Travel Mongabay: ‘Berburu’ Burung Surga di Isio Hill’s Bird Watching Jayapura

Alex Waisimon, kala mengamati cenderawasih. Foto: Asrida Elisabeth

 

Isio Hills’s Birds Wacthing. Begitu nama tempat di Distrik Nimbrokrang, Kabupaten Jayapura ini. Ia biasa jadi destinasi wisatawan dan para fotografer untuk mendapat foto berbagai jenis cenderawasih, biasa disebut si burung surga.

Memotret burung ternyata tak mudah. Apalagi untuk fotografer pemula seperti saya yang tak akrab dengan lensa-lensa kamera. Berbekal kamera Nikon D3200 lensa tamron 70-300mm, saya memotret burung-burung di Isio Hill’s Bird Watching.

Isio Hill’s terletak di Kampung Rhepang. Ia merupakan pengembangan kawasan wisata bersama masyarakat dikoordinir Alex Waisimon.

Di sini ada empat jenis cenderawasih yaitu king bird of paradise atau cenderawasih raja (Cincinurus regius), lesser bird of paradise atau cenderawasih minor (Paradisea minor), cenderawasih mati kawat (Celecoudius melanoleuca) dan cenderawasih paru sabit putih (Pale billed sicklebill).

Dengan biaya Rp1.000.000,  kita bisa menginap, makan dan mengamati burung. Harga bisa negosiasi saat datang bersama rombongan.

Jika ingin ke tempat ini, cukup menelpon Alex Waisimon. Bapa Alex, begitu saya memanggil, tak sulit dihubungi. Punya jadwal jelas, bikin janji datang, maka Alex bersama staf siap menyambut dan mengantar keliling Isio Hill’s.

Menuju Isio Hill’s,  kita bisa pakai kendaraan umum dari Sentani dengan tarif Rp30.000 per orang. Dengan jarak sekitar 100 Km, dalam dua jam kita bisa tiba di tempat ini. Terkadang kendaraan umum hanya mengantar hingga ke Pusat Distrik Nimbokrang. Jika begitu, kita bisa pakai motor ojek ke camp Isio Hill’s, hanya berjarak sekitar satu km.

Saat saya tiba, Bapa Alex sedang membersikan pohon pisang di halaman camp. Dinaungi pohon-pohon besar, camp ini sangat teduh. Di sini ada banyak tempat duduk dan meja dari kayu bekas, beberapa rumah beratap daun sagu serta kolam-kolam ikan.

Salah satu rumah jadi tempat menginap buat tamu. Bapa Alex mempersilakan saya menaruh barang sebelum kami duduk santai sambil memperkenalkan diri. Bapa Alex bercerita tentang Isio Hill’s ini.

Isio Hill’s Bird Watching hanyalah satu dari sekian banyak rencana Bapa Alex untuk meyelamatkan lingkungan di Tanah kelahirannya ini. Berbagai hal coba dilakukan untuk menggugah kesadaran masyarakat tentang penting menjaga hutan.

Obrolan kami ditutup dengan makan malam dan pengaturan jadwal untuk melihat burung keesokan hari. “Pukul 4.00 kita bangun. Jam 5.00 jalan. Paling lambat setengah 6.00 kita sudah di spot pertama” katanya.

Malam itu, saya menikmati tidur di antara bunyi jangkrik, kodok dan binatang malam lain. Letak camp di pinggir Jalan Sentani-Sarmi, membuat suara kendaraan tak terhindarkan terdengar.

Truk-truk berjalan malam hari ini biasa mengangkut kayu. Menurut Bapa Alex,  dalam sehari bisa 35 kali truk kayu lewat.

Kayu-kayu itu kebanyakan dari Nawa. Inilah keprihatinan Alex. Di Isio Hill’s, dia ingin memberi contoh bagaimana tanpa merusak hutan, masyarakat masih bisa mendapatkan uang.

 

Cenderawasih 12 antena berada di ranting pohon. Foto: Asrida Elisabeth

 

***

Pukul 04:00, subuh kami bangun. Bapa Alex menyiapkan air panas untuk minum dan sarapan bersama. Setelah sarapan kami bersiap. Kepada kami masing-masing dibagikan sepasang sepatu booth  lengkap dengan kaus kaki. Tak lupa senter dan lotion anti nyamuk.

Marthen Bay ,salah satu pemandu ikut bersama kami. Setelah semua siap, kami memulai perjalanan.

Waktu yang tepat melihat burung pukul 5.00-6.00 pagi dan pukul 15.00-16.00. Meskipun belum ada matahari, suara binatang pagi termasuk burung sudah mulai terdengar.

Kami tak banyak bicara. Hanya saat terdengar bunyi burung, Bapa Alex berhenti, mengajak kita mendengar bunyi lalu menyebut nama. Begitu terus hingga kami tiba di spot pertama.

Spot di sini adalah titik yang tepat untuk melihat burung. Di spot pertama, Alex menunjukkan kami satu pohon kering tinggi tanpa dahan. “Lihat itu. Itu cenderawasih 12 antena” katanya.

Dari jauh kami melihat burung dengan nama lain cenderawasih mati kawat ini bertengger sambil sesekali mengeluarkan suara. Hari masih gelap hingga menyulitkan kami melihat dengan jelas. “Kita tunggu.”

Sebagai pemandu bird watching, Bapa Alex sudah memahami waktu, tempat, jenis suara, juga tingkah laku burung-burung di hutan ini. “Sebagai pemandu, kita harus punya insting kuat. Pendengaran dan penglihatan itu kuncinya,” katanya.

Saat memandu, Alex selalu membawa teropong. Teropong itulah untuk melihat burung dari kejauhan.

Tak lama matahari mulai muncul, langit membiru. Saat sempurna melihat cenderawasih 12 antena. Perpaduan cahaya matahari pagi dan kuning bulu cenderwasih sungguh indah. Biru langit membuat 12 antena pada ekor cenderawasih itu tampak sangat jelas.

Di tempat ini, cenderawasih menunggu betina untuk kawin. Cenderawasih 12 antena termasuk burung tenang. Pohon kering tempat hinggap juga memudahkan untuk mengambil gambar karena tak terhalang daun-daun.

Di spot ini, kita bisa melihat burung-burung lain. Burung sangat sensitif dengan suara sekitar. Menurut Alex, jika sudah melihat burung, harus tenang dan segara cari posisi tepat untuk melihat atau mengambil gambar. Agar burung mendekat, Alex terkadang mengeluarkan suara-suara menyerupai burung.

Selesai dari spot ini, kami melanjutkan perjalanan ke spot berikutnya. Kami menyusuri jalan setapak. Kadang kering, kadang berlumpur. Kadang juga melewati jembatan-jembatan kayu. Berbagai suara binatang terdengar.

Bapa Alex akan menjelaskan itu bunyi binatang apa. Jika bukan suara, yang bisa terlihat adalah jejak kaki atau bekas makanann. Di sini, untuk pertama kali saya melihat bekas kaki kasuari.

“Dia baru saja lawat beberapa jam lalu,” katanya.  Bekas kaki babi hutan juga banyak sepanjang perjalanan.

Kami tiba di spot kedua, terletak di kemiringan. Kita bisa duduk sambil menunggu burung-burung menghinggapi pepohonan. Sambil menunggu cenderawasih, saya mulai membidik burung-burung lain. Saya berhasil mendapat foto burung mimic meliphaga dan lowland peltops.  

Cenderawasih yang bisa dilihat di spot kedua ini berwarna disebut cenderawasih kuning. Di spot kedua, cukup banyak cenderawasih hinggap. Butuh kejelian melihat di antara celah-celah dahan dan daun-daun.

Kitapun bisa mendapatkan gambar saat burung-burung ini mengepak sayap meskipun membutuhkan kesabaran dan teknik tepat.

 

Camp Isio Hill’s Bird watching. Foto: Asrida Elisabeth

 

Biasanya, Alex dan para pemandu membantu kita melihat posisi burung dengan teropong mereka, lalu mencarikan posisi tepat untuk membidik.

Lalu kami ke spot ketiga. Ia terletak di perbukitan. Saat tiba, cahaya matahari makin tinggi. Menurut Alex, spot ketiga ini biasa dipakai memantau burung pada sore hari.

“Saat matahari terik, burung-burung biasa terbang di celah-celah pohon, sore hari nanti mereka balik lagi untuk bermain.”

Berbeda dengan spot-spot lain, di sini disediakan tempat duduk. Di sini akan dibangun menara pemantau burung.

Biasanya spot ini untuk makan siang sebelum para pengunjung masuk ke spot-spot di tengah hutan lalu kembali ke sini sore hari.

Perjalanan ke titik keempat makin menarik. Di sini, kita benar-benar berjalan di celah-celah akar pohon dan dedaunan.

Terkadang naik turun melewati aliran air. Agar tak tergelincir, harus berpegangan pada tanaman sekitar. Sebagai pemandu, Bapa Alex berada paling depan.

Dia akan menyingkirkan kayu atau tumbuhan hutan yang menghalangi jalan. Alex tak pakai parang. Di dalam hutan ini, Alex menanamkan kebiasaan kepada para pemandu dan pengunjung tak sembarang merusak tumbuhan apapun. Begitu juga binatang.

Jauh sebelum bird watching ada, kayu-kayu hutan ini sudah ditebang perusahaan kayu atas persetujuan masyarakat ulayat. Kayu besi paling dikenal karena kualitas bagus habis. Begitu juga cenderawasih dan binatang lain, terus diburu.

Sejak bird watching mulai, penebangan kayu dihentikan begitupula berburu apapun. Binatang dan tumbuhan kini baru mulai berkembang lagi di sini. Kayu-kayu bekas penebangan masih terlihat meski sudah mulai lapuk.

Kami tiba di spot keempat. Ia tantangan tersendiri karena tak jauh dari pohon tempat burung hinggap. Untuk mendapat gambar cenderawasih, kita harus menengadahkan kepala hampir 45 derajat. Beberapa kali saya harus mengistirahatkan leher saya karena capek.

Bapa Alex bahkan mengambil alih kamera saya. Cenderawasih raja cukup lama di sini sebelum terbang lagi. Saya berhasil mendapatkan gambar, meskin kurang sempurna karena terhalang daun-daun.

Kami menuju spot kelima. Ia tak jauh dari spot keempat. Saya mendapat gambar burung namun bukan cenderawasih. Cenderawasih hinggap tak lama hingga saya kehilangan kesempatan mengabadikannya.

Setelah selesai memburu foto cenderawasih dan burung-burung lain, kami kembali. Sepanjang perjalanan pulang, Bapa Alex memperkenalkan kami pada pohon-pohon dan tumbuhan-tumbuhan hutan . “Ini sarang ayam hutan,” katanya sambil memperlihatkan tumpukan daun-daun tempat ayam hutan bertelur.

Kami juga mengamati palem yang menjadi pakan binatang hutan. Biji palem dimakan burung, lalu dahan jatuh makanan rusa, babi atau ayam hutan. Kami juga melihat biji kenari bekas makan kakatua raja dan kup dengan biji jadi makanan tikus tanah.

Menariknya seperti binatang, tumbuhan ada terbagi jantan dan betina. Kup, misal, jantan berbuah manis dan jadi makanan tikus tanah.

Perjalanan ke hutan bukan hanya saat memandu tamu. Di hari-hari lain ketika tak ada pengunjung Alex tetap masuk hutan. Saat itu untuk mengamati perkembangan hutan, melepaskan jerat yang masih dipasang warga, juga melatih para pemandu lokal yang sedang belajar.

Dia bilang, perlu proses panjang dan terus-menerus membangun kesadaran masyarakat menjaga hutan. Pelahan membuahkan hasil.

Isio Hill’s, biasa dikunjungi club-club pemantau burung dari berbagai belahan dunia. Mei-hingga Oktober, sudah jadi jadwal rutin mereka mengunjungi tempat ini.

Jika  ingin menyaksikan burung di Isio Hill’s birdwatching ini, anda cukup membawa teropong. Teropong juga disediakan Bapa Alex dan tim. Jika ingin mendapat foto gambar-gambar burung yang bagus, baiknya ada membawa lensa yang tepat juga tripod atau monopod.

Alex berharap, lebih banyak orang Papua pemilik hak ulayat bisa memanfaatkan hutan untuk ekowisata seperti ini. “Agar hutan tak rusak. Hutan itu untuk hidup, hutan untuk anak cucu.”

 

Black browed triller. Foto: Asrida Elisabeth

 

Dulu, hutan yang kini jadi tempat pengamatan burung sempat ada penebangan kayu. SIsa-sisa rel kayu yang dibangun untuk melancarkan jalan kayu tebangan. Foto: Asrida Elisabeth