Ternate Menuju Masa Krisis Air (Bagian 1)

 

 

Pagi menjelang siang, Senin (11/11/17), Kantor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Ternate, Mauluku Utara, tampak ramai. Sekitar pukul 0.8.00 pagi, kantor di Jalan Batu Angus itu didatangi ratusan ibu-ibu. Mereka adalah warga RT 13 Lingkungan Jere Busua, Kelurahan Tanah Tinggi, Ternate. Para ibu ini datang bukan untuk membayar tagihan air, tetapi protes karena air PDAM tak mengalir hampir dua minggu.

Mereka kesulitan mendapatkan air bersih. Warga harus mengeluarkan anggaran tambahan membeli air tanki PDAM atau swasta. Kondisi ini, bikin warga geram. Mereka berteriak- teriak di depan ruang kerja bagian produksi dan meminta perusahaan daerah itu tak menyusahkan warga dengan menyetop suplai air.

Torang pe air so tara bajalan dua minggu. Ngoni capat kase bajalang jang kase susah pa torang (Air kami sudah tidak jalan hampir dua minggu, jangan bikin susah warga),” kata Dwiyanti Surahman, warga Jere Busua saat protes.

Protes warga itu satu gambaran umum krisis air yang dialami warga Ternate. Saat ini, sebagian warga Ternate di ketinggian menderita. Semua kebutuhan air seperti makan, minum cuci dan ke kamar mandi sulit. Kalaupun mau mendapatkan air bersih, katanya, harus mengeluarkan anggaran ekstra.

“Siapa yang mampu mengeluarkan anggaran tambahan setiap tiga hari harus membeli satu tanki sampai Rp200.000?” keluh Burhanudin R, warga Jere.

PDAM tak menampik jika debit air mulai menurun membuat PDAM harus membagi air ke berbagai tempat merata.

Ancaman krisis air ini sebenarnya sudah terasa sejak 2014. Diawali mata air Ake Gaale Kelurahan Sangaji Ternate Utara, tercemar. Sumber air yang disedot PDAM Ternate, tercemar intrusi air laut.

Alhasil, tak hanya sumur PDAM terdampak, milik warga juga terimbas. Bahkan, kini warga tak bisa mengkonsumsi air dari sumur-sumur mereka.

Sekitar Oktober 2014, sumber air Ake Gaale yang berjarak kurang lebih 300 meter dari bibir Pantai Sangaji ini terkena intrusi air laut. Dulu, ada kolam ikan warga, kini sudah tak ada.

Alwan M Arief, tokoh pemuda Sangaji menceritakan, sekitar 15 tahun lalu kondisi air masih baik. Kolam-kolam ikan warga banyak ikan. Bahkan, di mata air pun banyak udang, gabus dan lele. Warga masih bisa menangkap udang atau memancing gabus. Saat ini, semua tinggal kenangan.

Arief bilang, sejak PDAM memanfaatkan sumber mata air, perlahan mulai habis. Awal 1990-an, katanya, warga sekitar sumber air ini sudah mengeluhkan debit air turun tetapi tak digubris.

“Pertengahan 1990-an kita sudah buat gerakan Save Ake Gaale ketika melihat tanda-tanda debit air turun dengan mendatangi pemerintah Ternate meminta antisipasi. Itu hanya dibiarkan,” katanya.

Sepanjang 2014-2016, pasokan PDAM dari sumber Ake Gaale tak bisa buat konsumsi. Warga di Ternate Utara bertahan pakai air payau. Akhirnya, PDAM mencari sumber air baru. Pemkot Ternate, bahkan membangun semacam kolam air untuk melindungi sumber mata air ini, namun tak bisa kembali seperti sedia kala.

Ancaman krisis air tak hanya di bagian utara kota. Di beberapa kelurahan di Ternate terutama di ketinggian, harus antri berhari- hari mendapatkan air bersih. Antara lain, Kelurahan Jati, Tanah Tinggi, Ngade, Fatcei Moya,Torano, Marikurubu dan Kalumata Puncak. Bahkan, di beberapa tempat warga terpaksa memanfaatkan air hujan sebagai salah satu sumber air.

Hasil riset Balai Wilayah Sungai Kementerian Pekerjaan Umum pada 2017 menemukan, kondisi air tanah Ternate memasuki tahap kritis. Hasil kajian menunjukkan, dalam beberapa tahun lagi Ternate bakal benar-benar mengalami krisis air. “Dari data Balai Wilayah Sungai memprediksikan 2030, Ternate kehabisan air tanah,” kata Tauhid Soleman, Penggagas Forum Penyelamat Air Kota Ternate.

 

Warga Ake Gaale pasang spanduk protes di PDAM karena sumber air mereka menipis. Foto: M Ichi/ Mongabay Indonesia

 

 

Pemukiman, sumur bor dan boros air

Penyebabnya, kata Tauhid, pembangunan pemukiman dan pertambahan sumur bor masif berdampak pada ketersediaan air untuk beberapa tahun mendatang. Dalam kajian itu, katanya, memperlihatkan satu sumur bor dengan kecepatan 15 liter per detik atau dua sumur bor dengan kecepatan 30 liter detik dampaknya empat tahun ke depan bisa intrusi air laut.

Studi Investigasi Desain dan Detail Pemanfaatan Air Tanah untuk Air Baku Air Minum Kota Ternate 2017 dari Balai Wilayah Sungai, menemukan, Ternate sebagai kategori kota pulau sedang dengan luas kurang 200 kilometer dan lebar hanya 10 kilometer dengan ketersediaan air di bawah rata-rata.

Jika diasumsikan kebutuhan air untuk 150 liter per orang perhari mengacu penduduk lebih 100.000 jiwa, pada 2030 akan alami defisit air. “Tinggal 13 tahun lagi. Krisis itu sudah di depan mata.”

Selain pemukiman dan sumur bor, katanya, budaya penggunaan air warga yang boros juga berkontribusi dalam ciptakan krisis. “Sudah begitu tak ada upaya konservasi. Artinya, tinggal menunggu waktu bencana krisis air. Jika tak segera konservasi dan advokasi kepada warga menghemat air, pulau ini akan benar-benar kehabisan air.”

PDAM juga angkat bicara. Saiful Djafar, Direktur PDAM akhir November lalu mengatakan, saat ini PDAM memiliki 34 sumur dalam. Dari jumlah itu, satu detik air tanah tersedot mencapai 330 liter. Jadi, satu hari air tersedot 30.000 kubik atau seukuran lapangan bola kaki setinggi enam meter. Kalau dikalikan sebulan, air tersedot bisa 30 bak sebesar lapangan bola dengan tinggi 6 meter. Karena air tersedot begitu banyak, katanya, ancaman krisis air sudah di depan mata.

Bagi dia, persoalan paling mendasar kini selain soal sumber air mulai terganggu dengan pembangunan pemukiman juga perilaku warga terbilang sangat boros air. “Warga Ternate termasuk paling boros air. Satu hari satu orang menghabiskan hingga 160 liter. Jika dibiarkan, lima sampai 10 tahun air tanah akan habis.“

Secara riil, katanya, kapasitas produksi PDAM Ternate 425 liter perdetik dengan total produksi sekitar 1 juta meter kubik pertahun. Penggunaan air oleh pelanggan PDAM 28.250 sambungan dan rata-rata boros dengan tingkat konsumsi 29 meter kubik per sambungan per bulan. Asumsi satu keluarga dengan lima jiwa, maka konsumsi rata-rata 190 liter per orang per hari.

Berdasarkan data perhitungan pembangunan sistem penyediaan air minum untuk kebutuhan normal air adalah, kota kecil 100 liter, kota sedang 120 liter dan kota Besar 150 perliter perorang perhari. Ternate sebagai kota kecil dengan konsumsi rata-rata pelanggan melebihi perhitungan itu akan merusak teknis pelayanan.

Apalagi, dengan kontur tanah Ternate cenderung berkembang ke lokasi-lokasi ketinggian. Akhirnya, pelayanan tak bisa maksimal, karena memerlukan energi besar untuk mendorong air ke tempat lebih tinggi.

Memang, katanya, saat ini potensi sumber air di Ternate masih cukup, hanya perlu langkah konservasi guna menjaga ketersediaan agar seimbang antara eksploitasi dengan pemulihannya.

Sumber air PDAM saat ini ada 34 sumur dangkal dan dalam dengan 40 pompa produksi dan 12 pompa booste. (Bersambung)

 

 

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , ,