Tujuh BUMN Dukung Ekowisata Pemantauan Burung di Papua

Burung cenderawasih yang merupakan burung asli dari Papua. Foto: Rhett Butler

Raut wajah Alex Waisimon nampak sumringah. Di hadapannya belasan anak-anak dan orang dewasa membawakan tarian diiringi suara tabuhan tifa. Tarian itu sebagai bentuk penyambutan para tetamu yang datang. Alex yang berkemeja batik dan celana panjang polos itu pun lalu mengalungkan bunga kepada satu persatu deretan tamunya. Beberapa pejabat dari unsur kepolisian dan militer pun hadir.

Hari itu, Kamis, 16 November 2017, bertempat di Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura hari yang membahagiakan baginya. Berkumpul tujuh BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang bersepakat untuk memberikan dukungan terhadap upaya yang telah dilakukan oleh Alex Waisimon dan masyarakat adat. 

Ketujuh BUMN tersebut adalah PT Telkom Indonesia, PT Garuda Indonesia, PT Bank BNI Tbk, PT Pembangunan Perumahan, PT Wijaya Karya, PT Bank Mandiri, dan PT PLN.

Baca juga: Alex Waisimon Penjaga Hutan dari Lembah Grime

Dukungan tersebut berupa bantuan pembangunan infrastruktur, antara lain pembangunan ruang kelas sekolah alam, pembangunan sarana dan prasarana homestay, perbaikan jalur lintas alam, pembangunan sarana dan prasarana perpustakaan alam, pembangunan menara pemantauan pengamatan burung.

Selain itu ada pengembangan website serta peningkatan infrastruktur telekomunikasi di area ekowisata, dan juga berbagai macam pelatihan serta peningkatan kapasitas kelompok masyarakat adat di kawasan ekowisata Rhepang Muaif.

Dukungan ini merupakan bentuk komitmen BUMN pada pengembangan pariwisata sebagai salah satu sektor prioritas pendorong ekonomi yang sejalan dengan kebijakan pemerintah. Di Rhepang Muaif, Alex Waisimon dan rekan-rekannya membangun kawasan ekowisata pengamatan burung, khususnya cendrawasih, yang diberi nama “Bird Watching Isio Hill’s”.

“Terima kasih atas bantuan dari tujuh BUMN di Rhepang Muaif. Saya bisa sampaikan bahwa tempat ini bukan milik saya, tapi tempat kita semua untuk belajar dan mendidik anak cucu kita ke depan,” ucap Alex Waisimon kepada Mongabay Indonesia.

“Saya selalu sampaikan ke masyarakat bahwa hutan adalah bank saudara. Di sana ada ATM. Kapan saja masuk kita bisa dapat babi hutan. Karena itu hutan harus kita jaga, harus kita lestarikan.”

Sebelumnya, Devy Suradji, staf khusus Kementerian BUMN, yang hadir dalam kegiatan itu mengungkapkan bahwa dukungan BUMN bisa dalam bentuk bantuan dan kolaborasi.

“Ini adalah titik awal BUMN untuk berkolabarasi dengan masyarakat dalam perlindungan lingkungan. Saya berharap juga ada aktifitas belajar mengajar, misalkan ada kegiatan ‘BUMN Mengajar’ di sekolah alam ini. Karena BUMN hadir untuk negeri, hadir untuk masyarakat,” ungkap Devy.     

Dukungan kepada masyarakat seperti di Rhepang Muaif menurut Devy bukanlah yang pertama. Menurutnya perlindungan lingkungan akan menjadi titik fokus CSR (Corporate Social Responsibility) BUMN di tahun 2018. Menurutnya, sudah bagian dari tugas BUMN untuk menjaga dan melestarikan kekayaan alam Indonesia. Dimana ada potensi turut melestarikan alam dan meningkatkan ekonomi masyarakat, maka BUMN akan hadir.

Rizal Malik, CEO WWF Indonesia dalam sambutannya mengapresiasi dukungan BUMN untuk inisiatif ekowisata, saat masyarakat dan pemerintah setempat berkomitmen untuk melindungi sumber daya alam. Alam. khususnya spesies jenis-jenis burung adalah aset daerah yang akan bernilai jangka panjang bila dilestarikan.

 

Aktivitas pemantauan burung (bird watching) di lokasi Isio Hill’s. Foto: WWF Indonesia/Ade Sangadji

 

Jenis Cendrawasih

Dalam rilisnya WWF Indonesia menjelaskan, kawasan ekowisata “Bird Watching Isio Hill’s” merupakan bentuk pengelolaan ekowisata oleh masyarakat adat secara lestari. Para wisawatan yang datang di Isio Hills, Rhepang Muaif, dapat melihat langsung empat jenis burung Cendrawasih, yaitu Cendrawasih Raja (Cincinnurus regius), Cendrawasih Kecil (Paradisea minor), Cendrawasih Mati Kawat (Celecoudis melanoleuca), dan Cendrawasih Paru Sabit Paruh Putih (Ephimachus bruijnii).   

Ornitolog Universitas Cendrawasih, Hendra Maury, menjelaskan selain empat jenis burung Cendrawasih yang disebutkan tersebut, ada lagi satu jenis di Isio Hills yang sering teridentifikasi lewat suara namun agak sulit teramati, yaitu Ptiloris magnificus atau Toowa cemerlang.

“Di jalur tracking Isio Hills 4 jenis mudah diamati. Namun jenis Ptiloris magnificus ini yang hanya teridentifikasi lewat suara. Sementara untuk seluruh Papua ada 38 jenis burung Cendrawasih,” ungkap Hendra Maury.

Menurut WWF Papua, sebagai lokasi pemantauan, kawasan ini memenuhi dua kriteria penting sebagai syarat Daerah Penting Burung (DPB), yakni terdapat jenis-jenis burung terancam punah seperti jenis Kasuari Gelambir Tunggal (Casuarius unappendiculatus), Rajawali Papua (Harpyopsis novaeguineae), Mambruk Victoria (Goura victoria). Selain itu terdapat jenis Cendrawasih Paru Sabit Paruh Putih (Epimachus bruijnii) yang mendekati terancam.

Juga terdapat jenis-jenis burung sebaran terbatas di kawasan yang merupakan karakteristik dari suatu bioma tertentu atau kawasan Daerah Burung Endemik (DBE). Seperti jenis burung Nuriara Pipi Kuning (Psittaculirostris salvadorii) dengan sebaran terbatas di kawasan hutan dataran rendah bagian utara Papua sehingga jenis ini dimasukan sebagai jenis endemik.

 

Alex Waisimon, penggagas ekowisata pengamatan burung. Kini, bersama masyarakat dia merawat hutan adat mereka untuk ekowisata. Foto: Asrida Elisabeth/Mongabay Indonesia

 

Benja V. Mambai, Direktur WWF Indonesia Program Papua menyebut tantangan awal di Rhepang Muaif yang dihadapi adalah pemahaman masyarakatnya, terutama internal dalam masyarakat adat.

“Hal itu diselesaikan sendiri Alex Waisimon, lalu diskusinya difasilitasi oleh WWF sambil belajar ke tempat lain, hingga akhirnya kesadaran bersama mulai terbangun, bahwa dengan menjaga hutan bisa mendapatkan manfaatnya secara ekonomi,” ungkap Benja.   

Dia menyebut agar lokasi wisata tidak berdampak negatif, maka community based ecotourism atau wisata lingkungan berbasiskan masyarakat menjai pilihan.

Rilis WWF Papua menyebutkan Dinas Kehutanan Provinsi Papua, bersama pemilik hak ulayat dan  WWF Indonesia Program Papua, telah melakukan pemancangan 8 pal batas permanen untuk lokasi yang akan diusulkan menjadi wilayah kelola hutan adat Yawadatum wilayah Grime Kabupaten Jayapura Provinsi Papua, seluas 19.000 hektar untuk pengelolaan ekowisata pemantauan burung berada di Rhepang Muaif. 

 

Atribut dari burung cenderawasih. Foto: Chris Paino/Mongabay Indonesia

 

Penggunaan Burung Cendrawasih

Di Papua burung Cendrawasih dianggap sebagai burung surga dan sangat disakralkan. Namun sering kali terlihat atribut mahkota burung Cendrawasih yang diperdagangkan atau dipakai untuk acara-acara seremonial.

Gubernur Papua, Lukas Enembe pada tanggal 5 Juni 2017, mengeluarkan surat edaran tentang larangan penggunaan burung Cendrawasih asli sebagai asesoris dan cenderamata. Hal itu dilakukan dalam rangka melindungi dan mencegah ancaman kepunahan burung Cendrawasih. Penggunaan burung Cendrawasih asli hanya diperbolehkan dalam prosesi kegiatan adat istiadat di tanah papua yang bersifat sakral.

Baca juga: Gubernur Papua Larang Jadikan Cenderawasih Aksesoris an Cinderamata

Dalam surat edaran itu menjelaskan bahwa pengaturan penggunaan burung Cendrawasih asli dapat mendorong terciptanya kreatifitas imitasi burung Cendrawasih dan pengembangan produk turunannya yang juga merupakan peluang pengembangan ekonomi kreatif di Papua.

Selain itu, Gubernur Papua juga meluncurkan lima lokasi wisata alam pengamatan burung Cendrawasih di Papua yang terletak di Kampung Rhepang Muaif dan Kampung Tablasupa di Kabupaten Jayapura; Kampung Sawendui, Kampung Barawai, dan Kampung Pom di Kabupaten Kepulauan Yapen.