- Simon Munasikin (48) warga Dusun Gempol, Desa Ngresepbalong, Kecamatan Limbangan, Kendal, Jawa Tengah berupaya menyelamatkan anggrek di Gunung Ungaran. Ia berburu anggrek pada pohon tumbang, menangkarkannya, lalu melepasliarkannya.
- Upaya Simon dilatarbelakangi keprihatinannya karena anggrek Gunung Ungaran sudah mulai susah ditemui di hutan. Tak seperti saat ia masih kecil. Hal tersebut disebabkan perburuan liar ataupun pembukaan lahan. Ia lantas memulai aksinya pada 2017.
- Jurnal Orchids of Mount Ungaran (Indonesia) compiled from decade of data collections between 2010 and 2021 mencatat ada 115 spesies anggrek ditemukan di Gunung Ungaran kurun waktu 10 tahun. Sebanyak 27 spesies merupakan endemik Indonesia dan 8 spesies merupakan endemik Pulau jawa.
- Setidaknya sudah ada 17 jenis anggrek yang berhasil ditangkarkan dan dilepasliarkan oleh Simon. Di antaranya anggrek kuku macan (aeredes), anggrek bulan (phallanopsis amabilis), anggrek ekor tupai (ryncotilis retusa), anggrek vanda triclolor, anggrek kasut hijau (papiopadillum javanicum).
Hujan dengan angin kencang mengakibatkan beberapa pohon tumbang di sekitar lereng Gunung Ungaran, siang itu. Kabar itu Simon Munasikin (48) peroleh dari informasi warga sekitar yang dikirim ke telepon selulernya.
Warga Dusun Gempol, Desa Ngresepbalong, Kecamatan Limbangan, Kendal, Jawa Tengah (Jateng) ini pun segera bersiap. Begitu hujan reda dan situasi cukup aman, dia dan beberapa warga lain berangkat menuju lokasi pohon tumbang. Bukan untuk mengambil kayu, untuk mencari anggrek yang menempel di pohon itu.
Aksinya makin unik karena anggrek-anggrek yang Simon dapatkan itu bukan untuk jual seperti kebanyakan orang tetapi memindahkan ke ke pohon lain.
Anggrek memiliki sifat epifit, hidup menempel di pohon tanpa mengganggu kehidupan pohon itu. Meski begitu, sebagian besar keberlangsungan hidup bergantung pada pohon. Jadi, ketika pohon tumbang maka sebagian anggrek ikut mati.
“Kenapa hari ini anggrek harus diselamatkan? Supaya nanti anak cucu bisa lihat anggrek ini secara langsung, tidak lewat buku, tidak melihatnya di gambar gitu,” katanya belum lama ini.
Bukan tanpa alasan Simon mengatakan hal tersebut. Saat masih kecil, anggrek di hutan sangat mudah dia temui di desanya. Kini, hutan sudah tak seperti dahulu karena banyak pemburu anggrek dan alih fungsi lahan. Berangkat dari situlah, dia berupaya menjaga dan melestarikan anggrek hutan.
“Jadi tak hanya untuk dilestarikan tapi media belajar dan untuk penelitian,” katanya.
Upaya menyelamatkan anggrek liar ini sudah dia lakukan sejak 2017. Simon meninggalkan pekerjaan di Semarang dan fokus upaya konservasi skala kecil. Meski tak pernah mengenyam pendidikan kehutanan, pertanian, biologi, atau bidang ilmu alam lain, namun kecintaan pada alam tak perlu diragukan lagi. Simon meyakini anggrek liar di hutan sebagai satu indikator ekosistem terjaga dan hutan masih asri.

Perburuan anggrek
Simon bilang, praktik perburuan anggrek hutan di Gunung Ungaran sudah lama terjadi. Karena itu, pohon-pohon tumbang harus segera disisir untuk menyelamatkan anggrek yang melekat. Anggrek harus segera dipindah dan diselamatkan dari para pemburu.
Jenis anggrek Gunung Ungaran sangat beragam. Laporan Firman Heru Kurniawan dkk., yang dipublikasikan Nusantara Bioscience mencatat, ada 115 spesies anggrek ditemukan di Gunung Ungaran. Sebanyak 27 spesies merupakan endemik Indonesia dan 8 spesies endemik Jawa. Ada 4 dari 8 spesies endemik jawa masuk dalam daftar merah Interanational Union for Conservation Nature (IUCN).
Praktik perburuan anggrek kerap melibatkan warga asli yang tinggal di sekitar lereng pegunungan. Para pengepul memanfaatkan warga untuk berburu anggrek karena mereka dinilai lebih tahu lokasi persis anggrek-anggrek tersebut berada.
Warga kerap tergiur nilai ekonomi anggrek yang besar. Apalagi anggrek gunung yang langka peminatnya banyak. Mereka berani merogoh kocek hingga jutaan rupiah demi satu anggrek saja.
“Jadi ada pedagang yang dia memang jual-beli anggrek. Terus nyuruh orang untuk ambil dan kasih upah. Ambilnya karungan banyak, kadang bawa pick-up. Sampai sekarang terjadi hampir semua gunung,” jelas Simon.
Dia meyakini, bisnis anggrek gunung ini merusak lingkungan. Para pemburu hanya fokus mendapatkan anggrek sebanyak mungkin tanpa upaya melestarikan, apalagi membudidayakan.
Menurut Simon, upaya menghentikan praktik lancung ini terbilang sulit. Maklum, banyak akses yang menjadi pintu masuk ke Gunung Ungaran. Melarang orang datang dan berhenti memburu anggrek liar juga susah dilakukan. Rawan konflik.
“Alam ini rusak kalau tolak ukurnya uang.”
Selain mencari anggrek dari pohon tumbang, Simon juga berupaya membeli anggrek liar Gunung Ungaran yang dahulu diambil warga. Kemudian ditangkarkan. Beruntung jika warga memberi secara ikhlas untuk ditangkarkan. Warga biasanya menanam di sekitar rumah, ditempelkan di pohon mangga.
“Ada sensasi menyenangkan bisa ambil anggrek di hutan. Terus ditanam jadi pride dan kebanggaan,” katanya.
Masalahnya, terkadang warga tidak mau begitu saja melepas anggreknya. Melalui edukasi yang dilakukan secara terus menerus, mereka akhirnya memahami dan memperbolehkan anggrek untuk ditangkarkan.
Semula, Simon kerap mendapat cemoohan warga atas usahanya menyelamatkan anggrek gunung ini. Seiring berjalannya waktu, ejekan itu berbalik. Bahkan, tidak sedikit warga yang kini mendukung upayanya dan ikut serta mencari anggrek liar jika ada pohon tumbang.

Perbanyakan anggrek
Anggrek yang ditemukan di pohon tumbang ditanam kembali di pohon besar lain. Saking tingginya pohon, terkadang dia harus menyewat pemanjat.
Beberapa anggrek dia bawa pulang untuk pengembangbiakan. Simon membangun green house di lahan milik orangtuanya. Dia juga bikin laboratorium kecil-kecilan di rumahnya. Pelepasliaran anggrek biasa mulai survei lokasi.
Orang kerap mencibirnya karena anggrek yang Simon budidayakan tak semuanya memiliki nilai ekonomi tinggi, bahkan tak laku dijual. Namun Simon tak gentar. Lagipula anggrek hasil budidayanya memang untuk dikembalikan lagi ke hutan. Bukan untuk dijual.
“Kalau upaya konservasi penanaman liar anggrek di hutan ini tidak kita laksanakan musnah semua. Semua gunung, bukan hanya Gunung Ungaran.”
Upaya melepasliarkan anggrek juga memiliki risiko orang tak bertanggungjawab. Setidaknya, jika ada pemburu datang, Simon dapat berdalih bahwa anggrek itu dirawat dan dijaga kelestariannya.
Simon memiliki hak garap tanah tumpangsari dari pemerintah, namanya Sanggem. Dia memanfaatkan tanah tetap menjadi hutan namun tetap bisa menjadi tempat melepasliarkan anggrek.
Setidaknya, ada 17 jenis anggrek Simon tangkarkan, seperti, anggrek kuku macan (Aeredes), anggrek bulan (Phallanopsis amabilis), anggrek ekor tupai (Ryncotilis retusa), anggrek vanda triclolor, anggrek kasut hijau (Papiopadillum javanicum).
“Kita memang ada pendekatan sama edukasi dengan beberapa teman nanti buat plang-plang dan sebagainya agar orang paham anggrek sengaja dilepas liarkan.”

Gagas Omah Sawah Kendal
Simon juga menggagas Omah Sawah Kendal. Ia sebagai sebuah wadah merespon isu lingkungan. Pendekatan konservasi berpadu budaya, wisata, dan edukasi. Dia memadukan kegiatan konservasi dengan seni untuk menarik perhatian warga.
Omah Sawah Kendal terbuka bagi siapa saja yang memiliki ketertarikan terhadap budidaya, adopsi, dan penangkaran anggrek. Termasuk bagi yang tertarik pelepasliaran anggrek dan ikut terlibat menjadi bagian darinya.
“Saya percaya anggrek juga sebagai salah satu penopang ekosistem hutan yang tak boleh punah.”
Omah Sawah Kendal juga mengajak perempuan dan anak muda untuk menjadi agen perubahan di wilayah itu. Mereka diajak menangkarkan anggrek hingga pelepasliaran. Tujuannya, agar saling mendukung kelestarian anggrek, saling berinteraksi sekaligus upaya edukasi pentingnya penangkaran. Mereka juga diberi edukasi budidaya anggrek.
“Metode kultur jaringan masyarakat juga bisa melakukan penangkaran anggrek budidaya yang memiliki nilai ekonomi tinggi.”
Saba Alas, salah satu kegiatan yang diciptakan Omah Sawah dan sudah berjalan dengan baik. Program ini mengajak pengunjung melakukan perjalanan singkat mengenal biodiversitas dan lingkungan di Lereng Gunung Ungaran. Pengunjung diajak mengamati flora fauna setempat kemudian menikmati sajian teh dan kopi lokal yang diracik oleh warga lokal. Jadi semangat pemberdayaan juga ada di Omah Sawah Kendal.
*****