Belajar Merawat Alam Ala Singgih Lewat Pasar Papringan

 

 

Beberapa anak muda sibuk mengatur keluar masuk mobil di Dusun Kelingan, Desa Caruban, Kandangan, Temanggung. Mobil-mobil itu banyak dari luar kota seperti Yogyakarta, Semarang, dan sekitar. Sebagian anak muda sibuk mengatur parkir ratusan sepeda motor di sudut dusun.

Pada hari-hari biasa dusun ini sepi. Tepat di penyelenggaraan Pasar Papringan ke-10 pada Minggu Wage, 25 Desember, dusun begitu ramai. Banyak pengunjung terlihat sejak memasuki jalan dusun, sekitar 300 meter menuju area acara.

Beberapa pedagang sampai memanfaatkan teras rumah warga di kanan kiri jalan untuk berjualan makanan, atau mainan. Mereka tak tertampung di pasar unik, yang berlokasi di kebun bambu seluas 1.200 meter persegi.

Saya berkesempatan mengunjungi Pasar Papringan edisi pertama 11 Januari 2016 dan ke-10 di pengujung Desember itu.

Membandingkan keduanya, Caruban terlihat lebih semarak, tentu berdampak kepada peningkatan ekonomi warga sekitar.

Dulu, kebun bambu jadi masalah karena warga malah untuk membuang sampah. Kini, justru potensi menggerakkan ekonomi desa. Ada kegembiraan terpancar baik dari wajah para pengunjung maupun penjual.

Mereka saling bertegur sapa saat bertransaksi barang-barang terpilih yang dijual. Ada makanan tradisional, kerajinan, dan produk pertanian. Penjual diberi pendampingan untuk menjual hanya produk berkualitas.

Satu tahun lalu Desa Caruban, tak dikenal luas. Berkat Pasar Papringan, kini desa ini jadi bahan perbincangan, terutama di kalangan anak muda lewat sosial media.

Menteri, gubernur, pesohor pun menyempatkan datang. Ada sekitar 13.000 konten di internet terkait Pasar Papringan lewat mesin pencari Google.

 

Seorang ibu tengah menjual makanan tradisional kluban. Foto: Nuswantoro

 

Semua itu berkat tangan dingin Singgih Susilo Kartono, disainer lulusan ITB 1992 yang memilih kembali ke desa dibanding kerja di kota. Bersama tim, dia menyulap ‘impian’ jadi nyata.

Dia telah dikenal lewat radio kayu magno, pada 2004. Bagian-bagian dari radio itu dikerjakan beberapa anak muda pada workshop unik di Kandangan.

Waktu bersamaan, dia menyaksikan degradasi alam dampak kebutuhan ekonomi, dan pendapatan petani berkurang. Mereka terpaksa mengeksploitasi hutan dan alam. Desa juga terancam industri dan perumahan yang makin memperkecil luas lahan pertanian.

Untuk keperluan radio kayu, Singgih pakai kayu dari lingkungan sekitar. Berbeda mebel atau rumah, penggunaan kayu kerajinan relatif membutuhkan sedikit kayu.

Dia mengganti setiap pohon ditebang dengan menanam kembali. Pada produksi 2010, misal, dia membutuhkan 80 pohon, dan menanam kembali 8.000 pohon.

“Sebagai pengguna kayu, secara moral saya bertanggung jawab mengganti setiap kayu yang saya gunakan,” ucap Singgih dalam website-nya. Penanaman kembali melibatkan siswa-siwa sekolah di sekitar Kandangan.

Radio kayu magno bagi warga Kandangan bisa menyelesaikan dua masalah sekaligus. Memperlambat degradasi alam, dan menciptakan lapangan kerja.

Baginya, di desa menjanjikan kualitas hidup lebih baik. Bisa menekan serendah mungkin emisi karbon, memperoleh makanan sehat dari sumber terdekat, menghasilkan sumber energi sendiri dan membangun hubungan sosial yang baik.

Pada 2012, lahir gagasan spedagi gerakan menghidupkan desa kembali, dengan maskot sepeda bambu ciptaannya. Pada waktu sama diselenggarakan pula konferensi dua tahunan International Conference on Village Revitalization pertama kali di Kandangan 2014.

Gagasan merevitalisasi desa kini menginspirasi banyak orang, hingga ke luar negeri seperti di Ato, Yamaguchi, Jepang. Sepeda bambu ini telah merambah ke Australia, dan India.

Kini,  Singgih tengah menyiapkan lahan kebun baru untuk Pasar Papringan. Lahan di Dusun Kelingan habis masa sewa.

Untuk tahu seputar beragam inisiatif Singgih, saya berbincang-bincang dengannya di sela-sela Pasar Papringan. Berikut petikannya.

 

Pengunjung Pasar Papringan begitu ramai. Foto: Nuswantoro

 

Bagaimana gagasan Pasar Papringan muncul hingga seperti sekarang?

Awalnya, sebenarnya tempat ini jalur sepedaan saya. Dulu, jalan ini sempit, batu tidak teratur. Kita tata jadi jalan trasah batu yang bagus. Waktu itu kesan saya tempat ini seperti bamboo tunnel.

Lokasi di samping saya ini sebelumnya, orang sini menyebut Papringan, tempat sendiri tidak teratur. Tempat orang buang sampah. Gelap, kotor, dan tempat ini sebenarnya adalah tempat yang tak dikehendaki. Ini lokasi rawan karena dekat rumah.

Tapi saya tahu, bambu material masa depan. Bagi masyarakat desa bambu jadi bagian kehidupan sosial, kultural, dan lingkungan sejak lama. Namun saya menyadari, karena sudah digunakan dalam kehidupan sehari-hari sangat terbatas dan sederhana, justru muncul stigma bahwa bambu menjadi simbol dari kemiskinan.

Jadi Pasar Papringan ini lahir dari upaya kreatif bagaimana menjelaskan ke masyarakat tentang pentingnya papringan. Dengan cara mereka merasakan sendiri, merasakan keriangan, merasakan manfaat ekonomi. Merasakan bahwa tempat ini sebenarnya bisa jadi sesuatu sangat positif bagi masyarakat. Pendekatannya, tak hanya arsitektur, pendekatan landscape, juga sosial.

Siapa saja yang terlibat dalam kegiatan ini?

Uniknya, sebenarnya diawali oleh para volunteer yang dulu tergerak dalam spedagi. Mereka banyak datang dari luar. Ada datang dari Bandung, Surabaya, Semarang, Jakarta, bahkan ada luar negeri.

Kegiatan ini sebenarnya diinisiasi orang luar tempat ini. Kenapa orang luar bisa menginisiasi seperti ini? Karena mereka punya kacamata lebih jernih. Di manapun bukan hanya di sini, rata-rata orang menderita yang disebut rabun dekat. Jadi mereka tak bisa melihat sendiri potensi sekitar karena terlalu dekat, terlalu biasa. Kemudian perlahan kita melibatkan masyarakat.

Setelah sekitar setahun, apa harapan kemudian?

Kami berharap masih berlanjut. Tanah ini sebenarnya kami sewa dari masyarakat. Masih ada masalah harus diatasi. Kami kini melibatkan pemerintah ikut. Saya percaya, sinergi antara organisasi masyarakat sipil atau orang-orang aktivis dengan masyarakat dan pemerintah jadi suatu prasayarat kegiatan berhasil.

Kendala yang dihadapi?

Ini mungkin agak mengejutkan bagi masyarakat sekitar. Jadi mereka sendiri secara sosial mungkin belum siap. Ada hal-hal kemudian muncul seperti friksi antarkelompok.

Ini kami lihat sebagai sesuatu yang wajar. Ini jadi media pembelajaran kami, bagi masyarakat, juga pemerintah. Jadi kami ingin mengajak semua melihat, ini masalah kita. Kalau tidak memecahkan, masalah ini akan menjadi tabungan bom waktu yang sangat berbahaya.

Peluang-peluang yang akan dikembangkan?

Ide Pasar Papringan kan preservasi kebun bambu. Kami ingin menginspirasi banyak orang, ke warga sendiri, dan orang luar.

Sebenarnya,  sudah menginspirasi banyak orang. Ada beberapa pihak di luar, mereka mengembangkan dalam area yang jauh lebih luas. Di sini, cuma seluas 1.200 meter. Yang menarik, dari lahan sangat kecil ini sebenarnya kita bisa membuat sesuatu yang sangat positif.

 

Transaski pakai mata uang pring yang terbuat dari bambu. Foto: Nuswantoro

 

Anda dikenal sebagai orang yang mendorong jalan trasah. Di sekitar sini jalan trasah jadi aspal. Bagaimana menurut Anda?

Ya saya sedih sekali, bahkan jalan trasah yang diaspal ini saya yang membiayai dan masyarakat yang terlibat sebenarnya, untuk bekerja bakti. Dari jalan trasah yang sangat buruk menjadi jalan trasah sangat baik.

Jadi ada hal yang terlambat dilakukan, yaitu edukasi intensif tentang local wisdom. Ada hal yang terlambat juga program pemerintah itu disusun mereka sendiri. Bahwa jalan aspal ini yang meminta masyarakat.

Menurut kami, seharusnya ada edukasi cukup karena dengan aspal ini ketika rusak mereka menjadi bergantung ke pemerintah.

Kalau trasah daya tahann lama, dia menyerap air. Dari sudut pandang lingkungan bagus, itulah local wisdom dan sesuatu dari daerah sendiri. Jadi ada nilai-nilai yang belum teredukasi dengan baik. Ya, kami juga merasa belum cukup mengedukasi. Kami pikir tak bisa kami sendiri yang mengedukasi. Ini harus bersama-sama. Butuh sinergi kuat.

Apa yang harus dilakukan jika ada warga yang ingin menduplikasi Pasar Papringan di tempat lain?

Kami senang. Yang pertama,  harus dilakukan juga mengedukasi masyarakat untuk meng-endorse siapa pioner. Ini penting sebuah iklim kreatif yang sehat.

Itu saya tekankan seperti itu karena saya ingin membangun iklim kreatif sehat hingga akan tahu siapa yang menjadi pertama. Tidak selalu pertama menjadi terbaik. Seharusnya,  yang menduplikasi kalau punya potensi lebih baik, harus lebih baik dari ini.

Terpenting, meng-endorse siapa yang melakukan. Karena bisa jadi yang meng-endorse itu sosok kecil sementara yang menduplikasi ini sebuah sosok besar.

Saya pikir kalau ini menjadi lebih baik dan lebih besar, saya senang. Tujuannya, preservasi kebun bambu. Kalau bisa lebih luas lagi itulah yang kami harapkan. Syaratnya, dalam penamaan mereka, kami mewajibkan pakai nama Pasar Papringan. Jadi ada Pasar Papringan Kelingan, begitu. Sekadar ingin mengingat.

 

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,