,

Kekeringan Di Bandung Ancam Pertanian Dan Ketahanan Pangan

Musim kemarau saat ini dengan kekeringannya, mengancam pertanian di sejumlah daerah termasuk di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Tanaman padi yang belum genap umur, terancam puso karena minimnya sumber air. Hal tersebut, membuat petani terpaksa memanen padi, meski belum saatnya.

Hal ini dialami Enju (52), saat memanen sawah di Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Enju memanen lahan yang digarapnya seorang diri.

Menurut Enju, masa tanam padi di lahan tersebut berlangsung ketika memasuki musim kemarau. “Kesediaan air semakin sulit di dapat, melihat padi sudah mulai kolot (tua) dan cukup untuk dipanen, ya dilakukan saja. Namun, kualitas padi tak bagus lebih cenderung kerut dan kecil,” ujarnya yang ditemui Mongabay, Rabu (16/09/2015).

Luas lahan yang digarapnya berkisar 100 bata atau 1400 meter persegi, hasil padi yang didapatnya diprediksikan hanya 4 karung saja. “ Biasanya setiap panen bisa menghasilkan 14 karung atau setara 7 kuintal. Sekarang turun drastis menjadi 2 kuintal. Itu pun belum pasti jika padinya banyak yang gepeng (kosong),” tuturnya.

Menurut Enju, sumber air di daerahnya tidak sulit dicari, ia mengandalkan sumber air di dekat Kantor Polda Jabar dan sungai Cinambo. Ia mengatakan sekarang sumber air di Polda mengering karena rebutan dengan petani lain. “Saya bingung mencari sumber air, semenjak ada pembangunan bangunan baru di sekitar sawah, sumber air susah di dapat,” ucapnya.

Ia melanjutkan untuk petani yang memiliki modal mengantisipasi kekeringan yang terjadi dengan menggunakan pompa air. ia menyebutkan untuk sehari biaya yang dikeluarkan sebanyak Rp60.000 dengan biaya tambahan bahan bakar sebanyak 4 liter. Menurutnya, langkah itu tidak begitu berpengaruh karena ketersedian air pun tak banyak.

Beberapa hari kedepan, Enju akan memanen lahan tersebut. “Dengan kondisi sekarang ini, ya mau bagaimana lagi selain memanennya. Sesudah panen sawah dibiarkan saja dulu sampai musim penghujan tiba,” katanya.

Untuk memberi pakan ternak kurban tetangganya pun Enju biasanya mencari rumput di sekitar sawah. Ia mengaku kesulitan untuk mencari rumput. “Mencari rumput sekarang susah, mengumpulkan 2 karung rumput pun tidak mudah,” ujarnya.

Untuk menambah penghasilannya, Enju bisa mengumpulkan 2 karung rumput dalam sehari untuk kemudian dijual dengan harga Rp.35.000. Kegiatan mencari rumput tersebut dilakukan ketika sepulang dari sawah.

Sejumlah anak bermain sepak bola di area bekas panen yang telah dipanen oleh petani di Kecamatan Gedebage, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Panen kali dinilai petani menurun hingga 30% dari panen sebelumnya. Foto : Donny Iqbal
Sejumlah anak bermain sepak bola di area bekas panen yang telah dipanen oleh petani di Kecamatan Gedebage, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Panen kali dinilai petani menurun hingga 30% dari panen sebelumnya. Foto : Donny Iqbal

Hal serupa dialami pesawahan Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Petani setempat, Asep (75) mengatakan terhentinya pasokan air sudah lama terjadi. Sungai sebagai sumber air juga telah mengering. Kekeringan saat ini merupakan yang terparah sehingga membuat puso yang sangat merugikan para petani.

Berdasarkan pantauan Mongabay, sedikitnya 3.387 hektare sawah terancam gagal panen atau puso di kampung Ciluncat, Desa Tegal Sumedang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Paling parah terjadi di Kecamatan Baleendah 385 hektare dan Ciparay seluas 450 hekater.

Bantuan Pemerintah

Kekeringan dan puso yang terjadi di Kabupaten Bandung berpotensi mengganggu cadangan pangan sekitar 2554.4 ton padi. Dinas Pertanian melakukan tindakan antisipatif dengan melakukan penyediaan bantuan berupa pompa air sebanyak 188 unit, perbaikan irigasi di 34 titik dan pemberian bantuan benih sebanyak 7 ton.

“ Kekeringan bukan bencana karena sudah rutin terjadi ketika musim hujan kebanjiran dan musim kemarau kekeringan. Namun, kita ingin ada bantuan dari pemerintah daerah kepada petani yang terkena kekeringan dan puso yang berat meskipun bentuknya terbatas,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, A. Tisna Umaran saat ditemui di kantornya.

Aliran sungai di Kecamatan Rancamuncang, Gede Bage, Kota Bandung, Jawa Barat, mengalami sedimentasia akibat kekeringan. Foto : Donny Iqbal
Aliran sungai di Kecamatan Rancamuncang, Gede Bage, Kota Bandung, Jawa Barat, mengalami sedimentasia akibat kekeringan. Foto : Donny Iqbal

Menurut Tisna, hal yang paling efektif yang bisa dilakukan masyarakat dan yang paling prinsip bagi daerah- daerah yang langganan kekeringan adalah para petaninya jangan memaksakan menanam padi atau jangan memaksakan tanam 3 kali. Pada masa normal pada Oktober sampai Mei dengan waktu persis 8 bulan bisa dilakukan panen dua kali, karena sebulan diantarnya digunakan untuk penyediaan lahan.

“Untuk bulan Juni sampai Agustus masuk musim kemarau, petani jangan memaksakan diri. Kalau mau ya menanam palawija saja yang tidak memerlukan banyak air. Yang bermasalah yang memaksakan diri dengan tetap menanam padi.. Penempatanan fasilitas pompa air dilakuakan seefektif mungkin di area kekeringan untuk membantu petani,” ujar Tisna.

Kabupaten Bandung sendiri memiliki keunggulan dekat dengan pasar, yaitu letaknya strategis untuk pemasaran hasil pertanian ke wilayah Bandung dan luar kota Bandung. Tetapi keunggulan tersebut harus diimbangi dengan hasil pertanian lebih murah dan lebih sehat. Tisna mengatakan pihak nya akan mengupayakan kemajuan dan kemandirian pangan tersebut.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , , , , , , ,