, , , ,

Menangkap Air di Lereng Dieng

Inilah cerita dari Desa Bismo dan Tambakboyo, di Lereng Utara Gunung Dieng, dalam mengkonservasi air dan mengatasi perubahan iklim.

Kulit sawo matang. Rambut cepak. Siang itu, dia berkaos putih, celana panjang hitam. Boot hitam tak lupa menemani. Sehari-hari sebagai penggarap kebun. Dialah Neman Surono.

Setelah tak jadi Kepala Desa Bismo, Batang, Jawa Tengah, Neman, menggerakkan warga desa untuk peduli lingkungan, terutama sumber air. Diapun membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Bismo Sejahtera, didampingi Indonesia Urban Water, Sanitation and Hygiene (IUWASH).

KSM Bismo Sejahtera punya tugas konservasi air dan lingkungan desa, dan Neman didampuk menjadi ketua. Beranggota 10 orang, Bismo Sejahtera mulai bergerak mempertahankan sumber daya air melalui berbagai kegiatan konservasi, seperti pembangunan sumur resapan, penanaman pohon/reboisasi, perlindungan kualitas air baku melalui pembangunan jamban dan septik tank sehat. Juga mendorong pembuatan peraturan desa (perdes) terkait tata kelola lingkungan dan perlindungan air baku.

“Atas desa kami dulu hutan lebat, banyak sumber air. Saat ini debit air menurun karena hutan rusak,” katanya, awal Desember ini.

Di Desa Bismo, hidup sekitar 900 jiwa, dengan 277 keluarga. Luas desa 555 hektar dengan peta geografis di kelilingi perkebunan teh dan Perhutani.

Berada diketinggian 800 Meter dari permukaan laut (MDPL), lahan desa banyak ditanami teh. Sebelumnya, warga menanam jagung dan singkong. Ternyata, tanaman ini makin berdampak buruk pada lingkungan dan sumber air di desa. Ide menanam teh muncul. Mereka juga wajib menanam pohon keras guna menyerap air. Ada sengon, pinus, kelapa, mahoni, manggis, durian, nangka, jengkol dan tanaman lain.

Aliran air bersih dari sumber air di Desa Bismo digunakan PDAM Batang dan warga Desa Bismo. Foto: Tommy Apriando
Aliran air bersih dari sumber air di Desa Bismo digunakan PDAM Batang dan warga Desa Bismo. Foto: Tommy Apriando

“Teh dan tanaman buah untuk menahan longsor dan pendapatan petani lebih besar dibanding jagung dan singkong.”

Dulu, katanya, sumber air melimpah dan hutan lebat. Tahun 1990-an, terjadi penebangan hutan masif, sumber air sebagian hilang, debit air turun. Longsor kerap terjadi. Pada 2000-an, atas inisiasi warga dan pemerintah dimulai gerakan penanaman kembali di hulu. Tujuannya, mengembalikan fungsi hutan dan debit air.

“Kami sadar, desa di hulu. Sumber air kami dimanfaatkan masyarakat di bawah, hingga harus menjaga dan konservasi hutan dan air,” kata Neman.

Warga sadar dan merasakan langsung dampak kerusakan hutan. Mereka juga mengerti, kerusakan akan berdampak pada perubahan iklim. Mereka sudah merasakan kini. Kala hujan dan kemarau tak bisa diprediksi, berdampak pada pola tanam petani. Kemarau lebih panjang dibanding penghujan membuat air sulit.

Selain sebagai desa ‘pemasok’ air, Bismo juga berpotensi wisata religi. Ada petilasan makam keramat, seperti Sunan Bonang (Syekh Maulana Makdum Ibrahim), Sunan Kali Jaga (Raden Sa’id), Wali Bali, Wali Pethuk, Syekh Makhsum, Syekh Bani, Syekh Nur Khalim, dan Syekh Rahimuden. Juga, Siti Khotijah, Siti Barokah (Kanjeng Ibu Raden Ayu Mayang Sari). Bismo juga memiliki beberapa peninggalan sejarah para wali yang sampai saat ini dilestarikan, seperti masjid para wali, kopyah dari rotan, Al-quran tulisan para wali, sampai sumber mata air dipercaya tempat bersuci para wali.

Desa ini, katanya, juga daerah konservasi lingkungan Dataran Tinggi Dieng. Ada beberapa mata air yang menjadi sumber air baku PDAM.

Hutan dan perkebunan teh di lereng Desa Bismo. Foto: Tommy Apriando
Hutan dan perkebunan teh di lereng Desa Bismo. Foto: Tommy Apriando

**

Pagi itu, udara sejuk dan segar. Tanaman teh tampak di kanan-kiri jalan desa. Suara air mengalir dan kicauan burung prenjak maupun kutilang saling bersahutan, berbaur menjadi satu.

Neman bersama anggota Bismo Sejahtera menujukkan sumber mata air Pucung. Nama ini diambil dari tanaman pucung. Mata air ini diyakini hasil tangkapan air dari pucung. Kini, meskipun air masih bisa dipakai warga, tetapi debit menurun.

Untuk menjaga kelestarian sumber air, katanya, warga membuat peraturan desa. “Warga tidak boleh kencing, berak, buang limbah dan pencemaran air lain,” ucap Neman.

Agus Sugiarto, Kepala Desa Bismo mengatakan, Perdes Tata Kelola Lingkungan Hidup berbasis masyarakat ini atas inisiatif bersama. Dari perangkat desa dan tokoh-tokoh desa, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Batang dan Bismo Sejahtera. Tujuannya, untuk menjaga lingkungan sekitar desa.

“Ini untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian masyarakat akan arti penting lingkungan hidup,” katanya.

Dalam perdes itu, desa diatur dalam sembilan area, yakni kebudayaan dan adat Istiadat/budaya; lahan pekarangan atau lingkungan pemukiman penduduk; area lahan kebun teh rakyat; lahan kering atau tegalan. Lalu, aliran sungai; lahan jalan; sumber mata air; lahan hutan dan pelibatan perusahaan.

BPD Desa Bismo, Sugih mengatakan, yang diatur dalam perdes antara lain tata cara mengelola dan menjaga lingkungan, memperlakukan daerah imbuhan dan air baku agar terjaga. Kearifan Lokal, katanya, dipadu dengan larangan dan sanksi merupakan bagian dari perdes.

Mata air Bismo terletak di Desa Bismo, seluas 260 hektar. Ia membentang dari lereng utara pengunungan Dieng sampai ke Desa Bismo. Bagian paling hulu ada hutan lindung, perkebunan teh Pagilaran. Hutan rakyat sisi timur ada Desa Keleleng dan Desa Bismo, bagian barat.

Konsep ketahanan Sumberdaya Air. Foto: Dokumen IUWASH
Konsep ketahanan Sumberdaya Air. Foto: Dokumen IUWASH

Tetangga Bismo, yakni Desa Tambakboyo, juga merasakan mata air wilayah mereka mengalami krisis. Mereka sadar, mata air bisa habis dan merugikan warga wilayah lain. Desa Tambakboyo juga berusaha keras menjaga kelestarian mata air melalui perlindungan air baku dan pengembalian air ke alam, seperti Desa Bismo.

Karyo, Bendahara KSM Sumber Berkah, Desa Tambakboyo bercerita, pemahaman warga desa terhadap lingkungan, sumber daya air, sosial dan budaya, menjadi bekal dan motivasi mengkonservasi air.

Dia mengatakan, meyakinkan warga agar memasang sumur resapan perlu waktu sekitar lima bulan. Sosialisasi lewat pengajian, masjid dan rembug desa. Hingga 300 lebih keluarga Desa Tambakboyo bersedia. Saat ini, mereka mulai merasakan manfaat sumur resapan. Dulu, jika hujan biasa air menggenang di jalan, halaman rumah maupun sungai. Setelah ada sumur resapan, air menggenang cepat terserap. Tidak terjadi lagi kerusakan tebing atau longsor.

“Ada 80 sumur resapan di Desa Tambakboyo. Untuk menjaga kualitas air, ada jamban sehat, hingga kualitas air baik dan sehat.”

Mata air Watulumbung, di desa itu, mengalami penurunan debit. Kerusakan hutan dan perubahan iklim, ikut jadi faktor penyebab. “Kini warga aktif menjaga lingkungan desa. Salah satu buat peraturan desa menjaga lingkungan dan air,” kata Karyo.

Adi Rahman, Water Resources Management IUWASH mengatakan, tak bisa dipungkiri perubahan iklim turut memberikan dampak penurunan debit air, selain kerusakan hutan. Perubahan iklim, katanya, menyebabkan perubahan siklus dan distribusi air, banjir dan longsor meningkat, kekeringan, penurunan ketersediaan air, genangan air laut dan abrasi pesisir meluas. Juga peningkatan intrusi air laut ke daratan dan penurunan kesehatan sungai.

Desa Bismo dan Desa Tambakboyo, di Kabupaten Batang, memiliki curah hujan relatif tinggi berkisar antara 2.000 mm hingga 5.000 mm per tahun. Perubahan temperatur sudah terjadi karena peningkatan suhu. Peningkatan suhu udara berdampak negatif pada kondisi air di Batang.

“Tingginya suhu udara meningkatkan proses evapotranspirasi yang berpotensi menyebabkan kekeringan,” kata Adi.

Perubahan curah hujan di Batang, katanya, dapat berdampak negatif seperti, penurunan ketersediaan air kala kemarau hingga menyebabkan kekeringan, curah hujan meningkat menyebabkan potensi banjir dan longsor lebih tinggi. Untuk itu, perlu adaptasi perubahan iklim.

Pada daerah rawan banjir, katanya, perlu disusun rencana induk pengendalian banjir. Daerah zona longsor sangat tinggi perlu jadi kawasan lindung, kawasan imbuhan dan resapan air (wilayah lindung) harus dipertahankan. Untuk daerah yang tak mungkin penghijauan kembali, katanya, pengembalian daerah resapan air bisa lewat sumur resapan dengan tetap memperhatikan kondisi morfologi dan lingkungan.

“PDAM perlu mengalokasikan dana terkait adaptasi perubahan iklim dan antisipasi bencana.”

Dia mengatakan, adaptasi perubahan iklim melalui rehabilitasi lahan paling cocok untuk kawasan imbuhan mata air Watulumbung di Desa Tambakboyo dan Desa Bismo, dengan sumur resapan.

Untuk reboisasi, lebih cocok di kebun/ hutan rakyat pada setiap desa. Namun, katanya, reboisasi perlu pemantauan rutin agar pohon terjaga.

Edy Triyanto, Junior Behavior Change Communication Specialist IUWASH mengatakan, pemilihan Desa Tambakoyo dan Bismo sebagi proyek sumur resapan karena ada tren penurunan debit air di kedua desa di hulu itu.

“Kami mengawali dengan menentukan wilayah imbuhan air dulu. Lalu sosialisasi, pendekatan dan menentukan apa yang bisa dilakukan bersama.”

Kini, Desa Tambakboyo dan Bismo, ada 160 sumur resapan berbentuk tabung, dengan ukuran diameter satu meter, dan ketinggian dua meter. Sumur resapan Desa Tambakboyo (Kecamatan Reban) ada 80 unit, dan Desa Bismo (Kecamatan Blado) 80 unit.

Fungsi sumur resarapan, katanya, antara lain menambah cadangan sumberdaya air tanah, mencegah kekeringan dan berkurangnya volume sumberdaya air tanah. Juga mencegah intrusi air asin pada akuifer pantai, menjamin pemenuhan kebutuhan sumber air baku air tanah, menjaga keseimbangan siklus hidrologi, dan memperbesar daya dukung tanah.

 Neman menujukkan lokasi sumber air Pucung. Foto: Tommy Apriando
Neman menujukkan lokasi sumber air Pucung. Foto: Tommy Apriando

***

Carem Fauziah, warga Desa Bismo, tak lagi khawatir air hujan menggenangi halaman rumah. Sumur resapan mampu menyerap air hujan dan mengurangi limpasan. Rumahnya juga sudah ada jamban sehat, bantuan IUWASH. Ini untuk menjaga kualitas air tanah agar tak tercemar bakteri. “Sumur resapan dan jamban sehat sangat bermanfaat.”

Jefry Budiman, Regional Coordinator IUWASH Jawa Tengah mengatakan, mata air Bismo dan Tambakboyo, merupakan sumber utama PDAM Batang dalam melayani lebih 50% konsumen.

Dari kedua mata air ini produksi air sekitar 280 liter/detik. Sebanyak 240 liter/detik dari mata air Bismo dan 40 liter/detik dari Tambakboyo. Jika debit air Desa Bismo berkurang sampai 30%, ancaman bagi PDAM. “Untuk memperkuat, mereka membuat perdes guna menjaga sumber air. IUWASH hanya memfasilitasi,” kata Jefry.

Yulianto, Direktur PDAM Batang, membenarkan, pasokan air bersih PDAM dari Desa Bismo dan Tambakboyo. “Kebutuhan air bersih hak asasi manusia, diatur konstitusi,” katanya.

PDAM memberikan dan menanam bibit pohon setiap tahun. Juga memberikan bantuan pembangunan fasilitas umum di desa, seperti sumur resapan, sampai jamban sehat keluarga.

“Sekitar 60 lebih warga Desa Bismo mempunyai jamban sehat.”

Upaya warga, PDAM sampai Neman yakin, semua yang dilakukan bersama akan memberikan dampak baik bagi mereka semua. “Meresapkan air kembali ke tanah, bentuk terima kasih kita yang juga mengambilnya dari tanah.”

Teh dapat menahan longsor dan meningkatkan ekonomi warga. Foto: Tommy Apriando
Teh dapat menahan longsor dan meningkatkan ekonomi warga. Foto: Tommy Apriando
Penanam kembali Lereng Gunung Dieng untuk menghutankan kembali dan mencegah longsor. Foto: Tommy Apriando
Penanam kembali Lereng Gunung Dieng untuk menghutankan kembali dan mencegah longsor. Foto: Tommy Apriando
(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , , , , , , , , ,