Zulfi Arsan yang Tidak akan Pernah Bisa Melupakan Delilah

 

Zulfi Arsan selalu memantau perkembangan Delilah yang kini tumbuh sehat, dan Ratu, induknya, di SRS, Way Kambas, Lampung. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia

 

Zulfi Arsan tidak akan sanggup menghapus memorinya akan Delilah. Bayi badak sumatera yang ia dampingi kelahirannya di SRS, Way Kambas, Lampung, untuk pertama kalinya. Kenangan yang bukan hanya paling mengesankan dalam hidupnya, tetapi juga membahagiakan. Bangga, bisa memberikan yang terbaik untuk konservasi badak Indonesia sekaligus menambah populasi badak sumatera.

Delilah adalah badak betina yang lahir pada 12 Mei 2016 pukul 05.40 WIB, di Suaka Rhino Sumatera (Sumatran Rhino Sanctuary, SRS), Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Ia anak kedua dari pasangan Ratu dan Andalas, yang empat tahun sebelumnya, telah memiliki badak jantan bernama Andatu, lahir 23 Juni 2012.

Saat Andatu lahir, Zulfi yang merupakan dokter hewan, belum bergabung di SRS. Ia baru menjadi bagian tim pada pertengahan 2014. Saat kabar gembira datang, Ratu hamil lagi, Zulfi girang bukan kepalang. Segala daya ia kerahkan, tidak hanya memantau perkembangan Ratu melalui USG, tapi juga belajar langsung dari keeper (perawat badak) dan para ahli, dalam maupun luar negeri. Tujuannya jelas, kehamilan terjaga dan bayinya sehat.

“Saya banyak berdiskusi dan melakukan berbagai tindakan terukur yang dikombinasikan dengan pengalaman. Berbagai data riset dan penanganan medis saya pelajari detil,” ujar alumni Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Angkatan 31, kepada Mongabay Indonesia di SRS, baru-baru ini.

 

Baca: Pesona Si Imut Delilah di Way Kambas, Siapa Dia?

 

Zulfi akan selalu ingat detik-detik jelang kelahiran Delilah, kelahiran yang mundur lima hari dari perkiraan semula, hari ke-470. Saat itu, jam 3.00 WIB dini hari, tanda-tanda kelahiran telah tampak dari pecahnya ketuban. Segala protokol kelahiran telah disiapkan, dari rencana paling mudah hingga tersulit, guna mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

“Syukurlah, prosesnya lancar, meski yang keluar lebih dahulu kaki belakang. Ini terlihat dari tapak kakinya. Posisi tersebut bisa dikatakan normal dalam dunia satwa, meski sedikit berisiko,” terang lelaki kelahiran 16 September itu.

 

Delilah, badak sumatera betina yang lahir dari pasangan Ratu dan Andalas, 12 Mei 2016. Nama Delilah diberikan langsung Presiden Joko Widodo. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia

 

Meski telah lahir, kami semua sempat khawatir, sebab hampir satu menit bayi tersebut belum terlihat tanda-tanda bernafas. Satu menit yang terasa begitu panjang dan lama bagi seluruh anggota tim yang menangani persalinan. Akhirnya, penantian terjawab, sang bayi pun menghirup udara pertamanya di alam bebas. Dua jam berikutnya, ia mulai menyusu ke induknya.

Pada hari ketiga, saat dilakukan penimbangan berat Delilah sekitar 25 kilogram. Nama Delilah sendiri, bukanlah sembarang. Nama ini diberikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, pada 27 Juli 2016, saat peresmian Taman Nasional Way Kambas (TNWK) sebagai Asean Heritage Park (AHP) ke-36 di Lampung.

 

Delilah yang pertumbuhannya sehat dan dimasa mendatang diharapkan dapat memberikan keturunan demi pertambahan populasi badak sumatera. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia

 

Selain Zulfi, Ni Made Ferawati yang juga dokter hewan di SRS beserta para keeper turut mengawasi. Hadir juga tim dokter dari Kebun Binatang Taronga, Australia; Kebun Binatang White Oak, Amerika Serikat; dan perawat satwa senior Cincinnati Zoo, Amerika Serikat.

“Bahagia sekaligus tegang, bila mengingatnya. Kelahiran yang tidak hanya menambah jumlah populasi, tetapi juga menunjukkan kepada dunia internasional bahwa kita mampu mengembangbiakkan badak sumatera dengan cara intervensi manusia. Meskipun, masih ada hal yang harus dibenahi,” ucapnya.

 

Delilah dan Ratu, sang induk. Saat ini, ada tujuh individu badak di SRS, Way Kambas, Lampung. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia

 

Bukan pendatang baru

Zulfi Arsan bukan sosok baru dalam dunia konservasi badak, terlebih sosok asing di SRS, Way Kambas. Saat statusnya mahasiswa (1999), ia pernah magang di suaka badak ini bersama beberapa rekannya di Fakultas Kedokteran, IPB. Selain mendapat ilmu, Zulfi ternyata jatuh cinta pada badak sumatera. Segala informasi mengenai satwa bercula itu, ia cari literaturnya, selengkap mungkin.

Zulfi masih ingat, saat ia praktik kerja, di SRS hanya ada tiga individu badak yaitu Torgamba (jantan), Dusun, dan Bina. Tiga badak ini merupakan bagian dari Program Penyelamatan Badak Sumatera ke Kebun Binatang di Indonesia, Malaysia, Eropa, dan Amerika pada rentang waktu 1985-1992. “Bina yang masih hidup, usianya sekitar 34 tahun.”

Torgamba adalah badak pertama yang ditangkap di hutan Riau, 25 November 1985, dan menghuni 12 tahun di Kebun Binatang Howletts and Port Lympne, Inggris, sebelum dipulangkan ke Indonesia lagi. Torgamba mati pada 24 April 2011.

Dusun, badak asal Malaysia yang ditangkap 9 September 1986, hasil pertukaran dengan badak jantan dari Riau. Sebelumnya, ia tinggal di Kebun Binatang Ragunan selama 11 tahun. Dusun mati pada 7 Februari 2001.

Sementara Bina, ditangkap pada 17 Mei 1991 di Bengkulu. Ia berada di Taman Safari Indonesia tujuh tahun lamanya.

 

Baca juga: Opini: Keberhasilan Peningkatan Populasi Badak Sumatera Itu Nyata

 

Sebelum bergabung di SRS, Zulfi bersama lembaga lingkungan lainnya, sudah terlibat dalam dunia perbadakan. Ia ikut survei monitoring badak jawa (2006), juga penelitian mengenai komposisi mineral yang ada di kubangan badak sumatera di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. “Kubangan itu penting untuk badak. Kandungan mineralnya berbeda dengan tanah di sekitarnya.”

 

Zulfi Arsan saat memeriksa kesehatan Delilah, beberapa hari setelah kelahirannya. Delilah telah memberi harapan bagi pertambahan populasi badak sumatera. Foto: SRS-YABI

 

Apa yang membuat badak begitu spesial di mata Zulfi? Indonesia harus bangga memiliki dua dari lima jenis badak yang ada di dunia yaitu badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dan badak jawa (Rhinoceros sondaicus). Perlindungan menyeluruh harus dilakukan terhadap populasi keduanya yang saat ini diperkirakan jumlah badak sumatera di alam liar sekitar 100 individu, dan badak jawa dikisaran 60-an individu. “Status keduanya yang sekarang Kritis, harus menjadi kepedulian kita bersama.”

Fakta penting lainnya adalah pertambahan populasi badak, tidak hanya dikarenakan masalah perburuan dan menyempitnya habitat. Tetapi juga, ada faktor “intrinsik” dari badak itu sendiri yang membatasi perkembangbiakannya. Secara langsung atau tidak, perilaku badak dengan lingkungannya, bisa berpengaruh pada pertambahan jumlahnya di alam.

“Berdasarkan data-data yang ada, jika badak tidak kawin dalam jangka waktu lama ia akan mengalami gangguan reproduksi. Sebut saja, ada mioma atau tumor di saluran reproduksinya. Tantangan perilaku inilah yang menyemangati saya untuk meneliti lebih jauh.”

Pastinya, menurut Zulfi, Indonesia merupakan benteng terakhir kehidupan badak sumatera dan badak jawa. Untuk itu, bukan hanya kebanggaan yang harus dikobarkan, karena memiliki satwa langka nan bersejarah ini, melainkan juga keseriusan untuk melindunginya. “Melahirkan anak badak yang sehat, yang bisa bereproduksi saat dewasa nanti, adalah tugas terhormat bagi kami semua yang ada di Sumatran Rhino Sanctuary. Kami telah memberi bukti,” tandasnya.