- Peristiwa pembunuhan seekor tapir (Tapirus indicus) yang terjadi di wilayah Mesuji, Lampung, mengundang banyak keprihatinan. Hilangnya satu individu tapir merupakan kerugian besar bagi kekayaan biodiversitas dan keseimbangan ekosistem.
- Ketika tapir muncul di jalan raya, gajah masuk ke kebun, atau seekor harimau mendekati permukiman, kita lantas menyebutnya ‘hewan masuk ke wilayah manusia’. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya.
- Tragedi di Register 45 Mesuji ini menjadi alarm keras yang mempertegas betapa rapuhnya pertahanan hidup satwa langka pemalu ini di tengah egoisme ruang manusia. Mengenal lebih dekat kehidupan satu-satunya spesies tapir di Asia ini, menjadi penting agar tragedi serupa tidak terus berulang.
- Tapir merupakan penebar biji melalui kotoran mereka. Satwa ini membantu meregenerasi hutan dan menjaga keanekaragaman tumbuhan. Tapir sering berkubang di sungai atau rawa. Tapir membantu menjaga jalur air tetap terbuka, mengalir dari hulu ke hilir.
Tangkapan video viral memperlihatkan seekor tapir tampak kebingungan di Jalan Lintas Sumatera, pada Kamis sore (2/7/26). Beberapa jam lagi, malam tiba. Waktu bagi tapir ini mencari makan karena sifatnya nokturnal/aktif malam hari.
Beberapa orang terlihat mengelilinginya. Mereka berusaha menghalau satwa liar dilindungi itu ke pinggir. Jalan Lintas Sumatera di wilayah Register 45, Mesuji, Lampung, sore itu ramai kendaraan lalu lalang.
Sejurus kemudian tapir menepi dan berlari mencoba menemukan jalan pulang. Di ujung video sepanjang 42 detik itu, terekam seorang pria bertelanjang dada berlari ke arah tapir yang malang sambil membawa tombak.
Aparat keamanan yang mendapat laporan segera menuju lokasi. Tapi polisi mendapati tapir yang melintasi kawasan permukiman warga itu telah mati. Kepalanya dipenggal, dagingnya dibagikan ke sejumlah warga, ada yang dimasak rica-rica. Polisi menangkap empat dari enam tersangka. Dua orang masih buron.
Sontak peristiwa itu mengundang keprihatinan banyak pihak. Di antaranya dari Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI). Budi Setiadi Daryono, Ketua KOBI. Mengutuk keras dan menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa pembunuhan tapir (Tapirus indicus) yang terjadi di wilayah Lampung.
“Tapirus indicus merupakan satu-satunya spesies tapir di Asia yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Pembunuhan tapir adalah pelanggaran hukum sekaligus kemunduran upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia. Tindakan ini tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun,” tegas Budi, yang juga Dekan Fakultas Biologi UGM itu, Rabu (8/7/26).
Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan dan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, menyatakan keprihatinan mendalam. Hilangnya satu individu tapir merupakan kerugian besar bagi kekayaan biodiversitas dan keseimbangan ekosistem.
“Kementerian Kehutanan berkomitmen untuk terus semakin menggencarkan upaya-upaya preventif melalui sosialisasi, edukasi dalam mewujudkan kesadaran publik terhadap nilai pentingnya keanekaragaman hayati bagi kehidupan, “ bunyi pernyataan tersebut, Jumat (3/7/26).
M. Ikhsan Shiddieqy, Peneliti Ahli Madya BRIN, berpendapat ketika tapir muncul di jalan raya, gajah masuk ke kebun, atau seekor harimau mendekati permukiman, kita lantas menyebutnya ‘hewan masuk ke wilayah manusia’. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya.
“Pertanian, perkebunan, dan permukiman terus meluas tanpa mempertimbangkan kebutuhan satwa liar. Walhasil, ruang hidup mereka terpecah-pecah dan konflik dengan manusia kian meningkat,” tulisnya di TheConversation, Kamis (9/7/26).
Tragedi di Register 45 Mesuji ini menjadi alarm keras yang mempertegas betapa rapuhnya pertahanan hidup satwa langka pemalu ini di tengah egoisme ruang manusia. Mengenal lebih dekat kehidupan satu-satunya spesies tapir di Asia ini, menjadi penting agar tragedi serupa tidak terus berulang.

Satu-satunya di Asia
Kaki tapir bagai kuda, telinga mirip badak, berbelalai bagai gajah, dan tubuh mirip babi hutan. Tapir memang binatang istimewa. Dalam bahasa Thailand, tapir disebut psom sett, artinya hewan yang tercipta dari sisa-sisa bagian hewan lain. Tapir sendiri, diperkirakan berasal dari bahasa Brasil, yang lalu mengglobal, tapi`ira untuk menyebut hewan hutan pemakan tumbuhan. Sementara dalam bahasa lokal di Sumatera disebut tenuk atau trenung.
Peran tapir di alam sangat penting meski kerap kurang diperhatikan dibanding satwa kharismatik seperti harimau atau gajah. Tapir merupakan penebar biji melalui kotoran mereka. Satwa ini membantu meregenerasi hutan dan menjaga keanekaragaman tumbuhan. Tapir sering berkubang di sungai atau rawa. Tapir membantu menjaga jalur air tetap terbuka, mengalir dari hulu ke hilir.
Tapir yang tumbang di Register 45 itu sepintas mirip panda, dengan kombinasi warna hitam putihnya yang ikonik. Keduanya memang sama-sama memiliki warna putih pada perut dan punggungnya, dengan keempat kaki berwarna hitam. Tapir di Sumatera ini menjadi satu-satunya spesies yang memiliki corak warna hitam putih.
Namun jika dilihat detil, akan terlihat perbedaan dengan panda. Merujuk pada artikel Mongabay Indonesia, kepala tapir seluruhnya hitam. Sementara panda berwarna putih dengan menyisakan bulatan hitam pada kedua mata dan telinganya. Pada tapir, di ujung telinganya menyisakan sedikit warna putih.
Warna hitam putih tapir membuatnya masuk daftar binatang spesial, yang memiliki paduan pola warna hitam putih pada tubuhnya. Sedikitnya ada 45 binatang yang memiliki pola warna semacan ini. Selain panda, mereka antara lain zebra, orca, sapi holstein, penguin, harimau putih, burung albatros, juga monyet colobus.
Tapir sering disebut tapir malaya atau tapir asia. Spesies ini tersebar di sejumlah negara Asia Tenggara yaitu Myanmar, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Dulu tapir juga ditemukan di Kamboja dan Vietnam. Namun kini di kedua negara itu sudah dinyatakan punah.
Dalam keluarga tapir saat ini tercatat ada empat spesies yang diakui. Mereka adalah tapir brasil (Tapirus terrestris), tapir gunung atau tapir berbulu (Tapirus pinchaque), tapir baird (Tapirus bairdii), dan tapir asia (Tapirus indicus).
Pada 2013 sekelompok peneliti menambahkan tapir hitam kecil (Tapirus kabomani), sebagai spesies kelima. Namun, berdasar penelitian genetik pada 2024 hasilnya tidak cukup kuat menjadikannya sebagai spesies sendiri. Konsensus ilmiah terbaru tidak mengakui tapir hitam kecil sebagai spesies baru. Tapir dari Amerika Selatan ini dianggap hanya bagian dari tapir brasil.
Di Indonesia, Sumatera menjadi satu-satunya tempat tapir masih hidup di alam liar. Di luar itu, tapir berada di lembaga konservasi seperti kebun binatang atau taman safari. Populasinya di Indonesia diperkirakan kurang dari 400-500 individu menurut IUCN (2016).

Habitat tapir
Sebagai satu-satunya spesies tapir di luar Amerika Selatan dan Tengah, T. indicus hidup di hutan-hutan tropis Asia Tenggara, meliputi Semenanjung Malaysia, Sumatera, Thailand Selatan, dan Myanmar. Di Sumatera, tapir spesies ini banyak mendiami kawasan hutan dataran rendah dengan biomassa tinggi, terutama di sekitar Bukit Barisan di bagian barat Sumatera.
Sebuah laporan penelitian berjudul “Safeguarding Asian tapir habitat in Sumatra, Indonesia” menyajikan data terbaru tentang distribusi tapir asia di Sumatera berdasarkan kamera pantau. Penelitian juga menekankan pentingnya menjaga habitat hutan dataran rendah agar spesies ini tidak punah.
“Hutan Sumatera sangat penting untuk konservasi tapir asia, karena mengandung beberapa populasi spesies terakhir tersisa. Namun, upaya konservasi terhambat kurangnya informasi tentang kesesuaian habitat,” ungkap Irene M.R. Pinondang, mewakili tim, dalam laporan penelitian mereka yang dimuat di jurnal Oryx, edisi 4 Juni 2024) itu.
Para peneliti menggunakan data kamera pantau di sembilan lanskap. Yaitu Batang Toru, Bukit Rimbang Bukit Baling, Tesso Nilo, Bukit Tigapuluh, Kerinci Seblat, Berbak Sembilang, Dangku, Bukit Barisan Selatan, dan Way Kambas.
Tapir asia tercatat di 143 stasiun dari 456 stasiun kamera pantau di sembilan lanskap ini. Deteksi tapir terbanyak ada di Bukit Barisan Selatan dan Kerinci Seblat. Deteksi tapir umumnya terkonsentrasi di dekat sungai-sungai besar, kurang dari 12 km dari jalan terdekat, tepi hutan dan kurang dari 50 km dari populasi manusia. Sebagian besar di dataran rendah kurang dari 600 m, yang sebagian besar di hutan dengan biomassa tinggi.
“Hutan di Bukit Barisan yang terletak di sepanjang barat Sumatera merupakan habitat paling cocok untuk tapir,” tulis laporan itu.
Penelitian mereka mengungkap beberapa kawasan konservasi menjadi penopang populasi tapir di Sumatera. Hutan lindung DAS dan bahkan hutan produksi juga ikut berperan penting sebagai habitat tambahan tapir.
“Kami menyimpulkan bahwa konservasi tapir asia di Sumatera akan mendapat manfaat dari digabungkannya dengan pengelolaan dan pemantauan spesies terkenal seperti harimau dan gajah, untuk memaksimalkan prospek jangka panjang spesies ini,” ungkap mereka di bagian akhir laporan.
Memastikan kawasan-kawasan itu sebagai habitat tapir yang aman, terhubung, dan terlindungi menjadi kebutuhan mendesak. Hutan dataran rendah Sumatera yang masih tersisa adalah benteng terakhir salah satu mamalia paling purba di Asia ini. Jika gagal menjaganya, bukan hanya tapir asia yang akan lenyap, hutan tropis Sumatera pun bakal tinggal kenangan.
Referensi:
Pinondang, I. M. R., Deere, N. J., Voigt, M., Ardiantiono, Subagyo, A., Moßbrucker, A., … Struebig, M. J. (2024). Safeguarding Asian tapir habitat in Sumatra, Indonesia. Oryx, 58(4), 451–461. DOI: https://doi.org/10.1017/S0030605323001576
*****