertanian.

Meidi Yanto, Manajer Konservasi In-Situ Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu, menekankan bahwa risiko keracunan tersebut tidak boleh dianggap pasti terjadi dalam setiap kasus. “Bukan berarti setiap penggunaan racun akan meracuni kucing kuwuk, namun ada risiko yang perlu diperhitungkan terhadap satwa nontarget.”

Kesalahpahaman lain muncul saat warga menemukan anak kucing kuwuk sendirian. Menurut Meidi, anak satwa itu belum tentu ditelantarkan; induknya mungkin sedang mencari makan. Kemiripannya dengan kucing peliharaan juga dapat membuat orang mengira kucing kuwuk bisa dirawat di rumah. Jika satwa tersebut terluka, Meidi menyarankan warga menghubungi petugas BKSDA terdekat yang menangani satwa liar.

Sejauh ini, Yayasan Cikananga belum memiliki catatan sistematis mengenai jumlah kucing kuwuk yang menjadi korban penangkapan, jerat, atau racun. “Jadi, kami belum bisa sebut angka karena belum benar-benar mendokumentasikan,” kata Meidi. Tanpa data itu, besarnya masalah belum dapat digambarkan secara pasti.

Erwin mengusulkan koeksistensi sebagai dasar hubungan warga dengan satwa liar: memahami bahwa keduanya berbagi ruang dan setiap makhluk memiliki peran. Edukasi, menurutnya, perlu disesuaikan dengan kehidupan masyarakat yang dituju dan dilakukan terus-menerus. “Upaya ini mesti dilakukan sesuai target sasaran dan konsisten.”

Bagi warga yang berjumpa kucing kuwuk, langkah awalnya sederhana: membiarkannya tetap berada di habitatnya dan tidak menangkapnya. Dengan mengenali perannya sebagai pemangsa hewan kecil, masyarakat dapat mengurangi risiko konflik sekaligus memberi ruang bagi satwa liar ini untuk tetap hidup di sekitar hutan dan kebun.

Foto utama: Kucing kuwuk bukan hewan peliharaan dan statusnya dilindungi. Foto: Dok. Risa Adelia.

Bagaimana Cara Tarantula Hadapi Serangan Semut Tentara?

Editor 1 Okt 2026

Apa yang terjadi ketika semut tentara memasuki liang tarantula? Semut predator ini diketahui memburu laba-laba. Namun, dalam pengamatan yang dibahas sebuah penelitian, semut justru mengabaikan tarantula ketika mencari makanan di sarangnya di Amerika Selatan. Tarantula pun terlihat tetap pasif saat semut datang.

Para peneliti menduga jawabannya terletak pada bulu lebat yang menutupi tubuh tarantula. Bulu-bulu kaku tersebut menjadi penghalang bagi semut yang mencoba menggigit atau menyengat. Dugaan ini menawarkan penjelasan tentang salah satu fungsi tubuh berbulu pada laba-laba besar tersebut.

“Bulu lebat yang menutupi tubuh tarantula, menyulitkan semut untuk menggigit atau menyengatnya,” kata Alireza Zamani, ahli arachnologi Universitas Turku, Finlandia, sekaligus penulis utama penelitian. “Kami yakin, bulu-bulu itu telah berevolusi sebagai mekanisme pertahanan.”

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Natural History pada Agustus 2024 itu meninjau berbagai hubungan tarantula dengan hewan lain. Zamani dan koleganya menggabungkan penelitian terdahulu dengan pengamatan lapangan terbaru. Karena penjelasan tentang evolusi bulu masih berupa hipotesis, temuan tersebut menunjukkan kemungkinan mekanisme pertahanan yang perlu dipahami lebih jauh.

Hubungan dengan semut tentara ternyata tidak selalu merugikan tarantula. Para peneliti menemukan bukti bahwa semut dapat mengeluarkan sisa makanan lama dari liang. Meski mendapat manfaat tersebut, tarantula tetap memerlukan perlindungan dari gigitan. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan tarantula menutupi kantung telur dengan bulu untuk mencegah serangan semut.

Tidak semua tarantula menghadapi ancaman dengan cara serupa. Jenis yang hidup di pepohonan dan memiliki lebih sedikit bulu dapat menggunakan strategi berbeda. Dalam sebuah pengamatan di Peru, Avicularia hirschii terlihat bergelantungan di ujung daun untuk menghindari serbuan semut.

Tim peneliti juga menyoroti hubungan tarantula dengan amfibi. Mereka menghimpun sekitar 60 pengamatan dari 10 negara mengenai katak dan kodok yang menggunakan persembunyian tarantula. Menurut Zamani, tempat tersebut dapat membantu amfibi berlindung dari predator.

“Mereka memakan serangga yang dapat membahayakan laba-laba, telurnya, dan anak-anaknya. Dapat dikatakan, tarantula tidak seseram yang digambarkan selama ini,” paparnya.

Berbagai pengamatan itu memperlihatkan bahwa liang tarantula bukan sekadar tempat tinggal satu hewan. Di dalam dan sekitarnya, ada hubungan yang melibatkan perlindungan, makanan, serta ancaman. Bulu tubuh, perilaku menghindar, dan kehadiran hewan lain menjadi bagian dari cara tarantula menghadapi kehidupan di habitatnya.

Tarantula sendiri dapat hidup di bawah tanah maupun di pepohonan pada wilayah hangat. Perbedaan tempat hidup itu membantu menjelaskan mengapa pertahanannya beragam: sebagian mengandalkan bulu sebagai penghalang, sementara yang lain menjauh dari jalur semut. Hubungan-hubungan tersebut membuat perilaku tarantula lebih kompleks daripada kesan menakutkan yang sering melekat padanya.

Foto utama: Tarantula merupakan sebutan untuk laba-laba ukuran besar dan berbulu. Foto: Pixabay/Stelogic/Free to use.

Ada Cemara Laut, Petani Lembupurwo Tidak Resah Berkebun Dekat Pantai

Editor 30 Sep 2026

Di pesisir Desa Lembupurwo, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, deretan cemara laut (Casuarina equisetifolia) membuat kawasan pantai terasa lebih teduh. Pohon-pohon itu juga menjadi pelindung bagi lahan pertanian di belakangnya, yang dahulu langsung diterpa angin laut.

Munadi, Ketua Kelompok Tani Hutan Cemara Lembupurwo, mengatakan penghijauan dimulai pada 2008. Kini, kawasan yang dikelola mencapai 70 hektar, terdiri atas 50 hektare area cemara laut dan 20 hektare wilayah mangrove. “Dulu, pantai ini panas sekali,” katanya.

Sebelum pohon-pohon tumbuh, angin dari laut membawa pasir dan kadar garam ke lahan pertanian. Daun tanaman mudah mengering, terutama saat musim kemarau. Menurut Munadi, palawija dan tanaman hortikultura kerap gagal panen. Kelapa pun mengalami gangguan akibat paparan garam.

Tegakan cemara laut membantu mengubah kondisi tersebut. Pohon menghalangi sebagian angin yang membawa pasir dan uap garam. Pasir yang tertahan kemudian mengendap di sekitar tegakan, sementara tanaman di belakangnya mendapat ruang yang lebih terlindungi. Cemara laut juga disebut membantu mengurangi abrasi dan meredam dampak angin kencang.

Perubahan itu dirasakan Marsono Utomo, petani yang kini menanam melon di lahan seluas satu hektare. “Dulu kami tidak berani menanam melon, karena air laut dan uapnya merusak daun,” ujarnya. Dalam kondisi cuaca dan tanaman yang baik, ia mengatakan hasil panennya bisa mencapai 10 ton. Namun, saat kemarau, melon tetap memerlukan penyiraman intensif.

Petani lain juga memanfaatkan lahan di kawasan tersebut. Ada yang menanam cabai, terong, semangka, dan pepaya. Tumijo, misalnya, menanam pepaya di lahan seluas 5.000 meter persegi. Ketika produksinya tinggi, hasil panennya dapat mencapai dua ton. Kehadiran pepohonan membuka peluang bertani, meski hasilnya tetap bergantung pada perawatan, cuaca, dan harga jual.

Penelitian Beny Harjadi pada 2017 turut menjelaskan perubahan lingkungan di bawah tegakan cemara laut. “Cemara laut mampu menurunkan pencahayaan matahari hingga 88 persen, sehingga suasana di bawah pohon menjadi lebih teduh.” Pada pantai berpasir, peran pohon juga penting karena butiran pasir mudah terbawa angin dan dapat menutupi tanaman.

Di Lembupurwo, penghijauan yang dimulai hampir dua dekade lalu kini terasa manfaatnya di kebun-kebun warga. Cemara laut menjadi peneduh di tepi pantai sekaligus penghalang angin, pasir, dan uap garam yang dahulu menyulitkan petani menanam.

Foto utama: Melon siap panen hasil budi daya petani Desa Lembupurwo, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia.

Kebiasaan Unik Manusia Purba di Sulawesi, Mengisap Pinang Sejak 25 Ribu Tahun Lalu

Editor 30 Sep 2026

Bagaimana mengetahui kebiasaan seseorang yang hidup ribuan tahun lalu jika benda yang digunakannya sudah membusuk? Pertanyaan itu dihadapi peneliti saat menelusuri sejarah konsumsi pinang. Buah dan bijinya sulit bertahan lama di dalam tanah. Namun, kebiasaan mengisap pinang ternyata meninggalkan petunjuk pada bagian tubuh yang lebih awet: gigi.

