Membandingkan Pengelolaan Taman Nasional di Indonesia dengan Negara Lain, Seperti Apa?

Orangutan, salah satu spesies endemik yang ada di Indonesia. Keberadaannya perlu dilindungi, dengan menjaga habitatnya di kawasan konservasi. Foto: Rhett A. Butler
Orangutan, salah satu spesies endemik yang ada di Indonesia. Keberadaannya perlu dilindungi, dengan menjaga habitatnya di kawasan konservasi. Foto: Rhett A. Butler

Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati, baik flora maupun faunanya, tak ada yang meragukan kebenarannya. Namun potensi tersebut ternyata belum bisa dimanfaatkan secara optimal. Termasuk memanfaatkan keanekaragaman hayati yang ada di 51 taman nasional yang ada di Indonesia.

Hal itu berbeda dengan apa yang yang dilakukan di negara lain, yang telah mampu mendorong upaya konservasi sehingga bisa mendatangkan manfaat yang berlimpah. Baik dari sisi kelestarian lingkungan, sosial, budaya, hingga pendapatan ekonomi suatu negara.

Dalam kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Palangkaraya pada Oktober baru-baru ini, Shane Barrow, pakar konservasi dari Amerika Serikat menjelaskan cerita negaranya dalam mengelola taman nasional. Mirip Indonesia, kepedulian lingkungan bermula dari kerusakan lingkungan di waktu yang lalu. Amerika Serikat pun sempat merasakan dampak banjir dan bencana yang terjadi.

Ia mengatakan, upaya konservasi awal di negaranya pun banyak belajar dari ancaman kepunahan bison. Seabad lalu, bison banyak terdapat di dataran berumput, tetapi populasinya berkurang secara drastis akibat perburuan. Namun saat ini populasinya kembali stabil setelah adanya kebijakan menekan laju kepunahan satwa tersebut. Menurutnya, upaya penyelamatan bison, juga sama dengan apa yang sekarang dilakukan di Indonesia untuk menyelamatkan populasi orangutan dan gajah.

Menurutnya kunci pengelolaan taman nasional adalah bagaimana upaya konservasi dapat meningkatkkan ekonomi masyarakat yang ada di sekitarnya.

“Pariwisata menjadi salah satu pemanfaaatan taman nasional di AS. Di dalam taman nasional, masyarakat bisa melakukan canoeing, memancing dan kegiatan lainnya. Contohnya di Yellowstone National Park di negara bagian Wyoming, Montana, dan Idaho misalnya,” ucapnya. Sejak 1979, Yellowstone telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO.

Dari 56 taman nasional yang ada di Amerika Serikat, satu taman nasional dalam setahun dikunjungi oleh lima juta orang, atau total seluruh taman nasional per tahun adalah dapat mencapai 300 juta orang. Kontribusi pendapatan dapat mencapai mencapai 16-30 milyar dolar per tahun.

“Prioritas konservasi di AS adalah bagaimana agar taman nasional yang ada diupayakan untuk mendapatkan hasil dari ecowisata namun tetap menjaga keseimbangan kehidupan satawa liar dan ekonomi. Ekonomi dan perlindungan satwa seimbang,” tutur lelaki yang sudah lebih dari 20 tahun menekuni bidang konservasi tersebut.

Hal tersebut tentu saja berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Penghasilan dari penginapan yang ada di sekitar kawasan taman nasional di AS mencapai 8-9 juta dolar. Keuntungan lain juga didapat dari banyaknya restoran dan akomodasi lainnya bagi pengunjung, yang tersedia di sekitar kawasan konservasi.

“Di tahun 1930-an, di AS terjadi krisis ekonomi yang mengakibatkan 3,5 juta lapangan kerja hilang. Berdasarkan pengalaman itu, pemerintah AS belajar ternyata dengan mengelola taman nasional bisa menciptakan lapangan kerja cukup besar. Itu bergulir jadi gerakan politik bahwa ternyata konservasi dan ekonomi bisa jalan berdampingan.”

Menurutnya, salah satu kunci keberhasilan pengembangan taman nasional di AS adalah penyediaan infrastruktur bagi pengunjung juga pusat-pusat informasi. Jalur treking di beberapa taman nasional juga dibangun sehingga menjadi poin penting untuk pengembangan ekowisata.

“Di sana, anak-anak muda paling senang jalan. Di salah satu taman nasional kami, ada satu jalur trekking yang berada di atas ketinggian 4200 mdpl. Ini dikelola dengan baik. Anak-anak muda dilibatkan menjadi relawan untuk membangun jalur trekking, juga dibangun jalur untuk mengunjungi situs purbakala dan paleontologi,” katanya.

Namun pembangunan infrastruktur, tak lantas merubah bentang alamnya. Keseimbangan terhadap ekosistem tetap menjadi prioritas yang diutamakan. Bahkan, sepertiga wilayah AS merupakan kawasan lindung yang mencapai 300 juta hektar.

Wilayah yang dimanfaatkan untuk kegiatan ekowisata pun hanya sepertiganya. Di sana juga kawasan yang dilindungi ada nilai budayanya, sebagai bagian dari daya tarik. Akses pengunjung menuju taman nasional pun dibuat mudah. Meski demikian, perlindungan satwa liar, keragamaman hayati menjadi hal penting, termasuk menjaga agar tidak ada spesies invasif yang masuk ke lingkungan taman nasional.

Menurutnya, bukan tak mungkin Indonesia yang memiliki 51 Taman Nasional juga sebenarnya bisa menerapkan hal tersebut. Hanya saja, ia mengatakan, tentu hal tersebut membutuhkan komitmen dari semua pihak. Juga terkait dengan promosi mengenai taman nasional yang ada di Indonesia, harus lebih gencar sehingga bisa dikenal oleh banyak wisatawan.

Meski ia menyadari ada gap antara Indonesia dan Amerika. Di negaranya, perlu waktu 100 tahun untuk bisa mengelola keberadaan naman nasional seperti sekarang ini, dibandingkan Indonesia yang baru 71 tahun menjadi negara yang merdeka. Namun, bukan tak mungkin Indonesia juga bisa menerapkan hal serupa.

Barrow mengakui, upaya konsevasi di AS mungkin bukan hal yang sempurna. Namun katanya, sekarang dinegaranya orang-orang yang di kota telah menghargai keberadaan taman nasional. Taman nasional di AS katanya, sering dimanfaatkan untuk sarana rekreasi. Di sisi lain, keberadaan Taman Nasional di AS juga katanya, berfungsi sebagai wilayah untuk melindungi budaya masayarakat sekitar, salah satunya adalah budaya masyarakat Indian.

Taman Nasional Sebangau. Foto: Dok. Taman Nasional Sebangau
Taman Nasional Sebangau. Foto: Dok. Taman Nasional Sebangau

Mengenalkan Taman Nasional kepada Generasi Muda

Lebih lanjut Barrow mengatakan, keberhasilan Amerika dalam mengelola Taman Nasional berada pada generasi mudanya. Perasaan bangga dan memiliki Taman Nasional dipupuk sejak dini. Menurutnya, di negaranya ada program bernama American Conservation Experience (ACE) yang dikelola oleh lembaga tempat ia mengabdikan diri, Emerging Professionals Internship Corps (EPIC).

Lewat program ini, anak-anak muda di AS diberikan pembekalan untuk lebih peduli terhadap lingkungan hidup, salah satunya memupuk rasa memiliki pada taman nasional. Anak-anak muda yang mengikuti program tersebut, juga diikutsertakan dalam program konservasi yang ada di dalamnya.

“Mereka diajak berkemah selama beberapa hari agar lebih mencintai alam. Selain itu, bagi mereka juga diberikan kesempatan untuk magang di pusat konservasi maupun taman nasional,” ujarnya.

“Di AS kaum muda menjadi sasaran utama dalam hal konservasi dimulai sejak dini. Dalam bentuk pendidikan maupun keterlibatan dalam kegiatan konservasi,” ujarnya.

Dengan banyaknya anak-anak muda di Indonesia, ia juga berharap program tersebut bisa diadopsi di negara ini. Sehingga dengan begitu, rasa cinta dan memiliki anak-anak muda di Indonesia terhadap taman nasional, bisa dipupuk sejak dini. Apalagi, Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk mengembangkan taman nasional.

“Hubungan antara pemuda dan lingkungan di AS dalam 100 tahun terakhir ini ditujukan menanamkan hubungan psikologis antara manusia dan taman nasional yang dikonservasi. Terutama  hubungannya dengan spesies langka. Sebelumnya, di AS juga mengalami depresi sumber daya sangat cepat,” katanya.

Harimau sumatera, salah satu spesies endemik dilindungi yang hanya ada di Indonesia. Foto: WWF Indonesia
Harimau sumatera, salah satu spesies endemik dilindungi yang hanya ada di Indonesia. Foto: WWF Indonesia

Dorong Keterlibatan Masyarakat

Menanggapi pernyataan Barrow, M. Yusuf, Wakil Rektor IV UMP, mengakui bahwa pengelolaan taman nasional di Indonesia perlu melibatkan masyarakat, sehingga ada upaya kolaboratif dan tidak memperpanjang kesenjangan.

“Jangan sampai masyarakat tertekan. Harus ada akses masuk kawasan yang memadai. Konsep konservasi kita tak dirasakan oleh masyarakat. Seolah masyarakat di sekitar hutan konservasi  tak boleh apa-apa, diputus dari hutannya. Ini yang harus diperhatikan,” katanya.

Menurutnya, masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan konservasi, taman nasional salah satunya, harus diberikan porsi yang memadai. Jangan asal melarang tanpa ada solusi yang menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Menanggapi hal ini, Suli Septriani, Kepala Resor Mangkok Balai Taman Nasional Sebangau, menyebutkan pengembangan ekowisata juga sudah mulai dikerjakan, setelah fase pengamanan kawasan dan penguatan sumberdaya manusia dilakukan.

“Pelibatan masyarakat sekitar di TN Sebangau terjalin dalam hal pembentukan Masyarakat Peduli Api. Dari sisi pemberdayaan masyarakat, kami  juga memberikan bantuan berbagai macam bibit dan ternak kepada masyarakat. Kami akui masih terbatas, tapi ada,” ucapnya.

Ia pun mengakui, bahwa selama ini di pemerintah pun ada kekeliruan paradigma dalam memandang konservasi. Kawasan konservasi seolah-olah harus benar-benar diproteksi. Padahal menurutnya, kepentingan manusia dan lingkungan itu seharusnya tak boleh saling bertabrakan.