, ,

Sistem Irigasi Ini Bisa Hemat Air dan Tingkatkan Produktivitas

Kebutuhan air untuk irigasi pertanian cukup tinggi padahal pasokan air terbatas bahkan tak jarang kekurangan atau krisis air. Jadi, perlu ada upaya mencari cara menekan konsumsi air agar lebih efisien  hingga irigasi kala minim air atau kekeringan, tanaman tetap bisa tumbuh subur.

Nah, mahasiswa Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Kurnia Subekti,  mencoba menjawab masalah ini. Dia mengembangkan metode irigasi menggunakan olla (kendi). Pengembangan ini berdasar teori Daka (1991) yang menemukan penggunaan olla sebagai media irigasi bisa menghemat hingga 70% dibanding penyiraman dengan ember dan sprinkler.

“Sistem irigasi ini memanfaatkan sifat poros dinding tanah liat untuk mengalirkan air perlahan-lahan, hingga persentase air hilang melalui perkolasi dan evaporasi sangat sedikit bila dibandingkan irigasi konvensional,” katanya, baru-baru ini.

Ollas Fertigation System merupakan penggabungan irigasi bersamaan pemberian pupuk. Sistem ini mempertimbangkan karakteristik fisik olla dan integrasi dengan irigasi otomatis. Tujuannya, agar air dan nutrisi selalu tersedia dalam jumlah, saat dan kualitas tepat untuk tanaman.

Dari penelitian ini, dia  berharap bisa mengetahui efektivitas dan penghematan sistem fertigasi olla dalam melepas air dan memasok nutrisi kepada tanaman. Dari sebaran lengas tanah dan nutrisi di daerah perakaran tanaman serta pertumbuhan tanaman sangat baik. Indikatornya dia melihat tinggi tanaman dan jumlah daun.

“Saya berharap penelitian ini dapat untuk merancang sistem irigasi olla lebih efisien dan hemat penggunaan air serta pupuk. Karena irigasi olla ini menghemat air dan peningkatan produktivitas pertanian tanaman pangan terutama holtikultura di daerah ketersediaan air kurang atau sangat kurang.”

Dalam penelitian Kurnia, pola persebaran air dan nutrisi melalui Olla dilakukan di laboratorium menggunakan plot berukuran 60 x 100 x 100 cm. Pengambilan data sekitar 1,5 bulan. Olla berbentuk setengah bagian ditempel pada plot kaca lalu pola pembasahan dapat diukur menggunakan penggaris. Juga digunakan sensor lengas tanah berjumlah 10 buah untuk mengetahui pergerakan air melalui pori-pori tanah. Metode ini dipakai agar pembacaan lengas tanah lebih akurat.

“Hasil penelitian menunjukkan, pola pembasahan tanah pada olla berbentuk bulat lebih kecil daripada yang lain. Olla bulat lebih efisien karena memiliki luas permukaan paling besar hingga konduktivitas olla kecil. Makin kecil konduktivitas olla, volume air keluar makin kecil. Tanah bertekstur pasir didominasi pori makro hingga kemampuan meloloskan air cukup besar. Ini menyebabkan kehilangan air besar.”

Sedang hasil pengamatan irigasi olla terhadap pertumbuhan tomat selama dua bulan menunjukkan respon berbeda pada tiap perlakuan. Jarak tanam lima cm dari olla mengalami pertumbuhan bagus dan mulai berbunga usia tujuh minggu. Namun, jarak tanam 10 cm dari kendi menunjukkan hasil paling tinggi karena ada ruang akar untuk berkembang dan tidak terjadi perebutan makanan.

Untuk itu, katanya, potensi penggunaan metode ini sangat besar di Indonesia, mengingat banyak wilayah mengalami kekeringan. Penggunaan air pada irigasi olla sangat hemat dan efisien dibandingkan irigasi konvensional.

“Sistem olla mampu memasok air dan  nutrisi secara bersamaan dan langsung ke perakaran tanaman secara perlahan sesuai kebutuhan.”

Dia mengatakan, olla paling efektif  yang berbentuk bulat. Sebab, bentuk bulat memiliki luas permukaan paling besar hingga pasokan air untuk tanaman tepat dalam waktu, lokasi, dan jumlah.

Inilah sistem olla itu. Foto: Humas UGM
Inilah sistem olla itu. Foto: Humas UGM
(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , , ,