Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Cerita fitur

Ikan Endemik Danau Sentani Dalam Ancaman Kepunahan

Larius Kogoya 3 Okt 2026
Cerita fitur

Ratusan Nelayan Datangi Kementerian Kelautan Tolak PSN Tambak 

Muhammad Iqbal 3 Okt 2026

Lebih Pendek 2 Meter, Anaconda Bisa Seberat Sanca Sulawesi, Ular Terpanjang di Dunia

Akhyari Hananto 3 Okt 2026
Cerita fitur

Kasus Kukang Tersengat Listrik, Ada Kaitan dengan Krisis Iklim?

Falahi Mubarok 2 Okt 2026
Cerita fitur

Cerita di Hari Tani, dari Waswas Pembangkit Panas Bumi sampai Hak Tanah Perempuan

L Darmawan, Luh De Suriyani, Triyo Handoko 2 Okt 2026

Bagaimana Ular Weling Bisa Bertahan Hidup di Tengah Permukiman Padat

Akhyari Hananto 1 Okt 2026
Semua berita

Berita utama

Ikan Endemik Danau Sentani Dalam Ancaman Kepunahan

Ratusan Nelayan Datangi Kementerian Kelautan Tolak PSN Tambak 

Muhammad Iqbal 3 Okt 2026

Kasus Kukang Tersengat Listrik, Ada Kaitan dengan Krisis Iklim?

Falahi Mubarok 2 Okt 2026

Cerita di Hari Tani, dari Waswas Pembangkit Panas Bumi sampai Hak Tanah Perempuan

L Darmawan, Luh De Suriyani, Triyo Handoko 2 Okt 2026

Menjaga Laut, Mempertahankan Hutan dan Melestarikan Pangan Lokal

Kadek Dian Dwiyanti H.* 1 Okt 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan

Kebakaran Hutan Bahayakan Kesehatan Masyarakat dan Rugikan Ekonomi

Irfan Maulana 26 Sep 2026

Terjadi Lonjakan Sakit Pernapasan Dampak Asap Kebakaran Hutan

Achmad Rizki Muazam 16 Sep 2026

Asap Karhutla Tak Kenal Batas Administratif, Bikin Manusia dan Satwa Liar Menderita

Christopel Paino 15 Sep 2026

Tuntut Pemerintah Lindungi Warga Terdampak Asap Karhutla

Jaka Hendra Baittri, Suryadi 13 Sep 2026

Kemarau panjang menyebabkan kekeringan. Kebakaran hutan dan lahan parah pun terjadi di Kalimantan, Sumatera, sampai Papua. Masyarakat pun harus menghirup udara beracun dari asap karhutla. Petugas maupun relawan pemadam kebakaran sudah ada yang meninggal dunia karena terpapar lama asap berbahaya karhutla ini. Kementerian Kesehatan pada pertengahan Agustus lalu mencatat, lebih dari 3 juta warga di […]

Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan series

Lebih spesial

9 cerita

Jejak Rapuh Gua dan Karst

9 cerita

Misteri Kamuflase Dunia Satwa

9 cerita

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Bessé, Perempuan Toalean dari Sulawesi 7.200 Tahun Lalu

Akita Verselita 3 Okt 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Sulit Ditemukan, Mengapa Ular Sanca Bulan Jadi Incaran Pemburu di Hutan Papua?

Editor 3 Okt 2026

Di hutan pegunungan Papua, sanca bulan (Simalia boeleni) hidup di kawasan terpencil yang sulit dijangkau. Tubuhnya panjang dan ramping, sementara kulit dewasanya berwarna hitam dengan kilap yang dapat tampak berbeda ketika terkena sinar matahari. Keindahan itu menjadi salah satu daya tariknya bagi penghobi dan kolektor, sekaligus membawa ancaman bagi keberadaannya di alam.

Hari Suroto, peneliti Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN, mengatakan sanca bulan ditemukan di sejumlah wilayah pegunungan Papua, termasuk Lembah Baliem, Pegunungan Bintang, sekitar Danau Wissel, dan Pegunungan Arfak. Sebarannya juga mencakup Papua Nugini.

“Sanca bulan termasuk jenis yang sangat susah ditemukan. Populasinya menurun karena rusaknya habitat, perburuan ilegal, dan perdagangan liar,” katanya.

Menurut Hari, panjang tubuh sanca bulan berkisar 1,5-3 meter. Pertumbuhannya relatif lambat; ukuran maksimal dapat dicapai pada usia empat hingga enam tahun. Warna tubuhnya juga berubah seiring pertumbuhan. Ular ini cenderung pemalu dan jarang menggigit kecuali diprovokasi. Namun, pengetahuan tentang kehidupannya masih terbatas. “Lingkungan mereka yang terpencil dan sulit diakses, membuat penelitian tentang jenis ini masih terbatas.”

Ancaman perdagangan dibahas dalam publikasi Alamsyah Herlambang, Fajrin Shidiq, dan Amir Hamidy pada 2019. Para peneliti menjelaskan bahwa permintaan terhadap satwa langka dan eksotik dapat mendorong eksploitasi berlebihan. Ketika satwa semakin sulit ditemukan, harga pasarnya bisa meningkat dan justru memicu perburuan tambahan.

“Perdagangan ular sanca bulan dari Indonesia tercatat pertama kali pada 1989 dan berlangsung sampai saat ini. Dari 1989-2000 Indonesia memberlakukan kuota untuk jenis ini sebanyak 120 kuota tangkap alam setiap tahunnya,” tulis para peneliti dalam publikasi tersebut.

Pada 2001-2018, tidak ada kuota tangkap yang diberikan untuk sanca bulan. Publikasi itu menyebut individu yang dapat diperdagangkan dan diekspor melalui ketentuan CITES berasal dari kategori kelahiran atau hasil penangkaran tertentu.

Meski demikian, nilai jualnya tetap tinggi. Berdasarkan wawancara dalam penelitian, anakan sanca bulan dihargai sekitar 2 juta rupiah di Papua dan meningkat menjadi 8-12 juta rupiah ketika sampai di Jakarta. Penelusuran peneliti juga menemukan harga anakan di pasar internasional mencapai US$6.000 per ekor.

Artikel tersebut menyebut sanca bulan tercantum dalam Apendiks II CITES dan daftar satwa dilindungi Indonesia. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa aturan perlu disertai pengawasan dari daerah asal hingga pasar penjualan. Tanpa pencegahan di sepanjang jalur perdagangan, permintaan kolektor dapat terus mendorong pengambilan ular dari alam.

Bagi sanca bulan, sulit dijangkau manusia ternyata belum tentu berarti aman. Habitat terpencil membatasi penelitian, sementara harga tinggi mendorong orang mencarinya. Perlindungannya membutuhkan perhatian terhadap hutan tempatnya hidup sekaligus perdagangan yang membuatnya diburu.

Foto utama: Sanca bulan atau Simalia boeleni merupakan ular endemik Papua yang jarang terlihat. Foto: Wikimedia Commons/Danleo~commonswiki/CC BY 2.5

Di Hutan Beutong Ateuh, Burung Langka dan Harimau Sumatera Berbagi Ruang dengan Masyarakat

Editor 3 Okt 2026

Suara beragam burung terdengar di hutan pegunungan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Sebagian mencari makan di tajuk pohon, sementara lainnya bergerak di antara vegetasi dan lantai hutan. Setiap lapisan menyediakan kebutuhan berbeda, mulai dari buah dan serangga hingga tempat berlindung serta berkembang biak.

Pengamatan Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH) Aceh mencatat 31 jenis burung di kawasan ini. Empat di antaranya berstatus Genting, yaitu Sumatran Mesia (Leiothrix laurinae), Aceh Bulbul (Pycnonotus snouckaerti), Sumatran Laughingthrush (Garrulax bicolor), dan Sumatran Leafbird (Chloropsis media).

“Hutan Beutong penting bagi burung-burung Sumatera,” kata Heri Tarmizi, Koordinator KSLH Aceh.

Tim juga mencatat tiga jenis berstatus Rentan dan empat jenis Hampir Terancam. Sementara itu, 19 jenis masuk kategori Risiko Rendah dan satu jenis, Sumatran Robin, berstatus Belum Dievaluasi. Catatan tersebut memperlihatkan pentingnya kawasan ini sebagai habitat berbagai burung dengan kebutuhan hidup yang berbeda.

Menurut Heri, burung dapat membantu memberikan gambaran tentang perubahan lingkungan. Setiap jenis memiliki kebutuhan pakan, habitat, dan tingkat toleransi terhadap gangguan yang berbeda. “Perubahan komposisi jenis, dapat memberikan gambaran kondisi lingkungan.” Berkurangnya tutupan hutan atau terpecahnya habitat dapat memengaruhi ruang hidup burung, terutama jenis dengan sebaran terbatas.

Hutan Beutong juga menopang kehidupan manusia. Kecamatan ini terdiri atas empat desa dengan sekitar 2.400 penduduk. Masyarakat menggantungkan penghidupan pada sawah, kebun, hutan, dan Sungai Meureubo. Hamparan sawah seluas sekitar 500 hektar menjadi sumber pangan sekaligus pendapatan warga.

“Kami hidup dari hasil alam. Hutan yang membentengi Beutong Ateuh, sungai yang membelah kecamatan, sawah dan kebun yang mengelilingi kampung kami merupakan harta yang harus dijaga dan tidak boleh rusak,” kata Teungku Malikul Azis, tokoh adat dan agama yang dikenal sebagai Abu Kamil.

Menurutnya, penghormatan terhadap satwa diwariskan oleh orangtua. Masyarakat tidak memburu atau membunuh hewan sembarangan. Ia mengatakan warga juga tidak menganggap harimau sumatera sebagai pengganggu. “Kami tidak pernah berkonflik dengan harimau. Kami tidak mengganggu mereka dan mereka juga tidak mengganggu kami.”

Secara ekologis, kawasan Beutong menjadi jalur lintasan satwa yang menghubungkan Kawasan Ekosistem Leuser dengan hutan Ulu Masen. Survei di hutan Terangun–Beutong turut merekam macan dahan, kucing emas, dan harimau sumatera, serta menemukan satwa mangsa seperti rusa, kijang, kambing hutan, dan babi hutan.

Keberadaan burung, kucing liar, dan hewan lainnya menunjukkan beragam fungsi hutan Beutong. Bagi masyarakat, menjaga kawasan ini berarti mempertahankan tempat hidup satwa sekaligus sumber air, pangan, dan penghidupan mereka.

Foto utama: Spectacle Laughingthrush atau Poksai genting di pinggir hutan Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Galodo, Bukan Peristiwa Alam Biasa yang Terjang Solok

Editor 2 Okt 2026

Suara gemuruh dari arah hulu sungai mengejutkan Ali Priyono saat berjualan gorengan dekat Kantor Bupati Solok, Sumatera Barat, Senin malam, 21 September 2026. Dalam hitungan detik, air bah membawa kayu dan batu besar memenuhi aliran sungai. Ali berlari ke rumah untuk membawa istri dan tiga anaknya menjauh dari jembatan. Mereka selamat, tetapi rumahnya dipenuhi lumpur dan bebatuan.

“Belum pernah terjadi seperti ini,” kata Ali, yang telah tinggal di Solok sejak 2008.

Banjir bandang atau galodo itu menerjang Arosuka setelah hujan lebat mengguyur kawasan hulu Gunung Talang. Menurut BPBD Sumatera Barat, sekitar 10 kantor pemerintahan dan tujuh kendaraan dinas rusak. Satu orang meninggal, satu orang hilang, dan sejumlah warga terluka. Mahyeldi Ansharullah, Gubernur Sumatera Barat, menyebut sekitar 100-150 rumah serta kurang lebih 300 warga terdampak.

BMKG mencatat hujan di sekitar Solok mencapai 94 milimeter per hari. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramadhani, mengatakan hujan lebat yang berlangsung di hulu memicu luapan sungai. Namun, sejumlah pihak meminta agar evaluasi tidak berhenti pada curah hujan.

“Hujan memang menjadi pemicu, tetapi besarnya dampak sangat berkaitan dengan kondisi ekologis kawasan, tutupan hutan, perubahan penggunaan lahan, kemiringan lereng, kondisi daerah aliran sungai, tata ruang, sempadan sungai,” kata Tommy Adam, Direktur WALHI Sumatera Barat.

Tommy mengingatkan bahwa peta kawasan rawan bencana Gunung Talang telah tersedia sejak 2007. Menurutnya, kawasan perkantoran bupati hingga permukiman termasuk wilayah yang berpotensi dilalui material dari Gunung Talang. Ia mempertanyakan sejauh mana informasi tersebut digunakan untuk melindungi hulu, mengendalikan pembangunan di sempadan sungai, dan menyiapkan jalur evakuasi.

Analisis WALHI mencatat sekitar 700 hektar tutupan hutan di Kecamatan Batang Barus hilang sepanjang 1995-2024. Di Kabupaten Solok, sekitar 6.000 hektar tutupan hutan berubah menjadi lahan pertanian selama 2000-2024. Tommy menilai kondisi lahan hulu berkaitan dengan kemampuan kawasan menyerap air, menahan erosi, dan menjaga kestabilan tanah. Meski demikian, peran masing-masing perubahan lahan dalam galodo ini masih memerlukan kajian.

Isril Berd, Ketua Forum Daerah Aliran Sungai Sumatera Barat, juga menyoroti lereng yang terjal serta material batuan dan lumpur di hulu. Menurutnya, gabungan kondisi medan dan hujan lebat membuat air serta material dapat bergerak cepat menuju Arosuka. Dia meminta perubahan penggunaan lahan ikut diperiksa tanpa menjadikannya satu-satunya penyebab.

Bagi ahli lingkungan Indang Dewata, upaya mengurangi risiko perlu mencakup reboisasi, pemanfaatan lahan berbasis agroforestri, dan tata ruang yang mempertimbangkan ancaman bencana. Galodo Arosuka meninggalkan pekerjaan mendesak: memulihkan kawasan terdampak sekaligus menilai kembali cara hulu dan daerah aliran sungainya dikelola.

Foto utama: Batu dan lumpur memenuhi area perkantoran usai banjir bandang. Foto: Jaka Hendra Baittri/Mongabay Indonesia.

Ikan Badut Memang Unik, Lahir Sebagai Jantan Lalu Berubah Jadi Betina

Editor 2 Okt 2026

Ikan badut mudah dikenali dari warna cerah dan garis putih pada tubuhnya. Popularitasnya semakin meningkat setelah film animasi Finding Nemo. Namun, di balik penampilan mungilnya, ikan penghuni anemon ini memiliki kemampuan reproduksi yang menarik: individu jantan dapat berubah menjadi betina.

Perubahan tersebut berkaitan dengan susunan sosial kelompok ikan badut. Kelompoknya memiliki hierarki yang ketat, dengan individu dominan memperoleh akses lebih baik terhadap sumber daya dan kesempatan berkembang biak. Kemampuan mengubah jenis kelamin membantu kelompok menyesuaikan diri ketika kehilangan anggota yang berperan dalam reproduksi.

Penelitian yang dipimpin Laura Casas menelusuri proses itu melalui analisis ekspresi gen, yakni bagaimana gen bekerja selama perubahan berlangsung. Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan tidak terjadi sekaligus di seluruh tubuh.

“Perubahan kelamin melibatkan perubahan ekspresi gen yang sangat kompleks dan cepat. Otak ikan badut mengalami perubahan signifikan terlebih dahulu, diikuti perubahan pada gonad,” ungkap Casas dan koleganya.

Gonad merupakan organ reproduksi. Peneliti menemukan aktivitas tinggi pada gen yang mengkode enzim aromatase, yang berperan dalam produksi estrogen. Aktivitas tersebut ditemukan di otak maupun gonad ikan yang sedang berubah jenis kelamin, menunjukkan pentingnya pengaturan hormon dalam proses ini.

Kehidupan ikan badut juga erat dengan anemon laut. Di terumbu karang dangkal, tentakel anemon menyediakan tempat berlindung dari predator. Lapisan lendir khusus pada tubuh ikan badut membantu melindunginya dari sengatan inangnya.

Hubungan tersebut menguntungkan kedua pihak. Ikan badut mendapat perlindungan dan makanan, sementara anemon memperoleh bantuan untuk mengusir pengganggu serta membersihkan parasit. Sebelum menetap, ikan badut melakukan gerakan menyerupai “tarian” untuk menyesuaikan diri dengan anemon.

