Daki Gunung Aconcagua, Tim Wanita Pendaki Unpar Coba Jadi Seven Summiters

Tiga mahasiswi Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung, Jawa Barat,  yang tergabung dalam tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (Wissemu), kembali melakukan rencana petualangan menaklukkan Gunung Aconcagua, puncak tertinggi di daratan Amerika Selatan.

Pendakian ke gunung yang memiliki tinggi 6.962 meter di atas permukaan laut ini merupakan bagian dari ekspedisi pendakian tujuh puncak tertinggi di dunia yang lebih dikenal dengan sebutan seven summits.

Tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Universitas Parahyangan (Wissemu), yang beranggotakan Fransiska Dimitri Inkiriwang, Mathilda Dwi Lestari, dan Dian Indah Carolina telah berhasil melakukan pendakian ke puncak Cartenz Pyramid, Kilimanjaro dan pucak Elbrus. Meraka akan berangkat ke Gunung Aconcagua, puncak tertinggi di Amerika Selatan untuk ekspedisi seven summit. Foto : Donny Iqbal
Tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Universitas Parahyangan (Wissemu), yang beranggotakan Fransiska Dimitri Inkiriwang, Mathilda Dwi Lestari, dan Dian Indah Carolina telah berhasil melakukan pendakian ke puncak Cartenz Pyramid, Kilimanjaro dan pucak Elbrus. Meraka akan berangkat ke Gunung Aconcagua, puncak tertinggi di Amerika Selatan untuk ekspedisi seven summit. Foto : Donny Iqbal

Sebelumnya, tim yang beranggotakan Fransiska Dimitri Inkiriwang, Mathilda Dwi Lestari, dan Dian Indah Carolina ini telah berhasil melakukan pendakian ke puncak Cartenz Pyramid (Indonesia) setinggi 4.884 meter di atas permukaan laut, Kilimanjaro (Afrika) setinggi 5.985 meter di atas permukaan laut, dan puncak Elbrus (Rusia) setinggi 5.642 meter di atas permukaan laut.

“Untuk pendakian nanti rencananya kami akan berangkat dari Jakarta pada tanggal 11 Januari menuju Argentina. kemudian kami targetkan kembali ke Indonesia pada tanggal 5 Februari,” kata Fransiska Dimitri Inkiriwang yang akrab disapa Didi, saat konferensi pers, di Universitas Parahyangan, Kota Bandung, Rabu (06/01/2016).

Didi menuturkan, bulan Januari merupakan waktu terbaik untuk pendakian ke puncak Aconcagua. Mengingat kondisi cuaca yang ekstrim serta pemilihan rute yang ditempuh pun sering digunakan oleh banyak pendaki karena peluang kesuksesan mencapai puncak lebih besar.

“Mau lewat jalur manapun, tetap cuaca eksktrim tidak bisa dihindari. Kebetulan kami juga didampingi pendaki berpengalam dari Indonesia Summit dan ada tur guide juga disana.”

Tiga mahasiswi anggota tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (Wissemu) saat di puncak Cartenz Pyramid, Pegunungan Jayawijaya (Indonesia) berketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut. Foto : Tim Wissemu Unpar
Tiga mahasiswi anggota tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (Wissemu) saat di puncak Cartenz Pyramid, Pegunungan Jayawijaya (Indonesia) berketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut. Foto : Tim Wissemu Unpar

Selain jalurnya yang panjang, Aconcagua yang terletak di jajaran Pegunungan Andes memiliki cuaca dingin yang ekstrim ditambah badai angin yang sangat berbahaya dan dikenal dengan sebutan el viento blanco. Didi menjelaskan pendakian tersebut mereka dedikasikan untuk Norman Edwin dan Didiek Samsu, pendaki asal Indonesia yang gugur pada tahun 1992 saat mendaki gunung tersebut.

Didi mengatakan, sulitnya jalur pendakian Aconcagua ini membuat persiapan dan perencanaan dilakukan dengan sangat matang. Dalam persiapan tersebut tim Wissemu melakukan latihan mental dengan melakukan yoga serta olah fisik menjadi jadwal harian. Kemudian hal teknis lainnya seperti pengenalan medan, bedah peta, latihan navigasi, dan peralatan.

Sampah Gunung

Selain mencapai target pendakian, tim Wissemu juga mencermati tentang manajemen pengelolaan gunung di seven summits itu, seperti mengenai limbah pendakian yang diatur ketat. Didi mencontohkan pengelolaan pendakian di gunung Elbrus yang ketat sampai mengatur hal kecil seperti larangan buang air disembarang tempat.

“Kemudian kebijakan di Kilimanjaro, disana mereka melarang pendaki untuk membawa botol minum plastik sekali pakai harus membawa botol yang isi ulang. Apabila kedapatan membawa barang tersebut pendaki dikenakan sanksi dan pendakiannya dibatalkan. Bagi saya itu peraturanya ketat sekali,” ujarnya.

Tiga mahasiswi anggota tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (Wissemu) saat di puncak Gunung Kilimanjaro, Afrika setinggi 5.985 mdpl. Foto : Tim Wissemu Unpar
Tiga mahasiswi anggota tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (Wissemu) saat di puncak Gunung Kilimanjaro, Afrika setinggi 5.985 mdpl. Foto : Tim Wissemu Unpar

Menurut Didi, kebijakan yang diterapkan diluar negeri sangat memungkinkan dan relevan diterapkan di Indonesia.”Dari referensi tadi sebetulnya kita bisa menerapkan itu semua disini (Indonesia) secara berkala. permasalahan sampah di gunung bisa diatas dengan kebijakan yang dibuat oleh pihak pengelola agar keindahan gunung tetap asri.”

Salah seorang anggota lainnya, Dian Indah Carolina mengatakan keindahan alam Indonesia tidak kalah dengan negara – negara lain. Penggunanganya pun mempunyai keunikan tersendiri, mulai dari kearifan lokal yang beragam hingga kekayaan alamnya. Dia menyesalkan dengan kelebihan yang dimiliki tidak diimbangi dengan kepedulian oleh masyarakatnya sendiri.

“Sebetulnya misi dan visi pendakian kami lebih kepada menginpirasi perempuan untuk terus berjuang. Kegiatan yang sering digeluti pria ternyata perempuan juga bisa melakukanya,” kata perempuan berkacamata tersebut.

Berdasarkan situs www.7summits.com, dari hasil updet terbaru tercatat 348 orang saja di dunia yang sudah berhasil mencapai seven summits dan yang masuk kedalam yang The Seven Summiteers kebanyakan masih di dominasi oleh kaum adam. tercatat, Indonesia baru mengirimkan beberapa orang yang masuk kejajaran tersebut, namun belum ada perwakilan wanitanya.

Dukungan Penuh

“Pendakian ini merupakan sebuah misi yang tidak bisa dihitung secara data kuantitatif, karena kegiatan ini mengemban misi besar dan tentunya membanggakan,” kata Rektor Unpar, Mangadar  Situmorang.

Pihaknya mendukung penuh pendakian tim Wissemu Mahitala yang nantinya dapat mencatat sejarah bagi pendakian Indonesia. Bila pendakian tujuh puncak dunia ini terselesaikan, maka Unpar akan mengukir prestasi sebagai perguruan tinggi pertama di Indonesia yang berhasil mengirim para pendaki putra dan putrinya melakukan pencapaian di tujuh puncak gunung tertinggi tersebut.