Kampung Penyu ini Bisa Hilang, Makin Terancam Abrasi

Ini kisah rumah peneluran penyu laut yang bisa jadi hilang. Sisa habitat peneluran penyu hanya tersisa sekitar 2 km dari total panjang pantai Perancak 4,5 km. Selain parahnya abrasi, sebagian area habitat peneluran favorit penyu di Bali Barat ini kini disender bebatuan besar.

Senderan dengan panjang lebih 500 meter dibuat pemerintah pada 2015. Niatnya mengurangi abrasi yang menggerus pantai di Kabupaten Jembrana ini. Abrasi memang tak kenal ampun memakan daratan. Arus gelombang laut terus menghantam ke Barat.

Namun senderan berdampingan jalan paving yang terlihat rapi ini adalah jalan buntu untuk penyu. Pasir yang sering basah karena bilasan air laut tak disukai sebagai sarang bertelur. “Sebelum disender, banyak penyu bertelur sekitarnya tapi setelah itu hanya 1-3 ekor,” kata I Wayan Anom Astika Jaya, pengelola konservasi penyu Kurma Asih di Perancak ini.

 

Inilah senderan batu yang dibangun untuk mengurangi abrasi di areal habitat peneluran penyu di Pantai Perancak, Bali Barat. Namun menyulitkan penyu mencari pasir lapang dan kering untuk bertelur. Foto Luh De Suriyani

 

Anom mengakui abrasi ini perlu segera ditanggulangi. Selain merusak pesisir, mengancam habitat penyu-penyu langka, juga mengancam wilayah pemukiman.

Abrasi sampai kini terus menghantam pesisir Bali, salah satu yang terparah di Bali Barat. Jika melewati jalur antar kota dan kabupaten Jalan Raya Denpasar-Gilimanuk, tak sulit menemukan titik abrasi atau sisa tugu persembahyangan digerus ombak.

Anom mengharapkan ada solusi lebih baik seperti pemotong arus atau lainnya dari para ahli. Tahun ini ditemukan 90 sarang penyu lekang dan 8 penyu sisik di Perancak. Sementara tahun lalu tercatat 126 sarang, terdiri dari 124 sarang penyu lekang dan 2 sarang penyu sisik.

“Musim penyu sisik bertelur sudah berakhir, dan penyu lekang sedang berjalan sampai September,” tambah pria yang puluhan tahun mengurus regenerasi penyu ini. Penyu lekang mendominasi di sini.

Walau proses edukasi terus menerus dilakukan, tak mudah memastikan tiap sarang aman. Kurma Asih ingin memastikan dengan beri insentif Rp100 ribu untuk warga sebagai biaya transportasi dan operasional saat patroli mengamankan sarang-sarang penyu. Biaya ini dialokasikan dari donasi tamu yang berkunjung ke pusat konservasi. Ada sejumlah telur dan sarang yang dipindahkan ke lokasi ini untuk perlindungan.

 

Hanya ada beberapa tukik dan penyu besar di kolam sebagai edukasi pengunjung. Foto Luh De Suriyani

 

Kolam-kolam hanya berisi sedikit tukik dan beberapa penyu besar untuk edukasi. Tak seperti proses pelepasan tukik di Pantai Kuta yang dikerubungi turis, di Perancak dilakukan dalam hening dibantu warga setempat yang kebetulan di pantai. Kadang oleh turis yang berkunjung ke desa yang bisa ditempuh sekitar 2,5 jam dari kota Denpasar ini.

Sebelum abrasi tambah parah, beberapa tahun lalu sarang yang ditemukan antara 200-400 tiap tahun. Tiap sarang masing-masing berisi 50-100 telur. Makin banyak sarang membuat beban kelompok ini makin berat. Pertama, harus disiapkan dana reward untuk warga yang menukarkan telur yang ditemukan. “Kami harus pastikan telur ini tak dijual, karena masih ada perdagangan telur dan penyu di Bali,” ujar Astika.

Tinggal menunggu waktu para penyu ini meninggalkan pesisir Jembrana jika tekanan lingkungan tak berkurang. Ida Bagus Windia Adnyana, peneliti penyu dari Universitas Udayana mengatakan dinamika populasi harus diketahui agar penanganannya sesuai.

Dari penerapan ilmu genetika, ada istilah pulang kampung untuk penyu, ketika ia bertelur di tempat ditetaskan walau tak persis. Namun hanya betina, jantan tak naik pantai. Struktur genetika antar tempat bertelur punya karakter sendiri dibawa dari induknya. “Penyu itu multiple paternity, betina bawa ratusan telur yang akan ditelurkan 3-8 kali,” jelas Windia.

Untuk membuahi 500 telur tak mungkin dari seekor pejantan, perlu beberapa. Dari satu sarang, berapa pejantan membuahi telur-telur itu. “Kalau membuahi makin sedikit artinya sudah tak bagus atau pejantan berkurang,” ungkapnya.

 

Tukik harus segera dilepas begitu menetas untuk menanamkan memori “kampung halaman” yang akan dijadikan tempat bertelur saat dewasa. Foto Luh De Suriyani

 

Ia mencontohkan pada 2005 melakukan riset bekerja sama dengan peneliti lain di Asia Tenggara untuk menentukan struktur genetika di sebanyaknya area peneluran. “Kita ambil sampel, Malaysia yang analisis. Kita juga melakukan sendiri seperti di Sukamade, Berau. Kita tahu penyu beda antara satu tempat lain, ada management unit,” jelasnya.

Banyak penyu mati juga karena sebab manusia. Misalnya di Papua yang membunuh kebanyakan karena serpihan sampah plastik atau marine debris, di Jawa karena jaring longline.

Penelitian soal genetika penyu bisa memperlihatkan populasi dan habitat penyu. Menurutnya dulu populasi Aru sangat besar, ketika sampel pasti ada saja Aru, sekarang hampir punah. Windia menyebut harus secara rutin diambil sampelnya untuk mengetahui variasi genetiknya.

Konservasi genetis kecil dianggap sangat berbahaya, Aru keragamannya sangat kecil. Kaltim dan Jatim masih cukup bagus.

Hasil penelitian terbaru oleh Maulid Dio Suhendro tentang investigasi genetika penyu hijau (Chelonia mydas) memperlihatkan 136 sampel yang diselundupkan ke Bali pada 2015-2016 berasal dari setidaknya 30 titik sarang peneluran penyu dunia.

Apa dampak penelusuran asal usul penyu ini? Salah satunya, perdagangan illegal ke Bali akan berdampak pada populasi penyu yang bertelur di Indonesia dan negara lain seperti Australia, Malaysia, negara Pasifik Barat, dan lainnya.

Penyu dikenal sebagai satwa laut bermanfaat dan unik, misal menemukan kembali tempatnya menghirup udara pertama di alam. Nah ini terjadi ketika para penyu dewasa ini hendak bertelur. Rata-rata mendarat di pesisir tempat ia ditetaskan walau dibesarkan di lautan bebas.

Itulah sebabnya, para bayi penyu atau tukik yang baru menetas di penangkaran, harus segera dilepaskan ke laut. Memberikan haknya atas memori tentang lingkungan alaminya memulai kehidupan. Di mana ia akan kembali saat dewasa dan menelurkan generasi penyu baru.

Penyu yang diselundupkan ke Bali tak hanya mengancam populasi penyu di Bali saja. Pemerintah lewat Polair dan BPSPL di Bali memberi izin pengambilan sampel dari 175 penyu hijau yang berhasil diselamatkan.

Analisis genetik diambil dari 150 individu penyu, dan 136 fragmen mitokondial-DNA (mtDNA) berhasil diamplifikasi dari seluruh sampel. Analisis stok campuran (Mixed-Stock Analysis/MSA) dari seluruh (136) sampel menunjukan bahwa penyu-penyu yang diselundupkan ke Bali ini memiliki marka genetik yang identik dengan penyu yang bertelur di pantai Sangalaki – Berau (51.19%), Long Island – PNG (10,01%), Ulithi Atoll (8,97%), Redang Island (7,58%), Enu Island (6, 45%), Paloh (3,75%), Ashmore Reef (2,60%), Sarawak (1,32%), serta Raja Ampat (1,02%).