Para Mahasiswa Ini Jadikan Minyak Jelantah Beragam Energi Terbarukan

 

 

Jolang Budiarta bersama keempat temannya punya kekhawatiran sama terhadap konsumsi minyak bumi dan persediaan sumber energi di Indonesia yang kian menipis. Dia bersama Ahmad Fauzy, Mohamad Ulil Absor, Muhammad Isma’il Hamidiy dan Taufiqur Rohman, sesama mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, mencoba mencari solusi. Mereka mengembangkan energi terbarukan, dengan jadikan minyak jelantah, sisa minyak goreng,  jadi biodiesel.

“Biodiesel salah satu pilihan energi terbarukan potensial dikembangkan,” kata Jolang bercerita pada Mongabay minggu lalu.

Pemilihan jelantah, katanya, karena ketersediaan cukup melimpah, setiap hari selalu ada. Jelantah, katanya, mengandung senyawa trigliserida yang bisa diubah jadi biodiesel. Pembuangan minyak jelantah oleh konsumen dapat direduksi karena ada nilai komersial dari limbah minyak itu.

Data Kuncahyo 2013, menyebutkan, produktivitas minyak jelantah di Indonesia sebesar 6,43 juta ton per tahun. Jadi, dapat diperkirakan begitu melimpah limbah minyak bekas penggorengan ini.

Mulailah mereka penelitian dengan mengumpulkan jelantah dari rumah-rumah, dan beberapa warung makan.

Kebanyakan jelantah justru dibuang ke saluran air yang dapat mencemari lingkungan. Padahal,  katanya, biodiesel salah satu pilihan keberlangsungan energi dunia di masa depan.

“Sudah seharusnya bila penelitian semacam ini dilakukan lebih mendalam. Kami berlima berinisiatif memanfaatkan limbah ini jadi biodiesel dan solusi energi terbarukan,” ucap Jolang.

Mereka baru mencoba jelantah dari minyak sawit. Jenis lain, seperti minyak jagung, minya kelapa belum dilakukan percobaan. Intinya, jika mengandung asam lemak dan trigliserida, dapat sebagai bahan baku biodiesel.

Jolang bilang, penelitian minyak jelantah jadi biodiesel sudah banyak dilakukan peneliti Indonesia maupun dunia. Meskpun begitu, proses ini sebagai produk samping (gliserol) belum tergali lebih lanjut. Kebaruan penelitian ini, katanya, pemanfaatan kembali produk samping dan konversi menjadi triasetin.

Triasetin, katanya,  dapat meningkatkan angka biodiesel. “Peneliti sebelumnya membuat triasetin dengan gliserol pabrikan, kami gunakan gliserol dari produk samping biodiesel. Ini produk renewable energy berbasis green chemistry. Kita memanfaatkan minyak jelantah dan kembali pakai lagi produk samping biodiesel,” katanya.

Penelitian berlangsung sekitar 2,5 bulan sejak April 2017. Kini, mereka  telah menghasilkan biodiesel,  sedang pemurnian gliserol, bakal diubah jadi triasetin. Hal lain, bahan jelantah mudah diperoleh, dapat dihasilkan dari alam dan hampir setiap hari ada.

 

Biodiesel minyak jelantah hasil penelitian sementara. Foto: Tommy Apriando

 

Keunggulan minyak jelantah, katanya, kandungan asam palmitat dan asam oleat cukup tinggi sebesar 32-47% dan 38-56%. Zat ini buat membentuk biodiesel.

“Emisi yang dihasilkan relatif lebih sedikit, dan tak memiliki kandungan sulfur hingga tak berkontribusi pembentukan hujan asam.”

Taufiqur Rohman, tim peneliti menambahkan, kedepan mereka mengupayakan agar karakteristik biodiesel sesuai standar nasional hingga kualitas sebanding bahkan lebih baik dari minyak diesel di pasaran.

“Kami akan menyelesaikan penelitian ini hingga didapatkan data lebih lengkap.  Kami terus mencoba berinovasi dan berkarya.”

 

Biopelumas dan biogasolin

Minyak jelantah tak hanya jadi biodiesel. Yehezkiel Steven Kurniawan bersama rekan di UGM jadikan minyak jelantah biopelumas dengan memodifikasi struktur asam oleat di dalamnya.

“Minyak jelantah masih ada kandungan asam oleat bisa sebagai biopelumas,” kata Yehezkiel.

Pelumas merupakan salah satu produk olahan minyak bumi tetapi tak ramah lingkungan karena sulit terurai dan bersifat toksit jika dibuang langsung.

Saat ini, katanya,  banyak dikembangkan pelumas minyak tumbuhan (biopelumas) seperti minyak kedelai, minyak jarak dan minyak sawit.

Steven dan kolega membuat biopelumas dari minyak jelantah dengan modifikasi untuk menstabilkan asam oleat terhadap oksidasi dan tak menyebabkan korosi mesin.

Penelitian Steven tak hanya mampu meminimalkan korosi dan meningkatkan kestabilan biopelumas akan oksidasi tetapi bisa jadi alternatif pelumas terbarukan.

Sesama UGM, Abdul Afif, juga jadikan minyak jelantah jadi biogasoline.  Dia bersama rekannya, memanfaatkan rekasi hydrocracking untuk mengonversi minyak jelantah jadi biogasolin.

“Kami gunakan tanah liat atau yaitu bentonit terpilar alumina yang mudah didapat di alam. Lalu tanah liat diaktifkan dengan logam kadium sebagai katalisator,” katanya.

Adapun alur proses produksi biogasolin mulai dengan pembuatan katalis sebagai media konversi minyak jelantah. Proses produksi melalui proses hydrocracking. Panaskan minyak jelantah dalam tanur listrik, lalu akan menguap mengalir melewati katalis. Hasilnya,  akan menetes jadi campuran biogasolin dan biodiesel yang dipisahkan pakai  metode destilasi.

“Hasilnya bisa memproduksi 42% biogasolin (bensin) dan 29% biodiesel (biosolar). Dalam satu liter minyak memproduksi sekitar 420 ml, 240 ml biogasolin dan 180 biodiesel,”katanya.

Rekan Afif, Endri Geovani mengatakan, katalis tanah liat  dapat terpakai berulangkali hingga memungkinkan masyarakat produksi sendiri biogasoline atau biodiesel dari minyak jelantah maupun minyak goreng baru.

Endri berharap, penelitian ini bisa dikembangkan lebih lanjut. Bahkan, dapat diproduksi sebagai bahan bakar alternatif ramah lingkungan.

 

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , ,