Hijaukan Kembali Hutan Mangrove Rusak di Pesisir Sumatera Utara

 

 

Pagi itu, Minggu (17/9/17), ratusan anak sekolah dasar dan pemuda berkumpul di lokasi diberi nama rumah mangrove, terletak di Desa Bagan Percut, Dusun XVII, Jalan Persil, Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut).

Mereka berkumpul untuk satu tujuan, mengembalikan lagi hutan mangrove yang sempat hancur karena berubah jadi perkebunan sawit dan pertambakan ikan dan udang. Mereka menanam ribuan bibit mangrove di lokasi yang rusak.

Adalah Khairunnisa, pelajar dari Kabupaten Deli Serdang, turut menanam bibit bakau diantara ratusan orang. Pakaian berlumpur, tangan kotor, tak jadi soal.

Sesekali, teman-teman Nisa, datang menyiramkan air bercampur lumpur ke wajahnya. Nisa tersenyum dan membalas menyiram.

Siswa laki-laki usai menanam mangrove langsung lari ke sungai di pinggir hutan mangrove dan berenang sambil tertawa riang.

“Hutan mangrove harus terus dijaga. Kami generasi penerus bangsa akan menikmatinya nanti saat sudah besar, menatap hijau daun mangrove, antara kicau burung pantai yang bersahutan, ” katanya.

Dahrin Pane, pelopor penanam dan penghijauan hutan mangrove Sumut mengatakan, kondisi mangrove di Sumut terutama di Pesisir Pecut Sei Tuan, Deli Serdang, masuk kondisi kritis, karena alih fungsi lahan jadi kebun sawit. Jalur hijau rusak dan jadi perkebunan serta tambak ikan serta udang.

Adapun titik-titik yang masuk katagori kritis ada di Kecamatan Percut Sei Tuan, di Desa Pematang Lalang, Desa Cinta Damai, Desa Percut, Desa Tanjung Rejo, dan Desa Tanjung Selamat. Hutan mangrove hancur 500 hektar lebih.

“Untuk Desa Percut dan Desa Tanjung Rejo kepedulian masyarakat dan perusahaan sudah mulai ada. Dua desa ini sudah terbina dalam menjaga dan menghijaukan kembali hutan mangrove dari ancaman kehancuran. Ini patut dicontoh wilayah lain.”

 

Hutan mangrove yang hilang dan mulai ditanami. Foto: Ayat S Karokaro/ Mongabay Indonesia

 

Dinas Kelautan dan Perikanan, katanya, sudah mulai peduli menanam mangrove, namun masih ada masyarakat yang belum menyadari penting menjaga tanaman ini.

Di Deli Serdang, ada lima desa dengan wilayah hutan mangrove masuk hutan konservasi, sebelah utara berbatasan langsung dengan Selat Malaka.

Meski sampai sekarang masih banyak dikuasai pemodal, sejak 2000 upaya mengembalikan lagi peruntukan terus dilakukan dibantu sejumlah komunitas yang peduli hutan mangrove. Saat ini, katanya, perlu ratusan ribu bibit mangrove untuk ditanam di pesisir yang hancur.

Ada tiga jenis bakau (Rijopora) tumbuh di pesisir Deli Serdang, yaitu bakau Bangka (Sitilosaatau), bakau minyak (Apikulota), dan bakau api (Mukronota).

Di Percut Sei Tuan, katanya, sudah lebih 700 hektar hutan bakau kembali hijau dari status kritis, dengan rincian Desa Percut 200 hektar dan Desa Tanjung Rejo 500 hektar.

“Masih butuh ratusan ribu lagi bibit bakau untuk menghijaukan mangrove pesisir Deli Serdang. Itu masih Deli Serdang ya, kalau pesisir Sumut perlu jutaan bibit mencegah kondisi kritis hutan mangrove,” kata Pane.

Setelah hutan mangrove kembali, katanya, mulai tampak beragam biota laut seperti kepiting, udang, dan ikan. Mulai terlihat juga berbagai jenis ular endemik di sekitar bakau, seperti ular bakau, tudung piye bentuk berjengger sangat beracun dan mematikan. Namun, katanya, tak menganggu apalagi pohon bakau tak hilang.

 

Medan terancam

Dia menganalisis, ada empat kabupaten wajib terjaga agar perusakan hutan mangrove tak terus terjadi, yaitu Serdang Bedagai, Kabupaten Batubara, Deli Serdang, dan Langkat. Wilayah-wilayah ini berbatasan langsung dengan Selat Malaka.

Jadi, katanya, empat titik ini harus benar-benar terjaga, karena jika air pasang dan hutan mangrove hancur, air akan naik ke Kota Medan. Bisa dipastikan, katanya, akan mengepung Medan bahkan terancam tenggelam.

Baginya, ancaman ini bukan isu yang sengaja dibuat, tetapi sudah ada berbagai penelitian, bahkan sejumlah mahasiswa dari perguruan tinggi di Indonesia, datang ke pesisir untuk penelitian. “Pemerintah harus memperhatikan ancaman ini,” katanya.

Anak-anak bersemangat menanam mangrove. Foto: Ayat S Karokaro/ Mongabay Indonesia

 

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , ,