, ,

Nyepi Segara, Ketika Laut Rehat di Bali

Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali terlihat ramai seperti biasa. Warung, toko, dan kantor pemerintah desa buka seperti biasa. Bahkan pabrik pengolahan ikan pindang terbesar di Bali juga masih beroperasi di kampung nelayan ini.

Para pekerja mengeluarkan ikan-ikan beku dari tempat penyimpanan, menaruhnya dalam ember-ember besar lalu mengangkut ke lokasi pemindangan. Sejumlah bus pariwisata parkir dan rombongan turis berbahasa Spanyol terlihat berkunjung ke pabrik pengolahan ikan ini, pekan lalu.

Ketika hendak ke laut, pecalang (petugas keamanan adat) menghentikan mereka pada jarak sekitar 50 meter dari bibir ombak. “Penjor (batang bambu berhias janur tanda ada upacara) ini batasnya ya, kami sedang melaksanakan Nyepi Segara,” kata warga mengingatkan. Kemudian diterjemahkan para guide ke turis-turis yang kemudian memotret suasana dan berfoto selfie.

Di darat kegiatan seperti biasa. Namun laut tampak sunyi. Hening. Tanpa ada perahu atau aktivitas manusia di pesisirnya. Laut diistirahatkan dari segala aktivitas di perairan Kusamba yang sehari-hari cukup pikuk.

Biasanya di kawasan pesisir Kusamba ini sangat ramai. Ada sejumlah dermaga atau pelabuhan darurat untuk menyeberangkan orang dan barang dari dan ke Kepulauan Nusa Penida. Aneka sembako dan bahan makanan dipasok dari Pulau Bali menuju tiga gugusan pulau kecil yang masuk kawasan Klungkung kepulauan yakni Nusa Penida, Ceningan, dan Lembongan. Pulau-pulau kecil ini makin ramai dikunjungi wisatawan, tak heran arus orang dan barang terus bertambah.

Pada Purnama Kalima ini, laut istirahat. Nyepi Segara. Nyepi artinya sepi, hening. Sementara Segara artinya laut. Puluhan perahu nelayan berbaris rapi di pantai. Di pasir banyak tergeletak sisa sesajen tanda aktivitas persembahyangan.

I Nyoman Tegig duduk santai mengawasi laut. Pria nelayan ini memanfaatkan Nyepi Segara dengan mengupacarai perahunya. Sudah dilakukan beberapa hari sebelumnya dan saat Nyepi laut, perahunya diperciki tirta dan sesajen. Agar bisa digunakan untuk bekerja, mencari ikan dan memberi keselamatan.

“Makin sulit cari ikan. Kami nelayan kecil, kadang dapat kadang tidak. Hari ini libur dulu tidak boleh melaut,” ujarnya. Menurutnya Nyepi Segara ini sebagai wujud penghormatan pada laut dan refleksi betapa laut sudah memberikan kerahayuan untuk manusia.

Tegig menyadari cuaca kini makin sulit ditebak. Berbeda dengan belasan tahun lalu ketika arah angin dan arus sesuai dengan tebakan dan kalender musim. “Sekarang uang lebih banyak habis untuk bensin. Kadang dilempar arus jauh. Kalau dulu tak pakai mesin karena angin dan arus sudah pasti,” ia menceritakan.

Osila, salah seorang anak muda setempat yang turut mendokumentasikan Nyepi Segara di desanya mengatakan melihat ikan-ikan berlompatan di pinggir laut. “Mungkin mereka tahu tak ada aktivitas manusia, tadi sempat ada lumba-lumba juga,” serunya.

Ia menyebut ritual Nyepi Segara ini bagus sekali jika diketahui maknanya oleh masyarakat luas. Terutama untuk pendidikan lingkungan.

Sebelum Nyepi Segara yang dilakukan satu hari, ada upacara besar di pura desa setempat. Warga membawa hasil panen dari gunung ke laut. Misalnya buah-buahan lokal di kebun seperti nangka.

Kemudian diikuti parade ratusan warga yang mengenakan pakaian adat selama 2 hari berjalan membentuk barisan membawa sesajen. Hari pertama mereka berseragam adat, kain dan kebaya untuk perempuan berwarna putih. Lalu hari kedua berpakaian serba kuning.

Inilah filosofi Nyegara Gunung, satu kesatuan hulu hilir di Bali yang sudah sejak ribuan tahun lalu dikampanyekan warga melalui ritual.

Selain di perairan Kusamba, Nyepi Segara juga dilakukan di perairan Nusa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, yang dilakukan pada bulan Januari. Berarti khas perayaan di Kabupaten Klungkung. Di Lembongan, pusat resor dan aktivitas wisata ini, warga menginformasikan pada pemandu, wisatawan, dan lainnya untuk tidak melalui perairan Nusa Penida.

Nyepi sendiri adalah perayaan tahun Baru Saka umat Hindu di Bali yang dilaksanakan setahun sekali, biasanya pada Maret atau April. Pulau Bali menjadi senyap karena seluruh aktivitas dihentikan, terutama fasilitas publik termasuk bandara dan pelabuhan selama 24 jam penuh.

Ada empat hal yang dianjurkan tak dilakukan. Empat pantangan tersebut antara lain Amati Karya, Amati Geni, Amati Lelungan dan Amati Lelaungan. Amati Karya atau tidak bekerja dan tidak menjalankan aktivitas lainnya. Amati Geni, yakni tidak menyalakan api maupun lampu penerang, Amati Lelungan tidak bepergian dan Amati Lelanguan tidak mengumbar hawa nafsu atau bersenang-senang. Karena itu hotel banyak membuat paket wisata Nyepi untuk warga atau turis yang tak melakukan pantangan ini.

Suasana pura Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali saat dilakukan ritual Nyepi Segara.  Foto :  Luh De Suriyani
Suasana pura Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali saat dilakukan ritual Nyepi Segara. Foto : Luh De Suriyani

Selain Nyepi di laut, sejumlah desa lain juga melakukan ritual mirip dengan cara berbeda. Misalnya Nyepi Desa (karang) di Ulakan, Karangasem. Jadi di satu desa ini tak boleh ada aktivitas.

Juga ada Nyepi Lanang (laki) dan Wadon (perempuan) di Desa Ababi, Karangasem. Tiap desa di Bali punya cara dan konteksnya sendiri melakukan ritualnya.

Dalam konteks global, Nyepi pernah diusulkan sebagai inisiatif pengurangan emisi oleh sejumlah LSM dan komunitas di Bali. Kampanye ini dinamakan World Silent Day (WSD), mengajak warga melakukan pengurangan aktivitas penggunaan energi selama empat jam tiap 21 Maret sejak 2008.

Diperkenalkan pertama kali saat konferensi Perubahan Iklim (COP) ke-13 United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Bali.

Secara ilmiah, Nyepi memang terbukti mengurangi emisi. I Wayan Suardana, Kepala BMKG Bali tahun lalu mengatakan tak bisa mengukur ini tiap tahun padahal idealnya dilakukan tiap tahun secara konsisten agar hasilnya bisa dimonitor. Pada 2013, BMKG meneliti lima daerah di Pulau Bali, yaitu Denpasar, Bedugul-Tabanan, Karangasem, Singaraja, dan Negara-Jembrana.

Penelitian ini dilakukan di antaranya dengan cara langsung menggunakan alat digital Wolf Pack Area Monitor dan Continous Analyzer IRIS 4600. Alat ini mengukur konsentrasi gas rumah kaca per jam, dengan parameter untuk karbondioksida (CO2) dan nitrogendioksida (NO2).

Pengamatan gas rumah kaca pada saat Nyepi, dan perbandingannya pada hari biasa pada hari-hari biasa, menunjukkan besarnya pengaruh aktivitas manusia terhadap alam dan kontribusinya pada pertumbuhan gas rumah kaca, terutama CO2. Hasilnya menunjukkan pengaruh anthropogenik pada kenaikan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) mencapai 33%. Artinya pada Hari Raya Nyepi terjadi penurunan emisi GRK rata-rata 33 persen. Pemanasan global disebut perlu memperhatikan dua parameter, yaitu kenaikan suhu dan konsentrasi GRK di atmosfer.

Sebelumnya Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya pada saat itu mengatakan konsep Nyepi bagus jika bisa dilakukan secara nasional. Hal ini menurutnya berkontribusi pada komitmen penurunan emisi gas rumah kaca 26% sampai 2020 di Indonesia. Namun tidak mudah karena tergantung kesadaran masyarakat dan kesanggupan pemerintah daerah.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , , , , , , , ,