Sampah yang Membuat Sungai Karang Mumus Tak Lagi Indah

 

Sungai Karang Mumus yang penting bagi masyarakat Samarinda tercemar akibat sampah dan limbah. Foto: Yustinus S. Hardjanto/Mongabay Indonesia

 

Mengembalikan keindahan Sungai Karang Mumus (SKM) seperti sedia kala, bukan lagi impian. Sungai panjang yang membelah Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) ini, merupakan jalur transportasi utama, awalnya. Namun, seiring waktu, fungsinya berubah. Tidak hanya menjadi tempat MCK (mandi, cuci dan kakus), sungai ini juga dijadikan area pembuangan sampah.

Melihat fenomena itu, para pegiat lingkungan di Kota Samarinda tergugah. Dengan membentuk Gerakan Memungut Sehelai Sampah (GMSS) Sungai Karang Mumus, mereka mulai membebaskan sungai ini segala kotoran.

Wakil Ketua 2 GMSS SKM, Naniek Harjani, mengatakan untuk mengembalikan Sungai Karang Mumus seperti sedia kala, harus dilakukan dengan semua warga Kota Samarinda. Terutama, mereka yang tinggal di sepanjang bantaran sungai.

“Waktu Samarinda belum ramai, Karang Mumus adalah sungai yang merupakan jalur transportasi warga. Mereka menggunakan perahu dayung atau ces. Airnya juga jernih.”

 

Baca: Karang Mumus, Sungai Vital di Samarinda yang Harus Diselamatkan

 

Sekitar tahun 70-an, pemandangan di sepanjang bantaran SKM begitu menawan. Rumah-rumah kayu tersusun rapi, memanjang dari hulu ke hilir. Setiap bagian belakang rumah, ada teras sederhana yang terbuat dari rakitan kayu gelondongan. “Tahun-tahun itu, SKM masih bisa dinikmati, belum dipenuhi sampah,” sebutnya.

Karang Mumus yang tidak lagi indah membuat Naniek bersama GMSS SKM, ambil bagian menjadi relawan peduli Karang Mumus. Jika tidak dibersihkan dari sekarang, Naniek yakin Karang Mumus tidak akan selamat dari kotoran dan sarang penyakit.

“Kegiatan rutin berupa bersih-bersih dan memungut sampah, memasang plang larangan membuang sampah dan menanam bibit pohon untuk menahan abrasi. Ini semua untuk anak cucu kita,” kata Naniek.

 

Gerakan bersih Sungai Karang Mumus, Samarinda, Kalimantan Timur, mulai menggejala di Masyarakat Samarinda. Foto: Yustinus S. Hardjanto/Mongabay Indonesia

 

Buat ecobrick

Setiap hari, warga Samarinda yang tergabung dalam GMSS SKM bergantian memungut sampah. Tiga perahu ces disiagakan untuk memudahkan kegiatan tersebut. Selanjutnya, sampah dikumpulkan dan dibagi sesuai jenisnya. Khusus sampah plastik, dipisahkan tersendiri lalu dijemur dan dipotong-potong agar mengecil. Setelah itu, diolah menjadi ecobrick.

Ecobrick adalah bata dari plastik yang dipadatkan dalam botol. Ecobrick bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari. Bisa dibentuk sebuah meja, kursi, bahkan dinding rumah. Meski terbuat dari limbah botol minuman dan sampah plastik, ecobrick bisa direasikan sesuai kebutuhan.

Bagi warga yang belum mengenal ecobrick, bisa mengikuti program SeSuKaMu (Sekolah Sungai Karang Mumus). Sekolah tersebut memberikan layanan untuk mengenal, mendalami, membuat, dan mengkonstruksi ecobrick.

 

Baca juga: Misman dan Gerakan Bersih Sungai Karang Mumus

 

Dikatakan Naniek, limbah plastik merupakan molekul poliester yang sulit diurai secara alami. Dibutuhkan kreativitas manusia untuk mendaur ulang, menjadikannya sesuatu yang berguna. “Ecobrick adalah bata ramah lingkungan. Ecobrick dibuat dengan cara memasukan plastik-plastik bekas ke dalam botol bekas hingga padat dan botol menjadi keras. Rencananya, sebagian dinding sekolah Karang Mumus akan dibuat menggunakan ecobrick,” katanya.

Proses membuat ecobrick memang tidak sebentar dan memerlukan kesabaran. Limbah plastik yang dibutuhkan juga tidak sedikit. Memadatkan bagian dalam limbah botol plastik, harus dengan tekanan kekuatan si pembuat. Jika tidak padat, bata tidak sempurna dan tidak bisa digunakan. “Satu botol bekas memerlukan setengah kilogram sampah plastik,” jelasnya.

Naniek melanjutkan, ecobrick memang tidak signifikan dapat mengurangi jumlah sampah di SKM. Namun dengan membuat ecobrick, limbah plastik yang mengotori SKM dapat diubah menjadi sesuatu yang berguna. “Jika kesadaran warga meningkat, SKM akan pulih dari sampah-sampah yang mengotorinya. Kita berjuang bersama,” jelasnya.

 

Ecobrick adalah bata dari plastik yang dipadatkan dalam botol. Tampak Naniek Harjani tengah menunjukkan cara membuat ecobrick. Foto: Yovanda/Mongabay Indonesia

 

Sekolah sungai

Hal lain yang menarik di Karang Mumus adalah dibentuknya Sekolah Karang Mumus (SeSuKaMu). Sekolah ini merupakan inisiatif GMSS SKM untuk melakukan edukasi dan penyadaran tentang restorasi sungai melalui penguatan budaya Air. Bangunan SeSuKaMu ini berada di Muang Ilir, Kelurahan Lempake, Kota Samarinda.

Misman, penggagas GMSS SKM bersama pegiat lingkungan Karang Mumus, yang berusaha membuat mimpi itu menjadi kenyataan. SesukaMu adalah langkah terdepan untuk merawat dan menjaga Karang Mumus. Sekolah ini meyasar seluruh warga Samarinda dan pelajar. “Kita menjaga dan merawat SKM melalui pendidikan dan penyadaran berbasis masyarakat.

 

 

SKM merupakan anak Sungai Mahakam yang memiliki panjang aliran 34,7 kilometer. Pola edukasi yang ada di SeSuKaMu , kata Misman, adalah teori dan praktik. “SeSuKaMu adalah edukasi masyarakat untuk ikut merawat dan menjaga sungai. Kegiatannya berupa pungut sampah plastik di dasar SKM, galil ubang, isi polyback, hingga menyiapkan bibit pohon untuk ditanam di jalur hijau.”

Menurut Misman, semua itu dilakukan untuk mengembalikan Sungai Karang Mumus sebagai sumber kehidupan dan kebutuhan masyarakat Samarinda. “Jangan lagi buang ke Karang Mumus, meski sehelai. Jika melihat sampah, pungutlah. Ini untuk kebersihan kita bersama,” tandasnya.