Makanan ikan badut antara lain zooplankton dan invertebrata kecil yang hidup di sekitar tempat berlindungnya. Dengan demikian, anemon menjadi bagian penting dari ruang hidup ikan ini, bukan sekadar tempat bersembunyi.

Meski populer sebagai ikan hias, pengambilan ikan badut dari alam menjadi tekanan bagi populasinya di beberapa wilayah. Artikel tersebut juga menyoroti perubahan iklim dan pengasaman laut sebagai ancaman terhadap ikan maupun habitatnya.

Pengasaman terjadi ketika laut menyerap karbon dioksida berlebihan sehingga pH air menurun. Menurut keterangan Ocean Conservancy, kondisi ini dapat mengganggu kemampuan ikan badut mengenali petunjuk bau dan suara untuk bernavigasi serta mendeteksi predator.

Kemampuan berubah jenis kelamin memperlihatkan cara ikan badut mempertahankan reproduksi kelompoknya. Namun, keberlangsungan hidupnya tetap berkaitan dengan kondisi anemon, habitat terumbu karang, dan tekanan penangkapan. Keunikan reproduksinya berjalan bersama ketergantungan yang kuat pada lingkungan laut tempatnya hidup.

Foto utama: Sepasang ikan badut di perairan Bali. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia.

Bila Bertemu Kucing Kuwuk di Hutan Jangan Ditangkap, Mengapa?

Editor 1 Okt 2026

Kucing kuwuk atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis) dapat hidup di tepi hutan, kawasan yang tidak dilindungi, hingga habitat yang terpecah oleh aktivitas manusia. Karena itu, perjumpaannya dengan warga bukan hal yang aneh. Yang menjadi persoalan adalah ketika satwa liar ini disangka pengganggu, atau dibawa pulang untuk dipelihara.

Erwin Wilianto, praktisi konservasi dan anggota IUCN-SSC Cat Specialist Group, mengatakan banyak kejadian yang merugikan kucing kuwuk berawal dari kurangnya pengetahuan kita tentang satwa tersebut. “Beberapa kejadian umumnya lebih karena ketidaktahuan,” ujarnya.

Salah satu risiko muncul dari cara masyarakat menangani hewan yang dianggap mengganggu tanaman. Jerat tidak dapat memilih satwa yang akan tertangkap. Begitu pula penggunaan racun untuk membasmi tikus atau bajing: hewan yang terpapar racun berpotensi dimangsa kucing kuwuk. Padahal, kucing kuwuk sendiri memangsa hewan kecil, termasuk kelompok pengerat, sehingga berpotensi membantu mengendalikan tikus di sekitar lahan pertanian.

Meidi Yanto, Manajer Konservasi In-Situ Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu, menekankan bahwa risiko keracunan tersebut tidak boleh dianggap pasti terjadi dalam setiap kasus. “Bukan berarti setiap penggunaan racun akan meracuni kucing kuwuk, namun ada risiko yang perlu diperhitungkan terhadap satwa nontarget.”

Kesalahpahaman lain muncul saat warga menemukan anak kucing kuwuk sendirian. Menurut Meidi, anak satwa itu belum tentu ditelantarkan; induknya mungkin sedang mencari makan. Kemiripannya dengan kucing peliharaan juga dapat membuat orang mengira kucing kuwuk bisa dirawat di rumah. Jika satwa tersebut terluka, Meidi menyarankan warga menghubungi petugas BKSDA terdekat yang menangani satwa liar.

Sejauh ini, Yayasan Cikananga belum memiliki catatan sistematis mengenai jumlah kucing kuwuk yang menjadi korban penangkapan, jerat, atau racun. “Jadi, kami belum bisa sebut angka karena belum benar-benar mendokumentasikan,” kata Meidi. Tanpa data itu, besarnya masalah belum dapat digambarkan secara pasti.

Erwin mengusulkan koeksistensi sebagai dasar hubungan warga dengan satwa liar: memahami bahwa keduanya berbagi ruang dan setiap makhluk memiliki peran. Edukasi, menurutnya, perlu disesuaikan dengan kehidupan masyarakat yang dituju dan dilakukan terus-menerus. “Upaya ini mesti dilakukan sesuai target sasaran dan konsisten.”

Bagi warga yang berjumpa kucing kuwuk, langkah awalnya sederhana: membiarkannya tetap berada di habitatnya dan tidak menangkapnya. Dengan mengenali perannya sebagai pemangsa hewan kecil, masyarakat dapat mengurangi risiko konflik sekaligus memberi ruang bagi satwa liar ini untuk tetap hidup di sekitar hutan dan kebun.

Foto utama: Kucing kuwuk bukan hewan peliharaan dan statusnya dilindungi. Foto: Dok. Risa Adelia.

Bagaimana Cara Tarantula Hadapi Serangan Semut Tentara?

Editor 1 Okt 2026

Apa yang terjadi ketika semut tentara memasuki liang tarantula? Semut predator ini diketahui memburu laba-laba. Namun, dalam pengamatan yang dibahas sebuah penelitian, semut justru mengabaikan tarantula ketika mencari makanan di sarangnya di Amerika Selatan. Tarantula pun terlihat tetap pasif saat semut datang.

Para peneliti menduga jawabannya terletak pada bulu lebat yang menutupi tubuh tarantula. Bulu-bulu kaku tersebut menjadi penghalang bagi semut yang mencoba menggigit atau menyengat. Dugaan ini menawarkan penjelasan tentang salah satu fungsi tubuh berbulu pada laba-laba besar tersebut.

“Bulu lebat yang menutupi tubuh tarantula, menyulitkan semut untuk menggigit atau menyengatnya,” kata Alireza Zamani, ahli arachnologi Universitas Turku, Finlandia, sekaligus penulis utama penelitian. “Kami yakin, bulu-bulu itu telah berevolusi sebagai mekanisme pertahanan.”

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Natural History pada Agustus 2024 itu meninjau berbagai hubungan tarantula dengan hewan lain. Zamani dan koleganya menggabungkan penelitian terdahulu dengan pengamatan lapangan terbaru. Karena penjelasan tentang evolusi bulu masih berupa hipotesis, temuan tersebut menunjukkan kemungkinan mekanisme pertahanan yang perlu dipahami lebih jauh.

Hubungan dengan semut tentara ternyata tidak selalu merugikan tarantula. Para peneliti menemukan bukti bahwa semut dapat mengeluarkan sisa makanan lama dari liang. Meski mendapat manfaat tersebut, tarantula tetap memerlukan perlindungan dari gigitan. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan tarantula menutupi kantung telur dengan bulu untuk mencegah serangan semut.

Tidak semua tarantula menghadapi ancaman dengan cara serupa. Jenis yang hidup di pepohonan dan memiliki lebih sedikit bulu dapat menggunakan strategi berbeda. Dalam sebuah pengamatan di Peru, Avicularia hirschii terlihat bergelantungan di ujung daun untuk menghindari serbuan semut.

Tim peneliti juga menyoroti hubungan tarantula dengan amfibi. Mereka menghimpun sekitar 60 pengamatan dari 10 negara mengenai katak dan kodok yang menggunakan persembunyian tarantula. Menurut Zamani, tempat tersebut dapat membantu amfibi berlindung dari predator.

“Mereka memakan serangga yang dapat membahayakan laba-laba, telurnya, dan anak-anaknya. Dapat dikatakan, tarantula tidak seseram yang digambarkan selama ini,” paparnya.

Berbagai pengamatan itu memperlihatkan bahwa liang tarantula bukan sekadar tempat tinggal satu hewan. Di dalam dan sekitarnya, ada hubungan yang melibatkan perlindungan, makanan, serta ancaman. Bulu tubuh, perilaku menghindar, dan kehadiran hewan lain menjadi bagian dari cara tarantula menghadapi kehidupan di habitatnya.

Tarantula sendiri dapat hidup di bawah tanah maupun di pepohonan pada wilayah hangat. Perbedaan tempat hidup itu membantu menjelaskan mengapa pertahanannya beragam: sebagian mengandalkan bulu sebagai penghalang, sementara yang lain menjauh dari jalur semut. Hubungan-hubungan tersebut membuat perilaku tarantula lebih kompleks daripada kesan menakutkan yang sering melekat padanya.

Foto utama: Tarantula merupakan sebutan untuk laba-laba ukuran besar dan berbulu. Foto: Pixabay/Stelogic/Free to use.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.