Mengenal Satwa-satwa Purba dari Sulawesi

Babi rusa, salah satu turunan satwa purba endemik Sulawesi yang masih bertahan hingga kini. Foto: Sapariah Saturi

 

Alfred Russel Wallace hingga akhir hayat dibuat terpana oleh Sulawesi. Selama penjelajahan di nusantara, dia menyambangi Sulawesi tiga kali, masing-masing, tahun 1856 memasuki pedalaman hutan Makassar, 1857 menuju karst Maros, dan 1859 di Manado.

Temuan dia mencengangkan karena ada satwa endemis yang hanya bisa ditemukan di wilayah ini–tak ada di belahan bumi lain. Diapun membagi letak geografi satwa antara wilayah barat dan timur Indonesia.

Pada 1859, Wallace menerbitkan makalah tentang pembagian dan penyebaran satwa di Indonesia, satu di timur lain di barat.

Pada 1867, ahli anatomi, Thomas H Huxley, menyebut, pembagian ini sebagai garis Wallacea, bagian utara Sulawesi dibatasi selat Makassar–antara Kaliamantan dan Sulawesi dan bagian selatan memisahkkan Bali dan Lombok.

Sejak publikasi itu, Sulawesi menjadi sebuah ladang keilmuan dari beragam disiplin ilmu. Mulai kajian arkeologi, geologi, biologi, hingga sosial.

Hendrik Robert van Heekeren, dari Lembaga Purbakala Belanda, sejak kedatangan pertama 1948 (dan lima kali setelahnya) untuk penelitian arkeologi dalam konteks Geologi Kurater, mendapatkan temuan mencengangkan, termasuk fosil babi purba (Celebochoerus heekereni).

Penelitian lain pun berduyun-duyun dilakukan, khusus di Lembah Wallanae— kini secara administratif mencakup Sinjai, Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Parepare, dan Pinrang—ratusan fragmen fosil binatang menyeruak dari kedalaman. Termasuk fauna dari masa pleistosen (sekitar 2,5 juta tahun lalu) hingga masa holosen (ratusan ribu tahun lalu) yang menjadi leluhur beberapa satwa Sulawesi kini.

 

Satwa purba Sulawesi yang punah

Satwa Sulawesi yang punah, salah satu gajah purba (Elephas celebensis). Fosil satwa ini diperkirakan hidup 2,5 juta tahun lalu (Pleistosen Awal-Pleistosen Tengah). Temuan fosil gajah kerdil ini merupakan ikon dari Lembah Wallanae dan Sulawesi umumnya.

Tak banyak tahu tentang satwa ini padahal endemik Sulawesi.

Gajah ini sangat spesifik, karena memiliki empat gading, masing-masing dua tumbuh pada rahang atas, dan dua di rahang bawah. Diperkirakan individu ini keturunan langsung gajah yang hidup di dataran Asia dan Timur Tengah pada Pleistosen Akhir dan Pleistosen Awal.

Secara fisik, perkiraan bentuk menyerupai gajah modern–gajah saat ini–namun berukuran lebih kecil. Tinggi hanya 1,5 meter dan menempati habitat mangrove di pesisir pantai.

Kini fosil hasil temuan itu, seperti tengkorak dan 58 buah fragmen bagian gajah ini, tersimpan di Lembaga Purbakala Jakarta dan lainnya di Geological Reaserch and Development Center (Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi) di Bandung.

Pada perkiraan usia sama,  ditemukan pula babi purba (Celebochoerus heekereni). Satwa ini ditemukan pada lapisan-lapisan tua, dan tak berlanjut pada masa lebih mudah. Pada rentang hidup fauna ini tak ditemukan jenis babi lain, yang diperkirakan terpisah dari keluarga babi kini.

National Geogrpahic Indonesia edisi Juli 2009, mempublikasikan hasil rekonstruksi, dengan moncong babi (modern), namun memiliki taring menonjol ke samping hingga mirip tanduk. Tubuh dipenuhi bulu-bulu lebat.

Rekonstruksi itu didasarkan fragmen-fragmen yang tersebar, seperti tengkorak, molar, premolar, dan canin (taring). Dari temuan itu, para peneliti menyimpulkan ada perbedaan paling mendasar dari rahang bawah yang menyerupai huruf “U.”

Ciri paling nyata pada jantan adalah taring atas berkembang sangat maju, melebar ke samping hingga menyerupai tanduk dengan lengkungan besar.

Untuk taring bawah, posisi lebih di depan dengan perkembangan lambat, ukuran lebih pendek dan kecil.

Secara luas fosil Celebochoerus heekereni, ditemukan di beberapa tempat, seperti Sompo, Beri, Celeko, Calio, Lonrong, Sare Batue, dan Paroto. Juga, Palangiseng, Marale, Bulu Cepo, Lakibong, dan Sungai Tanrung dan beberapa tempat lain.

“Saya kira masa itu, hewan ini berkembang cukup banyak. Karena sepanjang penggalian dalam areal Lembah Wallanae selalu ditemukan,” kata Rustan, Arkeolog Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala Sulawesi Selatan.

Babi purba diperkirakan berkembang sejak 2,5 juta tahun lalu dan perkiraan punah sekitar 20.000-11.000 tahun lalu.

Lalu kura-kura raksasa (Geochelon atlas) atau disebut juga testudo margae, sebuah spesimen fauna berkaitan dengan fauna yang sama di Siwalik (India). Fauna ini ditemukan di Timor dan Sangiran. Jenis ini diperkirakan memiliki alur cangkang lebih kasar, penyebarann diperkirakan dari Asia Tenggara Daratan.

Kura-kura ini menempati habitat dan lingkungan rawa terbuka, seperti mangrove dan muara sungai. Setiap individu kura-kura dewasa ini ukuran bisa tinggi satu meter, panjang 1,5 meter.

Ada juga buaya purba (Crocodylus sp), temuan fosil buaya purba di Lemba Wallanae Sulawesi Selatan, cukup banyak.

Berdasarkan ukuran dari spesimen rahang dan gigi, jenis ini diperkirakan sama dengan buaya muara, menghuni wilayah rawa dan mangrove.

Di tempat ini pula ditemukan jenis Gavalis sp, buaya predator bagi hewan darat berukuran kecil, yang mengindikasikan ada sungai berarus.

 

Anoa Sulawesi. Foto: Eko Rusdianto

 

Leluhur satwa Sulawesi

Setelah kondisi geologis Pulau Sulawesi relatif stabil akhir Pleistosen, Lembah Wallanae, menuju kondisi seperti sekarang. Beberapa satwa masih bertahan, terus beradaptasi, seperti babirusa (Babyrousa babyrousa).

Babirusa adalah jenis babi paling purba dari keluarga Suidae. Di lembah ini, fauna ini dianggap bermigrasi dari pegunungan bagian tengah Sulawesi bersama babi purba lain(Sus celebensis). Fauna inilah yang kemudian diperkirakan menggantikan Celebochoerus hekereeni yang punah akhir pleistosen hingga saman holosen.

Ciri fisik temuan, memperlihatkan kulit agak keriput dan permukaan licin (sedikit bulu), lebih ramping, sedikit panjang dibanding postur tubuh babi sekarang. Yang paling khas taring keluar kebagian atas hingga mendekati mata. Dan taring bagian bawah melengkung ke atas.

Satwa lain adalah babi Sulawesi (Sus celebensis). Di Lembah Wallanae tepatnya Sungai Panciro ditemukan tengkorak satwa ini. Temuan lain di Leang Burung, Maros.

Fauna ikonik lain adalah anoa sp (Anoa depressicornis). Fosil fauna ini ditemukan cukup berlimpah di Lembah Wallanae. Di Sulawesi ada dua jenis Anoa, dataran tinggi (Anoa quarlesi) dan dataran rendah (Anoa depressicornis).

Satwa ini juga diperkirakan memiliki kemiripan dengan jenis kerbai air ido-Burma (Asia) Bubalus arnee dan kerbau kerdil Philipina (Bubalus mindorensis).

Di Lembah Wallanae, temuan fosil anoa berasal dari dataran rendah. Fosil ini diperkitakan merupakan penutup dari fauna Wallanae dan individu yang berkembang di masa Holosen hingga sekarang, bersama dengan Sus celebensis.

Tak hanya itu, tahun 2015 di Maros, fosil temuan anoa menyeruak pula di kedalaman 5,5 meter. Panjang tanduk tidak main-main 28 sentimiter. Jika melihat perbandingan anoa hidup saat ini, tanduk yang pernah ditemukan di Enrekang paling panjang 20 sentimeter.

 

Adaptasi

Tahun 1858, Wallace mengirim surat ke Charles Darwin mengenai petualangan di Nusantara. Dia menulis, kegelisahaan dan beragam pertanyaan mengenai, berbagai macam spesies yang dijumpai selama 10 tahun penjelajahan.

“Mengapa ada spesies yang mati dan sebagian sanggup bertahan,” tulis Wallace.

Geologi Sulawesi dan sekitar terbentuk melalui peristiwa tubrukan (konvergen) antara tiga lempeng litosfer. Masing-masing lempeng Australia bergerak ke utara, lempeng pasifik ke arah barat, dan lempeng aurasia ke bagian selatan – tenggara.

Secara sederhana, pada 50 juta tahun lalu, Sulawesi hanya berupa bagian dari Sulawesi Barat sekarang dan berbentuk cekung. Hingga pada masa Miosen dan Pliosen 15 hingga 5 juta tahun lalu, pulau ini baru mulai membentuk huruf “K” seperti saat ini.

Pliosen akhir 5 juta tahun sampai sekarang, merupakan tahap akhir efek penabrakan lempeng. Pada tahap inilah, pulau terbentuk dari tubrukan berbagai menghasilkan daratan yang retak-retak. Hasilnya, beberapa sesar seperti, sesar Pali-Koro, sesar Matano, sesar Lawanopo, Sesar Kolaka dan sesar Balantak.

Rustan, dalam Fosil Vertebrata di Kawasan Depresi Wallanae di buku Refleksi 100 tahun Lembaga Purbakala Makassar 1913-2013, membagi tiga kelompok fauna berdasarkan posisi stratigrafi (lapisan geologi) dan gelombang migrasi, masing-masing Fauna Wallanae, Fauna Tanrung, dan Fauna Toala atau Sub-Resen.

Bagi Rustan, kedatangan fauna ke Sulawesi dan secara umum ke pulau-pulau di Wallacea bermigrasi secara bergelombang, membentuk karakter untuk beradaptasi dengan alam. Misal, di Lembah Wallanae, jenis Elphantoid – keluarga gajah – mengalami pengkerdilan. Sedangkan jenis Kura-kura dan Babi mengalami perkembangan.

Pengkerdilan, kata Rustan, terjadi akibat penyemppitan daratan yang membuat terbatasnya wilayah jelajah dan seumber daya.  Sementara pembesaran diperkirakan oleh minimnya predator dan kemampuan adaptasi dalam pemanfaatan sumber daya di lingkungan. “Secara sederhana, fauna yang punah itu adalah jenis gagal dalam adaptasi lingkungan,” katanya.

Namun, pada keluarga (jenis) babi, tak mengalami kepunahan. Meski perkecualian jenis Celebhoerus hekeereni –merupakan babi purba–malah punah. “Wallanae, adalah lembah yang ibaratnya seperti buku alam yang menyimpan halaman-halaman pengetahuan. Baru sedikit yang terbuka,” katanya.

“Selebihnya masih lembaran-lembaran tertutup dan terpendam oleh endapan sedimen Wallanae sebagai bagian dari sistem geologi Sulawesi yang kompleks, lagi tidak populer!”