Sejarah Alam Indonesia

Kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia tidak terlepas dari proses sejarah pembentukannya.  Sejarah alam Indonesia dapat ditelusuri melalui biogeografi.  Biogeografi merupakan disiplin ilmu yang dapat menunjukan pengetahuan sejarah terbentuknya wilayah dan menjelaskan bagaimana proses penyebaran flora dan fauna di suatu tempat.

Melalui biogeografi dapat ditentukan pula wilayah-wilayah penting dan prioritas bagi konservasi keanekaragaman hayati.  Di dunia dikenal ada enam wilayah biogeografi yaitu Oriental, Australia, Ethiopia, Neotropik, Neartik, dan Paleartik.

Indonesia sebagai wilayah geopolitik meliputi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Wilayahnya terbentang dari Sabang sampai Merauke dengan 33 provinsi. Namun dilihat dari sudut pandang biologi, wilayah Indonesia merupakan bagian terbesar dari wilayah yang sering disebut sebagai Malesia atau Indo-Malaya.

Wilayah ini meliputi India, Srilanka, Thailand, China bagian selatan, Semenanjung Malaya, Indonesia, Filipina, Papua-Nugini, sampai Australia (Richards 1996).  Lohman et al. (2011) menyebutnya sebagai wilayah Indo-Australia yang terdiri dari 20.000 pulau di sekitar garis khatulistiwa meliputi Brunei, Timor Timur, Indonesia, Malaysia, New Guinea, Filipina, Singapora, dan Thailand.

Indonesia terletak pada dua wilayah biogeografi yaitu Oriental dan Australia.  Wilayah biogeografi Oriental meliputi Indonesia bagian barat, misalnya Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali. Wilayah yang juga dikenal sebagai Sundaland ini pada masa lalu bersatu dengan daratan Benua Asia.  Sementara itu wilayah yang meliputi Indonesia bagian Timur seperti Papua dan beberapa pulau kecil di sekitarnya merupakan bagian dari Australia dan pulau-pulau yang muncul dari dasar laut.

Uniknya, wilayah seperti Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku tidak termasuk dalam kedua wilayah biogeografi.  Pulau-pulau tersebut malah memiliki perpaduan karakteristik wilayah biogeografi tersebut.  Wilayah inilah yang dikenal sebagai Wallacea – merujuk pada ilmuwan Inggris Alfred Russel Wallace yang melakukan penelitian di Nusantara 160 tahun yang lalu.

Lebih lanjut tentang ekosistem:

Sundaland

Wallacea

Papua

Referensi Pendukung

Collins, N. M., J. A. Sayer, T. C. Whitmore. 1991.  The Conservation Atlas of Tropical Forests. Asia and The Pacific. Macmillian Press Ltd; London.

Kartikasari, S. N., A. J. Marshall & B. M. Beehler. 2012.  Ekologi Papua. Editor. Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan Conservation International. Jakarta. Xiii+982 hlm.

Lee, R.J., Riley, J., Merrill, R. 2001.  Keanekaragaman Hayati dan Konservasi di Sulawesi Bagian Utara.  WCS-IP dan NRM; Jakarta.

Lohman, D. J., M. de Bruyn, T. Page, K. von Rintelen R. Hall, P. K. L. Ng, H. T. Shih, G. R. Carvalho & T. von Rintelen. 2011. Biogeography of the Indo-Australian Archipelago. The Annual Review of Ecology, Evolution, and Systematics (42): 205-226.

Mittermeier, R. A., P. R. Gil, M. Hoffman, J. Pilgrim, T. Brooks, C. G. Mittermeier, J. Lamoreux, G. A. B. da Fonseca. 2004. Hotspot; revisited. Cemex; Mexico City.

Monk, K., Y. de Fretes, G. Reksodihardjo-Lilley. 1997.  The Ecology of Nusa Tenggara and Maluku.  Periplus Editions. Singapore. xvi+ 965 hal.

Moss, S. J. & M. E. J. Wilson.  1998.   Biogeographic implications of the Tertiary Palaeogeographic evolution of Sulawesi and Borneo.  Biogeography and Ecological Evolution of SE Asia. Backhuys Publisher, Leiden, The Netherland.

Petocz, R. 1994. Mamalia Darat Irian Jaya. PT. Gramedia Pustaka Utama; Jakarta.

Stattersfield, A. J., M. J. Crosby, A. J. Long, D. C. Wege. 1998.  Endemic Bird Areas of the World: Priorities for biodiversity conservation. BirdLife International. Cambridge.

Richards, P. W. 1996.  The Tropical Rain Forest. Second Edition.  Cambridge University Press, Cambridge.

Whitten, T., R. E. Soeriaatmadja, & S.S. Afiff. 1999.  Ekologi Jawa dan Bali. Prenhallindo, Jakarta. xxii + 972 hal.