,

GloFDAS: Alat Pantau Deforestasi Dunia Hanya Di Mongabay-Indonesia

Mongabay-Indonesia terus melaju dengan berbagai terobosan baru. Setelah hadir dengan berbagai berita lingkungan dan konservasi terkini, dalam situs ini bahkan memberikan sebuah media baru pemantauan kerusakan hutan di seluruh dunia yang bisa kita lakukan secara transparan.

Sistem baru bernama Global Forest Disturbance Alert System (GloFDAS) ini, dihibahkan oleh NASA, Badan Luar Angkasa Amerika Serikat khusus untuk Mongabay-Indonesia. Sistem pantau deforestasi ini dikembangkan oleh NASA AMES bersama dengan California State University of Menterey Bay.

Kemampuan sistem ini adalah mendeteksi perubahan di setiap area 5 x 5 kilometer, atau 25 km persegi, jika terjadi perubahan-perubahan vegetasi, misalnya area tebang habis, akan dengan mudah dideteksi.

Tidak hanya untuk Indonesia, software baru yang dikembangkan ini juga mampu melihat perubahan kondisi tutupan hutan di seluruh dunia, misalnya Amerika Serikat, Brasil, Kongo, dan Eropa. Dengan sistem pemantauan ini, hasil yang didapat bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Titik deforestasi di Pulau Sumatra. Foto: Peta GloFDAS

Bagaimana sistem ini memperbarui data? Sistem ini memperbarui data mereka berdasar data tiga bulanan yang disediakan oleh NASA Ames bernama Quarterly Indicator of Cover Change (QUICC). “Data terbaru berikutnya akan bisa dinikmati bulan Juli 2012. Saat ini, sistem ini adalah sebuah transisi menuju sebuah sistem baru yang dibangun WRI bersama Sekala bernama FORMA,” Ungkap Rhett A. Butler, pendiri Mongabay.com

Fungsi pemantauan GLoFDAS bisa digunakan sebagai awal pengecekan di lapangan oleh berbagai elemen masyarakat maupun pemerintah. Seperti misalnya saintis, pemantau lingkungan, organisasi masyarakat sipil (CSO/NGO), maupun pemda dan pemerintah pusat. Sebagai contoh: GlofDAS akan dapat digunakan sebagai alat monitoring wilayah/ area-area kehutanan yang ada, dan sangat kompatibel dalam memantau lokasi yang ditengarai mengalami kerusakan di hutan-hutan konservasi maupun di wilayah yang sedang dikonversi. Mongabay.co.id berharap layanan ini dapat digunakan oleh berbagai kalangan.

Beberapa titik deforestasi di Pulau Kalimantan. Foto: Peta GloFDAS

Ridzki R. Sigit, koordinator Mongabay.co.id menyebutkan “Deforestasi Sistem/GlofDAS diharapkan dapat digunakan sebagai alat pemantau atau ‘alert system’ atau deteksi dini wilayah-wilayah yang mengalami deforestasi. Selanjutnya tim lapangan dapat melakukan pengecekan di lokasi tersebut. Kedepannya Mongabay.co.id akan bekerja sama dengan para kontributor dan jurnalis di daerah untuk mengecek dan memantau situasi di lapangan.

Hadirnya alat pemantau deforestasi yang transparan ini disambut gembira oleh berbagai kalangan. Mereka yakin, alat ini menjadi sebuah titik awal pemantauan hutan yang efektif bagi banyak pihak.

Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia, Eflian Effendi mengatakan, sistem informasi di Mongabay, hasil kerja sama dengan NASA itu baik karena bisa digunakan oleh banyak kalangan. Baik, masyarakat umum, aktivis, termasuk para pejabat pemerintahan. Alat ini, bisa menjadi sarana pemantauan deforestasi yang efektif karena bisa memantau pergerakan kerusakan hutan dengan cepat.

Elfian mencontohkan, andai ada tudingan perusahaan melakukan deforestasi. Perusahaan membantah. “Pejabat pemerintah baik pusat maupun daerah akan mudah melihat kondisi sebenarnya. Dengan melihat titik-titik deforestasi di peta, lalu turun ke lapangan,” katanya, Minggu(27/5/12).

Deforestasi terjadi di seluruh Indonesia. Foto: Peta GloFDAS

“Bagi, LSM, bisa menjadi alat advokasi . Bagi pemerintah, akan memudahkan memantau titik deforestasi ilegal.”

“Ya, data peta tinggal overlay. Setidaknya sudah ada alat bantu. Peta ini kan menunjukkan terjadi perubahan vegetasi. Ini perubahan vegetasi ilegal or tidak. Hingga bisa mantau, sesuai izin atau tidak.”

Dengan sistem ini juga menjadi tantangan bagi pemerintah untuk menyajikan data akurat alias valid. “Pemerintah tak bisa lagi kasih data tidak valid, karena sudah terpampang. Sistem ini sangat mudah digunakan, tidak perlu keahlian tertentu.”

Untuk itu, dia berharap, sistem ini lebih tersosialisasikan bagi kawan-kawan dari pemerintah maupun lembaga non pemerintah maupun masyarakat umum. “Masyarakat jadi makin ngeh dengan deforestsi. Ini proses bahwa pergerakan deforestasi menjadi pengetahuan umum,” ucap Elfian.

Masyarakat pun tak bisa dibohongi dengan data tak valid lagi. “Ini tunjukkan sejauh mana kemampuan pada pemerintah untuk berikan data akurat. Ini tantangan bagi pemeritah untuk memberikan data yang up to date.”

Dengan alat ini, tak ada alasan bagi pemerintah tak bisa memperbaharui data. Sebab, yang terjadi selama ini data pemerintah kerap tak up to date. “Jika mau minta data, yang ada data dua tahun lalu. Dengan teknologi ini, pergerakan deforestasi bisa per tiga bulan.” “Ini mestinya dimanfaatkan pemerintah. Misal, dengan menge-link, situs ini.”

Peta deforestasi ini juga bisa membuka cakrawala masyarakat di Indonesia, terhadap titik-titik deforestasi. “Pemerintah harus merespon positif.”

Direktur Eksekutif Walhi Nasional, Abetnego Tarigan mengungkapkan hal yang sama. Menurut dia, inisiatif seperti ini penting untuk memicu masyarakat terlibat aktif menjadi forest monitoring (pemantau hutan).

Keterlibatan publik, kata Abet, penting karena menjaga hutan tak bisa diserahkan semua pada pemerintah yang memiliki sumber daya terbatas. “Alat ini langkah awal memberikan informasi pada publik.”

Dalam perjalanan, kata Abet, kemungkinan ada yang setuju maupun tidak. “Itu tidak penting. Ini akan diuji dari validasi data. Yang penting, secara fisik maupun teknologi memberikan informasi agar bisa diakses lebih jauh lagi.”

Abet berharap, alat deteksi titik-titik deforestasi Mongabay-NASA ini bisa mendeteksi lebih detil, misal wilayah deforestasi apa. “Apa kebun, HTI, atau tambang. ”Ini akan sangat membantu.”

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , ,