Warga Pahuwato Tolak Pembukaan Kebun Sawit

SEBAGIAN besar warga Desa Dudewulo, Kecamatan Popayato Barat, Kabupaten Pahuwato, Gorontalo, menolak rencana pembukaan kebun sawit. Warga khawatir kehadiran kebun sawit akan merusak lingkungan sekitar.

Bobi Dunggio, tokoh masyarakat desa Dudewulo, mengatakan, tidak mau bencana menghantam desa ini. “Kami sudah memiliki berbagai buku juga video referensi yang menjelaskan sawit hanya menguntungkan sesaat, namun tidak menjamin masa depan anak cucu kami,” katanya kepada Mongabay.co.id, Jumat (2/11/12).

Kini, sudah ada dua perusahaan sawit masuk ke desa itu, PT Sawit Tiara Nusa dan PT Sawindo Cemerlang. Perusahaan  itu, kata Bobi, sudah memasuki kebun rakyat.

Aman Biki, warga lain, mengatakan, meskipun perusahaan sawit menyatakan masyarakat akan mendapatkan keuntungan ekonomi dan mampu menyerap tenaga kerja, mereka tetap menolak. Sebab, dampak lingkungan dari perkebunan sawit menelan biaya besar.

“Keuntungan secara ekonomi oleh perusahaan kepada masyarakat, tetap tidak mampu mengganti biaya bencana yang akan ditimbulkan nanti.”

Aman mencontohkan, jauh hari sebelum sawit datang, sudah ada perusahaan kayu mengelola kayu di  itu. Yang mereka dapat hanyalah banjir dan tanah longsor. “Bahkan 2009, ada enam rumah warga terbawa arus banjir karena aktivitas perusahaan kayu,” ucap Aman.

Penolakan warga dengan cara berunjuk rasa. Aksi ini akan terus dilakukan sampai perusahaan sawit angkat kaki dari tanah mereka.

Di Kabupaten Pohuwato, ada enam perusahaan sawit sudah memiliki izin usaha perkebunan, yakni PT Wiramas Permai, PT Wira Sawit Mandiri, PT Banyan Tumbuh Lestari, PT Global Laksana, PT Sawindo Cemerlang, dan PT Sawit Tiara Nusa.

Jumadi Giono, Kepala Bidang Kesatuan Pengelolaan Hutan Dinas Kehutanan dan Pertambangan Kabupaten Pohuwato berupaya meyakinkan warga. Menurut dia, dampak ekologis sudah dipikirkan matang-matang. “Perusahaan sawit sudah mengantongi analisis dampak lingkungan. Jadi tidak perlu masyarakat khawatir.”

Namun, jika masyarakat di Dudewulo, bersikeras menolak perkebunan sawit, tetap akan dipertimbangkan dengan mencari lokasi atau desa lain.

Idan Pakaya, warga lain justru berharap perkebunan sawit beroperasi. “Saya sudah dua bulan menjadi security dengan gaji Rp1,7 juta per bulan.”

Awalnya, Idan bersama warga lain menolak perkebunan sawit. Setelah perusahaan sosialisasi, dia bisa menerima. “Perusahaan sawit tidak akan mengganggu lahan warga. Desa kami justru akan dijadikan sentral ekonomi.”

Ungkapan Idan dipatahkan Ahmad Bahsoan, Ketua Perkumpulan Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda) Gorontalo.  Bahsoan mengatakan, perkebunan sawit hanya membawa keuntungan sesaat. Setelah itu, tanah yang sudah ditanami akan rusak dan hanya memberikan petaka ekologi.

Apalagi, pembukaan lahan besar-besaran hingga mengakibatkan deforestasi, keragaman hayati dan budaya masyarakat sekitar hilang. “Sudah banyak kasus terjadi di Sumatera dan Kalimantan. Sawit hanya membawa bencana ekologi dan menciptakan konflik sosial.”