Mungkinkah Lansekap Berbasis Budaya di Sumatera Selatan?

Perbatasan antara hutan alam dengan hutan tanaman. Pengelolaan sumberdaya alam harus berbasiskan pada akar budaya setempat. Foto: Rhett A Butler

 

Dampak negatif dari eksploitatif alam yang tidak lestari selama dua abad terakhir di Indonesia, dan dunia umumnya, sudah dirasakan kita yang hidup pada saat ini.

Kita cenderung mempersoalkan perubahan ekologi seperti pemanasan global, habisnya atau terancamnya kekayaan hayati dan satwa, krisis energi, serta krisis pangan. Namun hanya sedikit yang mengaitkan antara permasalahan ekologis dengan ancaman kepunahan jejak peradaban besar bangsa ini.

Misalnya, hancurnya bentang alam lahan rawa gambut di wilayah pesisir timur Sumatera Selatan akibat ilegal logging, pertambangan, kebakaran, dan perubahan fungsi lahan, sebenarnya bukan hanya merusak lansekap ekologi juga menghancurkan lansekap budaya masyarakat pesisir masyarakat Sriwijaya yang di masa lalu sangat arif atau lestari terhadap rawa gambut.

Artinya, jika kondisi ekologi tersebut dikembalikan, tapi budaya yang berkembang di masyarakat tidak lestari atau tetap melakukan aktivitas eksploitatif, maka kerusakan ekologi akan kembali terjadi; atau akan membuat berbagai proyek yang diinisiasi akan mengalami banyak hambatan atau berjalan tidak optimal.

Pemda Sumatera Selatan merupakan salah satu pionir dalam membangun lansekap berkelanjutan. Setidaknya, itu dapat dirunut dari proyek Kelola Sendang (Sembilang-Dangku) di Kabupaten Musi Banyuasin, dimana pemerintah Sumatera Selatan bekerjasama dengan ZSL (The Zoological Society of London). Proyek ini melibatkan para pemangku kepentingan. Baik masyarakat, lembaga peduli lingkungan hidup regional dan international, pelaku bisnis, serta pemerintah.

Mengutip buku Urban Space (Rob Krier, 1979), lansekap adalah suatu sistem yang menyeluruh yang di dalamnya ada hubungan antara komponen biotik dan abiotik, termasuk komponen pengaruh manusianya. Didalamnya bukan hanya tentang penataan tanaman, satwa, pengaturan tata ruang, serta pemeliharaan infrastruktur, juga merupakan hubungan manusia dengan alam atau kebudayaannya.

Ternyata, gayung bersambut, gagasan ini pun mendapatkan dukungan dari dunia international, sehingga Sumatera Selatan dipercaya sebagai penyelenggara Asia Pacific Bonn Challenge Conference 2017 pada Mei 2017 nanti.

 

Pembangunan Berbasis Budaya

Pertanyaannya, bagaimana lansekap berkelanjutan ini kemudian diwarnai sekaligus dengan revitalisasi budaya, semangat yang diwarisi berakar dari budaya yang sudah ada di Sumatera Selatan?

Merujuk dari sejarah. Pada tahun 684 masehi, Raja Sriwijaya Sri Jayanasa, yang telah membuat prasasti Talang Tuwo yang berisi pesan pengelolaan lingkungan hidup berbasis lansekap. Selain bicara soal pengelolaan tanaman, maka isi prasasti juga mengatur soal tata kelola air, seperti pembuatan dam dan kolam-kolam. Wilayah yang dirujuk dalam prasasti ini, lokasinya diperkirakan berada di kawasan Talangkelapa dan Gandus, Palembang.

Adapun nilai-nilai yang dapat diambil dari Prasasti Talang Tuwo terkait dengan lansekap Taman Sriksetra, yakni: Pertama, pembuatan sebuah kawasan (lansekap) dengan simbol taman Sriksetra yang berguna untuk semua makhluk hidup. Kedua, kawasan tersebut memenuhi kebutuhan pangan dan tempat tinggal semua makhluk hidup. Ketiga, semua makhluk hidup sehat dan terhindar dari berbagai penyakit. Keempat, mereka hidup damai. Kelima, manusianya memiliki hati yang luhur dan cerdas.

Dalam pemikiran penulis, yang dimaksud dengan “taman” bukanlah seperti taman modern yang seperti yang dikenal sekarang, namun merujuk pada sebuah kawasan hutan, yang ditanami beragam jenis tanaman seperti pinang, kelapa, aren, bambu, sagu, dan lainnya, yang menjadi sumber makanan bagi semua makhluk hidup, baik yang menetap maupun tidak.

Dan, harapan sang raja dari pembuatan taman tersebut adalah puncak peradaban manusia yakni adanya masyarakat yang hidup sehat, damai, cerdas, selamat di dunia maupun di akhirat.

Dengan demikian jelas bahwa petunjuk dalam prasasti tersebut bukan hanya mengatur soal tanaman, satwa, tata kelola air, namun secara holistik termasuk manusia yang merupakan bagian yang terintegrasi dalam sebuah lansekap ekosistem.

 

Semangat Manusia Talang Tuwo

Saat ini satu hal penting dalam menjalankan program lansekap berkelanjutan yakni membangun atau membentuk kesadaran manusia yang terlibat di dalamnya, baik sebagai masyarakat, pelaku usaha, penyelenggara pemerintahan, maupun penggiat lingkungan hidup. Persis seperti yang disebutkan dalam prasasti Talang Tuwo.

Nilai-nilai ini yang kemudian akan dibangun atau disampaikan kepada manusia yang terlibat dalam sebuah proyek lansekap berkelanjutan di Sumatera Selatan.

Guna mewujudkan pembangunan manusia Talang Tuwo tersebut antara lain pertama membangun komitmen berbagai pihak. Kedua, pemetaan dan sosialisasi. Ketiga, pendidikan baik formal dan nonformal. Keempat, pembuatan kebijakan hukum di wilayah lansekap. Kelima, monitoring.

Ada beberapa wilayah yang berpotensi dijadikan model lansekap berkelanjutan di Sumatera Selatan yang beranjak dari budaya, yang dilihat dari etnis, tradisi dan seni, bahasa, artefak sejarah, selain Lansekap Sendang (Sembilang-Dangku), yakni lansekap Pasemah, Semende, Rawas, Benakat, Danau Ranau, Komering, Tulungselapan, Mesuji, Air Sugihan, Sendang, Musi, Palembang.

Semoga, apa yang dicitakan Raja Sriwijaya seribu empat ratus tahun lalu dan diimpikan oleh para pengambil kebijakan saat ini dapat  terwujud dan berjalan lancar demi masa depan bumi guna mewujudkan “kemakmuran bersama yang lestari” yang dicitakan tersebut.

 

* Taufik Wijaya, penulis dan penyair. Pengamat masalah budaya, tinggal di Palembang. Artikel ini adalah opini penulis.