Tim peneliti dari Australia, Amerika Serikat, dan Indonesia memeriksa fosil dua manusia pemburu-peramu dari Sulawesi. Individu pertama berasal dari Leang Bulu Bettue dan diperkirakan hidup antara 25.000 hingga 16.000 tahun lalu. Individu kedua berasal dari Leang Cappalombo dan hidup sekitar 7.600 hingga 6.300 tahun lalu. Keduanya hidup sebelum masyarakat setempat mengenal pertanian.

Pada gigi kedua individu itu, peneliti menemukan alur dan goresan melingkar yang berbeda dari keausan akibat mengunyah makanan. Mereka menafsirkan pola tersebut sebagai bekas kebiasaan menempatkan buah pinang utuh di mulut dan menghisapnya berulang kali.

Bentuk gigi saja belum cukup untuk memastikan apa yang mereka konsumsi. Peneliti kemudian memeriksa jaringan gigi untuk mencari arekolin, senyawa dalam pinang yang dapat mempengaruhi sistem saraf. Hasil analisis menemukan jejak senyawa tersebut pada sampel dari kedua situs. Bukti kimia itu memperkuat penafsiran terhadap pola keausan gigi.

“Kami menemukan sisa-sisa fosil langka dari dua manusia pemburu-peramu prapertanian di Sulawesi, Indonesia. Keduanya mengalami kelainan pada gigi yang ternyata disebabkan praktik yang belum diketahui sebelumnya sebagai cikal bakal kebiasaan mengunyah pinang: mengisap buah pinang utuh secara rutin,” tulis Adam Brumm dan rekan-rekannya dalam penelitian yang terbit di Science Advances.

Temuan individu dari Leang Bulu Bettue menunjukkan bahwa penggunaan pinang di Sulawesi mungkin telah berlangsung sejak sekitar 25.000 tahun lalu, jauh lebih awal daripada perkiraan sebelumnya yang menempatkan praktik itu sekitar 3.500 tahun lalu. Karena rentang usia fosilnya mencapai 25.000–16.000 tahun, angka 25.000 tahun merujuk pada batas tertua perkiraan tersebut.

Cara mengkonsumsi pinang pada masa itu juga berbeda dari tradisi sirih-pinang yang dikenal sekarang. Dalam tradisi tersebut, biji pinang biasanya dikunyah bersama daun sirih dan kapur. Peneliti menduga kedua individu purba itu justru mengisap buah pinang utuh.

Alasan mereka melakukannya belum diketahui pasti. Peneliti mengemukakan kemungkinan terkait efek pinang pada kewaspadaan, air liur, atau rasa nyeri. Yang lebih jelas terlihat dari fosil adalah akibat kebiasaan berulang itu pada gigi. Melalui dua jenis bukti, alur fisik dan jejak arekolin, gigi manusia Sulawesi memberi gambaran baru tentang lamanya manusia mengenal tanaman yang memengaruhi pikiran.

Foto utama: Tengkorak manusia purba yang diberi nama CPL-2a diteliti untuk mengetahui kondisi giginya. Foto: Fakhri/Griffith University.

Mitos Burung Hantu Akan Bawa Petaka, Benarkah?

Muhammad Adhitya* 30 Sep 2026

Pada awal tahun 2026, dua burung hantu menjadi korban kekerasan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Lantas, kasus tersebut viral di media sosial. Kasus pertama, pelaku menembak mati burung hantu jenis Tyto alba, kemudian pada Agustus lalu, jenis burung hantu celepuk flores (Otus alfendi) dibakar hidup-hidup.

Motifnya adalah kepercayaan turun-temurun yang menyebutkan kehadiran burung hantu bisa menjadi pertanda buruk dan berkaitan dengan ilmu hitam. Para pelaku meyakini dengan membakarnya dapat menghilangkan ancaman sihir.

Adhi Nurul Hadi, Kepala BKSDA NTT menegaskan, tindakan tersebut melanggar UU No. 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang menyebutkan pelaku terancam pidana hingga 15 tahun.

Sebutan ‘burung hantu’ bukan sekadar julukan. Ada alasan biologis yang membuat burung ini lekat dengan gambaran hantu. Satwa ini memiliki sejumlah adaptasi untuk berburu pada malam hari. Dia punya pendengaran dan kemampuan penglihatan yang tajam dalam kondisi cahaya redup, dan kemampuan terbang nyaris tanpa suara.

Di balik kesan seramnya, burung hantu memiliki peran penting dalam ekosistem. Berdasarkan riset Tirsyanto dkk, lebih dari 90% makanan Tyto alba adalah tikus sawah. Seekor burung dewasa bisa memangsa hingga 1.300 ekor per tahun.

Bahkan, riset yang sama menunjukkan keberadaan rubuha (rumah burung hantu) dapat menekan kerusakan tanaman akibat tikus secara signifikan.

Meski banyak yang mengaitkan dengan pertanda buruk, di sejumlah wilayah lain di Indonesia burung hantu justru dihormati, bukan ditakuti. Misalnya, di Minahasa, Sulawesi Utara, menganggap burung hantu sebagai pembawa pesan leluhur. Mereka percaya suaranya di malam hari sebagai petunjuk, bukan petaka. Pandangan tersebut turut melindungi burung hantu dari perburuan sehingga populasinya tetap terjaga.



Wacana Blok Migas Northern Papua Kembali Muncul, Bagaimana Nasib Nelayan Jayapura?

Karen Anastasia Surbakti* 30 Sep 2026

Aktivitas survei seismik Blok Migas Northern Papua memicu keresahan nelayan di pesisir utara Jayapura, Papua. Pasalnya, sejak Desember 2025 hingga Maret 2026, sebanyak 58 titik rumpon nelayan diputus secara sepihak. 

Dalam satu tahun terakhir, hasil tangkapan nelayan terus menurun karena cuaca. Namun, kemarahan warga semakin memuncak ketika pemutusan rumpon dilakukan tanpa adanya sosialisasi. Mereka pun melayangkan protes keras dengan mendatangi Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Papua. 

Bagi nelayan pesisir Papua, rumpon bukan hanya alat tangkap ikan namun juga “dapur” untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Rumpon yang mereka buat dari rudal besi bekas, tali, dan daun kelapa. Biasanya, ikan-ikan akan bertelur dan tinggal di sana, lalu nelayan memancing di sekitarnya. 

“Rumpon itu kami punya dapur, mereka ganggu kami punya dapur,” ujar Kosmos Kendi, salah satu nelayan dari kelompok BW Woi. 

Wilayah pesisir Distrik Jayapura Utara dan Selatan menjadi satu dari 10 area potensi blok migas baru yang  juga merupakan “piring makan” bagi masyarakat. Pemutusan rumpon ini membuat mereka terpaksa pulang dengan tangan kosong. Padahal, sekitar 4.200 keluarga menggantungkan hidupnya dari hasil laut dan mereka merupakan pemasok penting ikan di pasar Jayapura. 

“Saat (migas) belum beroperasi saja, rumpon dibasmi. Tak ada hasil sekarang. Kalau sudah beroperasi, kami tak bisa makan apa-apa.” kata Asbani, koordinator nelayan.

Selain tidak ada sosialisasi pemutusan rumpon, mereka juga tidak menerima informasi terkait potensi proyek migas tersebut. Mereka khawatir akan dampak jangka panjangnya hingga ke anak cucu. Oleh karenanya, mereka menolak tegas karena nelayan yang menanggung kerugian jangka panjang. Seperti, tumpahan minyak akibat kebocoran kecil, pemasangan pipa dan pemasangan jangkar yang akan merusak ekosistem pesisir laut dan ikan akan semakin menjauh.

Iman Djuniawal, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Papua menyesalkan pemutusan rumpon itu. Menurutnya, 80% nelayan tradisional menggantungkan hidup pada rumpon. Dia juga menambahkan pentingnya menjaga potensi pendapatan yang sudah ada sebelumnya. 

“Satu sisi memang kita butuh fiskal daerah, tambahan dari sumber daya lainnya. Tetapi harus bisa menjaga jangan sampai bisa berpengaruh bagi potensi pendapatan yang sudah jalan sebelumnya,” katanya di kantornya, Rabu (15/4/26). 

Mendengar penolakan ini, Tommy Sinaga, Humas PT Huatong Service Indonesia (surveyor) mengaku sudah melakukan sosialisasi dan membayar ganti rugi pemutusan rumpon kepada nelayan. Terkait dampak, dia menjelaskan pengeboran migas tidak akan mencemari laut karena telah menggunakan teknologi yang canggih. 

Nathan Baransano, Akademisi Ilmu Kelautan Universitas Cendrawasih, menjelaskan potensi migas ini sudah pasti akan menghilangkan mata pencaharian nelayan karena akan menutup akses tangkapannya. Untuk itu, dia mendesak pemerintah perlu melakukan perencanaan secara menyeluruh yang meliputi aspek lingkungan, sosial dan budaya. 

Para Nelayan Yonas Lawari (kiri) bersama rekannya sedang membuat perahu di Tanjung Ria, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua pada Selasa (14/4/2026). Foto: Larius Kogoya/ Mongabay Indonesia

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.