Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Membaca Hutan lewat Serangga, Menakar Ekowisata di Taman Nasional

Donny Iqbal 7 Sep 2026

Mengantar 6 Individu Kukang Jawa Pulang, Ujung Kulon Sebagai Habitat Pelepasliaran

Falahi Mubarok 7 Sep 2026

Palaeophis colossaeus, Ular Purba Raksasa dari Dasar Gurun Pasir Sahara

Akhyari Hananto 7 Sep 2026
Cerita fitur

Walhi Beberkan Karhutla di Konsesi dan PSN

Suryadi 7 Sep 2026
Cerita fitur

Kembalikan Hutan Mentawai pada Masyarakat Adat

Jaka Hendra Baitri dan Febrianti 6 Sep 2026

Belajar dari Proyek Pangan di Merauke

Christ Belseran * 6 Sep 2026
Semua berita

Berita utama

Walhi Beberkan Karhutla di Konsesi dan PSN

Kembalikan Hutan Mentawai pada Masyarakat Adat

Jaka Hendra Baitri dan Febrianti 6 Sep 2026

Jelajah Meratus: Berkunjung ke Juhu, Desa Surga Flora Fauna [2]

Rendy Tisna 6 Sep 2026

Akhirnya RUU Reforma Agraria Masuk Meja DPR

Achmad Rizki Muazam 5 Sep 2026

Asap Karhutla Ancam Kehidupan Orangutan, Tak Hanya Habitat dan Kesehatan, Bahkan Kematian

Nopri Ismi 5 Sep 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil

Semut Peluru, Semut dengan Sengatan Paling Menyakitkan di Dunia Serangga

Akhyari Hananto 22 Agu 2026

Semut Api Ganas ini Suka ‘Menyerang’ Listrik Hingga Padam

Akhyari Hananto 20 Okt 2025
Tomografi mikro-terkomputasi dari spesies semut neraka yang baru ditemukan mengungkapkan rahang mirip sabitnya, yang terlihat di sisi kiri. Oleh Odair M. Meira

Semut Neraka Berjepit Sabit: Fosil Semut Tertua yang Pernah Ditemukan

Akhyari Hananto 26 Apr 2025

Cara Tidak Biasa Tarantula Hadapi Semut Tentara

Rahmadi Rahmad 5 Sep 2024

Sisi lain kehidupan semut menyimpan rahasia luar biasa yang sering terlewatkan. Dari fosil purba yang merekam jejak ribuan tahun lalu hingga kebiasaan ekstrem modern seperti menyengat, menyerang jaringan listrik, dan menghadapi ancaman predator, serangga kecil ini terus berevolusi dengan strategi yang cerdas. Keragaman jenis, keunikan perilaku, serta daya tahan tubuhnya membuktikan bahwa ukuran bukanlah penghalang […]

Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil series

Lebih spesial

9 cerita

Lutung Jawa: Satwa Endemik Jawa di Ujung Tanduk

14 cerita

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri

8 cerita

Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Kecoak Laut Raksasa, Penghuni Laut Dalam dari Perairan Jawa

Akita Verselita 3 Sep 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Suara Hutan Kalimantan Berubah, Seiring Deru Mesin Pembangunan Ibu Kota Nusantara

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Niko Wicaksana 10 Agu 2026

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Ketika Ikan Invasif Red Devil Berkembang Cepat dan jadi Ancaman Serius Ikan Lokal di Danau Toba

Editor 7 Sep 2026

Jaring nelayan Danau Toba kini semakin sering dipenuhi red devil, ikan asing invasif yang bernilai jual rendah. Padahal, target utama mereka adalah ikan mas, nila, mujair, dan pora-pora.

“Dulu, dapat pora-pora hingga belasan kilogram. Sekarang, tiga kilogram sehari sudah bagus,” kata Br. Malau, istri nelayan dari Desa Simangulampe, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.

Red devil berasal dari Amerika Tengah, terutama aliran Sungai San Juan di Kosta Rika serta beberapa danau di Nikaragua. Ikan ini dikenal dengan sejumlah nama, seperti oskar, setan merah, lohan merah, nonong, dan tayo-tayo.

Menurut Charles P.H. Simanjuntak, iktiolog dari FPIK IPB University, ikan tersebut belum memiliki nama baku dalam Bahasa Indonesia. Tim IPB mengidentifikasi red devil di Danau Toba sebagai Amphilophus citrinellus, meski sebagian peneliti menyebutnya Amphilophus labiatus.

Ikan berwarna oranye hingga merah kehitaman ini awalnya dikenal sebagai ikan hias. Warna cerah dan sifat agresifnya terlihat menarik di akuarium, tetapi berubah menjadi ancaman ketika masuk ke perairan umum.

“Hasil penelitian saya waktu di Balige, ikan ini masuk ke perairan umum berkaitan dengan budidaya dan perdagangan ikan, murni karena bisnis. Ia dikira sejenis ikan nila berwarna merah,” kata Charles.

Sekilas bentuknya memang menyerupai nila merah, tetapi kualitasnya berbeda. Daging red devil sedikit, tulangnya keras, dan rasanya hambar. Karena kurang diminati, ikan tersebut diduga sempat dilepaskan ke perairan.

Red devil berkembang cepat karena mudah beradaptasi dan tidak memilih makanan. Ikan ini memakan larva, plankton, telur ikan, ikan kecil, serta organisme dasar perairan. Ia juga agresif, teritorial, dan melindungi telur serta anaknya. Ikan lain yang mendekati sarangnya akan diusir.

Penelitian IPB University pada April–Oktober 2024 menunjukkan red devil telah menyebar luas dan menjadi ikan paling melimpah di sejumlah lokasi Danau Toba. Salah satu ikan lokal yang semakin sulit ditemukan adalah ikan batak (Neolissochilus thienemanni), spesies endemik yang juga memiliki nilai budaya bagi masyarakat Batak.

Namun, red devil bukan satu-satunya penyebab penurunan ikan lokal. Ledakan populasinya berkaitan dengan memburuknya ekosistem Danau Toba. Limbah organik, pestisida, aktivitas domestik, hotel, dan rumah makan meningkatkan tekanan terhadap kualitas air. Ketika kadar oksigen menurun, ikan asli kesulitan berkembang, sedangkan red devil mampu bertahan.

Penangkapan dan pemanfaatan sebagai pakan dapat membantu menekan populasinya. Charles tidak menyarankan pelepasan predator baru karena berisiko mengganggu rantai makanan atau menciptakan spesies invasif berikutnya.

“Red devil bukan sekadar ikan asing di Danau Toba. Ia penanda bahwa ekosistem danau butuh perhatian serius,” kata Jonson Lumbangaol, Guru Besar IPB University .

Foto utama: Amphilophus citrinellus atau yang dikenal red devil, merupakan ikan invasif yang berkembang cepat di Danau Toba. Foto: Wikimedia Commons/George Chernilevsky/CC BY-SA 4.0.

Ekosistem Rusak, Nelayan Desak Hentikan Tambang Timah Ilegal di Teluk Kelabat

Muhammad Adhitya* 7 Sep 2026

Pada Juni lalu, Forum Nelayan Pecinta Teluk Kelabat mendesak pemerintah untuk penghentian permanen aktivitas tambang timah ilegal di kawasan teluk kelabat yang disebut telah berlangsung lama di wilayah tangkap nelayan. Ada sekitar 100 ponton yang beraktivitas di kawasan tersebut.

Aktivitas pertambangan itu berdampak bagi ribuan nelayan di 12 desa di Kabupaten Bangka Barat dan Bangka Induk. Mulai dari kerusakan mangrove, terumbu karang, terganggunya jalur lintas nelayan, dan mulai menyempitnya wilayah tangkap. Dampaknya, hasil tangkapan menurun secara signifikan. 

Sejak tambang ilegal marak terjadi dalam beberapa tahun terakhir, pendapatan nelayan menurun 60-70%.

“Kalau dulu kami mancing ikan itu dari pagi sampai sore bisa mendapatkan satu fiber. Tapi setelah dirusak oleh kapal isap, dirusak oleh ponton, maka ikan-ikan ini enggak bisa berkembang biak,” katanya.

Mereka menduga PT Timah merupakan dalang dari beroperasinya tambang-tambang ilegal ini. Berdasarkan data DKP Babel menegaskan bahwa berdasarkan Perda  No. 3 Tahun 2020 tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K), Teluk Kelabat termasuk sebagai zona pelabuhan, perikanan tangkap, dan pariwisata.

“Daerah tersebut merupakan kawasan bebas tambang atau zero tambang.”

Devi, perwakilan Timah mengakui memiliki IUP terhadap wilayah tersebut. Namun, mereka membantah terlibat dalam pengoperasian ratusan ponton ilegal. Hingga saat ini perusahaan belum pernah mengeluarkan surat perintah kerja (SPK) untuk penambangan di Teluk Kelabat.

“Kami (sejak) 2022 sudah tidak ada penambangan di ketiga IUP tersebut, karena terkait zona zero tambang tadi,” kata Devi, sebagaimana rekaman video yang nelayan kirim kepada Mongabay.

Mendengar penjelasan itu, Didit Srigusjaya, Ketua DPRD Babel pun meminta kepolisian dan instansi terkait melakukan penertiban. Menindaklanjuti itu, aparat gabungan dari TNI, Polri dan juga Forkopimda berhasil amankan empat kapal ponton yang operasi di lokasi.

Walhi Babel menilai bahwa persoalan tambang timah di Teluk Kelabat Dalam bukanlah hal baru. Bersama warga, Walhi telah lama mendorong pemerintah melakukan penertiban. Apalagi, secara tata ruang lokasi tersebut bukan zona tambang. Walhi bilang lemahnya penegakan hukum menjadi akar masalah dalam pemberantasan praktik tersebut.

Foto utama: Sejumlah ponton yang beroperasi untuk menyedot pasir timah di Teluk Kelabat, Bangka Belitung. Foto: Dokumen nelayan.

Bagaimana Selat Drake Sepanjang 800 Km Mengatur Iklim dan Kehidupan Antartika?

Editor 6 Sep 2026

Di antara Tanjung Horn, Chili, dan Kepulauan Shetland Selatan, terbentang Selat Drake sepanjang s800 kilometer. Perairan yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Atlantik ini dikenal sebagai salah satu jalur laut paling ganas di dunia. Ombak besarnya bahkan dijuluki Drake Shake oleh para pelaut.

Reputasi itu telah terbentuk sejak kapal-kapal layar melintasi ujung selatan Amerika, jauh sebelum Terusan Panama menyediakan jalur alternatif. Selat Drake berada di titik pertemuan dua samudra dan berbatasan langsung dengan perairan Antartika.

Keganasannya dipengaruhi kondisi yang disebut infinite fetch. Angin dan ombak dapat mengumpulkan energi sepanjang ribuan kilometer tanpa terhalang daratan, sebelum dipaksa melewati celah antara Amerika Selatan dan Semenanjung Antartika.

Selat ini juga berada di lintang 50-60 derajat selatan, wilayah yang dijuluki Furious Fifties dan Screaming Sixties. Badai bertekanan rendah bergerak mengelilingi Antartika hampir tanpa hambatan sehingga dapat terus menguat sebelum mencapai Selat Drake.

Topografi dasar laut turut memperbesar turbulensi. Shackleton Fracture Zone memaksa arus dari kedalaman ribuan meter naik mendekati permukaan. Proses tersebut menciptakan pusaran dan gelombang tidak beraturan.

Arus yang melintasinya adalah Arus Lingkar Antartika, satu-satunya arus laut yang mengelilingi Bumi tanpa terhalang benua. Volume transpornya diperkirakan mencapai 141–173 juta meter kubik per detik, menjadikannya salah satu arus terbesar di planet ini.

Meski terkenal berbahaya, kurang dari seperempat penyeberangan dilaporkan benar-benar ganas. Selebihnya relatif tenang dan disebut Drake Lake. Kapal ekspedisi modern juga telah dilengkapi stabilizer untuk mengurangi guncangan.

Di balik ombak besarnya, dasar Selat Drake menyimpan sedimen yang merekam perubahan iklim selama 140.000 tahun. Rekaman tersebut membantu ilmuwan menelusuri perubahan kecepatan Arus Lingkar Antartika dan kaitannya dengan kemampuan Samudra Selatan menyerap karbon.

Data sedimen menunjukkan arus bergerak lebih cepat pada periode interglasial terakhir dibandingkan sekarang. Pola serupa dapat muncul kembali jika pemanasan global berlanjut, dengan risiko menurunnya kemampuan Samudra Selatan menyerap karbon dioksida.

Studi lain menemukan transpor arus melalui Selat Drake tetap stabil selama tiga dekade terakhir, meskipun angin barat menguat dan bergeser ke arah kutub. Pergeseran batas utara arus mengalihkan sebagian aliran menuju pusaran subtropis.

Turbulensi Selat Drake juga membantu membawa air kaya karbon ke laut dalam dan mengangkat nutrisi ke permukaan melalui upwelling. Nutrisi tersebut menopang fitoplankton dan krill, yang menjadi dasar rantai makanan bagi paus, anjing laut, serta burung laut Antartika.

Selat Drake bukan sekadar jalur menantang bagi pelaut. Di balik gelombangnya, perairan ini turut mengatur iklim dan menopang kehidupan di Samudra Selatan.

Foto utama: lustrasichaluan kapal yang diterjang ombak di lautan lepas. Di Selat Drake, fenomena yang dikenal sebagai “Drake Shake” memaksa kapal menghadapi guncangan hebat akibat pertemuan arus deras dan angin kencang tanpa hambatan daratan. Foto: Official U.S. Coast Guard.

Tebar Ular di Sawah Indramayu untuk Kendalikan Populasi Tikus, Efektif atau Ancaman Petani?

Editor 6 Sep 2026

Tikus masih menjadi salah satu ancaman bagi pertanian padi. Ketika populasinya tidak terkendali, hama ini dapat merusak tanaman sejak awal masa tanam dan meningkatkan risiko gagal panen. Persoalan tersebut pernah terjadi hampir merata di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Berbagai metode pengendalian telah digunakan petani, mulai dari racun, pengasapan, dan gropyokan hingga pemasangan setrum listrik. Namun, sebagian cara itu tidak hanya kurang efektif, tetapi juga berbahaya. Penggunaan setrum di persawahan bahkan pernah menimbulkan korban jiwa.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan yang tetap relevan hingga kini: bisakah predator alami dikembalikan untuk mengendalikan tikus dengan lebih aman?

Salah satu percobaannya dilakukan melalui program “Ular Sahabat Tani”. Pada 8 Agustus 2025, Pemerintah Kabupaten Indramayu bersama Panji Petualang serta sejumlah pegiat media sosial melepas 200 ular ke area persawahan.

Ular yang dilepaskan terdiri dari ular jali (Ptyas mucosa), koros (Ptyas korros), dan lanang sapi (Coelognathus radiatus). Ketiganya tidak berbisa dan merupakan bagian dari ekosistem setempat. Selain tikus, ular-ular tersebut juga memangsa burung dan kodok.

Keberadaan ular di sawah sebenarnya bukan hal baru. Namun, populasinya semakin sulit ditemukan karena habitatnya berubah dan ular kerap dibunuh. Hilangnya predator alami membuat tikus lebih leluasa berkembang di kawasan pertanian monokultur yang menyediakan makanan berlimpah.

Amir Hamidy, herpetolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, menjelaskan bahwa hanya sekitar lima persen ular darat di Jawa yang berbisa. Jenis rat snake yang dilepas di Indramayu umumnya memilih menghindar ketika bertemu manusia dan tidak menyerang kecuali diganggu.

Secara biologis, ular dapat menjadi pengendali tikus yang efektif. Ular jali mampu memangsa hingga 12 tikus sehari. Satwa yang aktif pada siang hari ini dapat masuk ke lubang tikus dan memiliki organ untuk mendeteksi bau mangsanya.

Kemampuan tersebut tidak dimiliki kucing atau anjing domestik. Insting berburu kedua hewan peliharaan itu berbeda dari predator alami, sementara tubuh ular memungkinkannya mengejar tikus hingga ke dalam sarang.

Ledakan populasi tikus juga berkaitan dengan perubahan ekosistem. Hutan dataran rendah di Jawa telah banyak berubah menjadi persawahan monokultur. Lingkungan semacam itu menyediakan makanan berlimpah bagi tikus, terutama ketika predator alaminya berkurang.

Namun, pelepasan ular tidak boleh dilakukan tanpa pengawasan. Populasi yang terlalu banyak dapat mengganggu rantai makanan. Ular juga mempunyai predator alami, seperti biawak, garangan, elang, burung hantu, serta ular weling dan welang.

Pemanenan ular juga perlu dikendalikan. Jika ular kembali dieksploitasi secara berlebihan, keseimbangan yang ingin dipulihkan justru dapat terganggu.

Dengan demikian, ular berpotensi membantu petani mengendalikan tikus. Namun, keberhasilannya tidak cukup hanya dengan melepaskan ular. Seluruh ekosistem sawah, termasuk predator ular dan habitatnya, harus dijaga agar pengendalian hama berlangsung alami dan berkelanjutan.

Foto utama: Ular lanang sapi yang tidak berbahaya. Foto: Wikimedia Commons/Rushen/CC BY-SA 2.0.

Harga Batubara Tak Wajar, Perlindungan Hutan dan Keselamatan Lingkungan Jadi Taruhan

Editor 5 Sep 2026

Indonesia menguasai 47,3 persen pasar ekspor batubara termal dunia. Namun, menjadi pemasok besar ternyata tidak otomatis membuat Indonesia mampu menentukan harga. Batubara justru dijual terlalu murah, sementara hutan, sungai, dan masyarakat sekitar tambang menanggung akibatnya.

Kajian Transisi Bersih yang dirilis pada Juli 2026 menyebut persoalan ini sebagai underpricing. Istilah tersebut bukan sekadar berarti harga murah, melainkan harga yang berada di bawah nilai wajar setelah kualitas, kandungan energi, biaya logistik, syarat pengiriman, dan waktu transaksi diperhitungkan.

Peneliti membandingkan ekspor 20 negara eksportir terbesar sepanjang 2020–2024. Perbandingan dilakukan bukan hanya berdasarkan harga setiap ton, tetapi juga nilai energinya. Hasilnya, diskon batubara Indonesia lebih besar daripada yang dapat dijelaskan oleh perbedaan kandungan energi.

Mengapa negara pemasok besar justru memiliki posisi tawar lemah?

Salah satu penyebabnya adalah ketergantungan kepada pembeli tertentu. Hampir 46 persen ekspor batubara Indonesia mengalir ke China dan India. Kedua negara memiliki pilihan pemasok lain sehingga dapat beralih ketika harga Indonesia dianggap kurang menarik.

Kajian tersebut menemukan, ketika harga batubara acuan naik 10 persen, harga ekspor Indonesia ke kedua negara rata-rata hanya meningkat 5,9 persen. Artinya, kenaikan harga acuan tidak sepenuhnya dinikmati eksportir.

Tekanan keuntungan kemudian mendorong perusahaan mengejar penjualan dalam jumlah lebih besar. Kewajiban memasok kebutuhan domestik dengan harga rendah juga disebut memperkuat dorongan tersebut. Namun, produksi berlebihan membanjiri pasar dan semakin melemahkan posisi tawar Indonesia.

Lingkaran ini mempunyai konsekuensi nyata bagi lingkungan. Menambah produksi berarti memperluas pembukaan lahan, membangun jalan angkut, serta menambah infrastruktur tambang.

Bakhrul Fikri, peneliti Center of Economic and Law Studies atau CELIOS, menjelaskan bahwa dampaknya mencakup hilangnya hutan, pencemaran air, kerusakan lahan, gangguan tata air, dan peningkatan emisi. Lemahnya reklamasi juga membuat banyak lubang tambang dibiarkan terbuka.

“Masyarakat sekitar akhirnya menanggung penurunan kualitas lingkungan tanpa memperoleh manfaat ekonomi yang sepadan.”

Di Kalimantan Timur, Windhy Pranata dari Jaringan Advokasi Tambang menyoroti munculnya lubang tambang, jalan angkut, pelabuhan khusus, dan tempat penumpukan batubara yang memperluas pembukaan hutan. Tekanannya juga menjangkau sumber air serta ruang hidup masyarakat adat.

Menurut Fikri, biaya pemulihan lingkungan dalam jangka panjang berpotensi melampaui keuntungan yang diterima perusahaan maupun negara. Karena itu, mengejar produksi bukan jawaban yang memadai atas rendahnya harga jual.

Ia mendorong pembenahan tata kelola ekspor, transparansi harga, perbaikan perizinan, serta percepatan investasi energi terbarukan. Ketergantungan pada batubara perlu dikurangi agar keuntungan ekonomi tidak terus dicari dengan memperbesar kerusakan lingkungan.

Bagi Windhy, ukuran keberhasilan sektor batubara tidak semestinya berhenti pada besarnya produksi, tetapi juga mempertimbangkan perlindungan hutan, keselamatan masyarakat, dan percepatan transisi energi.

Foto utama: Hamparan tambang batubara ilegal di kawasan bekas perusahaan daerah PT Banjar Intan Mandiri (BIM) di Desa Gunung Ulin, Kecamatan Mataraman, Kabupaten Banjar. Foto: Rendy Tisna/ Mongabay Indonesia.

Tambang Berganti Pengelola, Masyarakat Dayak Basap Tetap Khawatir dengan Bencana Lingkungan

Editor 5 Sep 2026

Masyarakat Adat Dayak Basap di Desa Tebangan Lembak, Kutai Timur, Kalimantan Timur, telah merasakan dampak pertambangan batubara selama sekitar 15 tahun. Kini, mereka menghadapi kekhawatiran baru setelah sebagian bekas konsesi PT Kaltim Prima Coal beralih kepada PT Berkah Usaha Muamalah Nusantara atau BUMNU, perusahaan milik Nahdlatul Ulama.

Analisis Yayasan Auriga Nusantara menunjukkan sekitar 14.187 hektar dari total 37.000 hektar wilayah Desa Tebangan Lembak telah dieksploitasi untuk pertambangan. BUMNU sendiri mengantongi izin usaha pertambangan khusus seluas sekitar 26.000 hektar yang tersebar dalam tujuh blok. Salah satunya berada di Tebangan Lembak dengan luas sekitar 1.812 hektar.

BUMNU belum melakukan eksploitasi. Namun, Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER) mencatat sedikitnya 14 lubang bekas tambang di wilayah tersebut. Data MapBiomas juga menunjukkan lubang tambang mencakup sekitar 592 hektar.

Kerusakan hutan telah menyulitkan masyarakat memperoleh tumbuhan obat yang biasa mereka gunakan. Sungai pun tercemar dan tidak lagi layak dikonsumsi. Saat hujan, air berubah warna dan menjadi kental. Warga akhirnya bergantung pada air isi ulang serta bantuan air dari program tanggung jawab sosial perusahaan.

“Makanya, enggak bisa diminum lagi. [Beli] air isi ulang saja [untuk minum],” kata Masri, warga Dayak Basap.

Kajian Kementerian Lingkungan Hidup menyebut Daerah Aliran Sungai Bengalon memiliki ekoregion sensitif dan rentan. Jika tutupan hutannya dibuka, proses pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu lebih dari 100 tahun.

Tambang juga mempersempit lahan pertanian masyarakat. Selama lima tahun terakhir, warga tidak lagi memanen padi gunung. Akibatnya, upacara adat Nembang Tahun yang hanya dilakukan setelah panen berhasil tidak dapat digelar.

Kekhawatiran bertambah karena warga adat merasa tidak dilibatkan dalam proses masuknya BUMNU. Mereka tidak menerima undangan konsultasi publik penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan. Informasi mengenai konsesi justru diperoleh secara tidak resmi.

“Kami tidak pernah dilibatkan,” kata Joni, anak Kepala Adat Dayak Basap.

Di wilayah hilir, warga Desa Sepaso juga menghadapi banjir berulang. Hilangnya pepohonan di Tebangan Lembak diduga mengurangi kemampuan kawasan hulu menyerap air. Saat hujan, air mengalir menuju Sepaso dan meluapkan Sungai Bengalon.

BUMNU menyatakan telah mengkaji peruntukan lahan dan memperoleh persetujuan kesesuaian pemanfaatan ruang. Perusahaan juga mengklaim memperhatikan kepentingan ekonomi, sosial, lingkungan, dan manfaat bagi umat.

Namun, masyarakat Dayak Basap tetap khawatir tambang baru akan mengulangi atau memperparah dampak yang telah mereka alami. Mereka kini memperjuangkan sekitar 5.000 hektar hutan tersisa di Tengkero Buduk agar diakui sebagai hutan adat.

Sejumlah pihak mendesak pemerintah meninjau kembali pemberian konsesi batubara kepada organisasi kemasyarakatan keagamaan. Kebijakan tersebut dinilai berisiko memperluas industri ekstraktif, meningkatkan emisi, memicu bencana, serta memperbesar konflik dengan masyarakat yang mempertahankan ruang hidupnya.

Foto utama: Bukaan lahan di konsesi Kaltim Prima Coal (KPC). Foto: Windy Pranata.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.