Opini : Karst, Habitat Biota Dengan Fungsi Ekologis Penting Yang Harus Dilindungi

Akhir-akhirnya, istilah karst begitu banyak muncul di media massa terutama berkaitan dengan konflik pemanfaatan karst untuk industri ekstraktif. Karst adalah bentang alam yang terbentuk karena proses pelarutan batugamping atau dolomiteoleh air yang membentuk bukit-bukit yang unik dan khas serta sistem perguaan di dalamnya.

Beberapa kawasan karst memiliki bentang alam yang sangat indah seperti bukit kerucut (conical hills), tower karst dan bahkan pulau-pulau karst seperti di Raja Ampat, Papua.

Indonesia, menurut Clements dkk (2006), memiliki 145.000.000 km2 wilayah karst yang tersebar dari Sumatera sampai Papua dimana hanya 5% dari keseluruhan yang dilindungi. Angka luasan karst dan yang dilindungi masih perlu kehati-hatian untuk menjadi acuan.

Proses pelarutan yang berlangsung terus menerus akibat curah hujan yang tinggi di Indonesia, membentuk sistem perguaan yang sangat unik dengan kombinasi lorong berair dan lorong tidak berair. Sungai-sungai bawah tanah mengalir di kegelapan dari ukuran kecil sampai ukuran besar menjadi sumber air yang penting bagi masyarakat di kawasan karst dan sekitarnya sekaligus sebagai habitat berbagai spesies biota.

 

Habitat

Sebagai habitat berbagai spesies flora, fauna bahkan mikroba, karst dan gua menjadi tempat yang belum banyak digali potensinya. Beberapa spesies flora ditemukan hidup di tebing-tebing atau mulut gua yang lembab dan mempunyai sebaran yang sangat terbatas.

Komposisi flora di tebing karst pun mempunyai karakteristik tersendiri antara puncak tebing, tebing karst dan kaki tebing. Mereka telah teradaptasi pada lingkungan yang tinggi kalsium dan di permukaan yang sangat sedikit air. Namun mereka berhasil beradaptasi di lingkungan yang khas tersebut menjadikan spesies flora karst menjadi penting.

Amblypigi yang ditemukan di Goa Sedepan Bu, karst Sangkulirang Kaltim. Foto: Lawalata IPB
Amblypigi yang ditemukan di Goa Sedepan Bu, karst Sangkulirang Kaltim. Foto: Lawalata IPB

Sistem perguaan yang panjang dan gelap menjadi habitat yang sangat khas. Lingkungan yang gelap total serta kelembaban yang tinggi dan rentang suhu yang sangat sempit menyebabkan beberapa spesies fauna yang hidup memiliki bentukan yang sangat aneh.

Fauna dari kelompok arthropoda, hewan berbuku-buku, mendominasi lingkungan gua. Komposisi spesies fauna yang hidup di dalam gua 95% didominasi oleh arthropoda dimana sisanya mamalia dan burung.

 

Adaptasi

Beberapa spesies fauna gua, khususnya arthropoda, mempunyai kemampuan adaptasi yang telah diturunkan selama berjuta-juta tahun sehingga mereka mampu hidup dan beregenerasi turun temurun dengan kenampakan bentuk yang sangat unik dan bahkan aneh.

Spesies khas gua, troglobit, memiliki antena dan kaki yang sangat panjang sebagai akibat tidak berfungsinya indra penglihatan. Mereka banyak menggunakan indra perasa dan peraba untuk mencari pakan dan pasangannya.

Kepiting yang telah menunjukkan tingkat adaptasi tinggi pada lingkungan gua, Sulaplax ensifera endemik Pulau Muna. Foto: Cahyo Rahmadi
Kepiting yang telah menunjukkan tingkat adaptasi tinggi pada lingkungan gua, Sulaplax ensifera endemik Pulau Muna. Foto: Cahyo Rahmadi

 

Salah satu contoh spesies yang memiliki kaki sangat panjang adalah kepiting gua dari Pulau Muna, Sulaplax ensifera, yang hanya ditemukan di satu gua. Spesies ini hidup di gua yang dipenuhi oleh air dan hidup di langit-langit gua yang terendam.

Contoh lain adalah laba-laba matakecil, Amauropelma matakecil, dari Pegunungan Menoreh, Kaligesing, Kabupaten Purworejo, yang matanya sudah mengecil meninggalkan bintik-bintik kecil dan kakinya memanjang dengan warna tubuh coklat pucat karena minimnya pigmen tubuh.

Selain kelompok arthropoda, beberapa ikan gua juga ditemukan di gua-gua di Indonesia seperti Bostrychus macrophthalmus, yang hidup di sungai bawah tanah di Sistem Salukkan Kallang Tanette, Karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan.

Selain itu, ikan khas gua yang sudah mengalami pengecilan mata sehingga kepalanya melengkung juga ditemukan hidup di danau bawah tanah di salah satu gua di Desa Samanggi, Maros. Beberapa ikan gua dengan kenampakan yang aneh juga pernah ditemukan di Gunungsewu di Sungan bawah tanah di Luweng Jurang Jero dan juga danau bawah tanah Luweng Serpeng, Puntius microps. Mereka semua telah teradaptasi pada lingkungan gua dan memiliki sebaran yang sangat sempit.

 

Spesies Baru

Seiring meningkatnya kegiatan eksplorasi keanekaragaman hayati karst dan gua, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat sedikitnya ada 100 spesies, dimana selama 15 tahun terakhir telah ditemukan sedikitnya 30 spesies baru yang langka dan mempunyai tingkat endemisitas sangat tinggi.

Eksplorasi keanekaragaman hayati di Karst Sangkulirang-Mangkalihat mencatat ada sebelas spesies baru dan termasuk satu genus baru kepiting, Guaplax. Sedangkan di Karst Maros-Pangkep sedikitnya ada tujuh spesies baru yang menggunakan akar kata Maros sebagai nama spesies dan genus seperti Marosina brevirostris dan Marosina longirostris (udang gua), Cirolana marosina (isopoda), Pseudosinella maros (ekorpegas).

Udang khas gua endemik Karst Maros, Marosina longirostris. Foto: Rasplus
Udang khas gua endemik Karst Maros, Marosina longirostris. Foto: Rasplus

Semua kawasan karst di Indonesia menjadi gudang spesies baru yang masih perlu terus dieksplorasi sehingga dapat memberi gambaran utuh potensi hayati karst Indonesia.

 

Peran Penting

Gua merupakan salah satu habitat bagi beberapa spesies kelelawar. Sigit Wiantoro ahli kelelawar dari LIPI mencatat, dari sembilan famili kelelawar, tujuh famili kelelawar hidupnya bergantung di ekosistem gua. Di Jawa, tercatat sedikitnya ada 14 spesies kelelawar dimana 85% merupakan kelelawar pemakan serangga sedangkan sisanya pemakan buah dan nektar.

Jutaan kelelawar seperti di Gua Ngerong, Tuban, Jawa Timur mempunyai peran yang sangat penting bagi lingkungan seperti pemencar biji, pemakan serangga yang mampu mengendalikan populasi hama serta membantu penyerbukan tumbuhan yang penting seperti mangrove dan buah-buahan yang ekonomi tinggi.

Berdasarkan penelitian, satu ekor kelelawar pemakan serangga mampu memakan tujuh gram serangga, dimana satu koloni bisa mencapai 20 ton serangga per malam. Bisa dibayangkan berapa jumlah individu serangga yang dimakan kelelawar jika diasumsikan berat serangga sekitar 0.0003 gram.

Kelelawar pemakan buah tidak kalah penting dalam membantu proses regenerasi hutan, seperti dilaporkan oleh Vermaullen & Whitten pada tahun 1999, bahwa tumbuhan beringin 94-100% bijinya disebarkan oleh kelelawar, sedangkan sisanya oleh burung dan monyet.

Keberlangsungan hutan bakau sebagai pencegah abrasi juga banyak dibantu oleh kelelawar pemakan madu yang membantu penyerbukan.

Aktfitas industri ekstraktif di Karst Maros yang menghasilkan polusi debu. Foto: Cahyo Rahmadi
Aktfitas industri ekstraktif di Karst Maros yang menghasilkan polusi debu. Foto: Cahyo Rahmadi

Jasa lingkungan yang sangat penting inilah yang menuntut perlunya perlindungan terhadap kawasan karst di Indonesia. Pemanfaatan yang tidak berdasarkan kajian ilmiah dapat menimbulkan kerugian yang tidak terhitung akibat rusaknya ekosistem yang tidak bisa diperbaharui.

 

Terancam

Keberadaan karst dan gua dengan fungsi ekologisnya saat ini semakin tertekan oleh berbagai kegiatan manusia. Salah satu yang dapat dengan cepat merubah fungsi dan daya dukung adalah industri ekstraktif seperti tambang gamping baik oleh perusahaan besar maupun oleh masyarakat.

Dampak penambangan ini hampir mustahil untuk dipulihkan karena hilangnya kemampuan dan kapasitas karst sebagai penyerap dan penyimpan air. Salah satu hasil kajian laju resap air (infiltrasi) yang dilakukan oleh Djakamihardja & Muhtadi pada tahun 2013 di salah satu tambang di Citeureup menunjukkan lokasi yang ditambang dan yang telah direklamasi kehilangan kemampuan menyerap air lebih dari 75% dibandingkan karst yang belum ditambang. Sedangkan karst yang sudah ditambang dan belum direklamasi hampir 99% hilang kemampuan air meresap.

Kehilangan kemampuan resapan ini menyebabkan risiko berkurangnya pasokan air ke sistem celah rekahan yang tidak hanya berpengaruh pada manusia tapi kehidupan biota yang ada di dalamnya.

Salah satu aktivitas pertambangan karst di Rembang yang mengubah lahan pertanian menjadi tambang. Foto: Tommy Apriando
Salah satu aktivitas pertambangan karst di Rembang yang mengubah lahan pertanian menjadi tambang. Foto: Tommy Apriando

Beberapa spesies biota gua sangat bergantung pada air yang meresap dan menetes di dalam gua seperti Stenasellus javanicus yang ditemukan di Citeureup dan spesies Stenasellus lain di Sukabumi dan Cibadak. Selain itu, kajian biota yang hidup di zona epikarst, zona sekitar 10-15 m dari permukaan yang kaya air, menjadi habitat kelompok udang yang hingga saat ini belum dikaji di Indonesia.

Kehilangan karst akibat pertambangan mengancam kehidupan biota akuatik dan juga biota lain seperti kelelawar yang dapat mengakibatkan hilangnya keseimbangan ekosistem seperti wabah penyakit malaria, demam berdarah, hama pertanian atau hilangnya produksi buah-buahan akibat terganggunya kelelawar penyerbuk di dalam gua.

Potensi hilangnya beberapa spesies khas gua juga dapat terjadi mengingat beberapa spesies khas gua sangat rentan terhadap perubahan lingkungan atau gangguan terhadap habitatnya.

 

Penetapan yang Hati-hati

Penataan pemanfaatan karst di Indonesia perlu dilakukan dengan sangat hati-hati dengan kajian selengkap mungkin.  Munculnya polemik pemanfaatan menjadi indikasi penetapan beberapa kawasan karst sebagai kawasan lindung ternyata belum didukung data yang kuat.

Sebagai contoh, setelah dilakukan kajian ternyata beberapa gua dengan sungai bawah tanah berada di dalam lokasi yang akan ditambang, atau berdekatan dengan lokasi tambang sehingga berpotensi untuk memotong aliran sungai ke mata airnya seperti yang ditemukan di Karst Gombong.

Perbukitan karst di Gombong, dengan hamparan sawah menghijau. Keindahan alam ini terancam pertambangan semen. Foto: Tommy Apriando
Perbukitan karst di Gombong, dengan hamparan sawah menghijau. Keindahan alam ini terancam pertambangan semen. Foto: Tommy Apriando

Ke depan, penetapan kawasan bentang alam karst harus melibatkan berbagai pihak seperti penelusur gua, pecinta alam atau aktivis lingkungkan sehingga data yang digunakan sebagai dasar penetapan semakin kuat dan tidak menimbulkan polemik pemanfaatan.

Pemerintah juga harus benar-benar memperhitungkan opsi moratorium ijin pertambangan sebagai solusi saat ini khususnya di Jawa. Selanjutnya, kajian lingkungan dan ekosistem karst dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya fisik tapi juga biotik yang menjadi satu-kesatuan utuh ekosistem karst.

***

Dr. Cahyo Rahmadi,* Peneliti di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong dan Presiden Indonesian Speleological Society. Email: [email protected]

(Visited 1 times, 2 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , ,