Sampah Plastik dan Jaring, Ancaman Serius Kehidupan Pesut di Kalimantan

Pesut atau lumba-lumba air payau (Orcaella brevirostris) di perairan Kubu Raya dan Kayong Utara, Kalimantan Barat. Foto: WWF

Sampah plastik merupakan ancaman utama kehidupan mamalia air terutama pesut, yang dapat menyebabkan kematian di Kalimantan. Diperkirakan, 60 hingga 80 persen sampah tersebut berasal dari daratan.

Danielle Kreb, dari Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) mengatakan, sampah plastik merupakan persoalan yang mengganggu. “Plastik ini lama terurai dan kerap dianggap makanan oleh mamalia air. Tidak hanya itu, sampah plastik juga dapat menjadi racun,” jelasnya.

Berdasarkan pengalaman Danielle menangani pesut mahakam yang mati, setelah diotopsi, ternyata di lambung satwa dilindungi itu berisi pempers bayi. “Butiran jelinya yang memenuhi lambung, membuat pesut tersebut tidak bisa makan apapun sehingga mati,” ujarnya pada kegiatan Bimbingan Teknis Penanganan Mamalia Laut Terdampar, di Kubu Raya, Kalimantan Barat, Rabu (4/3/2015). Bahkan, menurutnya, beberapa mamalia air termasuk pesut, menganggap sampah plastik itu ubur-ubur sehingga disantap.

Danielle melanjutkan, di kasus lain, ditemukan juga gumpalan jaring nelayan di lambung pesut yang mati terdampar. Kematian ini semakin melengkapi ancaman kehidupan pesut dari perburuan dan alih fungsi hutan atau rawa yang mengakibatkan sedimentasi atau endapan di dasar sungai. “Kadang, pesut ditangkap dan dibunuh khusus untuk dijadikan umpan hiu.”

Pesut di Kalimantan Barat

Pesut juga ditemukan di Kalimantan Barat. Habitat mamalia dilindungi ini terdata di perairan Kubu Raya. Dwi Suprapti, Koordinator Konservasi Spesies Laut WWF Indonesia Program Kalbar mengatakan, keberadaan pesut di Kabupaten Kubu Raya sering dijumpai oleh nelayan.

Para nelayan sering menemukan mamalia ini di sekitar perairan bakau Padang Tikar, Teluk Nuri, kanal-kanal bakau Selat Sih, pesisir pantai hingga perairan payau, hutan bakau dan nipah di perairan Batu Ampar. “Spesies ini sering datang ke untuk bermain, beristirahat, atau mencari makan,” jelas Dwi.

Pesut diotopsi untuk dicari penyebab kematiannya. Foto: Hendar

Tahun 2011, Tim Survei WWF Indonesia bekerja sama dengan Badan Pengembangan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak berhasil mempelajari dan mendokumentasikan keberadaan lumba-lumba air payau (Orcaella brevirostris) ini di perairan Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Hasilnya, dengan jarak survei sekitar 248 km dan 26 jam pengamatan selama 5 hari, beberapa pesut berhasil dideteksi di perairan payau hutan bakau dan nipah serta di Batu Ampar.

“Keberadaan pesut, sering dijadikan indikator oleh nelayan untuk mencari ikan. Dimana ada pesut, biasanya ada ikan, udang-udangan, dan cumi. Walau tidak diburu, tetapi pesut dan nelayan sama-sama berburu ikan, udang, dan cumi. Sehingga, penangkapan ikan yang tidak lestari akan menyebabkan pesut kehilangan sumber makanan.

Dwi mengatakan, saat ini ancaman terhadap kondisi ekosistem perairan cukup tinggi. Limbah pestisida perkebunan sawit, sampah, sedimentasi sungai akibat kegiatan pertambangan, dan pembangunan menjadi ancaman tersendiri bagi pesut di Kubu Raya. Selain itu, perairan di Kubu Raya juga berfungsi sebagai jalur transportasi sungai yang menghubungkan pemukiman, seperti dari Pontianak ke Sukadana dan Ketapang dan sebaliknya. “Kapal-kapal pengangkut kayu serta bauksit yang mempunyai tonase besar menjadi salah satu ancaman bagi habitat pesut.”

Menurut Dwi, berdasarkan hasil penelitian WWF-Indonesia Program Kalbar 2012-2013, sedikitnya sekitar 10 pesut terjaring dalam kurun waktu tersebut, selain empat individu dugong.

Tulisan ini hasil kerja sama Mongabay dengan Green Radio