, ,

Beginilah Kala Pari Manta Diberi Penanda

Tiga kapal cepat membawa rombongan aktivis lingkungan memantau pari manta (Manta ray) di perairan Selatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, pekan ini.

Bertolak dari Pantai Semawang, Sanur, speedboat beberapa kali dihantam gelombang besar. Juru mudi kerap menurunkan tuas mesin. Perlu sekitar 45 menit menyusuri tebing-tebing Pulau Nusa Penida ke ujung Selatan, lokasi dua Manta Point.

Manta Point ini kawasan para penyelam melihat gerombolan manta mengejar betina untuk kawin atau membersihkan parasite di tubuh mereka dibantu ikan-ikan kecil. Dua titik pematauan manta ini menjadi langganan perusahaan pemandu penyelaman.

Titik pertama, sejumlah turis terlihat snorkeling dan diving. Beberapa perahu bermesin dan speedboat parkir di dekat tebing. Seorang juru mudi memberi tanda penting pada kapal-kapal lain yang baru sampai. Dia memperlihatkan telunjuk. “Wah, kita ke manta poin kedua saja. Katanya hanya satu terlihat,” kata Gede Sutrisna, pemilik dan juru mudi kapal Amfibi yang saya tumpangi.

Di antara pemandu dan pemilik kapal sudah terjalin solidaritas agar bisnis wisata perairan ini terus berjalan. Sutrisna mengatakan, selama belasan tahun usaha wisata bawah laut, manta dan mola-mola adalah magnet di Nusa Penida ini.

Sejumlah lembaga konservasi seperti Coral Triangle Center (CTC) bersama pemerintah dan pengusaha wisata air membuat sejumlah peraturan (kode etik) memastikan mola-mola tak terganggu karena banyak turis yang “memburu.” “Kalau musim liburan Juli-Agustus, turis di bawah bisa ratusan, kawasan ini penuh kapal parkir.”

Dia menghitung, pernah 45 kapal di area kurang satu kilometer persegi itu. Jika satu kapal 10 orang, ada sekitar 400an orang snorkeling atau diving ingin melihat dua ikon wisata bawah laut ini.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membuat Surat Keputusan No. 4 Tahun 2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Pari Manta. Sejalan dengan itu, Conservation International Indonesia (CII) bersama pemerintah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan lain-lain menanda (tagging) satelit terhadap enam populasi utama manta di Indonesia.

Mereka menggunakan satelit teknologi terkini  dari Wildlife Computers berbasis di Washington, Amerika Serikat yaitu Towed Tag tipe SPLASH10-F-301A dengan teknologi GPS Fast-Loc.  Teknologi  ini memungkinkan tag ‘mengirimkan’ posisi  GPS akurat dan dalam waktu relatif singkat, melalui sistem satelit ARGOS setiap kali manta yang  dipasangi tag  berenang di permukaan air.  Teknologi ini diklaim punya keunggulan dibandingkan tag-tag sebelumnya dan sangat bergantung pada intensitas cahaya bawah laut, serta waktu matahari terbit dan tenggelam.

Di  Bali,  khusus Nusa Penida, pemasangan tag satelit manta oleh CII bekerja sama KKJI, Balitbang  KP,  BPSPL Denpasar, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bali, dan Pemerintah Klungkung Juli dan September 2014. Sebanyak tujuh tag satelit berhasil dipasang pada tujuh manta.

Salah satu tag satelit kurun dua bulan memberikan informasi manta melakukan perjalanan hingga ke pesisir selatan dan tenggara Lombok, sebelum tag terlepas dengan lokasi terakhir di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Lalu tagging terakhir 12 Mei lalu pada dua manta bekerja sama dengan Bali  International  Diving Professionals  (BIDP), sebuah dive operator. Hanya satu berhasil.

Peta usulan manta tagging. Sumber: Conservation Internastional
Peta usulan manta tagging. Sumber: Conservation Internastional

Abraham Basani Sianipar, Peniliti CII bidang Elasmobranch atau spesialis ikan bertulang lunak seperti hiu dan pari menyelam bersama rekan memotret dan melontarkan pemindai ke manta. Saat itu, sekitar enam manta terlihat di Manta Point II. Mereka berenang berputar-putar sementara puluhan orang sedang snorkeling dan beberapa penyelam di bawah tubuh ikan-ikan berdiameter 5-7 meter ini.

Para turis diminta tak memegang manta walau sedekat apapun. Itu akan membuat tak nyaman terlebih jika sedang musim kawin dan akan pergi ke kawasan lain.

Sebelum melontarkan tag, peneliti memotret perut Manta. “Kita bisa mengidentifikasi tiap-tiap individu manta berdasarkan pola totol-totol hitam dan putih di bagian bawah tubuh mereka,” kata Abraham. Ini biasa disebut photo ID, dimana tiap-tiap individu manta memiliki pola totol-totol unik dan tidak akan berubah seumur hidup, seperti sidik jari pada manusia.

Peneliti juga mencatat karakteristik morfologis  manta yang akan dipasangi tag satelit, seperti ukuran (estimasi lebar ujung sayap ke ujung sayap), jenis kelamin, kehamilan, dan ciri-ciri alami (seperti luka di tubuh). Manta sebagai hewan planktivor besar seperti paus, memiliki peran penting dalam mengatur kelimpahan spesies-spesies plankton karena menu makan mereka. Hewan ini memiliki sedikit predator alami di alam liar seperti paus orca dan hiu macan.

“Dengan kemampuan berenang cepat, tubuh pipih dan besar, hanya hewan predator besar memiliki kemampuan renang cepat bisa memangsa manta.”

Hiu-hiu yang berusaha memangsa manta, seringkali gagal. Hanya mendapatkan segigit daging dari bagian belakang sayap, yang dengan mudah bisa disembuhkan kembali karena laju penyembuhan jaringan luar biasa.

Sedangkan, masalah utama pemasangan tagging yakni mudah lepas, ada yang terpasang hanya sembilan hari. Tag ini terpasang dengan tali 50 cm dari manta agar mencapai permukaan untuk merekam data lokasi menggunakan transmisi satelit. Tag satelit ini rentan terlepas, tersangkut sampah, jaring nelayan, dan dilepaskan langsung oleh manta.

Abraham dan Iwan Dewantama dalam laporan tagging tujuh manta pertama menyebutkan,  monitoring pergerakan dan migrasi manta penting diketahui. Bila mereka di kawasan pariwisata utama seringkali bermigrasi melalui wilayah-wilayah penangkapan. Donor utama program  tagging  ini adalah dana konservasi margasatwa lautan Akuarium SEA, Singapura. Akuarium ini menampilkan sejumlah manta dari Indonesia di tanki utama.

Manta oseanik (Manta birostris) berukuran paling besar, banyak dijumpai di Raja Ampat, di Lesser Sunda, Lombok dan Sumbawa, bagian timur Lembata.

Peneliti CI mengamati terjadi manta mating train (kereta perkawinan manta), ketika seekor manta betina berada di bagian paling depan, diikuti beberapa ekor manta jantan. Apabila memasuki musim kawin, betina biasa berenang di cleaning station yang disukai. Di sana menunggu beberapa jantan yang mengikuti betina dari belakang, berlomba-lomba mendapatkan tempat paling dekat dengan betina dan mencari peluang kawin. Inilah oleh para pengamat manta disebut manta mating train, karena manta-manta ini terlihat berenang berbaris seperti kereta.

Manta disebut memiliki tingkat fekunditas rendah, hanya melahirkan satu anakan tiap dua atau tiga tahun, dengan periode kehamilan 10-14 bulan. Pendewasaan lambat sekitar 15 tahun atau lebih dan laju reproduksi rendah (satu anakan lima tahun) dijumpai pada manta karang (Manta alfredi) betina pada subpopulasi di Kepulauan Maladewa. Karena itu subpopulasi manta rentan kepunahan.

WWF Indonesia dalam website menulis manta terdapat di beberapa perairan di Indonesia seperti Pulau Weh, Derawan, Bali, Kepulauan Komodo, Raja Ampat, dan perairan lain jalur migrasi.

Menurut peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan KKP Dharmadi, dalam 10 tahun terakhir penurunan manta bisa 30%. Beberapa daerah seperti Tanjung Luar (Lombok) dan Larantuka biasa mengambil insang pari untuk obat yang diekspor ke China dan Taiwan. Kulit manta untuk dompet dan kerajinan lain. Tubuh terkadang untuk makanan sehari-hari.

Dandhy Laksono, jurnalis video yang berkeliling nusantara baru-baru ini merekam nelayan menangkap manta di Pantai Lamalera, Lembata. “Sebagian daging pari dijual, sebagian ditukar di pasar barter di Lamalera, setiap Jumat. Daging hasil warga pesisir, ditukar jagung atau tanaman pangan dari warga pegunungan,” tulisnya dalam page Facebook Ekspedisi Indonesia Biru.

Manta karang. Foto: Conservation International
Manta karang. Foto: Conservation International
Inilah manta point di Nusa Penida, yang nyaris tak pernah sepi dari turis. Foto: Luh De Suryani
Inilah manta point di Nusa Penida, yang nyaris tak pernah sepi dari turis. Foto: Luh De Suryani
(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, ,