- Nelayan Batang, Jawa Tengah (Jateng), masih melakukan sedekah laut sekalipun laut mereka rusak.
- Tradisi sedekah Laut Roban Timur di Batang Jateng sudah ada sejak jaman dahulu. Dan terus dilakukan dari tahun ke tahun hingga sekarang. Meski kondisi laut sudah berbeda, warga tetap mengucap syukur atas laut sebagai sumber penghidupan mereka.
- Zalya Tilaar, Aktivis WALHI Jateng katakan warga pesisir Batang sedang menghadapi ancaman yang semakin nyata terhadap ruang hidupnya. Wilayah pesisir terus diarahkan menjadi kawasan industri. Akibatkan fungsi ekologis pesisir terabaikan. Sejak PLTU Batang beroperasi, terjadi abrasi yang mencapai rata-rata 2,2 meter per tahun akibat perubahan dinamika arus laut.
- Silvero Raden Lilik Aji Sampurno, Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta jelaskan tradisi sedekah laut sudah ada pada masa penjajahan Belanda. Dilakukan oleh Bupati Cilacap ke-3 bernama Raden Tumenggung Tjakrawerdaya III pada 1875. Diyakini tradisi akan terus mengikat dan keterikatan terhadap alam menjadikan para nelayan akan tetap menjaga lautnya.
Teriknya mentari tidak menyurutkan masyarakat Desa Roban Timur, Kabupaten Batang, Jawa Tengah (Jateng), berkumpul di siang bolong. Minggu (28/6/26) itu. Mereka duduk mengelilingi makanan yang akan mereka perebutkan.
Seorang lelaki paruh baya memimpin doa dengan hikmat. Warga menengadah tangan, turut berdoa. Mereka berterima kasih kepada Tuhan. Atas laut dan sumber kekayaan alam sumber penghidupan mereka.
Saat doa selesai, warga memperebutkan makanan yang mereka percayai sebagai berkah. Sementara replika kapal kecil berwarna merah putih yang bermuatan hasil laut nelayan angkut ke kapal mereka.
Acara itu merupakan sedekah untuk laut Batang. Lalu, iring-iringan kapal melaju satu persatu melepas sedekah itu ke laut.
“Harapannya kami para nelayan mencari nafkah di laut gak ada gangguan. Entah itu kapal tongkang atau kendala lain. Tetap jaga laut dan pesisir di Roban Timur,” kata Hariyono, nelayan Batang.
Vina, perempuan nelayan Batang ungkap harapan serupa. “Semoga laut tetap memberikan penghidupan bagi kami warga pesisir. Ikan banyak dan melimpah, hidup lebih baik,” ujarnya.
“Kami tetap bersyukur, tetap sedekah, meski laut sudah gak seperti dulu waktu saya kecil. Ikan melimpah, melaut sekarang harus jauh,” kata Tono, warga Roban Timur.
Abdul, tokoh desa sebut meski kondisi laut di pesisir Batang sudah berbeda. Tradisi tetap jalan karena sudah ada secara turun temurun.
“Tradisi sudah ada sejak kita belum lahir. Ini wujud syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang diberikan. Doa-doa kami panjatkan. Semoga warga Roban Timur selalu sejahtera meski kondisi sangat sulit.”

Jadi pengingat
Zalya Tilaar, Aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jateng, katakan momentum sedekah laut menjadi sebuah pengingat bahwa warga pesisir Batang sedang menghadapi ancaman yang semakin nyata terhadap ruang hidupnya. Sudah seharusnya pemerintah Kabupaten Batang maupun Provinsi Jateng beri perhatian serius.
“Dalam politik tata ruang yang berlangsung saat ini, wilayah pesisir terus diarahkan menjadi kawasan industri. Akibatnya, fungsi ekologis pesisir terabaikan dan ruang hidup nelayan semakin terdesak,” katanya.
Padahal, pesisir utara Batang menyimpan ekosistem penting. Misal, kawasan terumbu karang yang harus terlindungi karena menjadi penyangga kehidupan biota laut sekaligus sumber penghidupan nelayan. Ancaman tersebut semakin parah dengan keberadaan proyek-proyek energi kotor seperti PLTU Batang dan rencana pembangunan PLTGU.
“Sejak PLTU beroperasi, masyarakat mencatat terjadinya abrasi yang mencapai rata-rata 2,2 meter per tahun akibat perubahan dinamika arus laut. Abrasi ini bukan sekadar persoalan hilangnya daratan, tetapi juga mengancam permukiman dan wilayah tangkap nelayan.”
Studi Perubahan Garis Pantai 2017-2021 di Pesisir Batang sebut, sepanjang pesisir kabupaten ini abrasi lebih besar dari akresi kurun waktu tersebut. Total luas area yang terdampak 17,79 hektar.
Faktor yang menyebabkan, ada fenomena pasang surut, kelerengan pantai, dan angin yang membangkitkan gelombang. Metode penelitian menggunakan analisis Digital Shoreline Analysis System (DSAS) dengan metode Net Shoreline Movement (NSM) dan End Point Rate (EPR) menggunakan data citra satelit landsat 8.
Zalya juga menyoroti ihwal perlindungan terhadap nelayan kecil yang seharusnya menjadi agenda utama pemerintah. Saat negara berbicara mengenai ketahanan pangan, maka nelayan merupakan aktor penting yang menjaga ketersediaan pangan dari laut.
Yang terjadi hari ini, para nelayan justru berhadapan dengan ruang tangkap yang kian menyempit, kerusakan ekosistem laut, dan minimnya perlindungan atas hak-haknya. Maka, tak akan mungkin mereka bisa membangun ketahanan pangan nasional jika ruang hidup dan sumber penghidupan nelayan terus menciut. Apalagi untuk kepentingan industri semata.
“Walhi Jateng mendesak pemerintah untuk menghentikan ekspansi pembangunan yang merusak wilayah pesisir, memastikan perlindungan terhadap ekosistem laut dan terumbu karang, serta menempatkan nelayan dan masyarakat pesisir sebagai subjek utama dalam setiap kebijakan pembangunan di kawasan pesisir.”
Sebelumnya, M. Faiz kurniawan, Bupati Batang, juga mengakui abrasi di pesisir Batang meningkat setiap tahun, mencapai sekitar dua meter per tahun. Dia bilang, industrialisasi Batang meningkatkan ekonomi, namun sekaligus menjadi tantangan. Karena sebabkan tata ruang pantai menjadi sangat kompleks.
“Setiap tahun daratan kita berkurang,” ujarnya dalam laman Pemkab Batang.

Tradisi dan upaya hormati sumber kehidupan
Silverio Raden Lilik Aji Sampurno, Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta katakan, sejarah mencatat tradisi sedekah laut sudah ada pada masa penjajahan Belanda. Tepatnya, pada 1875 oleh Bupati Cilacap III, Raden Tumenggung Tjakrawerdaya III.
Saat itu bupati memerintahkan agar melarung sesaji ke laut selatan pada hari Jumat Kliwon. Tepatnya di bulan Suro, bulan pertama dalam kalender Jawa.
“Itu yang tercatat, ya, 1875. Sedekah dipimpin secara formal dan mendapat perhatian dari pemerintah kolonial Belanda. Sejarah selalu berkaitan dengan sesuatu yang tercatat kan,” katanya, saat Mongabay hubungi.
Meski sejarah mencatat eksistensinya sejak akhir abad 19, namun tradisi tersebut menurutnya, sudah ada jauh sebelumnya. Saat Islam masuk ke nusantara, sedekah laut di pantai utara kemudian menggunakan doa-doa secara Islam.
Dia bilang, kondisi laut saat ini memang tak menguntungkan bagi para nelayan. Salah satunya karena adanya pembangunan yang berpengaruh terhadap kondisi pesisir. Namun dia meyakini tradisi akan tetap masyarakat pegang.
“Tradisi itu tetap saja mengikat mereka. Ada kepercayaan, kalau mereka tak melakukan tradisi yang ada, mereka merasa kurang atau merasa mendapatkan celaka.”
Karena keterikatan terhadap alam tersebut, maka para nelayan akan tetap menjaga lautnya. Mereka tak mengeksploitasi karena laut adalah sumber daya mereka jangka panjang.
“Mereka akan tetap menjaga lingkungan mereka dengan baik meski kadang-kadang harus bertempur dengan tanda petik kepentingan pembangunan yang lain.”

*****
Nelayan Batang Waswas Keluar Izin Pemanfaatan Air Laut untuk PLTU