, ,

Nixon Watem, Penyebar Virus Konservasi pada Anak-anak Kofiau

  “Apa kalian senang kalau laut kita baik?” tanya Nixon Watem.

“Senang….,” teriak anak-anak lebih keras. “Apa kalian senang belajar tentang laut?”

“Senang.”

Teriak anak-anak itu lagi.

Diapun bercerita tentang terumbu karang, mulai jenis, bentuk, warna dan manfaat biota laut di sekeliling. Uniknya, dia juga mengajarkan nama-nama lokal dari jenis-jenis terumbu karang hingga mudah mengenali.

Nixon Watem adalah guru honor di Kampung Balal, Distrik Kofiau. Tak seperti guru lain, dia punya pekerjaan sampingan, mengajari anak-anak Kofiau, soal konservasi laut.

Siang itu, Rabu (22/4/15), Kampung Awat, Distrik Kofiau, Raja Ampat, Papua Barat, dulu lengang menjadi riuh oleh hiruk-pikuk anak-anak. Mereka tak hanya dari Kampung Awat, juga dari Kampung Balal dan Deer.

Kami diajak mengunjungi salah satu sekolah alam Nixon di Kampung Awat. Kami juga mengantarkan buku-buku dari Jakarta, sebagai koleksi tambahan sekolah itu.

Kepada kami, Nixon memperlihatkan metode pembelajaran, yang disebut belajar dan bermain. Pertama-tama,  dia menjelaskan subtansi pembelajaran, memberi mereka kesempatan bertanya lalu turun ke lapangan mencatat serta menggambar apa yang ditemukan lapangan.

Sebelum ke lapangan, anak-anak itu dibagi dalam tiga kelompok: pencatat mangrove, pencatat terumbu karang, dan penggambar mangrove serta terumbu karang. Setelah siap dengan segala kelengkapan mencatat, mereka menyebar ke lokasi yang ditentukan, Pesisir Kampung Awat.

Anak-anak itu, tahu apa yang mereka cari. Mereka dibekali nama-nama mangrove dan terumbu karang, termasuk nama lokal. Mereka hanya bertugas memastikan, keberadaan berbagai ekosistem mangrove dan terumbu karang di tempat itu. Sejam kemudian, mereka kembali ke kelompok, mendiskusikan, sebelum presentasi di depan kelas.

Meski tinggal di daerah terpencil, namun kemampuan dan semangat anak-anak Kofiau untuk belajar ternyata sangat besar dan percaya diri tampil menjelaskan temuan-temuan mereka.

Kine Mamrasar terlihat paling bersemangat hari itu. Gadis kelas tiga SMP ini bercita-cita melanjutkan sekolah ke Sorong atau Jawa. Dia termasuk siswa pertama dari sekolah alam Nixon. Hari itu, dia dipercaya memimpin kelompok terumbu karang.

Tak hanya tangkas menjawab pertanyaan-pertanyaan, Kine juga teliti mencatat di lapangan dan mempersentasikan temuan dengan sangat bagus.“Di sekolah,  dia paling pintar. Sudah banyak ajak dia sekolah di luar Kofiau,” kata Nixon.

Anak-anak Kofiau tak peduli dengan terik matahari mengenali dan mencatat terumbu karang dari berbagai jenis yang tumbuh subur di perairan Kofiau. Foto: Wahyu Chandra
Anak-anak Kofiau tak peduli dengan terik matahari mengenali dan mencatat terumbu karang dari berbagai jenis yang tumbuh subur di perairan Kofiau. Foto: Wahyu Chandra

Menurut dia, keaktifan mengajari anak-anak Kofiau menjaga lingkungan adalah bagian kecintaan pada laut. Dia ingin menularkan pada anak-anak didik.

“Saya mengajari anak-anak mencintai alam dan melestarikan untuk masa depan mereka. Orang tua kami dulu merusak, kini kami memulihkan.”

Nixon mulai mengajar sejak 2011, meski ide sejak 2008. “Sebenarnya mulai 2008-2010, sambil terus ujicoba. Pada 2011, kami mulai secara formal di dua SD Kofiau.”

Di awal, ada sejumlah kendala dihadapi, antara lain dalam penyusunan modul. Dia dan sejumlah orang yang terlibat kurang pengetahuan tentang sumber daya alam.

“Kami diarahkan mengambil materi sekitar lingkungan, tentang terumbu karang dan mangove. Kita buat modul sederhana agar mudah bagi anak-anak.”

Mengajak anak-anak bukanlah hal mudah. Nixonpun menggunakan pendekatan khusus dengan mengumpulkan anak-anak, dan memperlihatkan gambar-gambar terumbu karang nan cantik.

“Kami kasih lihat contoh karang bagus dan cantik jika dijaga. Kami kasih permen supaya mereka mau datang.”

Awalnya, pengajaran lingkungan untuk sekolah, namun hanya cocok siswa kelas lima. Aktivitasnya, lebih banyak di luar kelas untuk pengamatan.

“Ternyata banyak anak-anak tidak sekolah tertarik, hingga kami bikin yang non formal dengan modul lebih sederhana.”

Sedang jadwal masih ditentukan Nixon. Untuk sekolah non formal dia bergilir setiap minggu mengunjungi lima kampung di Kofiau, antara lain Kampung Baal, Deer, Bikiran, Tolobi dan Awat.

“Sekarang kami ada perpustakaan di rumah baca, sore atau malam kalau ada penerangan tetap belajar tentang lingkungan.”

Jumlah siswa di sekolah lingkungan Nixon ini untuk SD belasan tetapi yang non formal banyak. “Di Kampung Balal, , sekolah non formal 50-an anak. “

Tantangan awal dari para orangtua. Di Kofiau, dulu penangkapan ikan banyak menggunakan akar tuba, dan pengambilan karang hidup pakai besi dan linggis untuk pondasi rumah.  “Mereka hanya mau gampang hingga mengambil karang hidup. Ini sudah berkurang.”

Ancaman dari luar, sempat marak penggunaan potasium pembiusan ikan. Mereka pakai kompresor untuk menyelam. Makin lama, mereka di laut makin besar dampak kerusakan yang ditimbulkan potasium bagi kesehatan terumbu karang.

Menyadari pentingnya mangrove bagi ekosistem biota laut anak-anak Kofiau bertekad menjaga kelestarian. Dalam sekolah alam mereka diajari jenis-jenis mangrove dan biota laut. Foto: Wahyu Chandra
Menyadari pentingnya mangrove bagi ekosistem biota laut anak-anak Kofiau bertekad menjaga kelestarian. Dalam sekolah alam mereka diajari jenis-jenis mangrove dan biota laut. Foto: Wahyu Chandra

Penggunaan kompresor di Raja Ampat,  sempat marak 2007. Dampaknya,  banyak warga sakit bahkan meninggal. Ironisnya, ajakan penggunaan kompresor ada dari oknum kepolisian.

Aktif di TNC

Mulai 2006-2014,  Nixon aktif di The Nature Conservancy (TNC), lembaga konservasi internasional di Raja Ampat. Pada 2014, dia keluar karena diterima Pegawai Negeri Sipil di Dinas Pendidikan Raja Ampat.

Sikap kritis terhadap lingkungan tumbuh ketika masih SMA Neg V Sorong. Dia terlibat organisasi pemuda gereja yang memberi ruang bicara lingkungan.

Rumah Nixon pernah dibakar kerabat dekat ketika bicara di gereja tentang pentingnya konservasi.

“Saya masih bicara di gereja, rumah saya dibakar. Mereka salah paham dengan yang saya sampaikan. Kami selesaikan secara adat karena masih keluarga.”

Nixon harus berhadapan dengan pelaku pengeboman ikan yang sering terjadi. Umumnya mereka dari luar Raja Ampat, seperti Sorong, Sulawesi dan Maluku Utara.

“Pernah kami tangkap satu kapal besar pengebom ikan 2011. Kalau 2014-2015 masih ada meski makin berkurang dan skala kecil. Mereka nekat, kita bawa polisi mereka melawan.”

Menghadapi penentangan masyarakat, Nixon terus pendekatan.

“Kami ke rumah mereka menjelaskan pelestarian alam dan kerusakan aktivitas mereka. Misal, penggunaan kompresor terhadap tubuh, penggunaan sianida yang merusak.”

“Harapan kami, semuanya harus diperbaiki. Kesehatan, dan komunikasi, dan transportasi. Jalur komunikasi sempat ada lalu terputus lagi. Dulu ada Telkomsel dan putus sejak Januari kemarin.”

Dia bertekad terus mengajari anak-anak Kofiau tentang manfaat konservasi tak peduli seberapa besar tantangan dihadapi. Sebagai guru, sekarang merasa memiliki ruang lebih besar untuk menularkan virus konservasi ke anak-anak didik.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,