- Peringatan Hari Bumi 2026 mengusung tema “Our Power, Our Planet” atau Kekuatan Kita, Planet Kita.
- Tema ini menyerukan sebuah gerakan fundamental bahwa kemajuan lingkungan tidak bergantung pada satu kebijakan atau pemimpin, melainkan pada aksi kolektif dari komunitas, pendidik, pekerja, hingga level keluarga.
- Auriga Nusantara merilis data deforestasi 2025 yang memprihatinkan: luas hutan yang hilang melonjak drastis menjadi 433.751 hektar.
- Deforestasi memiliki konsekuensi berantai yaitu kekayaan keanekaragaman hayati kita berada pada tekanan luar biasa.
Setiap 22 April, dunia memperingati Hari Bumi. Pada 2026, dilansir dari Earthday.org, peringatan kali ini mengusung tema “Our Power, Our Planet” atau Kekuatan Kita, Planet Kita. Tema ini menyerukan sebuah gerakan fundamental bahwa kemajuan lingkungan tidak bergantung pada satu kebijakan atau pemimpin, melainkan pada aksi kolektif dari komunitas, pendidik, pekerja, hingga level keluarga.
Tema utama ini juga menekankan mengenai perlindungan lingkungan adalah tanggung jawab berkelanjutan yang melampaui siklus politik, administrasi, maupun pemilihan umum. Seruan global ini menjelaskan bahwa perlindungan lingkungan merupakan isu universal yang berdampak pada kesehatan manusia, keamanan ekonomi (seperti bagi petani dan nelayan), serta nilai spiritual dan moral.
“Selain itu, ekosistem global saling terhubung dan kualitas hidup generasi mendatang sangat bergantung pada lingkungan yang sehat,” tulis seruan aksi dari Earthday.org.
Di Indonesia, beberapa pekan sebelum Hari Bumi 2026, Auriga Nusantara merilis data deforestasi 2025 yang memprihatinkan: luas hutan yang hilang melonjak drastis menjadi 433.751 hektar. Atau, meningkat 66 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 261.575 hektar. Angka ini bahkan lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya.
Auriga Nusantara, yang sejak 2023 konsisten merilis data deforestasi tahunan melalui platform Simontini (Sistem informasi tutupan lahan dan izin), menggunakan metode yang sangat ketat dan melakukan verifikasi lapangan di 49.321 hektar lokasi deforestasi yang tersebar di 38 desa, 28 kabupaten, 16 provinsi mulai Sumatera hingga Papua.
Kalimantan sebagai pulau dengan deforestasi paling tinggi, mencapai 158.283 hektar, naik 28.387 hektar atau 22% dari tahun sebelumnya. Pulau ini berturut-turut menjadi pemuncak deforestasi sejak 2013. Sumatera jadi pulau kedua dengan deforestasi terbanyak, mencapai 144.150 hektar. Papua berada di urutan ketiga. Deforestasinya bertambah 348%, dari 17.341 hektar menjadi 77.678 hektar.
Sulawesi menyusul dengan luasan deforestasi 39.685 hektar pada 2025, meningkat 129%. Maluku 7.527 hektar, meluas 3.990 hektar dari tahun sebelumnya. Bali dan Nusa Tenggara mencapai 4.209 hektar, dan Jawa 2.221 hektar.
“Berbagai kebijakan teridentifikasi sebagai sumber lonjakan ini. Sekitar 58% deforestasi pada 2025 legal karena terjadi di dalam area yang berizin konsesi atau proyek pemerintah,” kata Timer Manurung, Ketua Yayasan Auriga Nusantara, seperti diberitakan Mongabay pada 10 April 2026.
Temuan sebelumnya dari Yayasan KEHATI menunjukkan bahwa sekitar 59 persen deforestasi terjadi di wilayah konsesi izin usaha yang sah, yang menunjukkan adanya celah antara kebijakan dan implementasi di lapangan. Kondisi ini sekaligus mengonfirmasi bahwa instrumen perizinan negara menjadi pendorong utama hilangnya tutupan pohon di wilayah-wilayah dengan stok karbon tinggi.

Yayasan KEHATI melalui laporan Indonesia Environmental Outlook (IEO) 2026, edisi Maret 2026, menempatkan Indonesia pada sebuah persimpangan sejarah ekologis. Mereka menyebut bahwa rangkaian bencana hidrometeorologis besar sepanjang 2025, terutama banjir dan longsor di Sumatera yang menewaskan lebih dari 1.204 jiwa dan menimbulkan kerugian ekonomi sedikitnya Rp68,67 triliun, menjadi alarm keras bahwa krisis lingkungan Indonesia telah memasuki fase struktural dan sistemik, bukan lagi insidental.
Indonesia disebut sedang membentuk lingkaran krisis ekologis pada beberapa sektor, yakni deforestasi terencana dan lemahnya pengawasan hutan melemahkan fungsi hidrologis DAS (Daerah Aliran Sungai); sistem pangan tetap bergantung pada ekspansi lahan dan proyek berskala besar yang gagal; sektor energi terjebak dalam hegemoni batubara dan solusi semu biomassa.
“Sementara sektor air menghadapi krisis kuantitas dan kualitas akibat kerusakan hulu dan eksploitasi air tanah berlebihan, terutama di Pulau Jawa yang diproyeksikan memasuki fase krisis air permanen pada 2030–2040,” jelas Riki Frindos, Direktur Eksekutif KEHATI, di laporan tersebut.
Laporan ini merekomendasikan perubahan paradigma pembangunan, yaitu dari eksploitasi menuju pengelolaan sumber daya alam berbasis daya dukung ekosistem, keadilan sosial, dan keterpaduan lintas sektor. Reformasi hukum lingkungan, moratorium izin baru di lanskap ekologis esensial, evaluasi proyek strategis nasional yang merusak, serta pengakuan penuh hak masyarakat adat dan lokal menjadi prasyarat mutlak pemulihan.

Hilangnya keanekaragaman hayati
Deforestasi memiliki konsekuensi berantai. Salah satunya, kekayaan keanekaragaman hayati kita berada pada tekanan luar biasa. Data terbaru Burung Indonesia yang dirilis 3 April 2026 menunjukkan, dari 1.834 spesies burung yang menghuni kepulauan Nusantara, 159 spesies kini masuk dalam kategori terancam punah secara global (globally threatened species).
Rinciannya: 29 spesies dalam status Kritis (Critically Endangered), 49 spesies Genting (Endangered), dan 82 spesies Rentan (Vulnerable). Lebih memilukan lagi, jalak-suren jawa (Gracupica jalla) kini dinobatkan sebagai spesies paling mengkhawatirkan. Berdasarkan penilaian terbaru IUCN, burung endemis Pulau Jawa ini dikategorikan “Kritis (Kemungkinan Punah di Alam)” atau Critically Endangered (Possibly Extinct in the Wild).
Ancaman paling umum pada burung terancam punah di Indonesia didominasi oleh perubahan dan pemanfaatan lahan. Kajian status keterancaman spesies burung menunjukkan tiga sumber tekanan yang paling sering muncul adalah pertanian (termasuk perkebunan) dan akuakultur, perburuan dan penangkapan satwa darat, serta pembalakan kayu.
Ancaman lain yang juga tercatat, meski pada lebih sedikit spesies, meliputi pembangunan permukiman dan kawasan komersial, kebakaran, spesies invasif, pertambangan dan energi, polusi, gangguan manusia, serta perubahan iklim. Pola ini menegaskan bahwa banyak spesies menghadapi tekanan berlapis, yaitu hilangnya habitat sekaligus tekanan langsung pada individu di alam.
“Selain itu, perburuan untuk perdagangan burung peliharaan juga masih menjadi tekanan besar bagi banyak spesies,” jelas Adi Widyanto, Head of Conservation & Development Burung Indonesia.

Bagaimana kondisi orangutan tapanuli?
Di Ekosistem Batang Toru, Sumatra Utara, kurang dari 800 individu orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) tersisa. Mereka adalah spesies kera besar paling langka di dunia. Populasinya terbelah menjadi dua kantong, Blok Barat dan Blok Timur.
Dalam SRAK Orangutan Indonesia 2019-2029, populasi orangutan sumatera (Pongo abelii) diperkirakan berjumlah 13.710 individu dengan luas habitat sekitar dua juta hektar, sedangkan Pongo tapanuliensis diperkirakan berjumlah antara 577-760 individu dengan luas habitat sekitar 100 ribu hektar (Putro dan kolega, 2019).
Perayaan tahunan Hari Bumi, dapat kita jadikan momentum untuk mendorong perubahan kebijakan yang mampu menghentikan laju deforestasi dan perlindungan satwa liar di habitatnya.
Referensi:
Auriga Nusantara. (2026). Status Deforestasi Indonesia 2025: Deforestasi Melonjak, Saatnya Lindungi Seluruh Hutan Alam yang Tersisa https://auriga.or.id/press_release/detail/65/status-of-deforestation-in-indonesia-2025
Junaid, A. R. (2026). Status Burung di Indonesia 2026. Burung Indonesia. Diakses dari https://burung.org/informasi-burung/status-burung-di-indonesia-2026/.
Haryanto, R. P., Rinaldi, D., Arief, H., Soekmadi, R., Kuswanda, W., Noorchasanatun, F., … & Simangunsong, Y. D. (2019). Ekologi orangutan Tapanuli. Bogor: Kelompok Kerja Pengelolaan Lansekap Batang Toru Berkelanjutan. https://www.researchgate.net/profile/Dede-Rahman-2/publication/336851911_EKOLOGI_ORANGUTAN_TAPANULI_Pongo_tapanuliensis/links/5db6f75a299bf111d4d7663f/EKOLOGI-ORANGUTAN-TAPANULI-Pongo-tapanuliensis.pdf
Yayasan KEHATI. (2026). Indonesia Environmental Outlook (IEO) 2026 (Laporan).
*****
Catatan Akhir Tahun: Melindungi Satwa Liar, Menjaga Manusia dari Bencana