- Sebuah studi baru-baru ini ungkap kemampuan kepiting biola (Uca spp) mengurai mikroplastik. Dalam risetnya, para peneliti asal Universitas Exter, Inggris itu memukan bagaimana spesies yang banyak ditemukan di daerah tropis ini mengurai partikel mikroplastik hanya dalam beberapa hari.
- Kepiting biola adalah salah satu jenis kepiting yang hidup di perairan tropis, termasuk perairan Indonesia yang menjadi habitatnya. Kepiting tersebut berukuran lebih kecil dari jenis yang lain, dengan daging yang jauh lebih sedikit. Kepiting ini banyak ditemuk di daerah tropis, termasuk Indonesia.
- Habitat kepiting biola bisa ditemukan di sepanjang pantai, rawa, laguna, dan dataran lumpur pada zona pasang surut, beserta jenis lahan basah payau, atau air asin lainnya. Kepiting biola biasanya paling banyak ditemukan di ekosistem mangrove di pesisir.
- Temuan itu menjadi kabar baik, sekaligus buruk. Menjadi kabar baik, karena itu bisa mengurangi jumlah mikroplastik yang ada di atas dan bawah lumpur. Sementara, kabar buruk karena akan berbahaya bagi kesehatan manusia jika sampai dikonsumsi
Sebuah studi baru-baru ini ungkap kemampuan kepiting biola (Uca spp) mengurai mikroplastik. Dalam risetnya, para peneliti asal Universitas Exter, Inggris itu memukan bagaimana spesies yang banyak ditemukan di daerah tropis ini mengurai partikel mikroplastik hanya dalam beberapa hari.
Proses itu terbilang cepat dari kemampuan sinar matahari dan gelombang dalam memecah partikel yang sama. Pada saat sama kepiting biola juga memiliki kemampuan mengaduk sedimen sebagai bagian dari proses makan dan berlindung.
Meksi terdengar positif, terdapat ancaman serius dari kemampuan kepiting biola mengurai mikroplastik ini. Terutama berkaitan dengan rantai makanan yang berakhir di jaringan tubuh manusia. Pasalnya, kepiting biola berpotensi melepaskan nanoplastik yang lebih berbahaya jika manusia mengkonsumsinya.
Jose M. Riascos, ahli ekologi kelautan memimpin langsung proses penelitian yang berlangsung di Teluk Uraba, kawasan mangrove dengan kontamisasi mikroplastik tertinggi di dunia. Sepanjang pengamatannya, kepiting bisa bertahan hidup dan berkembang biak, walau sudah tercemar.
Sejauh ini, para peneliti masih penasaran apa yang membuat kepiting-kepiting biola bisa bertahan hidup di tengah limbah plastik yang sangat tinggi. Apalagi, populasi juga terus berkembang.
Penelitian itu fokus untuk menjawab tiga pertanyaan spesifik. Pertama, seberapa besar penyerapan mikrosfer oleh kepiting saat makan. Kedua, bagaimana mikrosfer terdistribusi di antara organ-organ utama.
Ketiga, ingin mengetahui apakah interaksi kepiting dengan mikrosfer menyebabkan fragmentasi fisik menjadi partikel yang lebih kecil.
Berdasarkan hasil penelitian itu, dia bersama tim mendapatkan hasil bahwa ada penumpukan mikroplastik dengan konsentrasi 13 kali lipat dari yang para peneliti temukan di sedimen.
Lebih buruk lagi, mikroplastik yang masuk ke tubuh kepiting biola ternyata tidak terdistribusi di organ secara merata.
Berdasarkan temuan, itu terkonsentrasi dalam jumlah terbesar di usus belakang, hepatopancreas, dan insang.
Riascos adalah profesor ekologi laut dari Universidad de Antioquia, Kolombia. Selain dia, ada juga The Corporation Center of Excellence in Marine Sciences (CEMarin), sebuah konsorsium akademik non profit berbasis di Bogota, Kolombia.
Penelitian ini sekaligus untuk menantang teori bahwa moluska bivalvia seperti kerang adalah yang paling rentan jika menelan mikroplastik. Namun, hasilnya di luar dugaan karena kelompok tersebut sangat kuat untuk bertahan hidup.
Tamara Galloway, profesor ekotoksikologi Univ Exeter juga menyatakan kebingungannya dengan perilaku kepiting biola itu. Baginya, penelitian menjadi menarik, karena sebenarnya ada banyak cerita yang belum terungkap tentang dampak buruk limbah plastik pada hewan dan tumbuhan.

Kemampuan adaptasi
Daniela Diaz dari Universidad de Antioquia mengatakan, terdapat 95 kepiting biola menjadi sampel dalam penelitian ini. Dari sampel-sampel itu, terungkap bila spesies ini memiliki kemampuan lebih untuk beradaptasi dari tekanan alam.
“Hasil ini mengarahkan pada pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana hewan beradaptasi dengan polusi dan bagaimana nasib plastik di lingkungan.”
Dia menjelaskan, setelah mikroplastik ada dalam tubuh kepiting biola, maka fragmentasi akan menjadi proses selanjutnya. Hasilnya, partikel yang terfragmentasi lebih banyak terdapat pada kepiting betina, bukan jantan.
Selain itu, temuan juga menghasilkan kesimpulan bila proses fragmentasi sangat terbantu oleh usus dan bakteri pengurai plastik yang ada dalam tubuh kepiting.
Hasil itu menegaskan kalau makhluk itu bukan komponen pasif dalam ekosistem laut, namun bisa beradaptasi menyesuaikan diri terhadap tekanan antropogenik kronis.
“Hasil penelitian ini dapat mengarah pada pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana hewan beradaptasi dengan polusi dan nasib plastik di lingkungan.”
Saat penelitian, tim memilih lima titik hutan mangrove seluas satu meter persegi (m2) sebagai lokasi percobaan. Setiap titik kemudian disemprot 100 mililiter (ml) larutan yang mengandung mikrosfer polietilen yang diberi label fluoresensi merah dan hijau.
Proses itu peneliti lakukan berulang selama 66 hari eksperimen. Setelah itu, tim peneliti mengambil sampel tanah dan total 95 kepiting untuk diteliti lebih lanjut.

Ali Suman, Ketua Kelompok Riset Perikanan Krustasea Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan kalau perilaku yang terekam para peneliti pada kepiting biola, adalah alamiah yang juga terjadi pada kepiting jenis lain.
Semua kepiting akan melakukan hal yang sama, menyingkirkan setiap benda yang ada di hadapannya dan memecahkannya. Bukan hanya di Kolombia saja, namun di seluruh dunia perilakunya akan sama termasuk di Indonesia.
Namun, katanya, patut diwaspadai jika yang dipecah dan ditelan adalah partikel mikroplastik karena kepiting adalah biota laut yang bisa manusia konsumsi.
Dengan begitu, kemungkinan cemaran mikroplastik menjadi bagian dari rantai makanan. “Jadi, jika di dalam kepiting ada mikroplastik, akan berbahaya jika dikonsumsi manusia,” katanya kepada Mongabay.
Baginya, perilaku memecah dan menelan partikel oleh kepiting biola, bukan sebagai bentuk menghindari plastik. Itu bentuk alamiah beradaptasi terhadap benda di sekitarnya. Dia pun meyakini temuan riset di Kolombia akan sama dengan di Indonesia.
“Tidak hanya kepiting biola yang memiliki tubuh kecil dan daging sedikit saja, namun juga kepiting jenis lain yang habitatnya ada di kawasan hutan mangrove.”
Hanya saja, karena ukuran lebih kecil dengan daging sedikit, nilai ekonomi kepiting biola minim. Masyarakat pun tidak menjadikan keepiting biola sebagai sumber makanan. Secara umum, populasi kepiting biola di Indonesia hanya 0,9% dari populasi kepiting secara umum. Salah satu lokasi yang banyak ditemukan adalah Kalimantan.
Walau tak banyak yang mengonsumsinya, kata Ali, kepiting biola bisa saja untuk pengendalian lingkungan, terutama menekan sebaran mikroplastik. Meskipun begitu, menuju ke sana perlu kebijakan lebih lanjut oleh pemerintah.
“Bisa untuk mengurangi sampah plastik juga ya.”

Penjaga ekosistem pesisir
Adriani Sunuddin, Ahli Biodiversitas Laut IPB University menyebut, kalau perilaku kepiting biola yang bisa memecah dan menelan partikel mikroplastik adalah normal. Itu menjadi bagian dari peran untuk menguraikan bahan organik di dalam sedimen menjadi nutrien.
“Jadi nanti mangrove akan bisa tumbuh dengan baik dan berkembang dengan sehat.”
Dia bilang, kepiting berperan sebagai scavenger dan decomposer secara bersamaan di ekosistem mangrove. Peran jasa yang diembannya, adalah merangkap bahan organik, sedimen, di bawah sistem perakaran.
“Jadi bisa membuat pantai akresi, yaitu secara alami akan menambah ketinggian sedimen, jadi muka air laut akan naik.”
Mengingat mikroplastik adalah zat berbahaya, saat kepiting menelannya, berisiko masuk ke tubuh makhluk hidup yang mengonsumsinya. Ukurannya yang kecil, memungkinkan mikroplastik bisa masuk ke sistem pencernaan atau pernafasan.
Di balik bahaya itu, dia melihat bahwa peran kepiting sangat baik untuk menjaga alam tetap lestari. Kemampuannya yang sangat baik untuk mengaduk sedimen, akan memicu terjadinya pertukaran gas dengan oksigen di dalam substrat.
“Yang dipecah sebenarnya bukan hanya mikroplastik, tapi juga bahan organik, bahan pencemar lainnya.”
Peran kepiting yang sangat besar di ekosistem, juga terlihat dalam proses penguraian atau dekomposisi untuk mengubah senyawa anorganik atau spesies kimia yang lebih mudah masuk ke dalam sedimen atau lingkungan lain.
Bagi Adriani, morfologi kepiting biola membuat tubuhnya tidak memiliki daging banyak. Kemudian, warna cangkang biota itu memang menarik perhatian. Biasa warna menyimbolkan dari adanya zat berbahaya atau beracun.
“Jadi, kalaupun mau dimanfaatkan untuk ekonomi, maka ornamental adalah pilihan yang pas, karena itu bisa menjadi penghias.”
Kepiting biola adalah sebuah genus kepiting laut semiterestrial yang terdiri dari lebih dari 100 spesies, yang berada pada famili Ocypodidae. Kepiting biola umum diketahui dengan ciri dimorfisme seksual pada capitnya (chela).
Biasanya, jantan akan memiliki capit utama jauh lebih besar daripada capit minornya, sementara pada betina ukurannya sama. Kelompok ini sepenuhnya terdiri dari genus kepiting kecil, dengan genus yang paling besar mencapai sedikit lebih dari lima sentimeter.
Habitat kepiting biola bisa ditemukan di sepanjang pantai, rawa, laguna, dan dataran lumpur pada zona pasang surut, beserta jenis lahan basah payau, atau air asin lainnya. Kepiting biola biasanya paling banyak ditemukan di ekosistem mangrove di pesisir.
*****
Menyelisik Rajungan, Andalan Ekspor di Tengah Banyak Persoalan