Mongabay Travel: Eloknya Puncak Kelimutu, Danau Kawah yang Terus Berubah Warna

Siapa yang belum pernah mendengar Kelimutu? Danau di Kabupaten Ende ini terkenal dengan keajaiban  danau kawah (tiwu, bahasa lokal) yang memiliki warna-warni yang memukau, yaitu Tiwu Ata Mbupu (luas 4,5 hektar) yang berwarna biru, Ata Polo (4 hektar) yang berwarna merah darah, dan Nuamari Ko’ofai (5,5 hektar) yang berwarna hijau.

Penasaran dengan keindahannya, pada pertengahan Juni lalu, Mongabay kembali menyambangi Kelimutu (1.690 m dpl). Jalan menuju puncak Kelimutu relatif mudah dilalui dengan kendaraan bermotor. Dari jalan negara trans Ende-Maumere di depan pintu gerbang pertama kemudian berbelok menuju puncak terus menanjak sejauh 13 kilometer.

Dari pos penjagaan, wisatawan harus berjalan kaki sejauh lebih kurang 1,5 kilometer melintasi pepohonan hutan.  Untuk menuju kawah, wisatawan kembali harus mendaki ratusan anak tangga menuju puncak gunung. Sayangnya pagi itu cuaca agak berkabut dan berangin kencang, sehingga saya tidak memperoleh pemandangan matahari terbit yang cerah.

Dilihat dari ketinggian terlihatlah jelas ketiga danau. Benar saja warnaya telah berubah. Saat itu Ata Mbupu berwarna hijau tua, Ata Polo hijau lumut sedikit kehitaman serta Nuamuri Ko’ofai warnanya hijau.

Data Taman Nasional Kelimutu (TNK) menyebutkan sejak tahun 1915 sampai 2011 tercatat Ata Polo sudah 44 kali mengalami perubahan warna. Sementara Nuamuri Ko’ofai sekitar 25 kali perubahan warna dan Ata Mbupu mengalami 16 kali perubahan warna.

Menurut penelitian Dr Gregory Pasternack dari University of California (1992), perubahan warna dari ketiga danau itu berasal dari sumber gas vulkanik sub akuatis yang menyebabkan ekspresi kimia yang berbeda di setiap danau.

Banyaknya oksigen menjadi penentu dari perubahan warna yang ada. Saat kekurangan oksigen, air danau cenderung berwarna hijau. Sebaliknya ketika banyak oksigen akan terlihat merah tua sampai hitam. Hal lain yang mempengaruhi adalah gas alami dan mineral seperti sulfur, asam garam (saline), dan berbagai jenis aktivitas vulkanik yang akan membuat warna air dapat berubah.

Legenda Danau Kelimutu

Karena fenomena warna ini pulalah, suku Lio yang berdiam di wilayah ini memiliki legenda tersendiri tentang danau kawah Kelimutu ini.

Menurut legenda, dahulu di puncak Kelimutu terdapat perkampungan atau disebut bhua ria, dimana  hidup dua orang yang menonjol yaitu Ata Polo, seorang penyihir sakti yang dinilai kejam karena suka memangsa manusia, serta Ata Mbupu orang baik dan bijaksana.

Suatu saat, datanglah meminta tolong sepasang yatim piatu kepada Ata Mbupu. Karena sudah tidak lagi berorangtua, jatuh hatilah Ata Mbupu kepada mereka. Dia pun memberi syarat keduanya dipersilakan tinggal, namun tidak boleh keluar ladang milik Ata Mbupu karena takut akan dimangsa Ata Polo.

Benar saja, tidak lama kemudian Ata Polo mencium keberadaan keduanya. Untuk melindungi keduanya Ata Mbupu lalu meminta Ata Polo untuk bersabar. Ata Polo disuruh menunggu sampai kedua anak itu beranjak dewasa sampai dia dapat memangsanya.

Saat keduanya beranjak dewasa, datanglah kembali Ata Polo menuntut janji Ata Mbupu. Tak kuasa menghalau Ata Polo, larilah Ata Mbupu. Disaat bersamaan, terjadilah gempa dahsyat di lokasi tersebut. Ata Mbupu, Ata Polo, dan kedua anak itu pun tertelan bumi hidup-hidup.

Tak lama kemudian, dari tempat Ata Mbupu terkubur menyembul air berwarna biru yang diberi nama Tiwu Ata Mbupu. Di tempat terkuburnya Ata Polo juga keluar air, tapi berwarna merah darah yang diberi nama Tiwu Ata Polo, sedang di tempat terkuburnya kedua anak yatim piatu muncul air berwarna hijau dinamai Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai.

Monyet Ekor Panjang dan Satwa Endemik

Tepat di sekitar puncak tugu Ata Mbupu (1.641 m dpl) pagi itu mulai bermunculan puluhan ekor monyet ekor panjang (Macaca fasciculararis) dari balik rimbunnya turuwara (Rhododendron rennschianum). Dari perilakunya, tampak kelompok monyet ini sudah terbiasa berinteraksi dengan pengunjung.

Dengan tubuhnya yang kecil dan ciri khas jambang pipinya yang mencolok monyet ini tampak gesit. Menurut penuturan Ridwan Fauzi, petugas TNK, terdapat sekitar seratus ekor monyet ekor panjang hidup di area ini.

Selain monyet, terdapat spesies burung garugiwa (Pachycephala nudigula) dan elang flores (Nisaetus floris). Elang flores diperkirakan saat ini masih ada 100 pasang dan berkeliaran di alam bebas namun populasinya terus menurun.

Sementara garugiwa meski kadang saat berada di Kelimutu pengunjung bisa mendengar kicauannya, namun sulit untuk melihatnya. Itulah mengapa masyarakat sekitar mempercayai bahwa burung ini adalah burung arwah.

“Garugiwa bisa meniru suara burung lainnya dan berdasarkan penelitian suara burung ini memiliki lebih dari 15 suara. Burung garugiwa jantan memiliki ciri khas warna merah di lehernya,” jelas Ridwan.

Gunung Kelimutu tercatat pernah meletus dahsyat tahun 1830 yang mengeluarkan lava hitam dan letusan tahun 1869-1870 yang disertai aliran lahar. Letusan terakhir terjadi tahun 1968 yang mengeluarkan lava, gas dan debu vulkanik. Kelimutu mulai dikenal sejak Y. Bouman, seorang penulis Belanda, memperkenalkannya dalam sebuah tulisannya di tahun 1929.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
,