Geliat Kelompok Tani Beringin Jaya di Tanggamus

Eka Nur Fitasari, ketua Kelompok Perempuan Tani Hutan Himawari, Desa Margoyoso, Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Foto: Elviza Diana/ Mongabay Indonesia

 

“Enting-enting jahe,” kata Eka Nur Fitasari, menyebut permen berbahan dasar jahe di pameran Aksi Konservasi Hutan Tropis Sumatera di Medan. Lidah saya merasakan manis bercampur pedas ketika mencicipinya. Permen ini terbuat dari jahe merah, gula aren dan wijen.

Eka adalah ketua Kelompok Perempuan Tani Hutan Himawari, Desa Margoyoso, Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Tanggamus, Lampung.

Himawari, salah satu lembaga di Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Hutan Kemasyarakatan Beringin Jaya. Gapoktan ini,  tahun lalu pernah mendapat predikat terbaik pertama kategori pemegang izin pengelolaan HKm dalam lomba Wana Lestari tingkat nasional.

“Kita didampingi Konsorsium Kota Agung Utara. Proses ini bukan sebentar hingga akhirnya kita bisa mendapatkan manfaat dari skema perhutanan sosial yang diinginkan,” kata Ahmad, Ketua Gapoktan HKm Beringin Jaya.

Beringin Jaya mendapatkan penetapan areal kawasan melalui SK 886/Menhut-II/2013, setahun kemudian memperoleh izin usaha pemanfaatan B. 465/34/II/2014. Sebelum penetapan jadi HKm, petani sulit mengembangkan hasil pertanian dan perkebunan.

Kopi,  merupakan tanaman utama masyarakat sejak lama. Salah satu yang terkenal bernama kopi codot. Kopi ini jenis robusta yang ditanam di Lereng Gunung Tanggamus, Lampung.

Buah kopi berwarna merah jadi pilihan terbaik bagi hewan codot. Codot adalah nama lokal hewan sejenis kelelawar , satwa noctural yang aktif di malam hari.

Berbeda dengan luwak, codot tak memakan biji kopi, hanya konsumsi daging. Kalau kopi luwak, biji kopi dipungut dari kotoran, kopi codot dari sisa makanan. Biji kopi ini diolah petani Himawari.

Selama ini, kopi codot hanya dikonsumsi para petani sendiri atau dicampur kopi lain dan dijual dengan harga murah. Ternyata,  kopi codot memiliki rasa khas.

Eka mengatakan, setelah mencoba memasarkan, tanggapan pasar sangat baik. “Kita bisa jual di pasaran harga kopi codot mentah ada cangkang Rp40.000 perkg.”

Selain kopi codot, Himawari juga memproduksi kopi lanang dan kopi kecil. Kopi lanang (peaberry) adalah biji kopi pasca panen yang mengalami anomali, terjadi perbedaan pada jumlah keping. Biji kopi umumnya dikotil, kopi lanang monokotil alami tanpa rekayasa.

“Menurut anggapan penikmat kopi, kopi lanang dapat meningkatkan vitalitas,” kata Fajar Sumantri, Direkur Korut,  sembari tersenyum.

Untuk menjawab keperluan pemasaran produk-produk ini, Gapoktan Beringin Jaya membentuk koperasi pada 2015.

Petani, katanya, selama ini, tak dapat menentukan harga sendiri tetapi oleh tengkulak.

“Kita berpikir mengapa tidak langsung dijual ke perusahaan ataupun tempat lain dengan harga jauh lebih baik?” katanya.

Kalau produk dijual ke tempat lain, petani tak bisa lagi berutang ke tengkulak. Kadang, sewaktu-waktu petani perlu biaya tak terduga, hingga tergantung tengkulak. “Misal, biaya sekolah anak, berharap pinjaman dengan tengkulak.”

 

***

Areal kelola Beringin Jaya pimpinan Ahmad pada Hutan Lindung Register 30 Gunung Tanggamus. Seluruh desa di 56 Desa mengelilingi hutan lindung menggantungkan kebutuhan air pada mata air Pegunungan Tanggamus. Keberadaan hutan jadi penting untuk menjaga mata air mereka tetap mengalir.

“Hampir seluruh warga menggantungkan kebutuhan air dari sumber-sumber di gunung. Sekitar 5% membuat sumur resapan,” kata Zaini,  Koordinator Korut.

Mata air merupakan sumber air bagi persawahan, selain kebutuhan sehari-hari. Mata air juga mampu menggerakkan turbin mikrohidro untuk listrik.

Sayangnya, perambahan dan perburuan liar jadi ancaman. Beringin Jaya pun membentuk pasukan pengamanan hutan swadaya masyarakat, Pamhut.

Delapan Pamhut dari gapoktan mengamankan areal kelola HKm seluas 871 hektar. Pamhut ini berhasil mengamankan perambahan dan melaporkan ke polisi kehutanan.

“Pada 2015, saat semua mengeluhkan kebakaran hutan. Di areal kami tidak ada satupun titik api. Pamhut ini benar-benar bekerja. Semua orang berkewajiban menjaga lokasi mereka,” ucap Ahmad.

Beringin Jaya jadi contoh bagaimana skema perhutanan sosial bermanfaat dalam mengatasi konflik lahan di kawasan hutan.

Korut, telah bergerak dalam pendampingan masyarakat mendorong skema perhutanan sosial di Tanggamus.  Sejak 2012, sudah ada 43.945,14 hektar tersebar di 56 desa, keseluruhan HKm di Tanggamus 58.160,70 hektar.

Zaini mengatakan, banyak pihak menjalin kerjasama dengan Korut. Korut menggandeng Pemerintah Tanggamus, Ikatan Penyuluhan Kehutanan Indonesia (Ipkindo), penyuluh swadaya masyarakat (PKSM), forum komunikasi hutan kemasyarakatan (FK-HKm) sampai Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).

“Dulu, mereka malah berpikir skema perhutanan sosial ini upaya halus pemerintah mengusir mereka. Setelah ada kejelasan status kawasan, mereka bisa tenang bertani dan berkebun sesuai kaidah konservasi.”

Kabar keberhasilan Beringin Jaya menyebar seantero Tanggamus. Korut, kata Fajar, berharap banyak petani termotivasi dengan keberhasilan ini dan memicu mereka melestarikan hutan.

Korut, juga memfasilitasi pembentukan pasar komoditi bersama seluruh gapoktan HKm di Tanggamus dengan dukungan Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Sumatera.

Eri Malalo, Faswil Tengah Selatan TFCA Sumatera mengatakan, dukungan TFCA Sumatera pada pengembangan perhutanan sosial karena satu kesatuan lansekap prioritas spesies kunci yaitu harimau, gajah dan badak.