Pertama Kali Terfoto Kamera Trap, Macan Tutul Terbukti Masih Ada di Cikepuh

Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) yang telah dinyatakan punah di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Cikepuh, Sukabumi, Jawa Barat, kembali terdeteksi. Informasi ini disampaikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui siaran pers di Jakarta, 8 Februari 2017 yang lalu.

Kehadiran karnivora terbesar di Jawa ini terdeteksi pertama kali dari hasil penelitian mahasiswa dan informasi masyarakat di sekitar Suaka Margasatwa seluas 8.127 hektar ini. Selain itu, peneliti dari International Animal Rescue (IAR) juga melaporkan adanya tanda-tanda keberadaan macan tutul jawa saat melakukan survei primata di kawasan ini. Tanda-tanda tersebut berupa cakaran, kotoran dan juga tapak kaki.

Untuk menindaklanjuti informasi tersebut, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat bekerjasama dengan IAR dan Forum HarimauKita menindaklanjuti dengan melakukan penelitian menggunakan kamera trap. Kamera tersebut dipasang di tempat-tempat yang diduga menjadi wilayah jelajah serta tempat-tempat ditemukan tanda-tanda keberadaan macan tutul jawa.

 

 

Setelah pemasangan 24 unit kamerta trap selama 28 hari, didapatkan tujuh frame video yang menunjukkan aktifitas macan tutul jawa di SM Cikepuh. Dari ketujuh file tersebut, teridentifikasi sebanyak 3 individu, 2 diantaranya dengan pola tutul dan 1 individu berupa varian tutul hitam, yang sering dikenal sebagai macan kumbang.

Erwin Wilianto, Project Officer Forum HarimauKita, yang juga turut meneliti macan tutul di SM Cikepuh menyampaikan bahwa keberadaan macan tutul jawa di SM Cikepuh belum pernah diteliti secara komprehensif sebelum tahun 2014. Sehingga belum pernah ada catatan deteksi keberadaan dan populasi karnivora besar terakhir di Jawa ini.

Tanda-tanda kehadiran macan tutul mulai ditemukan kembali semenjak tahun 2014. Pada tahun itu, dilakukan survey occupancy untuk mendeteksi keberadaan satwa ini. Hasil yang positif di tahun 2014 tersebut dilanjutkan oleh sebuah kelompok studi satwaliar dari IPB di tahun 2015 yang semakin menguatkan dugaan bahwa macan tutul memang menggunakan SM Cikepuh sebagai habitatnya.

“Penelitian menggunakan kamera trap ini sangat penting, karena keberadaan macan tutul jawa di SM Cikepuh akhirnya dapat dipastikan keberadaannya,” kata Erwin yang dihubungi Mongabay, Kamis (09/02/2017).

 

Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) varian tutul hitam atau macan kumbang yang terekam kamera jebak di di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Cikepuh, Sukabumi, Jawa Barat pada Juni – Agustus 2016. Sebelumnya macan tutul ini dinyatakan punah di kawasan SM Cikepuh. Foto : KLHK/IAR/FHK

 

Hal senada diungkapkan oleh Hendra Gunawan, Ketua Forum Macan Tutul Jawa (Formata) menyampaikan bahwa memang belum pernah ada penelitian tentang macan tutul jawa di SM Cikepuh sebelumnya. Namun informasi tentang macan tutul jawa ini sering didapatkan dari masyarakat.

“Pada tahun 2013 yang lalu, saya masih mendapat informasi macan tutul terlihat oleh masyarakat,” jelasnya.

Pada saat SM Cikepuh masih dikuasai oleh para perambah, Hendra juga sering mendapat informasi keberadaan macan tutul jawa. Apalagi di kawasan ini terdapat kawasan berupa savana, di mana dahulu perambah menjadikan area ini sebagai pusat penggembalaan sapi. Beberapa kali ada informasi anak sapi yang diserang macan.

 

Perlu Peningkatan Manajemen Habitat

Menghilangnya macan tutul jawa di kawasan SM Cikepuh tak lepas dari permasalahan perambahan kawasan ini di awal era reformasi di tahun 1998-2001 yang lalu. Menurut data KLHK, sekitar 50% kawasan pesisir selatan Jawa Barat ini dikuasai secara ilegal oleh perambah. Tak bisa dipungkiri juga bahwa perburuan ilegal satwaliar juga terjadi seiring terjadinya perambahan itu.

(baca :Macan Tutul Turun Gunung Lagi)

Temuan macan tutul jawa di SM Cikepuh ini, menurut Kepala BBKSDA Jawa Barat, Sustyo Iriyono, merupakan salah satu indikator keberhasilan rehabilitasi dan restorasi ekosistem kawasan yang menjadi zona inti Geopark Ciletuh ini. Menurutnya, keberhasilan rehabilitasi bukan hanya dilihat dari lebatnya kawasan oleh tumbuhan saja. Puncak dari keberhasilan restorasi adalah hadirnya kembali berbagai jenis satwaliar di kawasan pasca rehabilitasi dan menjadi habitat alaminya.

“Restorasi kawasan seharusnya bukan hanya dilakukan terhadap tumbuhan, melainkan juga terhadap satwaliar yang ada di dalamnya,” jelasnya.

 

Macan tutul (Panthera pardus), salah satu satwa dilindungi yang hidup di kawasan Gunung Ciremai. Satwa ini terancam karena terjadinya kebakaran di Taman Nasional Gunung Ciremai. Foto : CI Indonesia

 

Sustyo juga menyampaikan untuk mencoba mengintroduksikan satwa-satwa yang pernah hidup di kawasan ini. Namun, dia menjelaskan bahwa program reintroduksi satwa merupakan program strategis yang memerlukan banyak pihak.

Pentingnya Kawasan Sekitarnya

Ketika ditanya tentang keberlangsungan populasi macan tutul jawa di SM Cikepuh, Hendra Gunawan menjelaskan bahwa SM Cikepuh merupakan kawasan yang dinilai bagus untuk menunjang keberlangsungan populasi yang ada. Meski sempat dirambah, banyak kawasan sekunder yang saat ini sedang mengalami suksesi. Satwa mangsa seperti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan babi hutan (Sus sp.) juga cukup melimpah.

Menurut Hendra, macan merupakan spesies yang cenderung mudah menyesuaikan diri dengan kondisi habitat. Selama makanan dan air tersedia, populasi macan akan berkembang lebih mudah. Namun juga dengan catatan minimnya gangguan seperti perambahan dan perburuan.

“Bekas perambahan di Cikepuh sudah menjadi hutan kembali. Hal ini sangat bagus sebagai habitat macan tutul. Selama kawasan tidak dirambah, populasi macan akan mampu berkembang dengan baik,” jelasnya lebih lanjut.

Justru yang paling penting untuk diperhatikan adalah keterhubungan SM Cikepuh dengan habitat macan tutul jawa di sekitarnya. Secara spasial, saat ini SM Cikepuh cenderung terisolasi dengan kantong-kantong populasi macan di tempat lain. Lokasi terdekat adalah Gunung Jampang, Garut, namun Hendra menyampaikan bahwa rintangannya cukup berat. Koridor yang menghubungkan antara SM Cikepuh dengan Gunung Jampang, mayoritas merupakan perkebunan rakyat.

 

Macan tutul Jawa di habitatnya, Taman Nasional Halimun Salak. Sumber: CIFOR

 

Namun ada hal positif yang masih dapat didorong agar populasi macan tutul jawa di SM Cikepuh ini tidak terisolasi. Hendra menjelaskan bahwa sistem yang digunakan masyarakat dalam mengelola tanahnya yaitu hutan rakyat, dengan komoditas kayu hutan seperti jati dan tanaman kayu lainnya. Tinggal bagaimana semua pihak termasuk masyarakat dapat turut mendukung upaya konservasi macan di wilayah mereka.

“Hutan rakyat antara Cikepuh dengan Gunung Jampang ini dikelola sangat bagus oleh masyarakat, karena komoditasnya seperti jati dan kayu keras lainnya. Sistem ini sangat bagus untuk konservasi satwaliar termasuk macan tutul,” imbuhnya.

(baca :Anakan Macan Tutul Sakit Tertangkap Di Pamokolan Ciamis)

Menindaklanjuti temuan terkait macan tutul jawa ini, KLHK akan menyusun beberapa program dan rencana kerja yang disinergikan dengan program strategis kawasan lainnya. Program-program tersebut diantaranya inventarisasi macan tutul, mitigasi konflik antara macan tutul dengan masyarakat, pengendalian kebakaran hutan, pengembangan zona inti Geopark Ciletuh, reintroduksi satwaliar lainnya serta restorasi habitat satwa.

 

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , ,