Ritual Penyelamatan Paus Biru di Lembata

 

Empat Paus Biru diketahui muncul di Teluk Waienga, Desa Watodir, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, NTT, Jumat (20/10/2017). Namun 2 di antaranya terjebak di bagian palung teluk. Hingga Senin (23/10) siang, para pihak penyelamat masih berusaha menghalau ke laut dalam.

Sebuah ritual kearifan lokal penyelamatan paus pun dilakukan. Dimulai dengan membuat bunyi-bunyian di bawah laut untuk membawa ke pintu keluar palung. Kemudian ditambah dengan dengan lantunan doa dan sejumlah sarana pengantarnya. Secara harfiah seperti spirit memberi makan dan memanggilnya menuju laut. Menggunakan sejumlah sarana seperti kapas, ikan kering putih, dan tuak atau air deresan bunga kelapa/lontar.

“Ritual Soro Nei, bisa dibilang memberi makan dan meminta untuk kembali ke laut lepas,” kata Antony Lebuan, salah satu relawan evakuasi dan Kepala Bidang Kebudayaan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lembata. Paus yang terdampar ini tidak diberi makan dalam artian literal.

Menurut Antony, ritual ini dilakukan oleh para tuan tanah di sekitar teluk. Sarananya antara lain, kapas dipelintir menjadi bola-bola kecil, ada juga sejenis umbi-umbian yang biasa disematkan pada bayi untuk menolak bala. Lalu ada ikan kering putih non pelagis yang digandeng biji beras. “Kapas dipelintir saat pelafalan doa. Persembahan untuk moyang leluhur menyambut sang pencipta,” ia mengisahkan.

 

Dua ekor Paus Biru yang terjebak di Teluk Waienga, Desa Watodir, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, NTT, Jumat (20/10/2017). Foto : Tim Penyu Loang/JAAN/Mongabay Indonesia

 

Melalui doa menyapa leluhur yang dipercaya menguasai kawasan. Juga doa untuk sang matahari dan bulan, tanah, dan bumi. “Ritual ini belum tercatat,” ingatnya saat ditanyakan sejarahnya.

Dua kali upaya menghalau Paus Biru ini pada akhir pekan lalu menggunakan perahu tanpa mesin belum berhasil. Terkendala pasang surut area laguna. Ukuran paus mencapai lebih dari 25 meter. Sementara lebar palung sekitar 20-27 m, dengan kedalaman diperkirakan 17-35 m. Dinding palung adalah batu karang sehingga dikhawatirkan akan terjadi gesekan dan luka pada tubuh paus.

Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Ikram M.Sangadji mengatakan upacara adat dilakukan Senin ini dilanjutkan kembali dengan upaya evakuasi. Disebutkan pada pada 20 Oktober sore, BKKPN Kupang mendapat informasi dari Dinas Pariwisata Lembata tentang paus itu kemudian tim tiba di lokasi pada 21 sore. Koordinasi dilakukan dengan DKP, Polres, Kodim, dan BNPBD di Lowoleba, serta Pemdes dan Masyarakat adat desa Watodir.

Pada Minggu, 22 Oktober mulai diupayakan menghalau 2 ekor paus biru keluar dari palung. Upaya evakuasi juga melibatkan Dispar, Satpolair, Polres, Pos TNI AL, dan lembaga penyelamatan satwa WCS dan JAAN.

Antony Lebuan mengingat awal evakuasi ada speedboat selain perahu tidak bermesin yang berusaha membuat bebunyian di bawah laut dengan batu dan bambu. “Terlalu banyak orang dan perahu bermesin bikin panik,” katanya.

Ia menyebut beberapa kali terlibat dalam evakuasi. Paus Biru langganan masuk ke teluk ini, nyaris tiap tahun.

Sampai akhirnya pada Rabu (25/10), tim gabungan berhasil  giring keluar 1 individu Paus Biru dari perairan dangkal di Teluk Watodiri, Jontona, Lembata. Pada hari ini  proses penggiringan keluar terhadap satu individu yang lain akan dilakukan kembali oleh tim yang sudah di lokasi.

 

Penanganan paus biru terdampar yang terjebak di Teluk Waienga, Desa Watodir, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, NTT, Jumat (20/10/2017). Foto : BKKPN Kupang/Mongabay Indonesia

 

Di area ini ada aktivitas diving dan snorkeling. Seingatnya sudah 3 tahun berturut ada paus terjebak di laguna teluk ini. Ia mendeskripsikan di ujung teluk ada kanal seperti pintu masuk mirip selokan. Ketika paus masuk “kolam” ini di sekelilingnya tebing dalam laut berbentuk lingkaran, kadang muncul daratan kalau surut. Jadi paus terjebak ini hanya muter saja dalam selokan itu.

Tahun lalu ada 2 paus berhasil digiring keluar. Pada 2014 terjebak 5 ekor, yang paling kecil mati. Paus ini seingat Tony lingkar badannya sektar 5 meter, dengan panjang 28 meter. Upaya evakuasi selama 11 hari. “Takutnya supply makanan habis saat surut dan mati lemas,” katanya. Salah satu strategi evakuasi saat itu hanya menjaga di sekitar pintu keluar, lalu membuat bebunyian dengan batu di dalam laut untuk menghalau megafauna ini menemukan pintu keluar.

Masyarakat Lembata meyakini Paus Biru tidak boleh diburu. Di pantai Selatan Lamalera ada tradisi tradisi perburuan paus jenis tertentu secara tradisional. Pusat hidup dan kehidupan adalah paus. Ekonomi, spiritualitas, sosial, komunal pusarannya paus. Ia menyebut ritual teramai dalam perburuan paus adalah 28 April saat ritual musim melaut dibuka. Misalnya penyucian di laut, dan melakukan pesan pasar dengan hanya mengirimkan satu perahu. Perahu lain mengikuti.

Bagi warga Lamalera kehadiran paus adalah berkah untuk kehidupan. Kehadiran paus menurut Antony juga diterjemahkan dimulainya masa musim tanah. “Di Teluk Waienga musim tanam dimulai, ini berkah karena warga hampir 100% bertani walau punya laut. Kebun harus mulai disiapkan mulai ditanam, jagung dan kacang tanah dan hijau,” urainya. Tony Lembata, panggilan pria yang berasal dari Flores dan merantau di Lembata ini pernah ikut pameran foto “Cinta Lembata, Pesona Indonesia” pada 2015 lalu.

Laman pemerintah daerah lembatakab.go.id menyebut Tanjung Nuhanera, di Kawasan Teluk Waienga adalah salah satu lokasi wisata bahari. Lokasi ini sering menjadi tujuan para wisatawan dari luar negeri untuk diving, snorkeling atau sekedar berjemur dan bersantai. Lokasi ini pada tahun 2014 menjadi pusat pelaksanaan kegatan Rally Wisata Bahari tahun 2014 yang melibatkan 14 Desa yang berada diseputaran Teluk Waienga, mencakup Kecamatan Ile Ape, Ile Ape Timur dan Lebatukan.

Tradisi penangkapan paus oleh masyarakat di Desa Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata sudah ada sejak abad 16. Perburuan ikan paus ini dilakukan oleh penduduk pria Lamalera yang sudah dewasa serta dianggap memiliki kemampuan (biasanya setiap keluarga mewakilkan satu anggota keluarganya). Sebelum berburu, mereka semua memanjatkan doa-doa diberi keberhasilan dalam perburuan Ikan paus. Presentasi keberhasilan penangkapan ikan paus ini tak tinggi, karena metode perburuan menggunakan cara tradisional. Yaitu dengan menancapkan tombak ke badan ikan paus.

 

Penanganan mamalia laut terdampar. Sumber : Whale Stranding Indonesia

 

Perburuan paus biasanya dimulai bulan Mei, perburuan dilakukan menggunakan perahu yang terbuat dari kayu yang disebut “Paledang” . Orang yang bertugas menikam paus disebut “Lama fa”, Lama fa nantinya akan berdiri di ujung perahu dan untuk menikam paus. Lama fa akan melompat dan menikamkan tombak “tempuling” pada paus.

Daging paus yang diperoleh dari perburuan ini nantinya akan dibagikan kepada seluruh penduduk sesuai besar kecilnya jasa wakil anggota keluarga mereka dalam proses perburuan pausnya. Selain hasil daging, masyarakat juga memanfaatkan minyak paus sebagai minyak urut, bahan obat dan bahan bakar untuk pelita atau lampu teplok.

Paus yang hamil dan kecil tak akan diburu, hal itu dilakukan untuk tetap menjaga populasi paus di daerah Lamalera.

 

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , ,