- Lembaga konservasi dunia memperbarui Daftar Merah (Red List) akhir tahun dengan memindahkan status sejumlah spesies dari Kritis (Critically Endangered) menjadi Punah (Extinct), menyusul kegagalan pencarian ekstensif selama puluhan tahun untuk menemukan tanda-tanda kehidupan mereka.
- Daftar kepunahan mencakup berbagai kelompok spesies, mulai dari Slender-billed Curlew (burung), tiga spesies Bandicoot dan Christmas Island Shrew (mamalia), Cone Snail (moluska), hingga pohon eboni Diospyros angulata (flora).
- Hilangnya spesies-spesies tersebut secara permanen disebabkan oleh kombinasi kerusakan habitat, tekanan spesies invasif, dan perubahan iklim, yang menjadi peringatan keras bagi kelangsungan ribuan spesies lain yang saat ini berstatus terancam.
Krisis biodiversitas global mencatatkan tonggak kelam pada tahun 2025 dengan diumumkannya deklarasi kepunahan resmi untuk sejumlah spesies yang telah lama menghilang. Dalam pembaruan akhir tahun IUCN Red List of Threatened Species, lembaga konservasi dunia tersebut memindahkan status berbagai spesies dari kategori Kritis (Critically Endangered) menjadi Punah (Extinct). Keputusan ini diambil setelah upaya pencarian ekstensif selama beberapa dekade gagal menemukan tanda-tanda kehidupan. Hal ini mengonfirmasi bahwa ancaman perubahan iklim dan hilangnya habitat telah melewati batas toleransi bagi keberlangsungan spesies-spesies tersebut.
Daftar kepunahan tahun ini mencakup rentang taksonomi yang luas, mulai dari fauna hingga flora. Di antaranya adalah Slender-billed Curlew (Numenius tenuirostris), burung pantai migratori yang terakhir terlihat pada 1995, serta mamalia endemik seperti Christmas Island Shrew dan tiga spesies Bandicoot Australia yang kini hanya tinggal catatan sejarah. Tidak hanya vertebrata, IUCN juga menetapkan status punah bagi Cone Snail (Conus lugubris), moluska laut yang menghilang sejak 1980-an, serta Diospyros angulata, spesies pohon eboni yang telah absen dari catatan botani selama lebih dari satu abad.
Deklarasi ini menegaskan bahwa tahun 2025 menjadi momen peringatan serius bagi upaya konservasi global. Masuknya spesies-spesies tersebut ke dalam kategori Punah bukan sekadar perubahan status administratif, melainkan pengakuan formal atas hilangnya warisan genetik unik bumi secara permanen. Para ahli memperingatkan bahwa tanpa intervensi yang drastis terhadap laju pemanasan global dan kerusakan ekosistem, ribuan spesies lain yang kini berstatus terancam punah berisiko menyusul nasib Slender-billed Curlew dan Diospyros angulata dalam waktu dekat.
Akhir Migrasi Panjang Slender-billed Curlew
Penetapan status punah bagi Slender-billed Curlew atau dalam bahasa Indonesia disebut burung Gajahan paruh ramping mengakhiri harapan panjang para peneliti burung dunia. Numenius tenuirostris dulunya berkembang biak di wilayah taiga Siberia dan melakukan migrasi jarak jauh menuju kawasan Mediterania dan Afrika Utara. Penurunan populasi spesies ini terjadi sangat drastis sepanjang abad ke-20.

Upaya pencarian intensif telah dilakukan di berbagai lokasi persinggahan utama, termasuk di Italia, Yunani, dan lahan basah Afrika Utara, namun tidak membuahkan hasil. Para ahli ornitologi menyimpulkan bahwa konversi lahan basah menjadi area pertanian dan perburuan liar di sepanjang jalur migrasi menjadi penyebab utama kepunahan spesies ini. Tidak adanya catatan penampakan yang valid selama 30 tahun terakhir menjadi dasar kuat bagi IUCN untuk mengubah statusnya menjadi punah.
Hilangnya Mamalia Endemik Australia
Benua Australia kembali mencatatkan penambahan daftar mamalia yang punah akibat tekanan ekologis yang berat. Tiga spesies bandicoot, yaitu Marl, South-eastern Striped Bandicoot, dan Nullarbor Barred Bandicoot, telah dihapus dari daftar spesies yang masih bertahan. Bandicoot merupakan marsupial penggali tanah yang memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tanah hutan. Predasi oleh spesies invasif seperti kucing liar dan rubah, serta perubahan rezim api di habitat asli mereka, dinilai sebagai faktor utama yang mendorong kepunahan ini.

Di wilayah terluar Australia, mamalia kecil Christmas Island Shrew (Crocidura trichura) juga dinyatakan punah. Hewan endemik Pulau Christmas ini belum pernah tercatat lagi sejak akhir 1980-an. Penurunan populasi spesies ini berkorelasi kuat dengan invasi semut gila kuning (Anoplolepis gracilipes) yang mendestabilisasi ekosistem pulau tersebut dan mendesak fauna asli ke ambang kepunahan.
Jejak Flora dan Fauna Laut yang Terhapus
Laporan IUCN 2025 juga menyoroti kepunahan pada kelompok invertebrata dan tumbuhan yang kerap luput dari perhatian publik. Cone Snail (Conus lugubris), moluska laut yang berasal dari perairan Kepulauan Cape Verde, dinyatakan punah. Spesies ini menghilang akibat degradasi habitat pesisir dan pencemaran laut di wilayah sebarannya yang terbatas.

Sementara itu, spesies pohon Diospyros angulata (Poir.) dari keluarga kayu hitam atau eboni kini resmi dikategorikan punah. Pohon endemik Mauritius ini memiliki catatan herbarium terakhir pada awal 1850-an. Eksploitasi kayu berlebihan di masa kolonial dan pembukaan hutan dataran tinggi untuk perkebunan menyebabkan spesies ini tidak dapat bertahan. Survei botani modern di sisa-sisa hutan asli Mauritius gagal menemukan individu yang tersisa, menjadikan D. angulata sebagai simbol hilangnya kekayaan botani dunia.
Kepunahan Sunyi di Perairan Tanjung Verde
Di ekosistem laut, nasib Cone Snail (Conus lugubris) menjadi pengingat pedih tentang betapa rentannya biota laut endemik. Siput laut karnivora yang hanya ditemukan di wilayah terbatas Kepulauan Tanjung Verde (Cape Verde), Afrika Barat, ini dinyatakan punah setelah survei berulang selama lebih dari tiga dekade gagal menemukannya. Spesimen hidup terakhir tercatat pada akhir 1980-an.

Para ahli biologi kelautan mengaitkan kepunahan ini dengan degradasi habitat pesisir yang masif. Pembangunan infrastruktur pariwisata dan polusi air di habitat dangkal berbatu tempat spesies ini mencari makan telah menghancurkan populasi mereka. Selain itu, keindahan cangkang Conus yang khas menjadikannya target perburuan kolektor di masa lalu, mempercepat laju kepunahannya. Hilangnya C. lugubris menandai lenyapnya predator mikro yang memiliki peran spesifik dalam mengontrol populasi cacing laut (marine worms) di ekosistem bentik setempat.
Delissea sinuata: Yang Hilang dari Hutan Hawaii
Daftar kepunahan tahun ini tidak hanya diisi oleh fauna. Dunia botani juga kehilangan salah satu anggotanya yang unik, Delissea sinuata. Tanaman yang merupakan endemik dari pegunungan Waianae di pulau Oahu, Hawaii, ini secara resmi dinyatakan Punah (Extinct) dalam pembaruan Daftar Merah IUCN Oktober 2025.
Spesies ini sebenarnya sudah lama “menghilang” dari pandangan mata manusia. Spesimen terakhirnya dikoleksi pada tahun 1937. Selama hampir sembilan dekade, para ahli botani masih menyimpan harapan tipis bahwa mungkin masih ada sisa populasi yang bertahan di celah-celah tebing atau lembah tersembunyi yang sulit dijangkau. Namun, survei intensif dan menyeluruh yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir gagal menemukan satu pun individu yang tersisa.

Kepunahan Delissea sinuata menjadi cermin dari krisis biodiversitas yang melanda kepulauan pasifik. Sebagai tanaman yang berevolusi dalam isolasi, ia tidak memiliki pertahanan alami terhadap ancaman dari luar. Invasi hewan pendatang seperti babi hutan dan kambing liar yang merusak vegetasi asli, ditambah dengan persaingan agresif dari tanaman invasif, perlahan namun pasti mendesak spesies ini hingga ke titik nol. Hilangnya Delissea sinuata menandai padamnya satu lagi garis keturunan evolusi unik yang tidak akan pernah tumbuh kembali.