,

Tiga Tahun Terakhir, Kondisi Pesisir Bali Membaik

Secara umum, kondisi pesisir dan laut Bali relatif membaik dibandingkan kondisi tiga tahun lalu. Demikian kesimpulan hasil survei Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Bali bekerja sama dengan Coral Triangle Center (CTC).

Manajer Pengelolaan Kawasan CTC, Marthen Welly menyampaikan hasil survei tersebut pada Kamis pekan lalu di Kantor DKP Provinsi Bali. Selain Marthen, hadir pula anggota tim survei dari berbagai lembaga yang terlibat, seperti Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Denpasar – Kementerian Kelautan dan Perikanan. Adapun dari kalangan kampus ada Universitas Udayana, Universitas Warmadewa, dan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksa) Singaraja.

Adapun survei DKP Bali dan CTC tersebut diadakan pada 21 Juli – 10 Oktober 2015. Selama empat bulan tersebut, tim survei mengumpulkan informasi data biofisik dan sosial ekonomi pesisir Pulau Bali. “Hasil survei ini akan menjadi masukan dalam penyusunan tata ruang pesisir dan pulau-pulau kecil maupun pengambilan kebijakan lainnya terkait pengelolaan pesisir di Bali,” kata Marthen.

Data biofisik yang dikumpulkan meliputi terumbu karang, ikan, mangrove, padang lamun, abrasi pantai, pantai peneluran penyu serta habitat penting pesisir lain. Adapun data sosial-ekonomi meliputi perikanan, pariwisata bahari dan kearifan tradisional masyarakat pesisir.

Tim survei menggunakan dua metode untuk mendapatkan data biofisik. Pertama metode manta tow. Dalam metode ini seorang surveyor ditarik kapal cepat dengan kecepatan antara 3-5 km per jam. Surveyor menggunakan tali 18 meter dan papan manta tow. Setiap dua menit, kapal cepat akan berhenti agar surveyor bisa mencatat kondisi terumbu karang, ikan dan biota penting lainnya yang terlihat.

Metode lain yang digunakan adalah Point Intercept Transect (PIT) dengan menggunakan peralatan menyelam (SCUBA). Para surveyor mencatat kondisi terumbu karang dan ikan pada kedalaman 3 dan 10 m. Sementara itu untuk melihat kondisi mangrove, abrasi pantai, padang lamun dan pantai peneluran penyu dilakukan kunjungan langsung ke lapangan dan menandai posisi pantai dengan menggunakan perangkat Global Positioning System (GPS).

Adapun pengumpulan data sosial ekonomi dilakukan melalui wawancara kepada para nelayan, pengusaha wisata bahari dan turis, pengumpulan data sekunder serta kunjungan langsung ke lapangan.

Kegiatan pemantauan kesehatan terumbu karang di Bali. Foto : Reef Check Indonesia
Kegiatan pemantauan kesehatan terumbu karang di Bali. Foto : Reef Check Indonesia

Dari survei tersebut, tim survei berhasil melakukan identifikasi sebaran terumbu karang di pesisir Bali sepanjang 570 kilometer dengan manta tow.  Untuk mengumpulkan data karang dan ikan dengan metode PIT, tim survei menyelam di 41 titik penyelaman di seluruh Bali. Adapun untuk survei sosial ekonomi di seluruh desa pesisir dan pulau Bali termasuk Nusa Penida, pulau yang terpisah dari Bali daratan.

Menurut Marthen, berdasarkan hasil survei diperoleh data kondisi terumbu karang pada kedalaman 3 meter, persentasi tutupan karang hidup rata-rata 60,7 persen. Persentase tutupan yang sama juga terjadi di kedalaman 10 meter yang berkisar antara 14 persen – 90,3 persen dengan rata-rata 60 persen.

“Secara umum, persentase penutupan karang hidup di pesisir pulau Bali adalah 60,3 yang berarti masih masuk kategori bagus,” ujar Marthen.

Data terakhir sebelum survei tahun ini adalah Rapid Assessment pada 2011 lalu. Hasil pemantauan cepat tersebut menunjukkan tutupan terumbu karang berkisar pada 50 persen. Karena itulah tahun ini berarti ada perbaikan tutupan sebesar 10 persen.

Marthen menambahkan, hasil lain dari survei tersebut adalah tentang data ikan. Hasil survei menunjukan bahwa kepadatan ikan berkisar antara 145 ind/ha – 9.602 ind/ha dengan rata-rata kepadatan 2.395 ind/ha. Sementara itu, biomassa ikan di pesisir Bali antara 8,2 kg/ha – 1.119,1 kg/ha dengan rata – rata 286,7 kg/ha. Angka tersebut termasuk dalam kategori rendah – sedang. Kelompok ikan terbanyak dijumpai di pesisir Bali dari famili Achanturidae dan Caesionidae.

Hasil survei juga menunjukkan bahwa Bali memiliki beberapa biota unik dan karismatik. Dugong, misalnya, bisa ditemukan di sekitar Uluwatu, Bali bagian selatan. Lumba-lumba ada di perairan Lovina, Bali utara. Ada pula beberapa jenis hiu, seperti white tip reef shark, black tip reef shark dan grey reef shark di sepanjang Karangasem, Gianyar, Sanur dan Serangan.

Binatang laut lain yang ada di Bali adalah penyu hijau dan sisik di sepanjang pesisir Bali, pari manta di Nusa Penida, dan bump-head wrasse di Tulamben, bagian timur Bali.

Khusus untuk hewan penyu, terdapat di hampir semua wilayah di Bali. Selain sebagai bagian dari upaya konservasi, pelestarian penyu juga menjadi bagian dari pariwisata. Gede Hendrawan, anggota tim survei dari Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana menyebutkan, lokasi pelestarian penyu terdapat hampir di semua kabupaten di Bali kecuali di Kabupaten Bangli yang memang tidak memiliki pesisir maupun laut.

“Terjaganya kondisi pesisir Bali juga karena masyarakat masih menjadikan pantai sebagai tempat suci,” kata Hendrawan.

Di beberapa tempat di Bali juga terdapat kearifan tradisional dalam menjaga laut. Di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Buleleng misalnya terdapat pecalang laut yang menjaga agar tidak ada perusakan laut di desa mereka. Di Desa Kusamba, Klungkung bahkan ada pula tradisi Nyepi Segara di mana warga tidak boleh melakukan kegiatan di laut.

Meskipun demikian, hasil survei juga menunjukkan beberapa catatan kritis terhadap kondisi pesisir dan pantai di Bali. Dua di antaranya adalah abrasi dan ancaman pariwisata. Abrasi pantai terjadi hampir di semua tempat. Di Kabupaten Jembarana, Bali bagian barat termasuk yang paling parah.

Terjadinya benturan antara kepentingan pariwisata dengan pelestarian juga mulai terjadi di beberapa tempat. Contohnya di Pantai Pandawa, Kabupaten Badung di mana jumlah petani rumput laut kian berkurang karena adanya pariwisata di pantai tersebut.

“Karena itulah perlu adanya zonasi agar penggunaan pesisir sebagai bagian dari pariwisata tidak merugikan pelestarian lingkungan,” kata Marthen.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , , , , , , , , , ,