Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Jerit Nelayan Anambas Hadapi Kapal Ikan Asing

Yogi Eka Sahputra 23 Agu 2026
Cerita fitur

Mempertanyakan Keseriusan Pemerintah Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan

Sarjan Lahay 23 Agu 2026

Lukisan 67 Ribu Tahun Silam di Sulawesi jadi Karya Seni Tertua Homo Sapiens

Nuswantoro 23 Agu 2026
Cerita fitur

Polusi Udara Jakarta Parah, Masalah Menahun Tanpa Penyelesaian

Fachri Hamzah, Richaldo Hariandja 22 Agu 2026

Semut Peluru, Semut dengan Sengatan Paling Menyakitkan di Dunia Serangga

Akhyari Hananto 22 Agu 2026

Ular Banjang Tupai, Ular Bermata Kucing dari Hutan Malang Selatan

Falahi Mubarok 22 Agu 2026
Semua berita

Berita utama

Mempertanyakan Keseriusan Pemerintah Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan

Polusi Udara Jakarta Parah, Masalah Menahun Tanpa Penyelesaian

Fachri Hamzah, Richaldo Hariandja 22 Agu 2026

Upaya Para Petambak Pulihkan Mangrove Delta Mahakam

Yuda Almerio 21 Agu 2026

Khawatir Terdampak, Warga Tolak Tambang Pasir Sungai Serayu 

L Darmawan 21 Agu 2026

Petani Damar Tabarano Waswas Kebun jadi Tambang Nikel

Eko Rusdianto 20 Agu 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Lutung Jawa: Satwa Endemik Jawa di Ujung Tanduk

Lutung Jawa di Muara Gembong, Minim Data dan Bertahan di Hutan Mangrove

Falahi Mubarok 13 Agu 2026

Perdagangan Ilegal Lutung Jawa Masih Terjadi, Begini Modusnya

Falahi Mubarok 29 Jun 2026

Tanpa Ekor, Kisah Lutung Jawa yang Hidup Bebas di Nusa Barung

Falahi Mubarok 8 Jun 2026

Masih Adakah Ruang Aman untuk Lutung Jawa?

Falahi Mubarok 7 Feb 2026

Ancaman multidimensional kian mengencet keberadaan Trachypithecus auratus (Lutung Jawa) di habitat aslinya, mulai dari maraknya perburuan liar, modus perdagangan ilegal yang merambah platform digital, hingga fragmentasi lahan di berbagai titik Pulau Jawa. Sorotan atas realitas kelam tersebut berjalan berdampingan dengan rekam jejak penyelamatan, proses rehabilitasi, serta aksi pelepasliaran di wilayah konservasi seperti Taman Nasional Bromo […]

Lutung Jawa: Satwa Endemik Jawa di Ujung Tanduk series

Lebih spesial

14 cerita

Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri

7 cerita

Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua

9 cerita

Nestapa Burung Berkicau Nusantara

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Hutan Indonesia dalam Kepungan Ekspansi

Kadek Dian Dwiyanti H.* 2 Agu 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup

Rumah yang Bernama Laut: Cerita dari Desa Bajo Tilamuta

Niko Wicaksana 28 Jul 2026

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Niko Wicaksana 11 Jun 2026

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Kawin Silang Kucing Hutan dengan Kucing Domestik Bisa Bawa Penyakit ke Alam Liar

Editor 23 Agu 2026

Video kucing berbintik yang berinteraksi dengan kucing peliharaan sering mengundang kekaguman di media sosial. Sebagian warganet bahkan berharap dapat memiliki anak hasil persilangan keduanya. Namun, bagi ilmuwan konservasi, perkawinan itu bukan sekadar peristiwa menggemaskan.

Proses tersebut disebut hibridisasi, yaitu kawin silang antara satwa dari jenis berbeda. Jika terjadi tanpa kendali, hibridisasi dapat mengikis identitas genetik satwa liar dan membuka jalan bagi penularan penyakit.

Di Indonesia, salah satu satwa yang rentan adalah kucing kuwuk atau kucing hutan (Prionailurus javanensis). Felid berukuran kecil ini hidup di sawah, pinggiran hutan, kawasan agroforestri, hingga perkebunan sawit.

Ukuran tubuhnya hampir sama dengan kucing peliharaan. Karena itu, kucing kuwuk sering disangka kucing kampung, meskipun bulunya memiliki pola bintik cokelat. Padahal, satwa ini dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 Tahun 2018.

Erwin Wilianto, pendiri Yayasan Sintas Indonesia, menuturkan hibridisasi yang melibatkan satwa liar dilindungi merupakan tindakan ilegal. Persilangan dapat merusak kemurnian genetik, memengaruhi kesuburan keturunan, melemahkan kekebalan tubuh, atau menimbulkan kecacatan.

Secara alami, kucing liar cenderung menghindari perkawinan dengan jenis lain. Jika perilakunya telah berubah akibat campur tangan manusia, satwa tersebut juga semakin sulit dikembalikan ke alam.

Ancaman lain muncul melalui kontak langsung dengan kucing domestik. Kucing peliharaan dapat membawa penyakit atau menjadi perantara patogen yang sebelumnya tidak ditemukan di alam. Sistem kekebalan kucing hutan berbeda sehingga paparan tersebut dapat membahayakan kesehatannya.

Risiko ini terlihat dalam penelitian University of Edinburgh yang diterbitkan pada 2023. Peneliti memeriksa 120 kucing liar di enam kawasan prioritas konservasi Skotlandia Utara selama 2015–2019.

Hasilnya, sedikitnya 11 agen infeksius ditemukan beredar dalam kawanan hibrida. Di antaranya adalah feline immunodeficiency virus (FIV), feline leukaemia virus (FeLV), feline calicivirus, dan feline herpesvirus. Peneliti juga menemukan sejumlah bakteri penyebab penyakit.

Sebagian besar patogen itu berasal dari kucing domestik, kemudian berpindah ke satwa liar melalui kontak dan perkawinan silang. Hibridisasi pun menjadi ancaman ganda: mencampurkan susunan genetik sekaligus membawa penyakit.

Di Indonesia, risikonya meningkat ketika deforestasi mendorong kucing hutan keluar dari habitatnya. Pada saat bersamaan, permukiman manusia terus meluas hingga tepi hutan. Pertemuan antara kucing liar dan kucing domestik menjadi semakin mungkin terjadi.

Kucing hasil persilangan juga dipasarkan melalui platform jual-beli daring sebagai hewan eksotis bernilai tinggi. Komersialisasi ini dapat memperbesar permintaan dan mendorong lebih banyak praktik hibridisasi.

Kucing hutan yang mendekati permukiman bukanlah peluang untuk menghasilkan peliharaan eksotis. Kemunculannya justru dapat menjadi tanda bahwa habitatnya semakin menyempit. Menjaga jarak antara kucing domestik dan satwa liar penting untuk melindungi kesehatan, perilaku alami, dan identitas genetik kucing hutan.

Foto utama: Kucing hutan atau dikenal dengan nama kucing kuwuk ini terpantau di tepi hutan Ujung Kulon. Foto: Dok. Uci Sanusi/YIARI

30 Tahun Dokter Hewan Ini Menyelamatkan Satwa Liar di Hutan Leuser

Editor 23 Agu 2026

Pada 18 Juni 2019, pukul 15.00 WIB, Anhar Lubis menemukan seekor anak gajah sumatera betina bernama Salma di dalam goa. Enam jam sebelumnya, dia bersama Tim Perlindungan Satwa Liar Forum Konservasi Leuser berjalan menyusuri hutan Gampong Batu Sumbang, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur.

Kondisi Salma memprihatinkan. Kaki kiri depannya hampir putus akibat jerat kawat baja pemburu. Tubuhnya mengalami dehidrasi berat dan sulit bergerak. Selama lebih dari dua jam, Anhar dan tim berusaha menariknya keluar dari gua.

Pertolongan pertama segera diberikan. Namun, mereka masih harus menggiring Salma keluar dari hutan menuju Conservation Response Unit Serbajadi. Proses itu baru dapat dilakukan sekitar pukul 03.00 WIB. Meski telah dirawat intensif, nyawa Salma akhirnya tidak dapat diselamatkan.

Bagi Anhar, menemukan satwa liar dalam kondisi terluka bukan pengalaman baru. Sekitar 30 tahun hidupnya dihabiskan untuk merawat satwa, terutama gajah sumatera.

Anhar lahir di Meulaboh, Aceh Barat, pada September 1968. Sejak kecil, dia terbiasa melihat satwa liar di sekitar Hutan Ulu Masen. Ia meraih gelar dokter hewan dari Universitas Syiah Kuala pada 1996, kemudian memulai kariernya di Medan Zoo pada tahun yang sama.

Kebun binatang menjadi tempatnya mempelajari anatomi, perilaku, dan psikologi berbagai satwa. Pada 2001, ia bergabung dengan Sumatran Orangutan Conservation Programme dan merawat orangutan korban perburuan serta perdagangan.

Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa menyelamatkan satwa bukan hanya soal mengobati luka fisik. Satwa yang pernah disakiti manusia juga dapat mengalami trauma dan membutuhkan waktu untuk membangun kembali kepercayaan.

Sejak 2006, Anhar menjadi dokter hewan utama dalam Program Perawatan Kesehatan Gajah yang dijalankan Vesswic. Ia berkeliling Sumatera untuk memeriksa kesehatan gajah jinak di berbagai pusat pelatihan. Pada 2019, ia bergabung dengan Forum Konservasi Leuser sebagai Koordinator Leuser Rescue Team.

Dalam tugas tersebut, Anhar tidak hanya memberikan pertolongan medis. Ia juga menjadi penengah ketika konflik terjadi antara gajah dan manusia. Penyusutan hutan membuat gajah kehilangan ruang jelajah serta sumber makanan. Ketika memasuki kebun, satwa tersebut dianggap mengancam tanaman dan mata pencaharian warga. Risikonya, gajah dapat dibunuh, diracun, atau terkena jerat.

Menurut Anhar, komunikasi dengan masyarakat sama pentingnya dengan kemampuan medis. Warga perlu diajak berbicara menggunakan bahasa dan logika yang dapat diterima.

Pekerjaan ini juga mempertaruhkan keselamatannya. Pada 24 April 2022, Anhar terluka serius ketika menyelamatkan harimau sumatera yang terjerat di Tapanuli Selatan. Obat bius yang ditembakkannya belum bekerja ketika harimau tersebut menyerang. Ia digigit di punggung serta dicakar pada lengan dan paha hingga harus dirawat intensif.

Namun, pengalaman itu tidak membuatnya menjauhi satwa liar. Anhar memahami bahwa satwa yang terluka dan trauma hanya berusaha bertahan dengan nalurinya.

Pada 2022, Anhar menerima penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta dinobatkan sebagai ASEAN Biodiversity Heroes. Meski demikian, ia tidak menganggap dirinya pahlawan.

Kini, Anhar juga melatih dokter-dokter hewan muda dan membagikan pengalaman lapangannya. Baginya, menyelamatkan seekor gajah berarti menjaga kelompoknya, mempertahankan penghuni ekosistem, dan memastikan generasi mendatang tidak hanya mengenal gajah sumatera melalui film.

Foto utama: Anhar Lubis yang mendedikasikan hidupnya untuk gajah sumatera. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Cara Perempuan Wujudkan Ketahanan Pangan di Pulau Kelapa

Kadek Dian Dwiyanti H.* 23 Agu 2026

Setiap ada kapal sayur merapat di Dermaga Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Utara, Jakarta, warga langsung berkerumun. Semua sayuran berasal dari Jakarta, perjalanan lebih dari dua jam untuk merapat ke pulau. Kondisinya banyak tak lagi segar. 

Julian Puput Lendri, warga Pulau Kelapa, mengatakan sayuran yang tiba sering sudah layu, tetapi tetap diburu warga karena tak ada pilihan. “Di sini kalau sayur berebut. Kita sampai ke tukang sayur, semuanya habis. Mending kalau segar, nggak segar pula kita dapetnya, tapi cepat habis,” kata Julian.

Ketergantungan pada pasokan dari Jakarta juga membuat harga sayuran lebih mahal, kenaikkan bisa mencapai 50%. Saat cuaca buruk, kapal bahkan tidak dapat merapat sehingga pasokan sayur bisa terhenti hingga tiga hari.

Kondisi itu mendorong para perempuan Pulau Kelapa membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Hijau Daun sejak 2018. Mereka memilih hidroponik karena kondisi tanah yang berpasir, keterbatasan air bersih, serta ancaman banjir rob membuat sayuran sulit ditanam langsung di lahan. Mereka menanam kangkung, bayam, sawi, pakcoi, dan cabai dengan memanfaatkan rak hidroponik.

“Dengan menanam sayur sendiri secara alami, kita bisa memenuhi kebutuhan dapur sekaligus mendapat banyak manfaat,” ujar Rosda, Ketua KWT Hijau Daun Pulau Kelapa Dua.

Untuk memenuhi kebutuhan air, mereka menampung air hujan di bawah rumah panggung. Saat kemarau panjang, warga juga mengumpulkan air buangan AC secara urunan. Upaya tersebut membuat KWT Hijau Daun meraih penghargaan sebagai program urban farming terbaik se-DKI Jakarta pada 2025 setelah berhasil memanen 21 kilogram kangkung di lahan terbatas.

Namun, hasil panen masih belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga. Pada April, misalnya, mereka memanen 1,6 kilogram pakcoy dan 2,6 kilogram cabai yang langsung habis dibeli warga. Saat ini hanya ada enam rak hidroponik aktif di seluruh Pulau Kelapa.

“Tanam, satu bulan setengah panen, selesai masa tanam, itu kan jadi nggak bisa untuk mencukupi kebutuhan seluruh warga,” jelas Ardian, Sekretaris Kelurahan Kepulauan Kelapa.

Selain itu, KWT juga masih bergantung pada bibit dari pemerintah dan belum mampu memproduksinya secara mandiri dan berkelanjutan. Di sisi lain, mayoritas warga Pulau Kelapa bekerja sebagai nelayan sehingga belum banyak yang tertarik pada urban farming karena hasilnya membutuhkan waktu, sementara pendapatan dari melaut bisa diperoleh dalam hitungan hari.

Pemerintah kemudian mendorong warga mengenali kembali pangan lokal seperti taka atau kecundang (Tacca leontopetaloides), yang selama ini dianggap sebagai tumbuhan liar. Julian mengatakan pengetahuan mengenai tanaman ini mulai hilang di kalangan generasi muda.

“Kalau kecundang itu sebenarnya bagi orang pulau sendiri sudah lama, warga pulau kelahiran 80-an itu sudah mulai tidak mengenal kecundang. Malah dianggap sebagai tanaman hama. Itu kalau kita pasti kita selalu potong,” kata Julian.

Padahal, tanaman ini dapat menjadi pangan alternatif yang beradaptasi dengan kondisi pesisir. Pemerintah berencana mengembangkan tanaman lokal tersebut melalui pelatihan dan pendampingan bersama masyarakat, KWT, perguruan tinggi, serta lembaga penelitian.

Bagi Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), hidroponik dan akuaponik dapat menjadi pilihan bagi masyarakat pulau kecil untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar pulau. Namun, keberlanjutannya membutuhkan pendampingan, akses pasar, modal, serta pemetaan kondisi pangan sesuai kebutuhan masing-masing pulau.



Hasil panen kangkung warga Kelompok Wanita Tani Hijau Daun Pulau Kelapa pada Oktober 2025. Foto: Dokumentasi pulauseribu.jakarta.go.id

Warisan Garam Kusamba Terancam di Tengah Abrasi Pesisir

Kadek Dian Dwiyanti H.* 22 Agu 2026

Lembaran geomembran hitam terbentang di pesisir Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali. Di bawah terik matahari, Nengah Bantat dan istrinya, Ketut Keprug, sibuk menutup lembaran itu setelah seharian memproduksi garam. Meski usianya sudah 71 tahun, Bantat masih setia mempertahankan pekerjaan yang diwariskan keluarganya selama puluhan tahun. Namun, dia sadar kemungkinan besar tradisi itu akan berhenti di generasinya.

Bantat mulai menjadi petani garam pada 1979. Saat itu, ratusan warga di sepanjang pesisir Kusamba hingga Pesinggahan menggantungkan hidup dari produksi garam tradisional. Kini, jumlah petani garam terus menyusut. Anaknya pun memilih tidak meneruskan pekerjaan tersebut karena penghasilannya tidak menentu dan sangat bergantung pada kondisi alam.

“Tiang nak pedalem ajak panak tiang e. Men ngae uyah nak sing tentu (saya kasihan sama anak saya. Kalau jadi petani garam penghasilannya tidak tentu),” kata Bantat, pada Juni lalu.

Kondisi serupa dialami Nengah Diana, petani garam generasi terakhir di keluarganya. Menurutnya, tidak ada lagi anggota keluarga yang bersedia melanjutkan usaha penggaraman. Padahal, garam Kusamba dikenal memiliki metode pembuatan tradisional yang khas menggunakan palung, cekungan dari batang pohon yang menjadi warisan budaya masyarakat pesisir Bali.

Produksi garam di Kusamba terus mengalami penurunan. Pada 1970-an terdapat sekitar 180 petani garam. Saat penelitian pada 2022 jumlahnya tinggal 19 orang, dan ketika Mongabay berkunjung pada 2026, tersisa sekitar 14 petani. Produksi garam juga merosot drastis. Jika dibandingkan dengan 2014, produksinya turun hampir 100% pada 2024. Padahal, Klungkung pernah menjadi kabupaten penghasil garam terbesar di Bali.

Di balik penurunan produksi, abrasi menjadi ancaman terbesar bagi petani garam. Bantat mengaku belum pernah mengalami abrasi separah yang terjadi sejak 2023. Ombak tinggi beberapa kali menghantam area produksi, membawa batu-batu besar ke lahan penggaraman hingga proses produksi terhenti selama lebih dari sepekan. 

“Udah berapa kali kita mundur karena abrasi. Dulunya daratan, sekarang jadi laut.” 

Berbagai penelitian turut menunjukkan perubahan garis pantai di pesisir Klungkung akibat abrasi yang terus berlangsung. Di sisi lain, pembangunan Pelabuhan Tribuana untuk penyeberangan menuju Nusa Penida juga mempersempit ruang produksi garam masyarakat. Sejumlah petani bahkan kehilangan lahan penggaramannya karena kawasan tersebut berubah menjadi area pelabuhan.

Pemerintah mengakui garam Kusamba menghadapi ancaman kepunahan. Ni Made, Candrawati, Kepala Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Klungkung menyebut abrasi dalam beberapa tahun terakhir telah menyebabkan sebagian lahan penggaraman tidak lagi dapat digunakan. Luas lahan yang tersisa kini sekitar 30-35 are.

“Ada dua lahan petani garam yang sudah tidak berfungsi karena abrasi,” kata Candrawati ketika ditemui di kantornya pada Jumat (19/6/26).

Upaya pemerintah membangun tanggul penahan abrasi sejak 2022 belum sepenuhnya mampu mengatasi persoalan. Ombak besar masih kerap melampaui tanggul, sementara keberadaan bangunan tersebut justru membuat ruang produksi semakin sempit dan menyisakan bebatuan di area penggaraman. Saat ini, bantuan pemerintah lebih banyak berupa sarana dan prasarana, sedangkan penanganan abrasi masih membutuhkan koordinasi lintas instansi.

Bagi Bantat, membuat garam kini bukan lagi soal keuntungan besar. Di usia senjanya, pekerjaan itu menjadi cara mempertahankan warisan leluhur sekaligus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Nengah Bantat menunjukkan garam metode geomembran yang hampir siap panen. Foto: I Gusti Ayu Septiari/ Mongabay Indonesia

Sejak PLTU Beroperasi, Petani Rumput Laut Lifuleo Gagal Panen

Kadek Dian Dwiyanti H.* 20 Agu 2026

Tumpukan rumput laut basah terlihat di beberapa titik pesisir Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Oktaf Alexander Saketu bersama keluarganya memilah rumput laut yang masih layak dan membuang sebagian yang rusak akibat penyakit ice-ice. Sejak 2023, penyakit itu membuat budidaya rumput laut gagal panen. Memucat, berlendir, lalu patah sebelum masa panen.

“Kemarin-kemarin rumput laut di sini bagus sekali. Sekarang susah sekali dapat hasil,” kata Oktaf pada Mei lalu.

Baginya, perubahan itu mulai terasa sejak September 2023 saat PLTU Timor-1 beroperasi di Dusun Panaf, Desa Lifuleo. Dampaknya, hasil tangkapan ikan menurun dan rumput laut semakin sulit tumbuh. Padahal, sejak 1999, wilayah ini terkenal sebagai salah satu sentra budidaya rumput laut yang produktif.

Kondisi itu juga dirasakan oleh Seprianus Alexander, dia menduga pencemaran laut mulai terjadi setelah PLTU beroperasi. Terumbu karang rusak, ikan menjauh, dan rumput laut sering mati sebelum dipanen. 

“Sebelumnya, kami bisa panen 1-2 ton per keluarga. Sekarang dapat seratus kilogram saja sudah bersyukur,” katanya.

Penurunan produksi itu berdampak langsung pada ekonomi warga. Banyak keluarga terpaksa berutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak. Sebagian lainnya beralih pekerjaan menjadi pencari benih rumput laut di desa lain, buruh bangunan, pedagang asongan, hingga anak buah kapal karena hasil laut tak lagi dapat diandalkan sebagai sumber penghidupan.

Viena Tella, petani perempuan rumput laut Desa Lifuleo juga merasakan kondisi serupa. Menurutnya, sebelum 2023 penyakit ice-ice hampir tidak pernah menjadi persoalan. Kini, tanaman yang baru berumur dua minggu saja bisa rusak hingga yang tersisa hanya tali pengikatnya.

Harga rumput laut pun ikut merosot, dari sekitar Rp40.000 per kilogram pada 2022 menjadi Rp19.000 per kilogram. Oktaf menyebut bersama sekitar 85 petani lain, mereka memperkirakan kerugian mencapai Rp23 miliar dalam dua tahun terakhir.

Berbagai kajian menunjukkan munculnya penyakit ice-ice akibat perubahan kondisi lingkungan, seperti kenaikan suhu laut, perubahan salinitas, kualitas bibit, hingga infeksi bakteri.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTT, Sulastri H. I. Rasyid, mengatakan penurunan produksi rumput laut juga terjadi di sejumlah wilayah lain di NTT. Berdasarkan hasil pemantauan pemerintah, operasional PLTU masih memenuhi baku mutu lingkungan sehingga belum ada bukti pencemaran yang menghubungkan langsung PLTU dengan turunnya produksi rumput laut.

“Kalau dari hasil pengawasan lingkungan yang kami lakukan, sampai sekarang belum ada temuan yang menunjukkan pencemaran signifikan dari operasional PLTU,” katanya Senin (8/6/26).

Meski begitu, warga mempertanyakan transparansi pengujian laboratorium kedua yang dilakukan PLN pada 2024 karena mereka tidak dilibatkan dalam proses pengambilan sampel. Walhi Nusa Tenggara Timur menilai pengalaman masyarakat pesisir tidak bisa diabaikan hanya karena hasil laboratorium menunjukkan kesimpulan berbeda.

“Yang harus dijawab bukan hanya apakah baku mutu terlampaui atau tidak. Tetapi mengapa ruang hidup masyarakat terus menyusut dan mengapa mereka kehilangan sumber penghidupan yang sebelumnya berjalan baik.”



Setelah diangkut dari perahu, para petani membersihkan rumput laut yang terserang penyakit ice-ice serta memilah sebagian hasil panen untuk dijadikan bibit pada musim budidaya berikutnya. Foto: Mario Sara/Mongabay Indonesia.

Laut Tak Lagi Menjanjikan, Nasib Perempuan Bajo di Pesisir Soropia Kian Terhimpit

Kadek Dian Dwiyanti H.* 19 Agu 2026

Dulu, laut di pesisir Soropia, Konawe, Sulawesi Tenggara, menjadi tumpuan hidup masyarakat Suku Bajo. Kini, laut tak lagi menjanjikan akibat cuaca semakin sulit diprediksi, gelombang lebih tinggi, dan hasil tangkapan nelayan terus menurun. Dampaknya paling terasa bagi perempuan Bajo yang harus memikul beban berlapis demi menjaga dapur keluarga tetap mengepul.

Hartati, warga Desa Bajo Indah, Kecamatan Soropia masih mengingat bagaimana suaminya, Mardin, nyaris menjadi korban cuaca buruk saat melaut. “Dari situ saya trauma ada awan hitam,” kata Mardin menyambung cerita Hartati. Kejadian itu terjadi pada Januari lalu, saat angin kencang melanda pesisir Soropia membuat perahunya terombang ambing, dia nyaris pingsan dan membuatnya sulit kendalikan kemudi. Itu kali pertama dalam dua dekade hidupnya berdampingan dengan laut.

Data BMKG juga menunjukkan gelombang di atas 1,25 meter cukup sering terjadi di perairan Soropia sepanjang 2021-2024, sementara Kantor Pencarian dan Pertolongan Kendari mencatat ratusan kecelakaan kapal sejak 2021 hingga Maret 2026. Kondisi ini membuat banyak nelayan memilih tidak melaut ketika cuaca memburuk, dampaknya tidak ada pemasukan bagi keluarga.

Di tengah hasil tangkapan yang terus menurun, banyak perempuan Bajo ikut turun ke laut. Herlina, warga Desa Bajo Indah lainnya, misalnya, hampir setiap malam mencari teripang, kepiting, kerang, udang, dan hasil laut lain saat air surut. Penghasilan dari menjual tangkapan itu digunakan untuk membantu kebutuhan sehari-hari karena hasil melaut suaminya sering kali hanya cukup menutup biaya BBM sebesar Rp300 ribu untuk sekali berangkat ke Saponda. 

“Dua kali dia (Tamrin) ke Saponda, hanya untuk bahan bakar saja. Jadi, saya ikut turun supaya ada jajannya anak-anak. Bantu-bantu bapaknya (suami).”

Berbeda dengan Herlina, Rida menjadikan kegiatan mencari teripang sebagai sumber nafkah utama sejak menjadi orang tua tunggal 16 tahun lalu. Jika tangkapan sedikit, dia mencari kerang dan cabore (kerang laut) untuk dijual. Teripang biasanya dikeringkan agar harganya lebih tinggi, tetapi saat membutuhkan uang cepat untuk kebutuhan anak, dia terpaksa menjualnya dalam kondisi basah dengan harga lebih murah.

Meski menjadi pencari nafkah keluarga, Rida mengaku belum pernah mendapatkan kartu nelayan maupun akses berbagai bantuan karena yang diakui hanya nelayan laki-laki. 

“Hanya laki-laki saja yang dapat.”

Menurut Amar Maruf, peneliti nelayan Bajo di Soropia, perubahan iklim menyebabkan hasil tangkapan menurun, biaya operasional meningkat, alat tangkap menjadi kurang efektif, dan wilayah tangkap semakin sulit ditentukan. 

Di balik beban ekonomi itu, perempuan Bajo juga menghadapi kecemasan ekologis. Penelitian Uswatun Hasanah menemukan bahwa kekhawatiran mereka bukan sekadar dipicu informasi tentang perubahan iklim, melainkan pengalaman sehari-hari melihat laut berubah, cuaca tak menentu, dan hasil tangkapan yang terus menurun. 

“Pada komunitas perempuan pesisir, kecemasan ekologisnya (perempuan) tidak hanya berbasis pada informasi, tapi muncul atas pengalaman ketubuhannya langsung,” katanya, Jumat (5/6/26).

Selain mengurus rumah tangga dan mencari nafkah, perempuan juga menjadi penyangga emosi bagi suami dan anak-anaknya ketika kehidupan pesisir semakin tidak pasti. Bagi perempuan Bajo, menjaga keluarga tetap bertahan kini berarti menghadapi perubahan laut yang semakin sulit diprediksi dari hari ke hari.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.