Laporan Terbaru: 85% Terumbu Karang Dunia Terancam

Laporan terbaru yang dirilis oleh kolaborasi antar-lembaga World Resources Institute, USAID Coral Triangle Support Partnership, WWF, The Nature Conservancy dan Conservation International yang selama ini membantu pelaksanaan lapangan dalam program Segitiga Terumbu Karang atau Coral Triangle Initiative di enam negara mengungkapkan bahwa 85% terumbu karang di wilayah segitiga ini terancam oleh aktivitas manusia.

Segitiga Terumbu Karang Dunia, adalah sebuah wilayah yang meliputi negara Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Kepulauan Solomon dan Timor Leste. Laporan tersebut mengungkapkan kerusakan terutama disebabkan oleh pengambilan ikan secara berlebihan, polusi di wilayah pesisir dan pembangunan di sepanjang pesisir pantai.

Laporan berjudul Reefs at Risk Revisited in the Coral Triangle ini juga menyebutkan, jika ketiga ancaman di atas digabungkan dengan pemutihan karang akibat kematian alga, yang diakibatkan oleh kenaikan temperature air laut, maka persentase ancaman bagi terumbu karang menjadi 90% dari seluruh area Segitiga Terumbu Karang ini.

Dalam laporan yang diterbitkan di Simposium Terumbu Karang Internasional ke-12 di Cairns, Australia ini mengingatkan kembali kerentanan terumbu karang terhadap berbagai ancaman dari berbagai aktivitas yang dilakukan manusia.

“Sepanjang wilayah segitiga terumbu karang, komunitas pesisir tergantung pada terumbu karang untuk ketersediaan pangan, kehidupan dan perlindungan pada saat badai melanda, namun ironisnya ancaman di wilayah-wilayah ini justru snagat tinggi,” ungkap Lauretta Burke, peneliti senior di WRI sekaligus editor utama laporan ini. “Terumbu karang itu kokoh –mereka bisa merehabilitasi diri dari proses pemutihan dan dampak buruk lainnya- terutama jika ancaman lainnya cenderung rendah. Terumbu karang yang menguntungkan ini kini dalam bahaya, itu sebabnya tindakan nyata untuk mencegah ancaman bagi karang-karang di sepanjang wilayah segitiga terumbu karang ini sangat penting.”

Segitiga Terumbu Karang memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa –di dalamnya terdapat nyaris 30% dari terumbu karang dunia dan memiliki lebih dari 3000 spesies ikan- dua kali lipat dari jumlah yang ditemukan dimana pun di dunia ini. Lebih dari 130 juta orang hidup bergantung pada ekosistem pesisir untuk mendapatkan pangan, pekerjaan, dan keuntungan dari pariwisata laut.

“Pengaruh terumbu karang bagi hidup banyak orang tak bisa diungkapkan,” kata Katie Reytar, peneliti dari WRI dan penulis laporan ini menekankan. “Pengaruh ini meluas sangat jauh dari wilayah segitiga terumbu karang kepada banyak orang di seluruh dunia yang menyandarkan hidup dari perikanan, pariwisata, pengobatan dan berbagai jasa lain dari lingkungan yang disediakan oleh terumbu karang ini.”

Laporan ini kembali membahas betapa rentannya terumbu karang dan berbagai faktor yang membuatnya musnah. Dari hasil penelitian, laporan ini mengungkapkan bahwa: Lima dari enam negara yang ada dalam wilayah segitiga terumbu karang, berada pada daftar negara paling rentan terhadap dampak sosial dan ekonomi akibat hilangnya layanan terumbu karang seperti makanan, pekerjaan, dan perlindungan garis pantai.

Hasil lainnya mengungkapkan, dari hasil penelitian terhadap efektivitas cakupan dan manajemen yang ada dari daerah perlindungan laut (MPA) di Coral Triangle menemukan bahwa 16 persen terumbu karang di kawasan itu berada di dalam wilayah MPA, yang secara substansial lebih rendah dari rata-rata global 28 persen; Kurang dari satu persen MPA di Coral Triangle yang ditemukan menjadi sepenuhnya efektif dalam mengurangi ancaman seperti penangkapan ikan berlebih dan merusak.

Terumbu Karang di perairan Kabupaten Berau. Foto: rjakub/The Nature Conservancy

Alan White, seorang kontributor laporan ini dan ilmuwan senior di The Nature Conservancy dan mitra dalam CTSP, mencatat bahwa “Sementara masih ada ruang untuk perbaikan dalam meningkatkan efektivitas MPA, terutama Kawasan Konservasi Laut yang besar yang memerlukan sumber daya yang signifikan untuk mengelola, banyak kemajuan telah dibuat dalam membangun kesadaran tentang perlindungan terumbu karang di tingkat lokal dan memberikan masyarakat dengan perangkat dan sumber daya untuk mengelola terumbu karang tempat mereka bergantung. ”

Dianggap sebagai pusat keanekaragaman karang di dunia, laporan Reefs at Risk Revisited in the Coral Triangle  menggambarkan kerentanan terumbu karang di wilayah ini dan menyoroti strategi untuk melindungi mereka. Diantara rekomendasi yang ditawarkan dalam laporan untuk melindungi terumbu karang di segitiga karang dunia, yang paling mendesak adalah untuk mengurangi tekanan lokal seperti penangkapan berlebih, penangkapan ikan yang merusak, dan lepasnya terumbu karang dari tanah.

Reefs at Risk Revisited in the Coral Triangle  merupakan kontribusi penting untuk mendukung negara-negara yang ada di wilayah dalam membuat keputusan penting terkait dengan perlindungan sumber daya laut mereka,” kata Maurice Knight, slah satu kontributor dan Team Leader untuk CTSP. “Perspektif keluasan wilayah pada status terumbu karang seperti yang digambarkan dalam laporan ini menunjukkan mendesaknya situasi dan perlunya tindakan segera.”

Terumbu yang sehat lebih mungkin untuk bertahan hidup dari efek negatif perubahan iklim, seperti pemutihan karang (coral bleaching) yang disebabkan oleh kenaikan suhu air laut atau tingkat pertumbuhan karang berkurang karena keasaman laut meningkat. Menanggulangi ancaman lokal di awal akan memberi kesempatan bagi terumbu karang untuk tumbuh, sampai masyarakat global dapat mengurangi emisi gas rumah kaca.

Laporan The Reefs at Risk Revisited in the Coral Triangle menginformasikan kegiatan Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF), sebuah kemitraan multilateral yang dibentuk pada tahun 2009 oleh enam negara Segitiga Karang untuk mempromosikan penangkapan ikan yang berkelanjutan, meningkatkan pengelolaan MPA, memperkuat adaptasi perubahan iklim, dan melindungi spesies yang terancam di wilayah tersebut.

Laporan baru ini diadaptasi dari analisis global dari WRI tahun 2011 terkait ancaman terhadap terumbu karang, dan dilengkapi dengan data terbaru dan lebih rinci untuk wilayah segitiga terumbu karang.

Untuk mengunduh laporan selengkapnya dari WRI, silakan klik: http://www.wri.org/publication/reefs-at-risk-revisited-coral-triangle.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , , , , , , ,