- Petani kecil di pinggiran Denpasar mulai merasakan dampak perubahan iklim, ditandai dengan berkurangnya air irigasi dan meningkatnya suhu. Ketergantungan pada air membuat mereka rentan, terutama menjelang musim kemarau panjang.
- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan potensi El Niño kuat pada April–Oktober 2026 yang dapat memicu kekeringan parah di Jawa, Bali, dan NTT, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan. Sementara itu, wilayah lain seperti Sulawesi dan Maluku justru berpotensi mengalami hujan ekstrem dan bencana hidrometeorologi.
- Kenaikan suhu 1–2°C di wilayah lembap seperti Bali dapat meningkatkan risiko dehidrasi, heat stroke, hingga kematian, terutama bagi kelompok rentan seperti petani, pekerja luar ruang, lansia, dan anak-anak. Fenomena urban heat island di kota memperparah kondisi ini.
- Upaya adaptasi perlu difokuskan pada peningkatan ruang terbuka hijau, penggunaan material bangunan yang ramah panas, edukasi publik, serta perlindungan kelompok rentan. Pemerintah juga didorong mempercepat strategi mitigasi untuk menghadapi krisis iklim yang kian nyata.
Putu Winarta dan Nengah Sinreg sibuk di tengah pematang. Di bawah cuaca yang begitu terik, pasangan suami istri tengah memanen bayam di pinggiran utara Kota Denpasar, Bali, Senin (30/3/26) sekitar pukul 08.00.
Sayur-sayur mereka ikat seukuran kepalan tangan dan mencucinya di saluran irigasi. Hasil panen ini mereka jual di Pasar Badung. Walau panen bayam dari lahan seluas dua are ini tak banyak, namun cukup untuk menghidupi mereka.
Winarta mengatakan, belakangan, cuaca di Bali cukup panas lantaran tak ada hujan dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, tinggi muka air di saluran irigasi pun sudah menunjukkan penurunan.
Bagi Winarta, kemarau yang akan segera tiba membuatnya khawatir.
“Sebentar lagi musim panas, pasti air makin sedikit. Kami akan sulit bertani,” katanya dalam Bahasa Bali.
Sayuran perlu banyak air setiap hari dan baru bisa panen enam minggu setelah penyemaian. Selama ini, mereka hanya mengandalkan saluran irigasi di hilir yang makin menipis saat kemarau.

Panas ekstrem
Petani merupakan salah satu pihak yang terdampak langsung perubahan iklim. Terlalu basah, tanaman rusak. Sebaliknya, tanpa air atau kurang air sayuran juga mati. Kedua cuaca itu sudah makin terbiasa dialami pasangan petani ini.
Perkiraan cuaca, panas ekstrem akan mulai di Pulau Jawa, Bali, dan NTT pada tahun ini. Melalui pengumuman publik dan peringatan cuaca di media sosialnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan, potensi fenomena variasi kuat El Niño “Godzilla” yang akan melanda Indonesia pada April-Oktober 2026.
El Niño adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik ekuator. Fenomena El Niño ini termasuk variasi kuat (Godzilla) menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering.
Erma Yulihastin, Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, mengatakan, pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional di wilayah Pantura Jawa. Selain itu dampak kebakaran hutan dan kekeringan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatera.
“Sebaliknya pemerintah mesti menyiapkan strategi menangani kelebihan hujan di Sulawesi, Halmahera, Maluku dan dampaknya pada banjir dan longsor,” katanya terkait anomali iklim ini.
El Niño “Godzilla” merupakan anomali pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator yang sangat signifikan. Sejumlah potensi dampak yang akan terjadi dan perlu dimitigasi antara lain, dampak kekeringan di selatan Indonesia yang dapat mengancam lumbung padi nasional.
Dampak karhutla di sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan, meskipun bagian utara kedua pulau ini tetap akan mengalami curah hujan tinggi, dampak banjir di timur laut Indonesia karena curah hujan tinggi selama kemarau di selatan.
Sisi lain, dalam musim panas ini pemerintah dinilai bisa mengoptimalkan produksi garam untuk mencapai swasembada garam selama 2025-2027 khusus di wilayah selatan Indonesia.
Beberapa model global memprediksi El Niño mulai terjadi sejak April 2026. Munculnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif memperkuat prediksi itu. Akibatnya pembentukan awan dan hujan terkonsentrasi di atas Samudra Pasifik, sementara Indonesia mengalami minim awan dan hujan.
Sedangkan fenomena IOD positif di Samudera Hindia diindikasikan dengan pendinginan suhu permukaan laut di dekat Sumatera dan Jawa hingga mengalami pengurangan hujan signifikan.
Berdasar data modeling BRIN, daerah yang lebih dulu memasuki musim kemarau pada April-Juli 2026 adalah Pulau Jawa sampai NTT. Sebaliknya Sulawesi, Halmahera, dan Maluku sebagian besar masih mengalami curah hujan tinggi.

Oka Agastya, seorang peneliti geologi dan bencana di Bali menyatakan, situasi panas ekstrem di Bali akan berdampak pada banyak hal, tak hanya kekeringan juga kesehatan.
Menurut dia Bali berada dalam sistem iklim tropis lembap, suhu dasar sudah tinggi, dan kelembapan relatif stabil sepanjang tahun.
Dalam konteks ini, kenaikan suhu rata-rata 1–2°C bukanlah angka kecil.
“Di wilayah lembab seperti Bali, tambahan satu derajat saja dapat membuat indeks panas melonjak drastis, menjadikan suhu 33°C terasa seperti lebih dari 40°C,” katanya dalam kajian tertulisnya.
Pada kondisi tertentu, terutama saat El Niño kuat terjadi bersamaan dengan tren pemanasan global. Pulau seperti Bali dapat mengalami episode panas ekstrem yang sebelumnya tidak pernah tercatat.
Dampaknya bukan sekadar rasa gerah. Oka memaparkan, secara fisiologis, panas ekstrem meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan panas (heat exhaustion), hingga sengatan panas (heat stroke) yang dapat berujung fatal (WHO, 2018).
Kelompok rentan menjadi garis depan risiko yakni lansia, anak-anak, pekerja luar ruang seperti buruh bangunan dan petani, pedagang kaki lima, hingga wisatawan yang tidak terbiasa dengan iklim tropis lembab. Selain itu, mereka yang memiliki penyakit jantung, ginjal, atau diabetes juga berisiko lebih tinggi.

Mendinginkan kota
Oka mengajukan gagasan agar pemerintah dan masyarakat berusaha menyiapkan mendinginkan kota terutama Kota Denpasar dan kawasan selatan (Badung) yang mengalami peningkatan tutupan beton dan aspal. Muncul fenomena urban heat island, di mana kota menyimpan panas lebih lama dibanding wilayah vegetasi bisa membuat suhu malam hari tetap tinggi, menghambat tubuh untuk pulih dari paparan panas siang hari (IPCC, 2022). Jika suhu malam tak turun, risiko kesehatan meningkat drastis.
Lalu, kota harus kembali belajar dari alam. Penambahan ruang hijau, perlindungan pohon eksisting, dan penggunaan material bangunan yang memantulkan panas adalah strategi sederhana namun efektif. Atap putih atau cool roof terbukti dapat menurunkan suhu permukaan bangunan secara signifikan (Santamouris, 2014).
Di Bali, katanya, ini bisa diterjemahkan dalam kebijakan arsitektur tropis yang lebih adaptif, bukan sekadar estetika beton modern.
Kemudian, edukasi publik masyarakat, katanya, perlu memahami tanda-tanda kelelahan panas, pentingnya hidrasi, serta pengaturan aktivitas luar ruang saat suhu puncak. Sekolah dan desa dapat menjadi pusat literasi iklim mengenalkan bahwa panas ekstrem bukan sekadar “cuaca Bali yang biasa.”
Selanjutnya, perlindungan kelompok rentan harus menjadi prioritas. Pekerja luar ruang dapat diberikan penyesuaian jam kerja saat indeks panas tinggi. Fasilitas publik seperti balai banjar atau kantor desa bisa difungsikan sebagai cooling center sementara saat peringatan panas ekstrem dikeluarkan.
Pendinginan kota ini makin relevan dengan situasi kota-kota di Indonesia yang cenderung minim ruang terbuka hijau (RTH). Kota Denpasar, Bali, misal, menargetkan ruang terbuka hijau (RTH) 20%, baru terealisasi 3,2% atau 405 hektar yang terdiri dari kawasan perlindungan, taman kota, rimba kota, pemakaman, dan jalur hijau.
Rencana Pemerintah Kota Denpasar, penuhi target itu dengan memasukkan lahan pertanian atau sawah bisa jadi RTH publik. Dengan ketentuan ada perjanjian dengan pemerintah kota untuk mempertahankan kondisinya selama 20 tahun. Selain itu harus bisa diakses publik.
*****
Suhu Makin Panas, Gigitan Nyamuk ‘Aedes Aegypti’ Makin Sering