Foto: Pesona Alam Mengagumkan Aceh Selatan

 

Ikon Tapaktuan yang merupakan ibu kota Kabupaten Aceh Selatan. Wilayah ini memiliki pemandangan alami yang spektakuler. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

 

Aceh Selatan merupakan kabupaten di Provinsi Aceh yang beribu kota Tapaktuan. Daerah yang dikenal sebagai penghasil pala ini berjarak tempuh sekitar 10 jam dari Banda Aceh, ibu kota provinsi, dengan kendaraan roda empat.

Bukan hanya hasil pertanian dan perkebunan yang menjadi andalan, Aceh Selatan juga memiliki pesona alam nan asri yang berpadu dengan budaya setempat. Ada dua bahasa lokal di Aceh yang berasal dari tempat ini yaitu Bahasa Jamee dan Kluet.

Kekayaan alam Kabupaten Aceh Selatan makin tidak tertandingi karena berbatasan langsung dengan hutan Ekosistem Leuser. Pemandangan hutan hujan yang indah ini makin aduhai dengan bentang pantai indah yang terhampar luas ke Samudera Hindia.

 

 

Aceh Selatan yang wilayahnya berbatasan langsung dengan laut. Foto atas dan bawah: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

 

Ada legenda paling terkenal di sini yaitu Tuan Tapa, lelaki alim yang berhasil mengalahkan seekor naga. Bahkan, bekas-bekas pertempurannya masih bisa kita lihat seperti bekas tapak besar Tuan Tapa, tongkat, dan sisa tubuh naga yang mati. Tapak kaki Tuan Tapa, persisnya berada di bawah tebing, menjadi cikal bakal nama Ibu kota Aceh Selatan, Tapaktuan.

Belasan pantai seperti, Pasie Ladang Tuha, Pantai Ujung Karang, Pantai Ujong Pulau Cut, Pantai Ujong Mangki, Pantai Ujong, Pantai Trumon, Pantai Sawang Indah, dan Pantai Rindu adalah karunia alam yang dimiliki Aceh Selatan.

 

 

Danau Laut Bangko yang terlihat jelas dari udara. Danau ini masih perawan, belum terjamah tangan jahil manusia. Foto atas dan bawah: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

 

Hutan alami Ekosistem Leuser, termasuk juga hutan gambut di Kecamatan Trumon, yang merupakan habitatnya orangutan, gajah, buaya dan satwa liar lainnya, makin menambah kekayaan kabupaten ini.

“Aceh Selatan sangat berbeda, daerah ini memiliki objek wisata yang lengkap. Mulai dari wisata hutan dengan sungai alami hingga pantai atau laut yang luas,” sebut Ramadan, wisatawan asal Medan, Sumatera Utara, saat ditemui di Tapaktuan di penghujung Juni 2017.

 

 

Pantai nan indah di Aceh Selatan yang begitu memikat untuk dikunjungi. Foto atas dan bawah: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

 

Menurut Ramadan, beberapa sungai di Aceh Selatan yang berhulu ke hutan Ekosistem Leuser sangat cocok dikembangkan untuk olahraga arung jeram atau wisata sungai lainnya. “Beberapa sungai berarus deras dan sesuai untuk arung jeram. Ada juga air terjun yang indah,” ujarnya.

Di Aceh Selatan juga terdapat stasiun riset orangutan yang berada di Suak Belimbing, Kecamatan Kluet Selatan dan Kluet Timur. Stasiun ini merupakan habitatnya orangutan yang cukup alami. Tapi, untuk masuk ke sini harus mengantongi izin khusus dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser.

 

 

Suaka Margasatwa Rawa Singkil yang memberikan kehidupan bagi satwa liar, tumbuhan dan berkah bagi manusia. Foto atas dan bawah: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

 

Meskipun berbatasan langsung dengan Samudera Hindia atau terletak di dataran rendah, Aceh Selatan juga memiliki Danau Laut Bangko di Kecamatan Bakongan. Danau ini merupakan habitat berbagai jenis ikan dan buaya.

“Karena belum terjamah manusia, untuk mencapai danau ini butuh perjuangan. Harus berjalan kaki atau menggunakan perahu mesin,” tutur Bagus, pekerja LSM lingkungan di Aceh Selatan.

 

 

Sungai nan menawan di Aceh Selatan. Airnya jernih dan riaknya dapat digunakan arung jeram. Foto atas dan bawah: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

 

Mengarungi hutan gambut Suaka Margasatwa (SM) Rawa Singkil juga memiliki daya tarik sendiri. Dengan menggunakan perahu mesin, kita dapat melihat langsung kekayaan Rawa Singkil beserta flora dan fauna yang terhampar. Untuk memasuki hutan gambut ini, dapat melalui jalur di Kecamatan Trumon atau dari Kabupaten Aceh Singkil.

“Pemerintah harus menjaga SM Rawa Singkil tetap alami. Jika hutan terjaga, masyarakat mendapat berkah dan satwa liar beserta tumbuhan yang ada dapat berkembang dengan baik,” ungkap M. Nasir, Kepala Divisi Kampanye dan Advokasi Walhi Aceh.

 

 

Inilah jejak kaki Tuan Tapa yang mendasari nama ibu kota Aceh Selatan, Tapaktuan. Foto atas dan bawah: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia