- Hutan hujan Papua merupakan benteng iklim global dengan biodiversitas tumbuhan vaskular tertinggi di dunia, sekitar 68% di antaranya bersifat endemik.
- Burung frugivora seperti kasuari, cenderawasih, dan julang berperan vital sebagai penyebar biji di tiga lapisan hutan—lantai, tengah, dan atap kanopi.
- Para ilmuwan menyebut kasuari sebagai “arsitek hutan”, sementara julang dan cenderawasih menjaga regenerasi alami dan perajut konektivitas genetik pepohonan.
- Fragmentasi hutan, perburuan, dan krisis iklim mengancam mesin ekologis ini—yang jika runtuh, berdampak langsung pada iklim global dan kehidupan Masyarakat Adat Papua.
Pulau Papua (New Guinea) menyimpan hamparan hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia, setelah Amazon dan Cekungan Kongo –suatu bentang alam keragaman hayati yang kini menjadi benteng iklim global. Hutan hujan ini menutupi sebagian besar Pulau Papua, serta penyedia layanan ekosistem utama bagi kehidupan lokal dan global.
Berdasarkan penelitian terbaru, Papua menempati posisi teratas dunia sebagai pulau dengan biodiversitas tumbuhan vaskular tertinggi di Planet Bumi. Berdasarkan publikasi ilmiah global, pulau ini memiliki 13.634 spesies tumbuhan berpembuluh (vascular plants) yang tergabung dalam ratusan famili, dan sekitar 68% di antaranya bersifat endemik yang hanya ditemukan di tanah Papua
Di balik rimbunnya struktur vegetasi Papua, maka satwa memainkan peran ekologis yang kompleks. Namun ada satu premis utama yang menarik, –berbeda dengan hutan hujan di Amazon dan Congo, hutan Papua tidak akan pernah ada sebagaimana adanya hari ini, tanpa adanya keterlibatan burung.
“Burung memainkan peran penting dalam ekosistem, sebagai penyerbuk, pengendali hama dan indikator kesehatan lingkungan,” jelas Edwin Scholes, ornitolog atau ahli ilmu burung dari Cornell Lab of Ornithology, Cornell University menyebut peran penting mereka di alam.

Tiga Lapisan Hutan Tempat Burung-burung Bekerja
Hutan hujan Papua adalah salah satu ekosistem paling bertingkat di dunia, terdiri dari struktur tiga dimensi yang bukan hanya memisahkan cahaya dan kelembaban, tetapi juga membagi komunitas burung ke dalam lapisan-lapisan ekologi yang berbeda.
Di Papua terdapat setidaknya sekitar 780 spesies burung, dengan 366 diantaranya endemik. Namun dari berbagai jenis itu, jenis-jenis frugivora (burung pemakan buah), memainkan peran yang paling fundamental. Merekalah yang sebenarnya berperan penting sebagai jejaring logistik pendistribusi buah di dalam struktur hutan Papua kompleks.
Tidak hanya sekadar pemakan buah, mereka juga menjadi penggerak regenerasi hutan, penjaga dinamika spesies tumbuhan, serta penopang keberlanjutan keanekaragaman hayati.
Jenis frugivora ini bekerja dalam tiga lapisan hutan, yaitu: di lantai hutan, tengah, dan atas kanopi. Kasuari (Casuarius spp.) adalah jenis yang berada di lantai hutan, jenis-jenis cenderawasih (Paradisaeidae) di tengah kanopi, dan julang papua (Rhyticeros plicatus) di atas kanopi.
“Di Papua, kasuari secara harfiahlah yang membangun hutan di Papua. Mereka adalah satu-satunya hewan yang cukup besar yang mampu menelan dan menyebarkan biji-biji pohon berbuah besar. Dengan sistem pencernaan mereka yang pendek, biji-biji ini melewati tubuh mereka tanpa rusak dan terbawa sejauh hingga 30 kilometer dari pohon induk,” sebut Scholes.
Dia menyebut tanpa kasuari yang menjalankan fungsi tak tergantikan ini, maka akan banyak spesies pohon yang tidak dapat beregenerasi, dan hutan seperti yang kita kenal tidak akan mampu memperbarui dirinya. “Mereka benar-benar arsitek dari hutan hujan.”
Dunia di lapisan terbawah hutan adalah dunia yang redup dan lembab. Selain frugivora besar seperti kasuari sebagai ‘tukang kebun’ hutan, maka merpati tanah dan jenis-jenis megapoda (burung berkaki besar) merupakan spesies yang memakan buah jatuhan. Lapisan lantai hutan inilah yang memainkan peran penting dalam menjaga struktur hutan.

Di lapisan tengah hutan Papua, –tempat sinar matahari mulai tersaring dan volume buah sangat beragam, adalah dunia yang ditempati oleh cendrawasih dan sebagian merpati berukuran sedang.
Cenderawasih yang dikenal karena keindahan bulu dan tariannya, ternyata memiliki peran dalam sistem ekologis yang jauh lebih penting dari gemerlap bulunya. Di lapisan tengah kanopi ini, mereka memakan buah-buahan kecil, serangga, hingga menjadi penghisap nektar bunga.
Di lapisan tengah hutan ini, pepohonan menyediakan beragam buah ukuran kecil hingga sedang, berdaging lunak, dan buah musiman. Di sini cenderawasih berperan sebagai desainer interiornya, ungkap Scholes.
“Berbeda dari banyak spesies burung pemakan buah lain yang memilih untuk memakan buah melimpah dan manis seperti ara, cenderawasih menyebarkan biji dari spesies yang lebih sulit dijangkau, misalnya pala,” sebut Scholes.
Selama kurun waktu 2004 hingga 2012, dia bersama fotografer alam liar Tim Laman menghabiskan waktu 544 hari untuk meneliti tingkah laku dan keunikan seluruh spesies cenderawasih di alam.
“Jika cenderawasih hilang dari lanskap Papua, hutan bukan hanya kehilangan keelokannya, tetapi juga kehilangan jenis-jenis pohon kunci yang menjadi penopang ekosistem dan kehidupan manusia yang penting bagi masyarakat adat yang ada di Papua,” imbuhnya.

Sementara itu, lapisan atap hutan atau kanopi adalah dunia penuh cahaya. Suhu yang lebih tinggi didominasi oleh buah yang lebih tahan sinar matahari dan mengandung lipid tinggi, seperti jenis ara besar. Di sini hidup frugivora besar seperti julang, kakatua, dan jenis-jenis columbidae (burung berkicau) besar lainnya.
Menurut Yokyok Hadiprakarsa, ornitolog dari Rekam Nusantara Foundation yang mendalami keluarga rangkong, jenis-jenis julang papua memiliki peran amat penting di lapisan teratas kanopi.
“Peran mereka di alam adalah sebagai petani hutan yang berperan penting dalam menjaga kesehatan ekosistem,“ tutur peneliti yang dalam dua dekade terakhir ini banyak menghabiskan hidupnya dalam berbagai studi rangkong.
Dengan paruh berkantong (gular) yang besar, julang adalah spesies burung yang memiliki spesialisasi sebagai pemakan buah. Ia mampu mengangkut beberapa buah sekaligus, saat terbang melintasi jarak yang jauh melewati atap kanopi hutan.
Karena kemampun itu, maka julang berperan sebagai penghubung petak-petak hutan dan menyilang genetikkan pohon-pohon kanopi yang dominan. Para ilmuwan menyebut ada sedikitnya 471 jenis buah yang dipencarkan rangkong di seluruh Asia.
“Kontribusi utama julang adalah mereka mampu melakukan restorasi hutan secara alami. Dengan menjaga populasi rangkong tetap lestari, maka pemerintah tidak perlu lagi melakukan proyek restorasi hutan, biarkan mereka bekerja secara gratis,” tutur Yokyok.

Hutan Papua: Benteng Iklim Dunia yang Rentan
“Hutan Papua menyimpan sekitar 15 miliar ton karbon di pepohonan dan tanahnya, serta secara aktif menyerap lebih dari 50 juta ton CO₂ dari atmosfer setiap tahunnya. Ia menjadi salah satu solusi alami terpenting tersisa di dunia untuk membatasi peningkatan suhu global,” jelas Scholes.
Jika berkaca dari perspektif iklim, hutan hujan tropis ini menyimpan cadangan karbon yang besar, baik di biomassa atas permukaan, seperti pohon-pohon raksasa, liana dan epifit; maupun di tanah, yakni lapisan tebal organik seperti gambut dan beberapa wilayah rawa-rawa sagu.
“Apa yang terjadi di hutan Papua akan berdampak langsung pada stabilitas iklim dan keanekaragaman hayati di seluruh Planet Bumi,” lanjut Scholes. Dia pun menggambarkan bentang hutan Papua layaknya benteng iklim.
Meski relatif lebih utuh dibanding hutan tropis lain di wilayah Indonesia, hutan Papua tidak kebal terhadap konversi. Pembukaan lahan untuk perkebunan monokultur, penebangan skala industri, pembangunan infrastruktur tanpa perencanaan ekologis, dan perambahan secara bertahap telah merobek konektivitas habitat.
Fragmentasi juga menghalangi pergerakan satwa, termasuk kasuari dan julang yang bergantung pada lanskap luas. Ketika koridor hutan menghilang, fungsi penyebaran biji yang menjadi jantung regenerasi hutan pun turut merosot.
Perburuan yang tidak terkelola juga menjadi risiko. Jika sebelumnya, perburuan sering diatur melalui hukum adat dan ritme alam, namun saat permintaan pasar masuk, –dengan skala dan motif yang berubah, ia akan bergeser dari pemenuhan kebutuhan subsisten menjadi komodifikasi ekonomi.
Jenis burung karismatik seperti cenderawasih adalah jenis yang paling rentan terhadap perdagangan illegal, sedangkan kasuari adalah jenis rentan yang paling sering diburu untuk diperoleh dagingnya.
Sementara itu, julang adalah jenis yang paling mudah terganggu karena lokasi sarang dan perilaku pengasuhan anaknya yang tergantung pada bagian lubang yang ada di pohon.
Krisis iklim pun semakin menambah lapisan ancaman. Perubahan pola curah hujan, frekuensi kemarau panjang dan kejadian cuaca ekstrem mengganggu fenologi pohon yang menyebabkan musim bunga dan buah menjadi tidak menentu.
Bagi burung pemakan buah seperti kasuari, cenderawasih dan julang, ketidakpastian iklim membatasi ketersediaan pakan musiman mereka. Turut mengganggu siklus reproduksi serta memaksa mereka bergerak ke wilayah lain yang mungkin tidak aman. Di sisi lain, kebakaran rawa dan lahan kering menjadi risiko yang kian nyata pada saat terjadi kemarau ekstrem.
“Hutan di Papua adalah salah satu hutan yang paling ‘ramai’ dengan suara burung. Ini menandakan hutan Papua amat kaya dengan beragam jenis burung yang terhubung dalam suatu sistem ekologis yang kompleks,” tutur Yokyok.

***
Bayangkan jika Anda di suatu pagi berada di pedalaman Papua, saat kabut menggantung di bawah kanopi. Di kejauhan, terdengar suara “duk-duk” julang memecah sunyi. Seekor jantan melintas dengan kantong paruh berisi buah, menuju sarang di pohon tua berlubang untuk memberi makan keluarganya.
Di lapisan tengahnya, tampak sekumpulan cenderawasih jantan berlatih gerak tarian, bulu memantulkan cahaya pagi. Sementara, beberapa individu lain sedang berpesta beberapa buah kecil dan serangga. Di bagian lantai hutan, seekor kasuari betina meninggalkan jejak di tanah basah, mencerna buah hutan secara perlahan, yang menunggu untuk ditaburkan.
Skenario ini bukan pemandangan eksotis; ini adalah mesin ekologis yang membuat hutan Papua tetap lestari terjaga.
Hutan Papua bukan hanya rumah bagi burung. Hutan ini, –dalam banyak cara, dibangun oleh burung. Ketika burung menjaga hutan, maka hutan pun menjaga kehidupan manusia.
*****
Hans Mandacan, Si Penjaga Cenderawasih dari Pegunungan Arfak