- Balita tewas kena serang monyet peliharaan tetangganya terjadi di Pasean, Pamekasan, Jawa Timur, 1 April lalu. Pegiat satwa menyesalkan kematian balita karena serangan monyet peliharaan ini dan menilai seharusnya tak terjadi kalau pemerintah tegas mengatur jual-beli maupun pemeliharaan primata itu.
- Benvika, Ketua Jakarta Animal Aid Network (JAAN), mengatakan, kejadian monyet peliharaan lepas kemudian menyerang manusia sangat sering terjadi di Indonesia.
- Amanda Yonica Poetri Faradifa, Coordinator Social Media Animal Cruelty Coalition and Macaque Coalition-Asia for Animals, prihatin atas peristiwa di Pamekasan. Namun, kondisi ini bisa terprediksi.
- Hery Wijayanto, dokter hewan sekaligus primatologist Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), mengatakan, satwa liar yang dipelihara tidak akan kehilangan sifat aslinya.
Balita tewas kena serang monyet peliharaan tetangganya terjadi di Pasean, Pamekasan, Jawa Timur, 1 April lalu. Pegiat satwa menyesalkan kematian balita karena serangan monyet peliharaan ini dan menilai seharusnya tak terjadi kalau pemerintah tegas mengatur jual-beli maupun pemeliharaan primata itu.
Kejadian bermula saat korban dan dua anak lain tengah asyik bermain di sekitar rumahnya, lalu seekor monyet berlari dan menyerang mereka dengan agresif. Monyet itu merupakan peliharaan warga lain yang terlepas dari ikatan. Naas, satu anak tidak sempat menyelamatkan diri dan menjadi sasaran gigitan monyet itu.
“Akibat serangan itu, korban mengalami luka robek pada paha kanan dan luka robek pada tangan kanan,” kata AKP Gunarto, Kapolsek Pasean, dalam keterangan tertulis yang Mongabay terima.
Dia bilang, keluarga langsung membawa korban ke RSUD Waru. Setibanya di sana, balita itu sudah tak bernyawa.
Mengutip Detik.com, Gunarto, menyebut, pemilik sudah menangkap dan membunuh monyet itu. “Sudah mati dibunuh oleh pemiliknya. Monyetnya memang kembali ke pemiliknya.”
Benvika, Ketua Jakarta Animal Aid Network (JAAN), mengatakan, monyet peliharaan lepas kemudian menyerang manusia sering terjadi di Indonesia.
“Monyet serang manusia bukan kasus baru. Kejadian seperti ini sering terjadi dan terulang lagi. Kali ini pada akhirnya jatuh korban,” katanya kepada Mongabay, Sabtu (4/4/26).
Dalam banyak kasus, katanya, penyebab kejadian karena masih bebasnya perdagangan monyet baik daring maupun luring. Hal ini terlihat di pasar hewan seperti di Jatinegara, Jakarta, pasar satwa dan tanaman hias Yogyakarta (PASTY) dan lain-lain.
Di sana, bayi-bayi monyet maupun beruk bebas terpajang. Selain itu, penjualan daring pun menjamur lewat media sosial ataupun marketplace.
Parahnya, ada komunitas pemelihara kedua primata itu. Mereka menyosialisasikan ke masyarakat bahwa primata seperti monyet dan beruk bisa menjadi peliharaan dan berteman dengan manusia.
Menurut dia, aktivitas itu salah besar, karena akan menimbulkan bom waktu di tengah kehidupan masyarakat. Kejadian di Pasean jadi contoh nyata.
“Kami harap dengan kasus yang terjadi di Pamekasan ini Pemerintah melalui stakeholdernya bisa serius menindaklanjuti dengan tegas.”
Karena itu, dia mendesak otoritas terkait membubarkan dan melarang adanya komunitas pemelihara monyet atau beruk di Indonesia. Juga membuat regulasi yang mengatur secara nasional untuk tidak memperjualbelikan dan memelihara monyet ataupun beruk dengan hukum yang sistematis dan kuat.
Dia desak ada sanksi tegas bagi pelaku dan pelanggar karena menyangkut keselamatan dan kesehatan manusia secara umum.
“Regulasi tersebut tentunya secara tidak langsung akan bisa lebih melindungi nasib monyet dan beruk yang hingga kini selalu masih dalam bayangan eksploitasi yang dilakukan manusia.”

Bukan hewan peliharaan
Amanda Yonica Poetri Faradifa, Coordinator Social Media Animal Cruelty Coalition and Macaque Coalition-Asia for Animals, prihatin atas peristiwa di Pamekasan. Namun, kondisi ini bisa terprediksi.
Menurut dia, memelihara satwa liar seperti makaka di lingkungan rumah tangga, risiko keselamatan manusia, terutama anak-anak, menjadi sangat tinggi.
Dalam pendekatan one health, kasus seperti ini bukan hanya insiden antara manusia dan hewan, tapi berkaitan dengan keselamatan publik, kesehatan masyarakat, kesejahteraan hewan, dan pengelolaan satwa liar.
Menurut dia, fenomena memelihara monyet biasanya berawal dari pengambilan atau pembelian primata ini saat masih bayi karena terlihat jinak dan lucu. Namun, secara ilmiah, makaka bukan hewan domestik seperti anjing atau kucing.
Jadi, ketika dewasa, mereka tetap memiliki perilaku alami seperti dominasi, teritorial, mempertahankan makanan, dan agresivitas.
“Banyak monyet peliharaan mulai menunjukkan perilaku agresif saat memasuki usia remaja atau dewasa, dan ini merupakan pola yang sangat umum.”
Dengan demikian, masalahnya buka karena monyet tersebut tiba-tiba agresif. Tapi karena satwa liar itu berada di lingkungan yang tidak sesuai perilaku alaminya.
Makaka, katanya, sangat sensitif terhadap bahasa tubuh dan ekspresi wajah. Banyak orang tidak paham kalau menatap langsung, terlalu dekat, mengganggu, atau memperlihatkan gigi bisa mereka ancap ancaman atau sinyal dominasi, yang akhirnya memicu agresi.
Panduan interaksi manusia dan primata dari International Union for Conservation of Nature, katanya, menyebut prinsip utamanya adalah menjaga jarak, menghindari kontak langsung, tidak memberi makan, dan meminalkan interkasi. Karena, semakin dekat interaksi, semakin tinggi risiko cedera dan penularan penyakit dua arah.
“Dalam banyak kasus serangan hewan, anak-anak memang merupakan kelompok paling berisiko karena ukuran tubuh lebih kecil dan posisi kepala serta leher lebih dekat dengan hewan, sehingga luka sering terjadi pada area vital.”

Picu zoonosis
Selain mengakibatkan luka serius, Benfica bilang, serangan monyet dan primata non-manusia lainnya berisiko menularkan berbagai zoonosis berbahaya ke manusia. Terutama melalui gigitan, cakaran, dan kontak dengan cairan tubuh.
Penyakit utama yang bisa tertular meliputi virus Herpes B (dari monyet makaka), rabies, tuberkulosis, serta infeksi bakteri Salmonella.
Senada, Amanda mengimbau pandang serius gigitan primata. Karena, bukan hanya risiko zoonosis, juga trauma dan infeksi lukanya.
Edukasi risiko berinteraksi dengan satwa liar masih minim. Untuk itu, penting meningkatkan kesadaran masyarakat ihwal penanganan saat bertemu dengan satwa liar di pemukiman.
“Prinsipnya adalah jangan mendekat, jangan memberi makan, jangan menatap mata langsung, jangan memperlihatkan gigi, jangan panik atau membuat gerakan mendadak, dan mundur perlahan sambil menjaga jarak.”
Juga, awasi anak-anak, karena mereka yang paling berisiko dalam interaksi dengan satwa. Dia bilang, banyak interaksi negatif manusia dan primata terjadi karena miskomunikasi perilaku dan interaksi yang terlalu dekat.
Hery Wijayanto, dokter hewan sekaligus primatologist Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), mengatakan, satwa liar yang dipelihara tidak akan kehilangan sifat aslinya.
“Satwa liar tidak seharusnya dipelihara, selain potensi transmisi penyakit juga karena sifat liarnya yg tidak akan hilang. Meskipun mereka jinak, umumnya hanya kepada pemilik tapi tidak kepada orang lain,” katanya, Sabtu (4/4/26).
Selain itu, monyet dan kera punya sifat dendam pada manusia yang mereka anggap musuh, karena mungkin pernah tersakiti atau terganggu.
Kasus ini, katanya, kemungkinan karena luka yang menyebabkan perdarahan parah. Tidak menutup kemungkinan juga karena rabeis, meski belum ada laporan monyet rabies di Indonesia.
“Kemungkinan bukan rabies, meskipun tidak menghapus kemungkinannya. Untuk peneguhan penyebab kematian korban, saya yakin dokter sudah memberikan diagnosis penyebabnya.”

*****