- Kehidupan warga pesisir Desa Pemogan, Bali bergantung pada alam. Saat kepiting, ikan dan udang melimpah, mereka bisa panen. Tapi saat pencemaran datang, hasil alam itu justru pergi.
- Sejak 2005, mereka berinisiatif mengembangkan ekowisata mangrove Batu Lumbang untuk memperbaiki ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Tak hanya menjaga mangrove, mereka juga perlu membersihkan sampah yang datang karena arus sungai.
- Dahulunya, kawasan ini merupakan tambak yang kini menjadi ekowisata berbasis edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Tak hanya menyediakan jasa ekowisata, kelompok perempuan juga terlibat dalam pengolahan produk mangrove. Keterlibatan masyarakat lokal menjadi faktor kunci keberhasilan pengelolaan kawasan seluas 85,9 hektar ini.
- Ancaman utama datang dari sampah kiriman sungai, penurunan kualitas air, serta perubahan lingkungan yang berdampak pada hasil tangkapan nelayan. Meski terus melakukan penanaman dan pembersihan, harapan tetap bergantung pada pemulihan ekosistem agar kondisi alam kembali produktif seperti masa lalu.
Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
Warga pesisir Desa Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan, Provinsi Bali mayoritas menjadi nelayan. Mereka memanfaatkannya hasil alam tanpa pengelolaan terorganisir. Sejak 2005, secara inisiatif mandiri mereka membangun ekowisata mangrove Batu Lumbang untuk peningkatan ekonomi, kesejahteraan warga dan menjaga lingkungan.
Sejak pukul tujuh pagi, Wayan Wana sudah sibuk menurunkan kano kecil, mendayungnya dengan pelan ke tepian mangrove. Tiap hari dia menyusuri pesisir wilayah mangrove Batu Lumbang untuk mencari kepiting. Di beberapa titik, Wana turun dari perahu. Lumpur hitam setinggi betis tidak menghalanginya berjalan. Lalu memeriksa lubang di sekitar akar mangrove.
“Asal ada waktu, saya cari kepiting. Kalau tidak, bersihin sampah,” katanya.
Sehari-hari, dirinya juga menjaga kawasan ekowisata ini. Biasanya dia rutin menyambut pengunjung, membersihkan area hingga sampah-sampah di sela-sela akar mangrove. Hutan mangrove di pesisir selatan Kota Denpasar memiliki permasalahan timbulan sampah dari dua sungai besar, yakni Tukad Badung dan Tukad Mati.
Sejak 2005, masyarakat nelayan setempat memulai pengembangan ekowisata dari kesadaran kolektif akan pentingnya pelestarian lingkungan. Tak hanya itu, harapannya kawasan ini juga bisa menjadi alternatif penghidupan bagi warga pesisir.

Baca juga: Saat Mangrove di Blok Ngurah Rai Dominan Pemanfaatan, Apa Dampaknya Bagi Warga?
Wisata edukasi mangrove Batu Lumbang
Tak hanya menawarkan keindahan alam. Di kawasan ini, pengunjung menikmatinya melalui jalur tracking, susur sungai dengan perahu, bermain kano dan berbagai aktivitas edukatif lainnya. Para perempuan juga membentuk Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) yang mengembangkan kuliner berbahan buah mangrove. Seperti sirup, teh, kopi dan stik mangrove.
Ekowisata Mangrove Batu Lumbang menjadi bagian dalam Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai. Wilayah ini menjadi upaya pelestarian mangrove berbasis pemberdayaan nelayan dan pelestarian alam. Luasnya mencapai 85,9 hektar.
Batu Lumbang merupakan bagian dari kawasan mangrove yang masih tersisa di tengah pesatnya pembangunan di Bali selatan. Berdasarkan penelitian dalam jurnal Agrimeta (Budiasa, dkk., 2024) menyebutkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam pengembangan ekowisata ini menjadi kunci keberhasilan ekowisata mangrove Batu Lumbang.
“Masyarakat pemogan memiliki peran yang sangat strategis dalam menjaga kelestarian dan mengembangkan potensi wisata di wisata ini,” tulis penelitian tersebut.

Made Askini, Ketua Poklahsar, mengakui melalui ekowisata ini tak hanya menjaga lingkungan, tapi aktivitas kawasan ini bisa menambah penghasilan bagi masyarakat setempat. Meski begitu, karena kawasan ini merupakan wilayah konservasi, mereka hanya bisa melakukan pemanfaatan mangrove secara terbatas.
“Kami hanya produksi kalau ada pesanan. Mangrove ini kawasan konservasi, jadi tidak boleh dieksploitasi berlebihan,” jelas Askini.
Ancaman lingkungan
Menjelang siang, Wana kembali ke dermaga kecil di tepi kawasan wisata. Dia membuka kotak plastik di belakang perahu. Isinya beberapa ekor kepiting bakau berukuran sedang. Tidak banyak, tetapi cukup untuk dijual ke pengepul di daerah Suwung.
“Kalau dapat, langsung saya bawa ke pengepul,” katanya.
Tiga dekade lalu, hutan mangrove menjadi tempat mencari udang dan kepiting. Air laut masih jernih, dan hasil tangkapan melimpah. Dulu, katanya, mencari kepiting bisa dilakukan beberapa kali sehari.
“Tahun 92 saya pernah dapat kepiting sampai 25 kilo. Sekarang paling tiga kilo, empat kilo saja,” ujarnya.
Dia menyebut perubahan mulai terasa sejak akhir 1990-an, ketika sampah semakin banyak dan kualitas air menurun.
Kona mengamini apa yang dikatakan Wana. “Sampah menjadi masalah terbesar dalam menjaga ekosistem mangrove.”

Penelitian Budiasa dkk. juga mengatakan limbah rumah tangga, kenaikan muka air laut, perubahan pola curah hujan dan cuaca ekstrem menjadi ancaman keberlangsungan ekowisata ini. Di antara akar mangrove, sering terlihat plastik tersangkut. Plastik kresek, botol minum hingga potongan kayu. Sampah itu terbawa dari sungai yang mengalir dari kota menuju teluk. “Setiap hari kita bersihkan. Kalau tidak dibersihkan, kepiting dan ikan berkurang,” katanya.
Kelompok nelayan di Batu Lumbang bahkan memiliki jadwal rutin membersihkan kawasan, selain melakukan penanaman mangrove.
Baca juga: Degradasi Mangrove di Teluk Benoa, Bali
Wisata, sampah, dan harapan
Pada tahun 1980-an, Wayan Kona Antara (56), Ketua KUB (Kelompok Usaha Bersama) Segara Guna Batu Lumbang, bercerita sebagian kawasan mangrove Batu Lumbang sempat diubah menjadi tambak modern. Mangrove ditebang, diganti dengan tambak. Untungnya, tambak tak bertahan lama karena regulasi pemerintah untuk mengembalikan kawasan menjadi hutan.
“Masyarakat mulai menanam lagi. Bekas tambak kita jadikan mangrove. Sekarang kerapatannya sudah lebih dari 80 persen,” kata Kona.
Mereka secara tekun melakukan penanaman dan merawat mangrove selama bertahun-tahun. Hal yang terpenting, katanya, merawat pohon muda agar tidak mati terkena sampah atau perubahan arus air. Bagi nelayan seperti Wana, mangrove bukan sekadar hutan. Di situlah ikan, udang, dan kepiting berkembang. Kalau mangrove rusak, hasil tangkapan ikut berkurang.

Sejak kawasan ini dibuka sebagai ekowisata, pengunjung mulai berdatangan. Mereka berjalan di jembatan kayu, melihat burung, atau menyusuri mangrove dengan perahu. Wana bilang, wisata menjadi cara untuk menjaga hutan tetap hidup. Hasil dari ekowisata, seperti uang sewa kano, kelompok nelayan bisa membeli bibit mangrove, memperbaiki jembatan, dan membersihkan sampah.
Namun pekerjaan menjaga hutan mangrove tidak pernah selesai. Sampah masih datang setiap hari, terbawa arus dari kota. Air masih keruh, dan hasil tangkapan belum kembali seperti dulu. “Kalau alamnya bersih, pasti kembali seperti dulu. Biota banyak lagi,” katanya pelan.
Dia lalu mengangkat jaring kepiting hasil tangkapannya, lalu menyimpannya didalam tempat penyimpanan kepiting sebelum kepiting tersebut dijual ke pengepul di daerah Suwung.
(*****)
*Kadek Dian Dwiyanti Hapsari adalah mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Dian memiliki ketertarikan pada isu-isu lingkungan dan seringkali terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan bidang tersebut.