Kebutuhan Utama Masyarakat Trenggalek Itu Sumber Mata Air, Bukan Tambang Emas (Bagian – 3)

Jalan di sekitar permukiman warga yang menuju sumber mata air Plancuran di pegunungan Semungklung. Sumber mata air ini terus dijaga masyarakat karena penting bagi kehidupan mereka. Foto: Petrus Riski
Jalan di sekitar permukiman warga yang menuju sumber mata air Plancuran di pegunungan Semungklung. Sumber mata air ini terus dijaga masyarakat karena penting bagi kehidupan mereka. Foto: Petrus Riski

Suara kicau burung mengiringi langkah kami saat menapaki jalan menuju sumber mata air Plancuran. Letaknya di pegunungan Semungklung, wilayah Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.

Jalan desa berlapis semen yang semula hanya seukuran mobil kecil, perlahan menyempit menjadi jalan setapak dengan tanjakan cukup tajam. Jalan Makadam yang hanya bisa dilewati satu orang ini kondisinya licin, akibat guyuran hujan beberapa hari terakhir.

Di kiri-kanan jalan licin dan cenderung naik itu, ditumbuhi berbagai tanaman hutan. Ada juga pohon buah yang sengaja ditanam warga sekitar. Sejauh mata memandang puncak gunung Semungklung yang tertutup kabut, tampak dipenuhi pohon-pohon tinggi seperti pinus dan cemara.

Baca: Trenggalek, Alam yang Terusik Akibat Proyek Penambangan Emas (Bagian – 1)

Setelah melewati beberapa aliran sungai kecil dan batuan besar, kami tiba di sumber mata air Plancuran. Air itu keluar dari batu besar di salah satu tebing, mengalir jernih ke sungai kecil di bawahnya.

“Saya baru kali ini sampai ke mata air, sebelumnya tidak pernah karena rutenya yang jauh,” tutur Supandi, warga Desa Sumberbening, Kecamatan Dongko, saat menemani Mongabay, awal November.

Aliran air sungai dari sumber mata air ini melewati bebatuan di pegunungan Semungklung. Masyarakat selalu menjaga dan merawatnya. Foto: Petrus Riski
Aliran air sungai dari sumber mata air ini melewati bebatuan di pegunungan Semungklung. Masyarakat selalu menjaga dan merawatnya. Foto: Petrus Riski

Plancuran merupakan satu dari sekian banyak sumber mata air yang keluar dari pegunungan Semungklung. Menurut cerita masyarakat setempat, sumber air ini sudah ada sejak nenek moyang mereka bermukim di wilayah Kecamatan Dongko.

Plancuran diartikan sebagai mata air yang mancur atau terus mengalir, meskipun kemarau. Saat penghujan airnya tetap bening, tidak keruh. Nama Desa Sumberbening pun tidak lepas dari keberadaan sumber mata air yang jernih ini. Bahkan, masyarakat bisa meminumnya, langsung. “Mata air Plancuran tidak pernah berubah debitnya. Musim hujan deras, saat kemarau selalu jernih,” ungkap Suyanto, Kepala Desa Sumberbening.

Sebagian warga Sumberbening dan sekitar, menganggap Plancuran sebagai sumber air yang disucikan. Tidak jauh dari tempat itu, dipercaya ada petilasan tokoh yang dianggap sebagai  pendiri Trenggalek. “Pada masa tertentu ada kelompok masyarakat yang menggelar ritual di sekitar mata air. Tujuannya, mendoakan kelestarian mata air dan sumber penghidupan masyarakat.”

Plancuran menjadi sandaran hidup masyarakat yang mayoritas petani, karena digunakan untuk mengairi sawah. Tidak hanya Sumberbening, desa-desa lain juga bergantung pada sumber air yang ada di Semungklung.

“Bukan Dongko saja, masyarakat di kecamatan lain juga sangat bergantung, terlebih saat kemarau,” kisah Suyanto yang juga sesepuh Sumberbening.

Plancuran adalah sumber mata air di pegunungan Semungklung yang dianggap keramat oleh sebagian warga. Foto: Petrus Riski
Plancuran adalah sumber mata air di pegunungan Semungklung yang dianggap keramat oleh sebagian warga. Foto: Petrus Riski

Merawat

Di Sumberbening sedikitnya terdapat lima sumber mata air. Ditambah desa lain di Kecamatan Dongko, jumlahnya mencapai 45 buah. Suhariono, warga setempat, mengaku telah lama menjaga dan merawat sumber mata air di Semungklung. Tanpa harus diperintah, ia bersama warga membentuk kelompok yang bertugas merawat dan menjaga kelestarian sumber mata air tersebut. “Air dimanfaatkan untuk mandi, minum, mengairi persawahan, dan kebutuhan harian.”

Seminggu sekali ada warga yang bergantian mengunjungi dan memeriksa mata air dan lingkungan sekitar. Warga juga bergantian membersihkan. “Bersama, kami merawatnya. Intinya kebersamaan. Bila ada yang rusak, terhalang batu, tanah atau batang pohon, kami perbaiki.”

Sumber mata air ini muncul di bawah pohon besar di Kecamatan Panggul, Trenggalek yang dimanfaatkan oleh warga untuk kebutuhan keseharian. Foto: Petrus Riski
Sumber mata air ini muncul di bawah pohon besar di Kecamatan Panggul, Trenggalek yang dimanfaatkan oleh warga untuk kebutuhan keseharian. Foto: Petrus Riski

Tidak hanya merawat mata air, masyarakat setempat juga menanami bukit atau lahan yang terlihat gersang dengan pohon yang mengikat air tanah. Tujuannya, selain menjaga sumber mata air tidak berkurang, pepohonan juga mencegah longsor. “Kami gotong-royong menyediakan bibit dan menanamnya.”

Baca juga: Masyarakat Trenggalek yang Tidak Ingin Ada Tambang Emas di Wilayah Mereka (Bagian – 2)

Suhariono bersama seorang warga, hari itu berpatroli mengendarai sepeda motor. Selain memeriksa kebersihan jalur yang dilalui air, mereka juga memastikan sumber mata air tetap terjaga dari ulah orang yang sengaja merusak. Patroli juga dilakukan untuk menjaga hutan dari penebang kayu liar, maupun pemburu satwa liar.

“Masih ada juga yang menebangi pohon, kalau ketahuan kami tegur. Kalau pemburu satwa sudah jarang. Di sini rumahnya babi hutan, kijang, dan binatang lain.”

Sebagian sisi bukit yang gundul ini dipastikan mengancam ketersediaan sumber mata air yang ada. Foto: Petrus Riski
Sebagian sisi bukit yang gundul ini dipastikan mengancam ketersediaan sumber mata air yang ada. Foto: Petrus Riski

Tidak hanya Plancuran, sumber mata air di tempat lain di sekitar Semungklung juga dijaga warga, seperti Apak-apak. Suhariono bersama warga Sumberbening dan sembilan desa lain di Kecamatan Dongko berkomitmen menjaga mata air dan hutan di Semungklung. Caranya, tidak mengizinkan aktivitas eksplorasi maupun eksploitasi tambang di kawasan itu.

Jika pegunungan Semungklung jadi ditambang, ribuan hektar sawah dan perkebunan warga sudah dipastikan terancam. Tidak hanya warga di Kecamatan Dongko, masyarakat di kecamatan sekitar akan merasakan imbas dari pertambangan emas tersebut, bila dilakukan.

“Intinya, warga menolak tambang emas, segala macam tambang pastinya. Kami tidak ingin ada pencemaran, longsor, dan bencana yang tidak diharapkan kedatangannya. Kehadiran tambang akan memberi gores hitam pada lingkungan yang sudah kami jaga selama ini,” tandas Suhariono. (Selesai)