Mencabut Gigi Kukang Sama Saja Membunuhnya Perlahan

 

 

Para pemburu, biasanya dengan tega mencabut gigi kukang setelah menangkapnya di alam. Padahal, perbuatan tercela itu sama saja membunuh kukang perlahan. Selain tentunya, melakukan kejahatan lingkungan karena menangkap satwa yang dilindungi undang-undang.

Wirdateti, peneliti primata Divisi Zoologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI), menuturkan umumnya gigi kukang yang dicabut oleh pemburu itu berhubungan dengan gigitan kukang yang mengandung racun. Padahal, bukan giginya yang beracun. Lalu?

Gigi kukang memang tidak beracun. Venon atau racun berasal dari kelenjar lengan bagian atas, berupa cairan. Apabila kukang stres/tertekan, ia akan mengangkat atau menyilangkan tangannya ke belakang atau atas kepala sembari menjilat lengan atas yang mengandung racun itu. “Perilaku ini dilakukan guna mempertahankan diri dari segala marabahaya.”

Wirdateti melanjutkan, cairan racun itu akan bercampur air liur dan ketika kukang menggigit maka si penderita akan terkena racun. Gejala yang dirasakan biasanya muntah, pusing, dan bengkak di bagian yang digigit. “Pada beberapa kasus, ada juga yang mengalami pembengkakan bibir.”

Umumnya, kukang yang ditangkap dari habitat alaminya, dalam bentuk perlakuan apapun akan mengalami stres. Nah, biasanya pemburu dan tak jarang pedagang akan mencabut atau memotong giginya itu, dengan pembenaran sendiri, demi memudahkan menangani kukang tersebut. “Atau juga, karena takut digigit sehingga hampir semua kukang yang ditangkap itu dicabut giginya.”

 

Infeksi yang terjadi pada kukang akibat giginya dipotong oleh pemburu atau pedagang satwa ilegal. Foto: IAR Indonesia

 

Gigi yang dipotong atau dicabut rata-rata gigi taring yang berfungsi untuk menggigit pakan yang keras seperti serangga/insect dan buah. Juga, dipergunakan untuk mengunyah dan menghancurkan pakan hingga ditelan. Tanpa taring, kukang dipastikan tidak bisa mencerna makanan yang membuatnya kekurangan asupan gizi, terutama protein hewani. Sehingga, kukang rentan sakit.

Pemotongan atau pencabutan gigi taring yang tidak steril itu, lanjut Wirdateti, menyebabkan infeksi dan menurunkan daya tahan tubuh kukang. “Akibatnya fatal, berujung kematian.”

Padahal, kukang sebagaimana satwa liar lainnya berperan penting dalam rantai ekosistem lingkungan. Kukang memakan buah sekaligus menebar biji. Kukang juga pemakan serangga, sekaligus membantu penyerbukan bunga dan pembasmi hama. Hadirnya kukang di hutan memperbanyak tumbuhan bersemi sekaligus membantu satwa lain untuk tumbuh kembang. “Meski ada juga predatornya seperti ular, burung elang, anjing hutan, dan macan tutul.”

Kukang jawa (Nycticebus javanicus), adalah jenis yang paling banyak diburu dibandingkan kukang sumatera (Nycticebus coucang), dan kukang kalimantan (Nycticebus menagensis). Namun, bukan berati dua jenis kukang lainnya aman dari penangkapan. Ini tidak lepas dari dekatnya pasar gelap atau pusat perdagangan ilegal yang ada di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan. “Transportasinya mudah, sehingga pemburu dan pedagang lebih leluasa memasarkannya,” tuturnya akhir pekan ini.

 

 

Menderita

Wendi Prameswari, Manager Animal Care IAR Indonesia, menjelaskan gigi kukang yang dicabut atau dipotong, tidak akan pernah muncul lagi. Gigi tersebut mulai tumbuh saat kukang bayi. Jadi, ketika giginya dicabut atau dipotong oleh pemburu maupun pedagang, otomatis tidak akan tergantikan, begitu saja. “Ini beda dengan gigi manusia. Kalaupun gigi kukang ada yang tumbuh, itu juga bagian belakang seperti geraham. Jadi, bila giginya dicabut, ompong selamanya.”

Wendi mengatakan, pada beberapa kasus yang ditemukan, ketika taring kukang sudah dicabut, kesehatan fisiknya jauh menurun. Nafsu makan berkurang, kurus, malnutrisi, bahkan anemia atau kurang darah. Sakit tiada tara akan dirasakan kukang saat taringnya dicabut atau dipotong,  bentuk penyiksaan luar biasa. “Hal utama yang kami lakukan adalah perawatan, mulai dari pemberian antibiotik, pemulihan kondisi badan dan melihat kesehatan gigi kukang itu sendiri. Biasanya bengkak bernanah.”

 

Sesungguhnya, kukang bukan satwa peliharaan untuk diperdagangkan. Hidup kukang di hutan. Foto: IAR Indonesia

 

Di IAR Indonesia, ada sekitar 120 kukang, dari total 196 individu, yang tidak bisa dilepasliarkan lagi di alam. Kukang-kukang tersebut tidak memiliki gigi, penghuni terlama sejak 2008. Dari sisi kesejahteraan, IAR Indonesia tetap memenuhi kebutuhan pakan, menjaga kesehatan, dan   menempatkannya di kandang yang layak. Meski, kandang itu bukan rumah ideal kukang yang seharusnya beraktivitas di hutan. “Yang pernah tercatat, usia kukang yang hidup di kandang kebun binatang mencapai 20 tahun,” ujar dokter hewan yang bergabung sejak 2011 ini.

Permasalahan serius yang ditangani saat ini, menurut Wendi, adalah kukang yang kehilangan gigi tersebut tidak bisa diprediksi usianya. Sehingga, akan tidak diketahui berapa lama kukang menghuni kandang. Penggolongan umur ini adalah bayi, 0 – 1 tahun yang kelihatan dari rambut putih mekar. Remaja, 1 – 2 tahun, rambut putih akan berganti coklat, dan menginjak dewasa ketika 2 – 3 tahun. Di atas 3 tahun, kukang terlihat cukup matang.

 

Wendi Prameswari menunjukkan tengkorak kukang sumatera, saat disambangi di kantor IAR Indonesia, Bogor. Foto: Rahmadi Rahmad

 

“Harapan kami, perlindungan habitat satwa liar untuk kukang dan jenis lainnya harus dilakukan beserta penegakan hukum. Dengan begitu perburuan dan perdagangan kukang bisa ditekan. Pastikan juga, Anda tidak membeli dan memelihara kukang,” tegas Wendi di kantor IAR Indonesia, Bogor.

Di Indonesia, berdasarkan ekologi dan persebarannya, terdapat tiga spesies kukang yaitu kukang jawa, kukang sumatera, dan kukang kalimantan. Berdasarkan data IUCN (International Union for Conservation of Nature), kukang jawa berstatus Kritis (Critically Endangered/CR) atau satu langkah menuju kepunahan di alam. Sementara kukang sumatera dan kukang kalimantan kondisinya Rentan (Vulnerable/VU).

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , ,