Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

BUMDes di Bangkalan Siasati Keterbatasan Lahan dengan Apartemen Kepiting Soka

Moh Tamimi 4 Agu 2026

Mengapa Kucing Kuwuk Chiki Tidak Bisa Dilepaskan di Sembarang Hutan?

Falahi Mubarok 4 Agu 2026
Cerita fitur

Konflik Berlarut, Masyarakat Muara Tae Tolak Ekspansi Sawit di Hutan Adat

Niken D Sitoningrum 4 Agu 2026
Cerita fitur

Usaha Keras Masyarakat Pesisir Jaga Kawasan Konservasi Perairan Maluku Utara

Mahmud Ichi 3 Agu 2026
Cerita fitur

Mengapa Populasi Orangutan di Sumatera Terus Turun?

Ayat S Karokaro 3 Agu 2026

Kobra Raja, Satu-satunya Ular yang Membangun Sarang untuk Telurnya

Akhyari Hananto 3 Agu 2026
Semua berita

Berita utama

Konflik Berlarut, Masyarakat Muara Tae Tolak Ekspansi Sawit di Hutan Adat

Usaha Keras Masyarakat Pesisir Jaga Kawasan Konservasi Perairan Maluku Utara

Mahmud Ichi 3 Agu 2026

Mengapa Populasi Orangutan di Sumatera Terus Turun?

Ayat S Karokaro 3 Agu 2026

Hutan Indonesia dalam Kepungan Ekspansi

Kadek Dian Dwiyanti H.* 2 Agu 2026

Jejak Konflik Tenurial Perusahaan Hutan Energi di Gorontalo Utara

Sarjan Lahay 2 Agu 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri

Populasi Orangutan Sumatera Berkurang 2.700 Individu dalam Satu Dekade?

Junaidi Hanafiah 14 Jul 2026

Kisah Berani, Orangutan Sumatera yang Mati karena Gagal Ginjal di Denver Zoo

Christopel Paino 3 Okt 2025

Begini Nasib Orangutan Sumatera di Rawa Tripa

Junaidi Hanafiah 27 Agu 2025

Begini Modus Perburuan Orangutan Sumatera

Junaidi Hanafiah 11 Jul 2025

Mereka adalah pemilik sah rimba Sumatera, tetapi kini dipaksa menjadi pengembara tanpa arah di tanah kelahiran sendiri. Kepungan perkebunan monokultur dan moncong senapan pemburu perlahan menghapus jejak primata cerdas ini dari muka bumi. Dari Rawa Tripa hingga Leuser, bentang alam yang menyusut menjadi saksi bisu runtuhnya rumah besar mereka. Setiap detiknya adalah jeritan sunyi yang […]

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri series

Lebih spesial

7 cerita

Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua

9 cerita

Nestapa Burung Berkicau Nusantara

9 cerita

Ancaman Nyata El Nino Godzilla

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Hutan Indonesia dalam Kepungan Ekspansi

Kadek Dian Dwiyanti H.* 2 Agu 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk

Niko Wicaksana 22 Apr 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Bunga Ini Tanda Penghormatan Kepada Pendeta Penjaga Alam Poso

Akhyari Hananto 4 Agu 2026

Sekilas, tumbuhan ini terlihat seperti tanaman hias biasa. Bunganya kecil, berwarna oranye cerah, dan tumbuh menumpang pada tanaman lain. Namun, setelah diperiksa mendalam, tumbuhan dari Pegunungan Tokorondo, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, itu ternyata spesies yang belum pernah dideskripsikan secara ilmiah.

Spesies tersebut diberi nama Rhododendron yombuwurii. Ia termasuk subgenus Vireya, kelompok rhododendron tropis yang banyak ditemukan di Asia Tenggara. Penemuannya menambah panjang daftar kekayaan hayati Sulawesi, pulau yang dikenal memiliki banyak spesies unik akibat sejarah geologi dan keterpisahan wilayahnya.

Kisah penemuan bermula Juni 2023. Saat melakukan penelitian lapangan di sekitar Tentena, tim peneliti menemukan tanaman hidup dari genus Rhododendron yang tidak menyerupai spesies mana pun yang telah dideskripsikan dari Sulawesi.

Tanaman tersebut telah dibudidayakan di sekitar Air Terjun Saluopa. Ia tumbuh pada substrat anggrek sebagai epifit. Istilah epifit digunakan untuk tumbuhan yang menempel pada tumbuhan lain sebagai tempat hidup, tetapi tidak mengambil makanan dari inangnya seperti parasit.

Berdasarkan informasi dari pengumpul lokal, seluruh substrat itu berasal dari pohon besar yang tumbang di Petirorano, bagian dari Pegunungan Tokorondo. Wilayah tersebut berada pada ketinggian 1.000–1.800 meter di atas permukaan laut, sekitar 19 kilometer sebelah barat Air Terjun Saluopa.

Tanaman itu mampu bertahan setelah dipindahkan ke kawasan air terjun yang berada pada ketinggian 560 meter. Spesimen yang sedang berbunga kemudian dikumpulkan pada Juli dan November 2024 untuk dijadikan bahan herbarium.

Menentukan tumbuhan sebagai spesies baru tidak cukup hanya berdasarkan warna bunga atau bentuk yang tampak berbeda. Peneliti harus mencari ciri diagnostik, yakni karakter khusus yang dapat membedakannya secara konsisten dari kerabat terdekat.

Dalam penelitian ini, mereka memeriksa daun, ranting, susunan bunga, kelopak, mahkota, benang sari, dan ovarium. Pengamatan juga dilakukan dengan mikroskop stereoskopik dan mikroskop elektron. Spesimen tersebut lalu dibandingkan dengan koleksi fisik di Herbarium Bogoriense serta spesimen digital dari sejumlah herbarium internasional.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa R. yombuwurii berkerabat dekat dengan Rhododendron celebicum. Namun, spesies baru ini mempunyai urat daun yang lebih menonjol, posisi perbungaan setengah tegak hingga horizontal, kelopak tanpa rambut di bagian luar, serta mahkota oranye yang lebih kecil. Analisis molekuler juga dilakukan untuk memperkuat penilaian status taksonominya dan memeriksa kemungkinan asal-usul hibrida.

Nama yombuwurii diberikan untuk mengenang Pendeta Yombu Wuri, tokoh agama dan budaya dari Suku Pamona. Semasa hidupnya, ia menyuarakan perdamaian, perlindungan lingkungan, keanekaragaman hayati, dan kebudayaan Poso melalui khotbah maupun lagu. Ia meninggal pada 20 Mei 2024.

Tumbuhan ini diketahui berbunga dua kali setahun, yakni pada Juni–Juli dan November, serta berbuah pada Januari dan Agustus. Meski demikian, kondisi populasinya di alam belum diketahui. Lokasi asalnya belum dapat dipetakan secara tepat dan populasi liar belum pernah diamati langsung.

Karena informasi yang tersedia masih terbatas, penilaian konservasi sementaranya masuk kategori Data Deficient atau kekurangan data. Status tersebut bukan berarti spesies ini aman, melainkan ilmuwan belum memiliki cukup informasi untuk mengukur risiko kepunahannya.

Penemuan ini mengingatkan bahwa hutan Sulawesi masih menyimpan kehidupan yang belum dikenal ilmu pengetahuan. Menjaga Pegunungan Tokorondo berarti memberi kesempatan kepada spesies lain untuk ditemukan dan dipahami.

Artikel asli ditulis oleh Sarjan Lahay.

Foto utama: Orangye Poso. Foto: Prima Wahyu Kusuma Hutabarat dkk/Taiwania.

Gunung Maras, Oase Hijau yang Tersembunyi di Pulau Bangka

Akhyari Hananto 4 Agu 2026

Di balik wajah Pulau Bangka yang lekat dengan pertambangan timah, tersimpan bentang alam hijau yang menawarkan cerita berbeda. Namanya Gunung Maras, kawasan hutan yang menjulang sekitar 705 meter dan menjadi titik tertinggi di Kepulauan Bangka Belitung.

Perjalanan menuju kawasan ini seperti memasuki sisi lain Bangka. Semakin mendekati kaki gunung, bentang pertambangan perlahan berganti dengan pepohonan, perbukitan, dan udara yang lebih sejuk. Dari kawasan tinggi tersebut, lanskap terus terhubung hingga pesisir Teluk Kelabat Dalam.

Taman Nasional Gunung Maras ditetapkan berdasarkan SK No.576/Menlhk/Setjen/PLA.2/7/2016 tertangal 27 Juli 2016. Luasnya mencapai 16.806,91 hektar, melintasi wilayah Kabupaten Bangka dan Bangka Barat. Di dalamnya, pengunjung dapat menemukan tiga wajah alam sekaligus: hutan primer daratan, perbukitan, dan kawasan mangrove. Perpaduan inilah yang membuatnya layak disebut sebagai “oase” di Pulau Bangka.

Bagi pencinta alam, taman nasional ini menyimpan banyak hal untuk diamati. Sedikitnya 53 spesies pohon tumbuh di kawasannya. Salah satu yang paling khas adalah pohon pelawan dari genus Tristaniopsis, tumbuhan yang sangat dikenal masyarakat Bangka.

Jika beruntung, perjalanan di antara pepohonan juga dapat mempertemukan pengunjung dengan berbagai satwa. Hutan Gunung Maras menjadi habitat kancil, musang, ayam hutan, monyet ekor panjang, babi hutan, lutung, biawak, dan sejumlah jenis ular. Kawasan ini juga dihuni trenggiling serta mentilin, primata mungil bermata besar yang aktif pada malam hari.

Namun, daya tarik Gunung Maras bukan hanya pemandangan dan keanekaragaman hayatinya. Kawasan ini juga menyimpan jejak sejarah masyarakat Melayu tua. Bagi Suku Mapur atau Orang Lom, Suku Jerieng, dan Suku Maras, gunung tersebut merupakan wilayah suci yang harus dihormati.

Masyarakat setempat percaya bahwa kerusakan Gunung Maras dapat mendatangkan banjir, kekeringan, dan berbagai bencana. Di balik kepercayaan itu tersimpan pemahaman ekologis yang kuat. Hutan di wilayah tinggi membantu menyerap air, menahan tanah, dan mengurangi erosi. Jika pepohonan hilang, dampaknya dapat mengalir mengikuti sungai hingga mangrove dan perairan pesisir.

Sayangnya, ketenangan Gunung Maras menghadapi tekanan dari penebangan liar, perkebunan sawit, dan pertambangan timah. Karena itu, perjalanan ke kawasan ini seharusnya tidak berhenti pada menikmati udara segar atau mengabadikan pemandangan.

Gunung Maras adalah ruang untuk membaca Pulau Bangka dari sisi yang lebih utuh: alam, sejarah, dan kebudayaan yang saling terhubung. Memasukkannya dalam daftar destinasi wisata lalu  mengunjunginya, berarti memasuki perpustakaan hidup sekaligus memahami mengapa oase hijau ini harus tetap dijaga.

Artikel asli ditulis oleh Taufik Wijaya.

Foto utama: Gunung Maras yang dilihat dari Teluk Kelabat Dalam. Foto Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.

Bagaimana Nelayan Bajo Bertahan Berminggu-minggu di Laut?

Akhyari Hananto 3 Agu 2026

Bagi nelayan Bajo di Desa Monsongan, Banggai Laut, melaut bukan sekadar perjalanan mencari ikan. Ada tradisi bernama babangi, yakni mengarungi laut dan bermalam jauh dari desa selama berminggu-minggu, bahkan dahulu bisa berbulan-bulan. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana pengetahuan tentang alam, hubungan sosial, dan kebutuhan ekonomi bertemu dalam satu perjalanan.

Komunitas Bajo telah menetap di Monsongan sejak awal 1940-an. Sebagai masyarakat yang kehidupannya sangat dekat dengan laut, mereka mewarisi pengetahuan tentang angin, arus, musim, lokasi terumbu karang, dan perilaku ikan. Pengetahuan tersebut tidak diperoleh dari buku, melainkan dikumpulkan melalui pengalaman dan diteruskan antargenerasi.

Dahulu, nelayan menjalani babangi menggunakan perahu layar beratap. Mereka menangkap ikan dasar dengan pancing, kemudian menukarkan hasilnya dengan beras, sagu, atau umbi-umbian. Dalam perjalanan panjang, keluarga pun dapat ikut serta. Mereka tinggal di babaroh, rumah singgah semi permanen yang dibangun di atas atol atau pulau kecil.

Kini, bentuk babangi berubah. Mesin telah menggantikan layar, sementara perjalanan umumnya dilakukan kelompok kecil yang terdiri dari lima hingga enam perahu. Istri dan anak tidak lagi ikut, sedangkan waktu melaut menyusut menjadi sekitar dua minggu. Meski demikian, perempuan tetap terhubung secara simbolis melalui sejumlah pantangan selama suami berada di laut.

Kerja kelompok menjadi bagian penting dalam tradisi ini. Para nelayan membawa bahan bakar, air tawar, beras, dan perlengkapan dari desa. Jika ada anggota yang kekurangan bekal, jatuh sakit, atau mengalami kerusakan perahu, anggota lain akan membantu. Di tengah laut, solidaritas bukan sekadar nilai budaya, tetapi juga strategi untuk bertahan hidup.

Kelangsungan babangi sangat bergantung pada kesehatan terumbu karang. Nelayan menyebut lokasi tangkap di sekitar karang sebagai rep. Di tempat inilah berbagai ikan karang dan gurita mencari makan, berlindung, serta berkembang biak. Karena itu, nelayan menggunakan pancing, jaring kecil, dan panah yang dinilai lebih ramah terhadap karang.

Namun, tradisi ini menghadapi tekanan. Biaya satu perjalanan dapat mencapai jutaan rupiah sehingga sebagian nelayan meminjam modal dari pengepul. Sebagai gantinya, hasil tangkapan harus dijual kepada pemberi modal. Penangkapan berlebihan dan penggunaan alat tangkap merusak oleh nelayan dari luar juga mengancam ekosistem.

Sebagian nelayan muda akhirnya memilih menangkap gurita di sekitar pulau karena membutuhkan modal lebih kecil. Perubahan ini menunjukkan bahwa tradisi bukan sesuatu yang membeku. Babangi terus menyesuaikan diri, sambil mempertahankan pengetahuan laut, solidaritas, dan kesadaran bahwa kehidupan nelayan bergantung pada ekosistem yang tetap sehat.

Artikel asli ditulis oleh Wahyu Chandra.

Foto utama: Nelayan Bajo di Monsongan menggunakan alat tangkap ramah lingkungan seperti pancing, jaring kecil, dan panah, agar tak merusak terumbu karang. Foto: Wahyu Chandra/Mongabay Indonesia.

Melon Hitam, Kandidat Buah Unggul yang Tahan hingga Dua Bulan

Akhyari Hananto 3 Agu 2026

Melon biasanya berkulit hijau, kuning, atau keemasan. Namun, sebuah penelitian di Malang menghasilkan kandidat melon dengan penampilan berbeda: kulitnya berwarna hitam legam, sementara daging buahnya berwarna oranye.

Melon hitam ini dikembangkan Astrid Ika Paramitha, mahasiswa doktoral Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi Universitas Brawijaya. Keunggulannya bukan hanya terletak pada warna, tetapi juga daya simpan yang dapat mencapai 60 hari atau dua bulan. Ketahanan tersebut membuatnya berpotensi dikembangkan untuk pasar ekspor karena buah memiliki waktu lebih panjang untuk melewati proses distribusi.

Secara fisik, melon ini mempunyai daging buah setebal sekitar 3,5 sentimeter. Bobotnya berkisar 1,3–1,5 kilogram dengan diameter sekitar 13 sentimeter. Tingkat kemanisannya mencapai 15 Brix. Menemukan perpaduan antara rasa manis dan daya simpan bukan perkara mudah, sebab semakin tinggi kadar gula buah, semakin besar pula kemungkinan buah cepat membusuk.

Untuk menghasilkan melon ini, Astrid menggunakan biji yang diperoleh dari luar negeri sebagai bahan penelitian. Biji tersebut diberi perlakuan iradiasi sinar gamma di laboratorium Badan Tenaga Nuklir Nasional dengan berbagai dosis. Tujuannya menciptakan keragaman genetik yang kemudian dapat diseleksi.

Perubahan signifikan muncul pada generasi mutasi ketiga atau M3. Dari sekitar 1.300 keragaman genetik baru, peneliti memilih karakter-karakter unik untuk dipindahkan ke area produksi.

Pengujian dilanjutkan di rumah kaca milik Kelompok Tani Madu Kismo, Desa Permanu, Pakisaji, Malang. Dari 1.500 benih yang disemai, hanya ditemukan satu jenis yang menghasilkan buah berwarna hitam. Temuan langka inilah yang kemudian dikembangkan lebih lanjut.

Sebelumnya, peneliti Universitas Gadjah Mada juga telah menghasilkan Tacapa Green Black. Melon yang dikembangkan sejak 2009 itu memiliki kulit hijau tua atau kehitaman dan daging kekuningan. Tacapa Green Black mampu bertahan sekitar 20 hari, sedangkan kandidat melon hitam Astrid dapat disimpan hingga 60 hari.

Meski menjanjikan, melon hitam belum otomatis dapat disebut sebagai varietas baru. Pemuliaan tanaman membutuhkan pengujian panjang, terkadang hingga generasi keenam atau ketujuh. Tanaman harus menunjukkan karakter yang baru, unik, stabil, dan seragam. Sifatnya juga perlu tetap konsisten ketika ditanam di tempat dan musim berbeda.

Proses dari awal penelitian hingga memperoleh Perlindungan Varietas Tanaman dapat berlangsung sekitar enam tahun. Tahapan panjang ini penting agar keunggulan tanaman tidak hanya muncul pada satu buah atau satu musim.

Kondisi geografis Indonesia mendukung pengembangan berbagai varietas melon karena memiliki dataran rendah, menengah, dan tinggi. Jika lolos seluruh pengujian, melon hitam berpeluang menambah kekayaan buah unggul Indonesia sekaligus memberikan pilihan baru bagi petani dan pasar ekspor.

Artikel asli ditulis oleh Mohd Tamimi.

Foto utama: Astrid menunjukkan melon hitam hasil penelitiannya. Foto: Dok. Astrid Ika Paramitha.

Mengasuh untuk Melepaskan, Kisah Dela Mawar dan 4 Bayi Orangutan

Akhyari Hananto 2 Agu 2026

Setiap hari, Dela Mawar menyiapkan makanan, menggendong bayi orangutan, lalu membawa mereka menuju sekolah hutan. Di sana, perempuan 20 tahun ini bukan hanya menjadi pengasuh, tetapi juga guru yang mengajarkan kembali keterampilan dasar untuk hidup di alam liar.

Mawar bekerja sebagai keeper di Pusat Penyelamatan Satwa Long Sam, Desa Merasa, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Ada empat bayi orangutan dalam pengasuhannya: Lukas, Hannes, Jack, dan Panji. Mereka umumnya menjadi korban konflik dengan manusia, kehilangan induk, atau tersesat setelah habitatnya terganggu.

Tanpa induk, bayi-bayi ini kehilangan sosok yang seharusnya mengajarkan cara bertahan hidup. Karena itu, Mawar mengenalkan mereka pada pepohonan, melatih kemampuan memanjat, dan membantu membangkitkan kembali insting liarnya. Tujuan akhirnya bukan membuat mereka bergantung pada manusia, melainkan mempersiapkan mereka agar mampu kembali ke hutan.

Mengasuh bayi orangutan memiliki kemiripan dengan merawat bayi manusia. Mereka dapat merasa takut saat bertemu orang yang tidak dikenal, menangis, dan berebut makanan. Di balik tingkah lucunya, masing-masing membawa pengalaman kehilangan dan trauma.

Pertemuan pertama Mawar dengan Lukas meninggalkan kesan mendalam. Bayi orangutan itu bertubuh kecil, berkulit merah, dan bermata sayu. Lukas mengira Mawar sebagai induknya, lalu menyusu sambil mengeluarkan suara lirih sebelum tertidur dalam pelukannya.

Mawar merupakan warga asli Desa Merasa dari Suku Dayak. Ia tumbuh dengan pemahaman bahwa hutan bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sumber kehidupan. Baginya, bekerja dalam konservasi adalah pilihan yang dekat dengan identitas dan nilai-nilai yang diwariskan masyarakatnya.

Pekerjaan tersebut tidak mudah. Pusat penyelamatan berada jauh dari kota dengan fasilitas dan sinyal komunikasi terbatas. Para pekerja konservasi juga harus mendatangi lokasi konflik yang terpencil, menjalankan evakuasi berisiko, serta merawat orangutan yang terluka, stres, atau mengalami trauma.

Rehabilitasi berlangsung dalam waktu panjang. Setiap individu harus mampu memanjat, mengenali dan mencari pakan alami, serta beradaptasi dengan lingkungan hutan sebelum dinilai siap dilepasliarkan. Keberhasilannya bergantung pada kerja bersama perawat, dokter hewan, teknisi lapangan, dan berbagai pihak lain.

Bagi Mawar, pelepasliaran bukan hanya perpisahan dengan satwa yang telah diasuhnya. Kembalinya orangutan ke habitat alami juga berarti mengembalikan salah satu penjaga hutan. Orangutan membantu menyebarkan biji yang dapat tumbuh menjadi pohon baru dan mendukung pemulihan ekosistem.

Mawar berharap suatu hari Lukas, Hannes, Jack, dan Panji tidak lagi berada dalam pengasuhannya. Ia ingin menemukan mereka hidup mandiri di rumah sesungguhnya: hutan rimba. Baginya, rasa kehilangan saat melepas mereka justru menjadi tanda bahwa proses rehabilitasi telah berhasil. “Saya baru tenang, setelah memastikan bayi-bayi orangutan itu tumbuh besar dan kembali ke alam liar,” ungkapnya.

Artikel asli ditulis oleh Yovanda.

Foto utama: Dela Mawar mengasuh bayi-bayi orangutan yang direhabilitasi di PPS Long Sam, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Foto: Niko Wicaksana/Mongabay Indonesia.

Melittin, Senyawa Racun Lebah yang Berpotensi Melawan Kanker

Akhyari Hananto 2 Agu 2026

Sengatan lebah biasanya identik dengan rasa nyeri dan bengkak. Namun, di balik racunnya, lebah madu menyimpan senyawa yang menarik perhatian dunia medis. Namanya melittin, komponen utama racun lebah yang sedang diteliti sebagai kandidat terapi kanker payudara.

Harapan itu muncul dari penelitian di Australia pada 2020. Dalam percobaan laboratorium, racun lebah madu dan melittin menunjukkan kemampuan menghancurkan membran sel kanker payudara agresif dalam waktu sekitar 60 menit, dengan pengaruh yang relatif kecil terhadap sel sehat pada kondisi penelitian tersebut.

Efeknya bahkan mulai terlihat lebih cepat. Dalam waktu sekitar 20 menit, melittin secara signifikan mengurangi pesan kimia yang dibutuhkan sel kanker untuk tumbuh dan membelah diri. Senyawa itu bekerja dengan mengganggu jalur pensinyalan di dalam sel. Ketika sinyal pertumbuhan dihentikan, sel kanker kehilangan perintah untuk terus berkembang biak.

Namun, kemampuan membunuh sel kanker di laboratorium belum berarti racun lebah dapat langsung digunakan sebagai obat. Melittin hanya bekerja secara selektif dalam dosis tertentu. Jika dosisnya terlalu tinggi, sel sehat juga dapat mengalami kerusakan.

Masalah lain adalah waktu paruhnya yang pendek di dalam aliran darah. Melittin dapat terurai sebelum mencapai tumor. Penggunaan racun lebah secara langsung juga sulit dikontrol dan berpotensi memicu reaksi alergi serius.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, para peneliti mulai memanfaatkan teknologi nano. Melittin dikemas dalam partikel berukuran sangat kecil agar dapat dibawa langsung menuju sasaran. Material pembawanya dapat berupa liposom, misel, atau nanopartikel polimer.

Liposom bekerja seperti gelembung kecil dari lemak yang membawa obat dan melepaskannya ketika mencapai sel target. Misel memiliki bentuk menyerupai bola yang dapat mengangkut zat aktif, sementara polimer dapat dirancang untuk melepaskan obat secara perlahan atau ketika berada di lingkungan tertentu.

Nanoformulasi diharapkan membuat melittin lebih stabil, meningkatkan ketepatan sasaran menuju tumor, mengontrol pelepasan obat, dan mengurangi kerusakan pada jaringan sehat. Meski menjanjikan, pendekatan ini masih berada dalam tahap penelitian.

Analisis terhadap riset selama 2004-2024 menemukan 493 publikasi mengenai terapi racun lebah. Pembahasannya selama ini banyak berfokus pada radang sendi dan pengelolaan nyeri, tetapi dalam beberapa tahun terakhir perhatian mulai bergeser menuju kanker dan Parkinson.

Racun lebah belum menjadi standar pengobatan kanker karena belum melewati uji klinis skala besar yang membuktikan keamanan dan efektivitasnya pada manusia. Karena itu, sengatan lebah langsung atau terapi racun lebah tidak boleh dicoba sendiri sebagai pengobatan kanker.

Tantangan ilmuwan kini bukan sekadar membuktikan bahwa melittin dapat membunuh sel kanker, tetapi memastikan senyawa tersebut dapat dikirim secara aman, stabil, dan tepat sasaran. Di titik inilah racun lebah dan teknologi nano mungkin membuka jalan bagi terapi kanker masa depan.

Artikel asli ditulis oleh Nuswantoro.

Foto utama: Lebah madu yang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Foto: Pixabay/PublicDomainPictures.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.