- Kekerasan yang berujung pada pembunuhan burung hantu di NTT viral di media sosial. Para pelaku mengaku membakar burung hantu karena percaya kehadirannya merupakan pertanda buruk dan berkaitan dengan ilmu hitam. Dengan aksi membakar burung hantu tersebut, para pelaku meyakini ancaman sihir dapat dilenyapkan.
- Nama burung hantu bukan sekadar julukan seram tanpa dasar. Ada dua alasan biologis di baliknya yang sudah dibuktikan melalui riset ilmiah bertahun-tahun. Pertama adalah gaya hidupnya yang benar-benar nokturnal alias aktif di malam hari, kedua kemampuannya terbang nyaris tanpa suara.
- Di balik penampilannya yang sering dianggap seram, burung hantu merupakan teman paling setia petani. Sebuah riset mencatat bahwa di beberapa perkebunan yang menerapkan program rumah burung hantu (rubuha), tingkat kerusakan tanaman akibat tikus turun drastis, dari kategori destruktif di atas 12 persen menjadi di bawah 2 persen.
- Di beberapa wilayah Indonesia, burung hantu diperlakukan dengan penghormatan tinggi, bukan ditakuti kehadirannya.
Kekerasan terhadap burung hantu yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), telah menghebohkan masyarakat luas.
Pertama, di Januari 2026, seekor burung hantu jenis Tyto alba ditembak mati di Kabupaten Belu karena dianggap mengganggu. Motifnya sederhana, si pemilik rumah merasa terganggu akan kehadiran burung tersebut. Aksi itu direkam kemudian diunggah ke media sosial dan menuai kecaman luas.
Kedua, pada Agustus 2026, seekor burung hantu yang diduga celepuk flores (Otus alfredi), dipukul dan dibakar hidup-hidup oleh tiga pria di Manggarai Barat.
Adhi Nurul Hadi, Kepala BBKSDA NTT, menyayangkan tindak kekerasan tersebut. Menurutnya, perbuatan melukai atau membunuh satwa dilindungi merupakan pelanggaran berat. Pelaku dapat terancam 15 tahun penjara sebagaimana diatur Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
“Tindakan kekerasan terhadap satwa tidak dapat dibenarkan. BBKSDA NTT menyampaikan keprihatinan dan menyayangkan tindakan yang dilakukan terhadap satwa tersebut,” ujar Adhi, dikutip dari detik.com, Kamis (13/8/26).Namun yang paling mengkhawatirkan adalah alasan di balik aksi tersebut. Ketika diperiksa, ketiga pelaku mengaku membakar burung hantu karena percaya kehadirannya merupakan pertanda buruk dan berkaitan dengan ilmu hitam. Dengan aksi membakar burung hantu tersebut, para pelaku meyakini ancaman sihir dapat dilenyapkan.

Kenapa dijuluki burung hantu?
Nama burung hantu bukan sekadar julukan seram tanpa dasar. Ada dua alasan biologis yang sudah dibuktikan lewat riset ilmiah bertahun-tahun.
Alasan pertama adalah gaya hidupnya yang benar-benar nokturnal alias aktif malam hari. Studi genom komparatif terhadap 11 spesies burung hantu yang dipublikasikan di jurnal Genome Biology and Evolution (2020) menemukan bahwa nenek moyang burung hantu mengalami seleksi alam yang mempercepat evolusi gen-gen terkait persepsi cahaya redup dan pendengaran akustik; dua indera yang paling dibutuhkan untuk berburu dalam gelap total.
Riset ini bahkan menemukan cara pengemasan DNA yang tidak lazim pada sel retina burung hantu, sebuah adaptasi yang berfungsi menyalurkan lebih banyak cahaya ke fotoreseptor mata saat malam hari. Ditambah wajah datar berbentuk piringan dan posisi telinga yang tidak simetris, burung hantu praktis punya radar bawaan untuk memetakan posisi mangsa hanya dari suara gemerisik sekecil apa pun.
Alasan kedua, yang benar-benar membuatnya terasa seperti hantu adalah kemampuannya terbang nyaris tanpa suara. Tinjauan ilmiah yang diterbitkan di jurnal Interface Focus (The Royal Society) edisi 2017, menjelaskan tiga struktur unik pada bulu sayap burung hantu yang meredam suara. Ada gerigi halus (serration) di tepi depan bulu yang memecah aliran udara turbulen, lalu permukaan berbulu halus menyerupai beludru yang menyerap frekuensi suara, serta rumbai lembut di tepi belakang bulu yang meredam bunyi kepakan.
Kombinasi ketiganya, yang oleh para peneliti disebut membuat kepakan sayap burung hantu nyaris tak terdeteksi telinga manusia maupun mangsanya. Tubuhnya seolah benar-benar melayang tanpa jejak suara, persis seperti imajinasi tentang sosok hantu yang muncul dan menghilang tanpa peringatan.
Dengan penjelasan ilmiah tersebut, ketakutan orang terhadap kemunculan tiba-tiba burung hantu tanpa suara di malam hari punya penjelasan biologis. Bukan sesuatu yang gaib, melainkan hasil jutaan tahun evolusi yang menjadikan burung hantu pemburu paling efisien di kegelapan.

Sahabat petani
Banyak orang mengira semua burung hantu itu sama: mata bulat, muka datar, suara mendesis di kegelapan. Padahal Indonesia menyimpan puluhan jenis burung hantu (famili Strigidae dan Tytonidae), dan beberapa di antaranya hanya bisa ditemukan di satu titik kecil di peta, termasuk di NTT.
Yang paling akrab dengan petani adalah serak jawa (Tyto alba atau Tyto javanica), berwajah putih berbentuk hati, sering bersarang di lumbung atau rumah kosong dekat sawah. Di ujung lain ada celepuk flores (Otus alfredi), burung hantu mungil berbulu merah karat yang hanya hidup di hutan pegunungan Flores pada ketinggian di atas 1.000 meter, dengan sebaran seluas kurang dari 500 kilometer persegi. IUCN Red List menetapkan status celepuk flores sebagai Endangered, dua langkah lagi menuju kepunahan di alam liar.
Uniknya, setiap jenis burung hantu memiliki “pekerjaan” berbeda dalam ekosistemnya. Serak jawa suka membuka lahan terbuka dan permukiman, celepuk flores menjaga hutan pegunungan, sementara jenis lain memilih hutan riparian di dekat sungai. Itu berarti jika burung hantu terus diganggu atau dimusnahkan, hal itu akan menjadi kerugian besar bagi ekosistem karena populasi mangsanya bisa meningkat drastis hingga memicu ledakan hama. Ketimpangan sekecil apa pun pada salah satu jenis bisa mengganggu keseimbangan yang sudah terjalin ribuan tahun.

Di balik penampilannya yang sering dianggap seram, burung hantu sebenarnya sekutu paling setia bagi petani. Berdasarkan riset Trisyanto dkk, yang berjudul “Efektivitas Pemanfaatan Burung Hantu (Tyto alba) sebagai Predator Alami Hama Tikus Sawah (Rattus argentiventer) dalam Mendukung Ketahanan Pangan”, yang terbit di Gontor Agrotech Science Journal pada 2026.
Serak jawa adalah predator spesialis tikus. Lebih dari 90 persen makanannya merupakan tikus sawah. Satu individu burung dewasa bisa memangsa 1.000 hingga 1.300 ekor tikus setiap tahun. Riset yang sama mencatat bahwa di beberapa perkebunan yang menerapkan program rumah burung hantu (rubuha), tingkat kerusakan tanaman akibat tikus turun drastis, dari kategori destruktif di atas 12 persen menjadi di bawah 2 persen.
Motif di balik kasus pembunuhan burung hantu di NTT, menunjukkan sesuatu yang penting: masyarakat memang punya kepercayaan turun-temurun tentang burung hantu, tapi kepercayaan itu tidak selalu berujung kekerasan. Justru di banyak wilayah lain di Indonesia, burung hantu diperlakukan dengan penghormatan tinggi, bukan ketakutan.
Di tanah Minahasa, Sulawesi Utara, burung hantu manguni justru dianggap sebagai pembawa pesan leluhur yang bijaksana. Suaranya di malam hari dipercaya sebagai petunjuk sebelum mengambil keputusan penting, bukan petanda petaka yang harus dilenyapkan. Filosofi ini, tanpa disadari, justru berfungsi sebagai mekanisme perlindungan alami: karena dihormati, burung ini tidak diburu, dan populasinya terjaga.
Referensi:
Espíndola-Hernández, P., Mueller, J. C., Carrete, M., Boerno, S., & Kempenaers, B. (2020). Genomic evidence for sensorial adaptations to a nocturnal predatory lifestyle in owls. Genome Biology and Evolution, 12(10), 1895–1908. https://doi.org/10.1093/gbe/evaa166
Trisyanto, N. A. A., Zahid, M. R., Azzaki, A., Mufada, A. A., & Soesanto, L. (2026). Efektivitas pemanfaatan burung hantu (Tyto alba) sebagai predator alami hama tikus sawah (Rattus argentiventer) dalam mendukung ketahanan pangan. Gontor Agrotech Science Journal, 12(1). https://doi.org/10.21111/agrotech.v12i01.11
Wagner, H., Weger, M., Klaas, M., & Schröder, W. (2017). Features of owl wings that promote silent flight. Interface Focus, 7(1), 20160078. https://doi.org/10.1098/rsfs.2016.0078
*****