,

Bona, Tulus, dan Ardo. Apa Kabarnya Kalian Sekarang?

12 Agustus, merupakan Hari Gajah Sedunia atau World Elephant Day. Saya teringat akan Bona, anak gajah di Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat, Bengkulu. Saat ini usianya menginjak empat tahun, dan mungkin sudah memancarkan kecantikan layaknya seekor gajah.

Bona cukup dikenal masyarakat pencinta gajah di seluruh dunia. Sebab dia menjadi yatim piatu saat berusia enam bulan. Dia hidup “kritis” di sebuah perkebunan sawit. Ibunya tewas yang diduga keracunan pupuk sawit di sebuah perkebunan.

Di PLG Seblat Bona hidup bersama 19 gajah lainnya. Gajah betina selain Bona, yakni Aswita, Darmi, Sari, Anggraeni, Desi, Fatma, Mega, Devi, Gara, Ninda, Natasya, Tria, Shinta, dan Eva. Sementara yang jantan bernama Nelson, Cokro, Haris, Dino, dan Robi.

Apa yang diharapkan Bona bersama gajah lainnya di PLG Seblat dan beberapa gajah liar di Taman Wisata Alam Sebelat yang luasnya mencapai 7.737 hektar?

Sulit mendapatkan jawaban langsung dari Bona. Sebab kita tidak mengerti bahasa verbalnya. Tapi berdasarkan pengalaman hidup yang dirasakannya, termasuk kematian ibunya, rasanya Bona sangat mengharapkan hutan di sana tetap terjaga dari perambahan, perkebunan sawit, dan pertambangan batubara.

Wilayah pemukiman Bona, dulunya dikenal sebagai Gunung Husin yang kini disebut Putri Hijau.

Sejak 1974, sebagian kawasan tersebut dijadikan hak pengusahan hutan (HPH). Misalnya, PT. Maju Jaya Raya Timber yang mengantongi izin Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 422/Kpts/Um/8/1974. Kawasan ini menjadi blok tebangan pada 1989-1990.

Pada 1981-1982 datanglah rombongan transmigrasi dari Jawa. Para transmigran ini menetap di sejumlah desa, seperti Desa Karang Pulau, Desa Air Petai, Desa Karang Tengah, Desa Air Muring. Berkembang pula di Desa Karya Pelita, Desa Suka Makmur, Desa Air Putih, Desa Cipta Mulya, Desa Air Pandan. Hingga akhirnya transmigran yang menetap di Desa Suka Maju dan Suka Baru.

Awalnya, kerusakan hutan di Putri Hijau tidak begitu parah. Sebab para transmigran membuka hutan perkebunan palawija. Bersamaan itu muncullah perusahaan perkebunan sawit, yakni PT. Agricinal. Akibatnya para transmigrasi yang sebelumnya menanam palawija, beransur menanam kelapa sawit. Mereka ikut program perkebunan inti rakyat (PIR) kelapa sawit.

Kini, Taman Wisata Alam Sebelat yang juga menjadi habitat harimau, tapir dan beruang madu dikepung perkebunan sawit. Di sebelah utara dan timur dibatasi perkebunan sawit milik PT. Alno Agro Utama seluas 12.283 hektar dan milik warga di Dusun Pulau. Di sebelah barat dibatasi perkebunan sawit PT. Mitra Puding Mas seluas 4.323 hektar dan PT. Agricinal seluas 8.902 hektar.

Nanik bersama anak pertamanya hasil perkawinannya dengan Tulus. Foto: Taufik Wijaya

Sementara Tulus (30), gajah jantan yang beberapa waktu lalu mendapatkan anak pertama hasil perkawinan dengan Nanik (45), bersama puluhan gajah lainnya di Hutan Margasatwa Padang Sugihan Sebokor, Banyuasin, Sumatera Selatan, saat ini mencemaskan bencana kabut asap dan kekeringan. Namun, sampai saat ini ancaman tersebut belum dialami Tulus dan kawan-kawannya di Pusat Latihan Gajah Padang Sugihan.

“Syukur, kondisi gajah-gajah di Padang Sugihan Sebokor masih baik. Sebab belum terjadi kebakaran di lahan gambut hutan margasatwa tersebut,” kata Nunu Anugrah, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan, Rabu (12/08/15).

“Kalau terjadi kebakaran dan bencana asap jelas kehidupan gajah di sana terganggu. Semoga kondisi ini tetap terjaga,” kata Nunu.

Selama musim kemarau ini, lantaran rawa atau genangan air di hutan margasatwa mengering, Tulus dan kawan-kawan lebih sering menghampiri Jalur 21, anak sungai yang berada di tepi Hutan Margasatwa Padang Sugihan Sebokor, untuk mendapatkan air minum dan berendam.

Seperti sebelumnya, kendaraan air yang melalui jalur tersebut, seperti perahu tongkang atau speedboat harus hati-hati, sebab banyak gajah yang dimandikan atau tengah berendam.

Suaka Margasatwa Padang Sugihan Sebokor ditetapkan berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor: 004/Kpts-II/1983, 19 April 1983 dengan luasan 75.000 hektar. Penetapan ini satu tahun setelah kedatangan para transmigran ke Air Sugihan, dan pemindahan ratusan gajah dari Air Sugihan ke Lebong Hitam.

Di bawah tahun 1980-an, saat wilayah pesisir timur Sumatera Selatan masih berupa hutan rimba, hidup beragam jenis satwa, termasuk gajah dan harimau sumatera.

Seiring perambahan hutan dan aktivitas perusahaan HPH, serta proyek transmigrasi pada 1982 yang membutuhkan lahan pemukiman dan perkebunan untuk 200 ribu jiwa, keberadaan gajah dan harimau sumatera pun terdesak.

Meski sudah dilakukan pemindahan, gajah tetap ada di Air Sugihan. Selain ada beberapa gajah yang gagal dipindahkan, ada juga sebagian gajah yang kembali lagi karena Air Sugihan merupakan koridornya menuju laut.

Puncaknya, ketika terjadi kebakaran hutan 1997-1998. Gajah dan manusia kehilangan lahan dan habitatnya. Ratusan ribu hektar lahan gambut terbakar. Gajah-gajah yang tersisa kembali berkonflik dengan masyarakat.

Setelah kebakaran besar itu, sebagian wilayah Suaka Margasatwa Padang Sugihan Sebokor ditumbuhi pohon gelam dan semak alang-alang. Kondisi ini cukup untuk menunjang kehidupan gajah, serta sejumlah satwa lainnya seperti beruk, lutung, kera ekor panjang, serta berbagai jenis burung dan ikan.

Lingkungan sekitar hutan margasatwa itu, tepat di wilayah Kabupaten OKI yang berada di seberang Sungai Air Sugihan, didominasi perkebunan sawit dan tanaman hutan tanaman industri (HTI) berupa akasia, serta pemukiman warga.

Ardo, gajah jantan yang didatangkan dari Padang Sugihan Sebokor, Banyuasin, Sumatera Selatan. Foto: Rahmadi Rahmad
Ardo, gajah jantan yang didatangkan dari Padang Sugihan Sebokor, Banyuasin, Sumatera Selatan. Foto: Rahmadi Rahmad

Bagaimana kabar Ardo (9), gajah di Pusat Latihan Gajah (PLG) Bukit Serelo Lahat? “Kondisinya juga baik-baik. Tidak ada sesuatu yang buruk. Semuanya baik,” tutur Nunu Anugrah.

Ardo merupakan anak gajah yang dibawa dari Hutan Margasatwa Padang Sugihan Sebokor, Banyuasin, Sumatera Selatan. Ardo, satu dari 13 gajah yang ada di pusat latihan tersebut. Jumlah gajah ini jauh dari pawangnya yang berjumlah 46 orang.

PLG Bukit Serelo yang letaknya di kawasan Taman Wisata Alam Bukit Serelo memiliki luas 200 hektar. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor  953/Kpts-II/1992 tanggal 3 Oktober 1992, pusat latihan gajah ini hanya dibatasi oleh dua sungai yaitu Sungai Binjai dan Sungai Milang.

Kawasannya juga berupa perbukitan dan hutan. Salah satu bukitnya yang paling terkenal adalah bukit yang menyerupai jempol atau telunjuk tangan sehingga disebut “Bukit Jempol atau Bukit Telunjuk”.

PLG Bukit Serelo didirikan pada 1992-1993. Proyek ini merupakan pemindahan sekolah gajah sebelumnya yang berada di Suaka Margasatwa Padang Sugihan Sebokor.

Berdasarkan data Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) April 2014, Bukit Serelo merupakan habitat gajah yang kondisinya kritis. Di kawasan ini diperkirakan hanya tersisa empat ekor gajah. Padahal, idealnya, dalam habitat ini terdapat 30-60 gajah.

PLG Bukit Serelo terletak di Kecamatan Merapi Selatan. Kecamatan ini berpenduduk sekitar 127.195 jiwa yang menetap di sembilan desa, yang luasnya sekitar 4.361,83 kilometer persegi ini. Sembilan desa itu adalah Padangbaru, Padanglama, Tanjungmenang, Talangakar, Lubuk Bedaro, Suka Merindu, Lebuk Betung, Perangai, dan Geramat. Mayoritas masyarakatnya bertani padi serta berkebun kopi dan tembakau.

Ada empat perusahaan pertambangan batubara yang eksis di Merapi Selatan ini. Tiga perusahaan telah berproduksi yaitu PT. Dianrana Petrojasa, PT. Era Energi Mandiri, dan PT. Sarana Cipta Gemilang. Satu lagi, PT. Bima Putra Abadi Citranusa, yang baru mendapatkan izin eksplorasi tapi ajaibnya sudah melakukan penambangan.

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , , ,