Mangrove Camplung yang Meneduhkan Pantai Samuh

Lebih dua lusin orang berpayungkan rerimbunan pohon di pantai. Batang-batangnya mencuat dari pasir putih. Lalu meliuk-liuk ke segala arah. Batang-batang ini tumbuh rendah, terasa sangat ramah  mempersilakan orang untuk menggunakannya sebagai tempat duduk atau sekadar bersandar.

Inilah dia si mangrove camplung, demikian warga lokal menyebutnya. Bakau ini menjadi oase di tengah pantai. Satu keluarga bakau camplung ini diyakini sudah berusia lebih 100 tahun. “Sebelum bapak saya lahir sudah ada. Sudah ratusan tahun usianya,” ujar I Nyoman Warsa, warga sekitar. Tiap hari pria tengah baya ini bekerja menawarkan wisata watersport ke turis-turis yang melintas Pantai Samuh, Nusa Dua, Badung, Bali.

Warsa kadang menanam bibit Camplung yang muncul natural dari bijinya yang dimakan kelelawar dan tersebar di permukaan bertanah atau area pasir pantai. Bibit ini muncul di sejumlah titik sekitar dan bisa dipindahkan untuk ditanam di area yang kurang peneduh. Demikianlah regenerasi Camplung secara natural terjadi dibantu hewan lain dan manusia yang ingin melestarikannya.

 

Pohon mangrove camplung di Pantai, Samuh, Badung, Bali disebut warga sekitar sudah ada sejak leluhur mereka di sana, dan terus tumbuh dari generasi bibit-bibit baru. Foto: Luh De Suriyani

 

Di sekitarnya ada tempat bersembahyang, Pura Dalem Samuh Desa Adat Nusa Dua yang memiliki pemandangan indah pantai dan rindangnya bakau-bakau camplung raksasa ini. Siapa saja yang lewat atau bersembahyang akan lebih betah dengan situasi menenangkan ini.

Demikian juga turis-turis yang melintas jalan kaki, jogging, atau naik sepeda di jalur pedestrian pinggir pantai. Mereka berhenti sebentar menarik nafas panjang menikmati udara di sekitar tempat ini. Mangrove ini sekaligus menjadi penjaga pura dari kemungkinan abrasi di masa depan.

Walau hanya beberapa pohon, oksigen yang dihasilkannya membuat udara panas terasa sangat nyaman. Rebahan di bawah rapat dedaunannya bisa sepanjang hari. Demikian juga untuk sekumpulan mahasiswa yang sedang belajar pesisir laut.

Mereka sedang praktik lapangan. Tiap kelompok mahasiswa mempresentasikan penghuni pesisir yang ditemukan, jenis, kondisi, dan habitatnya. Air pantai Samuh terlihat bening, dari kejauhan berwarna hijau toska.

 

Pengunjung memanfaatkan batang-batangnya yang menjulur rendah untuk duduk berteduh nyaman di Pantai Samuh, perbatasan Tanjung Benoa dan Nusa Dua, Bali. Foto: Luh De Suriyani

 

Panas terik langsung hilang ketika berteduh di bawah kelompok camplung. Sedikitnya lima pohon raksasa ini perkasa di tengah hamparan pasir putih pantai yang tak banyak diketahui warga di luar Nua Dua ini. Dari pantai ini terlihat sejumlah atraksi wisata air seperti banana boat, jetski dan lainnya. Mungkin karena berada di ujung Selatan kawasan Tanjung Benoa, area populer wisata bahari di Bali. Pantai Samuh mudah diakses karena jalan masuknya pinggir jalan raya Tanjung Benoa.

Di kawasan resor elit Nusa Dua yang dikelola BUMN ini, ada empat pantai yang memberikan akses publik dengan cukup baik seperti ketersediaan parkir, warung, dan lainnya. Selain Samuh, ada pantai Mengiat, Geger, dan Sawangan. Camplung membuat salah satu bagian pantai Samuh jauh lebih teduh.

Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia yang diterbitkan PHKA/WI-IP, Bogor, ditulis Rusila Noor, Y., M. Khazali, dan I N.N. Suryadiputra pada 1999 menyebutkan mangrove ini dikelompokkan sebagai mangrove ikutan dengan nama latin Calophyllum inophyllum L. Dalam bahasa lokal disebut camplung, nyamplung, bintanguru, benaga, bintangur laut, menaga, naga.

Secara ekologi  tumbuh pada habitat bukan rawa dan pantai berpasir, hingga ketinggian 200 m. Kadang-kadang tumbuh pada lokasi mangrove, biasanya pada habitat transisi. Tercatat banyak di Sumatera di sepanjang Danau Singkarak pada ketinggian 386 m. Penyebaran mangrove jenis ini dari Afrika Timur hingga Polinesia, dan Pasifik. Kemungkinan terdapat di seluruh Indonesia, yang terdata di Sumatera, Bali, Jawa, Kalimantan dan Papua.

Manfaat pohon ini selain sumber oksigen dan peneduh, buah mudanya digarami untuk makanan. Juga disebut dapat digunakan sebagai bahan pewarna, minyak, kayu dan obat-obatan. Di Bali, buahnya yang sudah tua dipakai bermain oleh anak-anak sebagai kelereng atau bola pingpong kecil. Di Australia, Malaysia dan Indonesia (Bali) sering ditanam sebagai pohon peneduh.

 

Kelompok mangrove camplung melindungi sebuah pura desa adat di Nusa Dua, Bali dari abrasi sekaligus merindangkan. Foto: Luh De Suriyani

 

Buku yang sudah dicetak ulang beberapa kali ini menyebut asal kata “mangrove” tidak diketahui secara jelas dan terdapat berbagai pendapat mengenai asal-usul katanya. Macnae (1968) menyebutkan kata mangrove merupakan perpaduan antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove. Sementara itu, menurut Mastaller (1997) kata mangrove berasal dari bahasa Melayu kuno mangi-mangi yang digunakan untuk menerangkan marga Avicennia dan masih digunakan sampai saat ini di Indonesia bagian timur.

Beberapa ahli mendefinisikan istilah “mangrove” secara berbeda-beda, namun pada dasarnya merujuk pada hal yang sama. Tomlinson (1986) dan Wightman (1989) mendefinisikan mangrove baik sebagai tumbuhan yang terdapat di daerah pasang surut maupun sebagai komunitas. Mangrove juga didefinisikan sebagai formasi tumbuhan daerah litoral yang khas di pantai daerah tropis dan sub tropis yang terlindung (Saenger, dkk, 1983).

Sementara itu Soerianegara (1987) mendefinisikan hutan mangrove sebagai hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut, dan terdiri atas jenis-jenis pohon Aicennia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Lumnitzera, Excoecaria, Xylocarpus, Aegiceras, Scyphyphora dan Nypa.

Tumbuhan mangrove memiliki kemampuan khusus untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang ekstrim, seperti kondisi tanah yang tergenang, kadar garam yang tinggi serta kondisi tanah yang kurang stabil. Dengan kondisi lingkungan seperti itu, beberapa jenis mangrove mengembangkan mekanisme yang memungkinkan secara aktif mengeluarkan garam dari jaringan, sementara yang lainnya mengembangkan sistem akar napas untuk membantu memperoleh oksigen bagi sistem perakarannya.

 

Pantai Samuh, salah satu pantai di perbatasan Tanjung Benoa dan Nusa Dua, Bali ini lebih tenang dengan air jernih. Foto: Luh De Suriyani

 

Umumnya tegakan mangrove jarang ditemukan yang rendah kecuali mangrove anakan dan beberapa jenis semak seperti Acanthus ilicifolius dan Acrostichum aureum. Sejauh ini di Indonesia tercatat setidaknya 202 jenis tumbuhan mangrove, meliputi 89 jenis pohon, 5 jenis palma, 19 jenis pemanjat, 44 jenis herba tanah, 44 jenis epifit dan 1 jenis paku. Dari 202 jenis tersebut, 43 jenis (diantaranya 33 jenis pohon dan beberapa jenis perdu) ditemukan sebagai mangrove sejati (true mangrove), sementara jenis lain ditemukan disekitar mangrove dan dikenal sebagai jenis mangrove ikutan (asociate asociate).